Profil Organisasi Serikat Petani Kelapa Sawit Menuju Petani Kelapa Sawit Yang Mandiri, Berdaulat, Sejahtera dan Berkelanjutan Dokumen internal organisasi tidak diperkenankan untuk memperbanyak dan menyebarluaskan tanpa izin dari SPKS Sekretariat Nasional Perumahan Bogor Baru Blok A5 No.17, Kelurahan Tegal Lega Bogor Jawa Barat Telepon 0251-8571263 Fax 0251-8324097 Email : info.spksnasional@gmail.com Website: www.spks-nasional.org i
Daftar Isi SEJARAH BERDIRINYA SPKS... 1 Kondisi umum petani kelapa sawit indonesia... 1 Lahir Dari Bawah Berangkat Dari Realitas Lapangan... 2 Legalitas Organisasi... 4 VISI DAN MISI... 5 Visi... 5 Misi... 5 WATAK DAN PRINSIP ORGANISASI... 6 Watak SPKS... 6 Prinsip Dasar Organisasi... 7 PROGRAM PERJUANGAN SPKS... 8 Program Maksimum... 8 Program Minimum... 9 Bidang Organisasi... 10 Bidang Pendidikan... 10 Bidang Advokasi Dan Perjuangan Petani Kelapa Sawit... 11 Bidang Sosial Dan Budaya... 11 Bidang Kesejahteraan Anggota... 12 STRUKTUR ORGANISASI SPKS... 12 ANGGOTA... 14 Syarat-syarat yang dapat diterima menjadi anggota SPKS... 14 ii
Tata cara Penerimaan Anggota adalah sebagai berikut:... 15 HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA... 16 Kewajiban kewajiban Anggota adalah sebagai berikut... 16 Hak-hak Anggota adalah sebagai berikut :... 16 iii
SEJARAH BERDIRINYA SPKS Kondisi umum petani kelapa sawit indonesia Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan oleh Derektorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian tahun 2016 luas perkebuan kelapa sawit diindonesia saat ini 12.307.677 hektar dimana 39 % merupakan perkebunan rakyat yakni 4.756.272 hektar 1, jika melihat kondisi tersebut bahwa perkebunan kelapa sawit rakyat yang dikelola petani / pekebun menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan, agar petani kelapa sawit dapat menjadi subyek penting dalam perkebunan. Hingga saat ini posisi petani sangat lemah karena masih tergantung dengan skema perusahaan melalui kebijakan pemerintah yang mengabaikan keberadaan petani sawit. Hal ini bisa dilihat dari mulai produktivitas tidak optimal, mutu TBS yang rendah, Fasilitas kebun dan infrastruktur jalan yang rusak, Kapasitas Pabrik yang tidak bisa menampung hasil TBS petani, ketersediaan alat transportasi, dan kemampuan mengelola kebun yang rendah serta kelembagaan petani yang belum menjadi kekuatan petani. Hal ini tidak terlepas oleh strategi pembangunan yang lebih berorientasi untuk meningkatkan produksi guna mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan memperbesar pendapatan negara, lembaga petani belum menunjukkan kekuatannya dan relasi produksi di pedasaan masih banyak menjeratan petani. Program revitalisasi perkebunan maupun 1 Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kelapa Sawit 2015-2017 Derektorat Jenderal Perkebunan 2016
skema pendanaan yang dicanangkan Pemerintah belum menyentuh persoalan petani karena tidak menjadikan petani mandiri sebagai aktor lansung dimana peranan perusahaan masih sangat dominan. Situasi ini menyebabkan sasaran pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya petani di sektor perkebunan belum optimal yaitu membangun dan menciptakan masyarakat (petani) agar mampu mengatasi segala persoalannya secara mandiri, kreatif dan otonom. Untuk menjawab persoalan di atas tidak ada jalan lain kecuali melakukan perubahan sosial ditingkat petani sawit dan oleh petani sawit itu sendiri, yaitu mempersatukan dirinya dan berjuang untuk kepentingan dan masa depannya melalui sebuah organisasi petani sawit yang