KEMAMPUAN MENGGUNAKAN GAYA BAHASA DALAM MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMPN 3 LAMASI KABUPATEN LUWU

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V PENUTUP. tertentu, menekankan penuturan atau emosi, menghidupkan gambaran, menunjukkan bahwa bahasa kias mempunyai peranan yang penting dalam

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN PHOTO STORY PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 5 PURWOREJO

BAB I PENDAHULUAN. Menulis merupakan salah satu keterampilan yang berkaitan erat dengan

Ida Hamidah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK BRAINWRITING PADA PESERTA DIDIK SD/MI KELAS V

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK AKROSTIK TEMATIK DIKELAS V SDN BAKTI KENCANA

SUKARDI Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. kreatif dalam rupa atau wujud yang indah. Pengertian indah, tidak semata-mata merujuk pada

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan

Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.4 No.2 Juli

HUBUNGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PUISI DENGAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 35 PADANG E- JURNAL ILMIAH YELCHI AMNUR NPM

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII DENGAN MENERAPKAN METODE BELANJA KATA DI SMPN SATU ATAP PENGAMPON

PENGGUNAAN TEKNIK PANGGIL PENGALAMAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X SMA N 5 PURWOREJO

BAB V PENUTUP. 1. Wujud sarana retorika yang digunakan dalam Puisi-puisi Anak di Harian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SINEKTIK PADA SISWA KELAS VI SDN JAYARAGA 2 TAROGONG KABUPATEN GARUT TAHUN AJARAN 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN. cara pengungkapannya. Puisi merupakan karya sastra yang disajikan secara

ANALISIS GAYA BAHASA PADA LIRIK LAGU GRUP MUSIK WALI DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI DI SMA

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MEMBACA AKROSTIX

BAB I PENDAHULUAN. melalui cipta, rasa, dan karsa manusia. Al-Ma ruf (2009: 1) menjelaskan

ANALISIS GAYA BAHASA PADA LIRIK LAGU GRUP MUSIK WALI DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI DI SMA

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA LINGKUNGAN ALAM PADA SISWA KELAS VIII MTs AL MU MIN PREMBUN TAHUN AJARAN 2014/2015

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMPN 1 TIGO NAGARI KABUPATEN PASAMAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK UBAH CATATAN HARIAN PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 26 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN. menunjukkan ciri-ciri khas, meskipun puisi telah mengalami perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

HUBUNGAN PENGUASAAN DIKSI DENGAN KEMAMPUAN MENULIS NASKAH DRAMA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 15 MEDAN TAHUN PEMBELAJARAN 2014/2015

DIKSI DALAM NOVEL SAAT LANGIT DAN BUMI BERCUMBU KARYA WIWID PRASETYO OLEH INDRAWATI SULEMAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS X SMA WIDYA KUTOARJO

PEMBELAJARAN MENULIS KREATIF PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SHOW NOT TELL DI MTs CAHAYA HARAPAN

KARAKTERISTIK PUISI MAHASISWA OFFERING A ANGKATAN 2009 JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS NEGERI MALANG

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

ANALISIS GAYA BAHASA PADA LIRIK LAGU EBIT G. ADE SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1

KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X SMA N 1 KECAMATAN BASA AMPEK BALAI KABUPATEN PESISIR SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI MIND MAPPING E JURNAL

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA POSTER PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 5 PURWOREJO

BAB II KAJIAN TEORI. A. Hasil Penelitian yang Relevan. Penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini adalah Pengaruh

PENERAPAN KONSEP PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN (PAKEM) DALAM MENYIMAK PUISI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN APRESIASI SASTRA

Kata kunci: menulis puisi, think pair share, tindakan, peningkatan.

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VIIE SMPK MARIA FATIMA JEMBER MELALUI TEKNIK PS3

BAB I PENDAHULUAN A. Bahasa Karya Sastra

I. PENDAHULUAN. Dalam pembahasan bab ini, peneliti akan memaparkan sekaligus memberikan

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUANTUM WRITING

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN STRATEGI MIND MAPPING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I PURWOSARI TAHUN PELAJARAN

HUBUNGAN KETERAMPILAN MEMBACA APRESIATIF DENGAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS X SMA PEMBANGUNAN LABOLATORIUM UNP

BAB V PENUTUP. bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, penggunaan media

KEMAMPUAN MENULIS CERPEN BERDASARKAN PENGALAMAN SISWA DI SMP NEGERI 17 KOTA JAMBI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang bersifat imajinatif yang lahir

