8 V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Budidaya Singkong Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Karawang merupakan wilayah yang dijadikan sebagai lokasi penelitian. Ketiga lokasi tersebut dipilih karena memiliki lahan pertanian yang ditanami. Singkong ditanam oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Berdasarkan hasil survey, lokasi Bogor merupakan lokasi yang paling mudah dalam menemukan lahan. Di daerah Karawang cenderung sulit dalam menemukan lahan, hal ini dikarenakan daerah Karawang didominasi oleh lahan sawah. Singkong yang ditanam di ketiga daerah tersebut cenderung berada di tanah yang gembur. Jenis yang ditanam para petani adalah jenis lokal. Jenis yang didapatkan di daerah Bogor adalah Manggu, Kuru, Adira, Hiris, Roti, Hijau, Belitung, Tambilung, Putih, Kuning, dan Mentega. Di daerah, Karawang, jenis yang ditemukan adalah Rema, Perelek, dan Putih. Di daerah Sukabumi terdapat jenis Manggu dan Lampining. Singkong cenderung ditanam di lokasi yang datar dan beberapa diberi guludan, sedangkan yang ditanam di lahan yang miring, para petani membuat teras bangku. Jarak tanam yang digunakan oleh para petani cenderung seragam, yaitu ± X cm. Perlakuan yang diberikan pada berbeda di setiap daerah. Di daerah Bogor, kebanyakan petani menggunakan pupuk kandang seperti kotoran sapi dan kambing ditambah dengan pupuk kimia seperti Urea, Ponska, dan TSP, tetapi ada juga beberapa petani yang memilih untuk tidak memberi pupuk sedikitpun. Lahan yang berada di daerah Karawang sebagian besar tidak diberi pupuk. Pemupukan untuk lahan daerah Sukabumi dilakukan dengan pemberian pupuk kandang pada awal penanaman dan selanjutnya diberikan pupuk kimia, seperti Urea. Panen yang dilakukan di ketiga daerah penelitian tersebut sebagian besar dilakukan pada umur 8-9 bulan. Produksi pada umur tanaman siap panen mencapai nilai rata-rata, ton/ha.
9. Produksi Singkong Teraan Sampel yang diambil di lapang memiliki umur yang beragam. Untuk menghilangkan pengaruh faktor umur terhadap produksi maka produksi harus ditera terhadap umur. Peneraan dilakukan agar produksi yang satu dapat dibandingkan dengan produksi yang lainnya (Gambar ). produksi 9 8 7 y = -,x +,x - 7,9 R² =, 8 umur (bulan) Gambar. Hubungan umur dengan produksi Walaupun koefisien determinan R sangat kecil namun cenderung produksi dipengaruhi oleh umur. Dengan menggunakan persamaan Ý = -,x +,x - 7,9 pada produksi, maka akan didapatkan produksi tera berdasarkan rumus: Yti =, + (Yi (-,x +,x - 7,9) Keterangan: Yti = Produksi teraan ke- i Yi = Produksi aktual pada umur ke- i x = Umur (bulan) Dalam menentukan kualitas lahan yang dipersyaratkan untuk kesesuaian lahan, maka selang produksi untuk kelas S (sangat sesuai) adalah 8% dari produksi teraan maksimum (7 ton/ha) yaitu ton/ha, kelas S (cukup sesuai) adalah -8% dari produksi teraan maksimum atau - ton/ha, kelas S (sesuai marginal) adalah -% dari produksi teraan maksimum atau antara 8,7- ton/ha, dan kelas N (tidak sesuai) mempunyai selang produksi % dari produksi singkog teraan maksimum atau
8,7 ton/ha. Data produksi teraan maksimum disajikan pada Lampiran. Tabel. Sekat produksi untuk kelas kesesuaian lahan Kelas Kesesuaian Lahan Produksi Singkong Ton/ha Persentase (%) Sangat sesuai/cukup sesuai S/S 8 Cukup sesuai/sesuai marjinal S/S Sesuai marjinal/tidak sesuai S/N 8,7. Produksi Pati Singkong Teraan Bagian dari yang dijadikan sebagai bahan dasar bioenergi adalah pati. Untuk menilai hubungan antara produksi yang akan digunakan sebagai bahan dasar bioenergi dengan kualitas lahan maka digunakan produksi pati. Sama halnya dengan studi lapang produksi, agar dapat dibandingkan satu sama lain, maka produksi pati harus ditera terlebih dahulu dengan umur. Hubungan produksi pati dengan umur disajikan pada