BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
MURA>BAH}AH DAN FATWA DSN-MUI

BAB II LANDASAN TEORI. yang disepakati. Dalam Murabahah, penjual harus memberi tahu harga pokok

BAB II LANDASAN TEORI

FATWA DSN MUI. Fatwa DSN 01/DSN-MUI/IV/2000: Giro. 1. Giro yang tidak dibenarkan secara syari'ah, yaitu giro yang berdasarkan perhitungan bunga.

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

Murabahah adalah salah satu bentuk jual beli yang bersifat amanah.

BAB II DASAR TEORI. mengandalkan pada bunga. Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang

BAB III TINJAUAN PUSTAKA. Sedangkan pengawasan adalah : a. Menurut Sondang P. Siagian pengawasan adalah proses pengamatan

BAB II REGULASI PERBANKAN SYARI AH DAN CARA PENYELESAIANNYA. kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka

BAB III TEORI PEMBIAYAAN MURABAHAH

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK MURA>BAH}AH PROGRAM PEMBIAYAAN USAHA SYARIAH (PUSYAR) (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM)

BAB II LANDASAN TEORI TENTANG PEMBIAYAAN MURABAHAH DAN UANG MUKA. Secara bahasa, murābahah berasal dari kata ar-ribhu ( الر بح ) yang

ب س م االله الر ح من الر ح ي م

BAB II PEMBIAYAAN MURABAHAH

Pengertian. Dasar Hukum. QS. Al-Baqarah [2] : 275 Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP APLIKASI PERUBAHAN PENGHITUNGAN DARI SISTEM "FLAT" KE "EFEKTIF" PADA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian yang dilakukan Wardi dan Putri (2011) tentang Analisis

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP DENDA YANG TIDAK UMMAT SIDOARJO. Keuangan Syariah dalam melakukan aktifitasnya yaitu, muraba>hah, ija>rah

BAB II LANDASAN TEORI

secara tunai (murabahah naqdan), melainkan jenis yang

AL MURABAHAH DOSEN PENGAMPU H. GITA DANUPRANATA OLEH MELINDA DWIJAYANTI ( ) DHYKA RACHMAENI ( )

BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISIS. A. Karakteristik Pembiayaan Produk Flexi ib Hasanah BNI Syariah Kantor

BAB IV. A. Analisis Aplikasi Akad Mura>bah}ah di BMT Mandiri Sejahtera Jl. Raya Sekapuk Kecamatan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI TEORI PEMBIAYAAN MURABAHAH DAN PENYELESAIAN PEMBIAYAAN BERMASALAH

BAB IV. A. Mekanisme Penundaan Waktu Penyerahan Barang Dengan Akad Jual Beli. beli pesanan di beberapa toko di DTC Wonokromo Surabaya dikarenakan

ب س م االله الر ح من الر ح ي م

BAB IV ANALISIS PENERAPAN PEMBIAYAAN MURABAHAH DI BMT EL LABANA SERTA KAITANYA DENGAN FATWA DSN MUI NO.04 TAHUN 2000

BAB II LANDASAN TEORI. A. Konsep Akad Bai Bitsaman Ajil dalam Fiqh Muamalah

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Mekanisme Pembiayaan Konsumtif di KOPSIM NU Batang

BAB IV ANALISIS PENETAPAN MARGIN PADA PEMBIAYAAN MURA>BAH{AH DI BSM LUMAJANG DALAM TINJAUAN FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL-MUI

BAB IV. pembiayaan-pembiayaan pada nasabah. Prinsip-prinsip tersebut diperlukan

BAB II LANDASAN TEORI. pelanggan perusahaan tidak berarti apa-apa. Bahkan sampai ada istilah yang

RESCHEDULING NASABAH DEFAULT PEMBIAYAAN MURA>BAH}AH

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP APLIKASI RIGHT ISSUE DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) SURABAYA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP ASURANSI JIWA PADA PEMBIAYAAN MURA>BAH}AH DI BMT UGT SIDOGIRI CABANG LARANGAN SIDOARJO

