Risna* 1, Isnawaty 2, Sutardi 3. *

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. dinamakan hotspot. Batas hotspot ditentukan oleh frekuensi, kekuatan pancar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. Dari penelitian yang dilakukan oleh Cristian Wijaya (2014) mengenai

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN

ANALISIS QUALITY of SERVICE (QoS) KINERJA SISTEM HOTSPOT PADA ROUTERBOARD MIKROTIK 951Ui-2HnD PADA JARINGAN TEKNIK INFORMATIKA

APLIKASI MANAJEMEN BANDWIDTH PADA USB TETHERING ANDROID MENGGUNAKAN MIKROTIK

BAB III METODE PENGEMBANGAN

ANALISIS PERBANDINGAN QoS VoIP PADA PROTOKOL IPv4 DAN IPv6 ( STUDI KASUS : LABORATORIUM KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG )

IMPLEMENTASI METODE PER CONNECTION CLASSIFIER DENGAN FAILOVER DAN FITUR NOTIFIKASI

BAB II DASAR TEORI. Protokol adalah seperangkat aturan yang mengatur pembangunan koneksi

NAMA : SUSILO KELAS : 22 NIM : TANGGAL : 10 JUNI 2015

BAB 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Penelitian Terdahulu

QUALITY OF SERVICE (QOS) PADA JARINGAN INTERNET DENGAN METODE HIERARCHY TOKEN BUCKET

Membangun Jaringan Wireless Local Area Network (WLAN)

ANALISIS MANAJEMEN BANDWIDTH DENGAN ALAMAT IP CLIENT ABSTRAK

IMPLEMENTASI PENGATURAN DAN PRIORITAS BANDWIDTH DENGAN HIERARCHICAL TOKEN BUCKET BERBASISKAN GUI PADA LINUX SERVER CLEAROS

Sistem Manajemen Bandwidth dengan Prioritas Alamat IP Client

BAB XIII. Wireless LAN dan Hotspot

CARA MENJALANKAN PROGRAM

SEKILAS WIRELESS LAN

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi data. router dengan kabel Unshielded Twisted Pair sebagai (UTP) Topologi jaringan

ANALISIS QOS (QUALITY OF SERVICE) PADA WARNET DENGAN METODE HTB (HIERARCHICAL TOKEN BUCKET)

PERCOBAAN VII Komunikasi Data WLAN Indoor

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

TUGAS JARKOM. *OSI Layer dan TCP/IP* A. OSI layer

A I S Y A T U L K A R I M A

BAB III METODE PENELITIAN. sebelumnya yang berhubungan dengan VPN. Dengan cara tersebut peneliti dapat

ANALISIS KINERJA JARINGAN KOMPUTER DI SMK DARUSSALAM MEDAN DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE CISCO PACKET TRACER

PERCOBAAN 7 KOMUNIKASI WIRELESS MODE AD-HOC

TRAFFIC MANAGEMENT (Quality of Service & Congestion Control) Definisi Traffic Management

MODUL 6 MANAJEMEN BANDWIDTH DENGAN CBQ DAN HTB

Mengenal Mikrotik Router

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI. Pada standart IEEE terminologi dari distribution system adalah sistem

Jurnal JARKOM Vol. 5 No. 2 Juni 2017 ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

A I S Y A T U L K A R I M A

STANDARISASI FREKUENSI

TEKNIK MARK PACKET DAN MARK CONNECTION UNTUK MANAJEMEN BANDWITH DENGAN PENDEKATAN TOP-DOWN

OPTIMALISASI LOAD BALANCING DUA ISP UNTUK MANAJEMEN BANDWIDTH BERBASIS MIKROTIK. Futri Utami 1*, Lindawati 2, Suzanzefi 3

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu

BAB IV IMPLEMENTASI DAN HASIL PENGUJIAN

Bab 2. Tinjauan Pustaka

1. Pendahuluan 2. Kajian Pustaka

ANALISIS PERBANDINGAN ROUTER LINUX DENGAN ROUTER MIKROTIK PADA JARINGAN WIRELESS MENGGUNAKAN METODE QOS PENDAHULUAN

Implementasi Sistem Manajemen Bandwidth Di CV TRI POLA JAYA

BAB II TEORI DASAR. Resource Reservation Protocol (RSVP) merupakan protokol pada layer

ANALISIS MANAJEMEN BANDWIDTH PADA PC ROUTER MENGGUNAKAN METODE HIERARCHICAL TOKEN BUCKET DI PD.MEDELLIN

BAB IV PEMBAHASAN /24 dan lainnya bisa berkoneksi dengan internet / ISP.

TCP dan Pengalamatan IP

OPTIMALISASI LOAD BALANCING DUA ISP UNTUK MANAJEMEN BANDWIDTH BERBASIS MIKROTIK

BAB 1 PENDAHULUAN. Dengan berkembangnya perusahaan - perusahaan provider (penyedia. masyarakat, namun belum diimbangi dengan besarnya bandwidth yang

Bab 4 Hasil dan Pembahasan

BAB 2 LANDASAN TEORI. melakukan pengiriman dan penerimaan (meski path itu berupa wireless). (Tittel,

Dukungan yang diberikan

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. Analisis Kinerja Protocol SCTP untuk Layanan Streaming Media pada Mobile WiMAX 3

BAB 4 ANALISA DATA. Gambar 4.1 Tampilan pada Wireshark ketika user melakukan register. 34 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Di masa sekarang ini, internet sangat berperan besar. Internet digunakan

