RANCANG BANGUN MESIN PENGERING UNTUK PENGERINGAN LIMBAH SEAFOOD

dokumen-dokumen yang mirip
RANCANG BANGUN MESIN PENGERING UNTUK PENGERINGAN LIMBAH SEAFOOD

DESAIN PENGERING KERUPUK MENGGUNAKAN METODE ERGONOMI PARTISIPATORI

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KARAKTERISTIK PENGERINGAN BIJI KOPI BERDASARKAN VARIASI KECEPATAN ALIRAN UDARA PADA SOLAR DRYER

PENINGKATAN KUALITAS PENGERINGAN IKAN DENGAN SISTEM TRAY DRYING

JENIS-JENIS PENGERINGAN

PENGERINGAN REMPAH-REMPAH MENGGUNAKAN ALAT ROTARY DRYER

Gambar 8. Profil suhu lingkungan, ruang pengering, dan outlet pada percobaan I.

PENGEMBANGAN SISTEM PENGERING KELOM GEULIS BERBASIS MIKROKONTROLER DENGAN DUA SISI BERPEMANAS PIPA

RANCANG BANGUN ALAT PENGERING UBI KAYU TIPE RAK DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI SURYA

BAB I PENDAHULUAN. penjemuran. Tujuan dari penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air.

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dibandingkan sesaat setelah panen. Salah satu tahapan proses pascapanen

DESAIN SISTEM KONTROL PENGERING SURYA DAN HEATER

PENENTUAN LAJU PENGERINGAN JAGUNG PADA ROTARY DRYER

IBM KELOMPOK USAHA (UKM) JAGUNG DI KABUPATEN GOWA

I. PENDAHULUAN. tersedia di pasaran umum (Mujumdar dan Devhastin, 2001) Berbagai sektor industri mengkonsumsi jumlah energi berbeda dalam proses

Kinerja Pengeringan Chip Ubi Kayu

Unjuk kerja Pengering Surya Tipe Rak Pada Pengeringan Kerupuk Kulit Mentah

Karakteristik Pengering Surya (Solar Dryer) Menggunakan Rak Bertingkat Jenis Pemanasan Langsung dengan Penyimpan Panas dan Tanpa Penyimpan Panas

besarnya energi panas yang dapat dimanfaatkan atau dihasilkan oleh sistem tungku tersebut. Disamping itu rancangan tungku juga akan dapat menentukan

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

SANITASI DAN KEAMANAN

BAB I PENDAHULUAN. puluhan kali menggunakan sistem Solar Thermal Collector yang memiliki fungsi utama

PENENTUAN LAJU PENGERINGAN KACANG HIJAU PADA ROTARY DRYER

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

PERANCANGAN DAN PENGUJIAN ALAT PENGERING KOPRA DENGAN TIPE CABINET DRYER UNTUK KAPASITAS 6 kg PER-SIKLUS

PENENTUAN LAJU PENGERINGAN GABAH PADA ROTARY DRYER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

REKAYASA ALAT PENGERING UNTUK MENINGKATAN PRODUKTIVITAS UKM EMPING MLINJO

DESAIN SISTEM KENDALI SUHU DAN RH BERBASIS LOGIKA FUZZY PADA PENGERINGAN BIJI PALA (Myristica sp.) ERK HYBRID

Lingga Ruhmanto Asmoro NRP Dosen Pembimbing: Dedy Zulhidayat Noor, ST. MT. Ph.D NIP

SOLAR INDUSTRIAL PROCESS HEAT. Nama: Hendra Riswan No. BP: Dosen: Iskandar R., M.T.

Perancangan Modul Pengering Ikan Putaran Rak Vertikal Berbasis Mikrokontroller

DESAIN MESIN KOMPOSTER SKALA INDUSTRI KECIL

Studi Potensi Pemanfaatan Biogas Sebagai Pembangkit Energi Listrik di Dusun Kaliurang Timur, Kelurahan Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta

PENGERINGAN JAGUNG (Zea mays L.) MENGGUNAKAN ALAT PENGERING DENGAN KOMBINASI ENERGI TENAGA SURYA DAN BIOMASSA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada tubuh ikan sebanyak mungkin. Tubuh ikan mengandung 56-80% air, jika