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Aep Suryana, 2013

I. PENDAHULUAN. Menulis merupakan kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN METODE PENGAMATAN OBJEK LINGKUNGAN SEKOLAH SISWA SMA

BAB I PENDAHULUAN. manusia dalam mencurahkan isi hati dan pikirannya. Dalam sebuah karya sastra

Jurnal Noken 2(1)

2015 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PENGALAMAN (EXPERIENTIAL LEARNING)

BAB I PENDAHULUAN. memperhitungkan efek yang ditimbulkan oleh perkataan tersebut, karena nilai

HALAMAN PENGESAHAN ARTIKEL

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan dan intelektual, sosial,

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA SISWA KELAS VIII MTs NEGERI PURWOREJO

EFETIVITAS PENGGUNAAN METODE NATURE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial yang terdapat di

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE NATURE LEARNING DI KELAS X-1 SMAN 2 CIKARANG PUSAT TAHUN

ANALISIS MAJAS DALAM NOVEL AYAH KARYA ANDREA HIRATA DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME DI KELAS V

PERBEDAAN HASIL PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA ALAM DAN MEDIA GAMBAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 4 DARMA

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK AKROSTIK PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 AMBAL TAHUN PELAJARAN 2013/2014

ARTIKEL ILMIAH. Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 16 Kota Jambi Tahun Pelajaran 2013/2014. Oleh: Pebrina Pakpahan

BAB I PENDAHULUAN. bahasa siswa, karena siswa tidak hanya belajar menulis, membaca,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI PENERAPAN METODE AKROSTIK SISWA KELAS VI SD KARTIKA KOTA MAKASSAR. Syahrun. Kepala SD Kartika XX-1

Oleh Rudiansyah Siregar Dr. Wisman Hadi, M.Hum.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka Dewi Lestari adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang cukup

ANALISIS GAYA BAHASA DALAM KUMPULAN PUISI PEREMPUAN WALIKOTA JILID 2 KARYA SURYATATI A. MANAN

JURNAL PERBANDINGAN GAYA BAHASA PUISI-PUISI EMHA AINUN NADJIB DAN KH. ACHMAD MUSTOFA BISRI

intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang semuanya bersifat imajinatif. Novel adalah karya fiksi yang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan yang telah diuraikan pada

Peningkatan Kemampuan Membaca Puisi Melalui Teknik Pemodelan Siswa Kelas IV SDN 05 Bunobogu

ANALISIS MAKNA KIAS DALAM LIRIK LAGU IWAN FALS SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA KELAS X

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MANAIKA PADA MATERI PARAFRASE PUISI SISWA KELAS 6 B SDN SEMBORO 01 JEMBER

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS MELALUI PENGGUNAAN METODE ESTAFET WRITING

DAFTAR PUSTAKA. Aminuddin Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

MAKALAH. Oleh RINA HERLINA NPM :

MEDIA VIDEO EMOTIF SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN PUISI

BAB I PENDAHULUAN. dilukiskan dalam bentuk tulisan. Sastra bukanlah seni bahasa belaka, melainkan

Journal of Primary Education

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

The Students Ability In Reading Poetry By Using Paraphrase Technique The Students At Seventh Grade SMPN 20 Padang

KETERAMPILAN MENULIS PUISI MENGGUNAKAN MEDIA POSTER SISWA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SWASTA BINTAN TANJUNGPINANG TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PENGARUH TEKNIK MENULIS PUISI BERDASARKAN CERITA TERHADAP MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 14 PADANG ARTIKEL ILMIAH

MAKALAH. Oleh IWAN HERAWAN

BAB I PENDAHULUAN. khususnya bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dan

Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Bagi Siswa Kelas IV SDN1 Dongko Dengan Metode Praktek

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra bersumber dari kenyataan yang berupa fakta sosial bagi masyarakat sekaligus sebagai pembaca dapat

PENGARUH PENGGUNAAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 SUTERA ARTIKEL ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. menjelaskan bahwa puisi berasal dari bahasa Yunani poeima membuat atau

BAB I PENDAHULUAN. Segala aktivitas kehidupan manusia menggunakan bahasa sebagai alat perantaranya.