PERANCANGAN SISTEM Perancangan Topologi Jaringan Komputer VPN bebasis L2TP dan IPSec

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISA PENENTUAN MODEL PENGELOLAAN BANDWIDTH IDEAL MENGGUNAKAN POLA QUALITY OF SERVICE (QOS) STUDI KASUS DI SMK AL-FATTAAH DEMAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KUALITAS LAYANAN. Budhi Irawan, S.Si, M.T

1. Pendahuluan. 2. Tinjauan Pustaka

STUDI ANALISIS EFEK PERBEDAAN LOKASI TERHADAP PERFORMANSI VIDEO STREAMING PADA JARINGAN W-LAN INDOSAT. Said Atamimi 1, Arie Budi Prasojo 2 1,2

Optimalisasi Keamanan Jaringan Menggunakan Pemfilteran Aplikasi Berbasis Mikrotik

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR

ANALISA UNJUK KERJA APLIKASI CBQ DAN HTB PADA JARINGAN KOMPUTER UNTUK PEMBATASAN BANDWIDTH BERBASIS IPv6

SIMULASI APLIKASI MIKROTIK ROUTER DI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pentingnya Efisiensi Energi pada Perangkat Komunikasi Bergerak

ULANGAN HARIAN JARINGAN NIRKABEL

PERANCANGAN VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK (VLAN) DENGAN DYNAMIC ROUTING MENGGUNAKAN CISCO PACKET TRACER 5.33

Agenda. Protokol TCP/IP dan OSI Keluarga Protokol TCP/IP

BAB III. IMPLEMENTASI WiFi OVER PICOCELL

PERBANDINGAN METODE DIFFERENTIATED SERVICE

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BANDWIDTH JARINGAN LOCAL AREA NETWORK (LAN) MENGUNAKAN METODE QUEUE TREE PADA PT. TUMBUH SELARAS ALAM

Dalam konfigurasi Wireless Distribution System (WDS) setiap. mikrotik wireless dikonfigurasi sama dan saling terhubung yang sedikit

ANALISIS KINERJA TRANSMISSION CONTROL PROTOCOL PADA JARINGAN WIDE AREA NETWORK

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. jaringan. Topologi jaringan terdiri dari 3 client, 1 server, dan 2 router yang

9/6/2014. Dua komputer atau lebih dapat dikatakan terinterkoneksi apabila komputer-komputer tersebut dapat saling bertukar informasi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. perangkat software dan hardware untuk mendukung dalam penelitian analisis

IMPLEMENTASI QOS INTEGRATED SERVICE PADA JARINGAN MPLS GUNA PENINGKATAN KUALITAS JARINGAN PADA PENGIRIMAN PAKET VIDEO TUGAS AKHIR

Perancangan Jaringan LAN dan WLAN Berbasis Mikrotik Pada Sekolah Menengah Kejuruan

TUGAS AKHIR. Disusun sebagai salah satu syarat untuk kelulusan Program Strata 1, Program Studi Teknik Informatika, Universitas Pasundan Bandung

Analisis Perbandingan Performansi Server VoIP. berbasis Parallel Processing

PERCOBAAN 8 WIRELESS LAN MODE INFRASTRUKTUR (SETTING ACCESS POINT)

BAB III LANDASAN TEORI. MikroTikls atau yang lebih di kenal dengan Mikrotik didirikan tahun 1995

Bab 2. Tinjauan Pustaka

PERBANDINGAN KINERJA JARINGAN METROPOLITAN AREA NETWORK DENGAN INTERNET PROTOCOL VERSI 4 DAN VERSI 6

KONSEP CELLULAR DENNY CHARTER, ST. Websites :

ANALISIS QUALITY OF SERVICE VIDEO STREAMING DAN IP TELEPHONY MENGGUNAKAN ROUTER MIKROTIK RB951U

BAB IV ANALISIS DAN HASIL DATA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Rahmady Liyantanto liyantanto.wordpress.com

Rudy Samudra P Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Dian Nuswantoro

Transkripsi:

semantik, Vol.3, No.2, Jul-Des 2017, pp. 59-68 ISSN : 2502-8928 (Online) 59 JCCS, Vol.x, No.x, July xxxx, pp. 1~5 OPTIMALISASI JARINGAN WIRELESS DAN ANALISIS QUALITY of SERVICE (QoS) MENGGUNAKAN METODE HIERARCHICAL TOKEN BUCKET (HTB) Risna* 1, Isnawaty 2, Sutardi 3 *1,2,3 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo, Kendari e-mail: * 1 risna.0894@gmail.com, 2 isna.1711@gmail.com, 3 sutardi_hapal@yahoo.com Abstrak Kinerja suatu jaringan Wi-Fi (Wireless Fidelity), misalnya pada suatu gedung, dapat diketahui dari penerimaan sinyal yang oleh pengguna dari AP. Tentunya penerimaan sinyal yang naik turun atau yang lemah tidak dikehendaki. Hal ini dapat dilihat dari aspek-aspek propagasi gelombang radio dalam ruangan (indoor propagation). Apabila pembagian bandwidth dalam suatu jaringan wireless dapat dilakukan secara tepat maka kinerja jaringan wireless akan lebih optimal. Metode Hierarchical Token Bucket (HTB) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengoptimalkan jaringan dari segi manajemen bandwidth. Metode HTB ini memberikan kemudahan pemakaian dengan teknik peminjaman dan implementasi pembagian trafik yang lebih akurat serta dapat memudahkan pengelola jaringan dalam mengalokasikan bandwidth, membagi sesuai kebutuhan serta menjamin kualitas jaringan yang berbasis wireless, sehingga tidak terjadi rebutan bandwidth antar client karena sudah dilakukan manajemen pada setiap client. Hasil yang didapatkan adalah dapat dilihat bahwa kualiatas jaringan dengan menggunakan metode antrian HTB (Hierarchical Token Bucket) lebih optimal, hal ini dikarenakan semua client akan mendapatkan kuota bandwidth sesuai dengan rule yang diterapkan pada bandwidth management. Kata kunci Hierarchial Token Bucket, Quality of Service, MikroTik, Jaringan Wireless Abstract The performance of a Wi-Fi (Wireless Fidelity), for example in a building, it can be seen from the reception signal received by users of the AP. Surely signal reception up and down or weak undesirable. It can be seen from the aspects of radio wave propagation in the room (indoor propagation). If the distribution of bandwidth in a wireless network can be done precisely the performance of wireless networks will be optimized. Methods Hierarchical Token Bucket (HTB) is one method used to optimize the network in terms of bandwidth management. Methods HTB This provides ease of use with the technique of borrowing and the implementation of the division of traffic that is more accurate and can facilitate the network manager to allocate bandwidth, split according to the needs and ensure the quality of network-based wireless, so there is no seizure of bandwidth between the client because it was done by the management on each client, The results obtained are can be seen that kualiatas queuing network using HTB (Hierarchical Token Bucket) is more optimal, this is because all clients will get bandwidth quota in accordance with a rule that is applied to bandwidth management Keywords Hierarchial Token Bucket, Quality of Service, MikroTik, Wireless Network 1. PENDAHULUAN Jaringan wireless merupakan salah satu teknologi komunikasi yang saat ini sedang berkembang pesat. Meskipun bukan merupakan teknologi terbaru dalam dunia komunikasi, keberadaan teknologi wireless ini sangat diperlukan dalam penyediaan layanan Received June 1 st,2012; Revised June 25 th, 2012; Accepted July 10 th, 2012 internet tanpa kabel khususnya untuk area indoor seperti gedung perkantoran, kampus, bandar udara dan lain-lain. Jaringan wireless dapat diakses dengan mudah melalui perangkat notebook, laptop, dan smartphone. Kinerja suatu jaringan Wi-Fi (Wireless Fidelity), misalnya pada suatu gedung, dapat diketahui dari penerimaan sinyal yang

60 Optimalisasi Jaringan Wireless dengan Menggunakan Analisis ISSN: 1978-1520 oleh pengguna dari Access Point. Tentunya penerimaan sinyal yang naik turun atau yang lemah tidak dikehendaki. Hal ini dapat dilihat dari aspek-aspek propagasi gelombang radio dalam ruangan (indoor propagation). Apabila pembagian bandwidth dalam suatu jaringan wireless dapat dilakukan secara tepat maka kinerja jaringan wireless akan lebih optimal Metode Hierarchical Token Bucket (HTB) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengoptimalkan jaringan dari segi manajemen bandwidth. Metode HTB ini memberikan kemudahan pemakaian dengan teknik peminjaman dan implementasi pembagian trafik yang lebih akurat serta dapat memudahkan pengelola jaringan dalam mengalokasikan bandwidth, membagi sesuai kebutuhan serta menjamin kualitas jaringan yang berbasis wireless, sehingga tidak terjadi rebutan bandwidth antar client karena sudah dilakukan manajemen pada setiap client. Penelitian ini bertempat di Laboratorium Sistem Informasi dan Programming Jurusan Teknik Informatika dimana laboratorium ini memanfaatkan jaringan wireless sebagai sarana komunikasi data bagi civitas akademiknya. Namun, kualitas jaringan yang tersedia masih kurang optimal karena belum adanya pengaturan pemakaian bandwidth yang menyebabkan sebagian dari mahasiswa dapat memakai bandwidth secara besar-besaran. Jadi antara mahasiswa tidak ada batas dalam pemakaian bandwidth. Sehingga pemakaian bandwidth antar mahasiswa tidak adil dan merata. Penelitian tentang optimalisasi jaringan wireless dengan algoritma HTB yang pernah dilakukan, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Mochammad Irfan dengan judul Penerapan Bandwidth Management menggunakan metode HTB (Hierachical Token Bucket) di PT. Neuronworks menjelaskan dalam implementasi kali ini mengambil studi kasus di sebuah perusahaan IT, yaitu PT. Neuronworks Indonesia. Dalam perusahaan ini belum terdapat adanya pengaturan bandwidth. Jadi setiap karyawan dapat mendownload secara besar-besaran yang mengakibatkan user lain bahkan direktur biasa tidak mendapatkan jatah bandwidth. Agar bandwidth digunakan sesuai dengan kebutuhan maka dari itu dibutuhkan pembagian bandwidth. Dengan penggunaan HTB tools dapat mengatasi dan pembatasan IJCCS Vol. x, No. x, July 201x : first_page end_page beban pada pemakaian bandwidth internet yang terdapat pada PT. Neuronworks sehingga pemakaian bandwidth terbagi secara kebutuhan dan terkontrol. Penelitian selanjutnya oleh Eno Tantra, Tengku Ahmad Riza, dan Tedi Gunawan dengan judul Implementasi Bandwidth Management Dengan Menggunakan Metode HTB (Hierarchical Token Bucket) Pada ClearOS di SMP Islam Terpadu Raudhatul Jannah Cilegon. Penelitian ini dilakukan untuk mengatasi lambatnya kecepatan internet yang disebabkan karena banyaknya pengguna yang mengakses internet secara bersamaan, hal ini disebabkan karena pembagian bandwidth yang kurang optimal. Dengan melakukan bandwidth management menggunakan metode HTB pada jaringan internet yang ada di SMPIT Raudhatul bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Semua client akan mendapatkan kuota bandwidth sesuai dengan rule yang diterapkan pada bandwidth management. 2. METODE PENELITIAN 2.1 Jaringan Wireless Jaringan Wireless merupakan sekumpulan komputer yang saling terhubung antara satu dengan lainnya sehingga terbentuk sebuah jaringan komputer dengan menggunakan media udara/gelombang sebagai jalur lintas datanya. Contoh penerapan dari aplikasi wireless network adalah jaringan nirkabel di perusahaan, kampus, atau mobile communication seperti handphone. Teknologi komunikasi data dengan tidak menggunakan kabel untuk menghubungkan antara client dan server. Secara umum teknologi Wireless LAN hampir sama dengan teknologi jaringan komputer yang menggunakan kabel (Wire LAN atau Local Area Network). Teknologi Wireless LAN ada yang menggunakan frekuensi radio untuk mengirim dan menerima data untuk mengurangi kebutuhan atau ketergantungan hubungan melalui kabel. Sehingga pengguna mempunyai mobilitas atau fleksibilitas yang tinggi dan tidak tergantung pada suatu tempat atau lokasi. Teknologi Wireless LAN juga memungkinkan untuk membentuk jaringan komputer yang mungkin tidak dapat dijangkau oleh jaringan komputer yang menggunakan kabel.

