1 Isu Prioritas - Standar (SNI) Melindungi hak konsumen dan memaksimalkan kepuasan pelanggan adalah bagian dari tujuan utama perusahaanperusahaan di seluruh dunia. Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia telah mengembangkan kerangka hukum yang komprehensif, yakni Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian ( UU Standar ). UU Standar bertujuan menjamin kualitas barang industri bermutu tinggi, jasa, sistem, proses, dan personel di seluruh Indonesia. EuroCham yakin undang-undang tersebut tidak hanya dibuat untuk menjamin reputasi dan keandalan, tetapi juga untuk menopang volume produksi dan penjualan dalam jangka panjang. Sebagai perwakilan dari perusahaanperusahaan Eropa di Indonesia, kami sepenuhnya mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk memberikan perlindungan dan kepuasan konsumen. Kami juga memahami bahwa Standar Nasional Indonesia ( SNI ) merupakan kerangka yang dapat membantu upaya pencapaian tingkat standardisasi yang lebih tinggi. Namun, pelaksanaan SNI hingga sekarang belum optimal, sehingga tujuannya untuk memberikan perlindungan konsumen belum sepenuhnya terpenuhi. Meskipun SNI bermaksud melindungi konsumen dari produk berkualitas rendah, standar tersebut digunakan sebagai hambatan nontarif untuk melindungi pasar domestik dan produk local. Organisasi Perdagangan Dunia ( WTO ) memberi kesempatan kepada negara-negara anggotanya untuk mengatur perdagangan guna melindungi kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan, juga kesehatan publik, dan ini tercakup dalam Pasal 20 Persetujuan Umum mengenai Tarif dan Perdagangan ( GATT ). Meskipun pasal ini memungkinkan penerapan standar berbeda di setiap wilayah negara yang berdaulat, standar berbeda tersebut tidak dapat digunakan sebagai bentuk proteksionisme atau praktik diskriminatif. Karena itu, sangatlah penting untuk memastikan bahwa setiap standar benar-benar bermanfaat, dan tidak bersifat sepihak atau menutup-nutupi proteksionisme. Persetujuan Hambatan Teknis dalam Perdagangan ( TBT ) juga menetapkan berbagai aturan dasar guna menjamin bahwa regulasi dan standar, serta prosedur pengujian dan sertifikasi, tidak menciptakan rintangan yang tidak dapat dibenarkan. Persetujuan TBT menetapkan bahwa prosedur yang digunakan harus adil dan tidak memihak, dalam menentukan apakah suatu produk memenuhi standar terkait. Persetujuan TBT juga melarang adanya prosedur tertentu yang dapat memberikan keuntungan yang tidak adil kepada produk domestik, sekaligus mendorong semua negara untuk mengakui berbagai prosedur penilaian kesesuaian yang diterapkan oleh negaranegara lain. Mengingat perkembangan global dan teknologi dalam beberapa tahun terakhir, sangatlah penting bagi Indonesia untuk terus mengikuti perubahan yang terjadi, khususnya terkait standardisasi. Bahkan, Indonesia tidak akan mengalami kerugian jika menerima standar-standar yang kini diterapkan di kawasan dan negara lain. Langkah tersebut justru dapat menjadi langkah positif agar SNI diakui oleh kawasan dan negara lain. Selain itu, jika sebuah negara menerapkan standar internasional alih-alih standar unilateralnya sendiri, kemungkinan gugatan dalam Badan Penyelesaian Sengketa WTO menjadi lebih kecil. Penting untuk dicatat bahwa kami senantiasa mendukung kerangka SNI. Namun, kami juga percaya bahwa pengembangan bisnis, pertumbuhan industri, dan investasi di Indonesia dapat memperoleh manfaat yang signifikan dari implementasi SNI yang lebih hemat biaya, serta dari diterimanya standar internasional lain. WWW.EUROCHAM.ID
2 LEMBAR REKOMENDASI EUROCHAM 2018 STANDAR Sebagai asosiasi pelaku usaha, kami melihat SNI sebagai risiko dalam bentuk peluang bisnis yang hilang bagi Indonesia. Implementasi SNI juga berdampak terhadap kecepatan penerimaan sampel produk, yang nantinya akan diproduksi secara massal di Indonesia. Tanpa proses yang lancar dan efisien, sulit untuk mendukung program pemerintah untuk mendorong pertumbuhan bisnis dan menambah jumlah lapangan pekerjaan. Patut dicatat bahwa ketentuan mengenai standar menjadi bagian integral dari negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif ( CEPA ) Indonesia-Uni Eropa ( EU ) mendatang, yang akan