BAHAN DAN METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN

MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-Februari 2014 di

MATERI. Lokasi dan Waktu

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

BAB III MATERI DAN METODE. Merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap Performa Burung Puyuh Betina Umur 16

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan 24 ekor Domba Garut jantan muda umur 8 bulan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III MATERI DAN METODE. hijau terhadap bobot relatif dan panjang organ pencernaan itik Magelang jantan

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. adalah Day Old Duck (DOD) hasil pembibitan generasi ke-3 sebanyak 9 ekor itik

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Penggunaan Tepung Daun Mengkudu (Morinda

BAB III MATERI DAN METODE. protein berbeda pada ayam lokal persilangan selama 2 10 minggu dilaksanakan

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. minggu dengan bobot badan rata-rata gram dan koefisien variasi 9.05%

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian kecernaan protein dan retensi nitrogen pakan komplit dengan

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan yaitu Domba Garut betina umur 9-10 bulan sebanyak

BAB III MATERI DAN METODE. berbeda dilaksanakan mulai bulan Maret sampai Agustus 2016 di kandang domba

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. kelompok perlakuan dan setiap kelompok diulang sebanyak 5 kali sehingga setiap

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. jenis sentul dengan umur 1 hari (day old chick) yang diperoleh dari Balai

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang dijadikan objek percobaan adalah puyuh betina yang

OBJEK DAN METODE PENELITIAN. tradisional Babah Kuya yang terletak di pasar baru. Pasak bumi yang digunakan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kandang Hewan Percobaan, Laboratorium fisiologi dan biokimia, Fakultas

MATERI DAN METODE. Waktu dan Lokasi. Materi

MATERI DAN METODE. Gambar 4. Kelinci Peranakan New Zealand White Jantan Sumber : Dokumentasi penelitian (2011)

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. jantan dengan bobot badan rata-rata 29,66 ± 2,74 kg sebanyak 20 ekor dan umur

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ayam petelur yang digunakan adalah ayam petelur yang berumur 27

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah ayam kampung jenis sentul

BAB III MATERI DAN METODE. Laut (Gracilaria verrucosa) terhadapproduksi Karkas Puyuh (Cotunix cotunix

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. starter sampai finisher (1-35 hari) sebanyak 100 ekor dan koefisien variasi kurang

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. berisi 5 ekor dan anak ayam diberi nomor (wing tag) sesuai perlakuan untuk

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Pengaruh Penggunaan Gathot (Ketela

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan, pada Agustus 2012 hingga September

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh penggunaan ampas kecap sebagai subsitusi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi Ternak Percobaan. Kandang dan Perlengkapan

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kabupaten Bogor. Pada umur 0-14 hari ayam diberi ransum yang sama yaitu

Gambar 2. Domba didalam Kandang Individu

I. MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei 2015 di

BAB III METODE PENELITIAN. Ayam Pedaging dan Konversi Pakan ini merupakan penelitian penelitian. ransum yang digunakan yaitu 0%, 10%, 15% dan 20%.

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian yang berjudul Pengaruh Pemberian Tingkat Protein Ransum dan

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang Pengaruh Penggunaan Campuran Onggok dan Molase

MATERI DAN METODE. Gambar 3. Domba yang Digunakan Dalam Penelitian

MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium. Research and Development Station (UARDS) Universitas Islam Negeri Sultan

BAB III MATERI DAN METODE. Februari 2017 di kandang, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas

MATERI DAN METODE. Bahan Bahan yang digunakan untuk produksi biomineral yaitu cairan rumen dari sapi potong, HCl 1M, dan aquadest.

BAB III MATERI DAN METODE. Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

BAB III METODE PENELITIAN. selatan kota Gorontalo. Penelitian berlangsung selama dua bulan mulai dari bulan

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. kelompok dan setiap kelompok diulang sebanyak 5 kali sehingga setiap kandang

MATERI DAN METODE. Materi

BAB III METODE PENELITIAN. yang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan

MATERI DAN METODE. Gambar 2. Contoh Domba Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

III BAHAN DAN METODE. dan masing-masing unit percobaan adalah lima ekor puyuh betina fase produksi.

BAB III MATERI DAN METODE. Kampung Super dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2016 dikandang

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012

BAB III MATERI DAN METODE. periode starter terhadap performans pada Ayam Kedu Hitam umur 0-10 Minggu.