Risna, Isnawaty dan Sutardi IJCCSISSN: 1978-1520 61 Adapun pengertian lainnya adalah sekumpulan standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks WLAN) yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Terdapat tiga varian terhadap standard tersebut yaitu 802.11b atau dikenal dengan WIFI (Wireless Fidelity), 802.11a (WIFI5), dan 802.11. Ketiga standard tersebut biasa di singkat 802.11a/b/g. Versi wireless LAN 802.11b memiliki kemampuan transfer data dengan kecepatan tinggi [1]. Jaringan wireless memiliki beberapa komponen penting yaitu [2]: 1. Access Point (AP) Pada WLAN, alat untuk mentransmisikan data disebut dengan Access Point dan terhubung dengan jaringan LAN melalui kabel. Fungsi dari AP adalah mengirim dan menerima data, sebagai buffer data antara WLAN dengan Wired LAN, mengkonversi sinyal frekuensi radio (RF) menjadi sinyal digital yang akan disalurkan melalui kabel atau disalurkan ke perangkat WLAN yang lain dengan dikonversi ulang menjadi sinyal frekuensi radio. Gambar 1 menunjukkan access point. Gambar 1 Access Point Satu AP dapat melayani sejumlah user sampai 30 user. Karena dengan semakin banyaknya user yang terhubung ke AP maka kecepatan yang diperoleh tiap user juga akan semakin berkurang. 2. Extension Point Untuk mengatasi berbagai masalah khusus dalam topologi jaringan, designer dapat menambahkan extension point untuk memperluas cakupan jaringan. Extension point hanya berfungsi layaknya repeater untuk client di tempat yang lebih jauh. Syarat agar antara access point dapat berkomunikasi satu dengan yang lain, yaitu setting channel di masingmasing AP harus sama. Selain itu SSID (Service Set Identifier) yang digunakan juga harus sama. Dalam praktek di lapangan biasanya untuk aplikasi extension point biasanya dilakukan dengan menggunakan merk AP yang sama. Gambar 2 menunjukkan jaringan menggunakan extension point. Gambar 2 Jaringan Menggunakan Extension Point Komponen extension point adalah sebagai berikut : a. Antena Antena merupakan alat untuk mentransformasikan sinyal radio yang merambat pada sebuah konduktor menjadi gelombang elektromagnetik yang merambat diudara. Antena memiliki sifat resonansi, sehingga antena akan beroperasi pada daerah tertentu. Ada beberapa tipe antena yang dapat mendukung implementasi WLAN, yaitu: 1) Antena Omnidirectional Antena ini memiliki pola pancaran sinyal ke segala arah dengan daya yang sama. Untuk menghasilkan cakupan area yang luas, gain dari antena omni directional harus memfokuskan dayanya secara horizontal (mendatar), dengan mengabaikan pola pemancaran ke atas dan ke bawah, sehingga antena dapat diletakkan di tengah-tengah base station. Dengan demikian keuntungan dari antena jenis ini adalah dapat melayani jumlah pengguna yang lebih banyak. Namun, kesulitannya adalah pada pengalokasian frekuensi untuk setiap sel dilakukan agar tidak terjadi interferensi. Gambar 3 menunjukkan antenna omnidirectional. 2) Antena Gambar directional 3 Antena Omnidirectional Antena ini mempunyai pola pemancaran sinyal dengan satu arah tertentu. Antena ini idealnya digunakan sebagai penghubung antar Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