SIMPULAN UMUM 7.1. OPTIMISASI BIAYA KONSTRUKSI PENGERING ERK

I. PENDAHULUAN. Komoditas hasil pertanian, terutama gabah masih memegang peranan

BAB I PENDAHULUAN. Sorgum manis (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman asli

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya sebagai sumber pendapatan petani dan penghasil bahan baku

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Laporan Tugas Akhir BAB I PENDAHULUAN

Analisis Performa Kolektor Surya Pelat Bersirip Dengan Variasi Luasan Permukaan Sirip

PERANCANGAN DAN UJI PERFORMANSI PENGERING TIPE RAK

ALAT PENGERING HASIL - HASIL PERTANIAN UNTUK DAERAH PEDESAAN DI SUMATERA BARAT

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pada proses pengecatan terdapat sebuah proses yang penting yaitu proses

METODOLOGI PENELITIAN

Kamariah Jurusan Pendidikan Matematika FKIP Universitas Musamus

BAB I PENDAHULUAN. sirkulasi udara oleh exhaust dan blower serta sistem pengadukan yang benar

LAMPIRAN I DATA PENGAMATAN. 1. Data Uji Kinerja Alat Penepung dengan Sampel Ubi Jalar Ungu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam SNI (2002), pengolahan karet berawal daripengumpulan lateks kebun yang

PENGERINGAN CABAI MENGGUNAKAN ALAT ROTARY DRYER

Terbit setiap APRIL dan NOVEMBER

Analisa Performansi Kolektor Surya Pelat Bergelombang untuk Pengering Bunga Kamboja

PEMBUATAN PENGKONVERSI SINAR SURYA MENJADI PANAS GUNA PENYEDIAAN AIR PANAS DALAM RUMAH TANGGA. Suharto. Jurusan Fisika, Universitas Gadjah Mada

UJI KINERJA ALAT PENGERING LORONG BERBANTUAN POMPA KALOR UNTUK MENGERINGKAN BIJI KAKAO

UJI PERFOMANSI ALAT PENGERING RUMPUT LAUT TIPE KOMBINASI TENAGA SURYA DAN TUNGKU BERBAHAN BAKAR BRIKET

PERANCANGAN BANGUNAN PENGERING KERUPUK MENGGUNAKAN PENDEKATAN PINDAH PANAS. Jurusan Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan 2

II. TINJAUAN PUSTAKA. Karet alam dihasilkan dari tanaman karet (Hevea brasiliensis). Tanaman karet

PEMANFAATAN ENERGI SURYA DENGAN EFEK RUMAH KACA DALAM PERANCANGAN SISTEM PENGERING KERUPUK DAN IKAN DI DAERAH KENJERAN

PROTOTIPE ALAT PENGERING TIPE ROTARI (ROTARY DRYER) BERSUMBER PANAS BIOMASSA UNTUK INDUSTRI PENGOLAHAN PATI SAGU DI PAPUA

RANCANG BANGUN ALAT PENCETAK RAK TELUR PUYUH SKRIPSI OLEH : EKO WAHYU HANDOKO

PENGUJIAN THERMAL ALAT PENGERING PADI DENGAN KONSEP NATURAL CONVECTION

ANALISIS SISTEM PENGERING OPAK SINGKONG TIPE RUANG KABINET DENGAN MENGGUNAKAN BIOMASSA LIMBAH PELEPAH PINANG DAN PELEPAH KELAPA

PERANCANGAN ALAT PENGERING KERUPUK DENGAN MEMANFAATKAN GAS BUANG DARI PROSES PRODUKSI PADA INDUSTRI PEMBUATAN KERUPUK

KAJI EKSPERIMENTAL ALAT PENGOLAHAN AIR LAUT MENGGUNAKAN ENERGI SURYA UNTUK MEMPRODUKSI GARAM DAN AIR TAWAR

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jagung termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea. sistimatika tanaman jagung yaitu sebagai berikut :

PENGARUH PERSENTASE PEREKAT TERHADAP KARAKTERISTIK PELLET KAYU DARI KAYU SISA GERGAJIAN

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 15 Nomor ISSN INOVASI MESIN PENGERING PAKAIAN YANG PRAKTIS, AMAN DAN RAMAH LINGKUNGAN

