BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

Abstrak Latar Belakang: Tujuan: Metode: Hasil: Kesimpulan: Kata kunci : Abstract Background Aims Method: Results Conclusions Keywords:

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi memiliki istilah lain yaitu silent killer dikarenakan penyakit ini

BAB I PENDAHULUAN. Tenaga kerja menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan upaya yang harus. diselenggarakan disemua tempat kerja. Khususnya tempat kerja yang

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang memerlukan zat gizi untuk hidup, tumbuh, berkembang, Energi dibutuhkan oleh setiap orang untuk mempertahankan hidup,

BAB I PENDAHULUAN (6; 1) (11)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Terciptanya SDM yang berkualitas ditentukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Pada kelompok anak usia sekolah, termasuk remaja usia 16-18

BAB I PENDAHULUAN. lum masa dewasa dari usia tahun. Masa remaja dimulai dari saat pertama

BAB I PENDAHULUAN. Fenomena overweight saat ini sedang menjadi perhatian. Overweight atau

BAB I PENDAHULUAN. memungkinkan manusia bekerja secara maksimal (Moehji, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. Karena tanpa pengaturan sumber daya manusia yang tepat, maka. banyak artinya tanpa dikelola oleh manusia secara baik.

BAB I PENDAHULUAN. lebih sangat erat kaitannya dengan aspek kesehatan lain. Gizi lebih dan. nama Sindrom Dunia Baru New World Syndrome.

BAB I PENDAHULUAN. dalam jam kerja tidak normal dengan sistem kerja shift. Menurut ILO (2003)

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan gizi saat ini cukup kompleks meliputi masalah gizi ganda. Gizi

BAB I PENDAHULUAN. gizi terjadi pula peningkatan kasus penyakit tidak menular (Non-Communicable

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya penyempitan, penyumbatan, atau kelainan pembuluh nadi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pertumbuhan dan perkembangan fisik erat hubungannya dengan status

BAB I PENDAHULUAN. makanan dan penggunaan zat-zat gizi yang dibedakan menjadi status gizi

BAB I PENDAHULUAN UKDW. pada sel beta mengalami gangguan dan jaringan perifer tidak mampu

BAB I PENDAHULUAN. dan dewasa sampai usia lanjut. Dari seluruh siklus kehidupan, program perbaikan

BAB 1 PENDAHULUAN. pemerintah untuk menyejahterakan kehidupan bangsa. Pembangunan suatu bangsa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. (SDM) yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif (Hadi, 2005). bangsa bagi pembangunan yang berkesinambungan (sustainable

BAB I PENDAHULUAN. perhatian serius dari pemerintah. Gizi yang baik merupakan pondasi bagi

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sistem pelayanan kesehatan merupakan salah satu struktur

BAB I PENDAHULUAN. dari sepuluh masalah kesehatan utama di dunia dan kelima teratas di negara

BAB I PENDAHULUAN.

BAB I PENDAHULUAN. kompleks. Dewasa ini perusahaan-perusahan dipacu untuk meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. pacu tumbuh (growth spurt), timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapai fertilitas dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. mereka dalam dekade pertama kehidupan. Masa remaja merupakan jembatan

tenaga kerja yang sesuai dengan jenis pekerjaannya (Suma mur, 2014). organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia saat ini tengah menghadapi beban ganda masalah gizi. Di

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

GAMBARAN ASUPAN ZAT GIZI, STATUS GIZI DAN PRODUKTIVITAS KARYAWAN CV. SINAR MATAHARI SEJAHTERA DI KOTA MAKASSAR

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sebagai generasi penerus bangsa yang potensi dan kualitasnya masih perlu

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus

BAB I PENDAHULUAN. Santri merupakan sebutan untuk murid yang bertempat tinggal di suatu

BAB I PENDAHULUAN. Usia sekolah dasar disebut juga sebagai masa pengembangan. intelektual, dikarenakan pada masa itu anak memiliki keinginan dan

BAB I PENDAHULUAN I.I LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN. negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusaan.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Anemia Gizi Besi (AGB) dan Kekurangan Energi Protein (KEP) di Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. (Sumbodo, 2007). Produktivitas kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor

PENGARUH TINGKAT KELELAHAN AKIBAT AKTIVITAS FISIK MALAM DENGAN KEJADIAN INSOMNIA PADA OLAHRAGAWAN FUTSAL MAHASISWA UIN ALAUDDIN MAKASSAR TAHUN 2016