62 Optimalisasi Jaringan Wireless dengan Menggunakan Analisis ISSN: 1978-1520 gedung atau untuk daerah yang mempunyai terhadap mekanisme transport jaringan fisik konfigurasi cakupan area yang kecil seperti yang digunakan, sehingga dapat digunakan di pada lorong-lorong yang panjang. Gambar 4 mana saja. menunjukkan antenna directional. TCP/IP dikembangkan sebelum model OSI ada. Namun demikian lapisan-lapisan pada TCP/IP tidaklah cocok seluruhnya dengan lapisan-lapisan OSI. Protokol TCP/IP hanya dibuat atas lima lapisan saja: physical, data link, network, transport dan application [3]. Gambar 6 menunjukkan susunan protokol TCP/IP dan model OSI. Gambar 4 Antena Directional b. Wireless LAN Card WLAN Card dapat berupa PCMCIA (Personal Computer Memory Card International Association), ISA Card, USB Card atau Ethernet Card. PCMCIA digunakan untuk notebook, sedangkan yang lainnya digunakan pada komputer desktop. WLAN Card ini berfungsi sebagai interface antara sistem operasi jaringan client dengan format interface udara ke AP. Khusus notebook yang keluaran terbaru maka WLAN Card-nya sudah menyatu didalamnya. Sehingga tidak keliatan dari luar. Gambar 5 menunjukkan WLAN Card. Gambar 5 WLAN Card 2.2 TCP/IP TCP/IP (Transmission Control Protokol/Internet Protocol ) adalah standar komunikasi data yang digunakan oleh komunitas internet dalam proses tukarmenukar data dari satu komputer ke komputer lain di dalam jaringan Internet. Protokol TCP/IP dikembangkan pada akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an sebagai sebuah protokol standar untuk menghubungkan komputer-komputer dan jaringan untuk membentuk sebuah jaringan yang luas (WAN). TCP/IP merupakan sebuah standar jaringan terbuka yang bersifat independen IJCCS Vol. x, No. x, July 201x : first_page end_page Gambar 6 Susunan Protokol TCP/IP dan Model OSI Lapisan aplikasi pada TCP/IP mencakupi tiga lapisan OSI teratas sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2.18 diatas, khususnya pada layer keempat, Protokol TCP/IP mendefinisikan 2 buah protokol yakni Transmission Control Protocol (TCP) dan User Datagram Protocol (UDP). Sementara itu pada lapisan ketiga, TCP/IP mendefiniskan sebagai Internetworking Protocol (IP), namun ada beberapa protokol lain yang mendukung pergerakan data pada lapisan ini [3]. Internet Protocol (IP) adalah protokol yang digunakan oleh protokol TCP/IP untuk melakukan pengalamatan dan routing paket data antar host-host di jaringan komputer berbasis TCP/IP. Versi IP yang banyak digunakan adalah IP versi 4 (IPv4) yang didefinisikan pada RFC 791 dan dipublikasikan pada tahun 1981, tetapi akan digantikan oleh IP versi 6 pada beberapa waktu ke depan. Protokol IP merupakan protokol utama di dalam hierarki protocol TCP/IP. Data akan dibawa oleh sebuah paket IP dari satu titik ke titik lainya dalam suatu jaringan. Protokol IP menggunakan metode connectionless yang berarti dalam melakukan pengiriman data, protokol ini tidak

Risna, Isnawaty dan Sutardi IJCCSISSN: 1978-1520 63 perlu membuat dan memelihara sebuah sesi koneksi. Walaupun bertugas menyampaikan data dari satu titik ke titik lainnya dalam suatu jaringan protokol ini tidak menjamin data benar-benar sampai pada tujuan, tapi hal ini diserahkan kepada protokol pada lapisan yang lebih tinggi, yakni protokol Transmission Control Protocol (TCP) [3]. 2.3 MikroTik MikroTik merupakan suatu router OS (Router Operating System) yaitu sistem operasi atau software yang dapat digunakan menjadi komputer router network yang handal dengan berbagai fitur yang dibuat untuk mengatur ip network dan jaringan wireless, cocok digunakan oleh ISP dan provider hotspot [4]. Sistem operasi MikroTik adalah sistem operasi linux base yang digunakan sebagai network router yang untuk memberikan kemudahan dan kebebasan bagi penggunanya. Pengaturan administrasinya dapat dilakukan menggunakan Windows Application (WinBox). Komputer yang akan dijadikan Router MikroTik tidak memerlukan spesifikasi yang tinggi, misalnya hanya sebagai gateway. Tetapi jika MikroTik diguankan untuk keperluan beban yang besar sebaiknya menggunakan spesifikasi yang cukup memadai. Fitur-fitur MikroTik diantaranya : Firewall & Nat, Hotspot, Routing, DNS server, Point to Point Tunneling Protocol, Hotspot, DHCP server, dan sebagainya. 2.4 Network Address Translation NAT (Network Address Translation) atau penafsiran alamat jaringan adalah suatu metode untuk menghubungkan lebih dari satu komputer ke jaringan internet dengan menggunakan satu alamat IP. Banyaknya penggunaan metode ini disebabkan karena ketersediaan alamat IP yang terbatas, kebutuhan akan keamanan (security), dan kemudahan serta fleksibilitas dalam administrasi jaringan. NAT merupakan salah satu protocol dalam suatu sistem jaringan, NAT memungkinkan suatu jaringan dengan IP atau internet protocol yang bersifat private atau private IP yang sifatnya belum teregistrasi di jaringan internet untuk mengakses jalur internet, hal ini berarti suatu alamat IP dapat mengakses internet dengan menggunakan IP Private atau bukan menggunakan IP Public, NAT biasanya dibenamkan dalam sebuah router, NAT juga sering digunakan untuk menggabungkan atau menghubungkan dua jaringan yang berbeda, menterjemahkan IP Private atau bukan IP Public dalam jaringan internal ke dalam jaringan yang legal network sehingga memiliki hak untuk melakukan akses data dalam sebuah jaringan. Keuntungan dari Network Address Translation (NAT) yaitu: a. Mengurangi terjadinya duplikasi IP address pada jaringan b. Menghindari proses pengalamatan kembali pada saat jaringan berubah c. Menghemat IP legal yang diberikan oleh ISP (Internet service provider) d. Meningkatkan fleksibilitas untuk koneksi ke internet 2.5 Bandwidth Secara umum pengertian bandwidth adalah perbedaan angka antara komponen sinyal berfrekuensi rendah dan sinyal berfrekuensi tinggi atau dapat juga disebut lebar dari cakupan frekuensi yang digunakan sinyal di dalam sebuah medium transmisi. Selain itu, secara umum bandwidth dapat juga diartikan sebagai jumlah data yang dapat dikirimkan melalui saluran komunikasi dalam jangka waktu tertentu [5]. Dalam jaringan komputer, pengertian bandwidth adalah jumlah data yang dapat dibawa dari satu titik ke titik lain dalam jangka waktu tertentu (biasanya menggunakan satuan detik) atau lebih sederhananya dapat diartikan dengan besaran volume informasi yang dapat ditangani persatuan waktu. Jenis bandwidth biasanya dinyatakan dalam bit (data) per detik (bps). Bandwidth akan dialokasikan ke komputer dalam jaringan dan akan mempengaruhi kecepatan transfer data pada jaringan komputer tersebut sehingga semakin besar bandwidth pada jaringan komputer maka semakin cepat pula kecepatan transfer data yang dapat dilakukan oleh client maupun server. Pada sebuah jaringan komputer bandwidth terbagi menjadi 2 yaitu bandwidth digital dan bandwidth analog. Berikut adalah penjelasan masing-masing bandwidth tersebut: 1. Bandwidth Digital Bandwidth digital adalah jumlah atau volume uatu data (dalam satuan bit per Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