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

ANALISIS PERFORMANSI MODEL PENGERING GABAH POMPA KALOR

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PELEBUR LIMBAH KACA

PERANCANGAN DAN PENGUJIAN ALAT PENGERING PISANG DENGAN TIPE CABINET DRYER UNTUK KAPASITAS 4,5 kg PER-SIKLUS

Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem, Vol.5, No. 1, Maret 2017

Jurnal Ilmiah TEKNIKA ISSN: PENGARUH PUTARAN PISAU TERHADAP KAPASITAS DAN HASIL PERAJANGAN PADA ALAT PERAJANG SINGKONG

BAB I PENDAHULUAN I-1

renewable energy and technology solutions

METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat

SLING CUTTING TEKNOLOGI PEMOTONG YANGKO YANG EFEKTIF DAN EFISIEN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS UKM MULYA

I PENDAHULUAN. Pemikiran, dan (6) Tempat dan Waktu Penelitian. bakery oven. Perangkat khusus yang digunakan untuk memanggang produk pastry

RANCANG BANGUN ALAT PENGERING TIPE SOLAR (Tinjauan Waktu Pengeringan terhadap Laju Pengeringan dan Penurunan Kadar Air Chips Ubi Ungu)

Pujianto, SE DINAS PERINKOP DAN UMKM KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2015

A. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN

Analisa Performa Kolektor Surya Tipe Parabolic Trough Sebagai Pengganti Sumber Pemanas Pada Generator Sistem Pendingin Difusi Absorpsi

I. PENDAHULUAN. ditingkatkan dengan penerapan teknik pasca panen mulai dari saat jagung dipanen

PERANCANGAN DAN ANALISA ALAT PENGERING IKAN DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI BRIKET BATUBARA

Desain Sistem Pendingin Ruang Muat Kapal Ikan Tradisional Dengan Memanfaatkan Uap Es Kering

KINERJA PROTOTIPE PENGERING ENERGI SURYA MODEL YSD- UNIB12 DALAM MENGERINGKAN SINGKONG

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini berlangsung dalam 2 (dua) tahap pelaksanaan. Tahap pertama

PENGENTASAN KEMISKINAN KELOMPOK NELAYAN PANTAI CAROCOK KECAMATAN IV JURAI, PAINAN MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI PENGERINGAN DAN USAHA TEPUNG IKAN

PEMANFAATAN AMPAS TAHU UNTUK OLAHAN PANGAN DARI LIMBAH PENGOLAHAN INDUSTRI TAHU DI KELURAHAN TUNGGULWULUNG KOTA MALANG

I. PENDAHULUAN. anorganik terus meningkat. Akibat jangka panjang dari pemakaian pupuk

PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG

BAB IV METODE PENELITIAN. Laboratorium Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik, Universitas Udayana kampus

BAB I PENDAHULUAN. Bergesernya selera masyarakat pada jajanan yang enak dan tahan lama

UJI PERFORMANSI ALAT PENGERING EFEK RUMAH KACA (ERK) TIPE RAK DENGAN PEMANAS TAMBAHAN PADA PENGERINGAN KERUPUK UYEL

Transkripsi:

Rancang Bangun Mesin Pengering untuk Pengeringan Limbah Seafood (Vendi Hermawan, Hari Purnomo) RANCANG BANGUN MESIN PENGERING UNTUK PENGERINGAN LIMBAH SEAFOOD Vendi Hermawan 1, Hari Purnomo 2 Magister Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia 1,2), Jl. Kaliurang KM 14,5, Sleman, Yogyakarta, 55584 E-Mail : Vendihermawan08@gmail.com, ABSTRACT This Seafood waste drying process is still using a manual dryer that works with solar heat. This study uses a participatory method in its implementation using FGD (Focus Group Discussion) involving researchers, local communities, stakeholders and experts. From interviews with local residents, Trisik Beach locals problems is obtained, which is the humongous amount of seafood waste. Thus the researchers create a waste dryers tool that's easy to use, easy to maintainen, easy to operate, and made using inexpensive materials. Components of this tool include the buffer dryer, pulleys parabolic player, parabola, and a drying rack. Buffer serves as a buffer parabola, a drying rack, and stand pulleys parabola player. The function of pulley parabolic player is as a pointing control, so that the solar heat focus point can be obtained. While the parabola serves to reflect the solar cell to the drying rack so that the heat is evenly distributed. Drying rack consists of 6 shelves that serves to put the waste. Thus building a tool that efficiently practical, economical and ergonomic. Keywords : Waste, Tools Drying, Participatory Method, FGD. 1. PENDAHULUAN Limbah seafood merupakan bahan buangan tidak terpakai dari hasil pengolahan seafood yang berdampak negatif terhadap masyarakat jika tidak dikelola secara baik. Limbah seafood merupakan jenis limbah dengan karakteristik limbah padat (PPRI, 1999). Limbah seafood merupakan limbah padat berupa kepala, kulit, cangkang, ekor, dan duri. Limbah tersebut mudah sekali busuk, menimbulkan bau dan polusi semakin kuat bila kontak dengan air (Jenie dan Rahayu 1993). Limbah ikan dapat menjadi sumber penyakit menular, akan tetapi dapat juga diolah menjadi pakan ternak (Siswati, et al., 2010). Permasalahan tersebut dibutuhkan suatu rancangan alat yang dapat digunakan untuk proses pengeringan sehingga tidak mencemari lingkungan dan dapat meningkatkan nilai tambah limbah seafood. Pengeringan didefinisikan sebagai proses pengeluaran kandungan air atau pelarut lainnya dari zat padat menggunakan penguapan (Greensmith, 1998). Proses ini dipengaruhi oleh suhu, kelembaban udara, kecepatan aliran udar, kandungan air, energi pengering, dan kapasitas pengering (Setyoko, et al., 2012). Oleh karena itu diperlukan alat tepat guna untuk memproses pengeringan. Burlian dan Firdaus (2011) mengkaji alat pengering tenaga surya tipe box yang dapat meningkatkan efisiensi. Rancangan alat pengering limbah seafood ini menggunakan energi matahari dengan kolektor sinar berbentuk parabola. Penangkapan sinar matahari dengan tipe parabola mempunyai kemampuan maksimum. Meskipun matahari bergerak tidak berpengaruh secara signifikan pada kemampuan mengumpulkan cahaya matahari (Suwito dan Darsopuspito, 2013). 619

Teknoin Vol. 22 No 8 Desember 2016 : 619-628 Dengan didapatkan energi maksimum pengumpulan energi matahari melalui parabola diharapkan pengeringan limbah seafood bisa berjalan dengan optimal. Berbagai penelitian terkait dengan alat pengering telah banyak dilakukan. Penelitian alat pengering antara lain: Rancangan alat pengering jagung dengan tipe cabinet dryer (Napitupulu dan Atmaja, 2011), sistem pengering kerupuk ikan (Yuliati dan Santoso, 2012), pengering mie ramah lingkungan (Setyanto, et al., 2012), prototype buka tutup atap otomatis untuk pengeringan proses produksi berbasis mikrokontroler (Anas, 2010), prototype kolektor surya tipe plat datar pada pengering produk pertanian dan perkebunan (Arikundo dan Hazwi, 2014). Sedangkan penelitian lain adalah pengeringan biji pala berbasis logika fuzzy (Putra dan Sumarjan, 2014), alat pengering ubi kayu tipe rak (Thamrin dan Kharisandi, 2011), alat pengering efek rumah kaca dengan bantuan tungku biomassa (Hadi, 2015), alat pengering limbah ikan dengan metode Quality Function Deployment (Ahmad, 2015). Rancangan alat yang telah dilakukan perlu dilakukan perbaikan agar lebih efektif dan efisien. Penelitian yang dilakukan dengan melibatkan pengguna dalam merancang dengan konsep partisipatori. Konsep ini telah berhasil dalam berbagai perancangan seperti rancangan seperti perawat orang tua (Rasmussen, et al., 2017), prototipe alat pemantauan kesehatan untuk penyakit produksi sapi (Duval, et al., 2016), mengurangi cedera pada pustakawan (Yuan, 2015). Keberhasilan konsep partisipatori dari berbagai penelitian diharapkan juga dapat mendesain alat pengering yang sesuai dengan keinginan pengguna. Pada penelitian ini menggunakan konsep partisipatori ergonomi. Pengambilan data dengan FGD untuk memperoleh informasi yang akurat tentang kondisi di lapangan, sehingga mampu memberikan solusi yang tepat dalam pengolahan limbah dan mampu merancang alat yang sesuai dengan keinginan pengguna. 2. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam perancangan alat pengering ini menggunakan metode partisipatori. Penggunaan metode partisipatori ini diharapkan mampu memecahkan masalah dan memberikan solusi kepada pengguna. 2.1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di pantai Trisik Kecamatan Galur Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. 2.2. Pendekatan Partisipatori Konsep partisipatori merupakan metode perancangan yang melibatkan secara dini para stakeholder. Langkah langkah penyelesaian konsep partisipatori adalah (Jong and Vink, 2000) : 1. Identifikasi anggota partisipatori. Langkah ini dilakukan untuk menentukan anggota partisipatori. Dalam hal ini anggota partisipatori adalah para stakeholder yang terlibat dalam paguyuban rumah makan. 2. Menentukan anggota partisipatori. Pada tahap ini dilakukan untuk menentukan jumlah anggota yang terlibat. Anggota yang dilibatkan dalam partisipatori adalah orang yang betulbetul menguasai masalah. 3. Pengembangan dan perencanaan. Pada langkah ini dilakukan pertemuan atau FGD anggota partisipotori untuk menentukan spesifikasi dan analisis masalah, membuat dan memilih ide, mengembangkan konsep dan merancang produk. 620