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Teknik Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. prevalensi yang selalu meningkat setiap tahun, baik di negara maju maupun

HUBUNGAN LAMA KERJA DAN POLA ISTIRAHAT DENGAN DERAJAT HIPERTENSI DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD ULIN BANJARMASIN

BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama

BAB I PENDAHULUAN. tetapi kurang serat (Suyono dalam Andriyani, 2010). Ketidakseimbangan antara

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan masa transisi dari masa anak anak menuju masa

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini masalah kegemukan ( overweight) merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. jantung dimana otot jantung kekurangan suplai darah yang disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan kelompok peralihan dari masa anak-anak. menuju dewasa dan kelompok yang rentan terhadap perubahanperubahan

Gambar Kerangka pemikiran hubungan faktor gaya hidup dengan kegemuka pada orang dewasa di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo.

BAB I PENDAHULUAN. lainnya gizi kurang, dan yang status gizinya baik hanya sekitar orang anak

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa

BAB I PENDAHULUAN. penyakit tidak menular dan penyakit kronis. Salah satu penyakit tidak menular

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes mellitus dapat menyerang warga seluruh lapisan umur dan status

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes mellitus, merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. Kebiasaan makan..., Evi Heryanti, FKM UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan untuk melaksanakan pembangunan nasional. Untuk mencapai SDM

BAB I PENDAHULUAN. tekanan darah lebih dari sama dengan 140mmHg untuk sistolik dan lebih dari

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada berbagai kalangan, terjadi pada wanita dan pria yang berumur. membuat metabolisme dalam tubuh menurun, sehingga proses

Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif. dr. Yulia Megawati

BAB I PENDAHULUAN. Usia remaja merupakan usia peralihan dari masa anak-anak menuju

BAB I PENDAHULUAN. mengandung zat gizi, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Jika tubuh tidak cukup mendapatkan zat-zat gizi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Rumah Sakit RSUD dr. Moewardi. 1. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi

7 Kebiasaan Penyebab Kadar Gula Darah Melonjak

BAB 1 : PENDAHULUAN. lebih. Kondisi ini dikenal sebagai masalah gizi ganda yang dapat dialami oleh anakanak,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kehadiran fast food dalam industri makanan di Indonesia mempengaruhi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. (overweight) dan kegemukan (obesitas) merupakan masalah. negara. Peningkatan prevalensinya tidak saja terjadi di negara

METODOLOGI Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Sampel Jenis dan Cara Pengumpulan Data

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Oleh: Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS Siti Nuryati, STP, MSi Muhammad Aries

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan bagi anak-anak, remaja,

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki dua masalah gizi utama yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Kelebihan gizi menyebabkan obesitas yang banyak terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Menurut Irwan (2016) obesitas merupakan keadaan lemak tubuh yang menumpuk secara berlebihan dengan berat jauh di atas normal yang membahayakan kesehatan seseorang, disebabkan oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan energi dan konsumsi kalori yang dibutuhkan oleh tubuh untuk digunakan dalam berbagai fungsi biologis seperti aktivitas, pertumbuhan fisik, perkembangan dan pemeliharaan kesehatan. Riskesdas (2013) menyajikan prevalensi penduduk dewasa dengan status gizi kurus, gizi lebih dan obesitas menurut IMT/U masing-masing provinsi di Indonesia. Prevalensi status gizi kurus pada dewasa di Indonesia sebanyak 8,7%, dimana prevalensi tertinggi berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 19,5%. Prevalensi status gizi dewasa dengan berat badan (BB) lebih sebanyak 13,5%, dimana prevalensi tertinggi berada di Sulawesi Utara sebanyak 16,0% dan DKI Jakarta sebanyak ±11,0%. Prevalensi status gizi dewasa dengan obesitas sebanyak 15,4%, dimana prevalensi tertinggi di Sulawesi Utara sebanyak 24,0%, DKI Jakarta sebanyak ±15,5%. Status gizi secara langsung memengaruhi tingkat kesehatan yang nantinya akan berdampak pada produktivitas kerja. Bagi seseorang yang bekerja, faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan adalah tempat kerja yang menimbulkan berbagai penyakit, adanya gangguan kesehatan disebabkan oleh lingkungan pekerjaan dan gaya hidup masing-masing tenaga kerja (Hermaduanti & Kusumadewi, 2008). Terdapat beberapa hal yang berpengaruh terhadap status gizi yaitu status sosial ekonomi, pola aktivitas fisik, lemak tubuh, pendidikan, dan konsumsi makan. Pada penelitian Kain et al. (2003) bahwa seseorang dengan status ekonomi rendah memiliki status gizi cenderung rendah, begitu pula dengan status ekonomi tinggi, maka akan tinggi juga status gizinya (kecenderungan obesitas). Pola aktivitas fisik yang berpengaruh terhadap asupan makanan bila aktivitas fisik berat maka membutuhkan konsumsi makanan yang berlebih. Lemak tubuh dianggap tidak aktif karena tidak ikut dalam metabolisme 1

