BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan aegypti dan albopictus. [1] Nyamuk ini bersifat antropofilik artinya lebih menyenangi mengisap darah manusia dibanding dengan mengisap darah hewan. Nyamuk mengisap darah adalah betina, karena darah diperlukan dalam proses pematangan telur. Nyamuk aegypti mempunyai kebiasaan menggigit berulang-ulang (multiple bitters) yaitu dapat menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat, sehingga sangat berpotensi menularkan virus ke beberapa orang dalam waktu singkat. Namun demikian, betina belum pernah menggigit orang sakit DBD tidak berbahaya. [2] Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah. [1] Menurut data Dinas Kesehatan Kota Semarang tahun 2009, Kota Semarang sejak tahun 1969 merupakan daerah endemis penyakit DBD. Data dari tahun 2006 sampai 2008 kasus DBD meningkat, tahun 2006 kasus DBD 1.845 (Insiden Rate atau IR=12,6 per 10.000 penduduk) dengan kematian 42 (Case Fatality Rate atau CFR=2,3%), tahun 2007 meningkat menjadi 2.924 kasus (IR=19,6 per 10.000 penduduk) dengan kematian 32 (CFR=1,1%) dan tahun 2008 meningkat lagi menjadi 5.249 kasus (IR=36,1 per 10.000 penduduk) dengan kematian 18 (CFR=0,3%). [3] Dalam menyusun strategi pengendalian kedua vektor DBD ( aegypti dan albopictus) perlu dipelajari perilaku kedua tersebut. Hal ini karena hingga saat ini belum ada obat dan vaksin direkomendasikan untuk pengobatan dan pencegahan penyakit tersebut, sehingga satu-satunya upaya diandalkan adalah pengendalian kepadatan kedua spesies tersebut. Surveilans untuk sangat penting untuk menentukan distribusi, kepadatan populasi, habitat utama larva, faktor risiko berdasarkan waktu dan tempat berkaitan dengan penyebaran dengue, dan tingkat kerentanan atau kekebalan insektisida dipakai, guna memprioritaskan wilayah dan musim untuk pelaksanaan pengendalian vektor. [4] Salah satu upaya untuk menurunkan tingkat kepadatan alami yaitu menggunakan ovitrap. Ovitrap adalah perangkap telur berupa tabung gelas kecil bermulut lebar dicat hitam di bagian luarnya. Tabung gelas tersebut dilengkapi dengan tongkat kayu dijepit vertikal di bagian kasarnya menghadap ke arah dalam. Tabung separuh
diisi air dan ditempatkan di lokasi diduga menjadi habitat, biasanya di dalam atau di sekitar lingkungan rumah. Ovitrap standar berupa tabung gelas plastik (350 mililiter) dengan ukuran tinggi 91 milimeter dan diameter 75 milimeter dicat hitam bagian luarnya, diisi air dan diberi lapisan kertas, bilah kayu, atau bambu sebagai tempat bertelur. [4] Keberhasilan penerapan metode perangkap telur ini bergantung pada jumlah alat dipasang, lokasi pemasangan dan daya tariknya bagi betina sebagai tempat bertelur. [4] Untuk menarik penciuman digunakan atraktan. Atraktan adalah sesuatu memiliki daya tarik terhadap serangga () baik secara kimiawi maupun visual (fisik). Aktraktan dari bahan kimia dapat berupa senyawa ammonia, CO 2, asam laktat, octenol dan asam lemak. Zat atau senyawa tersebut berasal dari bahan organik atau merupakan hasil proses metabolisme makhluk hidup termasuk manusia. Atraktan fisika dapat berupa getaran atau suara dan warna, baik warna tempat atau cahaya. Atraktan dapat digunakan untuk mempengaruhi perilaku, memonitor atau menurunkan populasi secara langsung tanpa menyebabkan cedera bagi binatang lain dan manusia dan tidak meninggalkan residu pada makanan atau bahan pangan. [5] Nyamuk aegypti dan albopictus biasanya memilih berkembang biak pada tandon air bersih, tidak bersentuhan dengan tanah. [1,4,6,15,17] Namun, beberapa penelitian menunjukkan hasil berbeda dengan teori tersebut. Penelitian di Kamboja menyebutkan adanya perbedaan jumlah telur pada ovitrap menggunakan 10% air rendaman jerami dengan ovitrap menggunakan air biasa. Ovitrap dengan penambahan air rendaman jerami 10% terbukti dapat menghasilkan telur 8 kali lebih banyak dibanding air biasa. Jumlah telur dihasilkan lebih banyak pada 10% air rendaman jerami dari pada menggunakan air biasa. [7] Penelitian mengenai ovitrap berisi air rendaman jerami sebagai daya tarik aegypti untuk meletakkan telur pada ovitrap tersebut juga pernah dilakukan, yaitu dengan menambah variasi konsentrasi air rendaman jerami, dikombinasikan dengan Bacillus thuringiensis var israelensis (Bti), disimpulkan bahwa air rendaman jerami 10% mendapat lebih banyak telur daripada penambahan Bti, serta konsentrasi air rendaman jerami 30% ditambah Bti mendapatkan telur paling banyak. [8] Penelitian membuktikan bahwa aegypti juga mau bertelur pada ovitrap berisi air rendaman udang windu dan kerang karpet. [9] Penelitian tentang autocidal ovitrap (lethal ovitrap/lo) menggunakan atraktan air bersih, air rendaman jerami dan air rendaman udang hasilnya menunjukan bahwa penggunaan lethal ovitrap dapat menurunkan indeks ovitrap. [10] Sedang penelitian tentang ovitrap yaitu dengan