BAB III LUMAJANG. berbeda beda untuk jangka waktu cicilan yang berbeda. Penerapan keuntungan transaksi pembiayaan mura>bah{ah ditetapkan

Contoh Penghitungan Murabahah (Hipotesis)

BAB I PENDAHULUAN. syariah dianggap sangat penting khususnya dalam pengembangan sistem ekonomi

BAB III PEMBAHASAN. adalah berasal dari kata "ribh" ( ر )yang artinya 'keuntungan'. 14. bersama tambahan keuntungan yang jelas'.

BAB III PEMBAHASAN. 3.1 Pengertian, Dasar Hukum, Rukun Dan Syarat Murabahah. satunya adalah akad murabahah. Akad Murabahah sama dengan bentuk

BAB IV ANALISIS TERHADAP JUAL BELI IKAN BANDENG DENGAN PEMBERIAN JATUH TEMPO DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB II KONSEP MURABAHAH

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PEMOTONGAN HARGA JUAL BELI BESI TUA DAN GRAM BESI DI PT. FAJAR HARAPAN CILINCING JAKARTA UTARA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM DAN UU PERLINDUNGAN KONSUMEN NOMOR 8 TAHUN 1999 TERHADAP JUAL BELI BARANG REKONDISI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG PENERAPAN SYARAT HASIL INVESTASI MINIMUM PADA PEMBIAYAAN MUDHARABAH UNTUK SEKTOR PERTANIAN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI BARANG SERVIS DI TOKO CAHAYA ELECTRO PASAR GEDONGAN WARU SIDOARJO

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PROSEDUR DAN APLIKASI PERFORMANCE BOND DI BANK BUKOPIN SYARIAH CABANG SURABAYA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN SEWA MENYEWA POHON UNTUK MAKANAN TERNAK

MURA<BAH{AH BIL WAKA<LAH DENGAN PENERAPAN KWITANSI

BAB II LANDASAN TEORI. diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna dana. Bank percaya kepada

Menurut Antonio (2001) ada beberapa syarat khusus yang mengatur. 1) Penjual memberitahukan modal kepada nasabah

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP APLIKASI TABUNGAN RENCANA MULTIGUNA DI PT. BANK SYARI AH BUKOPIN Tbk. CABANG SURABAYA

BAB II MURA>BAH}AH DALAM FATWA DSN-MUI. berasal dari kata ribhu (keuntungan). Sehingga mura>bah}ah berarti saling

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI SAWAH BERJANGKA WAKTU DI DESA SUKOMALO KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENGALIHAN DANA TABARRU UNTUK MENUTUP KREDIT MACET DI KJKS SARI ANAS SEMOLOWARU SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia, bukan hanya dalam permasalahan ibadah ubūdiyah saja

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBAYARAN KODE UNIK DALAM JUAL BELI ONLINE DI TOKOPEDIA. A. Analisis Status Hukum Kode Unik di Tokopedia

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. ( Data Jumlah Pembiayaan kantor cabang Gunungpati II tahun )

II. TINJAUAN PUSTAKA

PENERAPAN WAKALAH DALAM PEMBIAYAAN MURABAHAH DITINJAU DARI KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH. Oleh : Rega Felix, S.H.

Mura>bahah adalah istilah dalam fikih Islam yang

RESCHEDULING PEMBIAYAAN MURA<BAHAH MUSIMAN

BAB IV ANALISIS APLIKASI PEMBERIAN UPAH TANPA KONTRAK DI UD. SAMUDERA PRATAMA SURABAYA

BAB II LANDASAN TEORI PEAKSANAAN PEMBIAYAAN QARDHUL HASAN

BAB II KAJIAN TEORITIS TENTANG MUDHARABAH, BAGI HASIL, DAN DEPOSITO BERJANGKA

BAB III PEMBAHASAN A. PENGERTIAN DAN LANDASAN SYARI AH BAI BITSAMAN AJIL. sebagai pembelian barang dengan pembayaran cicilan atau angsuran.

