BAB II KAJIAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORI. melihatnya dari berbagai segi. Seorang peserta didik dikatakan memahami

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nurningsih, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Rini Apriliani, 2013

BAB I PENDAHULUAN. teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Game Tournament (TGT)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION AND TEAM ACCELERATED INSTRUCTION

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. kearah yang lebih baik. Menurut Hamalik (2004:37) belajar merupakan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORI. A. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD / MI. 1. Ciri-Ciri Pembelajaran Matematika SD / MI. 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Peningkatan Hasil Belajar, Pembelajaran Kooperatif, Team Assisted Individualization

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan perkembangan yang dialami oleh seseorang menuju kearah

BAB I PENDAHULUAN. penting. Salah satu bukti yang menunjukkan pentingnya. memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) merupakan sarana

BAB I PENDAHULUAN. Maksudnya bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu peristiwa yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu efektif juga dapat diartikan

2014 PENGGUNAAN ALAT PERAGA TULANG NAPIER DALAM PEMBELAJARAN OPERASI PERKALIAN BILANGAN CACAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar tingkat SD/MI

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Hasil Belajar

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENJUMLAHAN PECAHAN MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI PADA SISWA KELAS V SDN INPRES CENGGU

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Pada kurikulum biologi SMP materi sistem gerak yang dipelajari di kelas VIII,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku siswa akibat adanya

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang

Model pembelajaran matematika di sd

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ,

Aminudin 1. SDN Sukorejo 01, Kota Blitar 1

METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X2 SMA Negeri 15 Bandar

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, antara lain pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas tenaga. pendidik dan peningkatan sarana dan pra sarana.

II. TINJAUAN PUSTAKA. lemah menjadi kuat, dari tidak bisa menjadi bisa. Seperti diakatakan oleh Slameto

Oleh: Asis Nuansa Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Yogyakarta 2015 ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

III. METODE PENELITIAN. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 1 semester ganjil SMA N 10

Oleh: Ririne Kharismawati* ) Sehatta Saragih** ) Kartini*** ) ABSTRACT

48. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunalaras (SMALB E) A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORI. Sehubungan dengan keberhasilan belajar, Slameto (1991: 62) berpendapat. bahwa ada 2 faktor yang mempengaruhi belajar siswa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwa salah satu tujuan dari

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kemampuan atau skill yang dapat mendorongnya untuk maju dan terus

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Tingkat kemampuan A B C D 1 Apersepsi 10 2 Motivasi 12 3 Revisi 12

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Manusia tidak

Oleh: Lusi Lismayeni Drs.Sakur Dra.Jalinus Pendidikan Matematika, Universitas Riau

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. matematika. Matematika dapat membekali siswa untuk memiliki kemampuan

2015 MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN LOGIS MATEMATIS SERTA KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMP MELALUI LEARNING CYCLE 5E DAN DISCOVERY LEARNING

BAB I PENDAHULUAN. yang akan dihadapi peserta didik dimasa yang akan datang. menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang terencana untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat, arus globalisasi semakin hebat.

BAB II KAJIAN TEORITIK. A. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. dalam tugas yang metode solusinya tidak diketahui sebelumnya.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

: Pembelajaran Kooperatif tipe TAI, Keaktifan dan Hasil Belajar.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dari kelas 1 samapai kelas 6. Adapun ruang lingkup materinya sebagai

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. a. Pengertian Matematika

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui

TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning) Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah suatu model

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakikat Matematika dan Pembelajarannya Para ahli mengemukakan pengertian matematika dengan berbeda-beda. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia (Ibrahim dan Suparni, 2009). Suminarsih (2007:1) mengungkapkan Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memberikan konstribusi positif tercapainya masyarakat yang cerdas dan bermartabat melalui sikap kritis dan berpikir logis". Menurut Hudoyo dalam Aisyah (2007) mengemukakan Matematika berkenaan dengan ide (gagasan-gagasan), aturan-aturan, hubunganhubungan yang diatur secara logis sehingga matematika berkaitan dengan konsepkonsep abstrak. Matematika merupakan pengetahuan yang disusun secara deduktif dan dapat digunakan untuk mendidik dan melatih untuk berpikir secara logik. Matematika membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta memiliki kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan dan perkembangan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Sehingga disimpulkan matematika adalah mata pelajaran yang mempelajari konsep-konsep abstrak, tersusun secara deduktif dan melatih siswa berpikir secara logis. Pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar lebih menekankan pada pembentukan logika, sikap, dan ketrampilan. Pembelajaran matematika merupakan proses kegiatan belajar mengajar dimana siswa dapat menggunakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan masalah. Belajar matematika dimulai dari konsep yang sederhana bertahap menuju ke tahap yang lebih tinggi. Konsep diberikan mulai dengan benda-benda konkret kemudian konsep itu diajarkan kembali dengan bentuk pemahaman yang lebih abstrak dengan notasi yang lebih umum digunakan dalam matematika. 7