independen yang mampu memecahkan persoalan mereka untuk menjadi petani yang mandiri, berdaulat dan berkelanjutan Lahir Dari Bawah Berangkat Dari Realitas Lapangan Semangat untuk menyatukan diri dalam sebuah ikatan karena kesamaan nasib sebagai petani kelapa sawit telah dimulai sejak pertengahan tahun 2005 dengan melakukan beberapa diskusi kritis tentang kondisi dan situasi petani sawit di Indonesia pada umumnya. Keresahan kelompok pemerhati perkebunan dalam negeri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehadiran SPKS. Beberapa kondisi yang melatarbelakangi kehadiran SPKS tersebut antaralain, produktifitas perkebunan rakyat yang rendah, kapasitas pengelolaan kebun yang masih tradisional, pengembangan teknologi pertanian yang kurang, posisi tawar petani yang lemah, infrastruktur kebun yang jauh dari standar GAP (Good Agriculture Practise), dan juga 2
hadirnya beberapa letus konflik hingga pelanggaran Hak Asasi Manusia di dalam perkebunan serta kerusakan lingkungan hidup. Dengan melihat kondisi tersebut dilakukan pertemuan besar petani kelapa sawit yang pertama kali dilakukan di Kabupaten Sanggau pada tahun 2006. Dalam pertemuan ini memutuskan bahwa persoalan tersebut membutuhkan kekuatan petani kelapa sawit sehingga memiliki posisi tawarnya sehingga melalui musyawarah petani tersebut mendeklarasikan berdirinya SPKS Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sebagai pembelajaran pentingnya kekuatan petani di daerah sektor perkebunan kelapa sawit, selanjutnya pada fase tahun 2007 2008 dilakukan konsolidasi petani dibeberapa daerah melakukan musyawarah dan dideklarasinya pendirian SPKS di 4 (empat) Kabupaten yaitu: Kabupaten Paser (Kalimantan Timur), Kabupaten Rokan Hulu (Riau), Kabupaten Sekadau (Kalimantan Barat) dan Kabupaten Tanjung jabung barat (Jambi). Berdasarkan diskusi yang berkembang antara para pengurus SPKS kabupaten yang sudah terbentuk bahwa persoalan dan perjuagan petani kelapa sawit tidak bisa hanya dilihat secara sektoral, karena persoalan petani kelapa sawit tidak bisa terlepas dari perjuagan nasional bahkan global. Pada tahun 2008 dilakukan konsolidasi dan musyawarah perwakilan petani dari 5 SPKS Kabupaten di Bogor dengan melahirkan Piagam Taman Air tentang penyatuan organisasi SPKS secara Nasional dan terbentuk Badan Penyelenggara Persiapan Nasional SPKS yang diberi mandat untuk bekerja selama satu tahun penyiapan dokumen 3
keorganisasian dan melakukan pekerjaan untuk mengkonsolidasikan petani petani di daerah yang belum terbentuk PKS. Pada tahun 2009 dilaksanakannya Musyawarah Nasional di bogor yang dilaksanakan oleh BPPN dan terbentuknya Forum Nasional SPKS yang bertugas mematangan seluruh dokument dalam dan melakukan konsolidasi petani di daerah potensial dibangunya SPKS, sehingga sampai dengan tahun 2012 berdiri 3 Kabupaten yaitu Kuantan Singingi (Riau), Labuhanbatu Uatara ( Sumatera Utara) dan Kabupaten Sintang (Kalimantan Barat). Legalitas Organisasi Pada tahun 2012 SPKS Nasional berdiri melalui keputusan Musyawarah Forum Nasional di Jakarta yang dihadiri oleh pengurus SPKS dan petani dari 8 kabupaten. Secara Resmi berdiri dengan badan hukum berbentuk Perkumpulan yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian Nomor 52 tanggal 19 Juni 2012 pada Notaris dan PPAT Dwi Sundjajik, SH, M.Kn yang beralamat di komplek Bkosurtanal Blok C4 jalan raya Cikaret Cibinong Kabupaten Bogor. Akta Pendirian tersebut telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. AHU-69.AH.01.07 Tahun 2013 tentang pengesahan Badan Hukum Perkumpulan Serikat Petani Kelapa Sawit. 4