Rancang Bangun Mesin Pengering untuk Pengeringan Limbah Seafood (Vendi Hermawan, Hari Purnomo) 4. Uji coba produk Langkah terakhir adalah melakukan uji coba alat oleh anggota partisipatori dan dilanjutkan oleh pengguna. Jika ada kekurangan maka dilakukan perbaikan dengan mempertimbangkan masukanmasukan dari pengguna. 2.3 Prosedur Penelitian 2.3.1 Wawancara awal Wawancara dilakukan untuk menggali informasi secara langsung kepada warga sekitar Pantai Trisik dari pihak yang terkait dalam proses penunjang pembuatan alat pengering limbah. Wawancara meliputi, wawancara kepada warga sekitar dan kepada pemilik rumah olahan yang berbahan dasar seafood. Pertanyaan yang diajukan adalah banyaknya limbah seafood yang terbuang. Sedangkan untuk karyawan adalah berapa banyak seafood yang diolah dan berapa banyak limbah yang dihasilkan. Hasil wawancara ini kemudian dijadikan acuan awal topik diskusi pada tahap diskusi kelompok. 2.3.2 Diskusi kelompok Diskusi dilakukan sebagai upaya pembahasan lebih mendalam dengan cara tukar pendapat dan masukan dalam rangka mencari solusi yang diharapkan oleh seluruh pihak yang terlibat. Diskusi dilakukan diluar jam kerja dan dilakukan bertahap. Peserta diskusi melibatkan dua pihak yaitu warga sebagai pihak yang dirugikan akibat pencemaran limbah dan pemilik rumah pengolah seafood sebagai pihak yang memiliki usaha, sehingga dapat mengetahui segala bentuk kendala dan solusi yang ingin dicapai. Untuk itu, peneliti selaku mediator yang berperan sebagai perancang dan aplikator hasil diskusi, dapat mewujudkan rancangan alat pengering yang sesuai dengan kebutuhan warga. 2.3.4 Perancangan alat pengering Perancangan alat menggunakan konsep partisipatori dengan melibatkan anggota partisipatori yang terdiri ketua kelompok paguyuban, perangkat desa, pemilik rumah makan, ahli ergonomi, ahli teknik mesin dan bengkel. Rancangan alat pengering ini diharapkan benar-benar dapat di implementasikan kepada warga sekiar Pantai Trisik untuk mengolah hasil limbah seafood supaya memiliki nilai tambah dengan kualitas yang baik. 3 HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Observasi Lapangan Observasi lapangan dilakukan untuk mengetahui kondisi riil. Kondisi lapangan di Pantai Trisik sebagian besar merupakan penjual seafood segar yang tersebar disepanjang pantai. Angka pencapaian limbah seafood di Pantai Trisik rata - rata 25 kg per hari. Di Pantai Trisik terdapat empat pedagang ikan yang masing-masing pedagang mampu menjual ikan sebanyak 25 kg/hari di hari libur, bahkan jika pembeli ramai dapat mencapai 50 kg/hari. Untuk hari biasa pedagang mampu menjual ikan sebanyak 3-5 kg/hari. Selain itu terdapat satu rumah produksi olahan ikan menjadi oleholeh khas Pantai Trisik dengan total produksi mencapai 50 kg/hari dan satu rumah makan yang mengolah ikan mencapai 20 kg/minggu. Hasil observasi menunjukkan bahwa limbah seafood hanya dibuang begitu saja tanpa adanya pengolahan lebih lanjut. Berdasarkan data tersebut dirasa perlu adanya alat pengering tersebut. Selanjutnya dilakukan diskusi untuk menggali informasi yang berkaitan dengan pembuatan alat pengering. Diskusi ini untuk mengetahui keinginan atau harapan warga sehingga dapat merancang alat yang sesuai dengan keinginan dan harapan. Dengan demikian akan mendapatkan alat yang berdaya guna praktis, ekonomis, dan ergonomis. 2.3 Hasil FGD FGD melibatkan peneliti dengan kelompok paguyuban, perangkat desa, pemilik rumah makan, ahli ergonomi, ahli teknik mesin dan bengkel. Tujuan FGD membantu dalam mengatasi kendala dan keinginan dalam pembuatan alat pengering. 621