MATERI DAN METODE. Gambar 1. Ternak Domba yang Digunakan

MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari-Maret 2015 di Kandang

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Objek penelitian yang digunakan adalah Itik Peking Mojosari Putih (PMp)

MATERI DAN METODE. Materi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh penggunaan ampas kecap dalam ransum

BAB III MATERI DAN METODE. Ransum terhadap Sifat Fisik Daging Puyuh Jantan dilaksanakan bulan Juni

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada 12 September 2014 sampai dengan 20 Oktober 2014

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Kecernaan dan Deposisi Protein Pakan pada Sapi

MATERI DAN METODE. Materi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian

DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1. Hasil analisis proksimat bahan pakan No Bahan Protein (%)

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September - Desember 2015 di

BAB III METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Potensi Ampas Kelapa sebagai Pakan Ternak. Kelapa (Cocos nucifera Lin) adalah komoditas sosial yang mudah tumbuh

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang pengaruh penggunaan tepung daun katuk (Sauropus

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelinci lokal dengan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama satu bulan, pada 27 Agustus - 26 September 2012

MATERI DAN METODE. Tabel 3. Komposisi Nutrisi Ransum Komersial.

I. MATERI DAN METODE. Pelaksanaan penelitian ini bertempat di Laboratarium UIN Agriculture Research and

MATERI DAN METODE. Penelitian ini akan dilaksanakan selama 5 minggu dimulai dari bulan

Lampiran 1. Skema Penelitian Ayam pedaging

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu dari 12 September 2014 sampai

MATERI DAN METODE. Materi

Pengumpulan daun apu-apu

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh pemberian kombinasi tepung keong mas (Pomacea

BAB III MATERI DAN METODE. ransum terhadap profil kolesterol darah ayam broiler dilaksanakan pada bulan

MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilakukan di kandang Mutiara Robani Jalan Sekuntum Gang

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Ransum Penelitian Zat Makanan Jumlah (%)

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Percobaan Kandang Bahan dan Alat Prosedur Persiapan Bahan Pakan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang Pengaruh Penggunaan Limbah Ikan Bandeng (Chanos

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3. Suhu Kandang Selama Lima Minggu Penelitian Pengukuran Suhu ( o C) Pagi Siang Sore 28-32

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

MATERI DAN METODE. Materi

METODE. Materi 10,76 12,09 3,19 20,90 53,16

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 24 Juli 2014 di kandang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan populasi yang cukup tinggi. Kambing Kacang mempunyai ukuran tubuh

METODE PENELITIAN. Gambar 2 Ternak dan Kandang Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN

MATERI DAN METODE. Materi

Transkripsi:

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Udara Gg. Rukun (Peternakan Kelinci Rukun Farm) Berastagi. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan dimulai dari bulan Juli 2016 sampai dengan September 2016. Bahan dan Alat Penelitian Bahan Bahan yang digunakan adalah kelinci rex jantan lepas sapih sebanyak 24 ekor dengan bobot badan awal 1012,14±126,67 g, bahan penyusun ransum/pelet yang terdiri dari ampas kelapa fermentasi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dedak padi, tepung ikan, mineral mix dan molases. Air minum yang diberikan secara ad libitum dan rodalon sebagai desinfektan serta obat-obatan seperti obat cacing (Wormectin) dan Permenthyl untuk obat kembung. Alat Alat yang digunakan adalah kandang individu ukuran 50 x 50 x 50 cm sebanyak 24 petak, mesin pencetak pelet, timbangan kapasitas 5 kg untuk menimbang kelinci, pakan dan sisa pakan, tempat pakan pada tiap kandang masing-masing sebanyak 24 unit, mesin grinder untuk membuat tepung, lampu, thermometer, sapu lidi, terpal plastik sebagai alas untuk meramu pelet, kantung plastik sebagai tempat penyimpanan bahan pakan dan pelet.

Metode Penelitian Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara experimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut : P 0a : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi P 0b : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi P 1 : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger P 2 : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger P 3 : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi Ragi Tape P 4 : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi Rage Tape Dengan susunan penelitian sebagai berikut : Tabel 5. Kombinasi Unit Perlakuan dan Ulangan P 4 U 3 P 3 U 1 P 2 U 2 P 1 U 4 P 3 U 4 P 4 U 4 P 2 U 1 P 1 U 1 P 2 U 4 P 3 U 3 P 4 U 2 P 1 U 3 P 3 U 2 P 2 U 3 P 0B U 1 P 0B U 4 P 0A U 3 P 0B U 3 P 0A U 2 P 4 U 1 P 1 U 2 P 0A U 4 P 0B U 2 P 0A U 1 Model matematik percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut : Keterangan : Yij = μ + σi + Ʃij Yij = nilai pengamatan yang diperoleh dari satuan percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j μ = nilai tengah umum σi = efek dari perlakuan ke-i Ʃij = pengaruh galat percobaan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

