BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang sangat potensial karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Hal ini terlihat dari kecenderungan meningkatnya harga udang galah di pasaran domestik maupun internasional. Pada tahun 2003 harga udang galah ukuran konsumsi (30-35 ekor/kg) Rp33.000,00/kg, sedangkan per Januari 2009 naik menjadi Rp52.000,00/kg dengan ukuran 30 ekor/kg (Herdiana 2009), tetapi permintaan udang galah baru terpenuhi 40% saja dari seluruh permintaan udang galah yang ada (Tambunan 2009). Pada kenyataannya keterbatasan jumlah benih dan stok yang tidak kontinyu ternyata masih menjadi kendala utama, tahap larva menjadi postlarva merupakan fase paling kritis dalam pembenihan udang galah (Murtiati et al. 2007). Menurut Warseno (2009), kelangsungan hidup (sintasan) sudah lama menjadi penyebab tersendatnya budidaya udang galah, sintasan tidak lebih dari 15-20%. Rendahnya sintasan pada pembenihan udang galah dipengaruhi banyak faktor, antara lain pemilihan induk, cara budidaya, sifat udang yang kanibal, kualitas air dan pakan (Ali 2009). Pakan memiliki peranan penting dalam peningkatan produksi kegiatan budidaya. Pakan yang diberikan harus berkualitas tinggi, bergizi dan memenuhi syarat untuk dikonsumsi kultivan yang dibudidayakan, serta tersedia secara terus menerus sehingga tidak mengganggu proses produksi dan dapat memberikan pertumbuhan yang optimal. Pada budidaya intensif, lebih dari 60% biaya produksi digunakan untuk pengadaan pakan (Kordi 2009). Pemberian pakan pada budidaya udang galah merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menentukan baik jenis, ukuran, frekuensi dan total kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan. Upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan tambahan perlu dilakukan guna meningkatkan produksi hasil budidaya dan mengurangi biaya pengadaan pakan (Adiwidjaya et al. 2005). 1
2 Nutrisi yang dibutuhkan larva udang khususnya stadia postlarva melalui pakan didapatkan dari Artemia. Pengayaan banyak dilakukan untuk melengkapi nutrisi Artemia sebagai pakan alami udang (Van Hoa et al. 2011). Tujuan pengayaan pakan adalah agar komposisi nutrien dari pakan alami tersebut menjadi sama atau mendekati kebutuhan nutrisi dari spesies budidaya (Pratama 2011). Telur bebek dapat digunakan untuk memerkaya nutrisi Artemia selain karena murah dan mudah didapat, telur bebek juga memiliki kandungan gizi yang lengkap dan protein yang tinggi, yakni mengandung 12,81 gram protein, 1,45 gram karbohidrat, 13,77 gram lemak, 884 mg kolesterol, 64 mg kalsium, 1,41 mg seng, dan 185 kkal kalori per 100 gram telur bebek (USDA 2007). Nilai tertinggi sebagai bahan makanan pada telur adalah bagian kuning telurnya. Kuning telur dipilih karena kandungan protein dan lemak yang terkandung di dalamnya lebih tinggi dibandingkan dengan bagian telur lainnya, yaitu putih telur dan telur utuh masing-masing 17% dan 35%, oleh karena itu termasuk ke dalam bahan pangan yang mudah rusak (Winarno dan Koswara 2002). Sejauh ini penelitian penggunaan telur bebek untuk memerkaya nutrisi pakan alami belum dilakukan, maka perlu dilakukan penelitian mengenai kombinasi Artemia sp. dengan kuning telur bebek, sehingga akan diketahui kombinasi yang tepat untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih udang galah. 1.2 Identifikasi Masalah Masalah yang dapat diidentifikasi adalah sejauh mana pengaruh pemberian kombinasi Artemia sp. dan kuning telur bebek terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih udang galah. 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi pemberian jumlah Artemia sp. dan kuning telur bebek yang dapat menghasilkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih udang galah tertinggi.
