2.1 Dasar Teori E-Learning

dokumen-dokumen yang mirip
PENGELOLAAN METODE PEMBELAJARAN. R. Nety Rustikayanti

PEMANFAATAN E-LEARNING SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DI UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. yang di lakukan oleh Agus Settiyono (2016) dalam penelitiannya menggunakan 7

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

Pemanfaatan E-Learning sebagai Media Pembelajaran

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN PENILAIAN PRESTASI KARYAWAN TERBAIK. Surmayanti, S.Kom, M.Kom

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI UNTUK SISWA YANG MELANJUTKAN KULIAH PADA SMA N 1 TEGAL

PROSES PEMBELAJARAN MELALUI MEDIA ELEKTRONIK (e-learning)

PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN MAKANAN PADA BAYI LIMA TAHUN (BALITA) DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN KREDIT SEPEDA MOTOR UNTUK KONSUMEN PT.FIF CABANG MEDAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHI PROCESS (AHP)

ANALISA PEMILIHAN APLIKASI BERITA BERBASIS MOBILE MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM

ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS)

PEMBANGUNAN E-LEARNING SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN ONLINE DI SMP NEGERI 8 BANDUNG

BAB 1 PENDAHULUAN. satu arah di kelas. Pandangan baru seperti active learning dan student-centered

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENEMPATAN POSISI IDEAL PEMAIN DALAM STRATEGI FORMASI SEPAK BOLA

E-LEARNING MANAGEMEN SYSTEM (LMS)

Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Ketua Osis Dengan Metode AHP SMK PGRI 23 Jakarta

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI KOMPUTER SWASTA

ANALISIS DAN USULAN SOLUSI SISTEM UNTUK MENDUKUNG KEPUTUSAN PENILAIAN KINERJA DOSEN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Adiharsa Winahyu Fakultas Teknologi Informasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta

METODE PENELITIAN. San Diego Hills. Visi dan Misi. Identifikasi gambaran umum perusahaan dan pasar sasaran

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Berbagai konsep dan teknik baru dalam pembelajaran telah banyak dikembangkan

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP

IMPLEMENTASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM PENENTUAN PRIORITAS KONSUMEN PENERIMA KREDIT. Sahat Sonang S, M.Kom (Politeknik Bisnis Indonesia)

IMPLEMENTASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN ( RASKIN ) MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Ilyas

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SISWA DALAM MENGIKUTI LOMBA LKS DI SMK NEGERI 3 SEMARANG DENGAN METODE ANALITHICAL HIERARCHI PROCESS

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICHAL HIERARCHY PROCESS

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PONDOK PESANTREN DI PURWOKERTO (STUDI KASUS : MAHASISWA STAIN PURWOKERTO)

PENGOLAHAN DATA PENGANGKATAN KARYAWAN TETAP DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli

JURNAL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMBERIAN KREDIT PADA KSP MITRA RAKYAT BERSAMA NGANJUK DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

BAB 2 LANDASAN TEORI

PEMILIHAN RANGE PLAFOND PEMBIAYAAN TERBAIK BMT DENGAN METODE AHP. Dwi Yuniarto, S.Sos., M.Kom. Program Studi Teknik Informatika STMIK Sumedang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI

BAB II LANDASAN TEORI

PEMANFAATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) SEBAGAI MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN KARYAWAN BERPRESTASI

Sistem Pendukung Keputusan Memilih Perguruan Tinggi Swasta di Palembang Sebagai Pilihan Tempat Kuliah

The next big killer application for the Internet is going to be education John Chambers, CEO of Cisco Systems

BAB III METODE PENELITIAN

APLIKASI AHP UNTUK PENILAIAN KINERJA DOSEN

Rici Efrianda ( )

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI Sistem Pendukung Keputusan Pengertian Keputusan. Universitas Sumatera Utara

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN KADER KESEHATAN DI KECAMATAN PEUDAWA KABUPATEN ACEH TIMUR

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

METODE FUZZY AHP DAN AHP DALAM PENERAPAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN LOKASI PEMBANGUNAN SARANG WALET MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN HANDPHONE MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) PADA COUNTER NASA CELL SKRIPSI

Okta Veza Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknik Ibnu Sina 1

EFEKTIFITAS PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PEMILIHAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAH CITRA DENGAN MENGGUNAKAN EXPERT CHOICE

ABSTRAK. Kata kunci : SPK, metode AHP, penentuan lokasi.