Peubah yang Diamati 1. Bobot Potong (g/ekor) Bobot potong diperoleh dengan cara penimbangan bobot akhir kelinci setelah dipuasakan selama 6-10 jam sebelum disembelih. 2. Bobot Karkas (g/ekor) Bobot karkas diperoleh dari hasil penimbangan dari daging bersama tulang kelinci yang telah dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal leher dan dari kaki sampai batas pergelangan kaki, isi rongga perut, darah, ekor dan kulit. 3. Persentase Karkas (%) Persentase karkas yaitu bobot karkas dibandingkan dengan bobot potong dikali 100%. Persentase karkas = Bobot karkas x 100% Bobot potong 4. Persentase Lemak Abdomen (%) Persentase lemak abdomen yaitu bobot lemak abdomen dibandingkan dengan bobot hidup dikali 100%. Persentase lemak abdomen = Bobot lemak abdomen x 100% Bobot potong Pelaksanaan Penelitian 1. Persiapan Kandang dan Peralatan Kandang yang digunakan adalah kandang individu dengan ukuran 50 x 50 x 50 cm sebanyak 24 petak. Kandang dipersiapkan seminggu sebelum kelinci masuk dalam kandang agar kandang bebas dari hama penyakit. Kandang beserta peralatan seperti tempat pakan dan minum dibersihkan dan didesinfektan dengan menggunakan rodalon.

2. Pemilihan Ternak Kelinci yang akan digunakan sebagai objek penelitian diseleksi terlebih dahulu dengan syarat seleksi sebagai berikut : kelinci dalam keadaan sehat, tidak cacat dilihat dari bentuk kaki yang lurus dan lincah, ekor melengkung ke atas lurus merapat ke bagian luar mengikuti tulang punggung, telinga lurus ke atas, mata jernih dan bulu mengkilat. Sebelum kelinci dimasukkan ke dalam kandang, dilakukan penimbangan untuk mengetahui bobot badan awal dari masing-masing kelinci kemudian dilakukan random (pengacakan) yang bertujuan untuk memperkecil nilai keragaman. Lalu kelinci dimasukkan ke dalam kandang sebanyak 1 ekor per unit penelitian. 3. Pengolahan Tepung Ampas Kelapa Fermentasi dengan Ragi Tape Pengolahan ampas kelapa hingga menjadi ampas kelapa fermentasi dijelaskan pada skema berikut : 1 kg tepung ampas kelapa Diautoclave selama 15 menit dengan suhu 121 0 C Ditambahkan air 800 ml Ditaburkan ragi tape sebanyak 18 g Diaduk sampai homogen Dimasukkan ke dalam kotak fermentasi, kemudian difermentasi secara aerob selama 6 hari Dioven selama 24 jam dengan suhu 60 0 C Digiling dan disimpan Sumber : Modifikasi Umiyasih dan Anggraeny (2008)

4. Pengolahan Tepung Ampas Kelapa Fermentasi dengan Aspergillus niger Pengolahan ampas kelapa hingga menjadi ampas kelapa fermentasi dijelaskan pada skema berikut : Tepung ampas kelapa 1 kg Ditambahakan 800 ml air Ditambahkan Zeolit 45 g dan Aspergillus niger 18 g Diaduk sampai dengan homogen Dimasukkan ke dalam kotak fermentasi Fermentasi secara aerob pada suhu kamar (25 0 C) selama 6 hari Dioven selama 24 jam dengan suhu 60 0 C Digiling dan disimpan Sumber : Modifikasi Muhsafaat et al. (2015) 5. Penyusunan Pakan dalam bentuk Pelet Bahan penyusun konsentrat yang digunakan terdiri atas tepung ampas kelapa, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dedak padi, tepung ikan, mineral dan molases. Bahan yang digunakan ditimbang terlebih dahulu sesuai dengan formulasi pelet yang telah sesuai dengan level perlakuan. Untuk menghindari ketengikan, pencampuran dilakukan satu kali dalam 3 minggu. Berikut susunan ransum pada pakan pelet kelinci :

Tabel 6. Susunan dan komposisi ransum No Bahan Perlakuan. P 0A P 0B P 1 P 2 P 3 P 4 1. AK 10 20 0 0 0 0 2. AKF A.niger 0 0 10 20 0 0 3. AKF Ragi Tape 0 0 0 0 10 20 4. T. Jagung 35 25 35 25 35 25 5. Dedak Padi 20 20 20 20 20 20 6. B. Kedelai 16 16 16 16 16 16 7. T. Ikan 7 7 7 7 7 7 8. Top Mix 2 2 2 2 2 2 9. Molases 10 10 10 10 10 10 TOTAL 100 100 100 100 100 100 Kandungan Nutrisi 1. EM (kkal/kg) 2695,4 2828 2521,1 2479,4 2680,6 2798,4 2. PK (%) 16,31 15,66 16.66 16,36 16,55 16,15 3. SK (%) 6,999 9,43 6,742 8,916 6,785 9,002 4. LK (%) 6,999 10,62 4,594 5,811 4,821 6,265 5. Ca (%) 1,0037 1,0027 1,0037 1,0027 1,0037 1,0027 6. P (%) 0,757 0.747 0,757 0.747 0,757 0.747 6. Pemeliharaan Kelinci Pakan dan air minum diberikan secara ad libitum, penggantian air minum dilakukan pada pagi dan sore hari. Obat-obatan dan vitamin diberikan sesuai dengan kebutuhan kelinci seperti Wormectin untuk obat cacing dan scabies dengan dosis 0,02 ml/kg bobot kelinci, pemberiannya dengan cara menyuntikkan di bagian subkutan, anti bloat untuk obat mencret dan kembung dengan dosis 1 sendok teh untuk 1-3 ekor kelinci, pemberiannya melalui mulut. Pelet diberikan pukul 08.00 WIB dan pukul 16.00 WIB dan hijauan diberikan 1 jam setelah pemberian pelet. 7. Pengambilan Data 1. Bobot potong diperoleh dengan cara penimbangan bobot akhir kelinci setelah dipuasakan selama 6-10 jam sebelum disembelih.