Gambar. Walaupun koefisien determinan R sangat kecil namun cenderung produksi pati dipengaruhi oleh umur. Produksi pati ditera dengan umur dengan menggunakan persamaan Ý = -,88x +,87x 7,79 dan rumus Yteraan = Ÿ + ( Yi Ý), maka akan didapatkan produksi pati yang bebas dari pengaruh umur sehingga dapat dibandingkan dengan kualitas lahan. Produksi pati 9 8 7 y = -,88x +,87x - 7,79 R² =,7 8 umur (bulan) Gambar. Hubungan umur dengan produksi pati Dalam menentukan kualitas lahan yang dipersyaratkan untuk kesesuaian lahan, maka selang produksi pati untuk kelas S (sangat sesuai) adalah
8% dari produksi pati teraan maksimum (7,9 ton/ha) yaitu,8 ton/ha, kelas S (cukup sesuai) adalah -8% dari produksi pati teraan maksimum atau,7-,8 ton/ha, kelas S (sesuai marginal) adalah -% dari produksi pati teraan maksimum atau antara,8-,7 ton/ha, dan kelas N (tidak sesuai) mempunyai selang produksi % dari produksi pati singkog teraan maksimum atau,8 ton/ha. Data produksi pati teraan maksimum disajikan pada Lampiran. Tabel. Sekat produksi pati untuk kelas kesesuaian lahan Kelas Kesesuaian Lahan Produksi Pati Singkong Ton/ha Persentase (%) Sangat sesuai/cukup sesuai S/S,8 8 Cukup sesuai/sesuai marjinal S/S,7 Sesuai marjinal/tidak sesuai S/N,8. Penetapan Kriteria Kesesuaian Lahan Berdasarkan Produksi Singkong dan Produksi Pati Singkong Penetapan kriteria kesesuaian lahan ditentukan berdasarkan hubungan antara karakteristik lahan dengan produksi dan produksi pati. Beberapa karakteristik lahan yang digunakan untuk penetapan kelas kesesuaian lahan adalah temperatur, media perakaran, retensi hara, kondisi terrain, dan toksisitas... Hubungan Produksi Singkong dan Produksi Pati Singkong dengan Elevasi Penentuan kriteria kesesuaian lahan untuk temperatur menggunakan pendekatan elevasi. Hal ini dikarenakan adanya hubungan antara elevasi dan temperatur, semakin tinggi lokasi (elevasi) maka semakin rendah temperatur di lokasi tersebut. Hubungan antara produksi dan produksi pati dengan elevasi disajikan pada Gambar 7. Dengan memproyeksikan titik potong sekat produksi dengan garis batas pada sumbu X (karakteristik lahan), maka didapatkan persamaan produksi tera dan pati tera untuk elevasi yaitu : y = -,9x + 9, dan y = -,8x + 9,78
Pola yang didapatkan dari hubungan produksi teraan dan produksi pati teraan dengan elevasi adalah berbanding terbalik. Hal ini dikarenakan pengaruh elevasi terhadap produksi adalah negatif. Nilai elevasi maksimum yang didapatkan di lapang yaitu 89 mdpl dan elevasi minimum mdpl. Selang nilai karakteristik lahan yang didapat disajikan pada Tabel. Tabel. Selang nilai elevasi untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Selang nilai elevasi (mdpl) Selang nilai elevasi (mdpl) Kelas berdasarkan produksi berdasarkan produksi pati kesesuaian S < 97, <9, S 97, 7, 9,-7,7 S 7, 9,7 7,7-99, N >9,7 >99, Produksi teraan 8 7 y = -,9x + 9, R² =,9 7 Elevasi (mdpl) Produksi pati teraan y = -,8x + 9,7 R² =,97 Gambar 7. Hubungan antara produksi teraan dan produksi pati teraan dengan elevasi.. Hubungan Produksi Singkong dan Produksi Pati Singkong dengan Media Perakaran Hubungan antara produksi dan produksi pati dengan tekstur ditunjukan pada Gambar 8. Dengan menggunakan metode yang sama pada penentuan elevasi maka didapatkan persamaan produksi tera dan pati tera untuk tekstur liat yaitu : y-left =,9x +,9 dan y-right = -,x -,879x +,8 dan y-left =,x,887 dan y-right = -,x,9x +,8 8 7 7 Elevasi (mdpl)