Kuliah 11. Metode Analytical Hierarchy Process. Dielaborasi dari materi kuliah Sofian Effendi. Sofian Effendi dan Marlan Hutahaean 30/05/2016

BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN PENJUALAN MOBIL MENGGUNAKAN METODE AHP BERBASIS WEB

PENERAPAN METODE ANALITICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM MEMILIH SUPPLIER Rudin Himu 1, Arip Mulyanto 2, Dian Novian 3 S1 Sistem Informasi /

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK MENENTUKAN MODEL PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN BERBASIS INTERNET

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

BAB I BAB 1 PENDAHULUAN

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BIOLOGI

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN. evaluasi terhadap Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan STMIK Terbaik Di

BAB II DASAR TEORI. mengenai penanganan masalah pada sebuah perguruan tinggi dapat dilihat pada. Tabel 2.1 Tinjauan Pustaka. Pembuatan Aplikasi Sistem

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENEMPATAN BIDAN DI DESA MENGGUNAKAN METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODE PENELITIAN

SPK Evaluasi Peserta LBD (Local Business Development) Dengan Metode AHP (Studi Kasus Chevron Indonesia Company)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Penelitian Terdahulu dan Penelitian Sekarang

APLIKASI ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PEMILIHAN SOFTWARE MANAJEMEN PROYEK

PENERAPAN AHP SEBAGAI MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN RUMAH BERSALIN CONTOH KASUS KOTA PANGKALPINANG

PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMILIHAN TYPE SEPEDA MOTOR YAMAHA

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENJURUSAN SMA MENGGUNAKAN METODE AHP

Jurnal SCRIPT Vol. 3 No. 1 Desember 2015

METODE PENELITIAN. Kata Kunci analytical hierarchy process, analytic network process, multi criteria decision making, zero one goal programming.

BAB 2 LANDASAN TEORI

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

Sesi XIII AHP (Analytical Hierarchy Process)

SISTEM INFORMASI PEMILIHAN JURUSAN di SMA N 1 JEKULO KUDUS MENGGUNAKAN METODE AHP NASKAH PUBLIKASI. diajukan oleh Wayan Triana

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN. 3.1 Penerapan AHP dalam Menentukan Prioritas Pengembangan Obyek Wisata Di Kabupaten Toba Samosir

Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Pendidikan Indonesia

INTRO Metode AHP dikembangkan oleh Saaty dan dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek dimana data dan informasi statistik dari masal

ISSN VOL 15, NO 2, OKTOBER 2014

Majalah Ilmiah UPI YPTK, Volume 21, No.21, Oktober 2014 ISSN :

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN BONUS KARYAWAN MENGGUNAKAN METODE AHP SKRIPSI

Transkripsi:

2.1 Dasar Teori 2.1.1 E-Learning Istilah e-learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e-learning dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley (Hartley, 2001) yang menyatakan: e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain. LearnFrame.Com dalam Glossary of e-learning Terms (Glossary, 2001) menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa: e-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone. Sedangkan Matthew Comerchero dalam e-learning Concepts and Techniques (Bloomsburg, 2006) mendefinisikan: e-learning adalah sarana pendidikan yang mencakup motivasi diri sendiri, komunikasi, efisiensi, dan teknologi. E-learning sangat efisien karena mengeliminasi jarak dan arus pulang-pergi. Jarak dieliminasi karena isi dari e-learning didesain dengan media yang dapat diakses dari komputer yang dapat mengakses jaringan atau internet. Selain itu, menurut Bates (1995) dan Wulf (1996) manfaat e-learning terdiri atas 4 hal sebagai berikut : 1. Meningkatkan interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity). 2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility). 3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). 4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). 5

Penerapan e-learning di perguruan tinggi diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain : 1. Adanya peningkatan interaksi mahasiswa dengan sesamanya dan dengan dosen. 2. Tersedianya sumber-sumber pembelajaran yang tidak terbatas. 3. Efektif dalam meningkatkan kualitas lulusan dan kualitas perguruan tinggi. 4. Terbentuknya komunitas pembelajar yang saling berinteraksi, saling memberi dan menerima serta tidak terbatas dalam satu lokasi. 5. Meningkatkan kualitas dosen karena dimungkinkan menggali informasi secara lebih luas dan bahkan tidak terbatas. 2.1.2 Komponen E-Learning Komponen E-Learning menurut Romi satrio wahono (2008) adalah sebagai berikut : 1. Infrastruktur E-Learning. Infrastruktur e-learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya peralatan teleconference yaitu layanan synchronous learning melalui teleconference. 2. Sistem dan Aplikasi e-learning. Merupakan sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS). LMS banyak yang opensource sehingga dapat dimanfaatkan dengan mudah dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas. 6

