BAB I PENDAHULUAN. masing-masing sebesar ton dan hektar. Selama lima

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. seperti selulosa, hemiselulosa, dan pektin. Karbohidrat pada ubi jalar juga

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. bahan pangan lokal, termasuk ubi jalar (Erliana, dkk, 2011). Produksi ubi

TINJAUAN PUSTAKA. berat kering beras adalah pati. Pati beras terbentuk oleh dua komponen yang

KAJIAN SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI TEPUNG UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas blackie) DENGAN VARIASI PROSES PENGERINGAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Molekul ini sangat reaktif sehingga dapat menyerang makromolekul sel seperti lipid,

BAB I PENDAHULUAN. industri pangan karena mempunyai banyak kelebihan, diantaranya adalah proses

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. baik di daerah tropis salah satunya yaitu tanaman munggur. Tanaman ini

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)

BAB I PENDAHULUAN. Ubi jalar atau ketela rambat ( Ipomoea batatas ) adalah sejenis tanaman

BAB 1 PENDAHULUAN. disukai oleh masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga

Madu tidak hanya bermanfaat dalam bidang pangan, tapi juga bermanfaat dalam bidang kesehatan dan kecantikan. Karena kandungan madu yang kaya akan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. tahun 1960-an ubi jalar telah menyebar hampir di seluruh Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Akan tetapi, perubahan gaya hidup dan pola makan yang tak sehat akan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGARUH PERBANDINGAN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) DENGAN ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) DAN JENIS JAMBU BIJI TERHADAP KARAKTERISTIK JUS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Adhita Dwi Septiani, 2014

PENDAHULUAN. Permen jelly merupakan makanan semi basah yang biasanya terbuat dari

Bab I. Pendahuluan I-10 BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. sangat beragam dan tergolong ke dalam jenis buah tropis seperti rambutan, nanas,

BAB I PENDAHULUAN. seperti Indonesia. Salah satu genus umbi-umbian yaitu genus Dioscorea atau

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. maka perlu untuk segera dilakukan diversifikasi pangan. Upaya ini dilakukan

KERAGAMAN PAKET LAYANAN UBI JALAR SEBAGAI PANGAN ALTERNATIF DALAM MEMBANGUN DIVERSIFIKASI PANGAN DI PROVINSI JAMBI

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil umbi-umbian, antara lain

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penggumpal, serta kombinasi dari perlakuan-perlakuan tersebut, sehingga

I. PENDAHULUAN. mempunyai keunggulan, yaitu kaya karbohidrat. Oleh karena itu, ubi jalar dapat

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan adalah produk fermentasi berbasis susu. Menurut Bahar (2008 :

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. merupakan golongan antioksidan. Pigmen betalain sangat jarang digunakan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dapat mengkonsumsi berbagai jenis pangan sehingga keanekaragaman pola

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Gambar 1. Beberapa varietas talas Bogor

I. PENDAHULUAN. Yogurt adalah bahan makanan yang terbuat dari susu yang

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah,

DAFTAR LAMPIRAN. xvii

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sumping merupakan makanan tradisional yang berasal dari Bali, pada di

BAB I PENDAHULUAN. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia ke arah peningkatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia kaya akan kue tradisional, salah satu jenis kue tradisional di

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Di Indonesia kaya akan berbagai jenis tanaman umbi-umbian, baik

I PENDAHULUAN. kesehatan. Nutrisi dalam black mulberry meliputi protein, karbohidrat serta

I PENDAHULUAN. protein berkisar antara 20% sampai 30%. Kacang-kacangan selain sumber protein

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dilihat dari letak geografis, Indonesia merupakan negara yang terletak pada

BAB 1 PENDAHULUAN. kolesterol, dan disertai proliferasi miosit. Hal tersebut dapat menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. anorganik dan limbah organik. Limbah anorganik adalah limbah yang berasal

BAB I PENDAHULUAN. Pada tahun 2007 BPS mencatat rata-rata konsumsi ubi jalar orang Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. berbentuk semi padat yang biasa dikonsumsi sebagai makanan selingan

I. PENDAHULUAN. dan siap untuk dimakan disebut makanan. Makanan adalah bahan pangan

BAB I PENDAHULUAN. difermentasi dengan menggunakan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. banyak disukai oleh segala kalangan dari anak-anak, remaja maupun orang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Beras analog merupakan beras tiruan yang terbuat dari tepung lokal non-beras.