BAB I PENDAHULUAN. dalam rangka mengatasi krisis tersebut. Melihat kenyataan tersebut banyak para ahli

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HUTANG PIUTANG PETANI TAMBAK KEPADA TENGKULAK DI DUSUN PUTAT DESA WEDUNI KECAMATAN DEKET KABUPATEN LAMONGAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sebagaimana firman Allah Qs. An- Nisa ayat 29 :

HILMAN FAJRI ( )

mura>bahah terdapat berbagai formulasi definisi yang berbeda-beda

BAB III MURABAHAH DALAM ISLAM. Murabahah berasal dari kata Rabh, yang berarti perolehan, keuntungan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP TRANSAKSI DERIVATIF SYARIAH PERDAGANGAN BERJANGKA DAN KOMODITI DI PT BURSA BERJANGKA JAKARTA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBERIAN HADIAH JALAN SEHAT DARI HASIL PENJUALAN KUPON. Kupon Di Desa Made Kecamatan Sambikerep Surabaya

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK TRANSAKSI BISNIS DI PASAR SYARIAH AZ-ZAITUN 1 KUTISARI SELATAN TENGGILIS MEJOYO SURABAYA

BAB IV ANALISIS HUKUM BISNIS ISLAM TERHADAP PENGAMBILAN KEUNTUNGAN PADA PENJUALAN ONDERDIL DI BENGKEL PAKIS SURABAYA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBERIAN KOMISI KEPADA AGEN PADA PRULINK SYARIAH DI PT. PRUDENTIAL LIFE ASSURANCE NGAGEL SURABAYA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN TERHADAP UPAH SISTEM TANDON DI TOKO RANDU SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. orang lain. Setiap manusia akan membutuhkan orang lain, bertolong-tolongan,

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG JUAL BELI ISTISHNA. atas dasar saling merelakan, atau jual beli merupakan pemilikan harta benda

BAB I PENDAHULUAN. sekundernya, contohnya keinginan memiliki mobil, motor, HP dan lain-lain, hal pokok yang melekat pada setiap manusia.

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

BAB III PEMBAHASAN. tagihan atau yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau

BAB IV ANALISIS TENTANG APLIKASI PERJANJIAN SEWA SAFE DEPOSIT BOX DITINJAU DARI BNI SYARIAH HUKUM ISLAM DAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP UTANG PIUTANG HEWAN TERNAK SEBAGAI MODAL PENGELOLA SAWAH DI DESA RAGANG

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI A. Pensiun 1. Pengertian Pensiun Dana pensiun adalah sekumpulan aset yang dikelola dan dijalankan oleh suatu lembaga untuk menghasilkan suatu manfaat pensiun, yaitu suatu pembayaran berkala yang dibayarkan kepada peserta pada saat dan dengan cara yang ditetapkan dalam ketentuan yang menjadi dasar penyelenggaraan program pensiun. 1 Program pensiun ini dimaksudkan untuk memberi kesejahteraan kepada karyawan suatu perusahaan terutama karyawan yang mencapai usia pensiun sesuai perjanjian, artinya dana pensiun dikelola oleh lembaga atau badan hukum dan memungut dana dari pendapatan para karyawan suatu perusahaan kemudian membayarkan kembali dana tersebut dalam bentuk manfaat pensiun setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian. Dalam hal ini, pensiun dapat diberikan apabila karyawan sudah memasuki usia pensiun sehingga memperoleh hak untuk mendapatkan manfaat pensiun. 2 Pada dasarnya Undang-Undang nomor 11 tahun 1992 merupakan kerangka dasar hukum dana pensiun swasta di Indonesia. Undang- Undang ini didasarkan pada prinsip kebebasan untuk memberikan janji dan kewajiban untuk menempati yaitu walaupun pembentukan program 1 Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoretis dan Praktis, (Jakarta, Prenadamedia Group, 2010), h.337 2 Kashmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 306 9