VISI DAN MISI Visi SPKS memiliki visi untuk memperjuangkan hak-hak sosial ekonomi dan hak-hak demokratis dari Petani Kelapa Sawit sehingga terjamin perbaikan taraf hidup dan kesejahteraannya. Misi 1. Mengembangkan sistem perekonomian petani dalam bentuk badan badan usaha produktif petani kelapa sawit. 2. Membangun sistem data dan informasi, komunikasi ditingkat SPKS dan keluar yang berpihak pada petani. 3. Mendorong pembuatan kebijakan yang dapat memperbaiki kehidupan petani kelapa sawit. 4. Mengembangkan pelatihan untuk penguatan kelembagaan petani seperti kelompok tani dan koperasi sebagai wadah usaha petani sawit serta pelatihan untuk peningkatan hasil usaha perkebunan. 5. Memfasilitasi teknologi Pertanian yang dapat dikelola oleh petani kelapa sawit. 6. Mendorong Perbaikan Kebijakan Pasar untuk berorientasi pada kepentingan petani sawit. 5
WATAK DAN PRINSIP ORGANISASI Watak SPKS SPKS sebagai organisasi massa memiliki watak demokratis nasional yaitu terbuka, demokratis, militan, patriotis dan organisasi sejati: 1. Terbuka artinya SPKS keanggotaannya terbuka bagi Petani Kelapa Sawit tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan dan jenis kelamin. SPKS mengikuti peraturan pemerintah yang memenuhi asas keadilan dan tidak merugikan Petani Kelapa Sawit. 2. Demokratis artinya SPKS merupakan organisasi dari dan untuk anggota serta setiap anggota memiliki kedudukan hak dan kewajiban yang sama dalam organisasi. 3. Militan artinya dalam seluruh usaha organisasi, SPKS menyandarkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri, namun tetap akan melakukan kerjasama dengan organisasi atau golongan masyarakat lain yang memiliki kesamaan tujuan dan prinsip organisasi. 4. Patriotis artinya SPKS menolak segala bentuk kekerasan manusia atas manusia dan penjajahan satu bangsa terhadap bangsa yang lain. 5. Organisasi Sejati artinya organisasi ini didirikan untuk membela kepentingan Petani Kelapa Sawit. 6
Prinsip Dasar Organisasi 1. SPKS memiliki prinsip demokrasi yang berdisiplin, yang tercermin dalam sendi sendi organisisasi. Wujud dari pengertian tersebut adalah: 2. Setiap Pimpinan dalam seluruh tingkatan organisasi dipilih secara demokratis dan bertanggungjawab kepada Musyawarah Organisasi sesuai dengan tingkatannya. 3. Setiap keputusan organisasi yang diambil harus didasarkan pada musyawarah yang bebas dan demokratis serta setelah menjadi keputusan harus dijalankan dengan baik dan disiplin. 4. Seluruh Pimpinan organisasi harus selalu memberikan laporan rutin atas pekerjaannya kepada organisasi diatasnya dan selalu meminta pendapat serta saran atas persoalan yang sedang dihadapi sebelum keputusan diambil. 5. Seluruh Pimpinan harus memberikan perhatian atas laporan dari organisasi dibawahnya, selanjutnya mempelajari dengan melakukan pemeriksaan atas laporan tersebut kemudian menindaklanjuti dengan memberikan bantuan dan bimbingan. 6. Menerapkan sistem kepemimpinan kolektif di semua tingkatan organisasi. 7
PROGRAM PERJUANGAN SPKS Program Maksimum Program Maksimum merupakan tahap tertinggi dari Program Perjuangan yang menjadi cita cita terhadap tatanan yang akan dituju, dimana capainnya harus berupa kwalitas baru yang merupakan lompatan dari tatanan lama yang digantikannya dan sebagai antitesanya. Maka, Program Maksimum dalam Organisasi Massa Demokratik harus dapat menjadi kompas pemandu didalam setiap Program Kerja maupun aksi aksi yang dilakukan. Oleh karenanya, Program Maksimum yang menjadi rumusan cita cita merupakan dasar dari