BAB II DESKRIPSI KOTA SURAKARTA A. Kondisi Geografi Surakarta merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang menunjang kota-kota besar seperti Semarang maupun Yogyakarta. Letaknya yang strategis dan berpotensi untuk pengembangan baik dari segi fisik maupun keanekaragaman masyarakatnya. Kota Surakarta sebagai suatu daerah otonom di Indonesia mempunyai bermacam potensi daerah, pertama adalah sebagai Kota Budaya, dimana Kota Surakarta dikenal sebagai pusat kebudayaan masyarakat Jawa tradisional, hal ini ditandai dengan masih adanya Kerajaan Jawa yaitu Keraton Surakarta dan Mangkunegaran. 1 Surakarta sebagai kota administrasi pemerintahan banyak mengalami perkembangan. Perkembangan administrasi pemerintahan yang pada awalnya berbentuk kerajaan berkembang menjadi sistem pemerintahan kolonial dan akhirnya menjadi sistem pemerintahan yang demokratis dengan status sebagai kotamadya. Wilayah Surakarta atau lebih dikenal dengan Kota Solo merupakan dataran rendah dengan ketinggian 92 m di atas permukaan air laut. Kota Surakarta berbatasan di sebelah utara dengan Kabupaten Boyolali, sebelah timur dengan Kabupaten Karanganyar, sebelah selatan dengan Kabupaten Sukoharjo dan di 1 Soegeng Soerjadi Syndicated, Otonomi ( Potensi Masa Depan Republik Indonesia ), (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001) hlm. 479. 18
19 sebelah Barat dengan Kabupaten Sukoharjo. Secara geografis wilayah Kota Surakarta berada antara 110º45 15-110º45 35 BT dan 7º36 00-7º56 00 LS. 2 Luas Kota Surakarta adalah 4.404,06 Ha. Penggunaan tanah untuk perumahan yaitu 2.674 Ha, untuk fasilitas atau sarana umum 169,59 Ha, sisanya untuk industri, sawah,tegalan, dan lain-lain. Kota Surakarta yang terdiri dari 5 kecamatan yaitu Kecamatan Laweyan, Kecamatan Serengan, Kecamatan Pasar Kliwon, Kecamatan Jebres dan Kecamatan Banjarsari. Kecamatan yang mempunyai luas wilayah paling besar yaitu Kecamatan Banjarsari yaitu seluas 14,81 km2, sedangkan kecamatan yang mempunyai luas paling kecil yaitu Kecamatan Serengan. Wilayah kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Pasar Kliwon yaitu dengan jumlah 15.418 jiwa/km2 dan terendah terdapat pada Kecamatan Laweyan yaitu dengan jumlah 10.127 jiwa/km2. Untuk mempermudah pelayanan kepada masyarakat maka setiap kecamatan dibentuk kelurahan-kelurahan, sehingga pelayanan semakin mudah untuk didapatkan. Masing-masing Kelurahan memiliki luas yang berbeda, sehingga banyaknya RW dan RT tergantung dari luas wilayah masing-masing Kelurahan. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 1 berikut ini: 1998), hlm. 1. 2 BPS Kota Surakarta, Surakarta Dalam Angka 1998, (Surakarta : BPS,
20 Tabel 1. Banyaknya Kecamatan, Kelurahan, RT, RW dan Kepala Keluarga (KK) di Kota Surakarta 1980, 1990, 2000. No Keterangan 1980 1990 2000 1 2 3 4 KECAMATAN KALURAHAN RW RT 5 5 5 51 51 51 380 558 574 2.015 2.563 2.603 5 107.065 111.298 123.840 KK Sumber data: Badan Pusat Statistik Surakarta 1980, 1990, 2000. Berdasarkan Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun semakin meningkat. Antara tahun 1980 sampai tahun 2000 jumlah Kecamatan tidak bertambah, tetap berjumlah lima Kecamatan. Jumlah Kalurahan, RW, RT dan KK semakin bertambah seperti yang terlihat pada tabel 1. Pada tahun 1980 RT yang berjumlah 2.015 meningkat menjadi 2.603 pada tahun 2000. Jumlah RW tahun 1980 sebanyak 308 meningkat pada tahun 1990 menjadi 558 RW. Dari tabel 1 jumlah Kalurahan dan Kecamatan dari tahun 1980 sampai 2000 tidak mengalami peningkatan, tetap berjumlah 51 Kalurahan dan 5 Kecamatan. Sedangkan untuk jumlah dari keseluruhan Kalurahan, RW, RT, dan KK Kecamatan Banjarsari memiliki jumlah paling banyak, karena merupakan Kecamatan yang paling luas di wilayah Surakarta.