8 Sehingga penguasaan terhadap matematika mutlak diperlukan dan konsep-konsep matematika harus dipahami dengan benar sejak dini. Menurut Soedjadi (2000:13) adapun karakteristik dari matematika antara lain memiliki objek kajian abstrak, bertumpu pada kesepakatan, berpola pikir deduktif, memiliki simbol kosong dari arti, memperhatikan semesta pembicaraan, dan konsisten dalam sistemnya. Keabstrakan objek-objek matematika perlu diupayakan untuk diwujudkan secara lebih konkret. Seperti dikatakan oleh Heruman (2007:1) bahwa usia perkembangan kognitif siswa SD masih terikat dengan objek konkret yang dapat ditangkap oleh panca indera. Mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SD/MI memiliki ruang lingkup yang mengacu pada Standar Isi meliputi: bilangan, geometri dan pengukuran, dan pengolahan data. Menurut Ibrahim dan Suparni (2009:36) tujuan pembelajaran matematika agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang di peroleh. 4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. 2.1.2 Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) Pembelajaran TAI memiliki pengertian yang berbeda-beda menurut ahli. Menurut Slavin (2005) bahwa Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) merupakan pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual yang bisa menyelesaikan masalahmasalah pengajaran individual yang tidak efektif. Para siswa bekerja dalam timtim pembelajaran kooperatif, mengemban tanggung jawab untuk mengelola dan

9 memeriksa secara rutin, saling membantu satu sama lain dalam menghadapi masalahu, dan saling mendorong untuk maju, dan guru membebaskan siswa dengan memberikan pengajaran langsung kepada kelompok kecil siswa yang homogen dan berasal dari tim-tim yang heterogen. Pembelajaran TAI menurut Huda (2012) yaitu mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya yang beragam. Setiap kelompok terdiri 4 siswa untuk menyelesaikan materi atau PR tertentu. Poin-poin tugas dibagikan secara berurutan kepada setiap siswa. Siswa harus saling mengecek jawaban temanteman satu kelompoknya dan saling memberi bantuan jika dibutuhkan. Setiap anggota diberi tes individu. Penghargaan diberikan kepada kelompok yang mampu menjawab soal-soal dengan benar lebih banyak dan mampu menyelesaikan PR dengan baik. Pemberian poin tambahan diberikan pada individu-individu siswa yang memperoleh nilai rata-rata pada ujian final. Awalnya, Pembelajaran TAI dirancang untuk mengajarkan matematika atau ketrampilan menghitung kepada siswa SD kelas 3-6. Namun, seiring perkembangannya, Pembelajaran TAI mulai diterapkan pada materi-materi pelajaran yang berbeda. Menurut Warsono dan Hariyanto (2012) bahwa Pembelajaran TAI dikembangkan oleh Slavin, Leavy, dan Madden (1982) yaitu menggabungkan pembelajaran kooperatif dan pengajaran klasikal berbasis individual. Pembelajaran ini, siswa bekerjasama dengan kelompok dyad (2 orang) dan triad (3 orang) untuk menjawab sejumlah masalah atau pertanyaan yang ada dalam suatu paket pembelajaran dan diberi kewenangan menilai terhadap hasil kerja temannya dalam tim yang sama. Para siswa mengerjakan kuis dan hasilnya dinilai oleh kelompok lain. Di akhir pembelajaran mereka mengerjakan tes akhir dan mendapatkan skor final. Bagi siswa yang memperoleh skor positif mendapatkan penghargaan bagi hasil karyanya. Sedangkan Sharan (2012) menyatakan bahwa Pembelajaran TAI dikembangkan sebagai cara untuk menghasilkan pengaruh sosial dari pembelajaran kooperatif sambil memenuhi kebutuhan yang beragam. Siswa bekerja dalam kelompok pembelajaran saling membantu teman dalam belajar,

