1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Teknologi Informasi (TI) merupakan faktor yang sangat strategis tidak hanya berperan membantu mempercepat, mempermudah, dan meningkatkan akurasi proses-proses akademik dan administratif, tetapi juga memungkinkan terjadinya perbaikan-perbaikan substansial melalui solusi-solusi yang inovatif (UNES 2012). Oleh karenanya TI merupakan faktor penentu keberhasilan berbagai organisasi salah satunya adalah lembaga pendidikan tinggi (McClea dan Yen 2005). Dengan demikian, pengelolaan perguruan tinggi saat ini tentunya tidak bisa lagi dijalankan dengan cara-cara tradisional karena sistem tradisional tidak akan berubah dan tidak dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi saat ini karena sistem tradisional tidak mampu memberikan perubahan signifikan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi organisasi, sehingga secepat mungkin manajemen harus meninggalkan dan melawan aturan-aturan dari sistem tradisional dalam menjalankan proses bisnisnya. Untuk melakukan perubahan yang berarti bagi organisasi seperti yang dinyatakan oleh Allen dan Boynton (1991), maka organisasi harus mampu melewati tantangan dalam menjalankan proses bisnisnya yaitu melanggar aturan-aturan sistem informasi tradisional untuk memenuhi berbagai perubahan kebutuhan informasi di era perkembangan TI saat ini. Dampak perkembangan TI dalam bidang pendidikan khususnya bagi perguruan tinggi saat ini mencapai tahapan kompetisi yang ketat dalam memberikan layanan kepada pengguna jasa perguruan tinggi khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar). Beberapa perguruan tinggi di Kalbar baik perguruan tinggi negeri maupun swasta berkompetisi memberikan jasa pendidikan dengan unjuk kemampuan teknologi yang dimilikinya. Salah satu perguran tinggi swasta di Kalbar yang berada dalam lingkaran kompetisi ini adalah Universitas Muhammadiyah Pontianak (UMP). Hal inilah yang kemudian menjadikan UMP mengambil langkah-langkah strategis untuk dapat meningkatkan daya saingnya terhadap perguruan tinggi lain dengan melakukan pengembangan TI. Dari hasil pengembangan TI tersebut ternyata belum dapat memenuhi kebutuhan bisnis secara keseluruhan karena sistem informasi yang dibangun tidak terintegrasi dan belum sesuai dengan harapan UMP. Hasil observasi terhadap pengembangan TI di UMP menunjukkan bahwa dalam proses pengembangan TI tidak memiliki Master Plan TI sebagai rencana induk pengembangannya, karena belum merencanakan Enterprise Architectur (EA) yang menghasilkan sebuah Blueprint TI sebagai panduan pengembangan TI yang lebih operasional yang substansial dari Master Plan TI itu sendiri, sehingga perencanaan dan implementasi TI di UMP belum mengikuti trend pengembangan TI saat ini. Blueprint TI dalam istilah sistem informasi sering juga disebut sebagai Information System Planning yang merupakan sebuah pilot dari konstruksi informasi universitas, landasan pemikiran dan dasar untuk mendesain dan mengkonstruksi sistem informasi (Lin et al. 2011). Sedangkan Master Plan TI adalah rencana induk yang merupakan sarana utama atau panduan untuk
2 melakukan pengembangan, pengelolaan informasi dan sumber daya dalam organisasi (Rassameethes 2012). Dengan demikian Blueprint TI dapat dikatakan sebagai dasar bagi perencanaan yang lebih operasional dalam jangka waktu yang lebih pendek, dan Master Plan TI merupakan dokumen kunci yang di dalamnya memuat Blueprint TI yang menggambarkan perencanaan strategis pengembangan TI untuk mendukung kegiatan pengembangan TI masa depan organisasi. Oleh karena itu dapat diprediksi bahwa implementasi TI tanpa memiliki Master Plan akan menimbulkan resiko seperti ketidak sesuaian antara kebutuhan bisnis dengan