2. Bobot karkas adalah bobot yang diperoleh dari hasil penimbangan dari daging bersama tulang kelinci yang telah dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal leher dan dari kaki sampai batas pergelangan kaki, isi rongga perut, darah, ekor dan kulit. 3. Persentase bobot karkas diperoleh dengan cara membagikan bobot karkas dengan bobot potong dikali 100%. 4. Persentase lemak abdomen diperoleh dari bobot lemak abdomen dibandingkan dengan bobot potong dikali 100%. Analisis Data Data yang diperoleh selama penelitian dari setiap perlakuan dianalisis dengan perbandingan linear ortogonal kontras sehingga diperoleh informasi perlakuan terbaik. Dari 6 perlakuan dapat disusun 5 perbandingan linear ortogonal kontras sebagai berikut : Tabel 7. Perbandingan linear ortogonal kontras antar perlakuan penelitian Perlakuan Keterangan P 0A P 0B vs P 1 P 2 P 3 P 4 Ransum dengan ampas kelapa non fermentasi dibandingkan dengan ransum dengan ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape P 0A vs P 0B Ransum dengan 10% ampas kelapa tanpa fermentasi dibandingkan dengan 20% ampas kelapa tanpa fermentasi P 1 P 2 vs P 3 P 4 Ransum dengan ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dibandingkan dengan ampas kelapa fermentasi ragi tape P 1 vs P 2 Ransum dengan 10% ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dibandingkan dengan 20% ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger P 3 vs P 4 Ransum dengan 10% ampas kelapa fermentasi Saccharomyces cerevisiae dibandingkan dengan 20% ampas kelapa fermentasi ragi tape

Pembanding linear ortognal kontras menggunakan persyaratan sebagai berikut : 1. Jumlah koefisien pembanding sama dengan nol (Ʃki=0) 2. Jumlah perkalian koefisien dua pembanding sama dengan nol (Ʃki ki=0) 3. Jumlah kuadrat Qi = Jumlah perkalian koefisien pembanding sama dengan total tiap perlakuan R = Ulangan Ʃki= Kuadrat koefisien pembanding Tabel 8. Sidik ragam SK Db JK KT Fhit F 5% F 1% Perlakuan t-1 JKP JKP/db KTP/KTG P 0A P 0B vs P 1 P 2 P 3 P 4 1 JK1 JK1 JK1/KTG P 0A vs P 0B 1 JK4 JK4 JK4/KTG P 1 P 2 vs P 3 P 4 1 JK5 JK5 JK5/KTG P 1 vs P 2 1 JK6 JK6 JK6/KTG P 3 vs P 4 1 JK7 JK7 JK7/KTG Galat Rt-t JKG KTG Kaidah Keputusan - Bila F hit < F 0,05 : perlakuan tidak berbeda nyata (terima H0/tolak H1) - Bila F hit F 0,05 : perlakuan berbeda nyata (tolak H0/terima H1) - Bila F hit F 0,01 : perlakuan berbeda sangat nyata (tolak H0/terima H1)

HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot Potong Bobot potong diperoleh dari hasil penimbangan bobot akhir kelinci setelah dipuasakan selama 7 jam. Data rataan bobot potong kelinci Rex jantan hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 9 berikut : Tabel 9. Rataan bobot potong kelinci Rex jantan (g/ekor) Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 Total Rataan P 0A 1.725 1.843 2.075 2.032 7.675 1.918,75 P 0B 2.108 1.942 2.231 1.994 8.275 2.068,75 P 1 1.886 1.916 1.943 1.955 7.700 1.925,00 P 2 1.660 1.662 1.626 1.758 6.706 1.676,50 P 3 2.060 2.033 2.070 2.256 8.419 2.104,75 P 4 1.819 1.795 1.972 1.973 7.559 1.889,75 Total 11.258 11.191 11.917 11.968 46.334 11.583.50 Rataan 1.876,33 1.865,17 1.986,17 1.994,67 7.722,33 1.930,58 Dari Tabel 9 di atas dapat dilihat data rataan bobot potong tertinggi adalah 2.104,75g (P 3 ), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan P 0B (2.068,75 g), perlakuan P 0A (1.918,75 g), perlakuan P 1 (1.925,00 g), perlakuan P 4 (1889,75 g) dan rataan terendah yaitu perlakuan P 2 (1676,50 g). Tabel 9 di atas juga menunjukkan rataan umum bobot potong adalah sebesar 1.930,58 g. Angka tersebut hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2009) yaitu 1943,33 g. Hal ini disebabkan karena bobot potong yang digunakan pada penelitian ini menggunakan kisaran bobot potong yang sama. Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa penggunaan ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape berpengaruh berbeda sangat nyata terhadap bobot potong kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan pertambahan bobot badan yang terus meningkat karena tingkat konsumsi yang tinggi dan

