BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data numerical (angka) yang diolah dengan metode statistika (Azwar, 2010:15). Penelitian korelasional bertujuan menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain berdasarkan koefisien korelasi. Dengan studi korelasional peneliti dapat memperoleh informasi mengenai taraf hubungan yang terjadi, bukan mengenai ada tidaknya efek variabel yang lain (Azwar, 2010:17). Penelitian yang dilakukan adalah penelitian korelasional, dengan metode penelitian kuantitatif yang menekankan analisisnya pada data-data numerical yang diolah dengan metode statistika. Penelitian korelasional menurut Arikunto (2006) bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua buah variabel penelitian. Dalam penelitian ini yang akan dilihat adalah hubungan antara keaktifan mengikuti dengan kesehatan mental ibu-ibu Majelis Taklim Baitul Makmur Kota Padang. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional dengan analisis korelasi Pearson, karena penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan 44
45 antara dua variabel penelitian dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi (Priyatno, 2014). 3.2 Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah studi lapangan (field research) dengan metode kuantitatif karena data yang dikumpulkan merupakan data kuantitatif atau data yang bisa diolah secara statistik. Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian maka penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif korelasional. Adapun metode kuantitatif adalah penelitian analisis datanya dengan menggunakan data-data numerikal atau angka yang diolah dengan metode statistik, setelah diperoleh hasilnya, kemudian dideskripsikan dengan menguraikan kesimpulan yang didasari oleh angka yang diolah dengan metode statistik tersebut. Sedangkan korelasional bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, betapa eratnya hubungan serta berarti atau tidak hubungan itu (Arikunto, 2006:270). Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara keaktifan mengikuti dengan kesehatan mental ibuibu Majelis Taklim Baitul Makmur Kota Padang. 3.3 Identifikasi Variabel Penelitian Variabel merupakan konsep mengenai atribut, sifat, atau nilai yang terdapat pada subjek penelitian yang memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013:27).
46 Variabel independen (variabel bebas) merupakan variabel yang memengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (variabel terikat). Sedangkan variabel dependen (variabel terikat), yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2008:38). Adapun variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel bebas atau independent (X) Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah keaktifan 2. Variabel terikat atau dependent (Y) Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kesehatan mental 3.4 Definisi Operasional Variabel Penelitian Definisi operasional adalah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik yang dapat diamati. Definisi operasional digunakan untuk menjelaskan pengertian operasional dari variabel-variabel penelitian dan menyamakan persepsi agar terhindar dari kesalahpahaman dalam menafsirkan variabel. Adapun variabel dalam penelitian ini adalah: a) Keaktifan Pengajian Aspek-aspek keaktifan adalah hal-hal yang mempengaruhi dan dapat menciptakan keaktifan anggota. Aspek keaktifan menjadikan merupakan pusat perhatian dalam
47 penelitian. Menurut Abdillah (2005:247) aspek-aspek terdiri dari; 1. Menghadiri Usaha-usaha yang dilakukan secara tekun dan ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan jalan belajar Agama dan berdzikir kepada Allah Swt. Semakin seseorang aktif dalam menghadiri, maka diharapkan akan semakin kuat pula ketaqwaan seseorang tersebut kepada Allah Swt. 2. Mensosialisasikan kegiatan Usaha-usaha yang dilakukan seseorang untuk mengajak orang lain agar bisa mengikuti dengan secara rutin, sehingga dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. 3. Mengikuti rangkaiaan sampai selesai Mengikuti semua rangkaian acara dari awal sampai selesai dengan sungguh-sungguh, memperhatikan dan mendengarkan ustadz atau ustadzah yang menyampaikan materi. 4. Menjadi jama ah Masjid Seseorang yang sering mengikuti kegiatan yang ada di Masjid dengan mengikuti secara sungguh-sungguh dan hanya mengikutinya karena Allah Swt. 5. Memberi kontribusi berupa sumbangan tenaga, pikiran maupun materi pada yang diikuti.