10 memberi umpan balik, dan mendorong untuk memahami materi dengan cepat dan tepat. Siswa dikelompokkan secara heterogen dengan latar belakang berbeda untuk menyelesaikan tugas secara individu dalam kelompok. Siswa yang kesulitan dalam mengerjakan tugas, didorong untuk menanyakan kepada sesama teman sekelompok. Menurut Widyantini (2006:8) menyatakan bahwa Pembelajaran TAI dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Adapun ciri khas Pembelajaran TAI adalah para siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah disediakan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke dalam kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Diharapkan partisipasi dan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika meningkat sehingga hasil belajar matematika meningkat. Menurut Slavin (2005:195) Pembelajaran TAI terdiri dari beberapa komponen, yaitu: a) Teams. Para siswa dibagi ke dalam tim-tim yang beranggotakan 4-5 orang. b) Tes Penempatan. Siswa diberikan tes pra program dalam bidang operasi matematika pada permulaan pelaksanaan program. Siswa ditempatkan pada tingkat yang sesuai dalam program individual berdasarkan kinerja siswa dalam tes ini. c) Materi materi Kurikulum. Para siswa bekerja pada materi-materi kurikulum individual yang mencangkup penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, angka, pecahan, decimal, rasio, persen, statistik, dan aljabar. Masalah-masalah kata dan strategi penyelesaian masalah ditekankan pada seluruh materi. d) Belajar Kelompok. Para siswa mengerjakan unit-unit dalam kelompoknya, mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) Para siswa membentuk kelompok yang terdiri dari 2 atau 3 orang dalam tim untuk melakukan pengecekan. 2) Para siswa membaca halaman panduannya dan meminta teman satu tim atau guru untuk membantu bila diperlukan. Selanjutnya siswa akan memulai latihan kemampuan yang pertama dalam unit. 3) Masing-masing siswa mengerjakan empat soal pertama dalam latihan kemampuannya sendiri dan selanjutnya jawabannya dicek oleh teman satu timnya dengan halaman jawaban yang sudah tersedia, yang dicetak dengan urutan terbalik didalam buku. Apabila keempat soal tersebut benar, siswa tersebut boleh melanjutkan ke latihan kemampuan berikutnya. Para siswa yang menghadapi masalah pada tahap ini

11 didorong untuk meminta bantuan dari timnya sebelum meminta bantuan dari guru. 4) Apabila siswa sudah dapat menyelesaikan keempat soal dengan benar dalam latihan kemampuan terakhir, dia akan mengerjakan tes formatif A, yaitu kuis yang terdiri dari sepuluh soal yang mirip dengan latihan kemampuan terakhir. Siswa yang dapat mengerjakan delapan soal atau lebih dengan benar, teman satu tim akan menandatangani hasil tes untuk menunjukkan siswa tersebut dinyatakan sah oleh teman satu timnya untuk mengikuti tes unit. 5) Tes formatif para siswa ditandatangani oleh siswa pemeriksa yang berasal dari tim lain supaya bisa mendapatkan tes unit yang sesuai. Dilanjutkan siswa menyelesaikan tes unit dan siswa pemeriksa akan menghitung skornya. e) Skor Tim dan Rekognisi Tim. Di akhir minggu guru menghitung jumlah skor tim. Skor ini didasarkan pada jumlah rata-rata unit yang bisa dicakupi oleh tiap anggota tim dan jumlah tes unit yang berhasil diselesaikan dengan akurat. Kriteria yang tinggi ditetapkan bagi sebuah tim menjadi Tim Super, kriteria sedang untuk menjadi Tim Sangat Baik, dan kriteria minimum untuk menjadi Tim Baik. Tim-tim yang memenuhi kriteria sebagai Tim Super atau Tim Sangat Baik menerima sertifikat yang menarik. f) Kelompok Pengajaran. Setiap hari guru memberikan pengajaran selama sekitar 10-15 menit kepada dua atau tiga kelompok kecil siswa yang terdiri dari siswa-siswa dari tim berbeda yang tingkat pencapaian kurikulumnya sama. Guru mengenalkan konsep-konsep utama kepada siswa. Para siswa menerima pengenalan konsep-konsepnya dalam kelompok pengajaran sebelum mengerjakan soal-soal dalam unit-unit individual. g) Tes Fakta. Seminggu dua kali, para siswa mengerjakan tes-tes fakta selama tiga menit. Siswa diberikan lembar-lembar fakta untuk dipelajari di rumah untuk persiapan menghadapi tes-tes ini. h) Unit Seluruh Kelas. Di akhir tiap tiga minggu, guru menghentikan program individual dan menghabiskan satu minggu mengajari seluruh kelas kemampuan semacam geometri, ukuran, serangkaian latihan, dan strategi penyelesaian masalah. Berdasarkan pengertian Pembelajaran TAI menurut Huda (2011:125), maka langkah-langkah Pembelajaran TAI sebagai berikut: 1) Setiap kelompok diberi serangkaian tugas tertentu untuk dikerjakan bersama-sama. 2) Poin-poin dalam tugas dibagikan secara berurutan kepada setiap anggota. 3) Semua anggota harus saling mengecek jawaban teman-teman satu kelompoknya dan saling memberi bantuan jika memang dibutuhkan. 4) Setiap anggota diberi tes individu tanpa bantuan dari anggota yang lain. Selama kegiatan tes individu berlangsung, guru harus memperhatikan