ransum yang palatabel. Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakan (Kartadisastra, 1997). Ransum dengan ampas kelapa yang difermentasi dengan ragi tape lebih disukai kelinci karena aromanya yang lebih wangi dibandingkan dengan ampas kelapa yang difermentasi dengan Aspergillus niger. Pada penelitian yang dilakukan oleh Lase (2016), konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape 10% dan terendah pada perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger 20%. Tabel 10. Pembandingan ortogonal kontras terhadap bobot potong SK db JK KT F Hit F Tabel 0,05 0,01 Perlakuan 5 463.283,83 92.656,77 8,28** 2,77 4,25 P 0A P 0B vs P 1 P 2 P 3 P 4 1 47.880,33 47.880,33 6,25* 4,41 8,28 P 0A vs P 0B 1 45.000,00 45.000,00 5,87* 4,41 8,28 P 1 P 2 vs P 3 P 4 1 154.449,00 154.449,00 20,16** 4,41 8,28 P 1 vs P 2 1 123.504,50 123.504,50 16,12** 4,41 8,28 P 3 vs P 4 1 92.450,00 92.450,00 12,07** 4,41 8,28 Galat 18 201.450,00 11.191,67 Total 23 664.733,83 Ket : tn = tidak nyata, * = nyata, ** = sangat nyata Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang menggunakan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi terhadap bobot potong kelinci. Diantara perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi, tepung ampas kelapa yang difermentasi ragi tape menunjukkan pengaruh yang lebih baik terhadap bobot potong kelinci dibandingkan dengan fermentasi Aspergillus niger. Hal tersebut bisa dilihat dari data rataan bobot potong pada perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang menggunakan tepung ampas

kelapa fermentasi Aspergillus niger, terutama pada perlakuan P 3 yaitu ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape. Jadi perlakuan P 3 lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Pada perlakuan yang menggunakan ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape memiliki tingkat konsumsi tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya sehingga konsumsi protein juga lebih banyak dan dapat meningkatkan bobot potong. Scott et al. (1982), menyatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara pertumbuhan dengan konsumsi pakan. Konsumsi pakan yang semakin tinggi akan mengakibatkan kenaikan konsumsi protein sehingga pertumbuhan ternak semakin baik dan akan meningkatkan bobot potong yang dihasilkan. Tepung ampas kelapa yang difermentasi memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan tepung ampas kelapa yang tidak difermentasi. Protein memiliki peranan penting dalam proses metabolisme tubuh yang akan meningkatkan bobot potong. Selama proses fermentasi berlangsung akan meningkatkan kadar protein yang disebabkan karena adanya aktivitas mikroorganisme yang memecah karbohidrat pada substrat. Hidayati et al. (2013), menyatakan bahwa kadar protein meningkat selama proses fermentasi disebabkan adanya aktivitas mikroorganisme optimal melakukan pemecahan karbohidrat. Tillman et al. (1991), menyatakan bahwa ransum yang dikonsumsi oleh ternak diasimilasikan untuk perbaikan dan sintesa jaringan baru atau produksi daging. Bobot potong yang tinggi pada perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi disebabkan karena adanya indikasi kegemukan pada ternak tersebut yang dikarenakan kandungan lemak pada tepung

ampas kelapa yang tidak difermentasi tinggi yang dapat menyebabkan pembentukan lemak pada tubuh ternak meningkat. Subekti (2007), menyatakan bahwa pada peningkatan bobot berat terdapat indikasi kegemukan, persentase lemak, lemak ginjal dan lemak pelvis meningkat. Bobot Karkas Bobot karkas adalah bobot dari hasil penimbangan bagian tubuh yang sudah disembelih dipisahkan kepala, jari sampai pergelangan kaki, kulit, ekor, jeroan (usus, jantung, hati dan ginjal) (Kartadisastra, 1998). Data rataan bobot karkas kelinci Rex jantan hasil penelitian ditunjukkan pada Tabel 11 berikut : Tabel 11. Rataan bobot karkas kelinci Rex jantan (g/ekor) Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 Total Rataan P0A 832 915 1.017 967 3.731 932,75 P0B 1.073 958 1.143 1.027 4.201 1050,25 P1 895 898 938 921 3.652 913,00 P2 742 719 649 793 2.903 725,75 P3 1.052 1.049 1.044 1.207 4.352 1.088,00 P4 871 841 948 941 3.601 900,25 Total 5.465 5.380 5.739 5.856 22.440 5.610,00 Rataan 910,83 896,67 956,50 976,00 3.740,00 935,00 Dari Tabel 11 di atas dapat dilihat data rataan bobot karkas tertinggi adalah 1.088,00 g (P 3 ), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan P 0b (1.025,75 g), perlakuan P 4 (961,25 g), perlakuan P 0A (932,75 g), perlakuan P 1 (913,00 g) dan rataan terendah yaitu perlakuan P 2 (725,75 g). Tabel 11 di atas juga menunjukkan rataan umum bobot karkas adalah sebesar 941,42 g. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Setiawan (2009), yaitu sebesar 1.000,16 g. Hal ini dipengaruhi oleh genetik, asupan nutrisi dan lingkungan. Asupan nutrisi akan mempengaruhi pertambahan bobot badan yang