48 Usaha-usaha yang dilakukan di dalam pelaksanaan dengan berupa ikut andil di dalam sebuah acara, bertanya kepada ustadz atau ustadzah yang menyampaikan materi jika tidak mengerti dengan apa yang disampaikan di dalam materi, dan memberikan sumbangan berupa infak di dalam sebuah. b) Kesehatan Mental Menurut Daradjat, di dalam Ramayulis (2002:162-164) Aspekaspek kesehatan mental terbagi menjadi 4 macam yaitu: 1. Terhindarnya dari gejala-gejala gangguan jiwa dan dari gejala-gejala penyakit jiwa. 2. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup. 3. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri sendiri dan orang lain serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa. 4. Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dan kemampuan diri.
49 3.5 Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Masjid Baitul Makmur Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang. Karakteristik yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah: 1. Jama ah Majelis Taklim 2. Perempuan 3.5.1 Populasi Penelitian Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakterstik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2013:80). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh jama ah dengan jumlah seluruh jama ah 60 orang. Adapun untuk lebih mengetahuinya disajikan dalam tabel berikut : Tabel 3.1 Gambaran Umum Tentang Populasi NO PEKERJAAN USIA JUMLAH 1 Guru 25-47 Tahun 6 Orang 2 Ibu Rumah Tangga 27-50 Tahun 34 Orang 3 Pedagang 30-49 Tahun 20 Orang Total Populasi 60 Orang Sumber : Sekretariat Majelis Taklim Baitul Makmur
50 3.5.2 Sampel Penelitian Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2013:81). Sampel dalam penelitian ini adalah semua jama ah ibu-ibu Majelis Taklim Baitul Makmur Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang yaitu berjumlah 60 orang. 3.5.3 Teknik Penarikan Sampel Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan (Sugiyono, 2013:28). Untuk penelitian ini teknik penarikan sampel yang digunakan adalah total sampling. Dalam teknik sampling ini semua anggota populasi dijadikan sampel. 3.6 Teknik Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah berupa skala psikologi. Sedangkan skala psikologi memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari berbagai bentuk teknik pengumpulan data yang lain seperti angket, daftar isian, interval dan lain-lain. Istilah skala psikologi selalu mengacu kepada alat ukur aspek atau atribut efektif. Menurut Azwar (2012) karakteristik skala psikologi yaitu stimulusnya berupa: 1. Pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, melainkan mengungkapkan indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.
51 2. Skala psikologi selalu berisi banyak aitem dan jawaban subjek terhadap satu aitem baru merupakan sebagian dari banyak indikasi mengenai atribut yang diukur, sedangkan kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosis baru dapat dicapai bila semua aitem telah direspon. 3. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban benar atau salah. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh. 3.6.1. Observasi Menurut Hadi (1986) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan (Sugiyono, 2008:145). Observasi digunakan untuk mengumpulkan data awal. 3.6.2. Wawancara Wawancara yang digunakan peneliti yaitu wawancara tidak terstruktur yang merupakan wawancara yang bebas dimana peneliti tidak mengunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan (Sugiyono, 2008:140). Wawancara dijadikan untuk mengumpulkan data awal.
52 3.6.3. Skala Model penskalaan aitem dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan modifikasi dari Skala model Likert dengan model pertanyaan dengan sejumlah pilihan jawaban yang berisi tingkat kesesuaian kondisi responden yang sebenarnya terhadap pernyataanpernyataan yang diajukan. Responden hanya diminta untuk menyatakan pendapatnya itu sesuai dengan tingkat pilihan jawaban yang tersedia, yaitu pilihan jawaban sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS). Modifikasi tehadap Skala Likert dimaksudkan untuk menghilangkan kelemahan yang dikandung oleh skala aitem pilihan yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), ragu-ragu (R), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS). Modifikasi Skala Likert dalam penelitian ini dengan meniadakan kategori jawaban ragu-ragu dengan alasan: (1) Kategori raguragu memiliki arti ganda, artinya belum dapat memutuskan atau memberi jawaban yang dapat diartikan netral, setuju tidak, tidak setuju pun tidak, bahkan ragu-ragu. Kategori jawaban yang ambigu ini tentu tidak diharapkan dalam suatu instrumen (2) Tersedianya kategori jawaban ragu-ragu menimbulkan kecenderungan untuk menjawab atau memilih ke tengah terutama bagi responden yang ragu-ragu atas arah kecenderungan jawabannya kategori atau pilihan jawaban SS, S, TS, STS, adalah untuk melihat kecenderungan responden ke arah sesuai atau tidak sesuai.