64 Optimalisasi Jaringan Wireless dengan Menggunakan Analisis ISSN: 1978-1520 detik/bps) yang dapat dikirimkan melalui sebuah saluran komunikasi tanpa adanya distorsi. 2. Bandwidth Analog Bandwidth analog merupakan perbedaan antara frekuensi terendah dan frekuensi tertinggi dalam sebuah rentang frekuensi yang diukur dalam satuan Hz (hertz) yang dapat menentukan banyaknya informasi yang dapat ditransmisikan dalam setiap detik. 2.6 Metode Hierarchial Token Bucket Hierarchical Token Bucket (HTB) adalah kelas yang berbasis queue discipline (qdisc), yang mampu mengantri paket sesuai urutan dan waktu yang tertulis dalam sebuah algoritma. HTB ditulis oleh Martin Devera dengan sekumpulan konfigurasi yang lebih sederhana dibanding teknik class Based Queue (CBQ). Secara konseptual, HTB adalah sejumlah token bucket yang disusun dalam suatu hirarki. Secara sederhana, algoritma ini menawarkan kemudahan pemakaian dengan teknik peminjaman dan implementasi pembagian trafik yang lebih akurat [6]. Metode hierarchical token bucket mampu melakukan pembagian trafik yang lebih akurat. Teknik antrian HTB mirip dengan teknik pada CBQ. Hanya perbedaannya terletak pada opsi, dimana pada HTB opsi yang digunakan jauh lebih sedikit dalam konfigurasinya, serta lebih efisien dalam penggunaannya. Teknik antrian HTB memberikan fasilitas pembatasan trafik pada setiap level ataupun klasifikasinya, sehingga bandwidth yang tidak terpakai dapat digunakan oleh klasifikasi lain yang lebih rendah. HTB mempunyai parameter yang penyusunan dalam antrian yaitu: a. Rate Parameter rate menetukan bandwidth maksimum yang dapat digunakan oleh setiap class, jika bandwidth melebihi nilai rate, maka paket data akan dipotong atau dijatuhkan (drop). b. Ceil Parameter ceil di-set untuk menetukan peminjaman bandwidth antar class (kelas), peminjaman bandwidth dilakukan kelas paling bawah ke kelas di atasnya. Teknik ini disebut link sharing. IJCCS Vol. x, No. x, July 201x : first_page end_page c. Random Early Detection (RED) Random Early Detection atau Random Early Drop biasanya digunakan untuk gateway/router backbone dengan tingkat trafik yang sangat tinggi. RED mengendalikan trafik jaringan sehingga terhindar dari kemacetan pada saat trafik tinggi berdasarkan pemantauan perubahan nilai antrian minimum dan maksimum. Jika isi antrian dibawah nilai minimum, maka mode drop tidak berlaku, saat antrian mulai terisi hingga melebihi nilai maksimum, maka RED akan membuang (drop) paket data secara acak sehingga kemacetan pada jaringan dapat dihindari. Teknik antrian HTB memberikan fasilitas pembatasan trafik pada setiap level maupun klasifikasi. Bandwidth yang tidak terpakai bisa digunakan oleh klasifikasi yang lebih rendah. HTB juga dapat dilihat seperti suatu struktur organisasi dimana pada setiap bagian memiliki wewenang dan mampu membantu bagian lain yang memerlukan. Teknik antrian HTB cocok diterapkan pada perusahaan dengan b any ak struktur organisasi. Gambar 7 menunjukkan ilustrasi dalam HTB. Gambar 7 Ilustrasi Dalam HTB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi merupakan tahap dimana sistem siap dioperasikan. Spesifikasi hardware dan software yang digunakan dalam implementasi adalah sebagai berikut: 1. Hardware yang dibutuhkan: a. 3 buahkomputer b. Router MikroTik RB9141-2 nd -Tc 2. Software yang dibutuhkan: a. Sistem operasi Windows 7 b. WinBox c. Wireshark Gambar 8 menunjukkan model arsitektur jaringan yang digunakan dalam penelitian.