pasir yaitu: Persamaan produksi tera dan pati tera untuk tekstur y-left =,x -,7x +,8 dan y-right = -,98x + 89,8 dan y-left = -,x +,7x -,7 dan y-right = -,x + 9,8 Pola yang didapatkan dari hubungan produksi teraan dan produksi pati teraan dengan tekstur adalah parabola. Hal ini dikarenakan tekstur memiliki titik optimum. Selang nilai karakteristik lahan yang didapat akan disajikan pada Tabel 7, Tabel 8, dan hasil overlay dari segitiga tekstur disajikan pada Table 9. Tabel 7. Selang kadar liat untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Kelas kesesuaian Selang kadar liat (%) berdasarkan produksi Selang kadar liat (%) berdasarkan produksi pati S,-, 7,-, S,-8,8 atau 7,-,,-, atau 7,-, S 8,8- atau,9-7,,-, atau,- 8,88 N <,9 <, atau >8,88 Tabel 8. Selang kadar pasir untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Selang kadar pasir (%) Kelas Selang kadar pasir (%) berdasarkan produksi pati kesesuaian berdasarkan produksi S 9,7-,,-,7 S,-9,7 atau,-,8,7-7, atau 7,9-, S,8-7, atau <, 7,-, atau,-7,9 N >7, >, atau <, Tabel 9. Selang kelas tekstur untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Kelas kesesuaian Kelas tekstur berdasarkan produksi Kelas tekstur berdasarkan produksi pati S Liat dan liat berdebu Lempung berdebu dan lempung berliat S Lempung liat berdebu, liat berpasir, dan lempung berliat Lempung dan lempung liat berdebu S Lempung berpasir, lempung liat berpasir, lempung, dan lempung berdebu Lempung berpasir, debu, dan lempung liat berpasir N Pasir, pasir berlempung dan debu Pasir berlempung, pasir, liat, liat berpasir, dan liat berdebu
Produksi teraan 8 7 y = -,x -,879x +,8 R² =,99 y =,9x +,9 R² =,8 7 liat (%) Produksi pati teraan 8 7 y = -,x -,9x +,8 y =,x -,887 R² =,89 7 liat (%) produksi teraan 8 7 y =,x -,7x +,8 y = -,98x + 89,8 Pasir (%) Produksi pati teraan 8 7 y = -,x +,7x -,7 y = -,x + 9,8 Pasir (%) Gambar 8. Hubungan antara produksi teraan dan produksi pati teraan dengan tekstur... Hubungan Produksi Singkong dan Produksi Pati Singkong dengan Retensi Hara Hubungan antara produksi dan produksi pati dengan beberapa aspek dari retensi hara yaitu ph tanah, C-organik, kapasitas tukar kation (KTK), dan kejenuhan basa (KB) disajikan pada Gambar 9, Gambar, Gambar, dan Gambar. Dengan metode yang sama pada penentuan elevasi, maka didapatkan persamaan produksi tera dan produksi pati tera untuk ph yaitu : y-left =,8ln(x) - 79, dan y-right = -ln(x) + 8, dan y-left = -,7x + 8,x 79, dan y-right = -,9x + 8, Pola yang didapatkan dari hubungan produksi teraan dan produksi pati teraan dengan ph adalah parabola. Hal ini dikarenakan ph
memiliki titik optimum. Nilai ph maksimum yang didapatkan yaitu,8 dan ph minimum,. Selang nilai karakteristik lahan yang didapat akan disajikan pada Tabel. Tabel. Selang nilai ph untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Kelas kesesuaian Selang nilai ph berdasarkan produksi Selang nilai ph berdasarkan produksi pati S,8,,79, S,7-,8 atau,-,8,7-,79 atau,-,7 S,9-,7 atau,8-,7,-,7 atau,7-,8 N <,9 atau >,7 <, atau >,8 Persamaan produksi teraan dan produksi pati teraan untuk C-organik yaitu : y = -7,x + 87,x -,9 dan y= -,8x + 7,x -,88 Pola yang didapatkan dari hubungan produksi teraan dan produksi pati teraan dengan C-organik adalah berbanding lurus. Hal ini dikarenakan pengaruh C-organik terhadap produksi adalah positif. Nilai C-organik maksimum yang didapatkan yaitu,% dan C-organik minimum,%. Selang nilai karakteristik lahan yang didapat akan disajikan pada Tabel. Tabel. Selang nilai C-organik untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Selang nilai C-organik (%) Selang nilai C-organik (%) Kelas berdasarkan produksi berdasarkan produksi pati kesesuaian S >, >, S,-,,-, S <, <, N - - Persamaan produksi teraan dan produksi pati teraan untuk KTK yaitu : y =,8x -, dan y =,8x -,7 Pola yang didapatkan dari hubungan produksi teraan dan produksi pati teraan dengan KTK adalah berbanding lurus. Hal ini dikarenakan pengaruh KTK terhadap produksi adalah positif. Nilai KTK