10 pensiun bersifat suka rela, hak penerima manfaatnya harus terjamin. Manfaat pensiun bukan hanya diberikan kepastian penghasilan dimasa depan, akan tetapi juga memberikan motivasi untuk lebih giat dalam bekerja. Dengan adanya program pensiun para peserta akan merasa aman, terutama bagi mereka yang menganggap pada usia pensiun tidak produktif lagi. Penyelenggaraan program dana pensiun dapat dilakukan oleh pemberi kerja atau dengan menyerahkan kepada lembaga-lembaga keuangan yang menawarkan jasa pengelolan program pensiun, misalnya pada bank-bank umum dan perusahaan asuransi jiwa. 3 Berdasarkan Undang-undang No.43 tahun 1999 Pasal 10, Pensiun adalah jaminan hari tua dan sebagai balas jasa terhadap Pegawai Negeri yang telah bertahun-tahun mengabdikan dirinya kepada negara. Pada pokoknya adalah menjadi kewajiban setiap orang untuk berusaha menjamin hari tuanya, dan untuk ini setiap Pegawai Negara Sipil wajib menjadi peserta dari badan asuransi sosial yang dibentuk pemerintah. Oleh karena itu pensiun bukan hanya sebagai jaminan hari tua, tetapi juga sebagia balas jasa, maka pemerintah memberikan sumbangannya kepada Pegawai Negeri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pensiun adalah status seseorang yang telah berakhir masa tugasnya di instansi ditempat ia bekerja sebelumnya. Instansi tempat ia bekerja ini biasanya adalah pemerintah, atau orang orang tersebut bekerja sebagai Pegawai Negeri. 292 3 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Prenada Media, 2009), h.

11 Jadi, pengertian pensiun adalah status seseorang yang telah berakhir masa tugasnya ditempat ia bekerja sebelumnya kemudian mendapatkan penghasilan setelah bekerja. Penghasilan setelah bekerja tersebut diberikan sebagai balas jasa atau pengabdian bekerja kepada negara selama bertahun-tahun. Penghasilan tersebut berupa uang yang dapat diambil setiap bulannya atau diambil sekaligus, hal ini tergantung pada kebijakan yang terdapat dalam suatu perusahaan. PNS, TNI, Pegawai BUMN adalah beberapa orang yang akan mendapatkan tunjangan pensiun dari pemerintah. 2. Tujuan Pensiun Tujuan dari penyelenggaraan pensiun baik dari kepentingan perusahaan, peserta dan lembaga pengelola dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Perusahaan; a) Kewajiban moral, dimana perusahaan memikili kewajiban moral untuk memberikan rasa aman kepada karyawan terhadap masaa yang akan datang karena telah memiliki penghasilan pada saat mereka mencapai usia pensiun. b) Loyalitas, karyawan diharapkan mempunyai loyalitas terhadap perusahaan serta meningkatkan motivasi karyawan dalam melaksanakan tugas sehari-hari.

12 c) Kompetisi pasar tenaga kerja, dimana perusahaan memiliki daya saing dalam usaha mendapatkan karyawan yang berkualitas dan profesional dipasaran tenaga kerja. d) Memberikan penghargaan kepada karyawannya yang telah mengabdi perusahaan. e) Agar diusia pensiun karyawan tersebut tetap dapat menikmati hasil yang telah diperoleh setelah bekerja diperusahaannya. f) Meningkatkan citra perusahaan dimata masyarakat dan pemerintah. 2) Peserta a) Rasa aman para peserta terhadap masa yang akan datang karena tetap memiliki penghasilan pada saat mereka telah mencapai usia pensiun. b) Kompensasi yang lebih baik. 3) Penyelenggara dana pensiun a) Mengelola pensiun untuk memperoleh keuntungan b) Turut membantu dan mendukung program pemerintah c) Sebagai bukti sosial terhadap para peserta. 4 4 Andri Soemitra, op.cit., h. 294