dilanjutkan berpengaruh ke bobot potong. Selain itu lingkungan juga sangat mempengaruhi bobot potong. Jika lingkungan mendukung bagi keamanan dan kenyamanan ternak maka bobot hidup ternak akan meningkat secara optimal, sebaliknya jika keadaan lingkungan kurang mendukung bagi ternak, maka pertumbuhan ternak akan kurang optimal sebab kelinci merupakan salah satu ternak yang sangat mudah mengalami stress. Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa pemberian ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap bobot karkas kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan karena bobot potong yang tinggi pada kelinci sehingga bobot karkas yang dihasilkan juga tinggi. Muryanto dan Prawirodigdo (1993), menyatakan bahwa bobot potong yang tinggi akan menghasilkan bobot karkas yang tinggi pula. Semakin tinggi bobot potong maka semakin tinggi persentase bobot karkasnya. Hal ini disebabkan proporsi bagian-bagian tubuh yang menghasilkan daging akan bertambah selaras dengan ukuran bobot tubuh. Tabel 12. Pembandingan ortogonal kontras terhadap bobot karkas SK db JK KT F Hit F Tabel 0,05 0,01 Perlakuan 5 32.8695,00 65.739,00 15,56** 2,77 4,25 P 0A P 0B vs P 1 P 2 P 3 P 4 1 38.307,00 38.307,00 11,29** 4,41 8,28 P 0A vs P 0B 1 27.612,50 27.612,50 8,14* 4,41 8,28 P 1 P 2 vs P 3 P 4 1 122.150,25 122.150,25 35,99** 4,41 8,28 P 1 vs P 2 1 70.125,1250 70.125,1250 20,66** 4,41 8,28 P 3 vs P 4 1 70.500,1250 70.500,1250 20,77** 4,41 8,28 Galat 18 76.089,00 4.227,17 Total 23 404.784,00 Ket : tn = tidak nyata, * = nyata, ** = sangat nyata Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas

kelapa yang tidak difermentasi. Dan diantara kedua ransum yang menggunakan tepung ampas kelapa fermentasi, ransum yang menggunakan tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape yang terbaik karena bobot karkas yang dihasilkan lebih tinggi daripada perlakuan yang menggunakan tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger. Perbedaan bobot karkas pada setiap perlakuan disebabkan oleh kandungan zat makanan yang terdapat dalam ransum yang berbeda, seperti lemak dan protein. Tepung ampas kelapa fermentasi memiliki kandungan protein tinggi dan lemak rendah dibandingkan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi. Hal ini dikarenakan pada saat fermentasi, terjadi peningkatan kadar protein dan penurunan kadar lemak. Howard et al. (2003), menyatakan bahwa selama proses fermentasi mikroba akan mengeluarkan enzim dimana enzim tersebut adalah protein dan mikroba itu sendiri juga merupakan sumber protein sel tunggal. Selain itu, pada proses fermentasi akan menghasilkan enzim lipase yang berperan memecah lemak. Enzim lipase merupakan enzim yang dapat menghidrolisis rantai panjang trigliserida (Dali et al., 2009). Peningkatan jumlah enzim dan populasi mikroba akan meningkatkan kadar protein kasar dan menurunkan kadar lemak ampas kelapa. Protein akan dimanfaatkan ternak dalam proses metabolisme tubuh untuk meningkatkan proporsi daging. Lemak juga mempengaruhi bobot karkas, apabila kandungan lemak meningkat maka bobot karkas yang dihasilkan juga akan meningkat. Seebeck dan Tulloh (1968), menyatakan bahwa distribusi lemak sangat mempengaruhi proporsi jaringan otot karkas sebab proporsi daging dan tulang akan berkurang sedangkan komponen lemak bertambah dengan meningkatnya bobot karkas.