53 Dari setiap jawaban yang dipilih dapat diberikan skor yaitu untuk pernyataan favorable mempunyai skor 4-1 dan pertanyaan/pernyataan unfavorable mempunyai skor 1-4. Seperti yang terdapat pada tabel dibawah ini: Tabel. 3.2 Skor Keaktifan Pengajian dan Kesehatan Mental Sifat Pernyataan Skala Likert Favorabel (positif) Unfavorabel (negatif) SS (sangat sesuai) 4 1 S ( sesuai) 3 2 TS (tidak sesuai) 2 3 STS (sangat tidak sesuai) 1 4 Untuk menyusun dan mengembangkan instrumen maka terlebih dahulu dibuat blue print yang memuat tentang aspek dan indikator penelitian yang dapat memberikan gambaran mengenai isi dan dimensi kawasan ukur yang akan dijadikan acuan dalam penulisan aitem. Blue print terdiri dari variabel X yaitu keaktifan dan variabel Y yaitu kesehatan mental. 1. Skala Keaktifan Pengajian Skala yang penulis gunakan adalah skala keaktifan yang penulis susun sendiri melalui professional judgment dengan mengacu pada teori yang disampaikan oleh Abdillah (2005:247) yang terdiri dari 5 aspek, yaitu aktif menghadiri, aktif mensosialisasikan kegiatan, mengikuti rangkaian sampai selesai, aktif menjadi
54 jama ah Masjid, dan aktif memberi kontribusi berupa sumbangan tenaga, pikiran maupun materi pada yang diikuti. Pengukuran menggunakan skala bertujuan untuk mengetahui sejauhmana hubungan antara keaktifan mengikuti dengan kesehatan mental ibu-ibu Majelis Taklim Baitul Makmur Kota Padang. Untuk lebih jelasnya aspek-aspek yang diungkapkan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel. 3.3 Blue Print Skala Keaktifan Pengajian Sebelum Uji Coba No Aspek Indikator No Item Total 1. Menghadiri Selalu hadir 1, 2, 3, 4, 5, 6 6 dalam 2. Mensosialisasikan kegiatan 3. Mengikuti rangkaian sampai selesai 4. Menjadi panitia 5. Memberi kontribusi berupa sumbangan tenaga, pikiran maupun materi pada yang diikuti Mengajak orang lain untuk mengikuti kegiatan Selalu mengikuti Selalu menjadi panitia a. Memberikan sumbangan b. Memberikan sumbangan pikiran pada yang diikuti 7, 8, 9, 10, 11, 12 13, 14, 15, 16, 17, 18 19, 20, 21, 22, 23, 24 25, 26, 27, 28, 29, 30 31, 32, 33, 34, 35, 36 6 6 6 6 6
55 c. Memberikan sumbangan materi pada yang diikuti 37, 38, 39, 40, 41, 42 6 Jumlah 42 2. Skala Kesehatan Mental Skala yang penulis gunakan adalah skala kesehatan mental yang penulis susun sendiri melalui professional judgment dengan mengacu pada teori yang disampaikan oleh Daradjat (2001) yang terdiri dari 4 aspek, yaitu terhindarnya dari gejala-gejala gangguan jiwa dan dari gejala-gejala penyakit jiwa, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup, pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin sehingga membawa kepada kebahagiaan diri sendiri dan orang lain serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa. Dan terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri. Untuk lebih jelasnya aspek-aspek yang diungkapkan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :
56 Tabel. 3.4 Blue Print Skala Kesehatan Mental Sebelum Uji Coba No Aspek Indikator No Item Total 1. Terhindarnya dari a) Rasa gelisah 1, 7 2 gejala-gejala b) Rasa sedih 2, 8 2 gangguan jiwa c) Rasa marah 3, 9 2 dan dari gejalagejala d) Rasa ragu 4, 10 2 penyakit e) Rasa tegang 5, 11 2 jiwa f) Rasa takut 6, 12 2 2. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup 3. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri sendiri dan orang lain serta terhindar dari gangguangangguan dan penyakit jiwa a) Suka bergaul dalam masyarakat b) Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya c) Aktif dalam kegiatan masyarakat d) Saling tolong menolong a) Percaya diri yang tinggi b) Tahu potensi diri sendiri c) Tahu kelemahan diri sendiri d) Memiliki pikiran yang dinamis e) Memiliki konsentrasi yang baik f) Daya pikir yang baik g) Mampu mengontrol emosi diri 13, 17 2 14, 18 2 15, 19 2 16, 20 2 21, 28 2 22, 29 2 23, 30 2 24, 31 2 25, 32 2 26, 33 2 27, 34 2