13 B. Murabahah 1. Pengertian Pembiayaan Murabahah Pembiayaan merupakan aktivitas bank syariah dalam menyalurkan dana kepada pihak lain selain bank berdasarkan prinsip syariah. Penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan didasarkan pada kepercayaan yang diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna dana. Pemilik dana percaya kepada penerima dana, bahwa dana dalam bentuk pembiayaan yang diberikan pasti akan terbayar. Penerima pembiayaan berkewajiban mengembalikan pembiayaan yang telah diterimanya sesuai jangka waktu yang telah diperjanjikan dalam akad pembiayaan. 5 Salah satu skim fiqh yang digunakan oleh perbankan syariah adalah skim jual beli murabahah. Transaksi murabahah lazim dilakukan oleh rasulullah SAW dan para sahabatnya. Secara sederhana, murabahah merupakan suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati. Misalnya seseorang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu. Berapa besar keuntungan tersebut dapat dinyatakan dalam nominal rupiah tersebut atau dalam bentuk persentase dari harga pembeliannya misalnya 10% atau 20%. 6 Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual 5.Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta:PT Fajar Interpratama Mandiri, 2013), h.105-106 6 Adiwarman, Bank Islam Analisa Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: PT Rajawali Grafindo Persada, 2004), h. 113

14 dan pembeli. 7 Harga yang disepakati adalah harga jual sedangkan harga beli harus diberitahukan. Dalam akad murabahah penjual harus memberi tahu yang ia beli dan menentukan tingkat keuntungan sebagai tambahannya. 8 Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya pembelian itu dilakukan secara hutang kemudian bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut dengan biaya yang diperlukan. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut dengan jangka waktu yang telah ditentukan. 9 2. Landasan Hukum Murabahah a. Al-Qur an Landasan hukum pembiayaan murabahah terdapat dalam surat al-baqarah Ayat 275 :... Allah telah menghalalkan jual beli dam mengharamkan riba Dan juga terdapat dalam surat An nisa ayat 29 yang berbunyi : 7 Djasmi.B, Kegiatan Usaha Bank Syari ah, ( Padang, Hayfa Press, 2011), hal.30 8 M. Syafi i Antonio, op.cit., h. 101 9 Adiwarman, op.cit, h. 88

15 Artinya: hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. 10 Dari kedua ayat diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Allah menghalalkan jual beli atau perniagaan yang tidak mengandung riba, karena dalam jual beli tidak ada pihak-pihak yang dirugikan, itu berarti jual beli baru bisa dilanjtkan kalau kedua belah pihak sudah setuju atau suka sama suka sehingga tidak ada pihak yang merasa tertipu nantinya karena jual beli tersebut. b. Al-Hadist Dari Suhaib ar-rumi r.a bahwa Rosululloh SAW bersabda tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual (HR. Ibnu Majjah). 11 أ ف ض ل ال ك س ب ع م ل الر ج ل ب ي د ه و ك ل ب ي ع م ب ر و ر )روا احمد( Artinya : Perolehan yang paling afdhal adalah hasil karya tangan seseorang dan jual beli yang mabrur. (HR. Ahmad) Dari hadist diatas dapat dipahami bahwa dalam jual beli secara tangguh terdapat keberkahan. Keberkahan yang dimaksud adalah dalam jual beli tangguh ini antara kedua belah pihak sama-sama mendapatkan kebaikan dan keuntungan. Bagi pihak nasabah akan tertolong karena mereka bisa melakukan suatu usaha walaupun mereka tidak memiliki uang tunai atau modal untuk melaksanakan 10 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannnya, (Semarang : Toha Putra. 1989) 11 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, ( Jakarta: Kharism Putra Utama, 2012), cet.1, h.143