Garis Garis Besar dan Arah Program SPKS yang akan secara terus menerus dan konsisten diperjuangkan oleh Serikat Petani Kelapa Sawit. Untuk mencapai cita cita tersebut maka segenap Petani Kelapa Sawit haruslah bersatu padu untuk merompak tatanan sosial, ekonomi dan politik yang saat ini jelas jelas mengungkung / mengekang, menjerat dan menindas Petani Kelapa Sawit pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Adapun maksud dan pengertian dari cita cita tersebut, sebagai berikut : 1. Kedaulatan mengandung pengertian kebebasan Petani Kelapa Sawit mengekspresikan kesadaran politiknya dalam menyelesaikan masalah masalah yang melingkupinya, jaminan bagi Petani Kelapa Sawit untuk berorganisasi dan dalam menentukan pilihan pilihan politiknya. 2. Kemandirian mengandung pengertian Petani Kelapa Sawit yang bebas dari kungkungan / kekangan keterikatan dengan pihak manapun, kesejajaran dalam menjalin 8
kerjasama dan kemampuan berdiri sendiri dalam mengembangkan kehidupan sosial dan ekonominya. 3. Petani Kelapa Sawit yang berkelanjutan yakni petani yang mampu mengatasi masalah masalah ketahanan ekonomi keluarga yang berpegang teguh pada pengelolaan perkebunan yang memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. Program Minimum Program Minimum merupakan tangga yang menjadi tumpuan untuk mencapai Program Maksimum, karena sebagai tangga maka setiap sap-nya harus dilalui dan dicapai terlebih dahulu. Dan, yang paling penting setiap tangga yang dilalui harus dapat menjadi kunci pembuka dari Program berikutnya didalam lingkup Program Minimum dan Program didalam lingkup minimum harus dapat menjadi kunci untuk membuka tercapainya Program Maksimum. Serta, perlu kita ketahui bahwa dalam merumuskan Program Minimum dan Tuntutan Aksinya harus disandarkan pada kondisi dan keadaan serta tingkat perkembangan organisasinya. Melihat keadaan Petani Kelapa Sawit saat ini yang memiliki problematik umum yang sama dirasakan oleh hampir seluruh Kaum Tani dan problematik khusus yang dihadapi oleh Petani Kelapa Sawit. Maka didalam merumuskan Program Minimum dan Aksinya harus terlebih dahulu melakukan Penelitian dan Analisis Strukturnya secara mendalam, agar tidak menutup capain Program dan Aksi yang lebih tinggi derajat dan kwalitasnya. Oleh karenanya, rumusan program minimum yang akan dilaksanakan selama antara lain: 9
Bidang Organisasi Program dibidang organisasi dilakukan untuk menjalankan prinsip organisasi yang tertuang dalam anggaran dasar yakni menjadikan SPKS sebagai organisasi massa yang Luas, Demokratis, Militan, Patriotis dan Sejati. Sehingga, SPKS akan menjadi organisasi yang kuat dan disegani oleh semua pihak. Adapun kegiatan yang akan dilakukan pada bidang organisasi antara lain: Rekruetmen Anggota. Peningkatan Kwalitas Anggota. Perluasan Struktur Organisasi. Bidang Pendidikan Bidang pendidikan dilakukan agar seluruh jajaran organisasi baik Pimpinan maupun Anggotanya memiliki pandangan yang sama terhadap cita cita masa depannya, melihat masalah dan cara mengatasi masalahnya dan memandang organisasi SPKS sebagai alat bersama untuk mewujudkan cita cita Petani Kelapa Sawit. Adapun kegiatan dibidang Pendidikan yang akan dilakukan antara lain: Pendidikan Massa calon Anggota Pendidikan Anggota. Pendidikan Pimpinan. Kursus Kursus Ketrampilan: Pelatihan Manajemen Teknis Kebun Pelatihan Penerapan standar kelapa sawit berkelanjutan Pelatihan Pengelolaan Koperasi Pelatihan Paralegal Pelatihan Advokasi dan Kampanye massa Pelatihan Manajemen Keuangan Keluarga Pelatihan Lobby dan Negosiasi 10