2 sehari-hari tetapi sebagai cadangan energi berlebih yang tidak terpakai di dalam tubuh. Pendidikan seseorang juga termasuk dalam pengaruh status gizi, jika seseorang memiliki pengetahuan status gizi yang penting bagi kehidupan maka senantiasa menjaga kesehatan. Pengaruh lainnya terhadap kebiasaan mengonsumsi makanan yang menyebabkan peningkatan asupan energi total dengan pola makan yang tidak teratur, asupan makanan sembarangan dalam porsi besar. Menurut Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (2000) bahwa pola makan yang teratur terdapat makan pagi, makan siang, makan malam, serta selingan yang memiliki kontribusi dan memengaruhi total konsumsi energi dan zat gizi makro. Kontribusi tersebut diartikan sebagai sumbangan makanan untuk tubuh dalam rangka memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi makro harian. Kontribusi energi dan zat gizi makro yang cukup berfungsi untuk mempertahankan hidup, menunjang pertumbuhan dan melakukan aktivitas fisik (Almatsier, 2004). Setiap perusahaan tentu bertujuan untuk mendapatkan profit sebesar-besarnya. Dalam hal ini banyak perusahaan yang akhirnya memutuskan untuk beroperasi 24 jam, dan menerapkan sistem shift di beberapa divisi. Diterapkannya sistem shift, menuntut pihak perusahaan untuk mampu mengakomodasi kebutuhan pekerja yang bekerja dengan shift atau yang tidak bekerja dengan shift. Pada subjek penelitian di PT Jakarta International Container Terminal (JICT) memiliki 2 tipe karyawan yaitu karyawan operasional (shift dan non shift) yang berumur 25-56 tahun. Dengan jam kerja 8 jam/hari. Pada divisi operasional, diberlakukan sistem shift dengan 3 shift yaitu shift pagi (07.00-15.30), shift siang (15.30-23.00) dan shift malam (23.00-07.00). Pada sistem non shift kerja dimulai dari jam 09.00-17.00. Jam kerja shift menjadi fokus utama, karena menurut Suwazon et al. (2008) pada pekerja shift lebih sering terjadi peningkatan BB dibandingkan pekerja non shift. Persentase obesitas pekerja shift juga lebih tinggi sebanyak 14,2% dibandingkan pekerja non shift sebanyak 7,7% (Pietroiusti et al., 2010). Pekerja shift biasanya mengonsumsi makanan atau minuman yang manis dan makanan siap saji dengan porsi yang besar, serta mengonsumsi kafein juga merokok agar dapat menghilangkan rasa lelah dan kantuk pada saat shift malam yang berpengaruh terhadap penurunan produktivitas kerja karyawan (Laksmi, 2012). Kerja shift lebih berisiko dibandingkan dengan pekerja non shift karena jam kerja shift dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti gangguan pola tidur, gangguan

3 gastrointestinal, sindrom metabolik, kardiovaskuler, serta gangguan kesehatan lain. Gangguan irama sirkandian terjadi karena perubahan jadwal kegiatan seperti jadwal tidur, makan dan aktivitas lain, gangguan irama sirkandian merupakan dasar metabolisme, fisiologis dan psikologis pada siklus tidur dan bangun harian yang terjadi pada pekerja shift. Pekerja shift akan lebih berisiko terhadap gangguan kesehatan dimana pekerja bekerja pada rotasi pagi, sore dan malam dengan jam kerja 8 jam dibandingkan dengan shift permanen yang bekerja pada jadwal shift tetap (Laksmi, 2012). Berdasarkan uraian di atas menginspirasikan peneliti untuk mengkaji lebih jauh terkait dengan hubungan kontribusi energi dan zat gizi makro, persentase lemak total tubuh, dan aktivitas fisik terhadap indeks massa tubuh karyawan operasional (shift) di PT Jakarta International Container Terminal (JICT). B. Rumusan Masalah Berdasarkan yang telah diuraikan pada latar belakang, sehingga dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah ada hubungan kontribusi energi dan zat gizi makro, persentase lemak total tubuh, dan aktivitas fisik terhadap indeks massa tubuh karyawan operasional (shift) di PT JICT? C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan kontribusi energi dan zat gizi makro, persentase lemak total tubuh, dan aktivitas fisik terhadap indeks massa tubuh karyawan operasional (shift) di PT JICT? 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui karakteristik (umur) pada b. Mengidentifikasi kontribusi energi dan zat gizi makro makan pagi pada