21 B. Kondisi Demografi 1. Jumlah Penduduk Penduduk merupakan komponen penting dalam masalah yang ada di perkotaan. Pertumbuhan dan penyebaran yang sangat cepat dapat mempengaruhi perkembangan kota itu sendiri. Akan tetapi, pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat juga menimbulkan berbagai masalah. Hal ini yang menjadi perhatian pemerintah kota dalam proses pembangunan, dalam masalah kependudukan memuat kuantitas penduduk seperti Jumlah penduduk dan persebaran penduduk serta kualitas pendidikan dan kesehatan. Jumlah Penduduk Kota Surakarta dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dengan peningkatan jumlah penduduk sedangkan lahan untuk tempat tinggal mereka tetap maka akan menimbulkan masalah bagi pemerintah Kota Surakarta. Dapat diketahui bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki. Untuk mengatasi ledakan jumlah pendududuk maka pemerintah mencanangkan program keluarga berencana, dengan slogan dua anak saja cukup. 3 Diharapkan dengan program KB ini tiap-tiap keluarga dapat meningkatkan kesejahteraannya, karena dengan keluarga kecil maka biaya hidup tidak akan terlalu besar, misalnya dalam bidang pendidikan, anak-anak mereka diharapkan dapat mengenyam pendidikan yang tinggi. Untuk memperjelas hal tersebut dapat dilihat dari Tabel 2 berikut ini: 3 Ibid, hlm. 49.
22 Tabel 2. Banyaknya Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Jumlah Penduduk Jenis Kelamin 1975 1985 1995 LAKI-LAKI PEREMPUAN 207.312 219.083 268.175 228.003 230.065 278.294 JUMLAH TOTAL 435.315 449.148 546.958 Sumber data: Badan Pusat Statistik Surakarta 1995 Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa penduduk perempuan di Surakarta antara tahun 1975 sampai tahun 1995 lebih banyak dari Laki-laki. Pada tahun 1980 jumlah penduduk sebanyak 435.315 jiwa dan pada tahun 1985 menjadi 449.148 jiwa, peningkatan tersebut tidak terlalu pesat. Peningkatan pesat terjadi antara tahun 1975 sampai 1995, yaitu dari 449.148 jiwa menjadi 546.958 jiwa. Dapat pula dilihat bahwa secara keseluruhan penduduk di Surakarta peningkatannya tidak terlalu cepat antara tahun 1975-1995, namun pada siang hari terlihat padat karena banyak penduduk di sekitar wilayah Surakarta yang masuk ke Surakarta untuk beraktifitas.
23 Jumlah penduduk berdasarkan tingkat umur di Kota Surakarta dari tahun 1975 sampai dengan tahun 1995 dapat dilihat pada Tabel 3 berikut: Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Usia di Kota Surakarta 1985, 1990, 1998. USIA TAHUN 1985 1990 1998 PRIA WANITA PRIA WANITA PRIA WANITA 0 4 tahun 41.187 42.896 37.651 38.636 38.823 39.888 5 14 tahun 51.719 54.417 55.287 57.915 56.17 57.582 15 24 tahun 54.365 58.120 57.962 60.809 58.039 60.705 25 54 tahun 80.312 84.727 88.563 91.791 90.623 94.616 55 tahun ke atas 17.116 18.732 22.580 24.810 22.286 24.108 Sumber data: Badan Pusat Statistik Surakarta 1985, 1990, 1998. Banyaknya penduduk Surakarta antara tahun 1985 sampai tahun 1998 dapat kita lihat dari Tabel 3. Usia 25 sampai 54 tahun merupakan penduduk yang paling banyak jumlahnya dan merupakan usia yang produktif. Usia 55 tahun ke atas merupakan penduduk yang paling sedikit jumlahnya karena memasuki usia lanjut.