Transkripsi:

KEMAMPUAN MENGGUNAKAN GAYA BAHASA DALAM MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMPN 3 LAMASI KABUPATEN LUWU Nirwana Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNCP nirwana@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak, yakni mengacak semua siswa setiap kelas untuk dijadikan sampel. Jadi, populasi sebanyak 128 orang semuanya berpeluang menjadi sampel. Selanjutnya, dilihat dari jumlah populasi yang ada pada tabel sampel di atas, maka sampel penelitian ini sebanyak 30% dari jumlah populasi. Dengan demikian, ditetapkan sampel sebanyak 38 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi lapangan untuk mengetahui jumlah, keadaan siswa, serta menetapkan sampel, Peneliti melakukan pembelajaran menulis puisi bebas dengan menguraikan konsep menulis puisi dan unsur-unsur yang harus diperhatikan, Peneliti memperkenalkan kepada siswa tentang cara menulis puisi bebas, Memberi skor hasil tes. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu belum memadai. Hal ini dapat dibuktikan dengan perolehan nilai siswa yang mendapat nilai 70 ke atas sebanyak 1 orang (2,63%), sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah 70 sebanyak 37 orang (97,37%). Nilai yang diperoleh siswa ini belum mencapai kriteria yang ditetapkan sebagai kriteria kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern, yaitu hanya mencapai 2,63% atau sebanyak 1 siswa dari target pencapaian 85%. Puisi yang dibuat oleh siswa, masih banyak yang tidak menggambarkan sebuah perbandingan, begitu pula larik-larik kurang mencerminkan sebagai larik puisi dengan gaya imajinatif yang estetis. Kata Kunci: Kemampuan, Gaya Bahasa, Menulis Puisi. Halaman 71

PENDAHULUAN Sastra merupakan tulisan yang indah. Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, dan bukan semata-mata imitasi. Objek sastra adalah manusia dan kehidupannya, maka dapat dikatakan bahwa sastra adalah gambaran kehidupan manusia. Jenis sastra dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa sistem sastra yang ada bukanlah merupakan suatu sistem yang baku, merupakan suatu sistem yang selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan budaya. Perubahan sastra tersebut membawa perubahan penting di tengah kehidupan masyarakat. Perubahan sastra terkait dengan perkembangannya di Indonesia, ditandai dengan banyaknya karya sastra baik puisi, fiksi, dan drama yang diterbitkan. Karya sastra dengan berbagai genre yang hadir meramaikan perkembangannya. Berbagai genre yang ada merupakan hasil kreasi dan imajinatif sastrawan yang dituangkan dalam bentuk karya sastra yang berupa puisi, fiksi, maupun drama sesuai dengan latar belakang dan ideologi, termasuk lingkungan sosial kehidupannya. Karya sastra adalah media pengungkapan ide dari seorang sastrawan, baik dalam bentuk puisi, novel, cerpen maupun drama. Munculnya sebuah ide didasari oleh sebuah konsep yang bersumber dari sederetan pengalaman. Puisi merupakan hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan. Dapat pula dikatakan bahwa puisi merupakan sebuah karya sastra yang mengungkapkan/melukiskan pikiran dan perasaan seorang penyair secara imajinatif, disusun dan bentuk bahasa yang indah. Menulis puisi sebagai salah satu aspek yang diharapkan dikuasai siswa dalam pembelajaran puisi menekankan pada kompetensi siswa mengekspresikan puisi dalam bentuk sastra tulis yang kreatif yang dapat membangkitkan semangat, pikiran, dan jiwa pembaca. Dengan demikian, pembaca dapat memperoleh hikmah berdasarkan puisi yang dibaca. Pembelajaran menulis puisi di SMP selain bertujuan menggali dan mengembangkan kompetensi dasar siswa dalam mengapresiasi sastra, juga Halaman 72