Bidang Advokasi Dan Perjuangan Petani Kelapa Sawit Bidang advokasi merupakan satu rangkaian dalam memperjuangkan Petani Kelapa Sawit yang diarahkan menuju tercapainya cita cita Petani Kelapa Sawit yang Berdaulat, Mandiri dan Berkesejahteraan. Kegiatan ini dilakukan agar terjadi perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada Petani Kelapa Sawit maupun masyarakat secara luas. Serta, untuk mengatasi masalah masalah yang kongkrit dihadapi oleh Petani. Adapun kegiatan yang dilakukan pada bidang Advokasi dan Perjuangan Massa antara lain: Investigasi dan Penelitian. Penggalangan dukungan. Loby, Negosiasi dan Hearing Kampanye Massa. Pembelaan Hukum Advokasi Kebijakan Bidang Sosial Dan Budaya Program yang dilakukan pada bidang sosial dan budaya merupakan peranan organisasi dalam mengatasi masalah kongkrit yang terjadi dipedasaan. Hal ini dilakukan dalam rangka organisasi berkontribusi secara kongkrit dalam membangun tatanan sosial yang lebih beradap. Serta, berkontribusi dalam meningkatkan kemajuan budaya masyarakat dengan berlandaskan pada nilai nilai luhur warisan kebudayaan yang ada. Adapun rangkaian dari kegiatannya antara lain: 11
Partisipasi dalam mengatasi masalah sosial di pedesaaan Mengembangkan tekhnologi tepat guna dalam bidang persawitan Melestarikan Seni Dan Budaya. Pelestarian Lingkungan Hidup. Bidang Kesejahteraan Anggota Bidang kesejahteraan anggota merupakan kegiatan yang kongkrit organisasi dalam memimpin produksi anggota dalam rangka memajukan kesejahteraannya. Sehingga, organisasi akan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh anggota. Adapun kegiatan dalam bidang ini antara lain: Menata Manajemen ekonomi keluarga. Meningkatkan usaha produktif non sawit untuk anggota. Membangun unit usaha bersama. Menyiapkan pelaksanaan replanting yang mandiri. Meningkatkan produktivitas kebun, STRUKTUR ORGANISASI SPKS Susunan Organisasi SPKS adalah sebagai berikut : 1. Untuk tingkat Nasional terdiri dari Badan Organisasi Nasional, Musyawarah Nasional, Badan Pengawas dan Badan Pengurus Nasional 2. Untuk tingkat Provinsi terdiri dari Badan Organisasi Wilayah, Musyawarah Wilayah, Badan Pengawas dan Badan Pengurus Wilayah 12
3. Untuk tingkat Kabupaten terdiri dari Badan Organisasi Kabupaten, Musyawarah Besar Petani Kelapa Sawit Kabupaten, Dewan Pimpinan Kabupaten dan Pimpinan Harian Kabupaten. 4. Untuk tingkat Kecamatan terdiri dari Badan Organisasi Kecamatan, Musyawarah Kecamatan, Dewan Pimpinan Kecamatan dan Pimpinan Harian Kecamatan 5. Untuk tingkat Desa terdiri dari dari Organisasi Ranting, Musyawarah Ranting, Pimpinan Ranting. Ranting dibagi kedalam kelompok tani - kelompok tani yang terdiri 10 50 orang yang berada dalam satu hamparan garapan kerjanya. MUNAS 13
Struktur Pimpinan BP PH KADEP KeSEK Bidang Keuangan Bidang Administrasi KADEP KSJAHTERAN KADEP ORGANISASI KADEP PEDIDIKAN KADEP ADVOKASI ANGGOTA Syarat-syarat yang dapat diterima menjadi anggota SPKS 1. Warga Negara Indonesia. 2. Petani Kelapa Sawit yang melakukan aktivitas produksi dalam usaha Perkebunan Kelapa Sawit baik yang berstatus menjadi Keluarga Petani Pemilik Plasma, Keluarga Petani Pemilik Kebun Sawit mandiri dan Keluarga Petani yang memiliki hak untuk mendapatkan kapling sawit namun belum 14