sistem informasi yang dibangun, banyaknya aplikasi yang tambal sulam sehingga tidak bisa saling berkomunikasi antara satu dengan yang lain, investasi yang dikeluarkan tidak memberikan manfaat seperti yang diharapkan, dan standar kualitas sistem informasi tidak sesuai dengan standar industri yang semestinya. Seperti yang dinyatakan oleh Maniah (2011) dari hasil penelitiannya bahwa pengelolaan TI yang tidak memiliki perencanaan strategis pengembangan TI mengakibatkan pola investasi yang akan dilakukan tidak berjalan sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah ditentukan sebelumnya. Keselarasan penerapan TI dengan kebutuhan organisasi hanya mampu dijawab dengan memperhatikan faktor integrasi di dalam pengembangannya. Tujuan integrasi yang sebenarnya adalah untuk mengurangi kesenjangan yang terjadi dalam proses pengembangan sistem (Lankhorst dan Drunen 2007). Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, maka diperlukan sebuah paradigma dalam merencanakan, merancang dan mengelola sistem informasi yang disebut dengan Enterprises Architecture (EA). EA adalah sebuah pendekatan logis, komprehensif dan holistik untuk merancang dan mengimplementasikan sistem dan komponen sistem secara bersamaan (Parizeau 2002), dan merupakan cara untuk mencapai koherensi dan konsistensi dari sebuah sistem bisnis, untuk menghubungkan elemen strategis dengan proses bisnis, menghubungkan misi dan tujuan bisnis dengan misi dan tujuan TI, dan untuk memastikan keputusan yang lebih tepat tentang topik penting seperti integrasi dengan sistem informasi internal dan eksternal serta optimasi proses bisnis (Doucet et al. 2009; Ross et al. 2006; The Open Group, 2009b dalam Sasa dan Krisper 2011). EA digunakan untuk mengendalikan biaya, optimalisasi pengeluaran TI, mengendalikan atau mengatur perencanaan modal, pengembangan atau implementasi sistem informasi dan keamanan (Vries 2010). Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dan memberikan solusi terkait persoalan dalam pengembangan TI di UMP dengan melakukan analisis dan mendesain EA perguruan tinggi yang nantinya menghasilkan Blueprint TI sebagai kerangka dasar yang lebih operasional dalam dokumen Master Plan TI yang dapat digunakan untuk pengembangan TI saat ini dan di masa mendatang. Berbagai metode yang bisa digunakan dalam pengembangan EA TI untuk UMP berdasarkan A Comparison of the Top Four Enterprise Architecture Methodologies beberapa di antaranya adalah The Zachman Framework, The Open Group Architecture Framework (TOGAF), Federal Enterprise Architecture (FEA), Gartner framework. Dalam penelitian ini akan dibahas penggunaan framework TOGAF ADM untuk menghasilkan sebuah EA yang baik sehingga bisa digunakan oleh organisasi sebuah perguruan tinggi dalam mencapai visi-misi dan tujuan
3 strategisnya. TOGAF dipilih sebagai framework untuk pengembangan EA dalam penelitian ini karena memiliki banyak kelebihan di antaranya bersifat fleksibel dan bersifat open source, sistematis, fokus pada siklus implementasi (ADM) dan prosesnya tuntas, kaya akan area teknis arsitektur, TOGAF banyak memberikan best practice atau kejadian riil di dunia nyata dan selengkapnya alasan pemilihan TOGAF akan dijelaskan pada tinjauan pustaka pada bab berikutnya. Sedangkan output yang dapat dicapai dari model EA dalam penelitian adalah kerangka dasar (Blueprint) dalam pengembangan TI yang terintegrasi untuk mendukung kebutuhan bisnis di UMP. Rumusan Masalah Penelitian Dari uraian latar belakang di atas disimpulkan bahwa dalam pengembangan TI di UMP belum memiliki Master Plan TI sebagai dasar pengembangan TI, sehingga dalam proses pengembangan TI belum memiliki perencanaan yang matang dalam menentukan target pengembangan secara keseluruhan. Maka rumusan masalah dalam penelitian adalah Bagaimana membuat Blueprint bagi pengembangan TI dengan menggunakan metodologi The Open Group Architecture (TOGAF) ADM?. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah penelitian, maka dapat diuraikan dalam pertanyaan penelitian yang berkenaan dengan rumusan masalah Bagaimana membuat Blueprint bagi pengembangan TI dengan menggunakan metodologi The Open Group Architecture (TOGAF) ADM? sebagai berikut: 1. Bagaimana kondisi terkini infrastruktur teknologi informasi di UMP? 2. Bagaimana mendefinisikan TOGAF ADM untuk pengembangan arsitektur teknologi informasi dalam mendukung aktivitas bisnis di Jenjang Pendidikan Tinggi? 3. Bagaimana model standar EA yang sesuai untuk diterapkan di UMP agar dapat digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan teknologi informasi dalam mendukung pencapaian tujuan organisasi? Tujuan penelitian Berikut ini beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tentang Pengembangan Enterprise Architecture Teknologi Informasi Menggunakan Pendekatan TOGAF ADM (Studi Pengembangan Teknologi Informasi di Universitas Muhammadiyah Pontianak) adalah untuk: 1. Menganalisis kondisi dan infrastruktur teknologi informasi di UMP 2. Membangun model EA berupa model yang dapat digunakan untuk mempermudah proses pengembangan teknologi informasi. 3. Merancang blueprint yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan teknologi informasi di masa mendatang.
4 Manfaat Penelitian Manfaat dari pengembangan arsitektur teknologi informasi dalam penelitian ini adalah: 1. Menghasilkan Blueprint TI yang akan menjadi dasar bagi perencanaan perguruan tinggi dalam investasi dan implementasi teknologi informasi. 2. Perguruan tinggi bisa mengurangi berbagai resiko yang timbul dalam implementasi TI. 3. Blueprint TI bisa menjadi alat kontrol dan parameter yang efektif untuk mereview performa dan kesuksesan implementasi Teknologi Informasi pada suatu organisasi dalam perguruan tinggi. 4. Dengan adanya Blueprint TI Perguruan tinggi bisa melihat sistem apa saja yang sudah diimplementasikan, dan sistem mana yang belum diimplementasikan. Ruang Lingkup Penelitian Agar penelitian ini lebih fokus, maka penelitian dibatasi pada cakupan sebagai berikut: 1. Skala penelitian hanya pada aspek pendidikan tinggi dengan kasus aktivitas bisnis organisasi di UMP. 2. Pengembangan arsitektur teknologi informasi untuk menghasilkan model dan kerangka dasar (blueprint) dalam mengembangkan teknologi informasi yang terintegrasi untuk mendukung percepatan tujuan organisasi. 3. Kerangka kerja yang digunakan dalam pengembangan arsitektur teknologi informasi adalah The Open Group Architecture Framework (TOGAF), Architecture Depelovement Method (ADM). 2 TINJAUAN PUSTAKA Kerangka Teoritis Sistem Informasi (SI) Keberadaan SI bagi sebuah organisasi sangat penting terutama institusi perguruan tinggi dalam mencapai tujuannya, sehingga SI sebagai suatu aset organisasi harus dikelola sebaik-baiknya. Oleh karena itu perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai pengertian dan tujuan dari SI tersebut. Menurut Maria dan Haryani (2011) SI merupakan aset bagi suatu organisasi bila dikelola dengan baik akan memberikan keuntungan untuk bersaing dan meningkatkan kesempatan keberhasilan bisnis. Sistem juga disebut sebagai kelompok dari bagian-bagian yang berinteraksi yang telah disatukan dan berfungsi bersama untuk mencapai tujuannya (Wilkinson 2000). Dalam definisi lain sistem disebut sebagai suatu rangkaian langkah-langkah yang terkoordinasi, dan berulang yang dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Anthony dan Govindarajan 2005).
Untuk Selengkapnya Tersedia di Perpustakaan MB-IPB