melatih keterampilan siswa menggali nilai-nilai yang terkandung dalam puisi sehingga dapat mencintai puisi yang pada akhirnya diharapkan mereka dapat menciptakan puisi-puisi yang bermutu. Pembelajaran menulis puisi dapat membantu siswa untuk mengekspresikan gagasan, perasaan, dan pengalamannya. Melalui pelatihan siswa menulis puisi, seorang guru dapat membantu siswa mencurahkan isi batinnya, ide, dan pengalamannya melalui bahasa yang indah. Selain itu, akan mendorong siswa untuk belajar bermain dengan kata-kata, menafsirkan dunianya dengan suatu cara baru yang khas dan menyadari bahwa imajinasinya dapat menjadi konkret bila ia dapat memilih kata-kata dengan cermat untuk ditulis dalam puisi. Gaya bahasa perbandingan atau kiasan, yaitu gaya bahasa yang membandingkan sesuatu dengan yang lain, berarti mencoba menemukan ciri-ciri dan menunjukkan kesamaan antara kedua hal. Gaya bahasa perbandingan misalnya persamaan atau simile, metafora, alegori, personifikasi, alusi, eponim, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomasia, hipalase, ironi, satire. Berdasarkan uraian tersebut tampak bahwa pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan gaya bahasa perbandingan sangat penting ditingkatkan. Menyadari pentingnya menulis puisi dengan menggunakan gaya bahasa perbandingan, maka pembelajaran tersebut perlu mendapat perhatian yang serius. Akan tetapi, kenyataan di lapangan berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia di kelas VIII menunjukkan bahwa pembelajaran menulis puisi di sekolah masih mengalami kendala dan cenderung dihindari oleh siswa. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pemahaman nilai dan manfaat lainnya yang dapat diperoleh siswa ketika menulis puisi sehingga siswa menulis hanya karena tujuan dan syarat mendapat nilai kelulusan. Selain itu, metode yang digunakan dalam pembelajaran puisi masih kurang sehingga minat dan kompetensi siswa menulis puisi juga tidak berkualitas. Misalnya, puisi yang diciptakan oleh siswa miskin pengguanaan gaya bahasa atau Halaman 73

perlambangan/simbol di dalamnya. Bahasanya hampir sama dengan bahasa karangan prosa biasa, dan mudah dipahami. Berdasar pada latar belakang pemikiran seperti dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Kemampuan Menggunakan Gaya Bahasa Perbandingan dalam Menulis Puisi Modern Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu. Hal ini dilakukan karena penelitian yang relevan di sekolah ini maupun di sekolah lain belum terjamah oleh peneliti sebelumnya. Padahal, perlu diketahui pengembangan pembelajaran menulis puisi di sekolah ini sebagai salah satu meningkatkan pembelajaran bahasa Indonesia. Indikator lain yang menginspirasi penulis melakukan penelitian ini adalah belum adanya data empiris di lapangan tentang hasil belajar menulis puisi. Tidak adanya data tersebut sehingga kadang-kadang guru hanya tinggal diam tanpa bertindak dan tidak memiliki inovasi dalam pembelajaran. Oleh karena itu, hasil penelitian menjadi bahan refleksi bagi guru dan sekolah untuk meningkatkan pembelajaran menulis puisi. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, masalah penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu? TINJAUAN PUSTAKA Menulis Kreatif Menulis merupakan kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai mediumnya. Menulis adalah rangkaian proses berpikir. Proses berpikir berkaitan erat dengan kegiatan penalaran. Penalaran yang baik dapat menghasilkan tulisan yang baik pula. Bahkan, tanpa penalaran tidak akan ada pengetahuan yang benar. Syafi ie (1998:27) mengemukakan bahwa salah satu substansi retorika menulis adalah penalaran yang baik. Hal ini berarti untuk menghasilkan simpulan yang benar harus dilakukan penalaran secara cermat dengan berdasarkan pikiran Halaman 74

yang logis. Penalaran yang salahi akan menuntun kepada simpulan yang salah. Puisi Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani Poem yang berarti membuat atau Poeisis yang berarti pembuatan. Puisi diartikan membuat dan pembuatan karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia terendiri yang berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun ilmiah. Puisi adalah pengonsentrasian, yakni mengonsentrasikan pada dirinya segala kesan perasaan dan pikiran dengan pengucapan yang padat. Tema dan amanat puisi itu disusun dalam baris-baris. Setiap baris bertautan atau berkorespondensi dengan baris-baris benikutnya dan membentuk satu kesatuan yang disebut bait. Gaya Bahasa Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan nilai seni. Hal ini seperti dikemukakan oleh Hartoko dan Rahmanto (2005:264) bahwa gaya bahasa adalah cara yang khas dipakai seseorang untuk mengungkapkan diri (gaya pribadi). Selanjutnya dikatakan bahwa gaya bahasa itu susunan perkataan yang terjadi karena perasaan dalam hati pengarang yang dengan sengaja atau tidak, menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Selanjutnya, dikatakan pula bahwa gaya bahasa itu selalu subkjektif dan tidak akan objektif. Gaya bahasa ini adalah cara ekspresi kebahasaan dalam prosa ataupn puisi. Gaya bahasa itu adalah bagaimana seorang penulis berkata mengenai apa pun yang dikatakannya. Selanjutnya, Kridalaksana (1982:21) menjelaskan bahwa gaya bahasa adalah (1) pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, (2) pemakaian ragam bahasa tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, dan (3) gaya bahasa itu merupakan keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra. Gaya bahasa yang beraneka ragam itu menurut Tarigan (1990:13) secara umum dapat dibagi dalam empat kelompok yaitu: (1) gaya bahasa Halaman 75