12 setiap siswa. Pemberian skor tidak hanya dinilai oleh sejauh mana siswa mampu bekerja secara mandiri. 5) Guru menjumlahkan banyaknya soal yang bisa dijawab oleh masingmasing kelompok setiap minggunya. Penghargaan diberikan kepada kelompok yang mampu menjawab soal-soal dengan benar lebih banyak dan mampu menyelesaikan PR dengan baik. 6) Guru memberikan poin tambahan kepada individu-individu siswa yang mampu memperoleh nilai rata-rata pada ujian final. Karena dalam pembelajaran ini siswa saling mengecek pekerjaan satu sama lain, dan guru juga memberikan penjelasan seputar soal-soal yang kebanyakan dianggap rumit oleh siswa. Langkah-langkah Pembelajaran TAI menurut Warsono dan Hariyanto (2012:199) sebagai berikut: 1) Guru menyiapkan paket-paket pembelajaran aritmatika, baik untuk pembelajaran klasikal maupun pembelajaran kooperatif serta berbagai alat tes yang terdiri dari tes penempatan, tes formatif maupun tes akhir. 2) Dilaksanakan presentasi singkat oleh guru. 3) Selama pembelajaran kooperatif, sekelompok kecil siswa yang heterogen belajar bersama dalam sejumlah waktu yang telah ditetapkan, kemudian mendapat skor (nilai) bergantung kinerja seluruh anggota tim. Siswa-siswa yang lebih berkompeten diberikan kesempatan untuk membantu siswa lain yang tertinggal agar skor kelompok cukup baik. 4) Kemudian, dalam pengajaran klasikal setiap siswa mengerjakan tugastugasnya sendiri sesuai paket yang telah ditentukan dan disiapkan oleh guru. Pemberian skor dapat dilakukan oleh siswa atau guru, bergantung pada kesepakatan awal. Jika sejumlah besar pertanyaan atau masalah yang diajukan dalam paket tersebut sudah selesai dikerjakan siswa secara benar, siswa tersebut dapat melanjutkan ke paket yang lain yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. 5) Tim yang memperoleh nilai rata-rata tertinggi akan diberi predikat Superteam, rata-rata cukup memperoleh penghargaan Greateam, nilai ratarata minimal mendapat predikat Goodteam. Menurut Widyantini (2006:9), adapun langkah-langkah Pembelajaran TAI sebagai berikut: 1) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru. 2) Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal. 3) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.