24 2. Mata Pencaharian Kota Surakarta sebagai suatu wilayah perkotaan, kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat komplek untuk dibahas, termasuk dalam hal mata pencaharian penduduk. Jenis-jenis mata pencaharian penduduk di wilayah kota Surakarta sangat beragam dari tahun ke tahun. Kota Surakarta berkembang pesat yang ditandai dengan berkembangnya industri-industri, baik industri kecil maupun industri besar. Untuk mengetahui data-data jumlah penduduk menurut mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini : Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kota Surakarta 1980, 1990, 2000 No Mata Pencaharian 1980 1990 2000 1 Petani 390 1.090 1.048 2 Buruh Tani 714 915 963 3 Pengusaha Industri 4.468 9.407 9.419 4 Buruh Industri 65.277 77.112 72.043 5 Buruh Bangunan 54.212 64.948 61.976 6 Pedagang 16.339 19.839 23.369 7 PNS/TNI 25.174 15.309 25.374 8 Pensiunan 13.924 18.744 18.774 9 Lain-lain 146.023 179.544 212.966 JUMLAH 326.521 386.908 398.185 Sumber data: Badan Pusat Statistik Surakarta 1980, 1990, 2000.
25 Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk Surakarta menggantungkan kehidupannya ke dalam sektor informal yaitu usaha kecil-kecil atau dalam tabel disebutkan sektor mata pencaharian lain-lain. Dimana dalam aktifitas yang jelas dalam wadah perdagangan pasar dan mempunyai tradisi perdagangan pasar oleh kaum wanita. Tradisi kebudayaan, termasuk peranan wanita dalam sektor perdagangan pasar secara tradisional, merupakan faktor yang lebih penting dalam menentukan tempat wanita dalam sektor perdagangan modern. Dimana usaha tersebut memang berpotensi untuk tumbuh dan berkembang di Surakarta, karena masih adanya hubungan dengan sistem budaya yang mengharuskan kebanyakan penduduk untuk melestarikan usaha secara turun-temurun. Dalam Tabel 4 disebutkan bahwa jumlah mata pencaharian lain-lain sangat besar jumlahnya bila dibandingan jumlah mata pencaharian lainnya, dimana terjadi kestabilan peningkatan jumlah penduduk dalam sektor usaha lain-lain atau informal. secara berurutan berdasarkan jumlah dari tabel tersebut sektor Mata pencaharian lain-lain masih menjadi mayoritas pilihan penduduk, diikuti buruh industri, buruh bangunan, PNS atau TNI, pedagang, pensiunan, pengusaha industri, buruh tani dan petani sendiri. Sedangkan mata pencaharian nelayan memang tidak berkembang, karena Surakarta adalah daerah pedalaman atau terletak di tengah-tengah daratan Pulau Jawa, sehingga tidak terletak di sekitar pesisir pantai atau laut dan tidak menjadi penghasil perikanan, bahkan hanya sebagai konsumen saja. Dengan keadaan penduduk yang beranekaragam mata pencahariannya, maka dapat diketahui bahwa di Surakarta mempunyai
26 beranekaragam kesempatan kerja, meskipun itu hanya sebagai pedagang kecilkecilan bahkan ada yang hanya menggantungkan hidupnya pada gaji pensiunan. Dari Tabel 4 dapat dilihat mata pencaharian masyarakat sebagai buruh industri pada tahun 1980 yang berjumlah 65.277 orang meningkat pada tahun 1990 yang mencapai 77.112 orang kemudian disusul dengan buruh bangunan yang pada tahun 1980 berjumlah 54.212 orang meningkat menjadi 64.948 orang, peningkatan yang sangat tajam dari mata pencaharian buruh industri dan buruh bangunan tersebut dikarenakan pembangunan sektor industri di Surakarta mulai berkembang ditandai dengan banyak berdirinya perusahaan atau pabrik. 3. Tingkat Pendidikan Pendidikan dalam pengertian pengajaran adalah usaha sadar tujuan dengan sistematika terarah pada perubahan tingkah laku, perubahan yang dimaksud itu menunjukkan pada suatu proses yang harus dilalui. Tanpa proses itu perubahan perubahan tidak mungkin terjadi, proses disini berarti proses pendidikan. 4 Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kota Surakarta dari tahun 1980 sampai dengan tahun 2000 dapat dilihat pada Tabel 5 berikut : 4 Winarno Surakhmad, Metodologi Pengajaran Nasional, (Jakarta: Jemmars, 1979) hlm. 13.
