1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan gizi, khususnya anak stunting merupakan salah satu keadaan kekurangan gizi yang menjadi perhatian utama di dunia terutama di negara-negara berkembang, memberikan dampak lambatnya pertumbuhan anak, daya tahan tubuh yang rendah, kurangnya kecerdasan dan produktifitas yang rendah (Kurniasih et al., 2010). Menurut Umeta et al. (2003) prevalensi stunting di dunia sebesar 26,9% dan di negara-negara berkembang di Asia sebesar 31,3%. Prevalensinya di Indonesia lebih tinggi lagi yaitu sebesar 35,6% dan kelompok usia 6-23 bulan merupakan yang tertinggi (Kemenkes RI, 2010). Indikasi dari stunting adalah pertumbuhan yang rendah dan efek kumulatif dari ketidakcukupan asupan energi, zat gizi makro dan zat gizi mikro dalam jangka waktu panjang, atau hasil dari infeksi kronis/infeksi yang terjadi berulang kali (Umeta et al., 2003). Kejadian stunting muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan, perilaku pola asuh yang tidak tepat, dan sering menderita penyakit secara berulang karena higiene maupun sanitasi yang kurang baik (Depkes RI, 2008). Stunting pada anak balita merupakan salah satu indikator status gizi kronis yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan sosial ekonomi secara keseluruhan di masa lampau dan pada 2 tahun awal kehidupan anak dapat memberikan dampak yang sulit diperbaiki (Sudiman, 2008). Menurut Coutsoudis and Bentley (2004) pemberian air susu ibu (ASI) saja pada bayi usia 6 bulan tidak lagi dapat memberikan cukup energi serta zat gizi lain untuk meningkatkan tumbuh kembang anak secara optimal, makanan pelengkap harus ditambahkan ke dalam diet anak, periode penambahan makanan pelengkap ini merupakan masa rentan kehidupan seorang anak. Periode anak usia 6-24 bulan, anak mendapat pajanan paling intensif dengan berbagai mikroorganisme patogen dari lingkungan, kemudian kemungkinan terjadinya
2 ketidakcukupan asupan zat gizi paling besar, dan trauma emosional paling menimbulkan stres akibat hubungan ibu dengan bayi yang kurang dekat dan bila tidak mendapat penanganan yang baik, anak akan mengalami kurang gizi atau stunting. Kejadian stunting pada balita secara langsung dapat disebabkan oleh karena asupan makanan yang tidak seimbang dan penyakit infeksi. Anak yang mendapat makanan cukup tetapi karena sering sakit infeksi seperti diare atau demam dapat menyebabkan anak kurang gizi karena terjadi penurunan utilisasi zat gizi sedangkan kebutuhan meningkat. Begitu pula dengan anak yang makan tidak mencukupi kebutuhan, daya tahan tubuhnya akan lemah dan mudah kena penyakit. Sebaliknya anak yang sakit kurang nafsu makan, sehingga asupan makanannya rendah dan akhirnya kurang gizi (Soekirman, 2000). Salah satu faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak balita adalah riwayat berat badan lahir rendah (BBLR). Menurut Proverawati and Ismawati (2010) bayi dengan BBLR akan tumbuh dan berkembang lebih lambat karena pada bayi dengan BBLR sejak dalam kandungan telah mengalami retardasi pertumbuhan intera uterin dan akan berlanjut sampai usia selanjutnya setelah dilahirkan yaitu mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lambat dari bayi yang dilahirkan normal, dan sering gagal menyusul tingkat pertumbuhan yang seharusnya dia capai pada usianya setelah lahir. Bayi BBLR juga mengalami gangguan saluran pencernaan, karena saluran pencernaan belum berfungsi, seperti kurang dapat menyerap lemak dan mencerna protein sehingga mengakibatkan kurangnya cadangan zat gizi dalam tubuh. Akibatnya pertumbuhan bayi BBLR akan terganggu, bila keadaan ini berlanjut dengan pemberian makanan yang tidak mencukupi, sering mengalami infeksi dan perawatan kesehatan yang tidak baik dapat menyebabkan anak stunting. Hal ini sejalan dengan penelitian Chopra (2003) di Afrika menemukan bahwa berat badan lahir rendah merupakan faktor risiko dari stunting pada anak usia 3-59 bulan yaitu 5,25 kali lebih berisiko dibandingkan dengan yang lahir normal. Begitu pula dengan penelitian Nguyen (2009) di Vietnam menemukan berat badan lahir rendah merupakan faktor risiko stunting pada anak usia 6-36
3 bulan dengan nilai OR=4,36 (95% Cl; 2,08-9,10). Secara tidak langsung kejadian stunting dipengaruhi faktor sosial ekonomi, seperti tingkat pendidikan, pendapatan dan jumlah anggota rumah tangga. Penelitian Reyes et al. (2004) di Mexico menemukan adanya perbedaan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting di perdesaan dan perkotaan, pendapatan keluarga merupakan faktor risiko stunting di pedesaan, sedangkan di perkotaan tidak. Begitu pula dengan penelitian Aryu (2011) di Kota Semarang menemukan status ekonomi kurang pada anak usia 1-2 merupakan faktor risiko kejadian stunting, sedangkan tingkat pendidikan yang rendah dan tinggi badan ibu yang pendek bukan faktor risiko. Berbeda dengan penelitian Rayhan and Hayat Khan (2006) di perdesaan Bangladesh menemukan anak dari ibu yang tidak berpendidikan lebih beirisiko dibandingkan dengan anak dari ibu yang tamat SD dan SMP. Kota Yogyakarta merupakan satu-satunya Kota bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta tahun 2012, ditemukan prevalensi stunting sebesar 15,92% pada anak balita. Prevalensi BBLR dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 cenderung meningkat pula, dimana prevalensi tahun 2007 sebesar 0,98% meningkat menjadi 5,51% tahun 2010 (Dinkes Kota Yogyakarta, 2012). Melihat kondisi ini apakah ada hubungan antara BBLR dengan kejadian stunting di Kota Yogyakarta sebagai salah satu faktor risiko, yang akan berdampak buruk bagi generasi penerus di Kota Yogyakarta karena dengan tingginya prevalensi stunting mengindikasikan tingkat intelegensia dan produktifitas masyarakat yang rendah (Sudiman, 2008). B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah BBLR berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kota Yogyakarta.
