BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hiperbilirubinemia merupakan masalah terbanyak pada neonatus (50%-80% neonatus mengalami ikterus neonatorum) dan menjadi penyebab dirawat kembali dalam 2 minggu pertama setelah keluar dari rumah sakit. Pada tahun 2003 dilakukan studi potong lintang di RSCM, prevalensi hiperbilirubinemia pada neonatus sebesar 58% untuk kadar bilirubin >5 mg/dl dan 29,3% dengan >12 mg/dl pada minggu pertama kehidupan. Di RS dr. Sarjito dilaporkan sebanyak 85% neonatus aterm sehat mempunyai kadar bilirubin >5 mg/dl dan 23,8% dengan >13 mg/dl pada minggu pertama kehidupan. Berdasarkan penelitian di Jakarta, dilaporkan 14% hiperbilirubinemia pada neonatus ditemukan pada bayi dengan kelahiran normal. Penelitian Surjono pada tahun 1993, dilaporkan 11,9% kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus di Yogyakarta. Menurut data dari Amerika dilaporkan kurang lebih 60% dari 4 miliar neonatus mengalami hiperbilirubinemia.1 Pada penelitian Maisels ditemukan prevalensi hiperbilirubinemia pada minggu pertama kehidupan berkisar antara 8%-20%.2 Penurunan berat badan lahir terjadi secara fisiologis pada seluruh neonatus. Berat badan bayi mulai naik lagi setelah penurunan berat badan fisiologis pada hari ke 4 dan kembali sesuai berat badan lahir pada hari ke 9.3 Penurunan berat badan yang berlebih pada neonatus dapat menyebabkan hiperbilirubinemia, dimana hiperbilirubinemia yang berat dapat menyebabkan komplikasi kern ikterus. Kern ikterus adalah keadaan yang disebabkan oleh bilirubin indirek yang sangat berlebihan melewati sawar darah otak dan mengendap dalam jaringan otak. Kern ikterus dapat menyebabkan kerusakan otak, gangguan saraf (motorik dan sensorik), gangguan penglihatan dan 1
pendengaran, serta gangguan kognitif (retardasi mental). Untuk meminimalisir kemungkinan tersebut maka dibutuhkan deteksi dan intervensi dini, serta terapi yang tepat pada neonatus yang mengalami penurunan berat badan berlebih pada hari ke 2 dan ke 3 pasca lahir. Penelitian Indriyani dkk didapatkan pada tahun 2003 terdapat 128 kematian (8,5%) dari 1509 neonatus yang dirawat dengan 24% kematian terkait hiperbilirubinemia.1 Kurangnya asupan ASI dan kegagalan menyusui merupakan faktor terbesar penyebab hiperbilirubinemia pada neonatus. Faktor lainnya adalah kelahiran menggunakan vakum ekstraksi, inkompatibilitas ABO, asfiksia, berat badan lahir rendah dan penurunan berat badan lahir yang berlebihan.4 Penurunan berat badan 5-7% dari berat badan lahir pada neonatus mengindikasikan asupan nutrisi yang tidak adekuat. Asupan nutrisi yang tidak adekuat dapat dilihat juga dari gagal kembalinya berat badan setelah penurunan ke berat badan lahir dalam 2-3 minggu setelah kelahiran, dan jumlah urin serta BAB yang sedikit (< 3x/hari pada bayi ASI). Asupan yang tidak adekuat akan mengarah ke dehidrasi, komplikasi dari dehidrasi berat dapat berupa syok, kejang, gagal ginjal, dan ketidakseimbangan elektrolit. Penelitian yang mendukung mendapatkan bahwa persentase penurunan berat badan lahir yang berlebihan adalah lebih dari 8% dari berat lahir, dimana penurunan berat badan dapat berkomplikasi hiperbilirubinemia dan dehidrasi.5,6 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bertini et al pada tahun 2001 di Italia didapatkan 112 dari 528 neonatus memiliki jumlah total bilirubin serum >12,9 mg/dl.4 Pada penelitian Chang et al tahun 2010 di Taiwan, didapatkan 219 dari 874 neonatus mengalami hiperbilirubinemia yang signifikan pada usia 72 jam pasca lahir, dan terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara penurunan berat badan dan hiperbilirubinemia pada neonatus.7 Yang et al melakukan penelitian di Taiwan dan didapatkan 115 dari 343 neonatus memiliki total bilirubin serum > 15 mg/dl pada 72 jam pasca lahir. Persentase penurunan berat badan 3 hari pertama menunjukkan korelasi yang signifikan dengan 2
