II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Deskripsi Itik Itik merupakan salah satu jenis unggas yang sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Selain sebagai alat pemenuh kebutuhan konsumsi namun juga berpotensi untuk menghasilkan keuntungan ekonomis karena mampu menghasilkan daging maupun telur. Seiring dengan perkembangan zaman, itik liar tersebut kemudian dijinakkan oleh manusia dan dipelihara untuk dimanfaatkan lebih lanjut hingga sekarang. Menurut Srigandono (1998) klasifikasi dari ternak itik adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Sub.Kingdom : Metazoa Phylum Sub.Phylum Class Ordo Family Sub. Family Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Aves : Anseriformes : Anatinae : Anatinae : Anas : Anas javanica 7
8 Bangsa-bangsa itik lokal yang ada umumnya diberi nama berdasarkan tempat asalnya. Itik Cihateup berasal dari Desa Cihateup, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, hidup dan beradaptasi pada daerah ketinggian 378 mdpl yang merupakan dataran tinggi. Daya adaptasi itik Cihateup dengan lingkungan dingin yang baik, membuat itik tersebut sesuai dipelihara untuk daerah dingin atau pegunungan (Wulandari dkk., 2005). Ciri khas itik Cihateup dari itik lainnya adalah ukuran panjang leher, sayap, femur, dan tibia yang lebih panjang. Perbedaan ukuran tubuh tersebut diduga karena adanya pengaruh lingkungan pemeliharaan di kawasan pegunungan (Matitaputty dkk, 2014).Itik Cihateup mempunyai kelebihan dalam hal persentase karkas yaitu bagian-bagian yang berdaging tebal (dada dan paha) masing-masing sebesar 31,42% dan 28,15%, namun dari segi penampilan dan aroma, daging itik Cihateup mempunyai kelemahan yaitu warna daging lebih merah gelap dan bau amis yang tajam (Randa, 2007). Itik Rambon (Ras milik Cirebon) merupakan salah satu komoditas ternak unggas lokal Indonesia dan berasal dari Provinsi Jawa Barat. Itik Rambon diketahui merupakan itik lokal jenis petelur hasil persilangan dari Itik Tegal dengan Itik Magelang. Itik ini telah banyak berkembang di Kabupaten Cirebon, Indramayu dan Majalengka. Itik Rambon memiliki karakteristik bulu cokelat tua dibagian kepala, sepanjang tulang belakang dan ekor. Itik Rambon jantan dapat dimanfaatkan sebagai ternak potong karena memiliki bobot badan 1,6-1,7kg sedangkan Itik Rambon betina sebagai penghasil telur karena produksinya cukup tinggi yaitu 220-260 butir per ekor per tahun dengan bobot telur mencapai 55-65g (Mentri Pertanian, 2013). Itik Rambon menjadi jenis itik paling populer di
9 wilayah Kabupaten Cirebon karena telah mengalami proses adaptasi dan aklimatisasi cukup lama. 2.2 Sistem Pemeliharaan Seiring dengan pesatnya perkembangan jumlah penduduk di Indonesia tiap tahunnya yang berdampak pada angka konverensi lahan yang mengakibatkan penyempitan ruang lahan pertanian yang berdampak pula pada peternak itik tradisional yang masih menggembalakan itiknya di sekitar area sawah - sawah maupun empang. Pemeliharaan itik lokal sebagai itik potong masih dilakukan dalam jumlah relatif sedikit dan masih ekstensif dan dampak yang diberikan adalah pertumbuhan itik lambat dan kualitas daging yang dihasilkan rendah (Matitaputty, 2011). Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sebagian peternak itik merubah sistem manajemen mereka yang awalnya ekstensif menjadi intensif (dikandangkan). Angka kematian pada ternak itik dengan menggunakan sistem intensif lebih rendah dibandingkan dengan sistem ekstensif (Juarini, dkk, 2006). Dengan menggunakan sistem intensif peternak dapat memperhatikan kesehatan dan kebutuhan pakan ternak lebih baik dibandingkan dengan ekstensif. Konsumsi pakan itik yang dipelihara dengan menggunakan sistem kandang intensif lebih tinggi dibandingkan dengan ekstensif (Mahfuds, 2004). Ransum ternak merupakan kumpulan bahan makanan yang layak dimakan oleh ternak dan faktor penting untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan produksi pada ternak. Bahan pakan yang umum digunakan dalam ransum unggas adalah jagung, dedak, tepung ikan, bungkil kedelai, minyak sayur, bungkil kelapa,