57 4. Terwujudnya keharmonisan yang sungguhsungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri a) Sanggup menghadapi masalahmasalah yang terjadi b) Bergairah atau punya semangat hidup c) Mampu menghadapi tekanan d) Bersyukur dengan apa yang didapat e) Mampu mengambil keputusan suatu permasalahan dengan akal sehat f) Memiliki tujuan hidup yang jelas 35, 42 2 36, 42 2 37, 43 2 38, 44 2 39, 45 2 40, 46 2 Jumlah 46 3.6.4. Hasil Uji Coba Penelitian Setelah skala dibuat, maka proses selanjutnya adalah menganalisis dan menyeleksi aitem-aitem. Proses pertama yaitu memeriksa apakah item-item telah sesuai dengan blue print dan indikator-indikator perilaku yang diungkap. Setelah itu dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas alat ukur pada penelitian agar mendapat data yang akurat dan dapat dipercaya. Uji coba (try out) skala penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2016 pada ibu-ibu jama ah majlis ta lim Baiturrahman di Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
58 3.6.5. Uji Validitas Untuk mendapatkan data yang akurat dan sesuai dengan tujuan pengukuran diperlukan uji validitas. Uji validitas dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi masing-masing aitem dengan menggunakan Cronbach Alpha aplikasi SPSS 20.0 for windows. Maka dari hasil uji validitas variabel keaktifan (X) didapatkan hasil bahwa dari 42 butir pernyataan untuk variabel keaktifan, 33 aitem dinyatakan valid karena Corrected Aitem-Total Correlation lebih besar dari 0,30. Dengan demikian, butir-butir pernyataan dalam variabel ini layak mengungkap tentang tingkat keaktifan. Aitem yang tidak valid akan dibuang. Berdasarkan uji coba validitas dengan bantuan program SPSS 20.0 for windows, maka diperoleh instrumen skala keaktifan sebanyak 42 aitem, terdapat 33 aitem yang valid yaitu nomor 1, 2, 3, 5, 6, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 37, 38, 39, 40, 42. Selain itu, terdapat aitem yang tidak valid yaitu sebanyak aitem diantaranya aitem nomor 4, 7, 8, 9, 17, 34, 35, 36, 41. Maka instrumen penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan tingkat keaktifan adalah sebanyak 33 aitem. Adapun sebaran untuk aitem instrumen skala keaktifan setelah uji coba dapat dilihat pada tabel berikut:
59 Tabel. 3.5 Blue Print Penelitian Keaktifan Pengajian No Aspek Indikator Aitem Valid Total 1. Menghadiri 2. Mensosialisasikan kegiatan 3. Mengikuti rangkaian sampai selesai 4. Menjadi panitia 5. Memberi kontribusi berupa sumbangan tenaga, pikiran maupun materi pada yang diikuti Sumber : Hasil Uji Coba Selalu hadir dalam Mengajak orang lain untuk mengikuti kegiatan Selalu mengikuti 1, 2, 3, 4, 5 5 6, 7, 8 3 9, 10, 11,12,13 Selalu menjadi panitia 14, 15, 16, 17, 18, 19 6 a) Memberikan 20, 21, 22, 6 sumbangan 23, 24, 25 b) Memberikan 26, 27, 28 3 sumbangan pikiran pada yang diikuti c) Memberikan 29, 30, 31, 5 sumbangan 32, 33 materi pada yang diikuti Jumlah 33 Sementara, hasil uji coba validitas kesehatan mental (Y) terdiri dari 46 butir pernyataan untuk variabel kesehatan mental, 41 aitem dinyatakan valid karena Corrected Aitem Total Correlation lebih besar dari 0,30 dengan 5
60 demikian butir-butir pernyataan dalam variabel ini layak mengungkapkan tentang kesehatan mental, aitem yang gugur akan dibuang. Berdasarkan hasil uji coba validitas dengan bantuan program SPSS versi 20.0 for Windows untuk kesehatan mental, maka diperoleh instrument skala kesehatan mental sebanyak 46 aitem. Terdapat 41 aitem yang valid. Aitem yang valid tersebut adalah 1, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 41, 42, 43, 44, 45, 46. Selain itu, terdapat item yang tidak valid sebanyak 5 aitem yaitu 4, 13, 20, 39, 40. Maka instrumen penelitian yang digunakan untuk mengungkap kesehatan mental sebanyak 41 aitem. Adapun sebaran untuk aitem skala kesehatan mental setelah diuji coba dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel. 3.6 Blue Print Penelitian Kesehatan Mental No Aspek Indikator Aitem Valid Total 1. Terhindarnya dari gejala-gejala gangguan jiwa dan dari gejalagejala penyakit jiwa 2. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup a. Rasa gelisah 1, 6 2 b. Rasa sedih 2, 7 2 c. Rasa marah 3, 8 2 d. Rasa ragu 9 1 e. Rasa tegang 4, 10 2 f. Rasa takut 5, 11 2 a. Suka bergaul dalam masyarakat b. Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya c. Aktif dalam kegiatan 15 1 12, 16 2 13, 17 2