I. PENDAHULUAN. seluas seluas hektar dan perairan kolam seluas hektar (Cahyono,

I PENDAHULUAN. Pemikiran,(6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

I. PENDAHULUAN. ketergantungan terhadap tepung terigu, maka dilakukan subtitusi tepung terigu

1 I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat

BAB I PENDAHULUAN. occidentale L.) seluas ha, tersebar di propinsi Sulawesi. Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur,

BAB I PENDAHULUAN. Teh sarang semut merupakan salah satu jenis teh herbal alami yang terbuat

I PENDAHULUAN. berlebihan dapat disinyalir menyebabkan penyakit jantung dan kanker. Menurut

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN. hidup dan konsumsinya agar lebih sehat. Dengan demikian, konsumen saat ini

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kadar HDL dalam darah (Linn et al., 2009). Dislipidemia sebagian besar (hingga

BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan, karena didukung oleh sumber daya alam dan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan banyaknya ketersediaanya pangan lokal asli yang ketersediannya

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN. mempunyai kandungan nutrisi yang lengkap seperti laktosa, lemak, protein,

BAB 1 PENDAHULUAN. macam komoditi pangan pertanian, tetapi kemampuan produksi pangan di

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

TANAMAN PENGHASIL PATI

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia diantaranya adalah tempe, keju, kefir, nata, yoghurt, dan lainlain.

I PENDAHULUAN. (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian,

mi. Sekitar 40% konsumsi gandum di Asia adalah mi (Hoseney, 1994).

PENDAHULUAN. Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian

BAB I PENDAHULUAN. Tanaman bayam merupakan sayuran daun yang sudah lama dikenal dan

BAB I PENDAHULUAN. yang tinggi, diantaranya mengandung vitamin C, vitamin A, sejumlah serat dan

MENU BERAGAM BERGIZI DAN BERIMBANG UNTUK HIDUP SEHAT. Nur Indrawaty Liputo. Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

PENDAHULUAN. pangan nasional. Komoditas ini memiliki keragaman yang luas dan berperan

BAB I PENDAHULUAN. indikator yang tertuang di dalam Millenium Development Goals (MDGs).

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Ketidakstabilan ini disebabkan karena atom tersebut memiliki satu atau lebih

I. PENDAHULUAN. buatan siklamat, dan pengawet boraks (Mardianita, 2012). yang akan dikonsumsi. Makanan atau minuman tersebut harus memiliki nilai

BAB I PENDAHULUAN. makanan. Dalam sejarah, kehidupan manusia dari tahun ke tahun mengalami

BAB I PENDAHULUAN. resiko penyakit pada konsumen. Makanan fungsional ini mengandung senyawa atau

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ubi jalar merupakan salah satu komoditas tanaman pangan sumber karbohidrat di Indonesia. Berdasarkan data statistik, produktivitas ubi jalar pada tahun 2015 mencapai 161,26 Ku/Ha dengan produksi dan luas lahan masing-masing sebesar 2.261.124 ton dan 143.125 hektar. Selama lima tahun terakhir yakni 2011 hingga 2015, produktivitas ubi jalar di Indonesia mengikat yakni sebanyak 123,29 Ku/Ha pada 2011 hingga mencapai 161, 26 Ku/Ha pada tahun 2015 (BPS, 2016). Dengan data tersebut, dapat dikatakan bahwa produktivitas ubi jalar di Indonesia tergolong tinggi. Cara budidaya dari umbi ini juga tergolong mudah serta umur tanamnya singkat. Selain itu, harga jual dari umbi ini pun cukup rendah. Hal ini menjadikan ubi jalar memiliki potensi dan prospek yang besar untuk dikembangkan bagi industri pengolahan pangan. Namun, di Indonesia sendiri pemanfaatan dari ubi jalar masih sangat terbatas pada olahan pangan sederhana. Padahal, di Cina, Taiwan, dan Jepang ubi jalar merupakan bahan baku industri tepung, alkohol (sochu), pakan ternak, sari karoten, bahan perekat, dan gula cair (sirup). Di Cina, sebagian besar hasil ubi jalar digunakan untuk pakan ternak (Arianingrum, 2014). Menurut Juanda dan Cahyono (2000), ubi jalar dibedakan menjadi beberapa golongan antara lain ubi jalar putih yaitu jenis ubi jalar yang 1

