PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS AKSARA JAWA MELALUI PENDEKATAN SAVI DENGAN MACROMEDIA FLASH PADA SISWA KELAS IVA SDN PETOMPON 02 SEMARANG SKRIPSI Disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh Dewi Supadmi 1401409387 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013
PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Dewi Supadmi NIM : 1401409387 Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Ilmu Pendidikan Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa Melalui Pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash Pada Siswa Kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang benar-benar hasil karya peneliti sendiri, bukan jiplakan karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Apabila terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar, sepenuhnya menjadi tanggung jawab peneliti. Semarang, 9 Juli 2013 ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi atas nama Dewi Supadmi, NIM 1401409387 dengan judul Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa Melalui Pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash Pada Siswa Kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada: hari : Selasa tanggal : 9 Juli 2013 Semarang, 9 Juli 2013 Menyetujui, Dosen pembimbing I, Dosen pembimbing II, Drs. Sukardi, M.Pd. Dra. Hartati, M.Pd. NIP. 19590511 198703 1 001 NIP. 19551005 198012 2 001 iii
PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi atas nama Dewi Supadmi, NIM 1401409387, dengan judul Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa melalui Pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash Pada Siswa Kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang telah dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada: hari : Jumat tanggal : 30 Agustus 2013 Panitia Ujian, Sekretaris, Penguji Utama, Fitria Dwi Prasetyaningtyas, S.Pd, M.Pd NIP. 19850606 200912 2 007 Dra. Sri Susilaningsih, M.Pd. NIP. 19560405 198103 2 001 Penguji I, Penguji II, Drs. Sukardi, M.Pd. Dra. Hartati, M.Pd. NIP. 19590511 198703 1 001 NIP. 19551005 198012 2 001 iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO Ikatlah ilmu dengan menulis (Ali Bin Abi Thalib) Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya. (Stephen King) PERSEMBAHAN Skripsi ini dipersembahkan untuk 1. Kedua orangtuaku Bapak Suparjo dan Ibu Muryani sebagai penyemangat perjalanan hidupku. 2. Almamater Universitas Negeri Semarang v
PRAKATA Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa Melalui Pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash Pada Siswa Kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang Skripsi ini disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada Universitas Negeri Semarang. Peneliti menyadari bahwa penelitian tindakan kelas ini tidak akan berhasil tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati peneliti menyampaikan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Fathur Rohman, M. Hum. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan peneliti untuk menyelesaikan studi. 2. Drs. Hardjono, M.Pd. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNNES yang telah memberikan surat ijin pelaksanaan penelitian. 3. Dra. Hartati, M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar UNNES yang telah mendukung pelaksanaan penelitian sekaligus sebagai dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan saran dalam penyusunan skripsi. 4. Drs. Sukardi, M.Pd. dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan saran dalam penyusunan skripsi. 5. Setyowati, S.Pd, M.Pd. kepala sekolah SDN Petompon 02 Semarang yang telah memberikan ijin pelaksanaan penelitian. vi
6. Wisnu Yuli S. S.Pd. guru kelas IVA yang telah menjadi kolaborator dan membantu pelaksanaan penelitian. 7. Siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang yang telah berpartisipasi dalam penelitian. 8. Orang tuaku dan keluargaku yang senantiasa memberikan doa dan dukungan selama penyusunan skripsi. 9. Saudara Herry Sulistyawan yang senantiasa mendampingi dalam suka dan duka. 10. Sahabat-sahabatku Nita, Ayu, Dewi Rahma, Novi, Myla, Erni, Koyun, Idha, Linda, Anggun, Yani, Tika yang selalu memberikan dukungan dan motivasi dalam penyusunan skripsi. Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat kepada pembaca. Semarang, 9 Juli 2013 Peneliti vii
ABSTRAK Supadmi, Dewi. 2013. Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa Melalui Pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash Pada Siswa Kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. Skripsi, Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Drs. Sukardi, M.Pd. dan Pembimbing II Dra. Hartati, M.Pd. 244 halaman. Pembelajaran aksara Jawa terintegrasi dalam muatan lokal yang dikenal dengan mata pelajaran bahasa Jawa. Porsi waktu untuk pembelajaran aksara Jawa sangat terbatas, mengingat begitu banyak kompetensi yang harus dikuasai siswa dalam mata pelajaran bahasa Jawa. Keadaan di lapangan menunjukkan pembelajaran aksara Jawa di sekolah tidak dapat berjalan secara maksimal, sehingga penguasaan kompetensi baca-tulis aksara Jawa juga sangat terbatas. Berdasarkan pengalaman langsung saat mengajar, observasi dan data dokumen di SDN Petompon 02 Semarang ditemukan permasalahan dalam pembelajaran menulis aksara Jawa di kelas IVA yaitu pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru, guru kurang memberikan variasi dalam pembelajaran, penggunaan media pembelajaran kurang optimal dan 90% siswa tidak mengalami ketuntasan belajar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah pendekatan SAVI dengan macromedia flash dapat meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang? Penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan tiga siklus, tiap siklus terdiri dari satu pertemuan. Setiap pertemuan terdiri atas empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I, keterampilan guru memperoleh skor 9 dengan kriteria baik, rata-rata aktivitas siswa adalah 8,07 dengan kriteria cukup, ketuntasan hasil belajar klasikal mencapai 36,58%. Pada siklus II keterampilan guru memperoleh skor 11 dengan kriteria baik, aktivitas siswa mencapai 10,08 dengan kriteria baik, ketuntasan klasikal meningkat mencapai 65,85%. Pada siklus III keterampilan guru mencapai 15 dengan kriteria sangat baik, rata-rata aktivitas siswa adalah 13 dengan kriteria sangat baik, ketuntasan belajar klasikal mencapai 87,80%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan SAVI dengan macromedia flash dapat meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa. Saran yang peneliti berikan adalah guru harus selalu memberikan motivasi kepada siswa agar siswa selalu aktif dalam pembelajaran dan perhatian guru harus secara menyeluruh. Kata kunci: keterampilan menulis aksara Jawa, pendekatan SAVI, macromedia flash. viii
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i PERNYATAAN KEASLIAN...... ii PERSETUJUAN PEMBIMBING...... iii PENGESAHAN KELULUSAN... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN...... v PRAKATA... vi ABSTRAK... viii DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL... xii DAFTAR GAMBAR...... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xiv BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Perumusan dan Pemecahan Masalah...... 6 1.3 Tujuan Penelitian... 8 1.4 Manfaat Penelitian... 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA... 11 2.1 Kajian Teori... 11 2.1.1 Hakekat Bahasa... 11 2.1.2 Keterampilan menulis... 13 2.1.3 Hakikat Menulis...... 13 2.1.4 Aksara Jawa...... 18 2.1.4.1 Hakikat Aksara Jawa... 18 2.1.4.2 Wujud Aksara Jawa...... 19 2.1.5 Pembelajaran Bahasa Jawa Di SD...... 24 2.1.5.1 Hakikat pembelajaran... 24 2.1.5.2 Pembelajaran Bahasa Jawa Di SD...... 26 2.1.6 Keterampilan Guru... 27 2.1.7 Aktivitas Belajar Siswa... 31 ix
2.1.8 Hasil Belajar... 35 2.1.9 Pendekatan SAVI... 37 2.1.9.1 Hakikat Pendekatan... 37 2.1.9.2 Pendekatan SAVI... 38 2.1.10 Media Pembelajaran... 40 2.1.10.1 Hakikat Media Pembelajaran...... 40 2.1.10.2 Macromedia Flash... 42 2.1.11 Penerapan Pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash... 43 2.2 Kajian Empiris... 46 2.3 Kerangka Berpikir... 50 2.4 Hipotesis Tindakan... 53 BAB III METODE PENELITIAN... 54 3.1 Rancangan Penelitian... 54 3.2 Perencanaan Tahap Penelitian... 57 3.3 Subjek Penelitian... 66 3.4 Tempat Penelitian... 66 3.5 Variabel Penelitian... 66 3.6 Data dan Teknik Pengumpulan Data... 67 3.7 Teknik Analisis Data... 71 3.8 Indikator Keberhasilan... 76 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 77 4.1 Hasil Penelitian... 77 4.1.1 Deskripsi Data Pelaksanaan Siklus I... 77 4.1.1.1.Deskripsi Observasi Proses Pembelajaran Siklus I... 77 4.1.1.1.1 Observasi... 77 4.1.1.1.2 Refleksi... 85 4.1.1.1.3 Revisi... 87 4.1.2 Deskripsi Data Pelaksanaan Siklus II... 89 4.1.2.1 Deskripsi Observasi Proses Pembelajaran Siklus II... 89 4.1.2.1.1 Observasi... 89 4.1.2.1.2 Refleksi... 96 x
4.1.2.1.3 Revisi... 98 4.1.3 Deskripsi Data Pelaksanaan Siklus III... 100 4.1.3.1 Deskripsi Observasi Proses Pembelajaran Siklus III... 100 4.1.3.1.1 Observasi... 100 4.1.3.1.2 Refleksi... 107 4.1.3.1.3 Revisi... 109 4.2 Pembahasan... 115 4.2.1 Pemaknaan Temuan Hasil Penelitian... 115 4.2.2 Implikasi Hasil Penelitian... 135 BAB V PENUTUP... 137 5.1 Simpulan... 137 5.2 Saran... 138 DAFTAR PUSTAKA... 139 LAMPIRAN... 143 xi
DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Aksara Jawa Nglegena... 20 Tabel 3.1 KKM Bahasa Jawa SDN Petompon 02 Semarang... 73 Tabel 3.2 Kriteria Ketuntasan Keterampilan Guru dan Aktivitas Siswa... 74 Tabel 3.3 Klasifikasi Tingkat Nilai Keterampilan Guru... 75 Tabel 3.4 Klasifikasi Tingkat Nilai Aktivitas Siswa... 75 Tabel 4.1 Data Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus I... 78 Tabel 4.2 Data Hasil Observasi Keterampilan Aktivitas Siswa Siklus I... 81 Tabel 4.3 Data Hasil Belajar Siswa Siklus I... 84 Tabel 4.4 Data Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus II... 89 Tabel 4.5 Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II... 92 Tabel 4.6 Data Hasil Belajar Siswa Siklus II... 95 Tabel 4.7 Data Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus III... 100 Tabel 4.8 Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus III... 103 Tabel 4.9 Data Hasil Belajar Siswa Siklus III... 106 Tabel 4.10 Analisis Hasil Belajar Siswa Data Awal, Siklus I,II,III... 113 xii
DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir... 52 Gambar 3.1 Bagan Siklus PTK... 54 Gambar 4.1 Diagram Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus I... 80 Gambar 4.2 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I... 83 Gambar 4.3 Diagram Hasil Belajar Siswa Siklus I... 85 Gambar 4.4 Diagram Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus II... 91 Gambar 4.5 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II... 94 Gambar 4.6 Diagram Hasil Belajar Siswa Siklus II... 96 Gambar 4.7 Diagram Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus III... 102 Gambar 4.8 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus III... 105 Gambar 4.9 Diagram Hasil Belajar Siswa Siklus III... 107 Gambar 4.10 Diagram Keterampilan Guru Siklus I,II dan III... 111 Gambar 4.11 Diagram Aktivitas Siswa Siklus I,II dan III... 111 Gambar 4.12 Diagram Garis Hasil Belajar Siswa Siklus I,IIdan III... 112 Gambar 4.13 Diagram Prosentase Ketuntasan Klasikal Belajar Siswa... 112 Gambar 4.14 Diagram Hasil Belajar Siswa Data Awal, Siklus I, II dan III... 115 xiii
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Pedoman dan Kisi-Kisi Instrumen... 143 Lampiran 2 Instrumen Penelitian... 150 Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran... 159 Lampiran 4 Data Hasil Penelitian... 199 Lampiran 5 Surat-Surat Penelitian... 240 Lampiran 6 Foto-Foto Penelitiaan... 242 xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Undang-Undang Dasar Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 2 menyebutkan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal tersebut didukung Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pengembangan kurikulum yang disesuai dengan prinsip potensi daerah. Salah satu muatan dalam kurikulum yang mengacu pada potensi daerah adalah pembelajaran bahasa daerah. Berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 pasal 33 ayat 2 menyatakan bahwa bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan keterampilan tertentu. Berdasarkan SK Gubernur Jawa Tengah Nomor 423.5/5/2010 dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Jawa Tengah, terutama dalam upaya penanaman nilai-nilai budi pekerti dan penguasaan bahasa Jawa bagi siswa SD/MI, pemerintah telah menetapkan kurikulum mata pelajaran bahasa Jawa di Provinsi Jawa Tengah yang terdiri dari Standar Isi Mata Pelajaran bahasa Jawa dan Standar Kompetensi Kelulusan Mata Pelajaran bahasa Jawa SD/MI sebagaimana tercantum dalam lampiran I (SK Gubernur Jawa Tengah Nomor 423.5/5/2010). 1
2 Menurut Standar Isi pelajaran bahasa Jawa di sekolah dasar, standar kompetensi yang ada mengarah pada empat aspek keterampilan berbahasa. Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut adalah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Salah satu keterampilan yang harus dikuasai siswa dalam pembelajaran bahasa Jawa adalah keterampilan menulis, serta salah satu kompetensi dasar dari keterampilan menulis adalah menulis aksara Jawa. Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dipergunakan dalam komunikasi secara tidak langsung. Keterampilan menulis tidak didapatkan secara alamiah, tetapi harus melalui proses belajar dan berlatih. Berdasarkan sifatnya, menulis juga merupakan keterampilan berbahasa yang produktif dan reseptif (Doyin, 2009: 12). Adapun tujuan pembelajaran menulis adalah: (1) mendorong siswa menulis dengan jujur dan tanggung jawab; (2) merangsang imajinasi dan daya pikir; (3) menghasilkan tulisan yang organisasinya bagus, tepat, jelas, dan penggunaan bahasanya efektif. Aksara Jawa atau dikenal dengan nama hanacaraka atau carakan adalah aksara jenis abugida turunan aksara Brahmi yang pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Makasar, bahasa Sunda, dan bahasa Sasak. Bentuk asli aksara Jawa yaitu hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Aksara hanacaraka Jawa memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf "utama" (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya,
3 beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (wikipedia). Pembelajaran aksara Jawa terintegrasi dalam muatan lokal yang dikenal dengan mata pelajaran bahasa Jawa. Porsi waktu untuk pembelajaran aksara Jawa sangat terbatas, mengingat begitu banyak kompetensi yang harus dikuasai siswa dalam mata pelajaran bahasa Jawa. Padahal penguasaan kompetensi aksara Jawa memerlukan proses yang cukup panjang. Karena selain harus hafal aksara Jawa mencakup aksara nglegena, angka Jawa, aksara swara, aksara murda, sandhangan, pasangan, dan lain-lain, para siswa juga harus menguasai aturanaturan penulisannya. Keadaan di lapangan menunjukkan pembelajaran aksara Jawa di sekolah tidak dapat berjalan secara maksimal, sehingga penguasaan kompetensi baca-tulis aksara Jawa juga sangat terbatas (Mulyana, 2008: 244). Permasalahan lain yang muncul dalam pembelajaran aksara Jawa di sekolah adalah (1) pembelajaran aksara Jawa dianggap sulit karena aksara Jawa sudah tidak dipakai lagi sebagai media baca-tulis sehari-hari; (2) pengajaran membaca dan menulis aksara Jawa yang cenderung monoton dan memaksa siswa untuk menghafal bentuk-bentuk dan aturan penulisannya, membuat siswa semakin tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran membaca dan menulis aksara Jawa; (3) kurangnya media pembelajaran bahasa Jawa yang atraktif, interaktif, dan modern yang mampu menarik minat siswa dalam mempelajari aksara Jawa; (4) guru kurang menguasai materi pemebelajaran; dan (5) siswa kurang memahami manfaat mempelajari aksara Jawa (Mulyana, 2008: 265).
4 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) DIY (2004: 73-74) mengenai kondisi pembelajaran bahasa Jawa di lapangan, didapatkan hasil bahwa 93% guru di SD dan SMP hanya menggunakan metode ceramah dalam setiap penyampaian materi pembelajaran. Selain itu, media pembelajaran terbatas pada media tradisional seperti gambar dinding dan kaset tembang. Berdasarkan hasil observasi di kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang dalam pembelajaran menulis aksara Jawa ditemukan permasalahan antara lain, guru kurang mempersiapkan suatu pembelajaran yang baik dari media atau alat peraga, maupun sumber belajar yang akan digunakan. Pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru, siswa hanya duduk, memperhatikan, mencatat dan mengerjakan soal. Guru kurang memberikan variasi dalam pembelajaran. Media pembelajaran kurang optimal dalam penggunaannya, sehingga membuat siswa pasif, kurang berminat dan merasa jenuh. Selain itu siswa terlihat bosan, ada yang berbicara dengan teman, bermain sendiri, ada juga yang mengganggu teman yang lain. Siswa yang pintar akan cepat menerima dan menguasai materi pembelajaran yang disampaikan, sedangkan siswa yang kurang pandai cenderung tertinggal. Hasil rata-rata ulangan harian siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang mata pelajaran menulis aksara Jawa menunjukkan bahwa dari 41 siswa terdapat 37 siswa (90%) rata-ratanya belum mencapai nilai ketuntasan belajar, dimana nilainya belum mencapai KKM yaitu 70. Dengan melihat data hasil belajar dan pelaksanakan proses pembelajaran menulis aksara Jawa perlu untuk ditingkatkan kualitasnya.
5 Terkait dengan permasalahan di atas, peneliti menerapkan pendekatan SAVI dengan macromedia flash untuk meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar menulis aksara Jawa. Peneliti memilih pendekatan SAVI dengan macromedia flash karena pendekatan SAVI mampu memunculkan suasana belajar yang lebih menarik dan efektif, membangkitkan kecerdasan terpadu siswa secara penuh melalui penggabungan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual, mampu membangkitkan kreativitas dan meningkatkan kemampuan psikomotor siswa, serta memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa melalui pembelajaran secara somatik, visual, auditori dan intelektual karena pelajaran tidak hanya cukup dengan ceramah saja, harus ada praktek realnya. Menurut Meire (2003: 91) pendekatan SAVI adalah suatu pendekatan pembelajaran yang merupakan pengembangan perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model pembelajaran berdasar masalah. Pendekatan SAVI merupakan suatu bentuk pendekatan pembelajaran dengan menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indera yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Sedangkan adobe flash merupakan sebuah program yang didesain khusus oleh adobe dan program aplikasi standar authoring tool professional yang digunakan untuk membuat animasi dan bitmap yang sangat menarik untuk keperluan pembangunan situs web yang interaktif dan dinamis. Flash didesain dengan kemampuan untuk membuat animasi 2 dimensi yang handal dan ringan sehingga flash banyak digunakan untuk membangun dan memberikan efek animasi pada website, CD Interaktif dan yang lainnya (bintangagusta-lesmana.blogspot.com).
6 Menurut beberapa peneliti, penerapan pendekatan SAVI dapat meningkatkan pembelajaran, salah satunya adalah Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2012) dengan judul Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa melalui Pendekatan Somatic Auditory Visualization Intelektually (SAVI) dengan Media Kartu Kata pada Siswa Kelas IV SDN Tambakaji 03 Semarang. Penelitian dilaksanakan 2 siklus dengan 2 kali pertemuan pada setiap siklusnya yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar menulis aksara Jawa siswa kelas IV SDN Tambakaji 03 semarang melalui pendekatan SAVI dengan media kartu kata mengalami peningkatan. Berdasarkan uraian latar belakang maka peneliti akan mengkaji melalui penelitian tindakan kelas dengan judul Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa melalui Pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash Pada Siswa Kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. 1.2. PERUMUSAN MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH 1.2.1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: a. Apakah pendekatan SAVI dengan macromedia flash dapat meningkatkan keterampilan guru dalam keterampilan menulis aksara Jawa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang?
7 b. Apakah pendekatan SAVI dengan macromedia flash dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang? c. Apakah pendekatan SAVI dengan macromedia flash dapat meningkatkan hasil belajar menulis aksara Jawa pada siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang? 1.2.2. Pemecahan Masalah Berdasarkan rumusan masalah, peneliti merencanakan pemecahan masalah dengan melakukan tindakan kelas menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan SAVI dengan macromedia flash sebagai berikut: a. Persiapan (timbulnya minat); guru melakukan apersepsi dan memberikan motivasi kepada siswa. b. Penyampaian, guru menampilkan macromedia flash mengenai aksara Jawa dan memberikan contoh cara menulis aksara Jawa menggunakan sandhangan. c. Pelatihan, guru memberikan lembar kerja siswa berupa kata atau kalimat yang harus disalin siswa dengan menggunakan aksara Jawa. d. Penampilan hasil, siswa mempresentasikan hasil diskusi Proses pembelajaran yang akan dilakukan, peneliti memadukan pendekatan SAVI dengan pembelajaran kontekstual. Peneliti mengambil tiga komponen pembelajaran kontekstual yang nantinya akan dipadukan dengan
8 pendekatan SAVI dalam pembelajaran. Tiga komponen tersebut adalah: (1) masyarakat belajar; (2) permodelan; (3) penilaian autentik. 1.3. TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian meliputi: a. Meningkatkan keterampilan guru kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash. b. Meningkatkan aktivitas siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash. c. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash.
9 1.4. MANFAAT PENELITIAN Apabila terbukti bahwa penerapan pendekatan SAVI dengan macromedia flash dapat meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar menulis aksara Jawa maka penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan bahasa Jawa baik secara teoretis maupun praktis. 1.4.1. Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai pendekatan SAVI dengan macromedia flash sehingga dapat memperkaya khasanah ilmu khususnya disiplin ilmu pendidikan. Dan penelitian ini dapat ditindaklanjuti berdasarkan temuan-temuan sebagai hasil penerapan pendekatan SAVI dengan macromedia flash. 1.4.2. Manfaat praktis. Penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa, guru, sekolah dan peneliti. a. Siswa Siswa lebih tertarik dalam mengikuti pembelajaran bahasa Jawa khususnya menulis aksara Jawa. Sehingga hasil belajar dan aktivitas siswa dapat meningkat dengan maksimal. b. Guru Memberikan pengetahuan dan wawasan mengenai pendekatan SAVI, membantu guru dalam memperbaiki pembelajaran di kelas, serta meningkatkan kinerja dan keterampilan guru dalam mengajar.
10 c. Sekolah Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, membantu sekolah dalam mengatasi permasalahan dan hambatan dalam hal pembelajaran. d. Peneliti Dapat memperdalam pengetahuan tentang pendekatan pembelajaran dan dapat menerapkan di kelas sebagai wujud keberhasilan atas penelitian yang dilakukan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. KAJIAN TEORI 2.1.1. Hakikat Bahasa Bahasa merupakan rangkaian bunyi yang melambangkan pikiran. Sesuai pendapat Kridalaksana (dalam Chaer, 2007: 32) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa akan membantu anggota kelompok sosial atau masyarakat untuk lebih mudah berkomunikasi dan bekerja sama sehingga mereka tidak akan kesulitan dalam menyampaikan pesan atau gagasan yang ingin mereka ungkapkan. Menurut Webster s New Collegiate Dictionary, bahasa adalah sebuah alat untuk mengkomunikasikan gagasan atau perasaan secara sistematis melalui penggunaan tanda, suara, gerak atau tanda-tanda yang disepakati, yang memiliki makna yang dipahami. Sebagaimana pendapat Halliday (dalam Solchan, 2009: 1.3) bahasa adalah salah satu dari sejumlah sistem makna yang secara bersamasama membentuk budaya manusia dalam berkomunikasi. Bahasa adalah sejumlah sistem makna yang disampaikan menggunakan tanda, suara, gerak atau tandatanda yang disepakati untuk memudahkan komunikasi tersebut. Berdasar pengertian tentang bahasa menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer dan berbentuk ungkapan 11
12 yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk berkomunikasi, bekerja sama dan berinteraksi dimana dalam ungkapan tersebut terkandung makna. Bahasa sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan manusia mempunyai tiga fungsi pokok, yakni fungsi emotif, fungsi afektif, dan fungsi simbolik. a. Fungsi emotif menonjolkan pada komunikasi estetik, pencurahan perasaan akan keindahan, kekaguman, dan bahkan rasa takut. b. Fungsi afektif tampak jelas ketika bahasa itu dipakai untuk menimbulkan efek psikologis terhadap orang lain dan sebagai akibatnya mempengaruhi atau mendorong mereka untuk bertindak atau bersikap tertentu seperti yang diinginkan. c. Fungsi simbolik menonjolkan dalam komunikasi ilmiah, simbol-simbol bukan hanya untuk menyatakan fakta saja, melainkan juga untuk menyampaikannya kepada orang lain. Bahasa merupakan salah satu alat yang digunakan untuk saling menyapa, saling mempengaruhi, saling bermusyawarah, dan bekerjasama. Menurut Halliday fungsi bahasa secara khusus adalah: a. Fungsi personal, yaitu penggunaan bahasa untuk mengungkapkan pendapat, pikiran, sikap atau perasaan pemakainya. b. Fungsi regulator, yaitu penggunaan bahasa untuk mempengaruhi sikap atau pikiran pendapat orang lain. c. Fungsi interaksional, yaitu penggunaan bahasa untuk menjalin kontak dan menjaga hubungan sosial. d. Fungsi informatif, yaitu penggunaan bahasa untuk menyampaikan informasi, ilmu pengetahuan atau budaya. e. Fungsi heuristik, yaitu penggunaan bahasa untuk belajar atau memperoleh informasi. f. Fungsi imajinatif, yaitu penggunaan bahasa untuk memenuhi dan menyalurkan rasa estetis (indah). g. Fungsi instrumental, yaitu penggunaan bahasa untuk mengungkapkan keinginan atau kebutuhan pemakainya.
13 Fungsi-fungsi bahasa tersebut pada praktiknya jarang berdiri sendiri. Antara satu fungsi dengan fungsi yang lain saling terkait dan saling mendukung. Dengan demikian, suatu tindakan berbahasa dapat mengandung lebih dari satu fungsi (Solchan, 2009: 1.7-1.8). 2.1.2. Keterampilan Berbahasa Keterampilan berbahasa adalah kemampuan menggunakan bahasa. Menurut Tarigan (2008: 18) keterampilan bahasa terdiri dari empat aspek. Keempat aspek tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan menyimak dan berbicara merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat alamiah. Artinya, kedua keterampilan berbahasa tersebut didapatkan oleh seseorang melalui peniruan yang bersifat alamiah dan langsung dalam proses komunikasi. Menyimak dan berbicara digunakan dalam komunikasi langsung dan tatap muka. Keterampilan membaca dan menulis diperoleh secara sengaja melalui proses belajar. Oleh karena itu sering disebut juga dengan keterampilan berbahasa literer. Kedua keterampilan berbahasa tersebut digunakan dalam komunikasi tertulis secara tidak langsung. Keempat keterampilan berbahasa saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Orang tidak akan dapat berbicara kalau tidak dapat menyimak. Demikian pula, orang tidak akan dapat menulis tanpa terlebih dahulu dapat membaca. Keterampilan berbicara dan menulis sebagai keterampilan yang produktif didukung oelh keterampilan menyimak dan membaca sebagai keterampilan yang reseptif. Karena erat hubungan keempat keterampilan berbahasa tersebut, keempatnya sering disebut sebagai catur tunggal. Artinya, keempat keterampilan tersebut merupakan bentuk kompetensi bahasa (Doyin 2009: 11-12). 2.1.3. Hakikat Menulis Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dipergunakan dalam komunikasi secara tidak langsung. Keterampilan menulis tidak didapatkan secara alamiah, tetapi harus melalui proses belajar dan berlatih. Berdasarkan
14 sifatnya, menulis juga merupakan keterampilan berbahasa yang produktif dan reseptif (Doyin, 2009: 12). Menulis sering diartikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan atau komunikasi dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Komunikasi atau pesan yang disampaikan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan tersebut merupakan lambang atau simbol bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya. Pesan atau komunikasi yang disampaikan oleh penulis melibatkan empat unsur, yaitu: (1) penulis sebagai penyampai pesan; (2) pesan atau isi tulisan; (3) saluran atau media berupa tulisan; dan (4) pembaca sebagai penerima pesan. Menulis adalah keterampilan produktif dengan menggunakan tulisan. Menulis dapat dikatakan suatu keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis keterampilan berbahasa yang lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekadar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat, melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur. Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Manfaat yang dapat dipetik dari menulis antara lain: (1) peningkatan kecerdasan; (2) pengembangan daya inisiatif dan kreativitas; (3) penumbuhan keberanian; dan pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi. Menulis pada hakikatnya menyampaikan ide atau gagasan dan pesan dengan menggunakan lambang grafis (tulisan) sesuai dengan kaidah kebahasaan, baik informasi sastra maupun nonsastra. Adapun tujuan pembelajaran menulis
15 adalah: (1) mendorong siswa menulis dengan jujur dan tanggung jawab; (2) merangsang imajinasi dan daya pikir; (3) menghasilkan tulisan yang organisasinya bagus, tepat, jelas, dan penggunaan bahasanya efektif. Sehubungan dengan tujuan penulisan sesuatu tulisan, Hartig (dalam Tarigan, 2008: 25-26) merangkumnya sebagai berikut: a. Assignment purpose (tujuan penugasan), tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri. b. Altruistic purpose (tujuan altruistik), bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan, dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. c. Persuasive purpose (tujuan persuasif), bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan. d. Informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan), bertujuan memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada pembaca. e. Self-expressive purpose (tujuan pernyataan diri), bertujuan untuk memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada pembaca. f. Creative purpose (tujuan kreatif), bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilainilai kesenian yang ideal. g. Problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah), bertujuan untuk menjelaskan, menjernihkan, menjelajahi, serta meneliti secara cermat pikiranpikiran dan gagasan-gagasannya sendiri untuk memecahkan permasalahan. Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang erat hubungannya dengan ide atau gagasan yang dituangkan oleh penulis dalam bentuk tulisan. Tulisan yang dibuat oleh penulis memiliki tujuan-tujuan sendiri sesuai dengan ide yang dituangkan oleh penulis. Menurut Semi (jaririndu.blogspot.com) membagi tujuan menulis sebagai berikut: a. Memberikan arahan, yakni memberikan petunjuk kepada orang lain dalam mengerjakan sesuatu, misalnya petunjuk cara menggunakan mesin, merangkai bunga, dan sebagainya. b. Menjelaskan sesuatu, yakni memberikan uraian atau penjelasan tentang suatu hal yang harus diketahui orang lain, misalnya menjelaskan mengenai manfaat lari bagi kesehatan jantung.