maksimum yang didapatkan yaitu 9, (cmol (+) kg - ) dan KTK minimum, (cmol (+) kg - ). Selang nilai karakteristik lahan yang didapat akan disajikan pada Tabel. Tabel. Selang nilai KTK untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Selang KTK (cmol (+) kg - ) Selang nilai KTK (cmol (+) Kelas berdasarkan produksi kg - ) berdasarkan produksi kesesuaian pati S >, >,78 S,8-,,9-,78 S <,8 <,9 N - - Persamaan produksi teraan dan produksi pati teraan untuk KB yaitu : y = -,7x + 7,97x, dan y =,7x - 9,78 Pola yang didapatkan dari hubungan produksi teraan dan produksi pati teraan dengan KB adalah berbanding lurus. Hal ini dikarenakan pengaruh KB terhadap produksi adalah positif. Nilai KB maksimum yang didapatkan yaitu 7,% dan KB minimum,9%. Selang nilai karakteristik lahan yang didapat akan disajikan pada Tabel. Tabel. Selang nilai KB untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Selang nilai KB (%) Selang nilai KB (%) Kelas berdasarkan produksi berdasarkan produksi pati kesesuaian S >,7 >,7 S,9-,7 7,8-,7 S <,9 <7,8 N - -
7 Produksi teraan 9 8 7 y =,8ln(x) - 79, R² =,879 y = -ln(x) + 8, R² =,8 ph HO Produksi pati teraan 8 7 y = -,7x + 8,x - 79, R² =,97 y = -,9x + 8, ph HO Gambar 9. Hubungan antara produksi teraan dan produksi pati teraan dengan ph HO Produksi teraan 8 7 y = -7,x + 87,x -,9 C- organik (%) Produksi pati teraan 8 7 y = -,8x + 7,x -,88 C-org anik (%) Gambar. Hubungan antara produksi teraan dan produksi pati teraan dengan C-organik produksi teraan 8 7 y =,8x -, 7 KTK (cmol (+) kg - ) Produksi pati teraan 8 7 7 y =,8x -,7 KTK (cmol (+) kg - ) Gambar. Hubungan antara produksi teraan dan produksi pati teraan dengan KTK
8 Produksi teraan y = -,7x + 7,97x -, R² =,97 KB (%) Produksi pati teraan Gambar. Hubungan antara produksi teraan dan produksi pati teraan dengan KB.. Hubungan Produksi Singkong dan Produksi Pati Singkong dengan Kondisi Terrain Kondisi terrain adalah spesifik lokasi pada tempat dimana sampel diambil, atau bukan menggambarkan terrain makro, terutama kaitannya dengan kemiringan lereng. Hubungan antara produksi dan produksi pati dengan beberapa aspek kondisi terrain, yaitu kemiringan lereng akan disajikan pada Gambar. Dengan menggunakan metode yang sama seperti sebelumnya, maka didapat persamaan produksi teraan dan produksi pati teraan untuk kemiringan lereng yaitu : y = -,9x + 78,8 dan y = -,x + 7,7 y =,7x - 9,78 Pola yang didapatkan dari hubungan produksi teraan dan produksi pati teraan dengan kemiringan lereng adalah berbanding terbalik. Hal ini dikarenakan pengaruh kemiringan lereng terhadap produksi adalah negatif. Kemiringan lereng maksimum yang didapatkan di lapang yaitu % dan kemiringan lereng minimum %. Selang nilai karakteristik lahan yang didapat akan disajikan pada Tabel. KB (%)
9 Tabel. Selang nilai kemiringan lereng untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Selang nilai kemiringan Selang nilai kemiringan lereng Kelas lereng (%) berdasarkan (%) berdasarkan produksi pati kesesuaian produksi S <,7 <, S,7-8,,-,8 S 8,-,,8-8,9 N >, >8,9 Produksi teraan 8 7 y = -,9x + 78,8 Lereng (%) produksi pati teraan 8 7 y = -,x + 7,7 Lereng (%) Gambar. Hubungan antara produksi teraan dan produksi pati teraan dengan kemiringan lereng.. Hubungan Produksi Singkong dan Produksi Pati Singkong dengan Toksisitas Hubungan antara produksi dan produksi pati dengan aspek toksisitas, yaitu Al-dd akan disajikan pada Gambar. Dengan menggunakan metode yang sama seperti sebelumnya, maka didapat persamaan produksi tera untuk Al-dd yaitu : y = -,x + 77,7 dan y = -,7x + 7, Pola yang didapatkan dari hubungan produksi teraan dan produksi pati teraan dengan Al-dd adalah berbanding terbalik. Hal ini dikarenakan pengaruh Al-dd terhadap produksi adalah negatif. Nilai Al-dd maksimum yang didapatkan yaitu,9 (cmol (+) kg - ) dan Al-dd minimum, (cmol (+) kg - ). Selang nilai karakteristik lahan yang didapat akan disajikan pada Tabel.