27 Tabel 5. Banyaknya Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kota Surakarta 1980, 1990, 2000. No Tingkat Pendidikan 1980 1990 2000 1 2 Tidak Sekolah Belum Tamat SD 22.085 33.189 23.258 90.790 63.611 66.018 3 Tidak Tamat SD 55.163 54.199 48.250 4 Tamat SD 11.555 115.092 114.997 5 Tamat SMP 55.222 83.984 100.359 6 Tamat SMA 39.438 57.763 84.551 7 Tamat Perguruan Tinggi 4.916 12.670 22.285 JUMLAH 443.129 420.508 459.718 Sumber data: Badan Pusat Statistik Surakarta 1980, 1990, 2000. Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan masyarakat Surakarta masih tergolong rendah, masih banyak penduduk yang belum mendapat pendidikan yang layak. Pada tahun 1980 penduduk belum tamat SD sebanyak 90.790, namun pada tahun 1990 menurun menjadi 63.611. Sementara lulusan perguruan tinggi antara tahun 1980 sampai 2000 terus meningkat. Peningkatan sangat tajam terjadi antara tahun 1980 sampai 1990 dari 4.916 menjadi 12.670, dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Hal tersebut akibat dari makin mengertinya masyarakat arti penting sebuah pendidikan untuk kelangsungan hidup mereka, sehingga diharapkan untuk tahun-tahun ke depan semakin meningkat jumlah lulusan perguruan tinggi.
28 4. Agama dan Kepercayaan Agama adalah faktor yang paling penting dalam kehidupan masyarakat. Agama mengajarkan kepada masyarakat untuk tunduk dan patuh kepada Tuhan. Ajaran agama juga berisi ketauhidan yang harus dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari yang bertujuan memberi dasar pegangan keyakinan hidup sehingga orang sadar dan mengetahui asal-usul kejadian alam yaitu tujuan dan untuk apa manusia hidup. Sikap Tauhid juga harus dicerminkan dalam akhlak atau normanorma tingkah laku serta budi pekerti dalam pergaulan sosial. 5 Agama akan tumbuh subur tergantung pada keadaan masyarakat dan pemerintah yang ada. Dimana suatu pemerintah memperhatikan agama sebagai sarana dalam pembaharuan diikuti dengan masyarakat yang telah menyadari tentang peranan agama sebagai pegangan hidup dalam pergaulan bermasyarakat dan bernegara, maka agama itu akan berkembang dengan baik. 6 5 M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1988 ) hlm. 3. 6 Masjkuri dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977 ) hlm. 227.
29 Di kota Surakarta sebagian besar masyarakatnya adalah pemeluk agama Islam, seperti yang dijelaskan dalam Tabel 6 berikut ini : Tabel 6. Banyaknya Penduduk Menurut Agama Yang Dianut di Kota Surakarta 1970, 1980, 1990 No Agama 1970 1980 1990 Persentase 1 2 3 4 ISLAM KRISTEN KATOLIK KRISTEN PROTESTAN BUDHA 387.447 389.742 391.858 1,43% 66.140 67.260 68.416 1,19% 61.911 62.633 62.935 0,87% 2.746 2.928 2.923 0,51% 5 5.211 5.204 5.245 0,07% HINDU Sumber data: Badan Pusat Statistik Surakarta 1990 Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk Surakarta memeluk Agama Islam, hal ini dikarenakan agama terbesar di Jawa adalah Islam, namun tidak menutup kemungkinan adanya keanekaragaman akan tumbuhnya agama lainnya. Secara berurutan jumlahnya diikuti oleh pemeluk Agama Kristen Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Kebanyakan agama selain Islam itu dibawa oleh orang-orang dari luar daerah Surakarta bahkan dari pendatang mancanegara yang kemudian menetap dan beraktivitas di Surakarta. Dengan keanekaragaman yang terjadi ini dapat dijadikan modal pembangunan, dimana akan terjadi saling interaksi positif, misalnya dalam bidang perekonomian khususnya aktivitas
30 perdagangan sesama pemeluk agama dengan diikuti situasi kondusif dan saling menghormati sesama pemeluk agama sehingga pembangunan yang sedang berlangsung di Surakarta dapat berjalan dengan lancar.