Persentase Karkas Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dan bobot hidup dikali 100% (Soeparno, 1994). Data rataan persentase karkas dapat dilihat pada Tabel 13 di bawah ini : Tabel 13. Rataan persentase karkas kelinci Rex jantan (%) Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 Total Rataan P 0A 48,23 49,65 49,01 47,59 194,48 48,62 P 0B 50,90 49,33 51,23 51,50 202,96 50,74 P 1 47,45 46,87 48,28 47,11 189,71 47,43 P 2 44,70 43,26 39,91 45,11 172,98 43,25 P 3 51,07 51,60 50,43 53,50 206,60 51,65 P 4 47,88 46,85 48,07 47,69 190,49 47,62 Total 290,23 287,56 286,93 292,50 1.157,22 289,31 Rataan 48,37 47,93 47,82 48,75 192,87 48,22 Dari Tabel 13 di atas dapat dilihat data rataan persentase karkas tertinggi adalah 51,65% (P 3 ), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan P 0B (50,42%), perlakuan P 4 (48,95%), perlakuan P 0A (48,62%), perlakuan P 1 (47,43%) dan rataan terendah yaitu perlakuan P 2 (43,25%). Gambar 10 di atas juga menunjukkan rataan umum persentase karkas adalah sebesar 48,39%. Angka ini sesuai dengan pernyataan Farel dan Raharjo (1984), yang menyatakan bahwa kelinci jantan dapat menghasilkan karkas sebanyak 43-52% dan betina 50-59% dari berat hidupnya. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa pemberian ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase karkas kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan karena bobot karkas yang tinggi akan menghasilkan persentase karkas yang tinggi pula. Hal ini didukung oleh pendapat Soeparno (1994), yang menyatakan bahwa persentase karkas dipengaruhi oleh bertambahnya umur serta bobot hidup dan

akan diikuti dengan peningkatan bobot karkas yang dihasilkan, selain itu persentase karkas juga dipengaruhi oleh umur potong dan jenis kelamin. Tabel 14. Pembandingan ortogonal kontras terhadap persentase karkas SK db JK KT F Hit F Tabel 0,05 0,01 Perlakuan 5 176,0438 35,20876 21,68** 2,77 4,25 P 0A P 0B vs P 1 P 2 P 3 P 4 1 25,66688 25,66688 14,84** 4,41 8,28 P 0A vs P 0B 1 8,98880 8,98880 5,20* 4,41 8,28 P 1 P 2 vs P 3 P 4 1 73,96000 73,96000 42,77** 4,41 8,28 P 1 vs P 2 1 34,98661 34,98661 20,23** 4,41 8,28 P 3 vs P 4 1 32,44151 32,44151 18,76** 4,41 8,28 Galat 18 29,23165 1,623981 Total 23 205,2755 Ket : tn = tidak nyata, * = nyata, ** = sangat nyata Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang menggunakan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik terhadap persentase karkas dibandingkan dengan perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi. Dilihat dari data rataan persentase karkas, persentase karkas yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger. Perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi terbaik terdapat pada level pemberian 10% terhadap persentase karkas. Hal ini disebabkan karena kandungan nutrisi pada ransum dengan level 10% lebih baik dibandingkan 20%, selain itu persentase karkas pada perlakuan 10% juga lebih tinggi dibandingkan 20%. Selain dipengaruhi oleh kandungan nutrisi pada ransum, persentase karkas juga dipengaruhi oleh bobot potong dan bobot karkas. Soeparo (1994), menyatakan bahwa persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dan bobot hidup yang mempunyai faktor penting dalam produksi