Tabel. Selang nilai Al-dd untuk berbagai kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi dan produksi pati Selang nilai Al-dd (cmol (+) Selang nilai Al-dd (cmol (+) Kelas kg - ) berdasarkan produksi kg - ) berdasarkan produksi kesesuaian pati S <,79 <, S,79-7,,-, S >7, >, N - - produksi teraan (ton/ha 8 7 y = -,x + 77,7 Al (cmol (+) kg - ) Produksi pati teraan 8 7 y = -,7x + 7, 8 Al (cmol (+) kg - ) Gambar. Hubungan antara produksi teraan dan produksi pati teraan dengan Al
. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Singkong Produksi Singkong. Berdasarkan persyaratan tumbuh dan studi lapang yang telah diperoleh, maka dapat disusun kriteria kesesuaian lahan seperti yang disajikan pada Tabel. Tabel. Kriteria klasifikasi kesesuaian lahan berbasis produksi Kelas kesesuaian lahan Kualitas lahan Sangat sesuai (S) Cukup sesuai (S) Sesuai marjinal (S) Tidak sesuai (N) Temperatur (t) - Elevasi (mdpl) <97, 97,- 7, 7,-9,7 >9,7 Media Perakaran (r) - Tekstur C dan SiC SiCL, SC, dan CL Retensi Hara (f) - KTK tanah (cmol (+) kg - ) - KB (%) - ph (HO) >, >,7,8-,,8-,,9-,7,7-,8,-,8,-, SL, SCL, L, dan SiL <,8 <,9,9-,7,8-,7 <, S, Si, dan LS - - <,9 >,7 - - C-organik (%) >, Toksisitas (x) - Kejenuhan Al (cmol (+) <,79,79-7, >,9 - kg - ) Kondisi terrain (m) - Lereng (%) <,7,7-8, 8,-, >, Keterangan: C = Clay; L = Loam; S = pasir (Sand); Si = debu (Silt), SL = lempung berpasir (Sandy loam); pasir berlempung (Loamy Sand); SC = liat berpasir (Sandy Clay); SCL = Lempung Liat Berpasir; SiCL = Lempung Liat Berdebu; CL = Lempung Berliat; SiC = Liat Berdebu; SiL = Lempung berdebu.