16 usaha tersebut, sedangkan bagi pihak bank margin yang diperoleh bisa digunakan untuk mengembangkan kegiatan usaha yang dikelola dan bisa membantu masayarakat yang membutuhkan modal tersebut. c. Fatwa DSN-MUI Nomor: 04/DSN-MUI/IV/2000 Dikatakan bahwa: pertama, dalam jual beli murabahah dikenal dengan adanya uang muka 12 dan kedua, terdapat ketentuan-ketentuan murabahah yang bersifat umum, ketentuan untuk nasabah, jaminan, hutang dalam murabahah, penundaan pembayaran, dan bangkrut. Ketentuan-ketentuan murabahah yang bersifat umum adalah: 1) Bank dan nasabah melakukan akad murabahah yang bebas riba; 2) Barang yang diperjual belikan tidak dilarang oleh syariat Islam; 3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya; 4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini sah dan bebas riba; 5) Bank menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang. 6) Bank menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. 12 Zainuddin Ali., Hukum Perbankan Syariah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), h.246

17 Bank memberitahu nasabah secara jujur mengenai harga pokok barang berikut biaya yang diperlukan 7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati 8) Pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut; dan 9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang, akad jual beli murabahah dilakukan setelah barang-secara prinsip menjadi milik bank. 13 Ketentuan-ketentuan murabahah bagi nasabah adalah: 1) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank 2) Setelah menerima permohonan, bank membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang 3) Bank menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus membelinya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat; kemudian kedua belah pihak membuat kontrak jual beli 4) Bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan 13 Ibid.

18 5) Jika nasabah menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut 6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah 7) Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka (1) jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga; dan (2) jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank, maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh pihak bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya. Ketentuan mengenai jaminan dalam murabahah adalah: 14 1) Adanya jaminan dibolehkan, agar nasabah serius dengan pesanannya. 2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang. Ketentuan mengenai hutang dalam murabahah adalah: 1) Secara prinsip, menyelesaikan hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas 14 Ibid.

19 barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank. 2) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya. 3) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan. Ketentuan mengenai penundaan pembayaran dalam murabahah adalah: 1) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya; dan 2) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, penyelesaian hal ini dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari ah setelah tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Ketentuan mengenai bangkrut dalam murabahah : Jika nasabah telah dinyatakan gagal menyelesaikan utangnya, bank harus menunda tagihan utang sampai ia sanggup kembali atau berdasarkan kesepakatan. 15 15 Ibid.

20 d. Peraturan Bank Indonesia Nomor : 5/9/PBI/2003 Pasal 1 Murabahah adalah perjanjian jual beli antara bank dengan nasabah di mana Bank Syariah membeli barang yang diperlukan oleh nasabah dan kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin/ keuntungan yang disepakati antara bank dengan nasabah. 16 3. Rukun dan Syarat Murabahah Untuk menentukan sah atau tidaknya akad pembiayaan murabahah, terlebih dahulu harus memenuhi Rukun dan Syarat tertentu sesuai dengan syari at Islam. Oleh karena itu pembiayaan murabahah ini menggunakan akad jual beli, maka dalam pembiayaan murabahah ini harus ada Rukun dan Syarat jual beli sebagai berikut: a. Rukun Pembiayaan Murabahah 1) Ba i atau penjual, penjual disini adalah orang yang mempunyai barang dagangan atau orang yang menawari suatu barang. 2) Musytari atau pembeli, adalah orang yang melakukan permintaan terhadap suatu barang yang ditawarkan oleh penjual. 3) Mabi atau barang, adalah komodity, benda, objek yang diperjual belikan. 4) Tsaman atau harga jual, adalah sebagai alat ukur untuk menentukan nilai suatu barang. 5) Ijab dan Qabul yang dituangkan dalam akad. 16 Ibid