2 memilki daging umbi berwarna putih, ubi jalar kuning yaitu jenis ubi jalar yang memiliki daging umbi berwarna kuning, kuning muda atau putih kekuning-kuningan, ubi jalar jingga yaitu ubi jalar yang memilki daging umbi berwarna jingga hingga jingga muda, dan ubi jalar ungu yaitu jenis ubi jalar yang memilki daging umbi berwarna ungu hingga ungu muda. Kelebihan dari ubi jalar yang berwarna yaitu mengandung antioksidan yang kuat untuk menetralisir radikal bebas penyebab penuaan dini dan pencetus aneka penyakit degeneratif seperti kanker dan jantung. Zat gizi lain yang banyak terdapat dalam ubi jalar adalah energi, vitamin C, vitamin B6 (piridoksin) yang berperan penting dalam kekebalan tubuh. Kandungan mineralnya dalam ubi jalar seperti fosfor, kalsium, mangan, zat besi dan serat yang larut untuk menyerap kelebihan lemak/kolesterol dalam darah (Reifa, 2005). Selain itu untuk ubi jalar ungu memiliki kelebihan lain yaitu kandungan antosianin yang merupakan salah satu senyawa antioksidan. Hal ini menjadikan ubi jalar ungu berpotensi untuk dijadikan sebagai sumber bahan baku dalam memproduksi antosianin. Warna ungu pada ubi jalar disebabkan oleh adanya zat warna alami yang disebut antosianin. Di dalam ubi jalar ungu terdapat antosianin dengan kisaran 51,5 hingga 174,7 mg/100 gram. Hal ini menyebabkan ubi jalar ungu berpotensi untuk diekstrak antosianin yang terdapat di dalamnya. Antosianin adalah kelompok pigmen yang menyebabkan warna kemerah-merahan, letaknya di dalam cairan sel yang bersifat larut dalam air. Komponen antosianin ubi jalar ungu adalah turunan mono atau diasetil 3-(2-glukosil) glukosil-5-

3 glukosil peonidin dan sianidin. Senyawa antosianin berfungsi sebagai antioksidan dan penangkap radikal bebas, sehingga berperan untuk mencegah terjadi penuaan, kanker, dan penyakit degeneratif. Selain itu, antosianin juga memiliki kemampuan sebagai antimutagenik dan antikarsinogenik, mencegah gangguan fungsi hati, antihipertensi, dan menurunkan kadar gula darah (Husna dkk., 2013). Minuman isotonik didefinisikan sebagai minuman yang mengandung karbohidrat (monosakarida, disakarida dan terkadang maltodekstrin) dengan konsentrasi 6-9% dan mengandung sejumlah kecil mineral (elektrolit), seperti natrium, kalium, klorida, posfat serta perisa buah. Selain itu, kehadiran pewarna merupakan hal yang penting dalam menarik konsumen untuk mengkonsumsi model minuman ini. Namun, dewasa ini kebanyakan industri pangan lebih banyak yang memakai zat pewarna sintetik dikarenakan proses produksinya yang lebih cepat, harga yang lebih murah serta dapat menghasilkan warna yang cerah. Namun, penggunaan zat pewarna sintetik tersebut kurang aman dan dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi secara terus menerus karena bersifat karsinogenik (Winarno, 2004). Wulandari dan Suhartantik (2015) dalam penelitian mengenai stabilitas antosianin dari kelopak bunga rosela (Hibiscuss sabdariffa) menyatakan bahwa stabilitas warna minuman isotonik selama penyimpanan dipengaruhi oleh suhu, ph dan lama penyimpanan. Melihat potensi antosianin yang memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan serta keberadaannya yang melimpah, penambahan ekstrak