Teknoin Vol. 22 No 8 Desember 2016 : 619-628 Tabel 1. Tahapan diskusi Permasalahan Tidak tersedianya alat pengolah limbah Lahan pengeringan Kebersihan bahan Alat mahal Pemanasan bahan yang tidak merata Teknis pengoperasian alat Permasalahan Kurangnya sumber daya manusia Diskusi tahap 1 Rencana perbaikan 1. Merancang alat pengering yang sesuai dengan keinginan warga. 2. Merancang alat dengan memanfaatkan tenaga panas matahari. Merancang alat pengering yang berupa rak bertingkat sehingga mampu menanggulangi keterbatasan lahan. 1. Merancang alat menggunakan bahan yang tidak mudah berkarat 2. Merancang alat yang mudah dibersihkan. 1. Merancang alat pengering dengan bahan recycle. 2. Merancang alat dengan menggunakan bahan yang mudah didapat. 3. Merancang alat dengan biaya operasional rendah. 4. Merancang alat pengering yang tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Merancang alat dengan menggunakan bahan semi konduktor. Merancang alat dengan puli sebagai penggerak parabola. Diskusi tahap 2 Rencana perbaikan 1. Merancang alat pengering yang tidak menyulitkan pengguna. 2. Merancang alat pengering yang mudah digunakan. 3. Merancang alat pengering yang mudah dalam perawatannya. Aspek ergonomi 1. Merancang alat pengering yang ukurannya sesuai pengguna. 2. Merancang alat pengering yang aman ditinjau dari aspek keselamatan dan kesehatan. Aspek waktu pemakaian Merancang alat pengering dengan waktu penggunaan jangka panjang. Diskusi tahap awal berupa jumlah limbah, jenis limbah dan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut sehingga dapat dipecahkan bersama guna mencapai pembuatan alat pengering yang berkualitas sesuai dengan keinginan warga. Hasil tahapan diskusi terdapat pada Tabel 1. Hasil FGD diinginkan alat yang ergonomis, murah, awet, tahan lama, semua orang bisa menggunakan, ramah lingkungan, tidak membutuhkan tempat yang luas dan tidak menggunakan bahan bakar untuk pengoperasian. Hal ini agar dapat mengurangi biaya produksi. Untuk mewujudkan keinginan warga, dibuat alat pengering yang berbentuk rak bersusun dengan bahan yang tidak mudah berkarat serta memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber panas. 622

Rancang Bangun Mesin Pengering untuk Pengeringan Limbah Seafood (Vendi Hermawan, Hari Purnomo) Tabel 2. Evaluasi perbaikan perancangan alat pengering Pertemuan 1 Pertemuan 2 Komponen pengering terdiri dari : 1. Rak pengering yang menyesuaikan kapasitas limbah. 2. Sistem pengering berupa panas matahari yang dipantulkan ke rak pengering. 3. Pemanas berupa parabola yang dilengkapi kaca sehingga dapat memantulkan ke rak pengering. Komponen pengering terdiri dari : 1. Rak pengering yang menyesuaikan kapasitas limbah. 2. Sistem pengering berupa panas matahari yang dipantulkan ke rak pengering. 3. Pemanas berupa parabola yang dilengkapi kaca sehingga dapat memantulkan ke rak pengering. Perbaikan penambahan puli yang berguna untuk menggerakakan parabola. Evaluasi Tahap Akhir Hasil diskusi didapatkan hasil yang baik dan mencapai kata mufakat sehingga mendapatkan alat pengering yang sesuai dengan keinginan warga. Gambar 1. Skema alat pengering. Keterangan Loyang : R1 : 70 cm, R2 : 55 cm, R3 : 40 cm, R4 : 25 cm R5 : 10 cm. Gambar 2. Rak pengering. 623