16 c. Menceritakan kejadian, yakni memberikan informasi tentang sesuatu yang berlangsung di suatu tempat pada suatu waktu, misalnya menceritakan tentang perjuangan Sultan Hasanuddin. d. Meringkaskan, yakni membuat rangkuman suatu tulisan sehingga menjadi lebih singkat, misalnya dari 150 halaman menjadi 10 halaman, maupun ide pokoknya tidak hilang. e. Meyakinkan, yakni tulisan berusaha meyakinkan orang lain agar setuju atau sependapat dengannya. Barangkali tujuan menulis yang paling umum digunakan adalah tujuan meyakinkan ini. Menurut Tarigan (2008: 3-4) menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara langsung, tidak bertatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Keterampilan menulis tidak akan datang dengan secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Ada lima tingkatan menulis, tingkatan tersebut meliputi: 1. Timbulnya pemahaman baca tulis, anak mulai menyadari adanya kegiatan baca tulis, anak mulai menyenangi jika ada orang melakukan baca tulis. Semula anak hanya memandangi tapi lama kelamaan ia akan mencoba menirukan. Anak mulai memegang pensil,kemudian mencoret-coret pada kertas atau media lain. Tulisan yang dihasilkan pada tahap ini memang belum bermakna, tetapi pada diri anak sudah timbul rasa menyenangi kegiatan tersebut. 2. Menulis permulaan, kegiatan ini biasa disebut dengan hand writing, yaitu cara merealisasikan simbol- simbol bunyi dan cara menulisnya dengan baik.tingkatan ini terkait dengan strategi atau cara mewujudkan simbolsimbol bunyi bahasa menjadi huruf- huruf yang dapat dikenali secara konkret.
17 3. Pembinaan kelancaran menulis, pada tahap ini simbol-simbol bunyi bahasa misalnya huruf-huruf yang telah dikenali secara konkret mulai dihubunghubungkan lebih lanjut menjadi kesatuan yang lebih besar dan memiliki makna 4. Menulis untuk kesenangan dan belajar, sudah timbul kesenangan pada diri anak akan perlunya menulis, pada tahap ini anak melakukan kegiatan menulis dengan tujuan-tujuan tertentu yang disengaja misalnya mencatat pelajaran, mencatat kegiatan dibuku harian,menulis surat untuk teman dan sebagainya. Pada tingkatan ini anak sudah dapat menikmati kegiatan menulisnya 5. Menulis matang, pada tahap ini anak sudah mampu menuangkan dan mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui tulisan dengan baik ia telah mampu memilih kata dengan tepat, menyusun kalimat dengan runtut,dan mengembangkan paragraf dengan baik,tahap inilah yang memberikan kebebasan berekspresi pada anak untuk menghasilkan tulisan-tulisan kreatif yang sangat mencengangkan hasilnya Keterampilan menulis tidak datang dengan sendirinya. Hal itu menuntut latihan yang cukup dan teratur serta pendidikannya yang terprogram. Programprogram dalam bahasa tulis direncanakan untuk mecapai tujuan-tujuan sebagai berikut: a. Membantu para siswa memahami bagaimana caranya ekspresi tulis dapat melayani mereka, dengan jalan menciptakan situasi-situasi di dalam kelas yang jelas memerlukan karya tulis dan kegiatan menulis;
18 b. Mendorong para siswa mengekspresikan diri mereka secara bebas dalam tulisan; c. Mengajar para siswa menggunakan bentuk yang tepat dan serasi dalam ekspresi tulis; d. Mengembangkan pertumbuhan bertahap dalam menulis dengan cara membantu para siswa menulis sejumlah maksud dengan sejumlah cara penuh keyakinan pada diri sendiri secara bebas. (Peck dan Schulz, dalam Tarigan, 2008: 9). Keterampilan menulis di sekolah dasar pada pelajaran bahasa Jawa salah satunya adalah keterampilan menulis aksara Jawa. Untuk mengembangkan keterampilan tersebut banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran, motivasi yang diberikan guru, media atau alat peraga yang membantu siswa mempermudah memahami materi pembelajaran. Berdasarkan faktor-faktor di atas guru harus memiliki potensi-potensi dan keterampilan-keterampilan yang lebih untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan mereka khususnya keterampilan menulis sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat dengan maksimal. 2.1.4. Aksara Jawa 2.1.4.1.Hakikat Aksara Jawa Aksara Jawa atau dikenal dengan nama hanacaraka atau carakan adalah aksara jenis abugida turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Makasar, bahasa Sunda, dan bahasa Sasak.
19 Bentuk aksara Jawa yang sekarang dipakai (modern) sudah tetap sejak masa Kesultanan Mataram (abad ke-17) tetapi bentuk cetaknya baru muncul pada abad ke-19. Aksara ini adalah modifikasi dari aksara Kawi atau dikenal dengan Aksara Jawa Kuno yang juga merupakan abugida yang digunakan sekitar abad ke- 8 sampai abad ke-16. Aksara ini juga memiliki kedekatan dengan aksara Bali. Bentuk asli aksara Jawa yaitu hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Aksara hanacaraka Jawa memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf "utama" (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (wikipedia). 2.1.4.2.Wujud Aksara Jawa 2.1.4.2.1. Aksara Jawa Nglegena Aksara nglegena adalah aksara yang belum mendapat sandhangan atau belum diberi sandhangan (belum disandhangi). Jumlah aksara nglegena ada 20 huruf, disebut carakan. Pada huruf latin dinamakan abjad atau alfabet. Aksara nglegena jika ditulis dengan hurut latin terdiri dua huruf, maka sudah menjadi satu suku kata. Itulah sebabnya, walau belum diberi sandhangan dapat menuliskan kata-kata Jawa sederhana. Carakan itu ditulis 4 baris, setiap baris merupakan kalimat yang mengandung ceritera (Hadiwirodarsono, 2010: 5)
20 Tabel 2.1 Aksara Jawa Nglegena Aksara Nglegena Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga 2.1.4.2.2. Sandhangan a. Sandhangan Swara Sandhangan swara disebut juga sandhangan sastra Jawa. Fungsi sandhangan swara adalah jika disandhangkan atau dipasangkan pada huruf nglegena akan mengubah bunyi vokalnya. Sandhangan swara ada 5 jenis yaitu: 1) Wulu (......) Sandhangan wulu dipakai untuk mengubah huruf vokal i. Sandhangan wulu ditulis diatas huruf yang disandhangi. Contoh: Iki
21 2) Suku (... ) Sandhangan suku dipakai untuk mengubah huruf vokal u. Sandhangan suku ditulis dengan disambungkan pada kaki belakang huruf yang disandhangi. Contoh: Tuku 3) Taling (...) Sandhangan taling dipakai untuk mengubah vokal e. Sandhangan taling ditulis di depan huruf yang disandhangi dan segaris dengan hurufnya. Contoh: Sate 4) Taling tarung (... ) Sandhangan taling tarung dipakai untuk mengubah vokal o. Sandhangan taling tarung ditulis didepan dan dibelakang huruf yang disandhangi (mengapit hurufnya). Contoh: Loro 5) Pepet (...) Sandhangan pepet dipakai untuk mengubah vokal e. Vokal E disini diucapkan seperti e pada kata sepet. Sandhangan pepet ditulis di atas huruf yang disandhangi.
22 Contoh: Sega b. Sandhangan Panyigeg Wanda Sandhangan panyigeg wanda adalah sandhangan untuk menghentikan wanda atau suku kata (sigeg = berhenti). Ada empat jenis sandhangan panyigeg wanda, yaitu: 1) Cecak (... ) Sandhangan cecak digunakan jika kata/wanda berakhiran dengan huruf nga = diganti dengan ( ). Sandhangan cecak ditulis di atas huruf yang di sigeg atau yang diberi sandhangan itu, bentuknya seperti koma. Contoh: kacang bawang 2) Layar (......) Sandhangan layar dapat digunakan jika suku kata/ wanda berakhiran huruf ra = diganti ( ). Sandhangan layar ditulis di atas huruf yang disigeg atau huruf yang diberi sandangan, bentuknya garis miring ke kanan. Contoh: Kabar anyar 3) Wignyan ( )
23 Sandhangan wignyan dapat digunakan jika suku kata/ wanda berakhiran huruf ha = diganti ( ). Sandhangan wignyan ditulis segaris dan berada dibelakang huruf yang disigeg atau huruf yang diberi sandhangan. Contoh: Gemah ripah 4) Pangkon ( ) Sandhangan pangkon dapat dugunakan jika suku kata berakhiran huruf selain ha, ra, dan nga, agar suku kata itu dapat mati/berhenti diberi pangkon ( ) Contoh: Pitik Jalak c. Sandhangan Pambukaning Wanda Sandhangan pambukaning wanda disebut juga sandhangan wiyanjana, merupakan sandhangan yang diucapkan bersama huruf yang dirangkap. Ada tiga jenis sandhangan pambukaning wanda, yaitu: 1) Pengkal ( ) Sandhangan pengkal berfungsi sebagai pengganti huruf ya. Sandhangan pengkal ditulis segaris dengan huruf yang akan diberi sandhangan. Contoh: Kyai
24 2) Cakra (... ) Sandhangan cakra berfungsi sebagai huruf ra. Sandhangan cakra dibawah huruf yang akan diberi sandhangan. Contoh: Krama 3) Keret (... ) Sandhangan keret berfungsi sebagai pengganti huruf ra pepet atau re. Sandhangan keret ditulis dibawah huruf yang akan diberi sandhangan. Contoh: Kreteg 2.1.5. Pembelajaran Bahasa Jawa Di SD 2.1.5.1. Hakikat Pembelajaran Pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama dalam proses pendidikan di sekolah. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan sangat mempengaruhi cara guru itu mengajar. Menurut Kamus Bahasa Indonesia pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Pembelajaran berdasarkan makna leksikal berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Pada pembelajaran guru mengajar diartikan sebagai upaya guru mengorganisir lingkungan terjadinya
25 pembelajaran. Guru mengajar dalam perspektif pembelajaran adalah guru menyediakan fasilitas belajar bagi peserta didiknya untuk mempelajarinya (Suprijono, 2012: 13). Jadi pembelajaran adalah upaya guru untuk mengorganisir lingkungan dan menyedikan fasilitas belajar bagi peserta didik. Tujuan pembelajaran adalah perubahan prilaku dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, seperti: perubahan yang secara psikologis akan tampil dalam tingkah laku (over behaviour) yang dapat diamati melalui alat indera oleh orang lain baik tutur katanya, motorik dan gaya hidupnya. Berdasarkan pengertian pembelajaran dari para ahli dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah upaya atau seperangkat peristiwa yang dilakukan oleh peserta didik yang melibatkan pengetahuan profesional guru dengan semua komponen tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Gagne (1997) mengemukakan sembilan prinsip yang dapat dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran, prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (1) menarik perhatian, (2) menyampaikan tujuan pembelajaran, (3) mengingatkan konsep/prinsip yang telah dipelajari, (4) menyampaikan materi pelajaran, (5) memberikan bimbingan belajar, (6) memperoleh kinerja/penampilan siswa, (7) memberikan balikan, (8) menilai hasil belajar, (9) memperkuat retensi dan transfer belajar. Kegiatan pembelajaran harus dirancang untuk memberikan pengalaman belajar pada peserta didik. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud
26 melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Oleh karena itu kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada pengajar, khususnya siswa agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara professional. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan konsep materi pembelajaran, dan rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa yaitu kegiatan siswa dan materi. 2.1.5.2. Pembelajaran Bahasa Jawa di SD Berdasarkan SK Gubernur No. 895.5/01/2005 yang merupakan penegasan dari Keputusan Kepala Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi Jawa Tengah Nomor 271a/IO3/1994, Bahasa Jawa pada Muatan Lokal Wajib mulai tingkat SD, SMP/MTs, dan SMA/STM/MA, adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) beban pengembangan kurikulum lebih diserahkan pada masing-masing satuan pendidikan, termasuk di dalamnya dalam hal menentukan struktur kurikulum. Guru bidang studi bahasa Jawa mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulumnya. Upaya pemerintah untuk melestarikan bahasa Jawa salah satunya dengan cara memasukkan bahasa Jawa dalam kurikulum pendidikan SD, SMP, maupun SMA, otomatis membutuhkan usaha guru untuk menggunakan berbagai macam metode pembelajaran dapat menimbulkan minat siswa mempelajari bahasa Jawa
27 tersebut. Pelestarian aksara Jawa hendaknya dimulai sejak tingkat pendidikan awal yaitu SD. Pembelajaran bahasa Jawa meliputi dua aspek, yaitu aspek kemampuan berbahasa dan aspek kemampuan bersastra. Setiap aspek meliputi empat keterampilan, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Pada keterampilan menulis dapat dikategorikan 2 macam. Pertama, keterampilan menulis huruf latin yang didalamnya diajarkan cara menulis huruf lepas dan menulis tegak bersambung. Kedua, adalah keterampilan menulis aksara Jawa. Materi pembelajaran menulis dengan menggunakan huruf latin, tidak ada kesulitan bagi siswa. Namun, ketika siswa berhadapan dengan materi menulis aksara Jawa, kebanyakan mereka merasa kesulitan. Seolah-olah mereka berhadapan dengan huruf dari negara asing. Padahal sebenarnya, aksara Jawa inilah yang sudah lebih dahulu turun temurun dipelajari dan digunakan oleh Bangsa Indonesia, khususnya di daerah Jawa. 2.1.6. Keterampilan Guru Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) pada dasarnya adalah berupa bentuk-bentuk perilaku bersifat mendasar dan khusus yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai modal awal untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajarannya secara terencana dan professional (Rusman, 2011: 80). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keterampilan merupakan kecakapan untuk menyelesaikan tugas, sedangkan mengajar adalah melatih. Menurut Hasibuan (2010: 3) mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar. Sistem
28 lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajakan, guru dan siswa yang harus memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan prasarana belajar-mengajar yang tersedia. Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2010: 82) tugas guru dalam kelas sebagian besar adalah membelajarkan siswa dengan menyediakan kondisi belajar optimal yang dapat dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran. Bila pengelolaan pembelajaran dapat dikerjakan secara optimal maka proses belajar berlangsung secara optimal pula. Tetapi bila tidak dilakukan secara optimal, tentu saja akan menimbulkan gangguan terhadap belajar mengajar. Berdasarkan pengertian tersebut yang dimaksud dengan keterampilan mengajar guru adalah seperangkat kemampuan guru dalam melatih aktivitas dan pengalaman seseorang serta membantunya berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan yang dipengaruhi oleh komponen-komponen dalam proses belajar-mengajar. Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2010) ada delapan keterampilan dasar mengajar yang harus diutamakan dalam proses belajar mengajar. Keterampilan tersebut meliputi: (1) keterampilan membuka dan menutup pelajaran; (2) keterampilan bertanya; (3) keterampilan menjelaskan; (4) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil; (5) keterampilan mengajar kelompok kecil
29 dan perorangan; (6) keterampilan mengelola pembelajaran; (7) keterampilan memberi penguatan; (8) keterampilan menggunakan variasi. Dalam penelitian ini, peneliti hanya mengkaji empat keterampilan dari delapan keterampilan yang dikemukakan oleh Hasibuan dan Moedjiono. Keterampilan tersebut meliputi: a. Keterampilan Bertanya Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respons dari seseorang yang dikenai. Respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir. Menurut Hasibuan (2010) ada beberapa tujuan dari keterampilan bertanya, antara lain: (1) merangsang kemampuan berpikir siswa; (2) membantu siswa dalam belajar; (3) mengarahkan siswa pada tingkat interaksi belajar yang mandiri; (4) meningkatkan kemampuan berpikir siswa dari kemampuan berpikir tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi; (5) membantu siswa dalam mencapai tujuan pelajaran yang dirumuskan. Indikator keterampilan bertanya dalam penelitian ini antara lain: (1) mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan dipelajari; (2) memberikan pertanyaan secara acak kepada siswa; (3) memberikan waktu berpikir; (4) memberikan pertanyaan yang mudah dipahami siswa. b. Keterampilan menjelaskan Menjelaskan berarti menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematis dengan tujuan menunjukkan hubungan. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam keterampilan menjelaskan meliputi: (1) penjelasan dapat
30 diberikan di awal, di tengah, atau di akhir jam pertemuan, tergantung kepada keperluan; (2) penjelasan dapat diselingi tanya jawab; (3) penjelasan harus relevan dengan tujuan pelajaran; (4) penjelasan dapat diberikan bila ada pertanyaan dari siswa atau direncanakan oleh guru; (5) materi penjelasan harus bermakna bagi siswa; (6) penjelasan harus sesuai dengan latar belakang dan kemampuan siswa. Indikator keterampilan menjelaskan dalam penelitian ini antara lain: (1) menjelaskan materi pelajaran; (2) menjelaskan penggunaan media pembelajaran; (3) menampilkan media aksara Jawa; (4) memberikan contoh menulis aksara Jawa c. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur dengan melibatkan sekelompok siswa dalam interaksi tatap muka kooperatif yang optimal dengan tujuan berbagai informasi atau pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan masalah. Komponen dalam keterampilan membimbing dikusi kelompok kecil antara lain: (1) pemusatan perhatian; (2) memperjelas permasalahan; (3) menganalisa pandangan siswa; (4) meningkatkan urunan pikiran siswa; (5) menyebarkan kesempatan berpartisipasi; (6) menutup diskusi. Indikator keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil meliputi: (1) membimbing siswa mengerjakan LKS; (2) mendengarkan pendapat siswa ketika berdiskusi; (3) menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi; (4) menutup diskusi. d. Keterampilan mengelola kelas
31 Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi yang optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remidial. Beberapa prinsip yang harus diperhatkan dalam melaksanakan komponen keterampilan mengelola kelas adalah: (1) kehangatan dan keantusiasan; (2) penggunaan bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah belajar siswa; (3) perlu mempertimbangkan penggunaan variasi media, gaya belajar, dan pola interaksi; (4) diperlukan keluwesan tingkah laku guru dalam mengubah starategi mengajarnya untuk mencegah gangguan-gangguan yang timbul; (5) penekanan hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian siswa pada hal-hal negatif; (6) mendorong siswa untuk mengambangkan disiplin diri sendiri dengan cara memberi contoh dalam perbuatan guru sehari-hari. Indikator keterampilan mengelola kelas dalam penelitian ini antara lain: (1) pengadaan penguatan (verbal maupun nonverbal); (2) pengunaan media pembelajaran; (3) membimbing diskusi kelompok; (4) pengkondisian kelas. Berdasarkan uraian di atas maka disimpulkan bahwa keterampilan mengajar guru adalah seperangkat kemampuan atau kecakapan yang harus dimiliki guru dalam membimbing para siswa dalam hal pengetahuan, keterampilan, sikap, serta ide dan apresiasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku yang lebih baik agar berjalan secara efektif dan efisien. 2.1.7. Aktivitas Belajar Siswa
32 Kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar adalah salah satu kegiatan yang penting bagi siswa. Siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah porelahan belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, pembelajar dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional. Menurut Thorndike (dalam Dimyati, 2006: 45) mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum low of exercise -nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Mc Keachie berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu, sosial (Mc Keachie, 1976: 230 dari Gredler MEB terjemahan Munandir, 1991: 105) Aktivitas belajar siswa adalah kegiatan yang terjadi dalam satu konteks perencanaan untuk mencapai suatu perubahan tertentu serta menggunakan seluruh potensi individu sehingga akan terjadi perubahan perilaku tertentu (Rusman, dkk. 2012:19). Keaktifan siswa selalu nampak dalam setiap proses belajar. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan kegiatan psikis lainnya.
33 Menurut Hamalik, (2008: 170-171) Siswa adalah suatu organisme yang hidup, di dalam dirinya beraneka ragam kemungkinan dan potensi yang hidup yang sedang berkembang. Di dalam dirinya terdapat prinsip aktif, keinginan untuk berbuat dan bekerja sendiri. Pendidikan perlu mengarahkan tingkah laku dan perbuatan itu menuju tingkat perkembangan yang diharapkan. Potensi yang ada pada siswa perlu mendapat kesempatan yang luas untuk berkembang tanpa terjadi penyimpangan perkembangan dari tujuan yang telah ditentukan. Aktualisasi diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan cara bertanya. Bertanya sangat biasa dilakukan siswa dalam tiap kesempatan, untuk itu guru harus mampu memfasilitasi kemampuan bertanya siswa untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan harus diberikan secara bergiliran agar tidak didominasi oleh beberapa siswa saja, hal ini dapat menyebabkan kecemburuan siswa, maka dari itu guru harus memberikan pertanyaan kepada siswa secara menyeluruh agar tidak terjadi kecemburuan antar siswa (Rusman, 2011: 82-83). Dierich (dalam Hamalik, 2008: 172) membagi kegiatan belajar dalam delapan kelompok, yaitu: kegiatan-kegiatan visual, kegiatan-kegiatan oral, kegiatan-kegiatan mendengarkan, kegiatan-kegiatan menulis, kegiatan-kegiatan menggambar, kegiatan-kegiatan matrik, kegiatan-kegiatan mental, kegiatankegiatan emosional. a. Kegiatan-kegiatan mendengarkan Komponen-komponennya: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan penjelasan teman satu kelompok, mendengarkan penjelasan kelompok lain,
34 mendengarkan radio. Indikator kegiatan mendengarkan meliputi: (1) siswa menyimak penjelasan guru; (2) siswa menyimak media pembelajaran aksara Jawa; (3) siswa mendengarkan pertanyaan dari siswa lain; (4) siswa mendengarkan penjelasan guru dengan baik. b. Kegiatan-kegiatan menulis Komponen-komponennya: menulis cerita, menulis laporan, mengerjakan tes, menulis rangkuman dan mengisi angket. Indikator kegiatan menulis meliputi: (1) siswa berani memberikan contoh menulis aksara Jawa di depan kelas; (2) siswa menulis hasil diskusi di lembar jawab; (3) siswa menulis hasil diskusi di depan kelas; (4) siswa mencatat materi di buku catatan masing-masing. c. Kegiatan-kegiatan mental Komponen-komponennya: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, dan membuat keputusan. Indikator kegiatan mental meliputi: (1) siswa mengerjakan LKS; (2) siswa mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas; (3) siswa mengeluarkan pendapat ketika diskusi berlangsung; (4) siswa menanggapi pendapat dalam diskusi. d. Kegiatan-kegiatan visual Komponen-komponennya: membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. Indikator kegiatan visual meliputi: (1) siswa mengamati media aksara Jawa yang ditampilkan guru; (2) siswa mengamati cara menulis aksara Jawa sesuai dengan gambar yang ditampilkan; (3) siswa fokus pada media yang
35 ditampilkan; (4) siswa mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas. Berdasarkan uraian di atas, peneliti akan mengembangkan instrumen aktivitas siswa mengacu pada teori Dierich yang meliputi (1) mendengarkan penjelasan guru (kegiatan mendengarkan), (2) menulis aksara Jawa (kegiatan menulis), (3) berdiskusi dalam kelompok (kegiatan mental), (4) mengamati gambar yang di tampilkan guru di depan kelas (kegiatan visual). Indikator pengamatan aktivitas siswa yang akan diamati oleh peneliti hanya mengambil empat dari delapan aktivitas siswa menurut Dierich karena disesuaikan dengan langkah pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI. 2.1.8. Hasil Belajar Belajar dimaksudkan untuk menimbulkan perubahan perilaku yaitu perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Perubahan-perubahan dalam aspek itu menjadi hasil dari proses belajar. Perubahan perilaku hasil belajar itu merupakan perubahan perilaku yang relevan dengan tujuan pengajaran. Oleh karenanya, hasil belajar dapat berupa perubahan dalam kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik, tergantung dari tujuan pembelajarannya (Purwanto, 2009: 44). Menurut Purwanto (2013: 46) hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Menurut Bloom (Suprijono, 2012: 6), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
36 a. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). b. Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respons), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). c. Domain psikomotor meliputi keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial dan intelektual. Sedangkan menurut Lindgren hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian dan sikap. Menurut pemikiran Gagne (Suprijono, 2012: 5-6), hasil belajar berupa: a. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengkategorisasi, kemampuan analistis-sintetis fakta-konsep dan mengembangkan prinsipprinsip keilmuan. b. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. c. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu
37 aspek potensi kemampuan saja yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam penelitian ini, peneliti mengevaluasi hasil belajar pada aspek kognitif. Hasil belajar aspek kognitif meliputi mengidentifikasi jenis aksara panyigeg wanda dan panyigeg wyanjana, menulis kata dan kalimat beraksara Jawa yang menggunakan sandhangan panyigeg wanda dan sandhangan panyigeg wyanjana. 2.1.9. Pendekatan SAVI 2.1.9.1. Hakikat Pendekatan Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Penerapan pendekatan dalam pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (mtk2012unindra.blogspot.com). Pembelajaran merupakan suatu fenomena yang kompleks dan jamak, sehinga muncul berbagai pendekatan yang berbeda-beda. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu cara pandang tentang fokus dan strategi pembelajaran yang dapat dijadikan kerangka acuan dalam praktik pembelajaran.