4 antosianin sebagai pewarna alami dalam minuman isotonik merupakan inovasi yang menarik karena selain aman dikonsumsi dan tidak membahayakan untuk kesehatan, saat ini tren konsumen lebih mengarah ke manfaatnya untuk kesehatan. Akan tetapi dalam proses pengolahannya, antosianin dapat terganggu stabilitasnya, baik dari stabilitas perubahan intensitas warnanya maupun stabilitas total antosianin. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan antosianin dari ubi jalar ungu antara lain cahaya, suhu, tingkat keasaman (ph), kadar gula, jenis pelarut, dan enzim (Koswara, 2006). Pada umumnya, stabilitas zat pewarna antosanin dapat diketahui dengan mengaplikasikannya pada beberapa model pangan. Suhu penyimpanan akan mempengaruhi stabilitas antosianin baik dari intensitas perubahan warna hingga perubahan total antosianin. Oktarisa (2017) menyatakan bahwa kondisi suhu kulkas mampu mempertahankan warna dari ekstrak antosianin ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). Sementara, Wulandari dan Suhartantik (2015) juga menyatakan bahwa kondisi suhu dingin mampu mempertahankan warna dari ekstrak antosianin dari kelompak bunga rosela (Hibiscuss sabdariffa). Selain suhu penyimpanan, cahaya juga akan mempengaruhi stabilitas antosianin. Hal ini dikarenakan cahaya mampu mendegradasi pigmen antosianin kemudian membentuk senyawa kalkon yang berwarna kuning hingga basa karbinol yang tidak berwarna (Koswara, 2006). Disamping itu, saat ini penggunaan jenis pengemas dalam pemasaran jenis produk pangan sangat beragam. Penggunaan jenis pengemas sendiri juga akan mempengaruhi bahan pangan

5 yang dikemasnya. Wulandari dkk. (2012) menyatakan bahwa jenis bahan pengemas dan lama penyimpanan menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan terhadap kadar vitamin C dan susut berat cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Selain itu, Furqon dkk. (2016), jenis pengemas plastik dan lama penyimpanan berpengaruh nyata terhadap kadar air dan kadar protein nugget gembus. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh suhu, cahaya, dan jenis pengemas selama penyimpanan terhadap warna, stabilitas antosianin, serta aktivitas antioksidan minuman isotonik ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). 1.2. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain: 1. Bagaimana pengaruh suhu, cahaya, dan jenis pengemas selama penyimpanan terhadap warna minuman isotonik ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.)? 2. Bagaimana pengaruh suhu, cahaya, dan jenis pengemas selama penyimpanan terhadap stabilitas antosianin minuman isotonik ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.)? 3. Bagaimana pengaruh suhu, cahaya, dan jenis pengemas selama penyimpanan terhadap aktivitas antioksidan minuman isotonik ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.)?

6 1.3. Tujuan Penelitian 1. Mengkaji pengaruh suhu, cahaya, dan jenis pengemas selama penyimpanan terhadap warna minuman isotonik ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). 2. Mengkaji pengaruh suhu, cahaya, dan jenis pengemas selama penyimpanan terhadap stabilitas antosianin minuman isotonik ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). 3. Mengkaji pengaruh suhu, cahaya, dan jenis pengemas selama penyimpanan terhadap aktivitas antioksidan minuman isotonik ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). 1.4. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain: 1. Mengetahui pengaruh suhu, cahaya, dan jenis pengemas selama penyimpanan terhadap warna, stabilitas antosianin, serta aktivitas antioksidan minuman isotonik ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). 2. Memberikan inovasi mengenai pembuatan zat pewarna alami dari bahan pangan lokal yang dapat diaplikasikan pada makanan atau minuman. 3. Memberikan informasi ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan teknologi pangan khususnya mengenai stabilitas antosianin dari ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) dalam berbagai jenis model makanan.