Risna, Isnawaty dan Sutardi IJCCSISSN: 1978-1520 65 Gambar 8 Arsitektur Jaringan Yang Digunakan Dalam pengujian parameter ini, dilakukan untuk mengetahui perbedaan secara lebih akurat kualitas kecepatan bandwidth sebelum dan setelah menggunakan metode Hierarchical Token Bucket (HTB) dalam bandwidth management. dicari adalah Delay, Jitter, Throughput, dan Packet Loss. Pengujian dilakukan oleh client menggunakan aplikasi Wireshark yang mana dalam data akan muncul secara otomatis setelah melakukan proses analisa. Hasil data uji yang didapatkan akan disajikan dalam bentuk tabel untuk kemudian disimpulkan dengan grafik. Tabel 1 menunjukkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan menggunakan Wireshark. Detik ke- Tabel 1 Delay Detik 1-10 Tanpa Menggunakan HTB Dengan Menggunakan HTB 1 0,268709 0,009432 2 1,202722 0,126296 3 3,151416 0,535603 4 4,897881 0,996679 5 6,124455 1,245242 6 11,998029 1,339663 7 12,046267 1,515490 8 13,306776 1,665822 9 15,127096 1,718217 10 16,130853 2,227216 Jumlah 84,254204 11,37966 Variasi delay 15,862144 2,217784 1. Pengujian Delay Dalam penelitian kali ini, delay di uji untuk membandingkan yang mana lebih banyak menghasilkan waktu tunda antara menggunakan HTB pada manajemen bandwidth dengan tidak menggunkan menggunakan HTB. Analisa data menggunakan aplikasi wireshark di lakukan pada saat client melakukan aktivitas browsing, streaming, dan download baik sebelum menggunakan HTB maupun tidak menggunakan HTB. Tabel 2 menunjukkan rata-rata delay yang diperoleh tanpa menggunakan HTB: Tabel 2 Rata-Rata Delay Tanpa HTB Total packet yang Total delay Rata-rata delay 457 packet 84,254204 s 184,363 ms Tabel 3 menunjukkan rata-rata delay yang diperoleh dengan menggunakan HTB: Tabel 3 Rata-Rata Delay Dengan HTB Total packet yang Total delay Rata-rata delay 6134 packet 11,37966 s 1,855 ms Dari pengujian yang telah dilakukan, didapatkan nilai delay yang berbeda antara manajemen bandwidth sebelum dan setelah menggunakan metode HTB, untuk manajemen bandwidth sebelum menggunakan HTB adalah 184,363 ms, dan setelah menggunakan HTB adalah 1,855 ms. Dari pengujian yang telah dilakukan delay pada manajemen bandwidth tanpa menggunakan HTB lebih besar dibandingkan setelah menggunakan HTB, hal itu dikarenakan sudah dilakukan pengaturan bandwidth secara terkontrol yang setiap client sudah mendapatkan jatah bandwidth masingmasing sehingga delay dengan menggunakan HTB lebih kecil. 2. Pengujian Jitter Jitter diuji untuk mengetahui perbandingan kecepatan pengiriman data antara client yang menggunakan HTB maupun yang tidak menggunakan metode antrian Hierarchical token bucket (HTB). Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

66 Optimalisasi Jaringan Wireless dengan Menggunakan Analisis ISSN: 1978-1520 Tabel 4 menunjukkan rata-rata jitter yang Tabel 7 menunjukkan rata-rata troughput diperoleh tanpa menggunakan HTB: yang diperoleh dengan menggunakan HTB: Tabel 4 Rata-Rata Jitter Tanpa HTB Tabel 7 Rata-Rata Troughput Dengan HTB Total packet yang Total variasi delay Jitter 457 packet 15,862144 s 34,785 ms Tabel 5 menunjukkan rata-rata jitter yang diperoleh dengan menggunakan HTB: Tabel 5 Rata-Rata Jitter Dengan HTB Total packet yang Total variasi delay Jitter 6134 packet 2,217784 s 0,361 ms Dari pengujian yang telah dilakukan, diperoleh nilai jitter pada manajemen bandwidth sebelum menggunakan HTB lebih besar dibandingkan setelah menggunakan metode HTB, untuk jitter sebelum menggunakan HTB adalah 34,785 ms, dan setelah menggunakan HTB adalah 0,361 ms. Dari pengujian yang telah dilakukan manajemen bandwidth setelah menggunakan lebih bagus dari pada tidak menggunakan HTB. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan HTB transfer data lebih cepat karena bandwidth setiap client sudah terbagi secara rata. 3. Pengujian Troughput Throughput adalah kecepatan (rate) transfer data efektif, yang diukur dalam bps. Throughput merupakan jumlah total kedatangan paket yang sukses yang diamati pada destination selama interval waktu tertentu dibagi oleh durasi interval waktu tersebut. Tabel 6 menunjukkan rata-rata troughput yang diperoleh tanpa menggunakan HTB: Tabel 6 Rata-Rata Troughput Tanpa HTB Packet data yang Lama pengamatan Throughput 19082 packet 136,304 s 1,119 kbps IJCCS Vol. x, No. x, July 201x : first_page end_page Packet data yang Lama pengamatan Throughput 5636123 packet 140,568 s 320,762 kbps Dari pengujian yang telah dilakukan, diperoleh nilai throughput untuk manajemen bandwidth dengan metode HTB maupun yang tidak menggunakan metode HTB. Pada manajemen bandwidth tanpa HTB diperoleh throughput sebesar 1,119 kbps, sedangkan pada manajemen bandwidth dengan HTB diperoleh throughput sebesar 320,762 kbps. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode antrian HTB maka throughput yang dihasilkan akan semakin besar karena kecapatan data semakin meningkat akibat tidak adanya rebutan bandwidth dari setiap client. 4. Pengujian Packet Loss Packet loss adalah jumlah paket data yang hilang per detik. Packet loss dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, mencakup penurunan signal dalam media jaringan, melebihi batas saturasi jaringan, paket yang corrupt yang menolak untuk transit, dan kesalahan perangkat keras jaringan. Tabel 8 menunjukkan rata-rata packet loss yang diperoleh tanpa menggunakan HTB: Tabel 8 Rata-Rata Packet Loss Tanpa HTB Paket data yang dikirim 457 packet Paket data yang 272 packet Packet Loss 0,6801 % Tabel 9 menunjukkan rata-rata packet loss yang diperoleh dengan menggunakan HTB: Tabel 9 Rata-Rata Packet Loss Dengan HTB Paket data yang dikirim 6134 packet Paket data yang 3616 packet Packet Loss 0,6963 %