38 Pendekatan pembelajaran biasanya dibangun atas dasar posisi pemahaman tertentu tentang apa hakikat, fokus yang dipentingkan, bagaimana cara-cara utama pencapaiannya serta asumsi-asumsi penerapannya. Fungsi pendekatan pembelajaran adalah memberikan suatu pemahaman tentang sesuatu atau cara pembelajaran yang dianggap efektif dan memberi panduan yang dapat diuji kecocokannya dengan kondisi nyata. Menurut Surya (www.vilila.com, 2011) memberikan penjelasan secara praktis mengenai fungsi pendekatan seperti berikut : a. Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran b. Menilai hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai c. Mendiaknosis masalah-masalah belajar yang timbul d. Menilai hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan 2.1.9.2. Pendekatan SAVI Pendekatan SAVI adalah suatu pendekatan pembelajaran yang merupakan pengembangan perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model pembelajaran berdasar masalah. Pendekatan SAVI merupakan suatu bentuk pendekatan pembelajaran dengan menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indera yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran (Meire, 2003: 91). Ada empat unsur dalam pendekatan SAVI, yaitu: a. Somatis (belajar dengan bergerak dan berbuat) b. Auditori (belajar dengan berbicara dan mendengar) c. Visual (belajar dengan mengamati dan menggambarkan) d. Intelektual (belajar dengam memecahkan masalah dan merenung)
39 Keempat Unsur-unsur dalam pembelajaran SAVI harus ada dalam proses pembelajaran agar pembelajaran berlangsung optimal sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. 1) Somatis (belajar bergerak dan berbuat) Somatic berasal dari Bahasa Yunani soma yang berarti tubuh. Jadi belajar somatic berarti belajar dengan indera peraba, kinestetis, praktis melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh ketika belajar. Untuk merangsang pikiran-tubuh, perlu diciptakan suasana belajar yang membuat siswa bangkit dan berdiri dari tempat duduk dan aktif secara fisik dari waktu ke waktu. Tidak semua proses pembelajaran memerlukan aktivitas fisik, tetapi dengan cara berganti-ganti menjalankan aktivitas belajar aktif dan pasif secara fisik, dan guru dapat membantu belajar siswa dalam prose pembelajaran. 2) Belajar auditory Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga kita menangkap dan menyimpan informasi auditori bahkan tanpa kita sadari. Peran guru dalam merancang pembelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang kuat dalam diri pembelajar, dapat dilakukan dengan cara mengajak peserta didik membicarakan apa yang mereka pelajari. Ajak peserta didik berbicara saat mereka memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi, membuat rencana kerja, menguasai kemampuan, menciptakan makna-makna pribadi bagi diri mereka sendiri. 3) Belajar Visual
40 Peserta didik lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang dibicarakan penceramah, buku, atau program komputer. Pembelajar visual belajar visual paling baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, gambar, dan gambaran segala macam hal ketika mereka sedang belajar. Untuk mendapatkan kemampuan visual yang kuat, peserta didik mengamati situasi dunia nyata lalu memikirkan serta membicarakan situasi itu, menggambarkan proses, prinsip, atau makna yang dicontohkannya. 4) Belajar intelektual Intelektual adalah menciptakan makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untuk berpikir, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru, dan belajar (Meire, 2003: 99). Intelektual menghubungkan pengalaman fisik, emosional, dan intuitif tubuh untuk membuat makna baru bagi dirinya sendiri. Jadi Intelektual adalah sarana merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna. Sebuah proses pembelajaran akan optimal jika keempat unsur SAVI terdapat dalam satu proses pembelajaran secara utuh. Siswa dapat belajar sesuatu dengan cara menyaksikan (V), tetapi mereka dapat belajar lebih, jika siswa dapat melakukan sesuatu ketika proses pembelajaran berlangsung (S), membicarakan sesuatu yang sedang siswa pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi yang dipelajari siswa dalam menyelesaikan pekerjaan siswa (I). 2.1.10. Media Pembelajaran 2.1.10.1. Hakikat Media Pembelajaran
41 Kata media berasal dari bahasa Latin Medius yang secara harfiah berarti tengah, Perantara, atau pengantar. Arysad (2011: 3) mengatakan bahwa media adalah manusia, materi, atau kejadian yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian ini guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Media yang dapat membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran disebut media pembelajaran. Menurut Kemp & Dayton (dalam Arsyad, 2011: 19) media pembelajaran memiliki tiga fungsi utama yang digunakan untuk perorangan atau kelompok, yaitu: (1) memotivasi minat atau tindakan, (2) menyajikan informasi, dan (3) memberi instruksi. Sedangkan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa menurut Sudjana (2011: 24), meliputi: (1) pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; (2) bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa; (3) siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian dari guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan memerankan. Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu (1) media hasil teknologi cetak, (2) media hasil teknologi audio-visual, (3) media hasil teknologi yang berdasarkan komputer, dan (4) media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Menurut Sudjana (2010: 2) media pengajaran bermanfaat dalam proses belajar siswa, manfaatnya antara lain: (1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian
42 siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; (2) bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik; (3) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga; (4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, dan mendemonstrasikan. 2.1.10.2. Macromedia Flash Adobe flash atau macromedia flash adalah salah satu perangkat lunak komputer yang merupakan produk unggulan adobe systems. Adobe flash digunakan untuk membuat gambar vektor maupun animasi gambar tersebut. Berkas yang dihasilkan dari perangkat lunak ini mempunyai file extension.swf dan dapat diputar di penjelajah web yang telah dipasangi adobe flash player. Flash menggunakan bahasa pemrograman bernama action script yang muncul pertama kalinya pada flash 5 (alfianx2smk.blogspot.com). Adobe flash merupakan sebuah program yang didesain khusus oleh adobe dan program aplikasi standar authoring tool professional yang digunakan untuk membuat animasi dan bitmap yang sangat menarik untuk keperluan pembangunan situs web yang interaktif dan dinamis. Flash didesain dengan kemampuan untuk membuat animasi 2 dimensi yang handal dan ringan sehingga flash banyak digunakan untuk membangun dan memberikan efek animasi pada website, CD Interaktif dan yang lainnya. Selain itu aplikasi ini juga dapat digunakan untuk membuat animasi logo, movie, game, pembuatan navigasi pada situs web, tombol
43 animasi, banner, menu interaktif, interaktif form isian, e-card, screen saver dan pembuatan aplikasi-aplikasi web lainnya (bintang-agusta-lesmana.blogspot.com). Keunggulan yang dimiliki oleh flash ini adalah ia mampu diberikan sedikit code pemograman baik yang berjalan sendiri untuk mengatur animasi yang ada didalamnya atau digunakan untuk berkomunikasi dengan program lain seperti HTML, PHP, dan database dengan pendekatan XML, dapat dikolaborasikan dengan web, karena mempunyai keunggulan antara lain kecil dalam ukuran file outputnya. Alasan peniliti menggunakan macromedia flash karena macromedia flash dapat meningkatkan ingatan siswa dalam menghafal dan menulis bentuk-bentuk aksara Jawa. Macromedia flash hampir sama dengan media audio visual, media ini membantu siswa dalam pembelajaran dengan mendengarkan dan melihat apa yang ditampilkan oleh guru sehingga siswa lebih memahami materi yang disampaikan. 2.1.11. Penerapan pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash dalam Pembelajaran Menulis Aksara Jawa Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa. Prinsip dasar pendekatan SAVI antara lain: (1) pembelajaran melibatkan seluruh pikiran dan tubuh; (2) pembelajaran berarti berkreasi bukan mengkonsumsi; (3) kerjasama membantu proses pembelajaran; (3) pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan; (4) belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu
44 sendiri dengan umpan balik; (5) emosi positif sangat membantu pembelajaran; (8) otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis. Menurut Meire (2003: 91-92) pendekatan SAVI memiliki empat karakteristik utama, yaitu Somatic (belajar dengan bergerak dan berbuat), Auditory (belajar dengan berbicara dan mendengar), Visualization (belajar dengan mengamati dan menggambarkan), dan Intelectually (belajar dengan memecahkan masalah dan merenung). Dalam penerapan pendekatan SAVI pada pembelajaran menulis aksara Jawa, peneliti memadukan pendekatan SAVI dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran aktif. Pembelajaran ini berpusat pada keaktifan peserta didik. Belajar merupakan aktivitas penerapan pengetahuan. Pembelajaran kontekstual memusatkan pada proses dan hasil, sehingga assesmen dan evaluasi memegang peranan penting untuk mengetahui pencapaian standar akademik dan standar kinerja. Komponen pembelajaran kontekstual terdiri dari tujuh komponen antara lain: (1) konstruktivisme, (2) inkuiri, (3) bertanya, (4) masyarakat belajar, (5) permodelan, (6) refleksi, dan (7) penilaian autentik (Suprijono, 2012: 85). Dalam penerapan pendekatan SAVI dalam pembelajaran peneliti mengambil tiga dari tujuh komponen yang ada dalam pembelajaran kontekstual yaitu (1) masyarakat belajar, (2) permodelan; (3) penilaian autentik. Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan SAVI menurut Meire, (2003: 103) meliputi (1) persiapan (timbulnya minat); (2) penyampaian (perjumpaan pertama dengan pengetahuan baru); (3) pelatihan (integrasi
45 pengetahuan atau keterampilan baru); (4) penampilan hasil (penerapan pengetahuan dan keterampilan baru pada situasi dunia nyata). Adapun langkahlangkah pembelajarannya, meliputi: a. Guru menyiapkan media dan sumber belajar serta mengkondisikan siswa; b. Guru melakukan apersepsi; c. Guru menjelaskan kepada siswa mengenai materi menulis aksara Jawa dan memberikan contoh cara menulis aksara jawa; d. Siswa mendengarkan penjelasan guru (Auditory); e. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa melalui contoh dari guru kemudian nantinya siswa menirukan cara menulis aksara Jawa (Visualization/somatic); f. Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berupa kata dan kalimat yang harus disalin dengan menggunakan aksara jawa; g. Siswa diminta untuk menyelesaikan LKS dengan (Intelectually); h. Beberapa siswa diminta untuk menuliskan pekerjaannya ke depan kelas; i. Guru memberikan reward atau penghargaan kepada kelompok yang terbaik; j. Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari; k. Guru memberikan evaluasi pada akhir pembelajaran l. Guru menutup pelajaran. Langkah pembelajaran yang dilaksanakan peneliti memadukan penerapan pendekatan Somatic Auditory Visualization Intelectually (SAVI) dengan media macromedia flash dengan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran menulis aksara Jawa, adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:
46 a. Guru menyiapkan media dan sumber belajar serta mengkondisikan siswa; b. Guru melakukan apersepsi; c. Guru menampilkan media macromedia flash di depan kelas. d. Guru menjelaskan kepada siswa mengenai materi menulis aksara Jawa dan memberikan contoh cara menulis aksara Jawa (permodelan); e. Siswa mendengarkan penjelasan guru (Auditory); f. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa melalui macromedia flash maupun contoh dari guru kemudian nantinya siswa menirukan cara menulis aksara Jawa (Visualization/somatic); g. Guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok (masyarakat belajar); h. Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada masing-masing kelompok yang berupa kata dan kalimat yang harus disalin dengan menggunakan aksara jawa; i. Siswa diminta untuk menyelesaikan LKS berupa kata dan kalimat yang harus disalin dengan menggunakan aksara jawa dengan cara berdiskusi (Intelectually); j. Perwakilan kelompok diminta untuk menuliskan hasil diskusi ke depan kelas; k. Guru memberikan reward atau penghargaan kepada kelompok yang terbaik; l. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika ada materi yang belum dipahami; m. Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari; n. Guru memberikan evaluasi pada akhir pembelajaran (penilaian autentik); o. Guru melakukan refleksi pada proses pembelajaran yang telah dilakukan.
47 2.2. KAJIAN EMPIRIS Penelitian Carito (2012) dengan judul Penerapan Pendekatan SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) Untuk Meningkatkan Kreativitas Dalam Pembelajaran Matematika Volume Bangun Ruang pada siswa kelas V SD Negeri 2 Bolong Kecamatan Karanganyar. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dalam dua siklus dengan penerapan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual (SAVI) dalam pembelajaran Matematika volume bangun ruang kubus dan balok pada siswa kelas V SDN 2 Bolong, Karanganyar dapat diambil kesimpulan bahwa: Penerapan pendekatan SAVI dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika materi volume bangun ruang pada siswa kelas V SD Negeri 2 Bolong, Karanganyar Tahun Ajaran 2012/2013. Peningkatan tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika materi volume bangun ruang kubus dan balok pada setiap siklusnya, yaitu sebelum tindakan (kondisi awal) nilai rata-rata kreativitas siswa dalam pembelajaran mate-matika hanya 1,23 dengan persentase ketuntasan klasikal siswa yang mencapai nilai kreativitas lebih atau sama dengan kategori sedang (1,6-2,4) sebesar 25% (4 siswa), siklus I nilai rata-rata kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika sebesar 1,73 dengan persentase ketuntasan klasikal siswa yang mencapai nilai kreativitas lebih atau sama dengan kategori sedang (1,6-2,4) sebesar 63% (10 siswa), dan siklus II nilai rata-rata kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika sebesar 2,24 dengan persentase ketuntasan klasikal siswa yang mencapai nilai kreativitas lebih atau
48 sama dengan kategori sedang (1,6-2,4) sebesar 81% (13 siswa). Dengan demikian, secara klasikal pembelajaran yang dilaksanakan telah mencapai ketuntasan belajar yang ditargetkan. Penelitian Kurniawan (2012) dengan judul Peningkatan Keterampilan Menulis aksara jawa melalui pendekatan Somatic Auditory Visualization Intelektually (SAVI) dengan media kartu kata pada siswa kelas IV SDN Tambakaji 03 Semarang. Penelitian dilaksanakan 2 siklus dengan 2 kali pertemuan pada setiap siklusnya yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar keterampilan menulis aksara jawa siswa kelas IV SDN Tambakaji 03 semarang melalui pendekatan SAVI dengan media kartu kata mengalami peningkatan. Hasil belajar keterampilan menulis aksara jawa siklus I pertemuan pertama sebesar 63% atau sebanyak 25 siswa dengan rata-rata kelas sebesar 71,78. Hasil belajar keterampilan menulis aksara Jawa siklus I pertemuan kedua, ketuntasan klasikal meningkat menjadi 73% atau sebanyak 29 siswa dengan rata-rata kelas sebesar 77,3. Hasil belajar keterampilan menulis aksara jawa siklus II pertemuan pertama, ketuntasan klasikal meningkat menjadi 78% atau sebanyak 31 siswa dengan rata-rata kelas sebesar 81,13. Hasil belajar keterampilan menulis aksara Jawa siklus II pertemuan kedua, ketuntasan klasikal meningkat menjadi 90% atau sebanyak 36 siswa dengan rata-rata kelas sebesar 87,6. Penelitian Irawati (2010) dengan judul Alternatif Pembelajaran Dengan Pendekatan SAVI Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SD/MI Terhadap Materi Membandingkan Pecahan Sederhana. Penelitian yang dilakukan sebanyak
49 tiga siklus ini ternyata memberikan hasil yang sangat memuaskan. Hal tersebut tampak pada hasil pembelajaran yang terus meningkat pada setiap siklusnya. Jika pada data awal tidak ada satu pun siswa yang tuntas atas batas ketuntasan minimal (persentase ketuntasannya 0%), pada pembelajaran di siklus pertama persentase siswa yang tuntas naik menjadi 46,15%, kemudian pada siklus kedua persentase ketuntasan tersebut naik kembali menjadi 76,92%. Peningkatan persentase ketuntasan siswa tersebut terus meningkat kembali pada tindakan di siklus ketiga, yakni hingga mencapai 100%. Dengan demikian seluruh siswa kelas III MI Cipeundeuy telah tuntas atas batas minimal ketuntasan yang telah ditentukan tersebut. Artinya, bahwa pembelajaran membandingkan pecahan sederhana dengan menggunakan pedekatan SAVI di kelas III MI Cipeundeuy ini telah berhasil meningkatkan pemahaman siswa kelas III tersebut terhadap materi membandingkan pecahan sederhana. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan peneliti dengan penelitianpenelitian di atas adalah peneliti tidak hanya menggunakan pendekatan SAVI dalam pembelajaran tetapi peneliti memadukan pendekatan SAVI dengan pembelajaran kontekstual serta peneliti menggunakan macromedia Flash untuk lebih memudahkan peneliti memyampaikan materi kepada siswa. Peneliti mengambil lima komponen dari tujuh komponen yang ada dalam pembelajaran kontekstual yang nantinya akan dipadukan dengan pendekatan SAVI. Komponen tersebut, ialah: (1) bertanya; (2) masyarakat belajar; (3) permodelan; (4) refleksi; (5) penilaian autententik. Dengan memadukan antara pendekatan SAVI dan pembelajaran kontekstual serta menggunakan macromedia flash diharapkan dapat
50 meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis aksara jawa, keterampilan guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan SAVI dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang meliputi keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran. Sehingga dengan melihat kajian empiris tersebut dapat menjadi acuan dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa melalui pendekatan Somatic Auditory Visualization Intelectually (SAVI) dengan Macromedia Flash Pada Siswa Kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. 2.3. KERANGKA BERPIKIR Kegiatan belajar mengajar di kelas sering kita jumpai beberapa masalah. Antara lain kurangnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran, hal itu dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya variasi mengajar yang dilakukan guru, pembelajaran cenderung berpusat pada guru sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran, kurangnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran dan penggunaan media pembelajaran yang masih kurang optimal. Berdasarkan observasi di kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang ditemukan masalah dalam pembelajaran Bahasa Jawa diantaranya model pembelajaran yang digunakan guru kurang bervariasi, pembelajaran masih berpusat pada guru, penggunaan media atau alat peraga kurang optimal. Hal tersebut berakibat pada hasil belajar siswa yang kurang maksimal, siswa kurang
51 antusias dalam pembelajaran, kesadaran siswa saat berperan aktif dalam pembelajaran masih kurang, dan minat belajar siswa kurang saat pembelajaran berlangsung. Hal tersebut dibuktikan dari hasil rata-rata ulangan harian siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang mata pelajaran Bahasa Jawa khususnya menulis aksara Jawa masih jauh dari Kriteria Ketuntasaan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu sebesar 70 dimana dari 41 siswa hanya 4 atau 10% siswa yang rata-ratanya 70 sedangkan 37 atau 90% siswa rata-ratanya 70; nilai ratarata tertinggi 83,3 sedangkan rata-rata terendah 26,6; nilai rata-rata kelas 50,8. Dengan melihat data hasil belajar dan pelaksanaan mata pelajaran tersebut perlu sekali proses pembelajaran untuk ditingkatkan kualitasnya. Berdasar data hasil belajar dan pelaksanakan mata pelajaran Bahasa Jawa khususnya menulis aksara Jawa perlu sekali proses pembelajaran untuk ditingkatkan kualitasnya yang meliputi keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil diskusi dengan tim peneliti pendekatan SAVI dipandang dapat memecahkan permasalahan tentang rendahnya kualitas pembelajaran Bahasa Jawa meliputi rendahnya keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. Hal tersebut di atas dapat digambarkan dalam bagan kerangka berfikir sebagai berikut:
52 Kondisi Awal 1. Guru a. Model pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi dan kurang mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran b. Kurang mengoptimalkan media atau alat peraga yang ada dalam proses pembelajaran 2. Siswa a. Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran b. Kurangnya pembiasaan penggunaan bahasa jawa pada siswa c. Kesadaran siswa dalam berperan aktif pada saat pembelajaran masih kurang. d. Minat belajar siswa kurang dalam pembelajaran. Tindakan 1) Guru menyiapkan media dan sumber belajar serta mengkondisikan siswa; 2) Guru melakukan apersepsi; 3) Guru menjelaskan kepada siswa mengenai materi menulis aksara jawa dan memberikan contoh cara menulis aksara jawa; 4) Siswa mendengarkan penjelasan guru (Auditory); 5) Siswa mengamati guru dalam memberikan contoh cara menulis aksara jawa (Visualization); 6) Guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok; 7) Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada masingmasing kelompok yang berupa kata dan kalimat yang harus disalin dengan menggunakan aksara jawa; 8) Siswa diminta untuk menyelesaikan LKS dengan cara berdiskusi (Intelectually); 9) Perwakilan kelompok diminta untuk menuliskan hasil diskusi ke depan kelas (Somatic); 10) Guru memberikan reward atau penghargaan kepada kelompok yang terbaik; 11) Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari; 12) Guru memberikan evaluasi pada akhir pembelajaran. 13) Guru menutup pelajaran. Kondisi Akhir 1) Keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran meningkat 2) Aktivitas siswa dalam pembelajaran meningkat 3) Hasil belajar siswa maningkat Gambar 2.1. Bagan kerangka berpikir
53 2.4. HIPOTESIS TINDAKAN Berdasarkan kajian teori, kajian empiris dan kerangka berpikir, hipotesis penelitian adalah pembelajaran melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash dapat meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. RANCANGAN PENELITIAN Menurut Arikunto (2009: 16) tiap siklus dalam penelitian tindakan kelas terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Adapun skema dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas sebagai berikut: Perencanaan Refleksi Refleksi Refleksi Siklus I Pengamatan Perencanaan Siklus II Pengamatan Perencanaan Siklus III Pengamatan Pelaksanaa n Pelaksanaa n Pelaksanaa n Gambar 3.1 Bagan Siklus Penelitian Tindakan Kelas Menurut Arikunto (2009: 16) pelaksanaan PTK terdapat 4 tahap penting, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Keempatnya harus terencana sebaik mungkin agar pelaksanaan penelitian dapat terlaksana dan mendapat hasil yang sesuai dengan keinginan peneliti. Tahapan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: 54
55 3.1.1. Perencanaan Perencanaan adalah tahap menyusun rencana tindakan yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut akan dilakukan (Arikunto, 2009: 17). Menurut Mulyasa (2010: 70-71) rencana pelaksanaan penelitian tindakan kelas antara lain mencakup kegiatan sebagai berikut: a. Tim peneliti melakukan analisis standar isi untuk mengetahui Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) yang akan diajarkan kepada peserta didik. b. Mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dengan memperhatikan indikator-indikator hasil belajar. c. Mengembangkan alat peraga, alat bantu, atau media pembelajaran yang menunjang pembentukan SKKD dalam implementasi PTK. d. Menganalisis berbagai alternatif pemecahan masalah yang sesuai dengan kondisi pembelajaran. e. Mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS). f. Mengembangkan pedoman atau instrumen yang akan digunakan dalam siklus PTK. g. Menyusun alat evaluasi pembelajaran sesuai indikator hasil belajar. 3.1.2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan yaitu implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang sudah
56 dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan secara seksama agar sesuai dengan maksud semula (Arikunto, 2009: 18). 3.1.3. Observasi observasi mencakup prosedur perekaman data tentang proses dan hasil implementasi tindakan yang dilakukan dengan menggunakan pedoman atau instrumen yang telah disiapkan sebelumnya. Dalam penelitian ini pengamatan dilakukan secara kolaborasi yaitu pihak yang melakukan tindakan adalah peneliti sedangkan yang melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah guru mitra yang diminta untuk menjadi pengamat (Mulyasa, 2009: 71). 3.1.4. Refleksi Menurut Arikunto (2009: 19) refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah refleksi berasal dari kata bahasa inggris reflection, yang artinya pemantulan. Kegiatan refleksi ini dilakuakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Menurut Mulyasa (2010: 71) menyebutkan bahwa refleksi adalah kegiatan menguraikan tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi tentang proses dan dampak tindakan perbaikan yang dilakukan, serta kriteria dan rencana tindakan pada siklus berikutnya.
57 3.2. PERENCANAAN TAHAP PENELITIAN Tindakan penelitian ini dilakukan melalui tiga siklus dengan satu kali pertemuan pada masing-masing siklus. 3.2.1. Siklus pertama 3.2.1.1.Perencanaan a. Peneliti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). b. Menyiapkan sumber dan media pembelajaran c. Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis atau lembar soal dan lembar kerja siswa d. Menyiapkan lembar pengamatan keterampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran. e. Menyiapkan lembar pengamatan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. 3.2.1.2.Pelaksanaan Tindakan Penerapan pendekatan SAVI pada siklus pertama dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut: a. Guru menyiapkan media dan sumber belajar serta mengkondisikan siswa; b. Guru melakukan apersepsi dengan bertanya kepada siswa Sapa sing bisa nulis aksara Jawa? c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. d. Guru menampilkan macromedia Flash di depan kelas. (eksplorasi) e. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa yang ditampilkan melalui macromedia flash. (eksplorasi/visualization/somatic)
58 f. Guru menjelaskan materi bahasa Jawa tentang cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. (eksplorasi) g. Guru memberikan beberapa contoh cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. (eksplorasi) h. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. (eksplorasi/auditory) i. Guru meminta beberapa siswa untuk menuliskan aksara Jawa di depan kelas sesuai dengan kata yang diberikan oleh guru. (eksplorasi/somatic) j. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok. (elaborasi) k. Guru membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok yang berisi tentang kata dan kalimat yang harus disalin ke dalam aksara jawa. (elaborasi) l. Siswa mengerjakan LKS yang berisi tentang kata dan kalimat yang harus disalin ke dalam aksara Jawa dengan berdiskusi dengan anggota kelompok (elaborasi/intelectually). m. Perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi dengan menuliskan jawaban di papan tulis. (elaborasi) n. Perwakilan kelompok yang menulis benar akan diberikan reward. (konfirmasi) o. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang kurang jelas. (konfirmasi) p. Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari q. Guru melakukan refleksi mengenai proses pembelajaran yang telah dilakukan
59 r. Guru memberikan soal evaluasi s. Guru menyampikan tujuan pembelajaran pada pertemuan berikutnya. t. Guru menutup pelajaran 3.2.1.3.Observasi a. Melakukan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Jawa melalui pendekatan SAVI. b. Melakukan pengamatan keterampilan guru dalam pembelajaran bahasa Jawa melalui pendekatan SAVI. 3.2.1.4.Refleksi a. Mengevaluasi proses dari hasil pembelajaran siklus I, mengenai kelemahan dan kelebihan penggunaan pendekatan SAVI kemudian mempertimbangkan langkah selanjutnya. b. Melakukan evaluasi terhadap siswa dan guru serta hasil belajar siswa pada siklus pertama. c. Mengkaji ulang pelaksanaan pembelajaran dan dampak tindakan pada siklus pertama. d. Mencatat kelemahan proses pembelajaran pada siklus pertama e. Merencanakan pelaksanaan tindak lanjut untuk siklus kedua. 3.2.2. Siklus kedua 3.2.2.1.Perencanaan a. Peneliti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). b. Menyiapakan sumber dan media pembelajaran berupa buku materi bahasa Jawa, alat tulis.
60 c. Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis atau lembar soal dan lembar kerja siswa d. Menyiapkan lembar pengamatan keterampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran. e. Menyiapkan lembar pengamatan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. 3.2.2.2.Pelaksanaan tindakan Penerapan pendekatan SAVI pada siklus kedua dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut: a. Guru menyiapkan media dan sumber belajar serta mengkondisikan siswa; b. Guru melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab dengan siswa sapa sing pernah menyang sawah?, Sapa sing bisa nulis aksara jawane sawah? c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. d. Guru menampilkan macromedia flash di depan kelas. (eksplorasi) e. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa yang ditampilkan melalui macromedia flash. (eksplorasi/visualization/somatic) a. Guru menjelaskan materi bahasa Jawa tentang cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon (eksplorasi) b. Guru memberikan beberapa contoh cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. (eksplorasi)
61 c. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon.(eksplorasi/auditory) d. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. (eksplorasi/visualization) e. Guru meminta beberapa siswa untuk menuliskan aksara Jawa di depan kelas sesuai dengan kata yang diberikan oleh guru. (eksplorasi/somatic) f. Guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok, sesuai dengan kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. (elaborasi) g. Guru membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok yang berisi tentang kata dan kalimat yang harus disalin ke dalam aksara jawa. (elaborasi) h. Siswa mengerjakan LKS yang berisi tentang kata dan kalimat yang harus disalin ke dalam aksara jawa dengan berdiskusi dengan anggota kelompok (elaborasi/intelectually). i. Perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi dengan menuliskan jawaban di papan tulis. (elaborasi) j. Perwakilan kelompok yang menulis benar akan diberikan reward. (konfirmasi) k. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang kurang jelas. (konfirmasi) l. Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah di pelajari m. Guru melakukan refleksi mengenai proses pembelajaran yang telah dilakukan. n. Guru memberikan soal evaluasi o. Guru menyampikan tujuan pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
62 p. Guru menutup pelajaran 3.2.2.3.Observasi a. Melakukan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Jawa melalui pendekatan SAVI. b. Melakukan pengamatan keterampilan guru dalam pembelajaran bahasa Jawa melalui pendekatan SAVI. 3.2.2.4.Refleksi a. Mengevaluasi proses dari hasil pembelajaran siklus II, mengenai kelemahan dan kelebihan penggunaan pendekatan SAVI kemudian mempertimbangkan langkah selanjutnya. b. Melakukan evaluasi terhadap siswa dan guru serta hasil belajar siswa pada siklus kedua. c. Mengkaji ulang pelaksanaan pembelajaran dan dampak tindakan pada siklus kedua. d. Mencatat kelemahan proses pembelajaran pada siklus kedua e. Menganalisi proses dan hasil pembelajaran siklus pertama dan siklus kedua. f. Merencanakan pelaksanaan tindak lanjut untuk siklus ketiga. 3.2.3. Siklus ketiga 3.2.3.1.Perencanaan a. Peneliti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). b. Menyiapkan sumber dan media pembelajaran c. Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis atau lembar soal dan lembar kerja siswa
63 d. Menyiapkan lembar pengamatan keterampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran. e. Menyiapkan lembar pengamatan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. 3.2.3.2.Pelaksanaan Tindakan Penerapan pendekatan SAVI pada siklus ketiga dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut: a. Guru mengkondisikan kelas, dengan berdoa, presensi dan meminta siswa mempersiapkan buku pelajaran. b. Guru melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawa dengan siswa Sapa sing pernah numpak kreta?, Sapa sing bisa nulis aksara jawane kreta? c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. d. Guru menampilkan macromedia Flash di depan kelas. (eksplorasi) e. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa yang ditampilkan melalui macromedia flash. (eksplorasi/visualization/somatic) f. Guru menjelaskan materi bahasa jawa tentang cara menulis aksara Jawa dengan sandhangan panyigeg wyanjana (pengkal, cakra dan keret). (eksplorasi) g. Guru memberikan beberapa contoh cara menulis aksara jawa dengan sandhangan panyigeg wyanjana (pengkal, cakra dan keret). (eksplorasi) h. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai cara menulis aksara Jawa dengan sandhangan panyigeg wyanjana (pengkal, cakra dan keret).(eksplorasi/auditory)
64 i. Siswa mengamati guru dalam memberikan contoh menulis aksara jawa dengan sandhangan panyigeg wyanjana (pengkal, cakra dan keret). (eksplorasi/visualization) j. Guru meminta siswa untuk menuliskan aksara jawa ke depan kelas sesuai dengan kata yang diberikan guru (eksplorasi/somatic) k. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok, sesuai dengan kelompok pada pertemuan sebelumnya. (elaborasi) l. Guru membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok yang berisi tentang kata dan kalimat yang harus disalin ke dalam aksara jawa. (elaborasi) m. Siswa mengerjakan LKS yang berisi tentang kata dan kalimat yang harus disalin ke dalam aksara jawa. dengan berdiskusi dengan anggota kelompok (elaborasi/intelectually). n. Perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi dengan menuliskan jawaban di papan tulis. (elaborasi) o. Perwakilan kelompok yang menulis benar akan diberikan reward. (konfirmasi) p. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang kurang jelas. (konfirmasi) q. Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari r. Guru melakukan refleksi mengenai pembelajaran yang telah dilakukan s. Guru memberikan soal evaluasi t. Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
65 3.2.3.3.Observasi a. Melakukan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran Bahasa Jawa melalui pendekatan SAVI. b. Melakukan pengamatan keterampilan guru dalam pembelajaran Bahasa Jawa melalui pendekatan SAVI. 3.2.3.4.Refleksi a. Mengevaluasi proses dari hasil pembelajaran siklus II, mengenai kelemahan dan kelebihan penggunaan pendekatan SAVI kemudian mempertimbangkan langkah selanjutnya. b. Melakukan evaluasi terhadap siswa dan guru serta hasil belajar siswa pada siklus kedua. c. Mengkaji ulang pelaksanaan pembelajaran dan dampak tindakan pada siklus kedua. d. Mencatat kelemahan proses pembelajaran pada siklus kedua e. Menganalisi proses dan hasil pembelajaran siklus pertama, siklus kedua dan siklus ketiga. f. Apabila ketuntasan belajar siswa sudah tercapai sesuai dengan KKM dan indikator yang diharapkan maka tiga siklus dipandang cukup, apabila ketuntasan belum tercapai maka peneliti melaksanakan siklus selanjutnya.
66 3.3. SUBJEK PENELITIAN Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. Jumlah siswa yang diteliti sebanyak 41, yang terdiri atas siswa putra 19 dan siswa putri 22. 3.4. TEMPAT PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. 3.5. VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Keterampilan guru dalam mengajarkan keterampilan menulis aksara Jawa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash. b. Aktivitas siswa pada pembelajaran menulis aksara Jawa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash. c. Hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis aksara Jawa Kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash.
67 3.6. DATA DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA 3.6.1. Sumber Data Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan (Arikunto, 2006: 129). 3.6.1.1.Siswa Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini akan diperoleh peneliti dari observasi secara sistematis terhadap aktivitas siswa selama pelaksanaan siklus pertama sampai siklus ketiga, hasil evaluasi belajar siswa, dan wawancara dengan guru. 3.6.1.2.Guru Sumber data guru berasal dari hasil observasi terhadap keterampilan guru dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash dari siklus pertama sampai siklus ketiga. 3.6.1.3.Dokumentasi Sumber data dokumen berasal dari data awal hasil-hasil tes sebelum dilakukan tindakan, foto selama peroses pelaksanaan tindakan, dan hasil evaluasi siswa setelah dilakukan tindakan.
68 3.6.2. Jenis Data Data dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 3.6.2.1.Data Kuantitatif Data kuantitatif (nilai hasil belajar siswa) adalah data yang dapat dianalisis secara deskriptif. Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis statistik deskriptif. Misalnya mencari nilai rerata, persentase keberhasilan belajar (Arikunto, 2009: 131) Data kuantitatif dalam penelitian ini berupa hasil belajar siswa melalui pemberian tes secara individu pada setiap siklus. 3.6.2.2.Data Kualitatif Data kualitatif adalah data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang ekspresi siswa tentang tingkat pemahaman terhadap suatu mata pelajaran (kognitif), pandangan atau sikap siswa terhadap metode belajar yang baru (afektif), aktivitas siswa mengikuti pelajaran, antusias dalam belajar dan motivasi belajar yang dapat dianalisis secara kualitatif (Arikunto, 2009: 131). Data kualitatif dalam penelitian ini berupa hasil lembar pengamatan keterampilan guru dan aktivitas siswa, hasil wawancara mengenai aktivitas siswa, serta foto selama proses pelaksanaan tindakan.
69 3.6.3. Teknik pengumpulan data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi teknik tes dan nontes. 3.6.3.1.Teknik Tes Menurut Collegiate, tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mrngukur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Butir-butir tes disusun menurut cara dan aturan tertentu, prosedur administrasi dan pemberian angka harus jelas dan spesifik, dan setiap siswa yang mengambil tes harus mendapat butir-butir yang sama dan dalam kondisi yang sebanding (Purwanto, 2009: 64). Dalam hal ini tes digunakan untuk mengukur pencapaian siswa setelah mempelajari materi menulis aksara Jawa yang diberikan pada setiap akhir pertemuan selama pelaksanaan tindakan yang berupa lembar evaluasi. 3.6.3.2.Non tes a. Observasi Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan observasi, antara lain: (1) Diarahkan pada tujuan tertentu, bukan bersifat spekulatif, melainkan sistematis dan terencana; (2) dilakukan pencatatan sesegera mungkin, jangan ditangguhkan dengan mengandalkan kekuatan daya ingat; (3) diusahakan sedapat mungkin, pencatatan secara kuantitatif; (4) hasilnya harus dapat diperiksa kembali untuk diuji kebenarannya (Fathoni, 2006: 104-105).