4 C. Tujuan Penelitian Untuk menganalisis hubungan antara BBLR dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kota Yogyakarta. D. Manfaat Penelitian 1. Menambah informasi dan pengetahuan bagi peneliti dan lembaga pendidikan tentang hubungan BBLR dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kota Yogyakarta. 2. Memberikan masukan bagi pemerintah daerah khususnya dinas dan instansi terkait dalam mengambil kebijakan penanggulangan stunting pada balita. 3. Sebagai informasi bagi masyarakat tentang hubungan BBLR dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan serta dampaknya terhadap masyarakat Kota Yogyakarta. E. Keaslian Penelitian Hasil-hasil penelitian terkait dengan permasalahan penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu antara lain: 1. Chopra (2003) melaksanakan penelitian dengan judul Risk factors for undernutrition of young in a rural area of South Africa. Penelitian ini menunjukkan bahwa BBLR merupakan faktor risiko utama dari kejadian stunting yaitu; anak yang lahir BBLR 5,2 kali lebih berisiko dibandingkan anak yang lahir normal. Metode penelitian: analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Persamaan dengan penelitian ini adalah variabel independen BBLR, pendidikan ibu, dan variabel dependen stunting. Perbedaan dengan penelitian ini adalah rancangan penelitian dan subjek anak usia 3-59 bulan. 2. Rayhan and Hayat Khan (2006) melaksanakan penelitian dengan judul Factors causing malnutrition among under five children in Bangladesh. Penelitian ini menunjukkan bahwa anak balita yg dilahirkan kecil atau kurang dari rata-2 anak balita yg diukur memiliki risiko 2,1 kali lebih besar dibanding
5 dengan anak yang lahir sesuai rata-rata. Anak dari ibu yang tidak berpendidikan (buta huruf) lebih berisiko masing-masing 11% dan 37% dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan SD dan SMP. Metode penelitian: analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Persamaan dengan penelitian ini adalah variabel independen BBLR, pendidikan ibu, dan variabel dependen stunting. Perbedaan dengan penelitian ini adalah rancangan penelitian dan subjek anak usia < 5 tahun. 3. Nguyen (2009) melaksanakan penelitian dengan judul Nutritional status and determinats of malnutrition in children under three years of age in Nghean, Vietnam. Penelitian ini menunjukkan bahwa BBLR merupakan faktor risiko utama pada stunting OR=4,4 (95% CI; 2,08-9,10). Metode penelitian: analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Persamaan dengan penelitian ini adalah variabel independen BBLR, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anggota rumah tangga dan variabel dependen stunting. Perbedaan dengan penelitian ini adalah rancangan penelitian dan subjek anak usia 6-36 bulan. 4. Bove et al. (2012) melaksanakan penelitian berjudul Stunting, overweight and child development impairment go hand in hand as key problems of early infancy: Uruguayan case. Penelitian ini menunjukkan hubungan erat antara stunting, overweight dan perkembangan anak disintesis dari BBLR (Small of Gestational Age dan Prematur) sebagai faktor risiko stunting (OR=3,2), tinggi badan ibu < 160 cm, Body Mass Indeks (BMI) rendah, pendidikan ibu rendah dan kemiskinan. Persamaan penelitian Bove et al. (2012) dengan penelitian yang akan dilakukan adalah variabel independen BBLR, tinggi badan ibu, pendidikan ibu dan variabel dependen stunting. Perbedaannya terletak pada subjek balita dan rancangan crossectional. 5. Reyes et al. (2004) melakukan penelitian dengan judul The family as determinant of stunting in children living in conditions of extreme poverty: a case-control study in Mexico. Kesimpulan penelitian ini adalah faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di perdesaaan adalah pendapatan keluarga, perhatian ibu terhadap anak dan pelayanan kesehatan yang berisiko,
6 sedangkan di perkotaan adalah lama ayah berkumpul dengan keluarga kurang dari 2 tahun, mempunyai jaringan keluarga yang kecil dan kunjungan anak < 2 kali ke program kesehatan. Metode penelitian: case control study. Persamaan dengan penelitian ini adalah variabel independen pendapatan keluarga, varabel dependen stunting dan rancangan case control. Perbedaan dengan penelitian ini adalah kelompok umur subjek.