Produksi Pati Singkong. Berdasarkan persyaratan tumbuh dan studi lapang yang telah diperoleh, maka dapat disusun kriteria kesesuaian lahan seperti pada Tabel 7. Tabel 7. Kriteria klasifikasi kesesuaian lahan berbasis produksi pati Kelas kesesuaian lahan Kualitas lahan Sangat sesuai (S) Cukup sesuai (S) Sesuai marjinal (S) Tidak sesuai (N) Temperatur (t) - Elevasi (mdpl) <9, 9,-7,7 7,7-99, >99, Media Perakaran (r) - Tekstur SiL dan CL L dan SiCL SL, Si dan SCL Retensi Hara (f) - KTK tanah (cmol (+) kg - ) - KB (%) - ph (HO) >,78 >,7,79-,,9-,78 7,8-,7,7-,79,-,7,-, <,9 <7,8,-,7,7-,8 <, LS, S, C, SC, dan SiC - - <, >,8 - - C-organik (%) >, Toksisitas (x) - Kejenuhan Al (cmol (+) <,,-, >, - kg - ) Kondisi terrain (m) - Lereng (%) <,,-,8,8-8,9 >8,9 Keterangan: C = Clay; L = Loam; S = pasir (Sand); Si = debu (Silt), SL = lempung berpasir (Sandy loam); pasir berlempung (Loamy Sand); SC = liat berpasir (Sandy Clay); SCL = Lempung Liat Berpasir; SiCL = Lempung Liat Berdebu; CL = Lempung Berliat; SiC = Liat Berdebu; SiL = Lempung berdebu. Berdasarkan dua kriteria kesesuaian lahan yang telah dibuat (Tabel dan Tabel 7), dapat diketahui bahwa antara kriteria kesesuaian lahan berbasis produksi dan berbasis produksi pati menunjukkan batas-batas kelas kesesuaian yang relatif sama. Hal ini berarti antara produksi dan produksi pati memiliki keterkaitan.. Peta Kesesuaian Lahan Tanaman Singkong Setelah didapatkan kriteria kesesuaian lahan tanaman yang baru, maka data tersebut dapat diaplikasikan kedalam peta. Untuk mengetahui perbedaan dengan kriteria kesesuaian lahan yang telah dibuat sebelumnya oleh Badan Litbang Deptan () berdasarkan sifat tanah yang relatif, maka pada Gambar akan disajikan peta kesesuaian lahan tanaman berdasarkan kriteria kesesuaian lahan berbasis produksi dan pada Gambar akan disajikan
peta kesesuaian lahan tanaman berdasarkan kriteria kesesuaian lahan Badan Litbang Deptan (). Gambar. Peta kesesuaian lahan tanaman berdasarkan kriteria kesesuaian lahan berbasis produksi Gambar. Peta kesesuaian lahan tanaman berdasarkan kriteria kesesuaian lahan Badan Litbang Deptan Kedua peta di atas memperlihatkan adanya perbedaan. Pada peta kesesuaian berdasarkan kriteria baru didominasi oleh kelas S di bagian utara disusul dengan kelas N(m) yang artinya lokasi tersebut tergolong kelas N dengan faktor pembatas lereng, sedangkan pada peta kesesuaian berdasarkan kriteria
Badan Litbang Deptan didominasi oleh kelas S(oa) yang artinya lokasi tersebut tergolong kelas S dengan faktor pembatas drainase. Perbedaan yang diperlihatkan oleh kedua peta tersebut diakibatkan kriteria kesesuaian lahan baru belum mencakup seluruh kualitas lahan dan karakteristik lahan yang mempengaruhi produktifitas tanaman. Adanya beberapa data yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria yang baru menjadi salah satu alasan terjadinya perbedaan diantara kedua peta tersebut. Tidak dijumpainya karakteristik lahan di lapang mengakibatkan data tersebut tidak dapat dimasukkan dalam kriteria yang baru. Data drainase merupakan salah satu data yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria lahan yang baru..7 Perbandingan Data Analisis Sampel Bogor Berdasarkan Kriteria Karakteristik Lahan dan Kriteria Produksi Setelah dibuat kriteria kesesuaian lahan berbasis produksi, maka akan diterapkan pada sampel bogor. Hasil pengkelasan kesesuaian lahan berdasarkan karakteristik lahan akan dicoba untuk dibandingkan dengan kelas kesesuaian berdasarkan produksi. Tabel 8. Data kelas kesesuaian sampel Bogor berdasarkan produksi dan karakteristik lahan Kode Kecamatan Desa Produksi Singkong teraan Elevasi (mdpl) Lereng (%) Tekstur ph Al (cmol (+) kg - ) C-organik (%) KTK (cmol (+) kg - ) KB (%) Kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi Kelas kesesuaian lahan berdasarkan karakteristik lahan B Sukaraja Sukatani,8 77 C,8,,8 7,, S S B Bogor Timur Katulampa, 7 SiC,7,,7 8,8 S S B Babakan Madang Cijayanti 9,8 C,8,,,8, S S B Dramaga Cikarawang,8 8 C,,8,8,8 S S B7 Dramaga Alamsinarsari 8,8 C,,8,,8,7 S S B8 Cisarua Cisarua 9,8 8 L,,, 9,,98 S S B9 Megamendung Cidokom 7,9 L,,8, 7, S S Berdasarkan kriteria kesesuaian lahan berbasis produksi (Tabel ) dan data pada Tabel 8, dapat dilihat dengan kode sampel B memiliki faktor pembatas berupa ph dan Al sehingga sampel ini masuk kedalam kategori
kesesuaian lahan aktual Sfx. Apabila dilakukan usaha perbaikan berupa pemupukan dan pengapuran, maka kesesuaian lahan potensial menjadi S. Kode sampel B memiliki faktor pembatas berupa tekstur, Al, ph, dan KB sehingga sampel ini masuk kedalam kategori kesesuaian lahan aktual Srfx. Usaha perbaikan dapat dilakukan terhadap kesuburan tanah, tetapi tekstur tidak dapat diperbaiki, sehingga sampel ini termasuk kesesuaian lahan potensial kelas Sr. Kode sampel B memiliki faktor pembatas berupa KTK dan Al. Hasil evaluasi lahan akhir diperoleh kesesuaian aktual termasuk kelas Sfx. Usaha perbaikan dapat dilakukan terhadap retensi hara/kesuburan tanah. Apabila dilakukan usaha perbaikan berupa pemupukan dan pengapuran, maka kesesuaian lahan potensial menjadi S. Sampel B memiliki faktor pembatas berupa C-organik. Kesesuaian lahan aktual termasuk dalam kelas Sf. Usaha perbaikan yang dapat dilakukan adalah perbaikan kesuburan tanah, sehingga kesesuaian lahan potensial menjadi S. Sampel B7 tidak memiliki faktor pembatas, sehingga kesesuaian lahan aktualnya adalah S. B8 memiliki faktor pembatas berupa ph. Hasil evaluasi lahan akhir diperoleh kesesuaian lahan aktual termasuk kelas Sf. Usaha perbaikan yang dapat dilakukan berupa perbaikan retensi hara/kesuburan tanah dan pengapuran dapat merubah kesesuaian menjadi S. Sampel B9 memiliki faktor pembatas tekstur sehingga kelas kesesuaian lahan termasuk Sr dan tidak dapat diperbaiki. Penentuan kelas kesesuaian lahan berdasarkan produksi sebagaimana disajikan pada Tabel 8 dan mengacu pada Tabel. menunjukkan bahwa sampel B memiliki produksi,8 ton/ha, sehingga termasuk kelas S. Sampel B dan B7 memiliki produksi, dan 8,8 ton/ha sehingga termasuk kelas S. Sampel B, B, B8 dan B9 memiliki produksi 9,8;,8; 9,8 dan 7,9 ton/ha sehingga termasuk kelas S. Apabila dibandingkan antara penentuan kelas berdasarkan kriteria klasifikasi kesesuaian lahan berbasis produksi (Tabel ) dengan penentuan sekat produksi (Tabel ) dapat dilihat pada sampel B adalah tidak sejalan. Sampel ini menunjukkan bahwa produksi termasuk dalam kelas S,
sedangkan sebelumnya kesesuaian lahan berdasarkan Tabel menunjukkan kelas S. Seperti pada sampel B, pada sampel B7 produksi menunjukkan kelas S sedangkan kesesuaian lahan berdasarkan Tabel menunjukkan kelas S. Pada sampel B kelas kesesuaian berdasarkan produksi dan berdasarkan kriteria kesesuaian lahan menunjukkan kelas yang tetap pada kelas S. Sama halnya dengan sampel B, sampel B dan B8 pun memiliki kesesuaian lahan yang sama antara produksi dan karakteristik lahan yaitu S. Sampel B dan B9 memiliki kesesuaian lahan yang tidak sejalan, karena produksi menunjukkan kelas S sedangkan karakteristik lahan pada kelas S. Hal ini dikarenakan ada beberapa karakteristik lahan yang tidak dapat dirubah. Salah satu alasan pengkelasan berdasarkan produksi lebih rendah dibanding pengkelasan berdasarkan kualitas lahan adalah dimungkinkan adanya hama atau keadaan alam yang tidak dapat dicegah. Hal ini menunjukkan bahwa kriteria kelas kesesuaian lahan yang dibuat berdasarkan tiga lokasi yaitu Bogor, Sukabumi, dan Karawang masih perlu dilengkapi dengan karakteristik lahan yang lebih beragam.