70 Instrumen observasi penelitian berupa lembar pengamatan yang digunakan untuk mengamati keterampilan guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI. b. Wawancara Wawancara atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Wawancara digunakan peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu (Arikunto, 2006: 155). Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancarai (Fathoni, 2006: 105). Dalam penelitian ini wawancara digunakan untuk memperkuat data hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash. c. Dokumentasi Dokumentasi, dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan catatan harian. (Arikunto, 2006: 158). Dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk menggambarkan aktivitas siswa dan guru saat proses pembelajaran berlangsung dan untuk memperkuat sumber data yang lain.
71 d. Catatan lapangan Catatan lapangan adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data secara objektif yang tidak terekam dalam lembar observasi (Arikunto, 2009:78). Dalam penelitian ini catatan lapangan berasal dari catatan selama proses pembelajaran berupa data keterampilan guru dan aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash. 3.7. TEKNIK ANALISIS DATA 3.7.1. Data Kuantitatif Data kuantitatif berupa hasil belajar kognitif, dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan mean atau rerata terhadap skor yang diperoleh siswa. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode Penilaian Acuan Patokan (PAP). PAP berarti membandingkan skor-skor hasil tes peserta didik dengan kriteria atau patokan yang secara absolut/mutlak telah ditetapkan guru (Poerwanti, 2008: 6-14). Metode PAP digunakan pada sistem penilaian skala-100. Menurut Poerwanti (2008: 6-15) skala-100 berangkat dari persentase yang mengartikan skor prestasi sebagai proporsi penguasaan peserta didik pada suatu perangkat tes dengan batas minimal angka 0 sampai dengan 100 persen (%).
72 berikut: Langkah-langkah analisis data kuantitatif dalam penelitian ini sebagai a. Data nilai hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan rumus: Nilai = Keterangan: B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar N = Banyaknya butir soal (Poerwanti dkk, 2008: 6.3) b. Data nilai rata-rata dianalisa dengan menggunakan rumus: X = (Aqib, dkk, 2011: 40) Keterangan: X = Nilai rata-rata = Jumlah semua nilai siswa = Jumlah siswa c. Data ketuntasan klasikal dianalisa dengan menggunakan rumus: P = x 100% (Aqib, dkk, 2011: 41)
73 Tabel 3.1 Kriteria Ketuntasan Minimal Bahasa Jawa SDN Petompon 02 Semarang Kriteria Kentuntasan Kualifikasi 70% Tuntas 70% Tidak Tuntas (Sumber : KKM Bahasa Jawa SDN Petompon 02 Semarang) 3.7.2. Data Kualitatif Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi terhadap keterampilan guru dan aktivitas siswa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash selama pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi. Menurut Poerwanti dkk (2008: 6.9) menjelaskan bahwa penskoran data kualitatif dalam bentuk contoh instrumen untuk mengukur minat peserta didik yang telah berhasil dibuat adalah 10 butir. Jika rentang yang dipakai adalah 1-5 maka skor terendah adalah 10, yakni dari 10x1 dan skor tertinggi adalah 50, yakni dari 10x5. Dengan demikian mediannya adalah (10 + 50)/2 yaitu sebesar 30. Jika dibagi menjadi 4 kategori maka skala 10-20 termasuk tidak berminat, 21-30 kurang berminat, 31-40 berminat dan 41-50 sangat berminat. Berdasarkan contoh di atas untuk menentukan skor dalam 4 kategori dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Menentukan skor maksimal dan skor minimal dari data yang ada. 2) Menentukan median dari data skor yang diperoleh. 3) Membagi rentang skor menjadi 4 kategori (sangat baik, baik, cukup dan kurang)
74 Jika : M = Skor Maksimal K = Skor Minimal n = Banyaknya Data Jadi n = ( M K ) + 1 Maka rumus digunakan rumus kuartil (nilai-nilai kuartil akan membagi 4 sama banyak terhadap banyak data) sebagai berikut: Letak Q1 = ( ) untuk n data genap atau Q1 = ( ) untuk n data ganjil. Letak Q2 = ( ) untuk data genap dan data ganjil. Letak Q3 = ( ) untuk data genap atau Q3 = ( ) untuk data ganjil. Letak Q4 = skor maksimal (Herrhyanto, dkk, 2008: 5.3-5.4). Maka didapat: Tabel 3.2 Kriteria Ketuntasan Keterampilan Guru dan Aktivitas Siswa Kriteria ketuntasan Q3 skor M Q2 skor < Q3 Q1 skor < Q2 N skor < Q1 Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Berdasarkan perhitungan data diatas, maka dapat dibuat tabel klasifikasi tingkat nilai untuk menentukan keterampilan guru dan aktivitas siswa pada pembelajaran bahasa Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia. Dan
75 masing-masing tabel klasifikasi tingkatan nilai diperoleh dari skor tiap indikator baik pada keterampilan guru maupun aktivitas siswa dengan rincian perhitungan terlampir. Tabel 3.3 Klasifikasi Tingkat Nilai Keterampilan Guru Kriteria ketuntasan Kategori Nilai 12 skor 16 Sangat baik A 9 skor < 12 Baik B 6 skor < 9 Cukup C 4 skor < 6 Kurang D Tabel 3.4 Klasifikasi Tingkat Nilai Aktivitas Siswa Kriteria ketuntasan Kategori Nilai 12 skor 16 Sangat baik A 9 skor < 12 Baik B 6 skor < 9 Cukup C 4 skor < 6 Kurang D
76 3.8. INDIKATOR KEBERHASILAN Pendekatan SAVI dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas IV SDN petompon 02 Semarang dalam pembelajaran bahasa Jawa khususnya dalam materi menulis aksara Jawa, dengan indikator sebagai berikut: a. Keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa dengan menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash meningkat dengan kriteria minimal baik. b. Aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa dengan menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash meningkat dengan kriteria minimal baik. c. Hasil belajar menulis aksara Jawa siswa kelas IVA SDN Petompon 02 semarang meningkat dengan ketuntasan belajar individual sebesar dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 80%.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PENELITIAN Penelitian tindakan kelas mengenai penerapan pendekatan SAVI dengan macromedia flash yang dilaksanakan di kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang dengan jumlah siswa 41 anak terdiri dari 22 siswa putri dan 19 siswa putra. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus, setiap siklus terdiri dari satu kali pertemuan yang meliputi empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi dengan alokasi waktu masing-masing siklus 1 x pertemuan atau 2 x 35 menit. Berikut akan peneliti paparkan hasil penelitian yang terdiri dari pemaparan keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar dalam pembelajaran menulis aksara Jawa dengan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. Untuk lebih jelasnya akan dijabarkan pada deskripsi pelaksanaan pembelajaran per siklus sebagai berikut : 4.1.1. Deskripsi Data Pelaksanaan Siklus I 4.1.1.1. Deskripsi Observasi Proses Pembelajaran Siklus I 4.1.1.1.1. Observasi a. Hasil Observasi Keterampilan Guru Hasil observasi keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus I diperoleh data sebagai berikut: 77
78 No Tabel 4.1 Data Hasil Observasi Keterampilan Guru siklus I Keterampilan Guru 1 Mengajukan pertanyaan kepada siswa (keterampilan bertanya) 2 Menjelaskan materi pembelajaran (keterampilan menjelaskan) 3 Membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok) 4 Pengelolaan kelas (keterampilan mengelola kelas) Tingkat Kemampuan Skor Kategori 1 2 3 4 2 C 2 C 2 C 3 B Jumlah 9 Kriteria B (Baik) Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa jumlah skor keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash adalah 9 dengan kriteria baik. Keterampilan dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash meliputi: 1) Mengajukan pertanyaan kepada siswa (keterampilan bertanya) Keterampilan bertanya pada siklus I memperoleh skor 2 dengan kategori cukup. Hal ini ditunjukkan dengan guru hanya mengajukan pertanyaan kepada siswa yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari dan memberikan waktu berpikir. Dalam hal ini guru mengajukan pertanyaan mengenai sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar, bagaimana cara menulisnya, dan bagaimana cara membaca aksara Jawa jika dberi sandhangan tersebut. Waktu yang diberikan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan sudah cukup lama, sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan dengan tepat. Guru belum memberikan pertanyaan
79 secara acak kepada siswa dan pertanyaan yang diberikan guru masih sulit untuk dipahami siswa. Sebagian pertanyaan yang diberikan guru masih terlalu sulit, baik kata maupun bahasanya, sehingga siswa sulit untuk menjawabnya. Guru masih memberikan pertanyaan kepada siswa tertentu, belum secara menyeluruh. 2) Menjelaskan materi pelajaran (keterampilan menjelaskan) Keterampilan menjelaskan media pembelajaran yang digunakan pada siklus I guru memperoleh skor 2 dengan kategori cukup. Hal ini guru hanya menggunakan media pembelajajaran tanpa menjelaskan terlebih dahulu media yang akan digunakan. Dalam hal ini guru belum menjelaskan apa itu macromedia flash, bagaimana cara menggunakannya, dan fungsinya. Guru sudah menampilkan media aksara Jawa tetapi guru belum menampilkan contoh menulis aksara Jawa dengan media yang digunakan. Dalam menampilkan media contoh yang diberikan belum terlalu jelas, masih terlalu sulit dipahami siswa. 3) Membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil) Keterampilan membimbing diskusi kelompok skor yang diperoleh guru adalah 2 dengan kategori cukup. Dalam hal ini guru hanya membimbing siswa mengerjakan LKS dan mendengarkan pendapat siswa ketika berdiskusi. Dalam hal ini guru hanya memberikan pengarahan dan bimbingan mengenai cara mengerjakan LKS, dan jika ada pertanyaan dari siswa guru hanya mendengarkan tetapi belum memberikan tanggapan. Guru belum menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi dan Guru belum menutup diskusi.
80 4) Pengelolaan kelas (keterampilan mengelola kelas) Pengelolaan kelas guru pada siklus I ditunjukan dengan guru memberikan penguatan kepada siswa, menggunakan media pembelajaran dan membimbing diskusi kelompok. Penguatan yang diberikan kepada siswa baik verbal maupun non verbal sudah dilakukan guru dengan baik. Begitu pula dengan media yang ditampilkan, sudah sesuai dengan materi yang disampaikan oleh guru. Tetapi pengkondisian kelas yang dilakukan guru belum maksimal. Masih banyak siswa yang ramai, bermain dengan teman sebangku, dan tidak memperhatikan penjelasan guru. Sehingga dalam keterampilan mengelola kelas guru memperoleh skor 3 dengan kategori baik. Hasil observasi keterampilan guru pada siklus I digambarkan dalam diagram sebagai berikut: P e r o l e h a n n i l a i 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 2 2 2 1 2 3 4 Aspek yang diamati 3 Gambar 4.1 Diagram Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus I Keterangan: 1. Mengajukan pertanyaan kepada siswa(keterampilan bertanya) 2. Menjelaskan materi pelajaran (keterampilan menjelaskan)
81 3. Membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil) 4. Pengelolaan kelas (keterampilan mengelola kelas) b. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa pada siklus I sebagai berikut: Tabel 4.2 Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I No Indikator Tingkat Kemampuan JS Rt2 K 1 2 3 4 1. Mendengarkan penjelasan guru 5 26 9 1 88 2,12 C 2. Menulis aksara Jawa 3 29 7 2 90 2,22 C 3. Berdiskusi dalam kelompok 5 24 11 1 90 2,09 C 4. Mengamati media yang ditampilkan guru 3 24 12 2 95 2,27 C Jumlah 363 8,07 C Keterangan : JS= Jumlah Skor Rt2= Rata-rata K= Kategori Hasil observasi aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus I diperoleh jumlah skor 363 dan rata-rata 8,07 dengan kategori cukup. berikut: Hasil observasi aktivitas siswa dijabarkan dalam setiap indikator sebagai 1) Mendengarkan penjelasan guru Hasil observasi mendengarkan penjelasan guru yang terdiri dari 4 indikator yaitu (1) menyimak pejelasan guru; (2) menyimak media pembelajaran aksara Jawa; (3) mendengarkan pertanyaan dari siswa lain; dan
82 (4) mendengarkan penjelasan guru diperoleh jumlah skor 88 dan rata-rata skor 2,12 dengan kategori cukup. Hal ini ditunjukkan dengan 5 siswa telah melakukan 1 deskriptor, 26 siswa melakukan 2 deskriptor, 9 siswa telah melakukan 3 deskriptor dan 1 siswa telah melakukan semua deskriptor. Pada siklus I masih banyak siswa yang tidak mendengarkan penjelasan dari guru, masih banyak siswa yang ramai sendiri. 2) Menulis aksara Jawa Keterampilan menulis aksara Jawa yang tediri dari 4 indikator yaitu (1) berani memberikan contoh menulis aksara awa di depan kelas; (2) menuliskan hasil diskusi di lembar jawab; (3) menulis hasil diskusi di depan kelas; dan (4) mencatat materi di buku catatan masing-masing memperoleh skor 90 dengan rata-rata skor 2,22 dan kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan menulis aksara Jawa masih kurang. Sebanyak 3 siswa telah melakukan 1 deskriptor, 29 siswa telah melakukan 2 deskriptor, 7 siswa telah melakukan 3 deskriptor dan hanya 2 siswa yang melakukan semua deskriptor. Masih banyak siswa yang malu untuk menuliskan contoh di papan tulis, dan masih ada siswa yang tidak mencatat pada buku catatan masing-masing. 3) Berdiskusi dalam kelompok Kegiatan diskusi dengan kelompok yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengerjakan LKS; (2) mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas; (3) mengeluarkan pendapat ketika berdiskusi; dan (4) menanggapi pendapat dalam dikusi memperoleh jumlah skor 90 dengan rata-rata skor 2,09 dan kategori cukup. Sebanyak 5 siswa telah melakukan 1 deskriptor, 24 siswa
83 melakukan 2 deskriptor, 11 siswa telah melakukan 3 deskriptor dan hanya 1 siswa melakukan semua deskriptor. Ketika berdiskusi masih banyak siswa yang kurang berpartisipasi dalam kelompok. Hanya beberapa siswa yang mengerjakan LKS, sedangkan siswa yang lain ramai dan bermain sendiri. 4) Mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas Indikator mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengamati media aksara jawa yang ditampilkan guru; (2) mengamati cara menulis aksara Jawa sesuai gambar yang ditampilkan: (3) siswa fokus pada media yang ditampilkan; dan (4) mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas pada siklus I memperoleh jumlah skor 95 dan rata-rata skor 2,27 dengan kategori cukup. Ada 3 siswa telah melakukan 1 deskriptor, 24 siswa melakukan 2 deskriptor, 12 siswa melakukan 3 deskriptor dan hanya 2 siswa telah melakukan semua deskriptor. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I digambarkan dalam diagram sebagai berikut: p e r o l e h a n S k o r 95 90 85 80 95 88 90 90 1 2 3 4 Aspek yang diamati Gambar 4.2 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I
84 Keterangan: 1. Mendengarkan penjelasan guru 2. Menulis aksara Jawa 3. Berdiskusi dalam kelompok 4. Mengamati media yang ditampilkan guru c. Paparan Hasil Belajar Siswa Hasil belajar siklus I diperoleh dari hasil tes evaluasi yang dilakukan pada akhir pembelajaran. Dari hasil evaluasi pada siklus I materi menuulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar dengan pendekatan SAVI menggunakan macromedia flash diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.3 Daftar Distribusi Frekuensi Kuantitatif Hasil Belajar pada Siklus I Interval Nilai Frekuensi Prosentase Frekuensi Komulatif Kualitatif 100 - - - 90-99 - - - 80-89 1 2,43% 1 Tuntas 70-79 14 34,14% 15 Tuntas 60-69 4 9,75% 19 Tidak Tuntas 50-59 8 19,51% 27 Tidak Tuntas 40-49 4 9,75% 31 Tidak Tuntas 30-39 4 9,75% 35 Tidak Tuntas 20-29 6 14,68% 41 Tidak Tuntas Jumlah 41 100% 41 Nilai Rata-Rata 51,21 KKM 70 Siswa Tuntas Belajar 15 Siswa belum Tuntas Belajar 26 Prosentase Ketutasan Minimal 36,58%
85 Hasil belajar siswa siklus I dalam pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash diperoleh data yaitu dari 41 siswa 15 siswa tuntas belajar dan 26 belum tuntas belajar dengan prosentase ketuntasan klasikal sebesar 36,58%. Data hasil analisis evaluasi disajikan dalam bentuk diagram berikut: 40 20 0 15 26 Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas Siswa Tuntas Gambar 4.3 Diagram Hasil Belajar Siswa Siklus I Berdasarkan diagram batang diatas menunjukkan 15 atau 36,58% siswa mengalami ketuntasan belajar, dan 26 atau 63,42% siswa tidak tuntas. Dari hasil yang diperoleh pada siklus I dapat dilihat bahwa proses pembelajaran belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu 80% siswa mengalami ketuntasan belajar klasikal. 4.1.1.1.2. Refleksi Peneliti dan kolaborator melakukan refleksi untuk menganalisis proses belajar mengajar yang telah dilakukan pada siklus I. Dalam melakukan refleksi, data yang dianalisis meliputi deskripsi keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar yang berupa nilai hasil tes evaluasi pada akhir pembelajaran. Refleksi ini dilakukan peneliti bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan serta langkah perbaikan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.
86 Adapun hasil dari evaluasi dan refleksi pembelajaran pada siklus I adalah sebagai berikut: a. Keterampilan guru Keterampilan guru pada pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash termasuk dalam kategori baik, tetapi masih ada beberapa kekurangan dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Kekurangan tersebut antara lain: 1) Dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa guru belum memberikan pertanyaan secara acak. 2) Pertanyaan yang diberikan kepada siswa masih sulit untuk dipahami. 3) Guru belum menjelaskan tentang media yang digunakan ketika pembelajaran. 4) Guru belum memberikan contoh menulis aksara Jawa dengan jelas. 5) Dalam membimbing siswa ketika berdiskusi guru belum menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi dan guru belum menutup diskusi. 6) Dalam pengelolaan kelas pengkondisian kelas yang dilakukan guru belum maksimal, masih banyak siswa yang ramai. b. Aktivitas Siswa Aktivitas siswa pada pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash termasuk dalam kategori cukup, tetapi masih ada beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain:
87 1) Ketika pembelajaran berlangsung siswa masih banyak yang ramai, tidak mendengarkan penjelasan yang disampaikan guru. 2) Siswa masih malu bertanya atau memberikan pendapat di depan kelas 3) Dalam pembentukan kelompok siswa masih ramai sehingga kelas menjadi gaduh. 4) Dalam mengamati media yang ditampilkan guru masih ada siswa yang tidak fokus. 5) Ketika berdiskusi masih banyak siswa yang tidak berpartisipasi aktif dalam kelompok. c. Hasil belajar Hasil belajar pada siklus I yaitu dari 41 siswa hanya 15 siswa yang mengalami ketuntasan belajar atau sebesar 36,58%. Hal ini menunjukkan bahwa perlu ada perbaikan untuk siklus II karena ketuntasan belajar belum mencapai 80%. 4.1.1.1.3. Revisi Berdasarkan refleksi yang telah dilakukan peneliti pada siklus I, maka perlu diadakan revisi untuk memperbaiki proses pembelajaran pada siklus II. Adapun hasil diskusi dengan kolaborator untuk memperbaiki pembelajaran di siklus II adalah sebagai berikut: a. Keterampilan guru 1) Dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa guru harus memberikan pertanyaan secara acak, guru tidak hanya memberikan pertanyaan kepada salah satu siswa tetapi secara menyeluruh.
88 2) Guru harus memberikan pertanyaan kepada siswa yang mudah dipahami sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan dengan baik. 3) Guru harus menjelaskan tentang media yang digunakan ketika pembelajaran. 4) Guru harus memberikan contoh menulis aksara Jawa dengan jelas sehingga siswa dapat memahami materi yang telah disampaikan. 5) Dalam membimbing siswa ketika berdiskusi guru sebaiknya menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi dan guru menutup diskusi. 6) Untuk memotivasi siswa agar aktif di kelas sebaiknya guru memberikan reward secara bervariasi di awal, inti dan penutup kegiatan pembelajaran. b. Aktivitas Siswa 1) Ketika pembelajaran berlangsung guru harus lebih mendisiplinkan kelas sehingga siswa tidak ramai dan mendengarkan penjelasan guru dengan baik. 2) Sebaiknya guru memberikan motivasi kepada siswa sehingga siswa tidak malu bertanya atau memberikan pendapat di depan kelas 3) Sebaiknya sebelum membagi kelompok guru memberikan pengarahan dan motivasi untuk bekerja sama kepada siswa sehingga siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan oleh guru. 4) Guru memperbaiki media yang digunakan dengan menambahkan gradasi warna sehingga siswa lebih tertarik pada media yang digunakan.
89 5) Untuk mengaktifkan siswa dalam kelompok sebaiknya setiap siswa mencatat hasil diskusi pada buku masing-masing. c. Hasil Belajar Sebaiknya sebelum guru membagikan soal evaluasi guru memberikan pengarahan kepada siswa agar tidak mencontek jawaban temannya dan memberikan motivasi untuk percaya pada jawaban diri sendiri. 4.1.2. Deskripsi Data Pelaksanaan Siklus II 4.1.2.1 Deskripsi Observasi Proses Pembelajaran Siklus II 4.1.2.1.1. Observasi a. Hasil Observasi Keterampilan Guru Hasil observasi keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus II diperoleh data sebagai berikut: No Tabel 4.4 Data Hasil Observasi Keterampilan Guru siklus II Keterampilan Guru 1 Mengajukan pertanyaan kepada siswa(keterampilan bertanya) 2 Menjelaskan materi pelajaran (keterampilan menjelaskan) 3 Membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil) 4 Pengelolaan kelas (keterampilan mengelola kelas) Tingkat Skor Kategori Kemampu an 1 2 3 4 3 B 3 B 2 C 3 B Jumlah 11 Kriteria B (Baik)
90 Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa jumlah skor keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash adalah 11 dengan kriteria baik. Keterampilan dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash meliputi: 1) Mengajukan pertanyaan kepada siswa (keterampilan bertanya) Mengajukan pertanyaan kepada siswa pada siklus II memperoleh skor 3 dengan kategori baik. Hal ini ditunjukkan dengan guru sudah mengajukan pertanyaan kepada siswa yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari memberikan pertanyaan secara acak, dan memberikan pertanyaan yang mudah dipahami siswa. Tetapi guru masih kurang memberikan waktu berpikir kepada siswa dalam menjawab pertanyaan sehingga hasil jawaban siswa kurang maksimal. 2) Menjelaskan materi pelajaran (keterampilan menjelaskan) Penjelasan guru mengenai materi pelajaran pada siklus II memperoleh skor 23 dengan kategori baik. Hal ini guru sudah menggunakan media pembelajaran dengan baik, guru sudah menampilkan media aksara Jawa serta guru sudah menampilkan contoh menulis aksara jawa sesuai dengan materi yang diajarkan. Tetapi guru belum menjelaskan media yang akan digunakan untuk menyampaikan materi tersebut.
91 3) Membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil) Keterampilan membimbing siswa ketika berdiskusi skor yang diperoleh guru adalah 2 dengan kategori cukup. Dalam hal ini guru hanya membimbing siswa mengerjakan LKS dan menutup diskusi. Guru belum mendengarkan dan menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi. 4) Pengelolaan kelas (keterampilan mengelola kelas) Pengelolaan kelas pada siklus II guru memperoleh skor 3 dengan kateori baik. Hal ini ditunjukan dengan guru memberikan penguatan kepada siswa, menggunakan media pembelajaran dan pengkondisian kelas. Tetapi pengelolaan kelas pada siklus II guru belum membimbing diskusi kelompok dengan maksimal. Hasil observasi keterampilan guru pada siklus II digambarkan dalam diagram sebagai berikut: 3 3 3 P e r o l e h a n n i l a i 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 1 2 3 4 Aspek yang diamati 2 Gambar 4.4 Diagram Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus II
92 Keterangan: 1. Mengajukan pertanyaan kepada siswa(keterampilan bertanya) 2. Menjelaskan materi pelajaran (keterampilan menjelaskan) 3. Membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil) 4. Pengelolaan kelas (keterampilan mengelola kelas) a. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa pada siklus II sebagai berikut: No Tabel 4.5 Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II Indikator Tingkat Kemampuan JS Rt2 K 1 2 3 4 1. Mendengarkan penjelasan guru 1 10 19 11 122 2,97 C 2. Menulis aksara Jawa 1 25 12 3 99 2,41 C 3. Berdiskusi dalam kelompok 4 22 15 0 93 2,27 C 4. Mengamati media yang ditampilkan guru 0 8 24 9 124 3,02 B Jumlah 438 10,68 B Keterangan : JS= Jumlah Skor Rt2= Rata-rata K= Kategori Hasil observasi aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus II diperoleh jumlah skor 438 dan rata-rata 10,68 dengan kategori baik. Hasil observasi aktivitas siswa dijabarkan dalam setiap indikator sebagai berikut: 1) Mendengarkan penjelasan guru
93 Hasil observasi mendengarkan penjelasan guru yang terdiri dari 4 indikator yaitu (1) menyimak pejelasan guru; (2) menyimak media pembelajaran aksara Jawa; (3) mendengarkan pertanyaan dari siswa lain; dan (4) mendengarkan penjelasan guru diperoleh jumlah skor 122 dan rata-rata skor 2,97 dengan kategori cukup. Hal ini ditunjukkan dengan 1 siswa telah melakukan 1 deskriptor, 10 siswa melakukan 2 deskriptor, 19 siswa telah melakukan 3 deskriptor dan 11 siswa telah melakukan semua deskriptor. 2) Menulis aksara Jawa Keterampilan menulis aksara Jawa yang tediri dari 4 indikator yaitu (1) berani memberikan contoh menulis aksara awa di depan kelas; (2) menuliskan hasil diskusi di lembar jawab; (3) menulis hasil diskusi di depan kelas; dan (4) mencatat materi di buku catatan masing-masing pada siklus II hanya memperoleh skor 99 dengan rata-rata skor 2,41 dan kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan menulis aksara Jawa masih kurang. Sebanyak 1 siswa telah melakukan 1 deskriptor, 25 siswa telah melakukan 2 deskriptor, 12 siswa telah melakukan 3 deskriptor dan hanya 3 siswa yang melakukan semua deskriptor. 3) Berdiskusi dalam kelompok Kegiatan diskusi dengan kelompok yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengerjakan LKS; (2) mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas; (3) mengeluarkan pendapat ketika berdiskusi; dan (4) menanggapi pendapat dalam dikusi pada siklus II memperoleh jumlah skor 93 dengan rata-rata skor 2,27 dan kategori cukup. Sebanyak 4 siswa telah melakukan 1 deskriptor, 22
94 siswa melakukan 2 deskriptor, 15 siswa telah melakukan 3 deskriptor dan tidak ada siswa yang melakukan semua deskriptor. 4) Mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas Indikator mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengamati media aksara jawa yang ditampilkan guru; (2) mengamati cara menulis aksara Jawa sesuai gambar yang ditampilkan: (3) siswa fokus pada media yang ditampilkan; dan (4) mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas pada siklus II memperoleh jumlah skor 124 dan rata-rata skor 3,02 dengan kategori baik. Tidak ada siswa yang melakukan 1 deskriptor, 8 siswa melakukan 2 deskriptor, 24 siswa melakukan 3 deskriptor dan hanya 9 siswa telah melakukan semua deskriptor. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II digambarkan dalam diagram sebagai berikut: p e r o l e h a n S k o r 140 120 100 80 60 40 20 0 124 122 99 93 1 2 3 4 Aspek yang diamati Gambar 4.5 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II
95 Keterangan: 1. Mendengarkan penjelasan guru 2. Menulis aksara Jawa 3. Berdiskusi dalam kelompok 4. Mengamati media yang ditampilkan guru c. Paparan Hasil Belajar Siswa Hasil belajar siklus II diperoleh dari hasil tes evaluasi yang dilakukan pada akhir pembelajaran. Dari hasil evaluasi pada siklus II materi menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon dengan pendekatan SAVI menggunakan macromedia flash diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.6 Daftar Distribusi Frekuensi Kuantitatif Hasil Belajar pada Siklus II Interval Nilai Frekuensi Prosentase Frekuensi Komulatif Kualitatif 100 4 9,75% 4 Tuntas 90-99 1 2,43% 5 Tuntas 80-89 5 12,19% 10 Tuntas 70-79 17 41,46% 27 Tuntas 60-69 5 12,19% 32 Tidak Tuntas 50-59 2 4,87% 34 Tidak Tuntas 40-49 3 7,36% 37 Tidak Tuntas 30-39 4 9,75% 41 Tidak Tuntas 20-29 - - - Jumlah 41 100% 41 Nilai Rata-Rata 66,34 KKM 70 Siswa Tuntas Belajar 27 Siswa belum Tuntas Belajar 14 Prosentase Ketutasan Minimal 65,85%
96 Hasil belajar siswa siklus II dalam pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash diperoleh data yaitu dari 41 siswa 27 siswa tuntas belajar dan 14 belum tuntas belajar dengan prosentase ketuntasan klasikal sebesar 65,85%. Data hasil analisis evaluasi disajikan dalam bentuk diagram berikut: 30 20 10 0 27 14 Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas Gambar 4.6 Diagram Hasil Belajar Siswa Siklus II Berdasarkan diagram batang diatas menunjukkan 27 atau 65,85% siswa mengalami ketuntasan belajar, dan 14 atau 34,15% siswa tidak tuntas. Dari hasil yang diperoleh pada siklus II dapat dilihat bahwa proses pembelajaran belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu 80 % siswa mengalami ketuntasan belajar klasikal. 4.1.2.1.2. Refleksi Peneliti dan kolaborator melakukan refleksi untuk menganalisis proses belajar mengajar yang telah dilakukan pada siklus II. Dalam melakukan refleksi, data yang dianalisis meliputi deskripsi keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar yang berupa nilai hasil tes evaluasi pada akhir pembelajaran.