mendapatkannya sehingga saat ini sedang berjuang untuk mendapatkan Kapling Kebunnya. 3. Individu non Petani Sawit yang konsisten untuk bekerja bagi kepentingan kaum tani sekurang-kurangnya selama 1 tahun lebih, bisa mendaftarkan diri menjadi anggota, namun sebatas menjadi anggota simpatisan yang hak kewajibannya diatur kemudian. 4. Menyetujui Program Perjuangan dan Aturan serta ketetapan SPKS Kabupaten Sekadau. 5. Keanggotaannya tercatat didalam salah satu tingkatan organisasi. Tata cara Penerimaan Anggota adalah sebagai berikut: 1. Mendaftarkan diri ke Pengurus Kelompok Tani Hamparan dengan mengisi formulir pendaftaran yang tersedia dan disahkan oleh Pimpinan Ranting setempat. 2. Mengikuti pendidikan yang diselenggarakan oleh Ranting SPKS. 3. Menerima dan menyetujui aturan dan ketetapan organisasi. 4. Membayar uang pangkal anggota dan uang iuran SPKS. 5. Individu non Petani Kelapa Sawit yang konsisten untuk bekerja bagi kepentingan Petani Kelapa Sawit harus mendapatkan rekomendasi dari ranting tempat asal bekerja. 15
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA Kewajiban kewajiban Anggota adalah sebagai berikut 1. Setiap anggota wajib terus belajar untuk mempertinggi pengetahuan tentang masalah masalah pertanian dan perkebunan, menginternalisasi Anggaran Dasar dan Garis Garis Besar dan Arah SPKS, selanjutnya memperkaya cara dan mempraktekkannya secara terus menerus. 2. Setiap anggota berkewajiban menjunjung tinggi kehormatan organisasi dan dirinya sendiri. 3. Setiap anggota berkewajiban menjadi teladan bagi kaum tani lainnya yang belum bergabung dalam organisasi. 4. Setiap anggota organisasi berkewajiban menghormati, menjalankan dan mendukung semua ketetapan dan keputusan Musyawarah Besar dan keputusan organisasi. Hak-hak Anggota adalah sebagai berikut : 1. Setiap anggota berhak mendapat dokumen-dokumen pokok organisasi yaitu Anggaran Dasar, Garis Garis Besar dan Arah Program SPKS, Brosur dan Himbauan organisasi. 2. Setiap anggota berhak mendapatkan pendidikan sesuai dengan tingkatan organisasi, pekerjaan dan kesadarannya. 3. Setiap anggota berhak mengikuti rapat dan pertemuan lainnya yang diselenggarakan organisasi sesuai dengan Anggaran Dasar. 4. Setiap anggota berhak mendapat pembelaan dan bantuan lainnya sesuai dengan kemampuan organisasi. 5. Setiap anggota berhak memilih dan berhak dipilih menjadi Dewan Pimpinan dan utusan dalam Musyawarah organisasi. 16
6. Setiap anggota memiliki hak untuk mengajukan pendapat, usulan dan kritik sesuai dengan tata cara yang di atur kemudian. --------------------------------- -------------------------------------------- 17
SPKS adalah organisasi petani kelapa sawit skala kecil. Organisasi ini bersama anggotanya yakni petani sawit memperkuat skala keberlanjutan, kesejahteraan dan kemandirian petani melalui pembangunan kapasitas, kelembagaan ekonomi dan fasilitasi akses petani dalam berbagai sektor keuangan, kebijakan yang berpihak, dan akses pemasaran dan keberlanjutan. Saat ini, SPKS sudah berada di lima Provinsi dan delapan Kabupaten. Delapan kabupaten tersebut di antaranya Labuhan Batu Utara (Sumut), Tanjung Jabung Barat (Jambi), Rokan Hulu (Riau), Kuantan Singingi (Riau), Sanggau (Kalbar) Sekadau (Kalbar), Sintang (Kalbar) dan Paser (Kaltim). Anggota SPKS sebanyak 48 ribu petani kecil dengan skala lahan kurang dari 25 hektar dan bekerja langsung dikebun. Selain memperkuat keorganisasian SPKS baik struktur, program kerja organisasi, keanggotaan, penguatan, pendidikan organisasi dan pelatihan manajemen keuangan SPKS juga tengah melakukan upaya pengembangan organisasi di daerah Kabupaten lainnya di Indonesia yang berpotensi dan memiliki komitmen dan kemauan berorganisasi dari para petani sawit di daerah. Pembentukan dan pengembangan organisasi dilakukan mulai dari komunitas di bawah sampai pada tingkat Nasional.