perbandingan, (2) gaya bahasa pertentangan, (3) gaya bahasa pertautan, (4) gaya bahasa perulangan. Dengan gaya bahasa yang berbunga-bunga dan beragam majas, pengarang berusaha menarik perhatian pembaca kepada bentuk estetisnya, bahasa yang indah. Baru kemudian pada gagasan yang hendak disampaikan. Sebuah gagasan yang biasa saja menjadi tampak megah karena dibungkus dengan bahasa yang indah. Namun begitu, penggunaan gaya bahasa sebagai sarana stilistika sering membawa tambahan makna (Sudjiman, 1993:32). METODE PENELITIAN Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, yakni suatu cara penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pengamatan dan observasi terhadap gejala, peristiwa, dan kondisi aktual dimasa sekarang. Dalam penelitian ini penulis hendak mengetahui kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern. Populasi dan Sampel 1. Populasi Tabel 1. Keadaan Populasi No Kelas Jumlah Siswa 1 VIII a 29 orang 2 VIII b 26 orang 3 VIII c 25 orang 4 VIII d 24 orang 5 VIII e 24 0rang Jumlah 128 orang Halaman 76

2. Sampel No Kelas Jumlah Siswa 1 VIII a 9 orang 2 VIII b 8 orang 3 VIII c 8 orang 4 VIII d 7 orang 5 VIII e 6 0rang Jumlah 38 orang Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini adalah teknik tes, yaitu menulis puisi bebas. Tes yang diberikan kepada siswa tersebut dikerjakan dalam waktu 2 x 40 menit. Waktu yang dipergunakan tersebut disesuaikan dengan jam pelajaran bahasa indonesia di sekolah bersangkutan. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini, data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif. Adapun langkah menganalisis data, yaitu: 1. Membuat daftar skor mentah Skor mentah yang ditetapkan berdasarkan aspek yang dinilai dari pekerjaan siswa. Penentuan aspek yang dinilai dalam puisi siswa berdasarkan teori tentang struktur fisik dan struktur batin puisi yang dikemukakan oleh Nurgiyantoro (2008) dan Waluyo (1995:27) yang bobotnya diuraikan berikut ini. 2. Membuat distribusi frekuensi dari skor mentah menjadi baku setiap sampel dengan menggunakan rumus: S Nilai SM Keterangan: S 100 = Skor diperoleh siswa SM = Skor maksimal (Sudjana, 2006: 438) 3. Tolok ukur kemampuan siswa menulis puisi ditetapkan berdasarkan ketentuan untuk kompetensi dasar menulis puisi, yaitu: jika jumlah siswa mencapai 85% yang mendapat nilai 70 ke atas dianggap mampu, dan jika Halaman 77

jumlah siswa kurang dari 85% yang mendapat nilai 70 ke atas dianggap tidak mampu (sumber : SKBM Sekolah Tahun Ajaran 2014/2015 KTSP). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penyajian Hasil Analisis Data Berdasarkan hasil analisis data skor mentah dengan 38 siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu (lihat lampiran 2), diketahui bahwa tidak ada siswa yang mampu memperoleh skor 13 sebagai skor maksimal. Skor tertinggi hanya 10 yang dicapai oleh 1 orang (2,63%) dan skor terendah, yaitu 3 yang diperoleh oleh 5 orang (13,15%). Pendeskripsian perolehan skor tersebut dilengkapi dengan konversi ke dalam nilai serta persentasenya seperti yang dapat diamati Tabel 6 berikut ini. Tabel 6. Distribusi Skor Mentah, Nilai, Frekuensi, dan Persentase Kemampuan Menggunakan Gaya Bahasa Perbandingan dalam Menulis Puisi Modern Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu No Skor Pemerolehan Nilai Frekuensi (f) Persentase (%) 1. 10 76,9 1 2.63 2. 9 69,2 2 5,26 3. 7 53,8 10 26,31 4. 6 46,1 7 18,42 5. 5 38,4 8 21,01 6. 4 30,7 5 13,15 7 3 23,0 5 13,15 Jumlah 38 100 Halaman 78