97 Refleksi ini dilakukan peneliti bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan serta langkah perbaikan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. Adapun hasil dari evaluasi dan refleksi pembelajaran pada siklus II adalah sebagai berikut: a. Keterampilan guru Keterampilan guru pada pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash termasuk dalam kategori baik, tetapi masih ada beberapa kekurangan dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Kekurangan tersebut antara lain: 1) Guru sudah memberikan pertanyaan yang mudah dipahami siswa tetapi guru belum memberikan waktu yang cukup untuk berpikir. 2) Guru hanya memberikan kesempatan berpendapat kepada siswa tertentu saja, belum dilakukan secara menyeluruh. 3) Guru sudah memberikan contoh menulis aksara Jawa tetapi guru belum memberikan pengarahan mengenai penggunaan media. 4) Dalam membimbing siswa ketika berdiskusi guru belum memberikan tanggapan kepada semua kelompok. b. Aktivitas Siswa Aktivitas siswa pada pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash termasuk dalam kategori cukup, tetapi masih ada beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain: 1) Ketika berdiskusi partisipasi siswa masih kurang, masih ada siswa yang tidak menyumbangkan pendapatnya.
98 2) Siswa belum mencatat hal-hal yang penting ketika guru menampilkan media pembelajaran. 3) Siswa kurang komunikatif dalam bekerjasama dengan kelompoknya. 4) ketika pembelajaran berlangsung siswa belum bertanya mengenai materi yang kurang dipahami. c. Hasil belajar Hasil belajar siklus I yaitu dari 41 siswa hanya 27 siswa yang mengalami ketuntasan belajar atau sebesar 65,85%. Hal ini menunjukkan bahwa perlu ada perbaikan untuk siklus II karena ketuntasan belajar belum mencapai 80%. Sebagian besar siswa kurang teliti dan kurang cermat dalam menjawab soal evaluasi. 4.1.2.1.3. Revisi Berdasarkan refleksi yang telah dilakukan peneliti pada siklus II, maka perlu diadakan revisi untuk memperbaiki proses pembelajaran pada siklus III. Adapun hasil diskusi dengan kolaborator untuk memperbaiki pembelajaran di siklus III adalah sebagai berikut: a. Keterampilan guru 1) Ketika memberikan pertanyaan kepada siswa sebaiknya guru memberikan waktu yang cukup untuk berpikir sehingga jawaban siswa sesuai dengan pertanyaan yang diberikan. 2) Dalam memberikan kesempatan berpendapat kepada siswa sebaiknya guru memberikan giliran berpendapat kepada masing-masing siswa.
99 3) Sebelum menjelaskan materi yang akan disampaikan sebaiknya guru memberikan pengarahan dan penjelasan secara rinci mengenai media yang digunakan. 4) Dalam membimbing siswa ketika berdiskusi sebaiknya guru memberikan giliran kepada setiap anggota kelompok sehingga semua anggota kelompok dapat menyampaikan tanggapannya. b. Aktivitas Siswa 1) Ketika berdiskusi sebaiknya guru memberikan tanggung jawab kepada masing-masing anggota kelompok untuk mengerjakan LKS sehingga semua anggota kelompok menyumbangkan pendapatnya. 2) Sebelum menyampaikan materi guru memberikan pengarahan kepada siswa untuk mencatat materi yang disampaikan. 3) Agar siswa komunikatif dalam bekerjasama dengan kelompoknya sebaiknya guru menyediakan reward berupa hadiah kepada kelompok yang paling aktif dan komunikatif agar siswa lebih termotivasi 4) Agar siswa mau bertanya mengenai materi yang belum dipahami sebaiknya guru membimbing dan memotivasi siswa sehingga siswa lebih percaya diri dan berani bertanya. c. Hasil Belajar Sebaiknya sebelum guru membagikan soal evaluasi guru memberikan pengarahan kepada siswa agar tidak mencontek jawaban temannya dan memberikan motivasi untuk percaya pada jawaban diri sendiri. Siswa harus
100 lebih cermat dan teliti pada butir soal dan mengoreksi kembali jawaban pada setiap soal yang sudah dikerjakan. 4.1.3. Deskripsi Data Pelaksanaan Siklus III 4.1.3.1 Deskripsi Observasi Proses Pembelajaran Siklus III 4.1.3.1.1. Observasi a. Hasil Observasi Keterampilan Guru Hasil observasi keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus III diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.7 Data Hasil Observasi Keterampilan Guru siklus III Tingkat Skor Kategori No Keterampilan Guru Kemampua n 1 2 3 4 1 Mengajukan pertanyaan kepada 4 siswa(keterampilan bertanya) 2 Menjelaskan materi pelajaran 4 (keterampilan menjelaskan) 3 Membimbing siswa ketika 3 berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok) 4 Pengelolaan kelas (keterampilan 4 mengelola kelas) Jumlah 15 Kriteria SB (Sangat Baik) Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa jumlah skor keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash adalah 15 dengan kriteria sangat baik. Keterampilan dalam
101 pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash meliputi: 1) Mengajukan pertanyaan kepada siswa(keterampilan bertanya) Keterampilan bertanya siklus III memperoleh skor 4 dengan kategori sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan guru sudah mengajukan pertanyaan kepada siswa yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari dan memberikan waktu berpikir. Guru sudah memberikan pertanyaan secara acak kepada siswa dan pertanyaan yang diberikan guru mudah untuk dipahami siswa. 2) Menjelaskan materi pelajaran (keterampilan menjelaskan) Keterampilan menjelaskan mengenai materi penyampaian materi pada siklus III guru memperoleh skor 4 dengan kategori sangat baik. Hal ini guru sudah menjelaskan dan menggunakan media pembelajaran dengan baik. Guru juga sudah menampilkan media aksara Jawa tetapi guru dan menampilkan contoh menulis aksara Jawa dengan media yang digunakan. 3) Membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil) Keterampilan membimbing diskusi kelompok skor yang diperoleh guru adalah 3 dengan kategori baik. Dalam hal ini guru sudah membimbing siswa mengerjakan LKS, mendengarkan pendapat siswa ketika berdiskusi, menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi. Tetapi guru belum menutup diskusi.
102 4) Pengelolaan kelas (keterampilan mengelola kelas) Keterampilan mengelola kelas siklus III guru memperoleh skor 4 dengan kategori sangat baik. Hal ini ditunjukan dengan guru sudah memberikan penguatan kepada siswa, menggunakan media pembelajaran, membimbing diskusi kelompok dan pengkondisian kelas yang dilakukan guru sudah dilakukan dengan baik. Hasil observasi keterampilan guru pada siklus III digambarkan dalam diagram sebagai berikut: P e r o l e h a n n i l a i 4 3 2 1 0 4 4 4 3 1 2 3 4 Aspek yang diamati Gambar 4.7 Diagram Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus III Keterangan: 1. Mengajukan pertanyaan kepada siswa(keterampilan bertanya) 2. Menjelaskan materi pelajaran (keterampilan menjelaskan) 3. Membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil) 4. Pengelolaan kelas (keterampilan mengelola kelas
103 b. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Hasil observasi aktivitas siswa pada pembelajaran menulis aksara Jawa pada siklus III sebagai berikut: No Tabel 4.8 Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus III Indikator Tingkat Kemampuan JS Rt2 K 1 2 3 4 1. Mendengarkan penjelasan guru 0 3 10 28 148 3,06 B 2. Menulis aksara Jawa 0 8 16 17 132 3,22 B 3. Berdiskusi dalam kelompok 0 15 25 1 109 2,65 C 4. Mengamati media yang ditampilkan guru 0 5 10 26 144 3,51 B Jumlah 533 13 A Keterangan : JS= Jumlah Skor Rt2= Rata-rata K= Kategori Hasil observasi aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus III diperoleh jumlah skor 533 dan rata-rata 13 dengan kategori sangat baik. Hasil observasi aktivitas siswa dijabarkan dalam setiap indikator sebagai berikut: 1) Mendengarkan penjelasan guru Hasil observasi mendengarkan penjelasan guru yang terdiri dari 4 indikator yaitu (1) menyimak pejelasan guru; (2) menyimak media pembelajaran aksara Jawa; (3) mendengarkan pertanyaan dari siswa lain; dan (4) mendengarkan penjelasan guru pada siklus III diperoleh jumlah skor 148 dan rata-rata skor 3,06 dengan kategori baik. Hal ini ditunjukkan dengan 3
104 siswa melakukan 2 deskriptor, 10 siswa telah melakukan 3 deskriptor dan 28 siswa telah melakukan semua deskriptor. 2) Menulis aksara Jawa Keterampilan menulis aksara Jawa yang tediri dari 4 indikator yaitu (1) berani memberikan contoh menulis aksara awa di depan kelas; (2) menuliskan hasil diskusi di lembar jawab; (3) menulis hasil diskusi di depan kelas; dan (4) mencatat materi di buku catatan masing-masingpada siklus III hanya memperoleh skor 132 dengan rata-rata skor 3,22 dan kategori baik. Hal ini menunjukkan keterampilan menulis siswa meningkat dari siklus-siklus sebelumnya. Sebanyak 8 siswa telah melakukan 2 deskriptor, 16 siswa telah melakukan 3 deskriptor dan hanya 17 siswa yang melakukan semua deskriptor. 3) Berdiskusi dalam kelompok Kegiatan diskusi dengan kelompok yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengerjakan LKS; (2) mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas; (3) mengeluarkan pendapat ketika berdiskusi; dan (4) menanggapi pendapat dalam dikusi memperoleh jumlah skor 109 dengan rata-rata skor 2,65 dan kategori cukup. Sebanyak 15 siswa melakukan 2 deskriptor, 25 siswa telah melakukan 3 deskriptor dan 1 siswa yang melakukan semua deskriptor. 4) Mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas Indikator mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengamati media aksara jawa yang ditampilkan guru; (2) mengamati cara menulis aksara Jawa sesuai gambar
105 yang ditampilkan: (3) siswa fokus pada media yang ditampilkan; dan (4) mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas pada siklus III memperoleh jumlah skor 144 dan rata-rata skor 3,51 dengan kategori baik. sebanyak 5 siswa melakukan 2 deskriptor, 10 siswa melakukan 3 deskriptor dan 26 siswa telah melakukan semua deskriptor. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus III digambarkan dalam diagram sebagai berikut: p e r o l e h a n S k o r 150 100 50 0 144 148 132 109 1 2 3 4 Aspek yang diamati Gambar 4.8 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus III Keterangan: 1. Mendengarkan penjelasan guru 2. Menulis aksara Jawa 3. Berdiskusi dalam kelompok 4. Mengamati media yang ditampilkan guru c. Paparan Hasil Belajar Siswa Hasil belajar siklus III diperoleh dari hasil tes evaluasi yang dilakukan pada akhir pembelajaran. Dari hasil evaluasi pada siklus III materi menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan pambukaning wanda/sandhangan
106 wyanjana (cakra, keret dan pengkal) melalui pendekatan SAVI menggunakan macromedia flash diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.9 Daftar Distribusi Frekuensi Kuantitatif Hasil Belajar pada Siklus III Interval Nilai Frekuensi Prosentase Frekuensi Komulatif Kualitatif 100 6 14,63% 6 Tuntas 90-99 10 24,39% 16 Tuntas 80-89 8 19,51% 24 Tuntas 70-79 12 29,28% 36 Tuntas 60-69 - - - Tidak Tuntas 50-59 5 12,19% 41 Tidak Tuntas 40-49 - - - 30-39 - - - 20-29 - - - Jumlah 41 100% 41 Nilai Rata-Rata 78,78 KKM 70 Siswa Tuntas Belajar 36 Siswa belum Tuntas Belajar 5 Prosentase Ketutasan Minimal 87,80% Hasil belajar siswa siklus III pada pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash diperoleh data yaitu dari 41 siswa 36 siswa tuntas belajar dan 5 belum tuntas belajar dengan prosentase ketuntasan klasikal sebesar 87,80%.
107 Data hasil analisis evaluasi disajikan dalam bentuk diagram berikut: 40 30 20 10 36 5 Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas 0 Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas Gambar 4.9 Diagram Hasil Belajar Siswa Siklus III Berdasarkan diagram batang diatas menunjukkan 36 atau 87,80 % siswa mengalami ketuntasan belajar, dan 5 atau 12,20% siswa tidak tuntas. Dari hasil yang diperoleh pada siklus III dapat dilihat bahwa proses pembelajaran sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu 80 % siswa mengalami ketuntasan belajar klasikal. 4.1.3.1.2. Refleksi Refleksi dilakukan oleh peneliti dan kolaborator untuk menganalisis proses belajar mengajar yang telah dilakukan pada siklus III. Dalam melakukan refleksi data yang dianalisis meliputi deskripsi keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar yang berupa nilai hasil tes evaluasi. Adapun hasil dari evaluasi dan refleksi pembelajaran pada siklus III adalah sebagai berikut: a. Keterampilan guru Keterampilan guru pada pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus III secara keseluruhan
108 termasuk dalam kategori A (Sangat Baik). Akan tetapi, ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki untuk pembelajaran berikutnya. Dari 4 indikator keterampilan guru yang diamati, ada 1 indikator yang memperoleh skor 3 yaitu indikator membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing diskusi kelompok). Sedangkan indikator yang lain, yaitu: mengajukan pertanyaan kepada siswa (keterampilan bertanya), menjelaskan media pembelajaran (keterampilan menjelaskan), pengelolaan kelas (keterampilan mengelola kelas) mendapat skor 4 dengan kategori sangat baik. Keterampilan membimbing siswa ketika diskusi terkadang guru lupa untuk menutup diskusi yang telah dilaksanakan oleh seluruh siswa dan guru masih kurang dalam membimbing siswa secara menyeluruh ketika berdiskusi. b. Aktivitas Siswa Berdasarkan hasil observasi pada lembar pengamatan aktivitas siswa yang terdiri dari 4 indikator, yaitu indikator mendengarkan penjelasan guru (kegiatan mendengarkan), menulis aksara Jawa (kegiatan menulis), berdiskusi dalam kelompok (kegiatan mental), mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas (kegiatan visual). Dari 4 indikator yang diamati masih ada indikator yang harus diperbaiki pada pembelajarn berikutnya yaitu: berdiskusi dalam kelompok (kegiatan mental), siswa masih kurang dalam berpartisipasi dalam kelompok. Siswa masih banyak yang kurang memberikan tanggapan dari pendapat yang diajukan oleh anggota lain.
109 c. Hasil belajar Hasil belajar pada siklus III yaitu dari 41 siswa ada 36 siswa yang mengalami ketuntasan belajar atau sebesar 87,80%. Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus III pembelajaran yang dilaksanakan guru sudah berhasil karena ketuntasan belajar klasikal sudah lebih dari 80%. Akan tetapi ada 5 siswa yang mendapat nilai di bawah KKM yaitu 70. 4.1.3.1.3. Revisi Kegiatan pembelajaran pada siklus III secara keseluruhan sangat baik karena sudah mencapai indikator keberhasilan yaitu ketuntasan belajar klasikal sekurang-kurangnya 80% atau dapat mencapai ketuntasan individual 70. Berdasarkan saran dari kolaborator, dalam pelaksanaan pembelajaran siklus III sudah baik, upaya guru dalam menjelaskan materi dengan media pembelajaran yang digunakan sudah dilakukan dengan baik dan upaya guru untuk memotivasi siswa agar lebih aktif di kelas baik ketika bertanya, menjawab pertanyaan maupun berdiskusi sudah dilakukan guru dengan baik. Tetapi selain itu masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berkelanjutan dalam proses belajar mengajar. Hal yang perlu diperbaiki antara lain: a. Ketika kegiatan diskusi selesai sebaiknya guru menutup terlebih dahulu kegiatan diskusi tersebut kemudian baru melanjutkan pada kegiatan pembelajaran selanjutnya.
110 b. Ketika guru membimbing siswa ketika berdiskusi sebaiknya guru membimbing semua kelompok secara menyeluruh sehingga semua kelompok dapat menyelesaikan tugasnya tanpa mengalami kesulitan. c. Guru memotivasi siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan diskusi Keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar pada pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus I, II dan III selalu mengalami peningkatan. Berikut ini akan digambarkan peningkatan keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar pada pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus I, II, dan III. a. Keterampilan Guru Keterampilan guru dari siklus I, siklus II dan siklus III selalu mengalami peningkatan. Pada siklus I keterampilan guru memperoleh jumlah skor 9 dengan kategori baik kemudian meningkat pada siklus II dengan peningkatan jumlah skor 11. Pada siklus II jumlah skor yang diperoleh adalah 11 dengan kategori baik. Pada siklus III mengalami peningkatan sebesar jumlah skor 4 yaitu dari jumlah skor 11 menjadi jumlah skor 15. Pada siklus III ini keterampilan guru memperoleh skor 15 dengan kategori sangat baik. Berikut ini disajikan diagram batang peningkatan keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus I, II dan III:
111 p e r o l e h a n s k o r 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Keterampilan guru 15 11 9 siklus I Siklus II Siklus III Siklus I Siklus II Siklus III b. Aktivitas Siswa Gambar 4.10 Diagram Keterampilan Guru Siklus I, Siklus II dan Siklus III Aktivitas siswa dari siklus I sampai siklus III selalu mengalami peningkatan. Peningkatan aktivitas siswa pada siklus I dan II sebesar 2,61. Siklus I memperoleh rata-rata skor 8,07 dengan kategori cukup dan pada siklus II memperoleh rata-rata skor 10,68 dengan kategori baik. Sedangkan dari siklus II sampai siklus III aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 2,32. Pada siklus III aktivitas siswa memperoleh rata-rata skor 13 dengan kategori sangat baik. I, II dan III: Berikut ini adalah diagram batang peningkatan aktivitas siswa dari siklus p e r o l e h a n s k o r 14 12 10 8 6 4 2 0 rata- rata aktivitas siswa 13 10,68 8,07 Siklus I Siklus II Siklus III Siklus I Gambar 4.11 Diagram Aktivitas Siswa Siklus I, Siklus II dan Siklus III
112 c. Hasil Belajar 100 80 60 40 20 0 data awal siklus I siklus II Siklusn III Nilai rata-rata 44,39 51,21 66,34 78,78 Gambar 4.12 Diagram Garis Rata-Rata Hasil Belajar Siswa Berdasarkan diagram di atas menunjukkan adanya perubahan rata-rata hasil belajar siswa dari data awal sebesar 44,39 pada siklus I menjadi 51,21, siklus II menjadi 66,34 dan siklus III menjadi 78,78. Prosentase Ketuntasan Klasikal Siswa Pra-siklus, siklus I, siklus II dan siklus III dapat dilihat pada diagran berikut ini: 100,00% 80,00% 65,85% 87,80% 60,00% 40,00% 20,00% 10,00% 36,58% 0,00% data awal Siklus I Siklus II Siklus III Gambar 4.13 Diagram Batang Presentase Ketuntasan Klasikal Siswa Berdasarkan diagram batang diatas menunjukkan presentase ketuntasan klasikal belajar siswa terjadi peningkatan dari data awal sebesar 10%. Pada sklus I meningkat menjadi 36,58%. Pada sklus II meningkat menjadi 65,85% dan siklus
113 III menjadi 87,80%. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa. Berikut ini hasil belajar siswa yang dimulai dari data awal, siklus I, siklus II dan siklus III. Tabel 4.10 Analisis data awal, siklus I, siklus II dan siklus III No. Pencapaian Data Awal Siklus I Siklus II Siklus III 1 Nilai rata-rata 44,39 51,21 66,34 78,78 2 Nilai terendah 20 20 30 50 3 Nilai tertinggi 70 80 100 100 4 Siswa yang belum tuntas 37 26 14 5 5 Siswa yang tuntas 4 15 27 36 6 Prosentase ketuntasan belajar 10% 36,58% 65,85% 87,80% Berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa data awal menunjukkan rata-rata nilai siswa sebesar 44,39 dengan nilai terendah 20 dan nilai tertinggi 70, siswa yang belum tuntas pada data awal sebanyak 37 siswa dan yang sudah tuntas sebanyak 4 siswa, pada data awal prosentase ketuntasan belajar klasikal adalah sebesar 10 %. Setelah dilaksanakan pembelajaran menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus I rata- rata nilai siswa mengalami kenaikan menjadi 51,21 dengan nilai terendah 20 dan nilai tertinggi 80, siswa yang belum tuntas pada siklus I sebanyak 26 siswa dan yang sudah tuntas sebanyak 15 siswa, pada siklus I prosentase ketuntasan belajar adalah sebesar 36,58%. Namun hasil tersebut belum sesuai dengan indikator keberhasilan dimana ketuntasan belajar
114 klasikal sebanyak 80% sehingga harus ada perbaikan untuk pembelajaran pada siklus II. Hasil belajar siswa siklus II terjadi peningkatan ditunjukkan dengan nilai hasil belajar siswa yaitu nilai rata-rata sebesar 66,34 dengan nilai terendah 30 dan nilai tertinggi 100, siswa yang belum tuntas pada siklus II sebanyak 14 siswa dan yang sudah tuntas sebanyak 27 siswa, pada siklus II prosentase ketuntasan belajar adalah sebesar 65,85%. Namun hasil tersebut belum sesuai dengan indikator keberhasilan dimana ketuntasan belajar klasikal sebanyak 80% sehingga harus ada perbaikan untuk pembelajaran pada siklus III. Hasil belajar siswa siklus III terjadi peningkatan ditunjukkan dengan nilai hasil belajar siswa yaitu nilai rata-rata sebesar 78,78 dengan nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 100, siswa yang belum tuntas pada siklus III sebanyak 5 siswa dan yang sudah tuntas sebanyak 36 siswa, pada siklus III prosentase ketuntasan belajar adalah sebesar 87,80%. Pada siklus III sudah tercapai indikator keberhasilan dimana siswa mengalami ketuntasan belajar klasikal minimal 80%.
115 Berikut ini disajikan diagram tentang perolehan data hasil belajar seperti dibawah ini : 100 80 1. Nilai rata-rata 60 40 20 2. Nilai terendah 3. Nilai tertinggi 4. Siswa yang belum tuntas 5. Siswa yang tuntas 0 Data Awal Siklus I Siklus II Siklus III 6. Presentase ketuntasan belajar Gambar 4.14 Diagram batang hasil belajar data awal, siklus I, siklus II dan siklus III Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa pembelajaran yang telah diteliti oleh peneliti bersama observer dalam pembelajaran menulis aksara jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash berhenti sampai siklus III karena indikator keberhasilan sudah tercapai dengan baik. 4.2 PEMBAHASAN 4.2.1 Pemaknaan Hasil Temuan Penelitian Pembahasan penelitian difokuskan pada hasil observasi keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa melalui penerapan pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada setiap siklus.
116 4.2.1.1 Siklus I 4.2.1.1.1 Pemaknaan Hasil Observasi Keterampilan Guru Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) pada dasarnya adalah berupa bentuk-bentuk perilaku bersifat mendasar dan khusus yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai modal awal untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajarannya secara terencana dan professional (Rusman, 2011: 80). Keterampilan mengajukan pertanyaan kepada siswa (keterampilan bertanya) mendapat skor 2 dengan kategori cukup. Hal ini ditunjukkan dengan guru sudah mengajukan pertanyaan kepada siswa sesuai dengan materi yang disampaikan. Ketika siswa menjawab pertanyaan guru sudah memberikan waktu untuk berpikir. Tetapi pada siklus I dalam memberikan pertanyaan kepada siswa guru belum memberikan pertanyaan secara acak, guru masih memberikan pertanyaan kepada siswa tertentu saja. Kemudian bahasa yang digunakan guru dalam memberikan pertanyaan juga masih terlalu sulit untuk dipahami siswa. Bahasa yang terlalu sulit akan membuat siswa kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Aktualisasi diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan cara bertanya. Bertanya sangat biasa dilakukan siswa dalam tiap kesempatan, untuk itu guru harus mampu memfasilitasi kemampuan bertanya siswa untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan harus diberikan secara bergiliran agar tidak didominasi oleh beberapa siswa saja, hal ini dapat menyebabkan kecemburuan siswa, maka dari itu guru harus memberikan pertanyaan kepada siswa secara menyeluruh agar
117 tidak terjadi kecemburuan antar siswa (Rusman, 2011: 82-83). Maka dari itu guru harus memberikan pertanyaan secara acak kepada siswa sehingga tidak ada kecemburuan antar siswa. Keterampilan menjelaskan materi pelajaran guru mendapat skor 2 dengan kategori cukup ditunjukkan dengan penggunaan media pembelajaran untuk mempermudah siswa memahami materi. Media yang digunakan akan lebih baik lagi apabila guru memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai media dan materi yang disampaikan kepada siswa. Siswa akan lebih paham lagi apabila guru memberikan penjelasan beserta contoh dari materi yang disampaikan. Tugas guru yang utama adalah mengajar. Mengajar adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Dalam hal ini guru dituntut untuk mampu menjelaskan materi pelajaran kepada siswa secara profesional (Rusman, 2011: 86). Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur dengan melibatkan sekelompok siswa dalam interaksi tatap muka kooperatif yang optimal dengan tujuan berbagai informasi atau pengalaman, mengambil keputusan dan memecahkan masalah (Hasibuan, 2010: 88-89). Pada keterampilan membimbing siswa ketika berdiskusi (keterampilan membimbing siskusi kelompok kecil) mendapat skor 2 dengan kategori cukup ditunjukkan dengan guru sudah membimbing siswa dalam menyelesaikan lembar kerja yang diberikan. Guru juga sudah mendengarkan pendapat siswa ketika berdiskusi. Tetapi dalam hal ini guru belum menanggapi pendapat siswa dengan baik. Guru belum memberikan perhatian secara menyeluruh kepada setiap kelompok. Dan ketika diskusi selesai guru belum menutup kegiatan diskusi tersebut.
118 Keterampilan mengelola pembelajaran mendapat skor 3 dengan kategori baik ditunjukkan dengan guru sudah memberikan penguatan kepada siswa baik verbal maupun nonverbal, guru sudah menggunakan media dalam menyampaikan materi kepada siswa dan ketika berdiskusi guru sudah membimbing siswa dalam mengerjakan LKS. Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2010: 82) tugas guru dalam kelas sebagian besar adalah membelajarkan siswa dengan menyediakan kondisi belajar optimal yang dapat dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran. Bila pengelolaan pembelajaran dapat dikerjakan secara optimal maka proses belajar berlangsung secara optimal pula. Tetapi bila tidak dilakukan secara optimal, tentu saja akan menimbulkan gangguan terhadap belajar mengajar. Berdasarkan hasil observasi pada keterampilan mengelola pembelajaran siklus I pengkondisian kelas dan kelompok yang dilakukan guru masih kurang. Masih banyak siswa yang ramai dan tidak berpartisipasi dalam berdiskusi. Berdasarkan uraian temuan hasil penelitian keterampilan guru pada siklus I diperoleh skor 9 dan dengan kategori baik. Data tersebut menunjukkan bahwa keterampilan guru sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu keterampilan guru meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik tetapi masih perlu dilakukan pemantapan untuk siklus berikutnya karena masih ada beberapa keterampilan yang masih kurang maksimal.
119 4.2.1.1.2 Pemaknaan Hasil Observasi Aktivitas Siswa Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I dalam setiap indikator dijelaskan secara rinci sebagai berikut: 1) Mendengarkan penjelasan guru Hasil observasi mendengarkan penjelasan guru yang terdiri dari 4 indikator yaitu (1) menyimak pejelasan guru; (2) menyimak media pembelajaran aksara Jawa; (3) mendengarkan pertanyaan dari siswa lain; dan (4) mendengarkan penjelasan guru diperoleh jumlah skor 88 dan rata-rata skor 2,12 dengan kategori cukup. Pada siklus I masih banyak siswa yang tidak mendengarkan penjelasan dari guru, masih banyak siswa yang ramai sendiri. 2) Menulis aksara Jawa Keterampilan menulis aksara Jawa yang tediri dari 4 indikator yaitu (1) berani memberikan contoh menulis aksara awa di depan kelas; (2) menuliskan hasil diskusi di lembar jawab; (3) menulis hasil diskusi di depan kelas; dan (4) mencatat materi di buku catatan masing-masing memperoleh skor 90 dengan rata-rata skor 2,22 dan kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan menulis aksara Jawa masih kurang. Dalam menulis aksara Jawa masih banyak siswa yang malu untuk menuliskan contoh di papan tulis, dan masih ada siswa yang tidak mencatat pada buku catatan masing-masing. 3) Berdiskusi dalam kelompok Kegiatan diskusi dengan kelompok yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengerjakan LKS; (2) mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas; (3) mengeluarkan pendapat ketika berdiskusi; dan (4) menanggapi pendapat
120 dalam dikusi memperoleh jumlah skor 90 dengan rata-rata skor 2,09 dan kategori cukup. Ketika berdiskusi masih banyak siswa yang kurang berpartisipasi dalam kelompok. Hanya beberapa siswa yang mengerjakan LKS, sedangkan siswa yang lain ramai dan bermain sendiri. 4) Mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas Indikator mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengamati media aksara jawa yang ditampilkan guru; (2) mengamati cara menulis aksara Jawa sesuai gambar yang ditampilkan: (3) siswa fokus pada media yang ditampilkan; dan (4) mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas pada siklus I memperoleh jumlah skor 95 dan rata-rata skor 2,27 dengan kategori cukup. Siswa masih kurang dalam mengamati media yang ditampilakan guru, masih banyak siswa yang ramai sendiri dan tidak fokus dalam menyimak media pembelajaran. Aktivitas belajar siswa adalah kegiatan yang terjadi dalam satu konteks perencanaan untuk mencapai suatu perubahan tertentu serta menggunakan seluruh potensi individu sehingga akan terjadi perubahan perilaku tertentu (Rusman, dkk. 2012:19). Indikator aktivitas siswa pada siklus pertama terdiri dari: (1) mendengarkan penjelasan guru; (2) menulis aksara Jawa; (3) berdiskusi dalam kelompok; dan (4) mengamati media yang ditampilkan guru. Pada siklus pertama aktivitas siswa memperoleh rata-rata 8,07 dengan kriteria cukup. Sebagian besar siswa siap menerima pelajaran diawal pembelajaran. Tetapi banyak siswa yang
121 ketika guru menampilkan media siswa masih banyak yang berbicara dengan teman. Selain itu siswa juga kurang merespon pertanyaan dari guru. Pada saat guru menjelaskan materi dan membagi kelompok masih banyak siswa yang ramai. Akibatnya dalam pembelajaran siswa menjadi gaduh dan materi sulit dipahami sehingga ketika diberi pertanyaan siswa kesulitan untuk menjawab dan ketika mengerjakan soal evaluasi banyak siswa yang tidak percaya diri. Sebagian siswa masih banyak yang kurang aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Menurut Hamalik, (2008: 170-171) siswa adalah suatu organisme yang hidup, di dalam dirinya beraneka ragam kemungkinan dan potensi yang hidup yang sedang berkembang. Di dalam dirinya terdapat prinsip aktif, keinginan untuk berbuat dan bekerja sendiri. Pendidikan perlu mengarahkan tingkah laku dan perbuatan itu menuju tingkat perkembangan yang diharapkan. Potensi yang ada pada siswa perlu mendapat kesempatan yang luas untuk berkembang tanpa terjadi penyimpangan perkembangan dari tujuan yang telah ditentukan. Maka dari itu tugas guru adalah memfasilitasi, membimbing dan mengarahkan siswa untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa, sehingga perkembangan yang terjadi sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Berdasarkan uraian temuan hasil penelitian aktivitas siswa pada siklus I diperoleh skor memperoleh 363 dan rata-rata skor 8,07 dengan kategori cukup. Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas siswa belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu aktivitas siswa meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik. Maka dari itu masih perlu dilakukan perbaikan untuk siklus berikutnya.