hiperbilirubinemia.8 Pada penelitian Indriyani dkk didapatkan bahwa 7 dari 68 neonatus mengalami hiperbilirubinemia pada hari ke 3 pasca lahir. Regresi linear, Korelasi Spearman dan Regresi Logistik menunjukkan terdapat hubungan antara presentase penurunan berat badan hari ke 3 dengan hiperbilirubinemia pada neonatus.1 Sebanyak 147 neonatus menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara penurunan berat badan dan hiperbilirubinemia pada neonatus.2 Penelitian-penelitian diatas mendukung bahwa terdapat pengaruh penurunan berat badan terhadap hiperbilirubinemia pada neonatus. Satu penelitian yang tidak mendukung penelitian ini adalah Sarici, et al.9 Hasil yang didapatkan adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penurunan berat badan abnormal hari ke-7 minggu pertama pasca lahir dengan hiperbilirubinemia pada bayi dengan usia gestasi mendekati-matur. Hasil ini kemungkinan disebabkan karena usia gestasi yang digunakan dalam penelitian Sarici adalah mendekati-matur (35-37 minggu) dan matur (38-42 minggu). Penelitian ini belum pernah dilakukan di Bandung, sehingga penulis ingin mengetahui bagaimana hubungan penurunan berat badan terhadap kejadian hiperbilirubinemia di Bandung. Berdasarkan alasan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh penurunan berat badan terhadap hiperbilirubinemia pada neonatus. 1.2 Identifikasi Masalah Bagaimana pengaruh penurunan berat badan terhadap hiperbilirubinemia hari ke 2 dan ke 3 pasca lahir pada neonatus. 3
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Mengetahui pengaruh penurunan berat badan terhadap hiperbilirubinemia pada neonatus. 1.3.2 Tujuan Mengetahui pengaruh penurunan berat badan terhadap hiperbilirubinemia hari ke 2 dan ke 3 pasca lahir pada neonatus. 1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah 1.4.1 Manfaat Akademis Memberikan informasi kepada akademi kedokteran mengenai pengaruh penurunan berat badan terhadap hiperbilirubinemia pada neonatus. 1.4.2 Manfaat Praktis 1. Sebagai bahan informasi ilmiah untuk tenaga kesehatan mengenai pengaruh penurunan berat badan terhadap hiperbilirubinemia pada neonatus, agar dapat menghindari komplikasi hiperbilirubinemia berat. 2. Mengetahui kebutuhan akan nutrisi tambahan pada neonatus apabila mengalami penurunan berat badan yang patologis dan memberikan intervensi yang tepat. 4
1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Penelitian 1.5.1 Kerangka Pemikiran Secara singkat metabolisme bilirubin adalah bilirubin indirek dibawa masuk ke hepar oleh albumin. Bilirubin masuk ke hepatosit, lalu enzim UDPGT (Uridine Diphospate Glucuronyl Transferase) di hepatosit akan menambahkan 2 molekul asam glukuronat sehingga membentuk bilirubin direk. Bilirubin direk disekresikan ke dalam empedu, dan menuju ke usus halus. Flora usus akan mengubah bilirubin direk menjadi urobilinogen dan sterkobilinogen, dan keluar menjadi urin, saat terpapar oleh udara akan menjadi urobilin. Saat melewati usus halus, bilirubin direk akan mengalami dekonjugasi oleh β-glukuronidase sehingga kembali menjadi bilirubin indirek yang akan direabsorpsi di usus, dan kembali ke hepar (sirkulasi enterohepatik). Bayi memiliki jumlah eritrosit yang lebih banyak daripada orang dewasa, dan masa hidup eritrosit yang lebih pendek menyebabkan pemecahan eritrosit yang lebih banyak. Bilirubin merupakan hasil akhir dari pemecahan eritrosit. Maka peningkatan pemecahan eritrosit akan meningkatkan bilirubin dalam darah, sehingga memperbesar risiko hiperbilirubinemia pada bayi. Faktor lainnya adalah kurangnya enzim UDPGT (Uridine Diphospate Glucuronyl Transferase) akan meningkatkan kadar bilirubin indirek, flora usus yang masih steril akan mengurangi sterkobilinogen dan urobilinogen yang terbentuk, serta adanya enzim β-glukuronidase di usus halus akan mendekonjugasi bilirubin direk kembali menjadi bilirubin indirek, bilirubin indirek akan di reabsorpsi ke dalam sirkulasi enterohepatik sehingga meningkatkan kadar bilirubin darah. Neonatus mengalami penurunan berat badan secara fisiologis pada harihari pertama kelahiran, namun tetap memiliki nilai ambang. Pemberian nutrisi yang tidak adekuat merupakan salah satu penyebab penurunan berat badan 5
yang berlebihan pada neonatus. Kurangnya asupan akan memperpanjang waktu bilirubin direk di dalam usus, menumpuk dan akan di dekonjugasi lagi oleh β-glukuronidase menjadi bilirubin indirek, meningkatkan sirkulasi enterohepatik, menyebabkan bilirubin indirek beredar kembali di dalam darah. Bilirubin indirek yang banyak dapat menembus sawar darah otak dan mengendap dalam jaringan otak sehingga menyebabkan kern ikterus. Kern ikterus dapat menyebabkan disfungsi motorik dan sensorik, bahkan retardasi mental. 1.5.2 Hipotesis Penelitian Terdapat pengaruh penurunan berat badan terhadap hiperbilirubinemia. 6