13 4) Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok. 5) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. 6) Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual. 7) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) merupakan pembelajaran dengan membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 orang secara heterogen dengan kemampuan berpikir berbedabeda untuk mengerjakan tugas yang sudah disiapkan guru secara individual dalam kelompok. Para siswa bersama kelompoknya saling mengecek jawaban, saling membantu satu sama lain dalam belajar dan diakhir mengerjakan tes individu. Adanya pemberian penghargaan kepada kelompok siswa berdasarkan skor atau nilai yang didapatkan selama mengerjakan tugas. Berdasarkan pengertian Pembelajaran TAI yang telah disimpulkan, maka peneliti menyimpulkan untuk menerapkan Pembelajaran TAI menggunakan langkah-langkah yang telah dimodifikasi sebagai berikut: 1) Siswa dibentuk kelompok kecil secara heterogen. Tiap kelompok terdiri dari 4 siswa berdasarkan nilai tes formatif sebelumnya. 2) Siswa mengerjakan tugas LKS secara individu dalam kelompok. 3) Siswa yang telah selesai mengerjakan LKS diberi kesempatan saling mengoreksi jawaban satu sama lain dalam kelompoknya dan membantu anggota yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan LKS. 4) Setiap kelompok mempresentasikan hasil LKS di kelas. 5) Siswa bersama guru meluruskan hasil LKS. 6) Siswa mengerjakan tes individu berupa postes dengan mandiri. 7) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok siswa berdasarkan nilai LKS kelompok pada akhir pertemuan setiap minggunya.

14 Pembelajaran TAI memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) menurut Wahyudi (2011) sebagai berikut: 1) Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalah. 2) Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam tim atau kelompok. 3) Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya. 4) Menumbuhkan tanggung jawab kelompok dalam menyelesaikan masalah. 5) Menghemat presentasi guru sehingga waktu pembelajaran lebih efektif. Adapun kelemahan Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) menurut Wahyudi (2011) sebagai berikut: 1) Siswa yang kurang pandai secara tidak langsung akan menggantungkan pada siswa yang pandai. 2) Tidak ada persaingan antar kelompok. 3) Tidak semua materi dapat diterapkan pada metode ini. 4) Pengelolaan kelas yang dilakukan guru kurang baik maka proses pembelajaran juga berjalan kurang baik. 5) Adanya anggota kelompok yang pasif dan tidak mau berusaha serta hanya mengandalkan teman sekelompoknya. Adapun pengukuran terhadap kegiatan guru dan siswa dalam menerapkan Pembelajaran TAI menggunakan teknik observasi. Observasi digunakan untuk memperoleh data mengenai perilaku individu atau proses kegiatan tertentu (Sudjana, 2011:67). Observasi dilakukan oleh observer. 2.1.3 Motivasi Belajar Motivasi belajar dipandang para ahli dengan berbeda-beda. Hilgard dalam Sanjaya (2008:250) mengemukakan Motivasi adalah suatu keadaan yang terdapat dalam diri sesesorang yang menyebabkan seseorang melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:80) bahwa motivasi merupakan dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Berbeda dengan pengertian motivasi yang telah dikemukakan diatas, Yamin (2008:160) mengemukakan Motivasi merupakan perilaku yang akan menentukan kebutuhan (needs) atau wujud perilaku mencapai tujuan. Motivasi dipandang sebagai kemampuan yang dimiliki individu untuk melakukan tugas

15 tertentu dengan usaha maksimal. Senada dengan Yamin, Sanjaya (2008:250) menegaskan Motivasi merupakan penjelmaan dari motive yang dapat dilihat dari perilaku yang ditunjukkan seseorang. Pengertian motivasi yang berbeda pula dikemukakan oleh ahli lainnya. Crowl, Kaminsky, dan Podell dalam Sumardjono (2004:26) mengemukakan Motivasi merupakan kondisi fisiologis dan psikologis dalam diri seseorang yang mengukur tindakannya dengan cara tertentu. Djaali (2012:101) menyimpulkan bahwa motivasi merupakan kondisi fisiologis dan psikologis dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motivasi yang timbul karena dorongan dari dalam diri seseorang itu bersifat psikologis. Lama kekuatan mental dalam diri individu adalah sepanjang tugas perkembangan manusia. Maka disimpulkan motivasi yang bersifat psikologis tidak dapat dilihat dan diukur perubahan perilakunya dalam waktu yang singkat. Selain itu, motivasi yang dipandang sebagai kemampuan maupun perilaku yang ditunjukkan seseorang dan dapat dilihat merupakan bagian dari hasil belajar individu berupa aspek afektifnya. Perilaku yang dimaksud yaitu kegiatan-kegiatan positif yang ditunjukkan individu. Motivasi ditumbuhkan melalui dorongan dari luar saja, seperti penggunaan pembelajaran yang tepat sesuai kondisi siswa, pemberian penghargaan dan pujian, maupun peran guru. Motivasi ini dapat diukur dan dilihat dari perubahan perilaku siswa dalam belajar. Lain halnya motivasi yang dipandang sebagai kekuatan dari dalam dan luar diri seseorang, membutuhkan waktu yang bertahap dan lama untuk menumbuhkan kedua motivasi secara bersamaan. Berdasarkan definisi dan pembahasan motivasi sebagai hasil aspek afektif maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah perilaku yang dapat dilihat dan ditunjukkan siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Hamdani (2011:21) mengemukakan Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan. Sehingga disimpulkan bahwa motivasi belajar