122 4.2.1.1.3 Pemaknaan Temuan Hasil Belajar Siswa Hasil belajar menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus I yaitu dari 41 siswa 15 atau 36,58% siswa tuntas belajar sedangkan 26 atau 63,42% siswa belum tuntas belajar, nilai tertinggi yang diperoleh 80 dan nilai terendah 20, nilai rata-rata kelas 51,21. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa hasil belajar menulis aksara Jawa masih banyak siswa yang nilainya rendah. Hal tersebut dikarenakan siswa kurang teliti dalam mengerjakan soal evaluasi, sebagian siswa masih belum hafal mengenai aksara Jawa, dan penempatan tulisan sandhangan siswa masih ada yang salah. Menurut Purwanto (2013: 46) hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Agar hasil belajar siswa mengenai menulis aksara Jawa mencapai KKM siswa harus memahami betul mengenai penulisan aksara Jawa baik menggunakan sandhangan maupun pasangan. Siswa harus lebih teliti dalam mengerjakan soal evaluasi. Berdasarkan penilaian hasil belajar siswa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash akan mencapai ketuntasan belajar klasikal sebesar 80% dan ketuntasan belajar individual 70. Berdasarkan hasil belajar siswa pada siklus I dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 36,58% belum mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan, maka penelitian ini dilanjutkan ke siklus II.
123 4.2.1.2 Siklus II 4.2.1.2.1 Pemaknaan Hasil Observasi Keterampilan Guru Keterampilan mengajukan pertanyaan kepada siswa (keterampilan bertanya) memperoleh skor 3 dengan kategori baik. Hal ini ditunjukkan dengan guru sudah memberikan pertanyaan sesuai dengan materi yang disampaikan, pertanyaan dari guru sudah diberikan secara acak, tidak hanya diberikan pada siswa tertentu saja dan pertanyaan yang diberikan mudah dipahami sehingga siswa tidak kesulitan untuk menjawab. Tetapi dalam memberikan pertanyaan kepada siswa waktu yang diberikan terlalu sedikit, sehingga membuat siswa gugup dan tidak bisa menjawab pertanyaan. Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respons dari seseorang yang dikenal. respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir (Hasibuan, 2011: 62). Dalam hal ini guru harus memberikan waktu berpikir yang cukup kepada siswa sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan dengan tepat. Keterampilan menjelaskan guru mendapat skor 3 dengan kategori baik ditunjukkan dengan kejelasan tujuan, bahasa, dan proses penjelasan yaitu guru menjelaskan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah diinformasikan. Penggunaan media pembelajaran akan mempermudah siswa dalam memahami materi. Macromedia flash yang digunakan berisi tentang aksara Jawa yang meliputi aksara nglegena, sandhangan dan beberapa contoh cara menulis aksara Jawa. Dalam menjelaskan materi guru perlu memberikan penekanan pada point-
124 point materi yang disampaikan. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam keterampilan menjelaskan adalah penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran dan materi yang disampaikan harus bermakna bagi siswa (Hasibuan, 2011: 71). Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil mendapat skor 2 dengan kategori cukup ditunjukkan dengan guru memusatkan perhatian siswa yaitu guru menginformasikan tujuan, langkah-langkah, dan pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab dalam kegiatan diskusi. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi ditunjukkan dengan memberi giliran atau menunjuk siswa yang jarang berbicara untuk mengungkapkan pendapatnya dan meminta siswa mengomentari pendapat temannya. Pada keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil guru belum menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh siswa ketika berdiskusi. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memfasilitasi sistem pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa secara kelompok. untuk itu keterampilan guru harus dilatih dan dikembangkan, sehingga para guru memiliki kemampuan untuk melayani siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran kelompok kecil (Rusman, 2011: 89). Berdasarkan hasil observasi pada siklus II guru belum terlihat belum menanggapi pertanyaan dari siswa. Keterampilan mengelola pembelajaran mendapat skor 3 dengan kategori baik ditunjukkan dengan guru menunjukkan sikap tanggap antara lain guru mendekati siswa sesuai keperluan, memberikan pertanyaan, dan menanggapi
125 pertanyan-pertanyan siswa. Memberikan penguatan pada siswa yang melakukan perbuatan positif. Memberikan perhatian secara menyeluruh kepada siswa. Pada keterampilan mengelola pembelajaran guru masih kurang dalam membimbing diskusi kelompok, siswa masih ramai sendiri, masih ada siswa yang kurang berpartisipasi dalam kelompok. Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2008: 82) tugas guru dalam kelas sebagian besar adalah membelajarkan siswa dengan menyediakan kondisi belajar optimal yang dapat dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bila pengelolaan pembelajaran dapat dikerjakan secara optimal maka proses belajar berlangsung secara optimal pula. Tetapi bila tidak dilakukan secara optimal, tentu saja akan menimbulkan gangguan terhadap belajar mengajar. Berdasarkan hasil observasi pada keterampilan mengelola pembelajaran siklus II guru masih kurang dalam membimbing dikusi kelompok. Berdasarkan uraian temuan hasil penelitian keterampilan guru pada siklus II diperoleh skor 11 kategori baik. Data tersebut menunjukkan bahwa keterampilan guru sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu keterampilan guru meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik tetapi masih perlu dilakukan pemantapan untuk siklus berikutnya.
126 4.2.1.2.2 Pemaknaan Hasil Observasi Aktivitas Siswa Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II dalam setiap indikator dijelaskan sebagai berikut: 1) Mendengarkan penjelasan guru Hasil observasi mendengarkan penjelasan guru yang terdiri dari 4 indikator yaitu (1) menyimak pejelasan guru; (2) menyimak media pembelajaran aksara Jawa; (3) mendengarkan pertanyaan dari siswa lain; dan (4) mendengarkan penjelasan guru diperoleh jumlah skor 122 dan rata-rata skor 2,97 dengan kategori cukup. Sebagian siswa sudah fokus pada pembelajaran, mendengarkan penjelasan guru dan menyimak media yang ditampilkan guru di depan kelas. 2) Menulis aksara Jawa Keterampilan menulis aksara Jawa yang tediri dari 4 indikator yaitu (1) berani memberikan contoh menulis aksara awa di depan kelas; (2) menuliskan hasil diskusi di lembar jawab; (3) menulis hasil diskusi di depan kelas; dan (4) mencatat materi di buku catatan masing-masing pada siklus II hanya memperoleh skor 99 dengan rata-rata skor 2,41 dan kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan menulis aksara Jawa masih kurang. Siswa masih kurang teliti dalam menulis aksara Jawa. 3) Berdiskusi dalam kelompok Kegiatan diskusi dengan kelompok yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengerjakan LKS; (2) mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas; (3) mengeluarkan pendapat ketika berdiskusi; dan (4) menanggapi pendapat
127 dalam dikusi pada siklus II memperoleh jumlah skor 93 dengan rata-rata skor 2,27 dan kategori cukup. Masih ada sebagian siswa yang kurang aktif dalam kelompok. 4) Mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas Indikator mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengamati media aksara jawa yang ditampilkan guru; (2) mengamati cara menulis aksara Jawa sesuai gambar yang ditampilkan: (3) siswa fokus pada media yang ditampilkan; dan (4) mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas pada siklus II memperoleh jumlah skor 124 dan rata-rata skor 3,02 dengan kategori baik. Aktivitas belajar siswa adalah kegiatan yang terjadi dalam satu konteks perencanaan untuk mencapai suatu perubahan tertentu serta menggunakan seluruh potensi individu sehingga akan terjadi perubahan perilaku tertentu (Rusman, dkk. 2012:19). Pada siklus II terdapat kenaikan dari rata-rata skor 8,07 menjadi 10,68 dengan kriteria baik. Siswa terlihat lebih antusias dalam menerima penjelasan guru. Siswa fokus pada media dan materi yang disampaikan oleh guru. Siswa berani menuliskan contoh ke depan kelas, mempresentasikan hasil diskusi dengan baik. ketika siswa membahas dan menyimpulkan materi bersama guru, siswa terlihat aktif dan sungguh-sungguh. Dalam mengerjakan soal evaluasi siswa sangat mandiri karena siswa mengerjakan sendiri tanpa bantuan teman hanya ada beberapa siswa yang mengerjakan soal evaluasi melebihi waktu yang diberikan guru. Tetapi masih ada beberapa siswa yang kurang berpartisipasi di kelas baik dalam bertanya, menjawab pertanyaan maupun berdiskusi.
128 4.2.1.2.3 Pemaknaan Temuan Hasil Belajar Siswa Hasil belajar menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus II yaitu dari 41 siswa 27 atau 65,85% siswa tuntas belajar sedangkan 14 atau 34,15% siswa belum tuntas belajar, nilai tertinggi yang diperoleh 100 dan nilai terendah 30, nilai rata-rata kelas 66,34. Menurut Purwanto (2013: 46) hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Berdasarkan indikator ketuntasan hasil belajar siswa bahwa hasil belajar siswa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash akan mencapai ketuntasan belajar klasikal sebesar 80% dan ketuntasan belajar individual 70. Berdasarkan hasil belajar siswa pada siklus II dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 65,85% belum mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan, maka penelitian ini dilanjutkan ke siklus III. 4.2.1.3 Silkus III 4.2.1.3.1 Pemaknaan Hasil Observasi Keterampilan Guru Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) pada dasarnya adalah berupa bentuk-bentuk perilaku bersifat mendasar dan khusus yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai modal awal untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajarannya secara terencana dan professional (Rusman, 2011: 80). Keterampilan mengajukan pertanyaan kepada siswa (keterampilan bertanya) memperoleh skor 4 dengan kategori sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan guru sudah memberikan pertanyaan sesuai dengan materi yang disampaikan, pertanyaan dari guru sudah diberikan secara acak, tidak hanya
129 diberikan pada siswa tertentu saja dan pertanyaan yang diberikan mudah dipahami sehingga siswa tidak kesulitan untuk menjawab. Dalam menjawab pertanyaan guru memberikan waktu yang cukup kepada siswa sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan dengan maksimal. Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respons dari seseorang yang dikenal. respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir (Hasibuan, 2011: 62). Berdasarkan hasil observasi pada keterampilan guru dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa pada siklus III guru telah melakukan keterampilan bertanya dengan sangat baik. Keterampilan menjelaskan mendapat skor 4 dengan kategori sangat baik ditunjukkan dengan guru menjelaskan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah diinformasikan. Penggunaan media yang telah disampaikan dengan baik sesuai dengan materi. Dalam menjelaskan materi guru sudah memberikan penekanan pada point-point materi yang disampaikan. Penyajian materi menggunakan media yang disertai dengan penjelasan dan contoh telah dilakukan guru dengan baik. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam keterampilan menjelaskan adalah penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran dan materi yang disampaikan harus bermakna bagi siswa (Hasibuan, 2011: 71). Berdasarkan hasil observasi keterampilan menjelaskan pada siklus III guru telah melakukan keterampilan menjelaskan dengan sangat baik.
130 Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil mendapat skor 3 dengan kategori baik ditunjukkan dengan membimbing siswa ketika mengerjakan LKS, menyebarkan kesempatan berpartisipasi ditunjukkan dengan memberi giliran atau menunjuk siswa yang jarang berbicara untuk mengungkapkan pendapatnya dan meminta siswa mengomentari pendapat temannya. Pada keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil guru sudah menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh siswa ketika berdiskusi. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memfasilitasi sistem pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa secara kelompok. untuk itu keterampilan guru harus dilatih dan dikembangkan, sehingga para guru memiliki kemampuan untuk melayani siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran eklompok kecil (Rusman, 2011: 89). Berdasarkan hasil observasi pada siklus III guru belum terlihat belum menutup diskusi. Menurut Hamalik (2008: 127) tanggung jawab guru yang terpenting ialah merencanakan dan menuntut siswa melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Guru harus membimbing siswa agar mereka memperoleh keterampilan-keterampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan, kebiasaan-kebiasaan yang baik dan perkembangan sikap yang serasi. Dalam prose pembelajaran Guru harus dapat mengebambangkan apa yang ada dalam diri siswa baik kemampaun maupun
131 potensi. Guru harus selalu membimbing dan mengarahkan siswa sehingga perkembangan siswa tercapai sesuai dengan tujuan yang ditentukan. Keterampilan mengelola pembelajaran mendapat skor 4 dengan kategori sangat baik ditunjukkan dengan guru menunjukkan sikap tanggap antara lain guru mendekati siswa sesuai keperluan, memberikan pertanyaan, dan menanggapi pertanyan-pertanyan siswa. Memberikan penguatan pada siswa yang melakukan perbuatan positif baik ketika menuliskan contoh di depan kelas maupun dalam mempresentasikan hasil diskusi. Memberikan perhatian secara menyeluruh kepada siswa, tidak mendiskriminasi siswa. Dalam membimbing diskusi kelompok guru sudah memusatkan perhatian siswa pada pokok pembahasan, memperjelas masalah, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif ketika diskusi. Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2008: 82) tugas guru dalam kelas sebagian besar adalah membelajarkan siswa dengan menyediakan kondisi belajar optimal yang dapat dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bila pengelolaan pembelajaran dapat dikerjakan secara optimal maka proses belajar berlangsung secara optimal pula. Tetapi bila tidak dilakukan secara optimal, tentu saja akan menimbulkan gangguan terhadap belajar mengajar. Berdasarkan hasil observasi pada keterampilan mengelola pembelajaran siklus III guru sudah sangat baik. Berdasarkan uraian di atas temuan hasil penelitian keterampilan guru pada siklus III diperoleh skor 15 kategori sangat baik. Data tersebut menunjukkan bahwa keterampilan guru sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan
132 yaitu keterampilan guru meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik maka dicukupkan sampai siklus III. 4.2.1.3.2 Pemaknaan Hasil Observasi Aktivitas Siswa Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus III dalam setiap indikator dijelaskan sebagai berikut: 1) Mendengarkan penjelasan guru Hasil observasi mendengarkan penjelasan guru yang terdiri dari 4 indikator yaitu (1) menyimak pejelasan guru; (2) menyimak media pembelajaran aksara Jawa; (3) mendengarkan pertanyaan dari siswa lain; dan (4) mendengarkan penjelasan guru pada siklus III diperoleh jumlah skor 148 dan rata-rata skor 3,06 dengan kategori baik. Pada siklus ini siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik, tidak ramai sendiri dan fokus pada pembelajaran. 2) Menulis aksara Jawa Keterampilan menulis aksara Jawa yang tediri dari 4 indikator yaitu (1) berani memberikan contoh menulis aksara awa di depan kelas; (2) menuliskan hasil diskusi di lembar jawab; (3) menulis hasil diskusi di depan kelas; dan (4) mencatat materi di buku catatan masing-masingpada siklus III hanya memperoleh skor 132 dengan rata-rata skor 3,22 dan kategori baik. Hal ini menunjukkan keterampilan menulis siswa meningkat dari siklus-siklus sebelumnya. Siswa lebih aktif ketika diminta untuk menulis aksara Jawa.
133 3) Berdiskusi dalam kelompok Kegiatan diskusi dengan kelompok yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengerjakan LKS; (2) mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas; (3) mengeluarkan pendapat ketika berdiskusi; dan (4) menanggapi pendapat dalam dikusi memperoleh jumlah skor 109 dengan rata-rata skor 2,65 dan kategori cukup. Ketika berdiskusi siswa lebih aktif dalam berpartisipasi dalam kelompok. 4) Mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas Indikator mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1) mengamati media aksara jawa yang ditampilkan guru; (2) mengamati cara menulis aksara Jawa sesuai gambar yang ditampilkan: (3) siswa fokus pada media yang ditampilkan; dan (4) mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas pada siklus III memperoleh jumlah skor 144 dan rata-rata skor 3,51 dengan kategori baik. Siswa lebih fokus dalam mengamati media yang ditampilkan guru. Aktivitas siswa siklus III memperoleh rata-rata skor 13 dengan kriteria sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan terlihat pada setiap kegiatan dalam proses pembelajaran siswa tenang, tidak ramai sendiri, kelas lebih kondusif dan siswa lebih antusias. Antusias siswa sangat terlihat ketika guru menampilkan media pembelajaran. Sebagian besar siswa mencatat hal-hal yang penting dari media kemudian bertanya ketika mengalami kesulitan dalam memahami materi. Siswa lebih kondusif dalam proses pembentukan kelompok. Siswa sangat berpartisipasi dalam kelompok. Ketika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
134 menuliskan contoh ke depan kelas siswa sangat aktif dan antusias. Aktivitas belajar siswa adalah kegiatan yang terjadi dalam satu konteks perencanaan untuk mencapai suatu perubahan tertentu serta menggunakan seluruh potensi individu sehingga akan terjadi perubahan perilaku tertentu (Rusman, dkk. 2012:19). Berdasarkan uraian hasil penelitian aktivitas siswa pada siklus III diperoleh skor 533 dan rata-rata skor 13 dengan kategori sangat baik. Data tersebut menunjukkan bahwa keterampilan guru sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu aktivitas siswa meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik maka dicukupkan sampai siklus III. 4.2.1.3.3 Pemaknaan Temuan Hasil Belajar Siswa Hasil belajar menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash pada siklus III yaitu dari 41 siswa 36 atau 87,80% siswa tuntas belajar sedangkan 5 atau 12,20% siswa belum tuntas belajar, nilai tertinggi yang diperoleh 100 dan nilai terendah 50, nilai rata-rata kelas 78,78. Menurut Purwanto (2013: 46) hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Berdasarkan indikator ketuntasan hasil belajar siswa bahwa hasil belajar siswa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash akan mencapai ketuntasan belajar klasikal sebesar 80% dan ketuntasan belajar individual 70. Berdasarkan hasil belajar siswa pada siklus III dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 87,80% sudah mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan, maka penelitian ini dicukupkan pada siklus III.
135 4.2.2 Implikasi Hasil Penelitian 4.2.2.1 Implikasi Teoritis Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Pendekatan SAVI adalah suatu pendekatan pembelajaran yang merupakan pengembangan perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model pembelajaran berdasar masalah. Pendekatan SAVI merupakan suatu bentuk pendekatan pembelajaran dengan menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indera yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran (Meire, 2003: 91). Ada empat unsur dalam pendekatan SAVI, yaitu e. Somatis (belajar dengan bergerak dan berbuat) f. Auditori (belajar dengan berbicara dan mendengar) g. Visual (belajar dengan mengamati dan menggambarkan) h. Intelektual (belajar dengam memecahkan masalah dan merenung) Pendekatan SAVI mampu memunculkan suasana belajar yang lebih menarik dan efektif, membangkitkan kecerdasan terpadu siswa secara penuh melalui penggabungan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual, mampu membangkitkan kreativitas dan meningkatkan kemampuan psikomotor siswa, serta memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa melalui pembelajaran secara visual, auditori dan intelektual karena pelajaran tidak hanya cukup dengan
136 ceramah saja, harus ada praktek realnya. Dengan penerapan pendekatan SAVI dengan macromedia flash yang membuat keterampilan guru menjadi lebih terarah, siswa lebih aktif dan antusias maka berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. 4.2.2.2 Implikasi Praktis Setelah dilakukan tindakan penelitian melalui penerapan pendekatan SAVI dengan macromedia flash, observasi, dan evaluasi diperoleh hasil yang menunjukkan adanya peningkatan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar pada siklus I, II dan III. Keterampilan guru pada siklus I memperoleh skor 9 dengan kategori baik, siklus II meningkat dengan skor 11 dengan kategori baik, dan siklus III mengalami peningkatan dengan skor 15 dengan kategori sangat baik. Aktivitas siswa pada siklus I memperoleh skor 8,07 dengan kategori cukup, siklus II meningkat dengan skor 10,07 dengan kategori baik, dan siklus III mengalami peningkatan dengan skor 13 dengan kategori sangat baik. Hasil belajar siswa menunjukkan persentase ketuntasan klasikal pada siklus I sebesar 36,58%, pada siklus II meningkat menjadi 65,85%, dan pada siklus III mengalami peningkatan menjadi 87,80%. 4.2.2.3 Implikasi Pedagogis Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pendekatan SAVI dengan macromedia flash dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menulis aksara Jawa meliputi keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang.
BAB V PENUTUP 5.1 SIMPULAN Berdasarkan pembahasan dan temuan penelitian keterampilan menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash, diperoleh beberapa simpulan meliputi: a. Pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash terbukti dapat meningkatkan keterampilan guru dalam mengajar. Hal tersebut terbukti adanya peningkatan skor hasil keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash. b. Pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash aktivitas siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang meningkat. Hal tersebut terbukti adanya peningkatan rata-rata hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash. c. Pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash terbukti meningkatkan hasil belajar siswa. Hal tersebut terbukti dengan adanya peningkatan rata-rata hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis aksara Jawa. 137
138 Berdasarkan simpulan di atas maka terbukti bahwa melalui pendekatan Somatic Auditory Visualization Intelecktually (SAVI) dengan macromedia flash dapat meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar pada pembelajaran menulis aksara Jawa pada siswa kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang. 5.2 SARAN Berdasarkan hasil penelitian di kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang, diajurkan saran sebagai berikut : 5.2.1. Bagi guru a. Sebaiknya guru menerapkan berbagai pendekatan maupun model pembelajaran inovatif dalam pembelajaran, b. Pendekatan somatic auditory visualization intelecktually (SAVI) dapat diterapkan pada mata pelajaran yang lain, 5.2.1. Bagi siswa a. Siswa sebaiknya lebih aktif dalam pembelajaran, b. Siswa sebaiknya lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, c. Siswa hendaknya lebih meningkatkan kerjasama dan partisipasi dalam kelompok, 5.2.3. Bagi sekolah a. Sebaiknya lebih melengkapi ketersediaan media untuk menunjang proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA Aqib, Zainal, dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. YRAMA WIDYA. Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Asriyani, dkk. 2012. Penggunaan Media Kartu Huruf Dalam Pembelajaran Aksara Jawa Di Sekolah Dasar. Skripsi. PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Arikunto, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penenlitian. Jakarta: PT Rineka Cipta. Carito, Rohim, dkk. 2013. Penerapan Pendekatan SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) Untuk Meningkatkan Kreativitas Dalam Pembelajaran Matematika Volume Bangun Ruang. Jurnal. FKIP, PGSD Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Dimyati,dkk. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Doyin, Mukh, dkk. 2009. Bahasa Indonesia. Semarang: UNNES PRESS. Fathoni, Abdurrahmat. 2006. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: PT Rineka Cipta. Herrhyanto, Nar, dkk. 2008. Statistika Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka. Hadiwirodarsono. 2010. Belajar Membaca dan Menulis Aksara Jawa. Solo: Kharisma. Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hasibuan,dkk. 2010. Praktik Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 139
140 Herdian. 2009. Model Pembelajaran SAVI. http://herdy07.wordpress.com/2009/04/22/model-pembelajaran-savi/ diakses pada tanggal 18 Maret 2013 Pukul 11:00 WIB. Indra. 2012. Definisi Pendekatan Pembelajaran Menurut Para Ahli. http://mtk2012unindra.blogspot.com/2012/10/definisi-pendekatanpembelajaran.html diakses pada tanggal 1 April 2013 pukul 19:52 WIB Irawati, Riana. 2010. Alternatif Pembelajaran Dengan Pendekatan SAVI Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SD/MI Terhadap Materi membandingkan Pecahan Sederhana. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. Iskandarwassid,dkk. 2008.Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Kurniawan, Ikha. 2012. Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa Melalui Pendekatan Somatic Auditory Visualization Intelectually (SAVI) dengan Media Kartu Kata Pada Siswa Kelas IV SDN Tambakaji 03 Semarang. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Meire, Dave. 2003. The Accelerated Learning Handbook (Terjemahan). Bandung: Kaifa. Mulyana. 2008. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka Budaya. Yogyakarta: Tiara Wacana. Mulyasa. 2010. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mulyati, Yeti. 2009. Keterampilan Berbahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Poerwanti, dkk. 2008. Asesmen Pembelajaran SD. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas. Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rachman, Maman, dkk. 2009. Filsafat Ilmu. Semarang:UPT MKU UNNES.
141 Rifa i, Achmad dan Chatarina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Press. Rosdiana, Yusi, dkk. 2009. Bahasa dan Sastra Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Solchan, dkk. 2009.Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Jakarta. Universitas Terbuka. Sudjana, Nana. 2008. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Sudjana, Nana. 2010. Media Pembelajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Suparno, dkk. 2009. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka. Suprijono, Agus. 2012. Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Susilo, Elysatri. 2012. Model Pembelajaran SAVI. http://sdelearning.blogspot.com/2012/06/artikel-tentang-model-pembelajaransavi.html diakses pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 11:06 WIB. Suwardi. 2006. Kebijakan, Idealisme dan inovasi pembelajaran Bahasa Jawa dalam Konteks Kebinekatunggalikaan. Makalah KBJ IV Semarang. Tarigan. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung: Angkasa. Tjipto Adi, Ki Begawan. 2010. Pepak Basa Jawa. Parakan: PT Widya Duta Grafika. Wahyuningsih, dkk. 2010. Prosiding Seminar Nasional. Semarang: Jurusan PGSD FIP UNNES.
142 http://alfianx2smk.blongspot.com/2010/08/multimedia-dapat-diartikansebagai.html. diakses pada tanggal 20 april 2013 pukul 08:57 WIB http://bintang-agusta-lesmana.blogspot.com/2012/03/pengertian-darimacromedia-flash-dan.html diakses pada tanggal 20 April 2013 pukul 09:00 WIB http://jaririndu.blogspot.com/2011/10/tujuan-dan-kegunaan-menulis.html diakses pada tanggal 21 Maret 2013 Pukul 10:46 WIB.
143 LAMPIRAN 1 PEDOMAN DAN KISI-KISI INSTRUMEN
144 PEDOMAN PENERAPAN INDIKATOR KETERAMPILAN GURU Keterampilan Dasar Mengajar 1) Keterampilan membuka pelajaran 2) Keterampilan bertanya 3) Keterampilan menjelaskan 4) Keterampilan mengunakan variasi 5) Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil 6) Keterampilan pembelajaran perseorangan 7) Keterampilan memberi penguatan 8) Keterampilan mengelola kelas 9) Keterampilan menutup pelajaran Sintaks Pendekatan SAVI dengan macromedia flash 1) Guru menyiapkan media dan sumber belajar serta mengkondisikan siswa; 2) Guru melakukan apersepsi; 3) Guru menampilkan media macromedia flash di depan kelas. 4) Guru menjelaskan kepada siswa mengenai materi menulis aksara Jawa dan memberikan contoh cara menulis aksara jawa; 5) Siswa mendengarkan penjelasan guru (Auditory); 6) Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa melalui macromedia flash maupun contoh dari guru kemudian nantinya siswa menirukan cara menulis aksara Jawa (Visualization/ somatic); 7) Guru membentuk siswa menjadibeberapa kelompok (masyarakat belajar); 8) Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada masing-masing kelompok yang berupa kata dan kalimat yang harus disalin Indikator keterampilan guru dalam pembelajaran menulis aksara Jawa melalui pendekatan SAVI dengan macromedia flash 1) Mengajukan pertanyaan kepada siswa (Keterampilan bertanya/ intelectually) 2) Menjelaskan materi pelajaran (Keterampilan menjelaskan/ visualization) 3) Membimbing siswa ketika berdiskusi (Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil/auditory) 4) Pengelolaan kelas (Keterampilan mengelola kelas/somatic)
145 dengan menggunakan aksara jawa; 9) Siswa diminta untuk menyelesaikan LKS dengan cara berdiskusi (Intelectually); 10) Perwakilan kelompok diminta untuk menuliskan hasil diskusi ke depan kelas; 11) Guru memberikan reward atau penghargaan kepada kelompok yang terbaik; 12) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika ada materi yang belum dipahami (bertanya); 13) Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari; 14) Guru memberikan evaluasi pada akhir pembelajaran (penilaian autentik); 15) Guru menutup pelajaran.
146 PEDOMAN PENERAPAN INDIKATOR AKTIVITAS SISWA Aktivitas siswa 1) Kegiatankegiatan visual, 2) Kegiatankegiatan lisan (oral), 3) Kegiatankegiatan mendengarkan 4) Kegiatankegiatan menulis, 5) Kegiatankegiatan menggambar, 6) Kegiatankegiatan metrik, 7) Kegiatankegiatan mental, 8) Kegiatankegiatan emosional, Sintaks Pendekatan SAVI dengan macromedia flash 1) Guru menyiapkan media dan sumber belajar serta mengkondisikan siswa; 2) Guru melakukan apersepsi; 3) Guru menampilkan media macromedia flash di depan kelas. 4) Guru menjelaskan kepada siswa mengenai materi menulis aksara Jawa dan memberikan contoh cara menulis aksara jawa; 5) Siswa mendengarkan penjelasan guru (Auditory); 6) Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa melalui macromedia flash maupun contoh dari guru kemudian nantinya siswa menirukan cara menulis aksara Jawa (Visualization/somatic) 7) Guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok (masyarakat belajar); Indikator aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan pendekatan SAVI dengan macromedia flash 1) Mendengarkan penjelasan guru (kegiatan mendengarkan/auditory) 2) Menulis aksara jawa (kegiatan menulis/somatic), 3) Berdiskusi dalam kelompok (kegiatan mental/intelectually), 4) Mengamati media yang di tampilkan guru di depan kelas (kegiatan visual/visualization).