21 b. Syarat Pembiayaan Murabahah 1) Pihak yang berakad ( penjual dan pembeli) a) Cakap hukum b) Suka rela atau ridha, tidak dalam keadaan terpaksa atau dibawah tekanan. 2) Objek yang diperjual belikan a) Tidak termasuk yang diharamkan atau yang dilarang oleh agama. b) Bermanfaat c) Penyerahan dari penjual ke pembeli dapat dilakukan d) Merupakan hak milik penuh pihak yang berakad, e) Sesuai spesifikasi yang diterima pembeli dan diserahkan penjual. f) Jika berupa barang bergerak maka barang itu harus bisa dikuasai pembeli setelah dokumentasi dan perjanjian akad diselesaikan. 3) Akad atau Sighat ( ijab dan Qabul ) a) Harus jelas dan disebutkan secara spesifikasi dengan siapa berakad b) Antara ijab dan Qabul ( serah terima ) harus selaras baik dalam spesifik barang maupun harga yang di sepakati c) Tidak menggantungkan keabsahan transaksi pada masa yang akan datang

22 d) Tidak membatasi waktu, misal saya jual kepada anda untuk jangka waktu 10 bulan dan setelah itu akan menjadi milik saya kembali. 17 4) Harga a) Harga jual adalah harga beli ditambah keuntungan. b) Harga jual tidak boleh berubah selama masa perjanjian. c) Sistem pembayaran dan jangka waktunya disepakati bersama. 4. Murabahah Dalam Perbankan Bank Islam umumnya mengadopsi murabahah untuk memberikan pembiayaan jangka pendek kepada para nasabah guna pembelian barang meskipun mungkin nasabah tidak memiliki uang untuk membayar. Murabahah yang digunakan dalam perbankan islam, prinsipnya didasarkan pada dua elemen pokok yaitu harga beli dan biaya terkait atas barang serta atas labanya (mark up). Ciri kontrak murabahah adalah sebagai berikut: a. Pihak pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait tentang harga asli barang dan batas laba harus dibataskan dalam persentase dari total harga plus biaya-biaya. b. Objek yang diperjualbelikan adalah barang komoditas dan harus dibayar dengan uang. c. Objek yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh pihak penjual atau wakilnya dan dpat diserahkan secara langsung. 17 Nurul Huda, Mohamad Heykal, op.cit., hal.46.

23 d. Pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dapat ditangguhkan (angsuran). Murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa sehingga memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan. Dalam dunia bisnis, setiap penjual dan pembeli barang pastilah ada manfaat dan resiko yang harus diantisipasi. Manfaat itu bisa dirasakan oleh pihak penjual dan pembeli barang tersebut. Begitu pula resiko yang ditanggungnya jika ada ketidak sesuaian atau penyesalan terhadap barang tersebut. Oleh karena itu, sebagai orang yang antisipatif maka kita harus selalu waspada akan hal-hal yag tidak kita inginkan atau kemungkinan resiko-resiko yang terjadi. 5. Skema Transaksi Murabahah Gambaran transaksi murabahah dapat dilihat dari alur skema sebagai berikut: 18 (1) Negosiasi BANK (2) Akad Murabahah (6) Bayar (3) Beli Barang Supplier Penjual (5) Serah Terima (4) Kirim NASABAH 18 Ismail, Perbankan Syariah, ( Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2011), h.139

24 1) Nasabah dan bank melakukan negosiasi dan perundingan tentang barang yang dibutuhkan nasabah, harga barang, margin yang diinginkan bank dan lain sebagainya. 2) Setelah terjadi titik temu dan kesepakatan, kedua belah pihak melakukan akad jual-beli murabahah. 3) Bank membeli benda yang diperlukan oleh nasabah ke penjual. 4) Penjual atas nama bank mengirim barang atas nama nasabah. 5) Nasabah menerima barang dan dokumen, dan 6) Nasabah membayar ke bank.