16 adalah perilaku positif siswa yang dapat dilihat dan ditunjukkan dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan tertentu. Perilaku positif berupa kegiatan yang ditunjukkan siswa seperti mengerjakan tugas dengan kemampuan sendiri, saling mengecek jawaban dalam kelompok, membantu anggota yang kesulitan dalam belajar, dan aktif dalam pembelajaran. Sedangkan tujuan tertentu yaitu tujuan SK dan KD yang telah ditetapkan dalam KTSP. Sebagai acuan penelitian ini, aspek-aspek motivasi belajar antara lain: perilaku siswa sebelum melaksanakan pembelajaran matematika, perilaku siswa melaksanakan proses pembelajaran matematika, perilaku siswa setelah melaksanakan pembelajaran matematika. Dimyati dan Mudjiono (2009:97) mengungkapkan bahwa unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu, adanya cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kondisi lingkungan siswa, dan unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran, dan upaya guru dalam membelajarkan siswa. Sanjaya (2010:261) berpendapat upaya membangkitkan motivasi belajar siswa dapat dilakukan dengan cara memperjelas tujuan yang ingin dicapai, membangkitkan minat, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, memberikan pujian, memberikan nilai, memberikan komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, dan menciptakan persaingan dan kerjasama. Motivasi dapat dibangkitkan dengan cara lain yang sifatnya negatif yaitu, memberikan hukuman, teguran, dan memberikan tugas yang sedikit berat. Namun sebaiknya meningkatkan motivasi belajar siswa dengan cara-cara positif yang tidak merugikan siswa. Sehingga pengukuran motivasi belajar dalam penelitian ini menggunakan teknik angket. Angket yang digunakan berupa angket tertutup. Angket tertutup yaitu angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden diminta memilih salah satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan memberikan tanda silang (X) atau tanda checklist ( ) (Riduwan, 2010:72). Kategori motivasi belajar berdasarkan skor yang dapat dilihat pada Tabel 1.

17 Tabel 1 Kategori Motivasi Belajar No Rentang Skor Kategori 1. 60 Tinggi 2. 41-59 Sedang 3. 40 Rendah Adopsi Riduwan (2010:216) Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan motivasi belajar dikelompokkan menjadi tiga kategori. Adapun kategorinya terdiri dari tinggi, sedang, dan rendah. Motivasi belajar dengan kategori tinggi jika memperoleh skor total 60, kategori sedang jika memperoleh skor total 41-59, kategori rendah jika memperoleh 40. 2.1.4 Hasil Belajar Setelah pembelajaran matematika dilaksanakan, guru mengadakan evaluasi melalui tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa. Adapun beberapa pengertian hasil belajar menurut para ahli. Sudjana (2011:22) mengemukakan Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Pengalaman memberikan kemampuan-kemampuan dalam diri siswa. Sedangkan Dimyati dan Mudjiono (2009:3) mengemukakan Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Menurut Nasution (2006: 36) bahwa hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi kegiatan belajar mengajar yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru. Sedangkan Arifin (2001:47) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan indikator dari perubahan yang terjadi pada individu setelah mengalami proses belajar mengajar, dimana mengungkapkannya menggunakan suatu alat penilaian yang disusun oleh guru seperti tes evaluasi. Sehingga dapat disimpulkan hasil belajar adalah kemampuan kognitif berupa nilai tes berbentuk angka yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar.