ternak potong sebenarnya, karena dalam bobot hidup masih terdapat saluran pencernaan dan organ dalam yang beratnya untuk masing-masing ternak berbeda. Lemak Abdominal Persentase lemak abdomen diperoleh dengan membandingkan bobot lemak abdomen dengan bobot hidup dikalikan 100 (Witantra, 2011). Data rataan persentase lemak abdominal dapat dilihat pada Tabel 15. berikut : Tabel 15. Rataan persentase lemak abdominal kelinci Rex jantan (%) Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 Total Rataan P0A 1,39 1,47 1,40 1,38 5,64 1,41 P0B 2,47 2,47 2,47 2,51 9,92 2,48 P1 1,06 0,99 1,08 1,13 4,26 1,06 P2 1,02 0,90 0,98 1,02 3,92 0,98 P3 1,02 0,98 1,01 1,15 4,16 1,04 P4 1,21 1,11 0,91 1,06 4,29 1,07 Total 8,17 7,92 7,85 8,25 32,19 8,05 Rataan 1,36 1,32 1,31 1,38 5,37 1,34 Dari Gambar 11 di atas dapat dilihat data rataan persentase lemak abdominal tertinggi adalah 2,52% (P 0B ), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan P 0A (1,41%), perlakuan P 4 (1,10%), perlakuan P 3 (1,07%), perlakuan P 1 (1,05%) dan rataan terendah yaitu perlakuan P 2 (0,98%). Tabel di atas juga menunjukkan rataan umum persentase lemak abdominal adalah sebesar 1,35%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pernyataan Brahmantiyo dan Raharjo (2009), yang menyatakan bahwa persentase lemak abdominal pada kelinci Rex jantan yaitu 3,13% dengan bobot potong 2.711,44 g. Hal ini dipengaruhi oleh bobot potong kelinci tersebut. Pada penelitian ini rataan bobot potong yang digunakan yaitu 1.930,58 g.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa pemberian ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase lemak abdominal kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan karena kandungan lemak yang tinggi pada ransum yang mengakibatkan kelebihan energi sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara optimal oleh tubuh. Hal ini didukung dengan pernyataan Noviana et al. (2015), yang menyatakan bahwa lemak abdominal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kelebihan lemak akan menyebabkan kelebihan energi di dalam tubuh yang tidak bisa dimanfaatkan dengan sempurna. Kelebihan lemak ini bisa disebabkan beberapa faktor diantaranya pemberian pakan yang mengandung energi yang berlebih dan aktivitas/gerak yang sedikit. Tabel 16. Pembandingan ortogonal kontras terhadap lemak abdominal SK db JK KT F Hit F Tabel 0,05 0,01 Perlakuan 5 6,685088 1,337018 268,07** 2,77 4,25 P 0A P 0B vs P 1 P 2 P 3 P 4 1 4,37416875 4,37416875 921,15** 4,41 8,28 P 0A vs P 0B 1 2,28980000 2,28980000 482,20** 4,41 8,28 P 1 P 2 vs P 3 P 4 1 0,00455625 0,00455625 0,96 tn 4,41 8,28 P 1 vs P 2 1 0,01445000 0,01445000 3,04 tn 4,41 8,28 P 3 vs P 4 1 0,00211250 0,00211250 0,44 tn 4,41 8,28 Galat 18 0,089775 0,004988 Total 23 6,774863 Ket : tn = tidak nyata, * = nyata, ** = sangat nyata Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik dibandingkan dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi. Hal ini disebabkan karena pada tepung ampas kelapa tanpa fermentasi masih memiliki kandungan lemak yang cukup tinggi karena belum mengalami pemecahan susunan lemak. Sedangkan pada tepung ampas kelapa yang difermentasi dengan Aspergillus niger dan ragi tape sudah mengalami pemecahan struktur lemak oleh enzim lipase pada

saat proses fermentasi terjadi sehingga kandungan lemaknya menurun. Dali et al. (2009), menyatakan bahwa lipase merupakan kelompok enzim yang secara umum berfungsi dalam hidrolosis lemak, mono-, di-, dan trigliserida untuk menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol. Hal inilah yang menyebabkan kandungan lemak abdominal pada perlakuan yang menggunakan tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape lebih rendah dibandingkan perlakuan dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi. Selain kandungan lemak dalam ransum, kandungan energi dalam ransum juga akan mempengaruhi terjadinya pembentukan lemak abdominal. Pada ransum yang menggunakan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi memiliki kandungan energi tertinggi, sehingga menyebabkan persentase lemak abdominal pada perlakuan ini menjadi lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Setiawan dan Sujana (2009), menyatakan bahwa pembentukan lemak abdominal terjadi karena adanya kelebihan energi yang dikonsumsi. Energi yang digunakan tubuh umumnya berasal dari karbohidrat dalam tubuh mampu memproduksi lemak tubuh yang tersimpan di sekeliling organ dalam dan di bawah kulit. Dilanjutkan dengan pernyataan Brahmantiyo dan Raharjo (2009), perlemakan subkutan dan abdomen kelinci akan tinggi dengan bobot potong yang tinggi. Rekapitulasi Hasil Penelitian Dari hasil penelitian yang diperoleh selama penelitian terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas dan persentase lemak abdominal kelinci Rex maka dilakukan rekapitulasi hasil penelitian dan dapat dilihat pada Gambar 8 berikut :

2500,00 2000,00 1918,75 2068.75 1925,00 1676,50 2104,75 1889,75 1500,00 1000,00 932,75 1050,25 913,00 725,75 1088,00 900,25 500,00 0,00 48,62 50,74 47,43 43,25 51,65 47,62 1,41 2,48 1,06 0,98 1,04 1,07 P0A P0B P1 P2 P3 P4 Bobot Potong Bobot Karkas Persentase Karkas Lemak Abdominal P 0A : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi; P 0B : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi; P 1 : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger; P 2 : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger; P 3 : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape; P 4 : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape. Gambar 8. Histogram rekapitulasi hasil penelitian Pada Gambar 8 di atas menunjukkan perlakuan P 3 terbaik pada bobot potong, bobot karkas, persentase karkas dan lemak abdominal. Data terendah untuk masing-masing peubah penelitian terdapat pada perlakuan P 2.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penggunaan tepung ampas kelapa yang difermentasi dengan ragi tape dapat meningkatkan bobot potong, bobot karkas dan persentase karkas serta dapat menurunkan persentase lemak abdominal pada level pemakaian 10% pada kelinci Rex jantan. Saran Tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape dapat digunakan sampai level 20% pada ransum.