4 c. Mengidentifikasi kontribusi energi dan zat gizi makro makan siang pada d. Mengidentifikasi kontribusi energi dan zat gizi makro makan malam pada e. Mengidentifikasi kontribusi energi dan zat gizi makro makan selingan pada f. Mengidentifikasi indeks massa tubuh pada g. Mengidentifikasi aktivitas fisik pada h. Mengidentifikasi persentase lemak total tubuh pada karyawan operasional di PT JICT i. Mengidentifikasi kontribusi energi dan zat gizi makro yang diberikan PT JICT pada karyawan operasional j. Menganalisis hubungan antara kontribusi energi dan zat gizi makro makan pagi dengan indeks massa tubuh k. Menganalisis hubungan antara kontribusi energi dan zat gizi makro makan siang dengan indeks massa tubuh l. Menganalisis hubungan antara kontribusi energi dan zat gizi makro makan malam dengan indeks massa tubuh m. Menganalisis hubungan antara kontribusi energi dan zat gizi makro makan selingan dengan indeks massa tubuh n. Menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh o. Menganalisis hubungan persentase lemak total tubuh dengan indeks massa tubuh D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan sarana untuk mengembangkan ilmu tentang hubungan kontribusi energi dan zat gizi makro, persentase lemak total tubuh, dan aktivitas fisik terhadap indeks massa tubuh karyawan

5 operasional (shift) di PT JICT sehingga mendapatkan pengalaman tentang menganalisa masalah. 2. Bagi Universitas Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya dalam hal penerapan hubungan kontribusi energi dan zat gizi makro, persentase lemak total tubuh, dan aktivitas fisik terhadap indeks massa tubuh karyawan. 3. Bagi PT JICT Hasil peneltian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan baru bagi PT JICT serta dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk performa kerja yang lebih baik. 4. Bagi Karyawan PT JICT Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi karyawan PT JICT serta menambah pengetahuan tentang status gizi (indeks massa tubuh) khususnya dalam menjaga asupan makanan dan kesehatan. E. Keterbaruan Penelitian Beberapa penelitian terkait Tabel 1.1. Keterbaruan Penelitian No Nama Peneliti Tahun Judul Penelitian Rancangan Penelitian Hasil 1. Etika Ratna N & Kirana L 2014 Peningkatan angka kejadian obesitas dan hipertensi pada pekerjaan shift Cross sectional Pekerja shift memiliki persentase hipertensi dan obesitas dibanding pekerja non shift. Pekerja shift dan non shift memiliki asupan energi 100% berkaitan dengan obesitas yang tinggi. 2. Diana Puspita L & Vilda Ana V 2014 Hubungan antara asupan gizi dan status gizi dengan kelelahan kerja pada karyawan perusahaan tahu baxo Bu Pudji di Ungaran tahun 2014 Cross Sectional Memiliki tingkat kelelahan kerja berat, faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja antara lain masa kerja dan status gizi. Umur, asupan energi dan zat gizi makro tidak ada hubungan dengan kelelahan kerja. Status gizi karyawan pada umumnya normal dengan persentase 62,5%