18 Faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Sudjana (2010:39) yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa atau lingkungan. Faktor dari diri siswa terdiri dari kemampuan siswa, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Faktor dari luar diri siswa terdiri dari kualitas pengajaran. Supaya siswa memperoleh hasil belajar pada mata pelajaran matematika yang baik atau memuaskan, perlu memperhatikan faktor-faktor intern dan ekstern. Adapun pengukuran hasil belajar menggunakan teknik tes. Tes digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai tujuan pendidikan dan pengajaran (Sudjana, 2011:35). Tes yang digunakan tes formatif berbentuk pilihan ganda. Tes dilaksanakan di pertemuan akhir. 2.1.5 Hubungan Pembelajaran TAI dengan Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) merupakan pembelajaran dengan membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 orang secara heterogen dengan kemampuan berpikir berbeda-beda untuk mengerjakan tugas yang sudah disiapkan guru secara individual dalam kelompok. Para siswa bersama kelompoknya saling mengecek jawaban, saling membantu satu sama lain dalam belajar dan mengerjakan tes individu. Adanya pemberian penghargaan kepada kelompok siswa berdasarkan nilai yang diperolehkan selama mengerjakan tugas. Sharan (2012) menyatakan bahwa Pembelajaran TAI dikembangkan sebagai cara untuk menghasilkan pengaruh sosial dari pembelajaran kooperatif sambil memenuhi kebutuhan yang beragam. Siswa bekerja dalam kelompok pembelajaran saling membantu teman dalam belajar, memberi umpan balik, dan mendorong untuk memahami materi dengan cepat dan tepat. Siswa dikelompokkan secara heterogen dengan latar belakang berbeda untuk menyelesaikan tugas secara individu dalam kelompok. Siswa yang kesulitan dalam mengerjakan tugas, didorong untuk menanyakan kepada sesama teman

19 sekelompok. Pembelajaran ini dapat membangkitkan motivasi belajar siswa agar mencapai tujuan. Yamin (2008:160) mengemukakan Motivasi merupakan perilaku yang akan menentukan kebutuhan (needs) atau wujud perilaku mencapai tujuan. Selain itu untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Motivasi belajar pada siswa dapat dibangkitkan melalui siswa bekerja menyelesaikan tugas dengan kemampuan masing-masing. Menciptakan siswa aktif dan bekerjasama dengan kelompok. Siswa bersama kelompok menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk saling mengecek jawaban dengan bertukar pendapat dan membantu anggotanya yang kesulitan dalam menyelesaikan tugas. Siswa menjadi lebih memahami materi karena menggunakan kemampuannya sendiri dalam mengerjakan tugas maupun dengan bantuan kelompok. Agar siswa puas dengan hasil kerjanya dan semakin senang mengikuti pembelajaran matematika maka adanya penghargaan. Sehingga tingginya motivasi belajar siswa cenderung hasil belajar akan tinggi. Disimpulkan bahwa Pembelajaran TAI dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar. 2.2 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan Adapun penelitian relevan yang telah dilakukan peneliti-peneliti terdahulu. Hasil penelitian oleh Linda Kurniawati (2012) berjudul Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Cooperative Learning Tipe Team Assisted Individualization (TAI) Pada Siswa Kelas V SD Negeri Karangmojo II. Diperoleh bahwa Model Cooperative Learning Tipe TAI dapat meningkatkan hasil belajar matematika dilihat dari peningkatan ketuntasan tahap pratindakan 40% meningkat menjadi 60% pada siklus I. Peningkatan ketuntasan KKM pada siklus II menjadi 73%. Peningkatan siklus II telah memenuhi indikator keberhasilan karena lebih dari 70% siswa tuntas KKM. Hasil penelitian oleh Eny Siswanti (2011) berjudul Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) Pada Siswa Kelas IV SDN Tegalasri 03 Kabupaten Blitar. Diperoleh bahwa Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI dapat