Tabel 6 di atas menggambarkan perolehan skor kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu. Selanjutnya, dikemukakan penggambaran skor dan nilai yang diperoleh siswa dari yang tertinggi ke terendah, yaitu sampel yang memperoleh skor 10 dengan nilai 76,9 berjumlah 1 orang (2,63%); sampel yang memperoleh skor 9 dengan nilai 69,2 berjumlah 2 orang (5,26%); sampel yang memperoleh skor 7 dengan nilai 53,8 berjumlah 10 orang (26,31%); sampel yang memperoleh skor 6 dengan nilai 46,1 berjumlah 7 orang (18,42%); sampel yang memperoleh skor 5 dengan nilai 38,4 berjumlah 8 orang (21,05%); sampel yang memperoleh skor 4 dengan nilai 30,7 berjumlah 5 orang (13,15%); sampel yang memperoleh skor 3 dengan nilai 23,0 berjumlah 5 orang (13,15%). Setelah diketahui perolehan nilai dan persentase tersebut selanjutnya akan dicari nilai rata-rata kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu seperti pada tabel 7 berikut ini. Tabel 7. Nilai Rata-rata Kemampuan Menggunakan Gaya Bahasa Perbandingan dalam Menulis Puisi Modern Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu No Nilai Frekuensi Rata-rata 1 76,9 1 76,9 2 69,2 2 138 3 53,8 10 538 4 46,1 7 322,7 5 38,4 8 307,2 6 30,7 5 153,5 7 23,0 5 115 Jumlah 38 1651,3 Rata-rata 43,46 Halaman 79

Tabel 7 tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu, sebesar 43,46. Selanjutnya, akan dikemukakan rangkuman tentang kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu pada berbagai karakteristik distribusi nilai seperti berikut ini. Tabel 8. Karakteristik Rangkuman Distribusi Nilai yang Menggambarkan Kemampuan Menggunakan Gaya Bahasa Perbandingan dalam Menulis Puisi Modern Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu No Statistik Nilai Statistik 1. Jumlah Sampel 38 2. Nilai Tertinggi 76,9 3. Nilai Terendah 23,0 4. Nilai Rata-rata 43,46 5. Modus 53,8 Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 80. Selanjutnya, nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 23,0; nilai rata-rata adalah 43,46; dan nilai yang paling sering muncul, yaitu 53,8 dengan frekuensi 10 orang. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai yang dapat dicapai oleh siswa berada pada rentang nilai 23,0 sampai dengan nilai 76,9 dari rentangan nilai 0-100 yang mungkin dicapai oleh siswa. Sesuai hasil analisis data ini menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh siswa berada pada rentang nilai 23,0 sampai dengan 76,9, dapat dikonfirmasikan ke dalam kriteria kemampuan yang telah ditetapkan, yaitu siswa dinyatakan mampu apabila jumlah siswa mencapai 85% yang memperoleh nilai 70 ke atas. Sebaliknya, siswa dikatakan belum mampu apabila jumlah siswa kurang dari 85% yang memperoleh nilai di bawah 70. Selanjutnya, akan dikemukakan kategori kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan seperti tabel 9 berikut ini. Halaman 80

Tabel 9. Kategori Kemampuan Menggunakan Gaya Bahasa Perbandingan dalam Menulis Puisi Modern Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu No Perolehan Nilai Frekuensi Persentase 1. Nilai 70 ke atas 1 23,69 2. Nilai di bawah 70 37 97,37 Jumlah 38 100 Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa frekuensi dan persentase nilai kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu, yaitu hanya 1 orang (2,63%) siswa yang mendapat nilai 70 ke atas, sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah 70 sebanyak 37 orang (97,37%) dari jumlah sampel. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu belum memadai. Pembahasan Hasil Penelitian Menilik penyajian hasil analisis data tentang kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu, menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu belum memadai. Ketidakmemadaian ini dapat dibuktikan pada siswa yang mendapat nilai 70 ke atas sebanyak 1 orang (2,63%) dari jumlah sampel, sedangkan siswa yang mendapat nilal di bawah 70 sebanyak 37 orang (97,37%) dari jumlah sampel. Dengan demikian, nilai yang diperoleh siswa ini belum dikategorikan mencapai kriteria yang ditetapkan sebagai kriteria kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi bebas, yaitu tidak mencapai target pencapai 85%. Halaman 81