atraktan dengan air rendaman jerami 10%, 30%, 50%, 70% dan 90%. Hasilnya menunjukkan ada hubungan bermakna air rendaman jerami pada ovitrap terhadap jumlah telur sp, sedangkan pada letak penempatan di dalam dan di luar rumah tidak ada hubungan bermakna. [11] Penelitian di India menggunakan berbagai bahan bumbu dapur sebagai atraktan, ditemukan telur dengan hasil tertinggi adalah atraktan pada jenis air tempat perindukan larva dengan larva 10 ekor (850 telur), selanjutnya atraktan larutan biji jinten (600 telur), kemudian atraktan larutan bubuk cabai merah (340 telur). [12] Dari penelitian di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang efektifitas berbagai jenis atraktan bumbu dapur (cabai merah segar dan biji jinten) terhadap jumlah telur sp. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : kah efektifitas berbagai jenis atraktan bumbu dapur terhadap jumlah telur sp? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui potensi bumbu dapur sebagai atraktan efektif digunakan pada ovitrap terhadap jumlah telur sp. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan jumlah telur sp pada masing-masing jenis atraktan. b. Mendeskripsikan jumlah telur sp berdasarkan letak. c. Menganalisis perbedaan jumlah telur sp pada masing-masing jenis atraktan. d. Menganalisis perbedaan jumlah telur sp berdasarkan letak. e. Menentukan jenis atraktan paling efektif untuk diterapkan dalam perangkap. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini dapat menjadi alat alternatif atau cara sederhana, mudah dan murah
untuk digunakan dalam pengendalian sp. 2. Manfaat Toritis Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan informasi tentang metode dan alat pengendalian sp, dapat direkomendasikan untuk diterapkan oleh masyarakat. 3. Manfaat Metodologis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bukti-bukti awal guna mengembangkan penelitian lebih mendalam dan intensif tentang pemanfaatan ovitrap sebagai alat pengendalian sp. E. Bidang Ilmu Penelitian ini dalam lingkup Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya bidang Entomologi. F. Keaslian Penelitian Tabel 1.1 Keaslian Penelitian No Peneliti Judul Jenis Hasil (th) 1 Karen A The Use Penelitian Penelitian Ovitrap berisi polson Ovitraps n lapangan bebas Jenis Hay infusion (2002) [7] Baited with atraktan 10% Hay Infussion meningkatka as a n jumlah Survaillance terikat telur Tool for Letak ovitrap Oviposition by 8 kali lipat daripada air 2 Rina albopictus A Laboratory biasa Tilak Investigation n (kuasi) bebas Jenis perbedaan (2005) [12] into atraktan jumlah telur Oviposition
Responses of aegypti terikat aegypti to Some Jumlah telur Common pada ovitrap Household berdasarkan Substances aegypti jenis and Water atraktan. Conspecific 3 Joko Larvae Pengaruh bebas Santoso Warna Kasa n warna kasa pengaruh (2007) [13] Penutup penutup warna kasa Autocidal autocidal penutup Ovitrap ovitrap: putih, autocidal Terhadap merah muda, ovitrap Jumlah Jentik biru muda, terhadap Nyamuk Yang hitam jumlah jentik Terperangkap terikat jumlah jentik aegypti 4 Yeyen Pengaruh aegypti bebas Hendaya Berbagai n Kuasi konsentrasi air pengaruh ni (2007) Konsentrasi rendaman konsentrasi [11] Air Rendaman jerami 10%, air rendaman Jerami pada 30%, 50%, jerami pada Ovitrap 70% dan 90% ovitrap Terhadap terhadap Jumlah Telur terikat jumlah telur spp jumlah telut spp spp Terperangkap
di Pedurungan Kidul Kota pada ovitrap Semarang 5 Sayono Pengaruh (2008) [10] Modifikasi n Kuasi bebas Lethal ovitrap perbedaan Ovitrap jumlah Terhadap dimodifikasi Jumlah atraktan Nyamuk terikat pada LO Terperangkap jumlah berdasarkan jenis atraktan, letak pemasangan LO dan waktu pengamatan Terdapat perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah pada penelitian-penelitian tersebut menggunakan bermacam-macam atraktan (air bersih, air rendaman jerami 10% dan air rendaman udang 10%), menggunakan rendaman jerami dengan berbagai macam konsentrasi air jerami, dan ada menggunakan penutup kain kasa dengan warna berbeda. Penelitian ini membedakan jumlah telur sp pada jenis atraktan (atraktan dari air rendaman cabai merah segar 10%, air rendaman biji jinten 10%, air rendaman jerami 10% sebagai kontrol dan air hujan juga sebagai kontrol).