3 1.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kombinasi Artemia sp. dan kuning telur bebek yang dapat menghasilkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih udang galah tertinggi. 1.5 Kerangka Pemikiran Pakan memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan daya tahan udang galah. Pakan yang memenuhi kebutuhan nutrisi dan jumlah yang memadai, besar peranannya dalam mendukung keberhasilan pembenihan. Pemberian pakan yang efektif dan efisien, dalam arti jenis pakan, jumlah dan waktu pemberian yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal (Mudjiman 2004). Bahan baku yang diformulasikan dalam pakan hendaknya mengandung kadar protein yang cukup tinggi untuk menjaga laju pertumbuhan udang, di samping itu pakan tersebut harus mengandung cukup vitamin dan mineral untuk menambah daya tahan tubuh dan mencegah malnutrisi. Pakan yang biasa diberikan pada ikan atau udang yang masih berukuran larva atau benih dalam kegiatan budidaya adalah pakan alami. Selain memiliki kandungan protein tinggi, pakan alami mudah dicerna serta memiliki ukuran tubuh yang sesuai dengan bukaan mulut ikan (Khairuman dan Amri 2008). Pakan alami yang biasa digunakan adalah Artemia sp., Daphnia sp., Moina sp., Culex sp., dan Tubifex sp. Artemia banyak digunakan karena sesuai dengan bukaan mulut, aktif bergerak, mudah dikultur dan mudah didapat dalam bentuk kista, serta memiliki kandungan nutrisi yang baik. Nauplii Artemia memiliki kadar protein 55,00% (DKP 2007), namun kurang akan kandungan asam amino esensial histidin, metionin dan treonin (Sorgeloos 1980). Tidak semua sumber makanan menghasilkan protein yang mengandung asam amino esensial secara lengkap (Anggorodi 1985). Umumnya protein hewani memiliki kandungan asam amino yang lebih baik dan lengkap serta mudah dicerna dari pada protein nabati (Pascual 1980).
4 Alava dan Lim (1983) mengatakan bahwa penggunaan dua atau lebih sumber protein dalam bahan pakan akan lebih baik daripada satu sumber. Telur bebek merupakan sumber protein hewani yang memiliki kandungan asam amino esensial yang paling lengkap dibandingkan dengan bahan makanan lainnya, yakni histidin, arginin, treonin, valin, metionin, isoleusin, leusin, fenilalanin, lisin dan triptofan (Mietha 2008). Protein berfungsi sebagai zat pembangun yang membentuk jaringan baru untuk pertumbuhan, pengganti jaringan rusak, reproduksi, sebagai zat pengatur dalam pembentukan enzim dan hormon serta penjaga dan pengatur berbagai proses metabolisme dalam tubuh dan berfungsi sebagai sumber energi pada saat kebutuhan energi tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak (Sahwan 2003). Apabila protein pakan tidak mencukupi maka pertumbuhan akan terhambat. Sebaliknya, kadar protein yang berlebihan mengakibatkan kelebihan protein akan dikatabolisme menjadi energi sehingga protein yang digunakan untuk membangun jaringan tubuh hanya sedikit (NRC 1983). Selain mengakibatkan pemborosan biaya, kelebihan protein akan menyebabkan pembuangan nitrogen yang banyak ke lingkungan budidaya, sehingga dapat menurunkan kualitas air dan membahayakan biota budidaya di dalamnya. Pemberian pakan Artemia sp. pada larva ikan pelangi (Melanotaenia parva) menghasilkan tingkat kelangsungan hidup hingga 90% (Hosen 2010) dan pemberian pakan Artemia sp. pada larva ikan buntal (Tetraodon palembangensis) memberikan pertambahan bobot tertinggi yaitu sebesar 51,6 mg dan kelangsungan hidup hingga 75,56% (Nura 2010). Pemberian kuning telur bebek pada benih ikan koi (Cyprinus carpio) umur 4 hari menghasilkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan terbaik masing-masing 72,5% dan 0,07475 gram (Karmo 2008). Pemberian kuning telur ayam pada larva ikan kuwe (Gnathanodon speciosus) menghasilkan pertumbuhan sebesar 11,01 mm;25,20 mg dan kelangsungan hidup sebesar 17,90%, serta dapat menjadi alternatif pakan pengganti maupun pakan pengaya rotifer (Afifah et al. 2010).
5 Pemberian kuning telur ayam pada larva ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) menghasilkan pertumbuhan sebesar 5,60% dan kelangsungan hidup sebesar 83%, menempati urutan kedua setelah pemberian Artemia sp. menghasilkan pertumbuhan sebesar 10,14% dan kelangsungan hidup sebesar 96% (Muchlisin et al. 2003). Pemberian kombinasi Artemia sp. sebanyak 25% dan kuning telur bebek sebanyak 75% pada larva ikan selais (Ompok hypophthalmus) menghasilkan laju pertumbuhan harian sebesar 25,36% dan kelangsungan hidup sebesar 55% (Yurisman et al. 2010). Penggunaan kuning telur bebek banyak dilakukan oleh petani di lapangan, oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai kombinasi pemberian Artemia sp. dan kuning telur bebek terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih udang galah. 1.6 Hipotesis Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik hipotesis bahwa pemberian kombinasi Artemia sp. sebanyak 25% dan kuning telur bebek sebanyak 75% dapat menghasilkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih udang galah tertinggi.