Ketidakmemadaian siswa menggunakan gaya bahasa perbandingan sebagimana dipaparkan tersebut sangat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap berbagai macam gaya bahasa perbandingan. Selain itu, banyak siswa yang belum mampu membedakan hakikat jenis-jenis gaya bahasa perbandingan yang dimaksud. Puisi yang dibuat oleh siswa, masih banyak yang tidak menggambarkan sebuah perbandingan, begitu pula larik-larik kurang mencerminkan sebagai larik puisi dengan gaya imajinatif yang estetis. Pencetusan gagasan siswa dalam bentuk puisi bebas masih bersifat cerita. Artinya, gagasan yang tercermin dalam bentuk larik dan bait seperti halnya dengan menceritakan dan menggambarkan suatu konsep, keadaan, dan suatu objek. Kenyataan ini, siswa dianggap kurang kreatif dalam mempermainkan bahasa atau gagasan itu melalui gaya bahasa. Demikian halnya dengan perlambangan sebagai salah satu bagian dari pengungkapan gaya bahasa yang kurang tampak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siswa belum terlatih membandingkan suatu objek, belum memperlihatkan sindiran apakah itu sindirian halus maupun sindiran kasar dalam mengkritik suatu masalah. Berdasarkan puisi yang dibuat oleh siswa, sudah ditemukan ditemukan adanya penginderaan yang dituangkan di dalamnya meskipun dalam wujud pengungkapan gaya bahasa yang sederhana. Sehingga, hal ini memengaruhi puisi yang dibuat siswa yang seolah-olah tidak tergambar fenomena sosial, budaya, agama, dan nilai-nilai kehidupan. Fenomena menunjukkan bahwa siswa menulis puisi dengan berbagai kendala. Tampak sebagian siswa mengalami kebingungan, hanya tinggal diam, dan kurang bersemangat. Menurutnya, sulit berinspirasi untuk menciptakan tema dan judul untuk dikembangkan ke dalam tulisan yang estetis dengan gaya bahasa, diksi, dan rima yang menarik. Fenomena lain yang tampak, yaitu ketika siswa menulis puisi, waktu yang digunakan ratarata lama melewati batas waktu 2x45 menit. Hal ini disebabkan oleh sulitnya merangkaikan ide demi ide yang membentuk satu kesatuan ide dalam puisi. Pada aspek tema, banyak puisi siswa yang belum mencerminkan sebagai puisi yang menarik karena penggunaan gaya bahasa yang kurang Halaman 82

spesifik. Selanjutnya, terkadang isi puisi siswa tidak sesuai dengan tema. Isi puisi yang diungkapkan oleh siswa kurang menggugah rasa dan masih bersifat deskripsi dan naratif. Dengan demikian, tidak tampak keestetisan yang menarik dalam puisi siswa. Pada aspek bait, puisi yang dihasilkan siswa belum mampu memadukan makna antar baris dan bait dalam puisi mereka. Ide pokok yang hendak mereka sampaikan terasa kabur karena ketidakpaduan antara baris yang satu dengan baris berikutnya, atau antara bait satu dengan bait berikutnya. Salah satu cara penyair dalam membangkitkan emosi pembaca adalah melalui citraan/imaji. Imaji akan membawa pembaca ke alam citraan atau gambaran yang yang diungkapkan oleh penyair. Berdasarkan puisi siswa pada pratindakan, dapat dilihat bahwa imaji yang dihadirkan siswa ke dalam puisi sebatas imaji penglihatan. Dengan demikian, pengimajinasian yang dilakukan siswa masih kurang menggambarkan sebagai puisi yang sarat dengan gambaran fenomena alam, masih kuran usaha siswa dalam mengembangkan daya khayal sehingga pengungkapan tidak hidup. Pemilihan kata (diksi) mempengaruhi indahnya sebuah puisi. Puisi hendaknya tersusun atas kata-kata yang dipilih secara efektif. Akan tetapi puisi yang ditulis siswa tampaknya masih banyak siswa yang kurang memperhatikan aspek diksi. Masih banyak siswa yang melakukan pemborosan kata, memilih kata yang kurang efektif, dan menggunakan bahasa yang kurang padat. Diksi yang digunakan oleh siswa dalam menulis puisi menunjukkan bahwa sering menggunakan kata yang kurang tepat, banyak siswa yang salah menggunakan kata dan sangat sukar menggunakan kata secara tepat. Bahkan, ada siswa yang menulis puisi dengan kata-kata yang digunakan tidak terpilih sehingga makna yang diungkapkan sukar dipahami. Hal ini dipengaruhi oleh penguasaan gaya bahasa (stylitik) yang tidak memadai. Puisi yang baik harus dapat menyampaikan suatu amanat kepada pembaca, baik secara tersirat maupun secara tersurat. Dengan menghadirkan amanat ke dalam puisi, diharapkan siswa mampu mengaitkan apa yang mereka pelajari dengan dunia nyata siswa, sesuai dengan hakikat pendekatan Halaman 83