61 3. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri sendiri dan orang lain serta terhindar dari gangguangangguan dan penyakit jiwa 4. Terwujudnya keharmonisan yang sungguhsungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri masyarakat d. Saling tolong menolong a. Percaya diri yang tinggi b. Tahu potensi diri sendiri c. Tahu kelemahan diri sendiri d. Memiliki pikiran yang dinamis e. Memiliki konsentrasi yang baik f. Daya pikir yang baik g. Mampu mengontrol emosi diri a. Sanggup menghadapi masalahmasalah yang terjadi b. Bergairah atau punya semangat hidup c. Mampu menghadapi tekanan d. Bersyukur dengan apa yang didapat e. Mampu mengambil keputusan suatu permasalahan dengan akal sehat 14 1 18, 25 2 19, 2 2 20, 27 2 21, 28 2 22, 29 2 23, 30 2 24, 31 2 32, 36 2 33, 37 2 34, 38 2 35, 39 2 40 1
62 Sumber : Hasil Uji Coba f. Memiliki 41 1 tujuan hidup yang jelas Jumlah 41 3.6.6. Uji Realibilitas Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrument tersebut sudah baik. Dalam hal ini penulis menganalisis butir-butir tersebut menggunakan program SPSS versi 20.0 for windows. Hasil pengujian reliabilitas pada keaktifan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Skala Keaktifan Pengajian (X) Reliability Statistics Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items.928.928 42 Sumber: Hasil Uji Coba dengan SPSS versi 20.0 Tabel 3.8 Hasil Uji Reliabilitas Skala Kesehatan Mental (Y) Reliability Statistics Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items.954.954 46 Sumber: Hasil Uji Coba dengan SPSS versi 20.0
63 Menurut Sekaran (1992) reliabilitas kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan di atas 0,8 adalah baik (Priyatno, 2012:187). Dari analisis reliabilitas dengan bantuan SPSS versi 20.0 for windows di atas, diketahui nilai Cronbach Alpha adalah 0,928 untuk skala keaktifan dan nilai Cronbach Alpha adalah 0,954 untuk skala kesehatan mental lebih dari 0,8 maka reliabilitasnya adalah baik sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur. 3.7. Teknik Analisis Data Suatu alat ukur dapat dinyatakan sebagai alat ukur yang baik dan mampu memberikan informasi yang jelas dan akurat apabila telah memenuhi beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli psikometri, yaitu kriteria valid dan reliabel. Oleh karena itu agar kesimpulan tidak keliru dan tidak memberikan gambaran yang jauh berbeda dari keadaan yang sebenarnya diperlukan uji validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang digunakan dalam penelitian. Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan pertimbangan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. (Sugiyono, 2013:147). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis korelasi sederhana yaitu untuk melihat apakah ada hubungan antara