147 8) Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada masingmasing kelompok yang berupa kata dan kalimat yang harus disalin dengan menggunakan aksara jawa; 9) Siswa diminta untuk menyelesaikan LKS dengan cara berdiskusi (Intelectually); 10) Perwakilan kelompok diminta untuk menuliskan hasil diskusi ke depan kelas; 11) Guru memberikan reward atau penghargaan kepada kelompok yang terbaik; 12) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika ada materi yang belum dipahami (bertanya); 13) Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari; 14) Guru memberikan evaluasi pada akhir pembelajaran (penilaian autentik); 15) Guru menutup pelajaran.
148 KISI-KISI INSTRUMEN Judul: Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa melalui Pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash Pada Siswa Kelas IVA SDN Petompon 02 Semarang No Variabel Indikator Sumber Data 1 Keterampila 1) Mengajukan pertanyaan - Guru n guru kepada siswa - Foto dalam (Keterampilan bertanya/intelectually) pembelajaan 2) Menjelaskan materi Bahasa pelajaran (Keterampilan Jawa menjelaskan/visualization) melalui 3) Membimbing siswa ketika Pendekatan berdiskusi (Keterampilan SAVI membimbing diskusi dengan kelompok kecil/auditory) 4) Pengelolaan kelas Macromedia (Keterampilan mengelola Flash 2 Aktivitas siswa dalam pembelajaan Bahasa Jawa melalui Pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash 3 Hasil Belajar siswa dalam pembelajaan menulis Aksara Jawa melalui kelas/somatic) 1) Mendengarkan penjelasan guru (kegiatan mendengarkan/auditor) 2) Menulis aksara jawa (kegiatan menulis/somatic) 3) Berdiskusi dalam kelompok (kegiatan mental/intelectually), 4) Mengamati media yang di tampilkan guru di depan kelas (kegiatan visual/visualization). 1) Hasil belajar aspek kognitif meliputi a. Mengidentifikasi jenis aksara panyigeg wanda dan panyigeg wyanjana, b.menulis kata dan kalimat beraksara Jawa yang menggunakan - Siswa - Foto Alat/ Instrumen - Lembar observasi - Alat dokumentasi (Kamera) - Pedoman wawancara - Lembar observasi - Alat dokumentasi (Kamera) - Siswa - Soal Tes tertulis
149 pendekatan SAVI dengan Macromedia Flash sandhangan panyigeg wanda dan sandhangan panyigeg wyanjana. 2) Hasil belajar aspek psikomotorik dinilai dari keterampilan siswa menulis aksara Jawa yang diperoleh dari hasil evaluasi belajar siswa pada akhir pembelajaran.
150 LAMPIRAN 2 INSTRUMEN PENELITIAN
151 LEMBAR PENGAMATAN KETERAMPILAN GURU Pertemuan...Siklus... Nama SD : SDN Petompon 02 Semarang Kelas/ Semester : IVA/ 2 Materi : Aksara Jawa Hari/ Tanggal : Berilah penilaian dengan memberikan tanda cek ( ) pada kolom yang tersedia! Keterangan: a. Jika deskriptor nampak 1, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 1. b. Jika deskriptor nampak 2, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 2. c. Jika deskriptor nampak 3, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 3. d. Jika deskriptor nampak 4, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 4. No. Indikator Deskriptor Tingkat Kemampuan Skor 1 2 3 4 1 Mengajukan pertanyaan kepada siswa (Keterampilan bertanya/intel ectually) a. Mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan dipelajari b. Memberikan Pertanyaan secara acak kepada siswa c. Memberikan waktu
152 2 Menjelaskan materi pelajaran (Keterampilan menjelaskan/ Visualization) berpikir. d. Memberikan pertanyaan yang mudah dipahami siswa a. Menjelaskan materi aksara Jawa b. Menjelaskan media pembelajaran c. Menampilkan media aksara Jawa d. Memberikan contoh menulis aksara Jawa 3 Membimbing siswa ketika berdiskusi (Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil/ auditory) a. Membimbing siswa mengerjakan LKS b. Mendengarkan pendapat siswa ketika berdiskusi c. Menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi d. Menutup diskusi 4 Pengelolaan kelas (Keterampilan mengelola kelas/somatic) a. Pengadaan penguatan (verbal maupun nonverbal) b. Pengunaan media pembelajaran c. Membimbing diskusi kelompok
153 d. Pengkondisian kelas Kriteria penilaian: Skor maksimal (M) : 16 Skor minimal (K) : 4 n = (M - K) + 1 = (16-4) + 1 = 11 Letak Q1 = (n + 1) = (11 + 1) Jumlah = 3 jadi nilai Q1 adalah 6 Letak Q2 = ( n + 1) = (11 + 1) = 6 jadi nilai Q2 adalah 9 Letak Q3 = (n + 1) = (11 + 1) = 9 jadi nilai Q3 adalah 12 Kriteria ketuntasan Kategori Nilai 12 skor 16 Sangat baik A 9 skor < 12 Baik B 6 skor < 9 Cukup C 4 skor < 6 Kurang D
154 LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA Pertemuan...Siklus... Nama SD : SDN Petompon 02 Semarang Kelas/ Semester : IVA/ 2 Materi : Aksara Jawa Hari/ Tanggal : tersedia! Keterangan: Berilah penilaian dengan memberikan tanda cek ( ) pada kolom yang a. Jika deskriptor nampak 1, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 1. b. Jika deskriptor nampak 2, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 2. c. Jika deskriptor nampak 3, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 3. d. Jika deskriptor nampak 4, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 4. No Indikator Deskriptor Tingkat Kemampuan 1 2 3 4 1 Mendengarkan a. Siswa menyimak penjelasan penjelasan guru guru (kegiatan b. Siswa mendengarkan mendengarkan/ penjelasan guru dengan auditory) baik c. Siswa menyimak media pembelajaran aksara Jawa d. Siswa mendengarkan Skor
155 2 Menulis aksara jawa ( kegiatan menulis/ somatic) 3 Berdiskusi dalam kelompok (kegiatan mental/ intelectually) 4 Mengamati media yang di tampilkan guru di depan kelas (kegiatan visual/ Visualization) pertanyaan dari siswa lain a. Siswa mencatat materi di buku catatan masingmasing b. Siswa menulis hasil diskusi di lembar jawab c. Siswa menulis hasil diskusi di depan kelas d. Siswa berani memberikan contoh menulis aksara jawa di depan kelas a. Siswa mengerjakan LKS b. Siswa mengeluarkan pendapat ketika diskusi berlangsung c. Siswa menanggapi pendapat dalam diskusi d. Siswa mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas a. Siswa mengamati media Aksara Jawa yang ditampilkan guru. b. Siswa mengamati cara menulis aksara jawa sesuai dengan gambar yang ditampilkan c. Siswa fokus pada media yang ditampilkan d. Siswa mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas Jumlah
156 Kriteria penilaian: Skor maksimal (M) : 16 Skor minimal (K) : 4 n = (M - K) + 1 = (16-4) + 1 = 11 Letak Q1 = (n + 1) = ( 11 + 1) = 3 jadi nilai Q1 adalah 6 Letak Q2 = ( n + 1) = (11 + 1) = 6 jadi nilai Q2 adalah 9 Letak Q3 = (n + 1) = (11 + 1) =9 jadi nilai Q3 adalah 12 Kriteria ketuntasan Kategori Nilai 12 skor 16 Sangat baik A 9 skor < 12 Baik B 6 skor < 9 Cukup C 4 skor < Kurang D
157 PEDOMAN WAWANCARA GURU KELAS IVA SDN PETOMPON 02 SEMARANG Petunjuk Pengisian : 1. Berilah tanda pada jawaban yang dianggap sesuai dengan pengamatan Anda. No. Pertanyaan Kurang Cukup Baik Sangat Baik 1 Apakah siswa memperhatikan saat guru menjelaskan? 2 Apakah siswa berani menjawab pertanyaan dari guru? 3 Apakah siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran? 4 Apakah siswa tertib dalam mengikuti pembelajaran (tidak ramai sendiri, tidak bercerita dengan teman) 5 Apakah dalam pembentukan kelompok siswa melaksanakan diskusi tenang 6 Apakah siswa mengerjakan LKS tepat waktu dengan anggota kelompoknya? 7 Apakah siswa ikut bekerjasama dalam kerja kelompok? 8 Apakah siswa memahami materi yang disampaikan guru 9 Apakah dalam mengerjakan soal evaluasi siswa mengerjakan dengan tenang, tidak mencontek, dan mengerjakan semua soal tepat waktu? 10 Apakah siswa ikut mengeluarkan pendapat dalam membuat simpulan pembelajaran?
158 CATATAN LAPANGAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN MENULIS AKSARA JAWA MELALUI PENDEKATAN SAVI DENGAN MACROMEDIA FLASH PADA SISWA KELAS IVA SDN PETOMPON 02 SEMARANG Siklus : Kelas/Semester : Hari/Tanggal : Petunjuk : Catatlah keadaan lapangan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya!.......................................................................................... Observer (...)
159 LAMPIRAN 3 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
160 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS I Satuan Pendidikan : SDN Petompon 02 Semarang Mata Pelajaran : Bahasa Jawa Kelas/Semester : IV (Empat) A / II (Genap) Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari/Tanggal : Senin, 29 April 2013 I. STANDAR KOMPETENSI: 4 Mampu menulis karangan dalam berbagai ragam Bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis aksara Jawa. II. KOMPETENSI DASAR: 4.1 Menulis kalimat sederhana berhuruf Jawa menggunakan sandhangan panyigeg wanda dan sandhangan panyigeg wyanjana. III. INDIKATOR: 1. Menulis kata berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. 2. Menulis kalimat berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. Karakter yang diharapkan dimiliki siswa: - Percaya diri - Kerjasama - Pemberani - Disiplin - Tanggung jawab
161 IV. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Melalui contoh dari guru siswa dapat menulis kata berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar dengan baik. 2. Melalui kegiatan diskusi siswa dapat menulis kalimat berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar dengan tepat. V. MATERI AJAR Sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar VI. PENDEKATAN dan METODE PEMBELAJARAN 1. Pendekatan: SAVI 2. Metode: - Informasi - Tanya Jawab - Diskusi - Penugasan VII. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN Pra kegiatan (±10 menit) a. Salam b. Berdoa c. Persensi d. Pengkondisian kelas 1. Kegiatan Awal (±10 menit) a. Guru melakukan apersepsi dengan bertanya kepada siswa Sapa sing bisa nulis aksara Jawa? b. Guru memberikan motivasi kepada siswa agar semangat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 2. Kegiatan Inti (±40 menit) a. Guru menampilkan macromedia Flash di depan kelas. (eksplorasi) b. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa yang ditampilkan melalui macromedia flash. (eksplorasi/visualization/somatic)
162 c. Guru menjelaskan materi bahasa Jawa tentang cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. (eksplorasi) d. Guru memberikan beberapa contoh cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. (eksplorasi) e. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. (eksplorasi/auditory) f. Guru meminta beberapa siswa untuk menuliskan aksara Jawa di depan kelas sesuai dengan kata yang diberikan oleh guru. (eksplorasi/somatic) g. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok. (elaborasi) h. Guru membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok yang berisi tentang kata yang harus disalin ke dalam aksara jawa. (elaborasi) i. Siswa mengerjakan LKS yang berisi tentang kata yang harus disalin ke dalam aksara Jawa dengan berdiskusi dengan anggota kelompok (elaborasi/intelectually). j. Perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi dengan menuliskan jawaban di papan tulis. (elaborasi) k. Perwakilan kelompok yang menulis benar akan diberikan reward. (konfirmasi) l. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang kurang jelas. (konfirmasi) 3. Kegiatan Akhir (±10 menit) a. Guru dan seluruh siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang telah dipelajari. b. Guru melakukan refleksi mengenai proses pembelajaran yang telah dilakukan c. Guru memberi soal evaluasi kepada siswa.
163 d. Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. e. Guru memberikan motivasi kepada siswa agar rajin belajar dan mengembangkan sikap percaya diri. VIII. Media dan Sumber Belajar 1. Media a. Gambar-gambar aksara Jawa b. Lembar kerja siswa c. Lembar evaluasi 2. Sumber Belajar : a. Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Jawa untuk jenjang SD provinsi Jawa Tengah. b. Buku Belajar membaca dan menulis Aksara Jawa karangan Hadiwirodarsono. 2010. Belajar membaca dan menulis Aksara Jawa. Solo: Kharisma. c. Buku Remen Basa Jawa Kanggo Sekolah Dasar Kelas IV karangan Suyoto, dkk. 2006. Remen Basa Jawa Kanggo Sekolah Dasar Kelas IV. Semarang: Erlangga.
164 IX. Penilaian a. Prosedur Tes 1.Tes Awal : - 2.Tes dalam Proses : Penilaian sikap 3.Tes Akhir : Tes Tertulis b. Jenis Tes 1. Tes Tertulis : Isian c. Bentuk Tes : Isian d. Alat Tes 1. Soal-soal Tes : Terlampir 2. Kunci Jawaban : Terlampir 3. Kriteria Penilaian : Terlampir Guru Kelas IVA, Mengetahui, Semarang, 29 April 2013 Peneliti Wisnu Yuli S, S.Pd Dewi Supadmi NIP. 19760705 200604 2 002 NIM. 1401409387 Kepala Sekolah Setyowati, S.Pd.M.Pd NIP.19621105 198304 2 007
165 PENILAIAN PROSES (PENILAIAN SIKAP) Petunjuk Isilah kolom Penilaian perilaku di bawah ini dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut: 1: sangat kurang, 2: kurang, 3: sedang, 4: baik, 5: sangat baik No. Nama Siswa Perilaku Skor Keterangan Keaktifan Kepedulian Kerjasama 1. 2. 3. 4. 5. skor maksimal: 15 skor minimal : 3 Kriteria penilaian: 3-5 = kurang 6-8 = cukup 9-11 = baik 12-15 = sangat baik
166 MATERI AJAR Sandhangan Panyigeg Wanda 1. Cecak (... ) Aksara (nga) mati Wujude:......(cecak). Manggone: ing dhuwure aksara sadurunge. conto: = Eyang kakung = Abang = Kembang 2. Layar (... ) Aksara (ra) mati Wujude:...... (layar). Manggon: Ing dhuwur aksara sadurunge Conto: = Pasar anyar = Kabar = Cikar
167 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS I Tulisen tetembungan ing ngisor iki nganggo aksara Jawa! 1. Cemeng 2. Talang 3. saking 4. Kabur 5. Ngalor 6. Kacang bawang 7. Durung dadi 8. Menyang langgar 9. Budhe dhahar 10. Mabur dhuwur
168 KUNCI JAWABAN LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS I 1. Cemeng = 2. Talang = 3. saking = 4. Kabur = 5. Ngalor = 6. Kacang bawang = 7. Durung dadi = 8. Menyang langgar = 9. Budhe dhahar = 10. Mabur dhuwur = Penilaian: Nilai = Keterangan: B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar N = Banyaknya butir soal
169 KISI-KISI SOAL EVALUASI SIKLUS I - Mata Pelajaran : Bahasa Jawa - Kelas/ Semester : IV/2 - Standar Kompetensi : 4 Mampu menulis karangan dalam berbagai ragam Bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis aksara Jawa. - Kompetensi Dasar: 4.1 Menulis kalimat sederhana berhuruf jawa menggunakan sandhangan panyigeg wanda dan sandhangan panyigeg wyanjana. - Materi : Menulis aksara Jawa No Indikator Bentuk Soal Teknik Penilaian Tingkat Kognitif Nomor Soal 1 Menulis kata berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. Isian Tes C3 1-5 2 Menulis kalimat berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda cecak dan layar. Isian Tes C3 6-10
170 SOAL EVALUASI SIKLUS I I. Wacanen tetembungan ing ngisor iki, banjur tulisen aksara jawane! 1. Bocor 2. Terong 3. Sukaharja 4. Purwakerta 5. Purbalingga 6. Ngoyak maling 7. Sutarno gawe sumur 8. Suratna ora seger 9. Manuk mabur 10. Wedang rondhe
171 KUNCI JAWABAN SOAL EVALUASI SIKLUS I II. 1. Bocor: 2. Terong: 3. Sukaharja: 4. Purwakerta: 5. Purbalingga: 6. Ngoyak maling: 7. Sutarno gawe sumur: 8. Suratna ora seger: 9. Manuk mabur: 10. Wedang rondhe: Penilaian: Nilai = Keterangan: B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar N = Banyaknya butir soal
MEDIA PEMBELAJARAN 172
173 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS II Satuan Pendidikan : SDN Petompon 02 Mata Pelajaran : Bahasa Jawa Kelas/Semester : IV (Empat) A / II (Genap) Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari/Tanggal : Kamis, 2 Mei 2013 I. STANDAR KOMPETENSI: 4 Mampu menulis karangan dalam berbagai ragam Bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis aksara jawa II. KOMPETENSI DASAR: 4.1 Menulis kalimat sederhana berhuruf Jawa menggunakan sandhangan panyigeg wanda dan sandhangan panyigeg wyanjana. III. INDIKATOR: 1. Menulis kata berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. 2. Menulis kalimat berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. Karakter yang diharapkan dimilki siswa: - percaya diri - kerjasama - pemberani - disiplin - tanggung jawab IV. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Melalui contoh dari guru siswa dapat menulis kata berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon.
174 2. Melalui kegiatan diskusi siswa dapat menulis kalimat berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. V. MATERI AJAR Sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. VI. PENDEKATAN dan METODE PEMBELAJARAN 1. Pendekatan: SAVI 2. Metode: - Informasi - Tanya Jawab - Diskusi - Penugasan VII. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN Pra kegiatan (±10 menit) a. Salam b. Berdoa c. Persensi d. Pengkondisian kelas 1. Kegiatan Awal (±10 menit) a. Guru melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab dengan siswa sapa sing pernah menyang sawah?, Sapa sing bisa nulis aksara jawane sawah? b. Guru memberikan motivasi kepada siswa agar semangat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 2. Kegiatan Inti (±40 menit) a. Guru menampilkan macromedia Flash di depan kelas. (eksplorasi) b. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa yang ditampilkan melalui macromedia flash. (eksplorasi/visualization/somatic) c. Guru menjelaskan materi bahasa jawa tentang cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon (eksplorasi)
175 d. Guru memberikan beberapa contoh cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. (eksplorasi) e. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon.(eksplorasi/auditory) f. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. (eksplorasi/visualization) g. Guru meminta beberapa siswa untuk menuliskan aksara Jawa di depan kelas sesuai dengan kata yang diberikan oleh guru. (eksplorasi/somatic) h. Guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok, sesuai dengan kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. (elaborasi) i. Guru membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok yang berisi tentang kata yang harus disalin ke dalam aksara jawa. (elaborasi) j. Siswa mengerjakan LKS yang berisi tentang kata yang harus disalin ke dalam aksara jawa dengan berdiskusi dengan anggota kelompok (elaborasi/intelectually). k. Perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi dengan menuliskan jawaban di papan tulis. (elaborasi) l. Perwakilan kelompok yang menulis benar akan diberikan reward. (konfirmasi) m. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang kurang jelas. (konfirmasi) 3. Kegiatan Akhir (±10 menit) a. Guru dan seluruh siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang telah dipelajari. b. Guru melakukan refleksi mengenai proses pembelajaran yang telah dilakukan c. Guru memberi soal evaluasi kepada siswa.
176 d. Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. VIII. Media dan Sumber Belajar 1. Media a. Gambar aksara Jawa b. Lembar kerja siswa c. Lembar evaluasi 2. Sumber Belajar : a. Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Jawa untuk jenjang SD provinsi Jawa Tengah. b. Buku Belajar membaca dan menulis Aksara Jawa karangan Hadiwirodarsono. 2010. Belajar membaca dan menulis Aksara Jawa. Solo: Kharisma. c. Buku Remen Basa Jawa Kanggo Sekolah Dasar Kelas IV karangan Suyoto, dkk. 2006. Remen Basa Jawa Kanggo Sekolah Dasar Kelas IV. Semarang: Erlangga.
177 IX. Penilaian 1. Prosedur Tes a. Tes Awal : - b. Tes dalam Proses : Penilaian sikap c. Tes Akhir : Tes Tertulis 2. Jenis Tes a. Tes Tertulis : Isian 3. Bentuk Tes : Isian 4. Alat Tes a. Soal-soal Tes : Terlampir b. Kunci Jawaban : Terlampir c. Kriteria Penilaian : Terlampir Semarang, 2 Mei 2013 Guru Kelas IVA, Mengetahui, Peneliti Wisnu Yuli S, S.Pd Dewi Supadmi NIP. 19760705 200604 2 002 NIM. 1401409387 Kepala Sekolah Setyowati, S.Pd.M.Pd NIP.19621105 198304 2 007
178 PENILAIAN PROSES (PENILAIAN SIKAP) Petunjuk Isilah kolom Penilaian perilaku di bawah ini dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut: 1: sangat kurang, 2: kurang, 3: sedang, 4: baik, 5: sangat baik No. Nama Siswa Perilaku Skor Keterangan Keaktifan Kepedulian Kerjasama 1. 2. 3. 4. 5. skor maksimal: 15 skor minimal : 3 Kriteria penilaian: 3-5 = kurang 6-8 = cukup 9-11 = baik 12-15 = sangat baik
179 Materi ajar Sandhangan Panyigeg Wanda 1. Wignyan (... ) Aksara (Ha) mati Wujude:......(wignyan). Manggone: ing mburine aksara sadurunge. conto: = Tengah = Wadhah = Umbah-umbah 3. Pangkon (... ) sandhangan pangkon (... ) manggone ing mburi dhewe. Wujude ora owah nanging dipangku. Conto: = Wedhus = Numpak = Nyekel laron
180 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS II Tulisen tetembungan ing ngisor iki nganggo aksara Jawa! 1. Bocah 2. Jadah 3. Nagih 4. Galak 5. Nanas 6. Ngidak cecak 7. Apa maneh 8. Macan galak 9. Tekan ngomah 10. Nyuwun duwit
181 KUNCI JAWABAN LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS II 1. Bocah = 2. Jadah = 3. Nagih = 4. Galak = 5. Nanas= 6. Ngidak cecak = 7. Apa maneh = 8. Macan galak = 9. Tekan ngomah = 10. Nyuwun duwit = Penilaian: Nilai = Keterangan: B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar N = Banyaknya butir soal
182 KISI-KISI SOAL EVALUASI SIKLUS II - Mata Pelajaran : Bahasa Jawa - Kelas/ Semester : IV/2 - Standar Kompetensi : 4 Mampu menulis karangan dalam berbagai ragam Bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis Aksara Jawa. - Kompetensi Dasar: 4.1Menulis kalimat sederhana berhuruf jawa menggunakan sandhangan panyigeg wanda dan sandhangan panyigeg wyanjana. - Materi : Menulis aksara Jawa No Indikator Bentuk Soal Teknik Penilaian Tingkat Kognitif Nomor Soal 1 Menulis kata berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. isian Tes C3 1-5 2 Menulis kalimat berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda wignyan dan pangkon. Isian Tes C3 6-10
183 SOAL EVALUASI SIKLUS II I. Wacanen tetembungan ing ngisor iki, banjur tulisen aksara jawane! 1. Temah 2. Sawah 3. Welut 4. Wakil 5. Wutah 6. Ngiris kupat 7. Ngodag-ngadeg 8. Uyah wutah 9. Liwat sawah 10. Sugih dhuwit
184 KUNCI JAWABAN SOAL EVALUASI SIKLUS II I. 1. Temah: 2. Sawah: 3. Welut: 4. Wakil: 5. Wutah: 6. Ngiris kupat: 7. Ngodag-ngadeg: 8. Uyah wutah: 9. Liwat sawah: 10. Sugih dhuwit: Penilaian: Nilai = Keterangan: B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar N = Banyaknya butir soal
MEDIA PEMBELAJARAN 185
186 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS III Satuan Pendidikan : SDN Petompon 02 Mata Pelajaran : Bahasa Jawa Kelas/Semester : IV (Empat) A / II (Genap) Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari/Tanggal : 13 Mei 2013 I. STANDAR KOMPETENSI: 4 Mampu menulis karangan dalam berbagai ragam Bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis aksara jawa II. KOMPETENSI DASAR: 4.1 Menulis kalimat sederhana berhuruf Jawa menggunakan sandhangan panyigeg wanda dan sandhangan panyigeg wyanjana. III. INDIKATOR: 1. Menulis kata berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wyanjana pengkal, cakra dan keret. 2. Menulis kalimat berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan penyigeg wyanjana pengkal, cakra dan keret. Karakter yang diharapkan dimilki siswa: - Percaya diri - Kerjasama - Pemberani - Disiplin - Tanggung jawab
187 IV. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Melalui contoh dari guru siswa dapat menulis kata berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wyanjana pengkal, cakra dan keret dengan benar. 2. Melalui kegiatan diskusi siswa dapat menulis kalimat berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wyanjana pengkal, cakra dan keret dengan baik. V. MATERI AJAR Sandhangan panyigeg wyanjana pengkal, cakra dan keret. VI. PENDEKATAN dan METODE PEMBELAJARAN 1. Pendekatan: SAVI 2. Metode: - Tanya Jawab - Diskusi - Penugasan VII. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN Pra kegiatan (±10 menit) a. Salam b. Berdoa c. Persensi d. Pengkondisian kelas 1. Kegiatan Awal (±10 menit) a. Guru melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawa dengan siswa Sapa sing pernah numpak kreta?, Sapa sing bisa nulis aksara jawane kreta? b. Guru memberikan motivasi kepada siswa agar semangat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 2. Kegiatan Inti (±40 menit) a. Guru menampilkan macromedia Flash di depan kelas. (eksplorasi)
188 b. Siswa mengamati cara menulis aksara Jawa yang ditampilkan melalui macromedia flash. (eksplorasi/visualization/somatic) c. Guru menjelaskan materi bahasa jawa tentang cara menulis aksara Jawa dengan sandhangan panyigeg wyanjana (pengkal, cakra dan keret). (eksplorasi) d. Guru memberikan beberapa contoh cara menulis aksara jawa dengan sandhangan panyigeg wyanjana (pengkal, cakra dan keret). (eksplorasi) e. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai cara menulis aksara Jawa dengan sandhangan panyigeg wyanjana (pengkal, cakra dan keret).(eksplorasi/auditory) f. Siswa mengamati guru dalam memberikan contoh menulis aksara jawa dengan sandhangan panyigeg wyanjana (pengkal, cakra dan keret). (eksplorasi/visualization) g. Guru meminta siswa untuk menuliskan aksara jawa ke depan kelas sesuai dengan kata yang diberikan guru (eksplorasi/somatic) h. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok, sesuai dengan kelompok pada pertemuan sebelumnya. (elaborasi) i. Guru membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok yang berisi tentang kata yang harus disalin ke dalam aksara jawa. (elaborasi) j. Siswa mengerjakan LKS yang berisi tentang kata yang harus disalin ke dalam aksara jawa. dengan berdiskusi dengan anggota kelompok (elaborasi/intelectually). k. Perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi dengan menuliskan jawaban di papan tulis. (elaborasi) l. Perwakilan kelompok yang menulis benar akan diberikan reward. (konfirmasi) m. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang kurang jelas. (konfirmasi)
189 3. Kegiatan Akhir (±10 menit) a. Guru dan seluruh siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang telah dipelajari. b. Guru melakukan refleksi mengenai proses pembelajaran yang telah dilakukan c. Guru memberi soal evaluasi kepada siswa d. Guru memberikan tindak lanjut dengan memberikan tugas rumah kepada siswa VIII. Media dan Sumber Belajar 1. Media belajar: a. Macromedia Flash b. Lembar kerja siswa c. Lembar evaluasi 2. Sumber Belajar : a. Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Jawa untuk jenjang SD provinsi Jawa Tengah. b. Buku Belajar membaca dan menulis Aksara Jawa karangan Hadiwirodarsono. 2010. Belajar membaca dan menulis Aksara Jawa. Solo: Kharisma. c. Buku Remen Basa Jawa Kanggo Sekolah Dasar Kelas IV karangan Suyoto, dkk. 2006. Remen Basa Jawa Kanggo Sekolah Dasar Kelas IV. Semarang: Erlangga.