kontekstual. Pada aspek amanat, dapat dikatakan bahwa tidak semua siswa mampu menyampaikan suatu pesan kepada pembaca melalui puisinya. Beberapa siswa masih samar dalam menyampaikan amanat dalam puisinya, bahkan ada siswa yang tidak mencantumkan amanat dalam puisinya Aspek kata konkret, menunjukkan bahwa dalam menggambarkan suatu kiasan keadaan atau suasana batin kurang dapat membangkitkan imaji pembaca. Selanjutnya, tidak ada usaha siswa mengonkretkan kata-kata dalam puisinya sehingga tidak menyarankan kepada arti yang menyeluruh. Bahkan, ada siswa yang menulis puisi yang tidak sama sekali memiliki usaha mengonkretkan kata-kata sehingga tidak menyaran kepada arti yang menyeluruh. Aspek nada puisi menunjukkan pula keragaman. Ada puisi dengan sedikit sekali menggunakan musikalitas. Selain itu, penggunaan musikalitas dalam puisinya kurang diperhatikan, penggunaan musikalitas dalam pengungkapannya tidak beraturan sehingga tidak menghidupkan makna yang disampaikan. Hal ini disebabkan oleh pemahaman siswa tentang gaya bahasa (stylitik) yang belum memadai untuk menulis puisi. Berdasarkan hasil deskripsi tiap aspek pada tahap penulisan puisi dapat dikatakan bahwa kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu masih rendah dan perlu ditingkatkan. Menindaklanjuti kondisi tersebut, perlu dilakukan perbaikan praktik menulis puisi di sekolah. Salah satu langkah yang dapat diambil guru adalah mengembangan variasi pembelajaran dan menggunakan model atau cara pembelajaran yang tepat agar apresiasi siswa terhadap sastra tumbuh dengan baik. Halaman 84

Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan tentang kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Lamasi Kabupaten Luwu belum memadai. Hal ini dapat dibuktikan dengan perolehan nilai siswa yang mendapat nilai 70 ke atas sebanyak 1 orang (2,63%), sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah 70 sebanyak 37 orang (97,37%). Nilai yang diperoleh siswa ini belum mencapai kriteria yang ditetapkan sebagai kriteria kemampuan menggunakan gaya bahasa perbandingan dalam menulis puisi modern, yaitu hanya mencapai 2,63% atau sebanyak 1 siswa dari target pencapaian 85%. Puisi yang dibuat oleh siswa, masih banyak yang tidak menggambarkan sebuah perbandingan, begitu pula larik-larik kurang mencerminkan sebagai larik puisi dengan gaya imajinatif yang estetis. Halaman 85

DAFTAR PUSTAKA Akhadiah, Sabarti. 1994. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangg Aminuddin. 1995. Stilistika. Pengantar Memahami Bahasa dalam karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Depdiknas. 2006. KTSP Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas. Depoter, B. & Hernacki, M., 2001. Quantum learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Terjemahan Abudurrahman Bandung: Kaifa. Effendi, S., 1996. Bimbingan Apresiasi Puisi. Ende: Nusa Indah. Eneste, Pamusuk. 1988. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: PT Gramedia. Firman. 2003. Keterampilan Siswa Kelas II SLTPN 1 Sajoanging Kabupaten Wajo Menulis Pengalaman Pribadi dalam Bentuk Puisi. Skripsi. Makasar: FBS UNM. Hartoko, A., 2005. Pengantar Ilmu Sastra. Surabaya: Usaha Nasional. Keraf, Gorys. 2005. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia. Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. Mirriam, Caryn. 2006. Daripada Bete Nulis Aja. Bandung: KAIFA. Nurgiyantoro, Burhan. 2008. Penilaian Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPEE. Pradopo, Rahmat Djoko. 1999. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Semi, Atar. 1994. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa. Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra.. Jakarta: Universitas Indonesia. Suhartini. 2005. Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas III Bahasa SMA Negeri 1 Bajeng/ Skripsi. Makassar: FBS UNM. Sumardjo, J., 2001. Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 86

Syafi i. 1998. Retorika dalam Menulis. Jakarta: Depdikbud. Tarigan, Henry Guntur. 1990. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa. Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga. Halaman 87