64 dua variabel dengan menggunakan SPSS 20.0 for windows. Data yang telah diperoleh, diolah dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian untuk melihat apakah ada hubungan keaktifan dengan kesehatan mental dengan menggunakan teknik analisis korelasi Produk momen yaitu analisis untuk mengukur keeratan hubungan secara linear antara dua variabel yang mempunyai distribusi normal. Teknik analisis data terdiri dari: 3.7.1. Validitas Instrumen Menurut Sugiyono (2013:121-122), instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti seberapa jauh alat ukur dapat mengungkap dengan benar gejala atau sebagian gejala yang hendak diukur, artinya tes tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Suatu alat ukur dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila alat ukur tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Uji validitas dalam penelitian ini dengan menggunakan metode Corrected Item- Total Correlation yakni dengan mengkorelasikan masing masing skor aitem dengan skor (total teknik bivariate Pearson), tetapi skor total disini tidak termasuk skor item yang mana dihitung melalui program SPSS 20.0. Untuk penelitian ini yang dikatakan valid atau kriteria uji validitas secara singkat (rule of tumb) adalah 0,3. Menurut Suryabrata (2014:58) untuk butir-butir pertanyaan atau pernyataan yang baik dipilih butir-butir yang mempunyai harga p pada sebaran tertentu (misalnya dari
65 0,25 sampai 0,75 atau 0,20-0,80) sesuai spesifikasinya, dan yang mempunyai harga r bis tertentu (misalnya sekurang-kurangnya 0,30, atau sekurang-kurangnya 0,25 atau sekurang-kurangnya 0,20). Dari uji validitas nantinya akan terlihat mana aitem yang valid untuk dilanjutkan ke penelitian. 3.7.2. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, maksudnya apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relatif sama. Maksudnya reliabilitas dipakai untuk menunjukan sejauh mana hasil pengukuran relative konsisten apabila pengukuran dilakukan dua kali atau lebih untuk mengukur gejala yang sama. Adapun estimasireliabilitas dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan paket statistik yang berbentuk statistical package for the social sciences (SPSS) 20,0 for windows. Menurut Well & Wollack dalam Azwar (2014:126) mengatakan bahwa hight stakes standardized tests yang dirancang secara profesional hendaknya memiliki koefisien konsistensi internal minimal 0,90, sedangkan untuk tes yang tidak begitu besar pertaruhannya harus memiliki koefisien konsistensi internal paling tidak setinggi 0,80 atau 0,85. Analisis yang digunakan disesuaikan dengan hipotesis yang diajukan. Oleh karena itu hipotesis menyatakan hubungan, maka analisis yang tepat adalah korelasi, karena untuk mengetahui
66 hubungan antara variabel dengan variabel yang lain. Hasil analisis korelasi adalah bentuk koefesien korelasi yang menggambarkan hubungan. Nilai koefesien korelasi akan berada pada kisaran minus 1 (-1) sampai plus 1 (+1). Jadi analisis data yang digunakan untuk melihat hubungan keaktifan dengan kesehatan mental dengan menggunakan korelasi moment product dari Pearson correlation. Cara perhitungannya dibantu dengan menggunakan program SPSS 20.0 for windows. 3.7.3. Analisis Korelasi Pearson Analisis korelasi Pearson adalah analisis untuk mengukur keeratan hubungan secara linier antara dua variabel yang mempunyai distribusi data normal (Priyatno, 2014:103). 3.7.4. Uji Ketepatan Parameter (Estimate) a. Uji Normalitas Uji normalitas dimaksud untuk mengetahui apakah data yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Model statistik yang digunakan, yaitu test one sampel kolmogorov smirnov. Data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi lebih besar dari 0,05 (Priyatno, 2014). b. Uji Linearitas Uji linearitas merupakan uji prasyarat yang biasanya dilakukan untuk melakukan korelasi. Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel secara signifikansi mempunyai
67 hubungan yang linier atau tidak. Untuk uji linearitas pada SPSS versi 20.0 for windows digunakan Test For Linearity dengan taraf signifikansi pada linearitas kecil dari 0,05 (Priyatno, 2014). c. Uji Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada atau tidak hubungan keaktifan dengan kesehatan mental. Korelasi pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan Pearson correlation, menggunakan program komputer SPSS versi 20,0 for windows.