6 No Nama Peneliti Tahun Judul Penelitian Rancangan Penelitian Hasil 3. Kimberly Febrina Ko 2012 Pengaruh shift kerja terhadap kelelahan pekerja pabrik kelapa sawit di PY. X Labuhan batu Cross-sectional Pekerja shift malam lebih tinggi risiko kelelahan, tekanan darah, denyut nadi, stress fisik dan mental dibandingkan dengan pekerja shift pagi. Produktivitas shift pagi lebih tinggi dibandingkan dengan shift malam yang disebabkan circadian ritme meningkat pada siang hari dan menurun pada malam hari. 4. Nadia Selvia R 2012 Perbedaan stres kerja ditinjau dari shift kerja pada perawat di RSUD DR. Soetomo Surabaya Statistik one way anova, dengan bantuan program SPSS 16.00 for windows Tidak ada perbedaan stress kerja pada shift kerja karena rotasi kerja paling lama tiga hari sekali sehingga perawat sering berganti shift dengan jarak relatif singkat. 5. Elly Trisnawati 2012 Kualitas tidur, status gizi dan kelelahan kerja pada pekerja wanita dengan peran ganda Cross Sectional Terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja dan terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan kelelahan kerja. Terdapat perbedaan tingkat kelelahan antara ketiga shift kerja. Faktor kualitas tidur merupakan faktor yang paling berperan dalam menentukan terjadinya kelelahan kerja. 6. Kirana L. 2012 Perbedaan status gizi, tekanan darah, dan asupan zat gizi antara pekerja shift dan pekerja non-shift Cross-sectional Kerja shift memiliki risiko gangguan kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja non shift, asupan lemak pekerja shift

7 No Nama Peneliti Tahun Judul Penelitian Rancangan Penelitian Hasil 7. Eka R, Tarwaka & Seviana R 2011 Perbedaan tingkat kelelahan kerja tenaga kerja wanita antara shift pagi, shift sore, shift malam di bagian Winding PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta lebih rendah dan asupan karbohidrat lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja non shift. Pekerja shift memiliki peluang obesitas dan hipertensi lebih besar dibandingkan dengan pekerja non shift. Cross Sectional Terdapat perbedaan tingkat kelelahan kerja tenaga kerja wanita antara shift pagi, shift sore, shift malam menunjukkan nilai yang sangat signifikan. Tingkat kelelahan tertinggi terjadi pada shift malam. Ketujuh penelitian di atas memiliki karakteristik sampel yang sama, pada penelitian Etika & Kirana (2014) dengan metode Cross sectional bahwa pekerja shift memiliki presentase hipertensi dan obesitas dibanding pekerja non shift. Pekerja shift dan non shift memiliki asupan energi 100% berkaitan dengan obesitas yang tinggi. Penelitian Diana Puspita L & Vilda Ana V (2014) dengan metode Cross-sectional menyatakan bahwa memiliki tingkat kelelahan kerja berat, faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja antara lain masa kerja dan status gizi. Umur, asupan energi dan zat gizi makro tidak ada hubungan dengan kelelahan kerja. Status gizi karyawan pada umumnya normal dengan persentase 62,5%. Penelitian Kimberly (2012) dengan metode Cross sectional bahwa pekerja shift malam lebih tinggi risiko kelelahan, tekanan darah, denyut nadi, stress fisik dan mental dibandingkan dengan pekerja shift pagi. Produktivitas shift pagi lebih tinggi dibandingkan dengan shift malam yang disebabkan circadian ritme meningkat pada siang hari dan menurun pada malam hari. Penelitian Nadia (2012) dengan metode statistik one way anova Tidak ada perbedaan stress kerja pada shift kerja karena rotasi kerja paling lama tiga hari sekali sehingga perawat sering berganti shift dengan jarak relatif singkat. Peneltian Elly Trisnawati (2012) dengan metode Cross sectional menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna

8 antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja dan terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan kelelahan kerja. Terdapat perbedaan tingkat kelelahan antara ketiga shift kerja. Faktor kualitas tidur merupakan faktor yang paling berperan dalam menentukan terjadinya kelelahan kerja. Penelitian Kirana (2012) dengan metode Cross sectional menyatakan bahwa kerja shift memiliki risiko gangguan kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja non shift, asupan lemak pekerja shift lebih rendah dan asupan karbohidrat lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja non shift. Pekerja shift memiliki peluang obesitas dan hipertensi lebih besar dibandingkan dengan pekerja non shift. Serta penelitian Eka R, Tarwaka & Seviana R (2011) dengan metode Cross sectional menyatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat kelelahan kerja tenaga kerja wanita antara shift pagi, shift sore, shift malam menunjukkan nilai yang sangat signifikan. Tingkat kelelahan tertinggi terjadi pada shift malam. Penelitian ini sudah mampu menganalisa data-data dengan baik, namun data masih terbatas pada hubungan kontribusi energi dan zat gizi makro, persentase lemak total tubuh, dan aktivitas fisik terhadap indeks massa tubuh karyawan shift. Berdasarkan hal tersebut, peneliti akan menganalisa lebih lanjut tentang kontribusi energi dan zat gizi makro, persentase lemak total tubuh, dan aktivitas fisik serta status gizi (indeks massa tubuh).