Teknoin Vol. 22 No 8 Desember 2016 : 619-628 2.4 Hasil Perancangan Rancangan berdasarkan FGD dengan komponmen utama berupa ruang pemanas berbentuk parabola, ruang bahan yang dikeringkan berbentuk rak piramida. Hasil evaluasi yang telah dilakukan dengan para kelompok warga selaku obyek yang terkena dampak dari pencemaran limbah dan para stakeholder didapat evaluasi yang ditunjukan pada Tabel 2. 2.4.1 Rak pengering Rak pengering berfungsi untuk penempatan bahan yang dikeringkan. Rak pengering terbuat dari rangka besi yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk piramida, sehingga semakin keatas ruang pengering semakin mengecil. 2.4.2 Parabola Alat ini terbuat dari besi yang dilengkungkan menyerupai parabola dengan panjang 144 cm diberi kaca yang disusun mengikuti bentuk parabola. Fungsi dari parabola ini untuk memantulkan panas matahari kedalam ruang pengering. 2.4.3 Puli pembalik parabola Puli terbuat dari besi yang berdiameter 40 cm puli ini terdiri dari pinion gear dan ring gear. Puli ini berfungsi untuk menggerakkan parabola. Cara kerja puli yaitu dengan putaran tangan yang dihubungkan dengan gear. Sehingga dapat memutar parabola untuk menemukan titik fokus. Pemfokusan parabola diharapkan mampu mempercepat proses pengeringan limbah. Gambar 3. Parabola. 624

Rancang Bangun Mesin Pengering untuk Pengeringan Limbah Seafood (Vendi Hermawan, Hari Purnomo) Gambar 4. Puli penggerak parabola. 2.4.3 Sistem Pengering Sistem pengering memiliki dua komponen utama yaitu parabola dan rak pengering. Sistem pengering ini berfungsi sebagai pemanas bahan dengan cara kerja menangkap panas sinar matahari kemudian panas matahari dipantulkan ke ruang pemanas yang berbentuk piramida sehingga membentuk satu titik fokus. Dari titik fokus yang dicapai maksimal didapat hasil pengeringan yang merata. 2.4.4 Dimensi Alat Pengering Dimensi alat pengering disesuaikan dengan dimensi tubuh pengguna agar alat yang dioperasikan dapat memberikan rasa nyaman dan aman. Hal ini, dapat menciptakan kondisi yang ergonomis guna meningkatkan produktifitas pekerja. Alat pengering berbentuk parabola yang bertujuan untuk memantulkan panas matahari ke ruang pengering yang berbentuk piramida. Piramida tersebut memiliki enam tingkat rak pengering. Ukuran alat pengering ditunjukkan seperti pada Gambar 5 dan 6. Gambar 5. Tampak samping. 625

Teknoin Vol. 22 No 8 Desember 2016 : 619-628 Gambar 6. Tampak depan. 3 KESIMPULAN Limbah seafood merupakan limbah yang bersifat basah. Agar limbah tidak mencemari lingkungan maka perlu diolah dengan alat pengolah limbah. Hasil penelitian dengan metode partisipatori didapat alat yang berbentuk parabola sebagai kolektor panas dan rak pengering berbentuk piramida dengan 6 tingkat. Evaluasi alat dilakukan dua kali, dengan harapan dapat menciptakan alat yang lebih baik dan dapat digunakan secara maksimal. Penelitian ini diharapkan mampu menanggulangi dampak lingkungan di Pantai Trisik dan meningkatkan nilai tambah dari limbah seafood tersebut. DAFTAR PUSTAKA Ahmad, T., L., 2015. Rancang bangun alat pengering limbah ikan dengan Metode Quality Function Deployment (QFD) dan Design Experiment sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi pendapatan ukm ikan asap. Skripsi, Fakultas Teknik. Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Anas, R,, 2010. Rancang bangun prototipe buka tutup atap otomatis untuk pengeringan proses produksi berbasis mikrokontroler AT89S51. Tugas AKhir. Universitas Diponegoro. Arikundo, F. R. & Hazwi, M., 2014. Rancang bangun prototype kolektor surya tipe plat datar untuk penghasil panas pada pengering produk pertanian dan perkebunan. Jurnal e- Dinamis, Vol. 8, No 4. Hal. 194-203. 626