Risna, Isnawaty dan Sutardi IJCCSISSN: 1978-1520 Dari pengujian yang telah dilakukan, telah diperoleh nilai packet loss untuk manajemen bandwidth tanpa menggunakan HTB yaitu 0,6801 % dan dengan menggunakan metode antrian HTB juga diperoleh 0,6963 %. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa selama proses pengiriman data yang dilakukan server ke client antara kedua hasil penelitian tidak jauh berbeda. Hal ini dikarenakan protokol yang digunakan adalah TCP yang memiliki kemampuan untuk pengecekan paket data yang hilang ataupun rusak dan mengirimnya kembali. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa besar delay dan jitter pada manajemen bandwidth dengan menggunakan metode antrian HTB lebih kecil dibandingkan tanpa menggunakan HTB hal ini dikarenakan kecepatan transfer data dengan menggunakan HTB lebih cepat karena sudah dilakukan pengaturan bandwidth dari setiap client sehingga tidak adannya rebutan bandwidth yang dapat mengakibatkan lambatnya suatu pengiriman data antar server dan client. Pada perbandingan throughput antara kecepatan yang tidak menggunakan HTB dengan yang tidak menggunakan HTB, dapat dilihat bahwa thoughput ketika menggunakan HTB lebih besar hal ini dikarenakan pengiriman data dengan HTB lebih cepat sehingga jumlah data yang dikirim per satuan waktu pun lebih besar. Paket loss antara kecepatan transfer tanpa menggunakan HTB dengan tidak menggunakan HTB hampir sama karena protocol yang digunakan adalah TCP yang memiliki kemampuan untuk pengecekan paket data yang hilang ataupun rusak dan mengirimnya kembali. 4. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan selama perancangan sampai analisa perbandingan QoS pada kecepatan download tanpa mengguankan metode antrian HTB dan dengan menggunakan metode Hierarchical Token Bucket (HTB), maka disimpulkan : a. Delay dan jiiter pada manajemen bandwidth dengan menggunakan metode antian HTB lebih kecil dibandingkan tidak menggunakan HTB. b. Throughput pada manajemen bandwidth dengan menggunakan metode antrian HTB 67 lebih besar daripada tidak menggunakan HTB. c. Packet loss antara manajemen bandwidth tanpa menggunakan HTB dengan tidak menggunakan HTB hampir sama. Berdasarkan hasil diatas dapat dilihat bahwa kualiatas jaringan dengan menggunakan metode antrian HTB (Hierarchical Token Bucket) lebih optimal, hal ini dikarenakan semua client akan mendapatkan kuota bandwidth sesuai dengan rule yang diterapkan pada bandwidth management. 5. SARAN Adapun saran dalam penelitian ini yaitu diharapkan dapat dikembangkan dengan menambahkan pengujian parameter QoS yang lain. Untuk pengujian ini dibutuhkan koneksi internet yang stabil agar didapatkan hasil yang maksimal dan akan terihat lebih jelas perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan metode HTB. DAFTAR PUSTAKA [1] Tantra, E., Tengku Ahmad Riza, dan Tedi Gunawan. 2012. Implementasi Bandwidth Management Dengan Menggunakan Metode HTB (Hierarchical Token Bucket) Pada ClearOS di SMP Islam Terpadu Raudhatul Jannah Cilegon. Bandung. [2] Mulyanta, E. S., 2005. Pengenalan Protokol Jaringan Wireless Komputer. C.V. Andi Ofset. Yogyakarta. [3] Purbo, W. O., Adnan Basalamah, Ismail Fahmi, dan Achmad Husni Thamrin. 2000. TCP/IP. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta. [4] Handriyanto, D.F., 2009. Kajian Penggunaan Mikrotik Router OS sebagai Router pada Jaringan Komputer. Jurusan Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sriwijaya [5] Nugroho, A. H., 2011. Analisa Management Bandwidth Menggunakan Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

68 Optimalisasi Jaringan Wireless dengan Menggunakan Analisis ISSN: 1978-1520 OS Mikrotik Pada Cv Yudha Pratama Tangerang. [6] Wijaya, A. I. dan Budi Handoko. 2013. Manajemen Bandwidth Dengan Metode HTB (Hierarchical Token Bucket) Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Semarang. IJCCS Vol. x, No. x, July 201x : first_page end_page