membahas masalah prosedur standardisasi dan penilaian kesesuaian. Kami percaya bahwa pada akhirnya masyarakat Indonesia akan diuntungkan seandainya pemerintah bersedia mempertimbangkan untuk mengadopsi perangkat standar internasional lain, yang dapat diterima oleh semua pihak terkait. Langkah seperti itu dapat membantu meningkatkan volume perdagangan dan investasi di Indonesia. Secara lebih spesifik, produk seperti mainan, pakaian bayi, dan perangkat makan dari keramik harus mematuhi ketentuan SNI. Namun, sebelum memasuki pasar Indonesia, produk-produk tersebut telah diuji berdasarkan standar internasional (misalnya, mainan dengan EN 71, ASTM, SOR [Kanada]; AS/NZS ISO 8214.1 dan 3 [Australia]; TR TS [Rusia]; GB [China]; dan JFSL [Jepang]). Permasalahan Perusahaan yang menjadi bagian dari EuroCham menghadapi sejumlah permasalahan terkait implementasi SNI. Pertama, jangka waktu proses untuk Sertifikasi SNI dapat berjalan sekitar dua bulan. Situasi ini, terlebih untuk perusahaan ritel, mengakibatkan waktu proses impor lebih lama. Kedua, produk-produk yang wajib melewati pemeriksaan SNI harus diuji di laboratorium pengujian yang berlokasi di Indonesia. Ini menyebabkan sejumlah masalah lain, termasuk: Standar Nasional Indonesia (SNI) Sehubungan dengan SNI, kami menyadari bahwa, secara umum, sertifikasi SNI menaikkan biaya secara substantif dan menambah lajur untuk perusahaan. Sebagai contoh, produk otomotif impor seperti roda, pelek, dan kaca keselamatan kini wajib melewati inspeksi SNI, meskipun produk-produk seperti itu telah melewati proses sertifikasi standar serupa di negara asal masing-masing. Lebih jauh lagi, sertifikasi standar ini pada umumnya menggunakan tolok ukur yang serupa dengan tolok ukur SNI, dan tidak jarang persyaratan di negara asal justru lebih ketat dibandingkan dengan SNI. Biaya tambahan untuk membawa sampel ke Indonesia. Proses bea cukai untuk sampel tanpa SNI. Biaya untuk Sertifikasi SNI dari LSPro (Lembaga Sertifikasi Produk) yang cukup tinggi (berkisar 60-200 juta per sertifikasi), sehingga harga ritel untuk konsumen Indonesia menjadi lebih tinggi. Contoh produk lain yang harus memenuhi standar SNI termasuk mainan dan pakaian bayi. Meskipun pemerintah tidak menerapkan larangan masuknya barang impor ke Indonesia, semua produk seperti itu diharuskan melewati proses SNI yang kompleks dan rumit sebelum akhirnya dapat dipasarkan di Indonesia. Prosedur ini sudah dimulai sejak pengiriman, berhubung proses sertifikasi SNI mensyaratkan sampel produk diambil di pelabuhan asal. Persyaratan ini berpotensi menunda pengiriman dan meningkatkan biaya operasional. EUROCHAM KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI EROPA DI INDONESIA
3 Rekomendasi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Perusahaan dan masyarakat Indonesia akan diuntungkan dengan proses dan prosedur sertifikasi SNI yang lebih sederhana dan cepat. Guna mendorong pertumbuhan lebih lanjut industri dan pasar di Indonesia, dan juga peluang memasuki pasar internasional, SNI perlu dikembangkan dan diimplementasikan secara paralel dengan standar internasional yang diterima lainnya, seperti standar UNECE atau ISO. Informasi publik terkait SNI harus jelas, khususnya mengenai penggunaan tolok ukur secara internasional. Terkait implementasi SNI wajib, kami menganjurkan agar pemerintah mempertimbangkan kapasitas produsen lokal dalam menghasilkan produk dengan tingkat mutu tertentu, yang akan memungkinkan mereka bersaing dengan produsen dari negara-negara lain. Ini akan menjadi pertimbangan penting ketika mengimplementasikan SNI. Pengaturan Pengakuan Timbal Balik ASEAN (ASEAN Mutual Recognition Agreement), jika disepakati oleh Indonesia akan menawarkan banyak keuntungan, khususnya terkait pengakuan SNI oleh negara lain di kawasan Asia Tenggara. Memungkinkan pengujian barang dilakukan di negara asal, untuk barang impor. Lembar Rekomendasi EuroCham 2018 : Standar SNI Penafian: Publikasi ini dibuat dengan bantuan dari Uni Eropa (EU). Isi dari publikasi ini adalah sepenuhnya tanggung jawab dari Kamar Dagang dan Industri Eropa di Indonesia (EuroCham) dan tidak dapat dianggap sebagai pandangan resmi dari Uni Eropa. WWW.EUROCHAM.ID