190 IX. Penilaian 1. Prosedur Tes a. Tes Awal : - b. Tes dalam Proses : Penilaian sikap c. Tes Akhir : Tes Tertulis 2. Jenis Tes a. Tes Tertulis : Isian 3. Bentuk Tes : Isian 4. Alat Tes a. Soal-soal Tes : Terlampir b. Kunci Jawaban : Terlampir c. Kriteria Penilaian : Terlampir Semarang, 13 Mei 2013 Guru Kelas IVA, Mengetahui, Peneliti Wisnu Yuli S, S.Pd Dewi Supadmi NIP. 19760705 200604 2 002 NIM. 1401409387 Kepala Sekolah Setyowati, S.Pd.M.Pd NIP.19621105 198304 2 007
191 PENILAIAN PROSES (PENILAIAN SIKAP) Petunjuk Isilah kolom Penilaian perilaku di bawah ini dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut: 1: sangat kurang, 2: kurang, 3: sedang, 4: baik, 5: sangat baik No. Nama Siswa Perilaku Skor Keterangan Keaktifan Kepedulian Kerjasama 1. 2. 3. 4. 5. Skor maksimal: 15 Skor minimal : 3 Kriteria penilaian: 3-5 = kurang 6-8 = cukup 9-11 = baik 12-15 = sangat baik
192 MATERI AJAR 1. Cakra wujude:... Sandhangan Panyigeg Wyanjana (Cakra, Keret, dan Pengkal). Manggone: ing ngisore aksara sing dipasangi. conto: = Cakra = Kridha = Prabu Janaka 2. Keret Wujude:.... Manggone: ing ngisore aksara sing dipasangi. Conto: = Kreteg = Greneng = Radi asrep 3. Pengkal (... ) Sandhangan pengkal (... ) manggone ing mburi aksara sing dipasangi. Conto: = Kopyah = Sumyah = Kutha madya
193 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS III Tulisen tetembungan ing ngisor iki nganggo aksara Jawa! 1. Jupri 2. Kreteg dawa 3. Subyah 4. Sukra 5. Nyukur brengos 6. Tata krama 7. Kreta kencana 8. Bocah sregep 9. Gawe bubrah 10. Kopyah abang
194 KUNCI JAWABAN LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS III 1. Jupri = 2. Kreteg dawa = 3. Subyah = 4. Sukra = 5. Nyukur brengos = 6. Tata krama = 7. Kreta kencana = 8. Bocah sregep = 9. Gawe bubrah = 10. Kopyah abang = Penilaian: Nilai = Keterangan: B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar N = Banyaknya butir soal
195 KISI-KISI SOAL EVALUASI SIKLUS III - Mata Pelajaran : Bahasa Jawa - Kelas/ Semester : IV/2 - Standar Kompetensi : 4. Mampu menulis karangan dalam berbagai ragam Bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis aksara Jawa. - Kompetensi Dasar: 4.1Menulis kalimat sederhana berhuruf Jawa menggunakan sandhangan panyigeg wanda dan sandhangan panyigeg wyanjana. - Materi : Menulis aksara Jawa No Indikator Bentuk Soal Teknik Penilaian Tingkat Kognitif Nomor Soal 1 Menulis kata berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wyanjana ( cakra, keret, dan pengkal) Isian Tes C3 1-5 2 Menulis kalimat berhuruf Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wyanjana ( cakra, keret, dan pengkal) Isian Tes C3 6-10
196 SOAL EVALUASI SIKLUS III I. Wacanen tetembungan ing ngisor iki, banjur tulisen aksara jawane! 1. Ngrewangi 2. Koprasi 3. Trewelu 4. Sutrisna 5. Crita 6. Bagya dadi priyayi 7. Jupri wedi cacing kremi 8. Setya tuku buku 9. Sumini tuku srabi 10. Kyai dulah
197 LEMBAR JAWAB SOAL EVALUASI SIKLUS III I. 1. Ngrewangi: 2. Koprasi: 3. Trewelu: 4. Sutrisna: 5. Crita: 6. Bagya dadi priyayi: 7. Jupri wedi cacing kremi: 8. Setya tuku buku: 9. Sumini tuku srabi: 10. Kyai dulah: Penilaian: Nilai = Keterangan: B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar N = Banyaknya butir soal
MEDIA PEMBELAJARAN 198
199 LAMPIRAN 4 DATA HASIL PENELITIAN
200 LEMBAR PENGAMATAN KETERAMPILAN GURU Siklus I Nama SD : SDN Petompon 02 Semarang Kelas/ Semester : IVA/ 2 Materi : Aksara Jawa Hari/ Tanggal : 29 April 2013 tersedia! Keterangan: Berilah penilaian dengan memberikan tanda cek ( ) pada kolom yang e. Jika deskriptor nampak 1, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 1. f. Jika deskriptor nampak 2, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 2. g. Jika deskriptor nampak 3, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 3. h. Jika deskriptor nampak 4, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 4. No. Indikator Deskriptor 1 Mengajukan pertanyaan kepada siswa (Keterampilan bertanya/ Intelectually) a. Mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan dipelajari b. Memberikan Pertanyaan secara acak kepada siswa c. Memberikan waktu berpikir. Tampak Tingkat Kemampuan 1 2 3 4 2 Skor
201 2 Menjelaskan materi pelajaran (Keterampilan menjelaskan/ Visualization) d. Memberikan pertanyaan yang mudah dipahami siswa a. Menjelaskan materi aksara Jawa b. Menjelaskan media pembelajaran c. Menampilkan media aksara Jawa d. Memberikan contoh menulis aksara Jawa 2 3 Membimbing siswa ketika berdiskusi (Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil/ auditory) 4 Pengelolaan kelas (Keterampilan mengelola kelas/somatic) e. Membimbing siswa mengerjakan LKS f. Mendengarkan pendapat siswa ketika berdiskusi g. Menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi h. Menutup diskusi a. Pengadaan penguatan (verbal maupun nonverbal) b. Pengunaan media pembelajaran c. Membimbing diskusi 2 3
202 kelompok d. Pengkondisian kelas Jumlah Baik 9 = (11 + 1) Kriteria penilaian: Skor maksimal (M) : 16 Skor minimal (K) : 4 n = (M - K) + 1 = (16-4) + 1 = 11 Letak Q1 = (n + 1) = 3 jadi nilai Q1 adalah 6 Letak Q2 = ( n + 1) = (11 + 1) = 6 jadi nilai Q2 adalah 9 Letak Q3 = (n + 1) = (11 + 1) = 9 jadi nilai Q3 adalah 1 Kriteria ketuntasan Kategori Nilai 12 skor 16 Sangat baik A 9 skor < 12 Baik B 6 skor < 9 Cukup C 4 skor < 6 Kurang D Semarang, 29 April 2013 Observer Wisnu Yuli S, S.Pd NIP. 19760705 200604 2 002
203 LEMBAR PENGAMATAN KETERAMPILAN GURU Siklus II Nama SD : SDN Petompon 02 Semarang Kelas/ Semester : IVA/ 2 Materi : Aksara Jawa Hari/ Tanggal : 2 Mei 2013 tersedia! Keterangan: Berilah penilaian dengan memberikan tanda cek ( ) pada kolom yang i. Jika deskriptor nampak 1, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 1. j. Jika deskriptor nampak 2, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 2. k. Jika deskriptor nampak 3, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 3. l. Jika deskriptor nampak 4, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 4. No Indikator Deskriptor 1 Mengajukan pertanyaan kepada siswa (Keterampilan bertanya/ Intelectually) a. Mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan dipelajari b. Memberikan Pertanyaan secara acak kepada siswa c. Memberikan waktu berpikir. d. Memberikan Tampak Tingkat Kemampuan 1 2 3 4 Skor 3
204 2 Menjelaskan materi pelajaran (Keterampilan menjelaskan/ Visualization) pertanyaan yang mudah dipahami siswa a. Menjelaskan materi aksara Jawa b. Menjelaskan media pembelajaran c. Menampilkan media aksara Jawa d. Memberikan contoh menulis aksara Jawa 3 3 Membimbing siswa ketika berdiskusi (Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil/ auditory) a. Membimbing siswa mengerjakan LKS b. Mendengarkan pendapat siswa ketika berdiskusi c. Menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi d. Menutup diskusi 2 4 Pengelolaan kelas (Keterampilan mengelola kelas/somatic) a. Pengadaan penguatan (verbal 3 maupun nonverbal) b. Pengunaan media pembelajaran c. Membimbing diskusi kelompok d. Pengkondisian kelas Jumlah Baik 11
205 Kriteria penilaian: Skor maksimal (M) : 16 Skor minimal (K) : 4 n = (M - K) + 1 = (16-4) + 1 = 11 Letak Q1 = (n + 1) = (11 + 1) = 3 jadi nilai Q1 adalah 6 Letak Q2 = ( n + 1) = (11 + 1) = 6 jadi nilai Q2 adalah 9 Letak Q3 = (n + 1) = (11 + 1) = 9 jadi nilai Q3 adalah 1 Kriteria ketuntasan Kategori Nilai 12 skor 16 Sangat baik A 9 skor < 12 Baik B 6 skor < 9 Cukup C 4 skor < 6 Kurang D Semarang, 2 Mei 2013 Observer Wisnu Yuli S, S.Pd NIP. 19760705 200604 2 002
206 LEMBAR PENGAMATAN KETERAMPILAN GURU Siklus III Nama SD : SDN Petompon 02 Semarang Kelas/ Semester : IVA/ 2 Materi : Aksara Jawa Hari/ Tanggal : 13 Mei 2013 tersedia! Keterangan: Berilah penilaian dengan memberikan tanda cek ( ) pada kolom yang m. Jika deskriptor nampak 1, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 1. n. Jika deskriptor nampak 2, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 2. o. Jika deskriptor nampak 3, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 3. p. Jika deskriptor nampak 4, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 4. No Indikator Deskriptor 1 Mengajukan pertanyaan kepada siswa (Keterampilan bertanya/ Intelectually) a. Mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan dipelajari b. Memberikan Pertanyaan secara acak kepada siswa c. Memberikan waktu berpikir. d. Memberikan Tampak Tingkat Kemampuan 1 2 3 4 4 Skor
207 2 Menjelaskan materi pelajaran (Keterampilan menjelaskan/ Visualization) pertanyaan yang mudah dipahami siswa a. Menjelaskan materi aksara Jawa b. Menjelaskan media pembelajaran c. Menampilkan media aksara Jawa d. Memberikan contoh menulis aksara Jawa 4 3 Membimbing siswa ketika berdiskusi (Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil/ auditory) 4 Pengelolaan kelas (Keterampilan mengelola kelas/somatic) a. Membimbing siswa mengerjakan LKS b. Mendengarkan 3 pendapat siswa ketika berdiskusi c. Menanggapi pertanyaan yang diajukan siswa ketika berdiskusi d. Menutup diskusi a. Pengadaan penguatan (verbal maupun nonverbal) 4 b. Pengunaan media pembelajaran c. Membimbing diskusi kelompok d. Pengkondisian kelas Jumlah Sangat Baik 15
208 Kriteria penilaian: Skor maksimal (M) : 16 Skor minimal (K) : 4 n = (M - K) + 1 = (16-4) + 1 = 11 Letak Q1 = (n + 1) = (11 + 1) = 3 jadi nilai Q1 adalah 6 Letak Q2 = ( n + 1) = (11 + 1) = 6 jadi nilai Q2 adalah 9 Letak Q3 = (n + 1) = (11 + 1) = 9 jadi nilai Q3 adalah 1 Kriteria ketuntasan Kategori Nilai 12 skor 16 Sangat baik A 9 skor < 12 Baik B 6 skor < 9 Cukup C 4 skor < 6 Kurang D Semarang, 13 Mei 2013 Observer Wisnu Yuli S, S.Pd NIP. 19760705 200604 2 002
209 LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA Siklus I Nama SD : SDN Petompon 02 Semarang Kelas/ Semester : IVA/ 2 Materi : Aksara Jawa Hari/ Tanggal : 29 April 2013 tersedia! Keterangan: Berilah penilaian dengan memberikan tanda cek ( ) pada kolom yang e. Jika deskriptor nampak 1, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 1. f. Jika deskriptor nampak 2, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 2. g. Jika deskriptor nampak 3, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 3. h. Jika deskriptor nampak 4, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 4. No Indikator Deskriptor Tingkat Kemampuan 1 2 3 4 1 Mendengarkan e. Siswa menyimak penjelasan penjelasan guru guru (kegiatan f. Siswa mendengarkan mendengarkan/ penjelasan guru dengan auditory) baik g. Siswa menyimak media pembelajaran aksara Jawa h. Siswa mendengarkan pertanyaan dari siswa lain 2 Menulis aksara e. Siswa mencatat materi di skor 2
210 jawa ( kegiatan menulis/ somatic) 3 Berdiskusi dalam kelompok (kegiatan mental/ intelctually) 4 Mengamati media yang di tampilkan guru di depan kelas (kegiatan visual/ Visualization) buku catatan masingmasing f. Siswa menulis hasil diskusi di lembar jawab g. Siswa menulis hasil diskusi di depan kelas h. Siswa berani memberikan contoh menulis aksara jawa di depan kelas 2 e. Siswa mengerjakan LKS f. Siswa mengeluarkan pendapat ketika diskusi 2 berlangsung g. Siswa menanggapi pendapat dalam diskusi h. Siswa mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas e. Siswa mengamati media Aksara Jawa yang ditampilkan guru. f. Siswa mengamati cara menulis aksara jawa 2 sesuai dengan gambar yang ditampilkan g. Siswa fokus pada media yang ditampilkan h. Siswa mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas Jumlah cukup 8 Kriteria penilaian: Skor maksimal (M) : 16 Skor minimal (K) : 4 n = (M - K) + 1 = (16-4) + 1 = 11 Letak Q1 = (n + 1) = ( 11 + 1) = 3 jadi nilai Q1 adalah 6
211 Letak Q2 = ( n + 1) = (11 + 1) = 6 jadi nilai Q2 adalah 9 Letak Q3 = (n + 1) = (11 + 1) =9 jadi nilai Q3 adalah 12 Kriteria ketuntasan Kategori Nilai 12 skor 16 Sangat baik A 9 skor < 12 Baik B 6 skor < 9 Cukup C 4 skor < Kurang D Semarang, 29 April 2013 Observer Wisnu Yuli S, S.Pd NIP. 19760705 200604 2
212 LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA Siklus III Nama SD : SDN Petompon 02 Semarang Kelas/ Semester : IVA/ 2 Materi : Aksara Jawa Hari/ Tanggal : 13 Mei 2013 tersedia! Keterangan: Berilah penilaian dengan memberikan tanda cek ( ) pada kolom yang i. Jika deskriptor nampak 1, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 1. j. Jika deskriptor nampak 2, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 2. k. Jika deskriptor nampak 3, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 3. l. Jika deskriptor nampak 4, maka beri tanda check ( ) pada tingkat kemampuan 4. No Indikator Deskriptor Tingkat Kemampuan 1 2 3 4 1 Mendengarkan a. Siswa menyimak penjelasan penjelasan guru guru (kegiatan b. Siswa mendengarkan mendengarkan/ penjelasan guru dengan auditory) baik c. Siswa menyimak media pembelajaran aksara Jawa d. Siswa mendengarkan pertanyaan dari siswa lain 2 Menulis aksara a. Siswa mencatat materi di skor 4
213 jawa ( kegiatan menulis/ somatic) 3 Berdiskusi dalam kelompok (kegiatan mental/ intelctually) 4 Mengamati media yang di tampilkan guru di depan kelas (kegiatan visual/ Visualization) buku catatan masingmasing b. Siswa menulis hasil diskusi di lembar jawab c. Siswa menulis hasil diskusi di depan kelas d. Siswa berani memberikan contoh menulis aksara jawa di depan kelas 3 i. Siswa mengerjakan LKS j. Siswa mengeluarkan pendapat ketika diskusi 2 berlangsung k. Siswa menanggapi pendapat dalam diskusi l. Siswa mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas i. Siswa mengamati media Aksara Jawa yang ditampilkan guru. j. Siswa mengamati cara menulis aksara jawa 4 sesuai dengan gambar yang ditampilkan k. Siswa fokus pada media yang ditampilkan l. Siswa mengamati hasil diskusi yang dituliskan kelompok di depan kelas Jumlah Sangat Baik 13 Kriteria penilaian: Skor maksimal (M) : 16 Skor minimal (K) : 4 n = (M - K) + 1 = (16-4) + 1 = 11 Letak Q1 = (n + 1) = ( 11 + 1) = 3 jadi nilai Q1 adalah 6
214 Letak Q2 = ( n + 1) = (11 + 1) = 6 jadi nilai Q2 adalah 9 Letak Q3 = (n + 1) = (11 + 1) =9 jadi nilai Q3 adalah 12 Kriteria ketuntasan Kategori Nilai 12 skor 16 Sangat baik A 9 skor < 12 Baik B 6 skor < 9 Cukup C 4 skor < Kurang D Semarang, 13 Mei 2013 Observer Wisnu Yuli S, S.Pd NIP. 19760705 200604 2
215 REKAPITULASI HASIL OBSERVASI AKTIVITAS SISWA KELAS IVA SDN PETOMPON 02 SEMARANG SIKLUS I Indikator yang di nilai Total No Nama 1 2 3 4 Skor K 1 MAH 2 1 2 3 8 C 2 NTR 2 2 1 3 8 C 3 AGH 3 2 2 3 10 B 4 AAW 2 2 2 1 7 C 5 AAA 4 4 3 4 15 A 6 BAT 2 3 3 2 10 B 7 BAS 3 3 3 1 10 B 8 DYMP 2 2 1 2 7 C 9 DDP 2 2 2 2 8 C 10 DF 2 2 1 3 8 C 11 FFF 2 2 2 2 8 C 12 FAY 3 3 2 2 10 B 13 FPA 2 2 2 2 8 C 14 FMC 3 2 3 3 11 B 15 FM 3 3 2 3 11 B 16 GEP 2 2 2 2 8 C 17 HZP 2 2 2 2 8 C 18 IW 2 2 2 2 8 C 19 ITS 2 3 3 3 11 B 20 JPA 2 2 2 2 8 C 21 JAA 3 2 3 3 11 B 22 JWS 2 2 1 2 7 C 23 KRC 3 2 3 2 10 B 24 KRS 2 2 2 2 8 C 25 LA 2 2 3 3 10 B 26 MSA 3 2 3 3 11 B 27 MZGA 3 3 2 2 10 B 28 MBS 1 2 2 3 8 C 29 MWH 1 2 2 3 8 C 30 NAZ 2 2 2 2 8 C 31 NFS 2 1 2 2 7 C 32 OSR 2 2 2 4 10 B 33 PP 2 3 1 2 8 C 34 RFR 1 4 4 1 10 B 35 RAN 2 2 2 2 8 C 36 SBND 1 2 2 2 7 C 37 SP 2 2 2 2 8 C 38 SBA 2 2 2 2 8 C 39 SHAW 2 2 2 2 8 C 40 URA 1 2 3 2 8 C 41 RAW 2 1 3 2 8 C Jumlah Skor 88 90 90 95 363 Rata-Rata 2.12 2.22 2.09 2.27 8.07 C
216 REKAPITULASI HASIL OBSERVASI AKTIVITAS SISWA KELAS IVA SDN PETOMPON 02 SEMARANG SIKLUS II Indikator yang di nilai Total No Nama 1 2 3 4 Skor K 1 MAH 3 2 2 3 10 B 2 NTR 2 2 2 2 8 C 3 AGH 3 2 3 3 11 B 4 AAW 2 2 2 2 8 C 5 AAA 4 4 3 4 15 A 6 BAT 4 3 3 3 13 A 7 BAS 3 3 3 3 12 A 8 DYMP 3 2 2 3 10 B 9 DDP 2 2 2 2 8 C 10 DF 3 3 3 4 13 A 11 FFF 4 3 3 3 13 A 12 FAY 4 3 3 3 13 A 13 FPA 4 2 2 3 11 B 14 FMC 4 3 3 4 14 A 15 FM 4 4 3 4 15 A 16 GEP 3 4 3 3 13 A 17 HZP 2 2 1 3 8 C 18 IW 2 2 1 3 8 C 19 ITS 4 2 2 3 11 B 20 JPA 3 2 2 3 10 B 21 JAA 3 2 3 3 11 B 22 JWS 3 3 2 3 11 B 23 KRC 4 2 3 4 13 A 24 KRS 2 2 1 3 8 C 25 LA 3 2 2 3 10 B 26 MSA 3 2 3 3 11 B 27 MZGA 3 3 2 2 10 B 28 MBS 2 2 1 3 8 C 29 MWH 3 2 2 3 10 B 30 NAZ 3 3 2 3 11 B 31 NFS 3 2 2 4 11 B 32 OSR 4 3 2 4 13 A 33 PP 3 3 2 3 11 B 34 RFR 4 3 2 4 13 A 35 RAN 3 2 2 3 10 B 36 SBND 3 2 2 3 10 B 37 SP 2 2 2 2 8 C 38 SBA 3 2 2 4 11 B 39 SHAW 2 2 2 2 8 C 40 URA 1 2 3 2 8 C 41 RAW 2 1 3 2 8 C Jumlah Skor 122 99 93 124 438 Rata-Rata 2.97 2.41 2.27 3.02 10.68 B
217 REKAPITULASI HASIL OBSERVASI AKTIVITAS SISWA KELAS IVA SDN PETOMPON 02 SEMARANG SIKLUS II Indikator yang di nilai Total No Nama 1 2 3 4 Skor K 1 MAH 3 3 2 3 11 B 2 NTR 3 3 2 3 11 B 3 AGH 4 4 3 4 15 A 4 AAW 3 3 2 3 11 B 5 AAA 4 4 3 4 15 A 6 BAT 4 4 3 4 15 A 7 BAS 4 3 4 4 15 A 8 DYMP 4 3 3 4 14 A 9 DDP 3 3 3 2 11 B 10 DF 4 4 3 4 15 A 11 FFF 4 4 3 4 15 A 12 FAY 4 4 3 3 14 A 13 FPA 4 3 2 2 11 B 14 FMC 4 4 3 4 15 A 15 FM 4 4 3 4 15 A 16 GEP 4 4 3 4 15 A 17 HZP 4 3 3 4 14 A 18 IW 4 3 3 4 14 A 19 ITS 4 2 2 3 11 B 20 JPA 4 3 3 4 14 A 21 JAA 3 3 2 3 11 B 22 JWS 4 2 2 3 11 B 23 KRC 4 3 3 4 14 A 24 KRS 4 4 3 4 15 A 25 LA 4 4 3 4 15 A 26 MSA 4 4 3 4 15 A 27 MZGA 4 4 3 4 15 A 28 MBS 2 2 2 2 8 C 29 MWH 3 2 2 3 10 B 30 NAZ 3 3 2 3 11 B 31 NFS 3 2 2 4 11 B 32 OSR 4 3 3 4 14 A 33 PP 3 3 2 3 11 B 34 RFR 4 4 3 4 15 A 35 RAN 4 3 3 4 14 A 36 SBND 4 4 3 4 15 A 37 SP 4 4 3 4 15 A 38 SBA 4 4 3 4 15 A 39 SHAW 3 2 2 4 11 B 40 URA 2 2 2 2 8 C 41 RAW 2 2 2 2 8 C Jumlah Skor 148 132 109 144 533 Rata-Rata 3.06 3.22 2.65 3.51 13 A
218 HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MENULIS AKSARA MELALUI PENDEKATAN SAVI DENGAN MACROMEDIA FLASH No Nama Pra Siklus I Siklus II Siklus III Siklus 1 MAH 30 40 70 70 2 NTR 40 20 40 50 3 AGH 50 70 80 100 4 AAW 40 30 40 70 5 AAA 70 80 100 100 6 BAT 50 70 80 100 7 BAS 80 70 80 90 8 DYMP 40 50 60 70 9 DDP 50 20 40 50 10 DF 20 50 70 90 11 FFF 30 50 80 80 12 FAY 60 70 70 80 13 FPA 30 30 60 70 14 FMC 60 70 100 80 15 FM 70 70 100 80 16 GEP 30 50 70 90 17 HZP 60 50 60 90 18 IW 40 40 30 80 19 ITS 40 70 70 70 20 JPA 50 20 60 80 21 JAA 50 70 70 70 22 JWS 30 60 70 70 23 KRC 50 70 100 90 24 KRS 50 30 50 80 25 LA 40 70 70 80 26 MSA 60 70 70 90 27 MZGA 70 70 70 100 28 MBS 20 20 30 50 29 MWH 40 60 70 70 30 NAZ 50 60 70 70 31 NFS 20 50 70 70 32 OSR 40 70 80 90 33 PP 60 60 70 70 34 RFR 60 70 90 100 35 RAN 40 40 70 90 36 SBND 40 40 70 100 37 SP 40 50 60 90 38 SBA 50 50 70 90 39 SHAW 20 30 50 70 40 URA 20 20 30 50 41 RAW 30 20 30 50 Rata-rata 44.39 51.21 66.34 78.78
219 PEDOMAN WAWANCARA GURU KELAS IVA SDN PETOMPON 02 SEMARANG SIKLUS I Petunjuk Pengisian : 2. Berilah tanda pada jawaban yang dianggap sesuai dengan pengamatan Anda. No. Pertanyaan Kurang Cukup Baik Sangat 1 Apakah siswa memperhatikan saat guru menjelaskan? 2 Apakah siswa berani menjawab pertanyaan dari guru? 3 Apakah siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran? 4 Apakah siswa tertib dalam mengikuti pembelajaran (tidak ramai sendiri, tidak bercerita dengan teman) 5 Apakah dalam pembentukan kelompok siswa melaksanakan diskusi tenang 6 Apakah siswa mengerjakan LKS tepat waktu dengan anggota kelompoknya? 7 Apakah siswa ikut bekerjasama dalam kerja kelompok? 8 Apakah siswa memahami materi yang disampaikan guru 9 Apakah dalam mengerjakan Baik
220 soal evaluasi siswa mengerjakan dengan tenang, tidak mencontek, dan mengerjakan semua soal tepat waktu? 10 Apakah siswa ikut mengeluarkan pendapat dalam membuat simpulan pembelajaran? Semarang, 29 April 2013 Observer, Wisnu Yuli S, S.Pd NIP. 19760705 200604 2 002
221 PEDOMAN WAWANCARA GURU KELAS IVA SDN PETOMPON 02 SEMARANG SIKLUS II Petunjuk Pengisian : 3. Berilah tanda pada jawaban yang dianggap sesuai dengan pengamatan Anda. No. Pertanyaan Kurang Cukup Baik Sangat 1 Apakah siswa memperhatikan saat guru menjelaskan? 2 Apakah siswa berani menjawab pertanyaan dari guru? 3 Apakah siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran? 4 Apakah siswa tertib dalam mengikuti pembelajaran (tidak ramai sendiri, tidak bercerita dengan teman) 5 Apakah dalam pembentukan kelompok siswa melaksanakan diskusi tenang 6 Apakah siswa mengerjakan LKS tepat waktu dengan anggota kelompoknya? 7 Apakah siswa ikut bekerjasama dalam kerja kelompok? 8 Apakah siswa memahami materi yang disampaikan guru 9 Apakah dalam mengerjakan soal evaluasi siswa Baik
222 mengerjakan dengan tenang, tidak mencontek, dan mengerjakan semua soal tepat waktu? 10 Apakah siswa ikut mengeluarkan pendapat dalam membuat simpulan pembelajaran? Semarang, 2 Mei 2013 Observer Wisnu Yuli S, S.Pd NIP. 19760705 200604 2 002
223 PEDOMAN WAWANCARA GURU KELAS IVA SDN PETOMPON 02 SEMARANG SIKLUS III Petunjuk Pengisian : 4. Berilah tanda pada jawaban yang dianggap sesuai dengan pengamatan Anda. No. Pertanyaan Kurang Cukup Baik Sangat 1 Apakah siswa memperhatikan saat guru menjelaskan? 2 Apakah siswa berani menjawab pertanyaan dari guru? 3 Apakah siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran? 4 Apakah siswa tertib dalam mengikuti pembelajaran (tidak ramai sendiri, tidak bercerita dengan teman) 5 Apakah dalam pembentukan kelompok siswa melaksanakan diskusi tenang 6 Apakah siswa mengerjakan LKS tepat waktu dengan anggota kelompoknya? 7 Apakah siswa ikut bekerjasama dalam kerja kelompok? 8 Apakah siswa memahami materi yang disampaikan guru Baik
224 9 Apakah dalam mengerjakan soal evaluasi siswa mengerjakan dengan tenang, tidak mencontek, dan mengerjakan semua soal tepat waktu? 10 Apakah siswa ikut mengeluarkan pendapat dalam membuat simpulan pembelajaran? Semarang, 13 Mei 2013 Observer Wisnu Yuli S, S.Pd NIP. 19760705 200604 2 002
225
226
227 ANALISIS CATATAN LAPANGAN SIKLUS I Berdasarkan catatan lapangan yang dimiliki guru, dapat ditafsirkan sebagai berikut: 1. Dalam keterampilan membuka pelajaran guru belum menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Guru melakukan eksplorasi dengan baik. Tetapi pada saat guru menjelaskan materi pelajaran masih belum menjelaskan materi dengan sistematis sehingga banyak siswa yang masih sulit menerima materi. 3. Ketika guru menampilkan macromedia flash ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan dan ramai sendiri. 4. Contoh menulis aksara Jawa yang diberikan guru masih terlalu sulit sehingga membuat siswa kesulitan dalam memahami materi 5. Pada siklus I siswa masih malu untuk bertanya dan berpendapat. Siswa mau berpendapat jika ditunjuk oleh guru 6. Keterampilan memberi penguatan guru masih kurang karena hanya memberikan penguatan berbentuk verbal dan gestural saja. 7. Pada akhir pembelajaran guru menyimpulkan materi tidak bersama siswa. Guru hanya mencatat kesimpulan materi di papan tulis saja. 8. Pegkondisia kelas yang dilakukan guru masih kurang. Masih banyak siswa yang ramai dan bermain sendiri sehingga membuat kelas menjadi tidak kondusif. Kesimpulan:Pada siklus I guru sudah mengajar sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran berjalan baik hanya banyak beberapa hal yang harus diperbaiki pada siklus II dalam mengelola dan merencanakan pembelajaran yang lebih baik.
228
229
230 ANALISIS CATATAN LAPANGAN SIKLUS II Berdasarkan catatan lapangan yang dimiliki guru, dapat ditafsirkan sebagai berikut: 1. Pada siklus II proses pembelajaran sudah berjalan baik. Guru sudah menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi kepada siswa. 3. Siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar karena guru memberikan reward berupa simbol bintang kepada siswa. 4. Pada siklus II siswa lebih aktif ketika berdiskusi. Siswa berani menyampaikan pendapatnya dan berani bertanya kepada guru jika ada kesulitan 5. Dalam memberikan pertanyaan guru belum memberikan pertanyaan secara acak dan kurang memberikan waktu kepada siswa untuk menjawab Kesimpulan : Pada proses pembelajaran siklus II secara keseluruhan sudah baik hanya ada beberapa yang harus diperbaiki pada siklus III agar hasil belajar dan aktivitas siswa dapat meningkat.
231
232
233 ANALISIS CATATAN LAPANGAN SIKLUS III Berdasarkan catatan lapangan yang dimiliki guru, dapat ditafsirkan sebagai berikut: 1. Pada siklus III proses pembelajaran sudah berjalan baik. Guru sudah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah ditentukan. 2. Siswa lebih percaya diri ketika bertanya dan menyampaikan pendapatnya baik ketika pembelajaran maupun ketika berdiskusi. 3. Kondisi kelas lebih kondusif. Sebagian besar siswa memperhatikan penjelasan guru, tidak ramai sendiri dan aktif dalam pembelajaran. 5. Dalam memberikan pertanyaan guru sudah memberikan pertanyaan secara acak dan memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk menjawab pertanyaan. Kesimpulan : Pada proses pembelajaran siklus III secara keseluruhan sudah baik sesuai rencana pembelajaran yang telah ditentukan guru.
234 Hasil Belajar Siswa Siklus I Nilai Terendah
Nilai Tertinggi 235
236 Hasil Belajar Siswa Siklus II Nilai Terendah
Nilai Tertinggi 237
238 Hasil Belajar Siswa Siklus III Nilai Terendah
Nilai Tertinggi 239
240 LAMPIRAN 5 SURAT-SURAT PENELITIAN
241
242 LAMPIRAN 6 FOTO-FOTO PENELITIAN
243 Guru Membuka Pelajaran Guru menampilkan macromedia flash Guru menjelaskan materi Guru memberikan contoh menulis aksara Jawa Guru membimbing diskusi kelompok Siswa menyelesaikan LKS
244 Siswa menuliskan hasil diskusi Guru memberikan reward kepada siswa yang aktif Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran Siswa mengerjakan soal evaluasi Siswa menuliskan contoh di papan tulis keaktifan siswa ketika proses pembelajaran