3. Konten E-Learning. Konten dan bahan ajar yang ada pada e-learning system (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan dimanapun. Depdiknas cukup aktif bergerak dengan membuat banyak kompetisi pembuatan multimedia pembelajaran. Pustekkom juga mengembangkan e-dukasi.net yang mem-free-kan multimedia pembelajaran untuk SMP, SMA dan SMK. Ini langkah menarik untuk mempersiapkan perkembangan e-learning dari sisi konten. 2.1.3 Critical Success Factor (CSF) Menurut Boylond dan Zmud (1984) Critical success factors (CSF) merupakan hal-hal yang harus dikerjakan dengan baik oleh seorang manajer untuk memastikan kesuksesan suatu organisasi. Oleh karena itu, CSF dapat mewakili orang-orang daerah manajerial maupun seluruh elemen organisasi yang harus diberikan perhatian khusus dan terus-menerus guna mewujudkan kesuksesan sebuah organisasi. CSF termasuk hal yang sangat penting bagi kegiatan sebuah organisasi yang sedang dilakukan maupun bagi kesuksesan organisasi di masa yang akan datang. Menurut Daniel Austin (Daniel, 2002) CSF adalah metode untuk mengidentifikasi faktor kritis yang berpengaruh dan diperlukan oleh sebuah organisasi agar sukses dalam mencapai tujuannya. CSF dapat ditentukan jika objektif atau arah dan tujuan organisasi telah diidentifikasi. Tujuan dari CSF adalah menginterpretasikan objektif secara lebih jelas untuk menentukan aktivitas yang harus dilakukan dan informasi apa yang dibutuhkan. Dari definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa CSF merupakan hal-hal penting yang dibutuhkan bagi organisasi untuk mencapai tujuannya. Organisasi yang dimaksud dapat diterapkan 7

dalam organisasi perusahaan, maupun organisasi sistem informasi yang dalam hal ini adalah e-learning. 2.1.4 Analytic Hierarchy Process (AHP) Pada hakekatnya AHP merupakan suatu model pengambil keputusan yang komprehensif dengan memperhitungkan hal- hal yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Model pengambilan keputusan dengan AHP pada dasarnya berusaha menutupi semua kekurangan dari model-model sebelumnya. AHP juga memungkinkan ke struktur suatu sistem dan lingkungan kedalam komponen saling berinteraksi dan kemudian menyatukan mereka dengan mengukur dan mengatur dampak dari komponen kesalahan sistem (Saaty,2001) 2.1.4.1 Prosedur Analytical Hierarchy Process Secara umum langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menggunakan AHP untuk pemecahan suatu masalah sebagai berikut (Saaty, 2001): 1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun hierarki dari permasalahan yang dihadapi. 2. Menentukan prioritas elemen a. Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang diberikan. b. Matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk merepresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang lainnya. 8

Proses perbandingan berpasangan, dimulai dari level hirarki paling atas yang ditujukan untuk memilih kriteria, misalnya A, kemudian diambil elemen yang akan dibandingkan, misal A1, A2, dan A3. Maka susunan elemen-elemen yang dibandingkan tersebut akan tampak seperti pada Tabel 2.1 : Tabel 2.1 Contoh matriks perbandingan berpasangan A1 A2 A3 A1 1 A2 1 A3 1 Penilaian ini dilakukan oleh seorang pembuat keputusan yang ahli dalam bidang persoalan yang sedang dianalisa dan mempunyai kepentingan terhadapnya. Apabila suatu elemen dibandingkan dengan dirinya sendiri maka diberi nilai 1. Jika elemen i dibandingkan dengan elemen j mendapatkan nilai tertentu, maka elemen j dibandingkan dengan elemen i merupakan kebalikannya. 3. Sintesis Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah: a. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks b. Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks. c. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata. 9