20 meningkatkan hasil belajar matematika dilihat dari peningkatan ketuntasan pra tindakan sebesar 36%, pada siklus I pertemuan 1 sebesar 48%, siklus I pertemuan 2 sebesar 68%, siklus II pertemuan I sebesar 72% dan siklus II pertemuan 2 sebesar 80%. Hasil penelitian oleh Siti Karyawati (2009) berjudul Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Matematika dengan Pembelajaran Koopertif tipe TAI (Team Assisted Individualization) tentang Pokok Bahasan Himpunan Pada Siswa Kelas VII E SMPN I Ngadiluwih. Diperoleh bahwa Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar matematika. Peningkatan motivasi belajar siswa memiliki rata-rata motivasi belajar siswa sebesar 0,43 atau 11% dari Siklus I 2,97 atau 74,25% dan Siklus II 3,40 atau 85,25%. Hasil belajar mengalami peningkatan Siklus I ke Siklus II yaitu sebesar 7,22, pada Siklus I hasil belajarnya 76,78 dan Siklus II 84,00, begitu pula ketuntasan belajar matematika siswa terjadi peningkatan sebesar 5,13% dari Siklus I 82,05% ke Siklus II 87,18%. 2.3 Kerangka Pikir Kondisi pembelajaran matematika yang berlangsung di kelas 5 SD Negeri Ledok 04 Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga, guru cenderung menggunakan metode konvensional yaitu ceramah dan penugasan sehingga berdampak motivasi belajar dan hasil belajar matematika pada siswa rendah. Siswa kesulitan menyelesaikan tugas matematika dan dalam memahami materi matematika. Siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan tampak mengantuk. Siswa kurang aktif dalam bertanya dan takut menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Sehingga hasil belajar matematika yang dicapai siswa pun rendah. Hasil belajar sebagian besar siswa pada mata pelajaran matematika belum mencapai nilai KKM= 65. Memperbaiki kondisi tersebut, peneliti bekerjasama dengan guru memilih pembelajaran yang tepat yaitu menerapkan Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization). Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) dilakukan beberapa tahapan yaitu siswa dibentuk kelompok kecil terdiri dari 4 siswa yang heterogen

21 berdasarkan nilai tes formatif sebelumnya. Siswa mengerjakan tugas LKS secara individu dalam kelompok. Siswa yang telah selesai mengerjakan LKS diberi kesempatan saling mengoreksi jawaban satu sama lain dan membantu anggota yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan LKS. Setiap kelompok mempresentasikan hasil LKS. Siswa bersama guru meluruskan hasil LKS. Siswa mengerjakan tes individu berupa postes. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok siswa berdasarkan nilai LKS kelompok pada akhir pertemuan setiap minggunya. Pembelajaran TAI membuat siswa terbiasa menyelesaikan tugas dengan kemampuan masing-masing dalam kelompok dan bekerjasama dalam kelompok mengecek jawaban dan membantu anggotanya yang kesulitan dengan pemahamannya. Sehingga siswa yang kesulitan dapat terbantu dalam menyelesaikan tugasnya dan memahami materi dengan mudah. Siswa menjadi aktif bertukar pendapat dalam mengecek jawaban dan dalam menjelaskan hasil tugasnya bersama kelompok saat presentasi. Siswa dengan kelompoknya bekerjasama menyelesaikan tugas dengan benar agar memperoleh nilai tertinggi. Hasil kerja siswa bersama kelompoknya diberi penghargaan sehingga siswa akan senang dan termotivasi dalam menyelesaikan tugas selanjutnya. Sehingga motivasi belajar dan hasil belajar matematika yang dicapai siswa dapat meningkat. Pembelajaran TAI dilaksanakan dalam beberapa siklus sampai mencapai keberhasilan belajar yaitu meningkatnya motivasi belajar dan hasil belajar matematika. Dengan pemikiran seperti ini maka, dilakukan penelitian peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar matematika melalui Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) pada siswa kelas 5 SD Negeri Ledok 04 Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga semester 2 tahun pelajaran 2012/2013. 2.4 Hipotesis Tindakan Sesuai kerangka pikir yang telah dikemukakan dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut. 1) Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan motivasi belajar matematika pada siswa kelas 5 SD Negeri Ledok 04

22 Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga semester 2 tahun pelajaran 2012/2013. 2) Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas 5 SD Negeri Ledok 04 Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga semester 2 tahun pelajaran 2012/2013. 3) Penerapan beberapa tahapan Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) dalam meningkatkan motivasi belajar matematika pada siswa kelas 5 SD Negeri Ledok 04 Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga semester 2 tahun pelajaran 2012/2013. 4) Penerapan beberapa tahapan Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) dalam meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas 5 SD Negeri Ledok 04 Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga semester 2 tahun pelajaran 2012/2013.