Rancang Bangun Mesin Pengering untuk Pengeringan Limbah Seafood (Vendi Hermawan, Hari Purnomo) Burlian, F., & Firdaus, A., 2011. Kaji eksperimental alat pengering kerupuk tenaga surya tipe Box menggunakan kosentrator cermin datar. Prosiding Seminar Nasional AVoER ke-3, Hal. 95-100. Duval, J., E, Fourichon, C, Madouasse, A, Sjöström, K., Emanuelson, U., Bareille, N., 2016. A participatory approach to design monitoring indicators of production diseases in organic dairy farms. Preventive Veterinary Medicine, 128, p. 12 22. Greensmith, M., 1998. Practical dehydration. Woodhead Publishing, Ltd. Hadi, S., 2015. Laju Pengeringan kapulaga menggunakan alat pengering efek rumah kaca dengan bantuan tungku biomassa. Jurnal Teknik Mesin, Vol 5, No.1, Hal. 49-58. Jenie, B. S. L. & Rahayu, W. P., 1993. Penanganan limbah industri pangan. Kanisius, Hal. 40-45. Jong, A., M., de and Vink, P., 2000. The adoption of technologi innovation for glaziers : evaluation of a participatory ergonomics approach. International Journal of Industrial Ergonomics, 26, p. 39 46. Napitupulu, F., H. dan Atmaja, Y., P., 2011. Perancangan dan pengujian alat pengering jagung dengan tipe cabinet dryer untuk kapasitas 9 kg per siklus. Jurnal Dinamis, Vol. II, No. 8, Hal. 32-43. PPRI. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 18 / 1999. Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun, Jakarta. Putra G., M., D. & Sumarjan., 2014. Desain sistem kendali suhu dan RH berbasis logika fuzzy pada pengeringan biji pala (Myristica Sp.) Erk hybrid. Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem. Vol. 2, No 1, Hal. 13-19. Rasmussen, C., D., N, Lindberg, N., K, Ravn, M., H, Jørgensen, M., B, Søgaard, K, Holtermann, A., 2017. Processes, barriers and facilitators to implementation of a participatory ergonomics program among eldercare workers. Applied Ergonomics. 58, p. 491-499. Setyanto, N., W., Himawan, R., Zefry, D., Arifianto, E., Y., Puteri, R., M., S., Kurnia, N., 2012. Perancangan alat pengering mie ramah lingkungan, Jurnal Rekayasa Mesin, Vol. 3, No. 3, Hal. 411-420. Setyoko, B., Darmanto, S., Rahmat., 2012. Peningkatan kualitas pengeringan ikan dengan sistem tray drying. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Fakultas Teknik. Hal. 37-42, Semarang: Universitas Wahid Hasyim Semarang. Siswati, N. D., Zain, A., Mohammad., 2010. Animal feed making from tuna fish waste with fermentation process. Jurnal Teknik Kimia, Hal. 309-313. Suwito, A., O., P., dan Darsopuspito, S., 2013. Analisa performa kolektor surya tipe parabolic trough sebagai pengganti sumber pemanas pada generator sistem pendingin difusi absorpsi. Jurnal Teknik Pomits, Hal. 394-398. 627

Teknoin Vol. 22 No 8 Desember 2016 : 619-628 Thamrin, I. & Kharisandi, A., 2011. Rancang bangun alat pengering ubi kayu tipe rak dengan memanfaatkan energi surya. Prosiding Seminar Nasional AVoER ke-3, Hal. 49-54. Yuliati dan Santosa, H., 2012. Rancang bangun system pengering untuk pengrajin kerupuk ikan di Kenjeran. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III Yogyakarta, Hal. B-179-B-184. Yuan, L., 2015. Reducing ergonomic injuries for librarians using a participatory approach. International Journal of Industrial Ergonomics, 47, p. 93-103. 628