4. Menentukan eigenvalue maksimum Penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi dalam pembuatan keputusan sehingga keputusan tidak berdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang rendah. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah sebagai berikut: a. Kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif elemen pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatif elemen kedua dan seterusnya. b. Jumlahkan setiap baris c. Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif yang bersangkutan d. Jumlahkan hasil bagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, 5. Melakukan penghitungan Consistency Index (CI) dengan rumus: n) /n (1) Dimana n = banyaknya elemen. 6. Melakukan penghitungan Rasio Konsistensi/Consistency Ratio (CR) dengan rumus: CR= CI/IR (2) Dimana CR = Consistency Ratio CI = Consistency Index IR = Indeks Random Consistency 7. Memeriksa konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgment harus diperbaiki. Namun jika Rasio Konsistensi (CI/IR) kurang atau sama dengan 0,1, maka matrik dapat dikatakan konsisten dan hasil perhitungan bisa dinyatakan benar. Dimana IR : Indeks Random yang nilainya dapat dilihat pada Tabel 2.3 Tabel 2.2 Indeks Random (Saaty, 2000) Ukuran 1,2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Matriks IR 0 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49 1.51 1.48 1.56 1.58 1.59 10

2.2 Penelitian Terkait Berikut beberapa uraian terkait penelitian yang pernah dilakukan : 1. Critical success factors for e-learning in developing countries: A comparative analysis between ICT experts and faculty[2011], oleh Bhuasiri, Wannasiri. Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor keberhasilan kritis yang mempengaruhi penerimaan sistem e-learning di negara berkembang. Studi ini mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan sistem elearning dari literatur dan membandingkan kepentingan relatif antara dua kelompok pemangku kepentingan di negara berkembang, para ahli ICT dan fakultas. Penelitian ini mengumpulkan 76 tanggapan digunakan pada metode Delphi dan AHP. Hasil menunjukkan 6 dimensi dan 20 CSF untuk sistem e- learning di negara berkembang. Temuan dalam penelitian ini menggambarkan pentingnya desain kurikulum untuk kinerja belajar. Kesadaran teknologi, motivasi, dan mengubah perilaku peserta didik merupakan prasyarat untuk sukses implementasi e-learning. 2. Critical success factors for e-learning acceptance: Confirmatory factor models[2007], oleh Hassan M. Selim. Tulisan ini dimaksudkan untuk menentukan critical success factor (CSF) seperti yang dirasakan oleh mahasiswa. Faktor penentu keberhasilan e- learning disurvei dan dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu, instruktur, siswa, teknologi informasi, dan dukungan universitas. Kategorisasi diuji dengan survei dari 538 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan 8 kategori CSF e-learning, masing-masing termasuk beberapa penerimaan e-learning kritis dan ukuran keberhasilan. 11

3. A Study of using Analytic Hierarchy Process to Explore Critical Success Factors of the K12 Digital School[2007], Sheng-Wen Hsieh. Penelitian ini difokuskan pada literature terkait dalam menentukan CSF pada K12 Digital School. Kuisioner survey dibuat berdasarkan CSF yang ditentukan pada study literatur. Berdasarkan study literatur ditentukan 5 hal yang membangun success factors, yaitu : sisi administratif, karakteristik instruktur, karakteristik siswa, desain sistem, dan isi materi. Hasil akhirnya menunjukkan bahwa isi materi adalah yang paling berpengaruh diikuti dengan karakteristik instruktur, karakteristik siswa, desain system dan terakhir adalah sisi administratif. 4. Critical Success Factors In E-Learning An Empirical Study[2012] oleh Dr. Goldi puri Makalah ini menggambarkan pada hasil survei yang dilakukan di antara siswa yang terdaftar di berbagai kursus online. Juga membahas berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan saat mengembangkan atau menerapkan kurikulum universitas melalui program berbasis e-learning. Tulisan ini dimaksudkan untuk memeriksa Critical Success Factors (CSF) pada e-learning seperti yang dirasakan oleh siswa dalam program profesional. Makalah ini dapat menyimpulkan enam CSF yang membantu universitas untuk secara efisien dan efektif mengadopsi teknologi e-learning dalam kegiatan belajar mengajar. Enam CSF tersebut adalah pedagogi, administrasi institusi, teknologi, evaluasi, dukungan sumberdaya dan desain antarmuka. 2.3 Rencana Penelitian Penelitian yang akan dilakukan adalah mengetahui critical succes factors yang paling berpengaruh untuk mensukseskan e-learning UNS. Data dari kuisioner diolah dengan metode AHP. 12