10 tepung kapur, batuan fosfat, asam amino sintetis dan campuran vitamin-mineral (Sinurat, 2004). Tingkat konsumsi protein sangat ditentukan oleh tingkat konsumsi ransum. Tingkat energi dan protein yang tepat akan menghasilkan produktivitas dan performa yang maksimal (Alyandri, 2015). Optimalisasi biaya dan efisiensi penggunaan ransum merupakan salah satu tujuan usaha ternak. Efesiensi penggunaan ransum ialah kemampuan ternak dalam mengkonsumsi ransum dalam satuan waktu terntentu yang menghasilkan bobot badan seekor ternak dalam waktu yang sama (Yamin, 2008). 2.3 Pertumbuhan dan Bagian Tubuh Pertumbuhan adalah proses dimana perubahan bentuk dari tubuh yang meliputi ukuran, volume, bobot. Keberhasilan dalam usaha ternak juga ditentukan oleh pertumbuhan ternak itu sendiri terutama pada fase starter (Susanti, 2007). Pertumbuhan pada unggas diartikan sebagai pertambahan bobot badan pada unggas seperti pada jaringan otot, tulang serta organ lain yang dicerminkan oleh pertambahan berat badan (Simanullang, 2015). Pertumbuhan merupakan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan yang dipengaruhi oleh spesies, jenis kelamin, kualitass dan kuantitas pakan (Abbas, 2009). Kemampuan pertumbuhan pada unggas ditentukan oleh gen-gen penentu bobot badan, jenis kelamin, dan umur (Matitaputty, 2011). Pertumbuhan itik yang paling cepat dimulai sejak umur itik berumur 0-3 minggu (Srigandono, 1998). Pada umur pertumbuhan 1 minggu pertambahan bobot badan itik relatif kecil dan pada umur 2 minggu akselerasi pertumbuhan itik meningkat (Setioko, 2004). Tingkat penggunaan energi dan protein ransum berpengaruh terhadap performa itik jantan fase pertumbuhan (Alyandri, 2015).
11 Istilah bagian tubuh ternak yang dapat dikonsumsi disebut juga dengan part of edible. Bagian edible menurut Standart Nasional Indonesia (SNI) (1995) terdiri dari karkas dan giblet. Sedangkan menurut Biyatmoko (2011) bagian edible terdiri dari bobot karkas yaitu bobot tubuh tanpa darah, bulu, leher, kaki, kepala, dan seluruh isi rongga perut kecuali giblet. Untuk giblet sendiri meliputi dari jantung, hati, dan ampela (gizzard) dan leher. 2.3.1 Karkas Karkas merupakan bentuk komoditi yang paling banyak dan umum diperdagangkan. Karkas adalah bagian tubuh ternak setelah dilakukan penyembelihan secara halal sesuai CAC/GL 24-1997, pencabutan bulu dan pengeluaran jeroan, tanpa kepala, leher, kaki, paru-paru, dan atau ginjal, dapat berupa karkas segar, karkas segar dingin, atau karkas beku (Standar Nasional Indonesia, 2009). Perbandingan bobot karkas terhadap bobot hidup atau dinyatakan sebagai persentase karkas sering digunakan sebagai ukuran produksi. Meningkatnya produksi karkas berhubungan dengan bobot badan karena peningkatan bobot badan diikuti oleh peningkatan bobot karkas (Jull, 1979). Karkas merupakan faktor penting pada penilaian produksi dari hewan pedaging. Proporsi bagian yang dapat dimakan (edible) pada unggas jantan lebih besar dibandingkan dengan unggas betina, karena persentase bagian yang dapat dimakan akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan bobot badan (Brake et al, 1993). Peningkatan persentase bobot karkas itik meningkat pada itik berumur 5 minggu sampai umur itik 10 minggu (Iskandar, 2000). Ternak itik yang dipelihara secara ekstensif memiliki karaksteristik persentase bobot karkas yang lebih rendah (Triyantini, 1997).
12 2.3.2 Giblet Giblet merupakan hasil ikutan dari karkas berupa organ-organ yang dapat dikonsumsi (Part of Edible) yang terdiri dari jantung, hati, dan gizzard. Giblet tergolong dalam kategori edible karena pada umumnya di Indonesia dikonsumsi oleh masyarakat (Simanullang, dkk., 2015). Pertumbuhan giblet itik secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah asupan nutrisi yang tersedia dalam pakan, serta seiring juga dengan pertumbuhan tubuh secara keseluruhan akan diimbangi oleh pertumbuhan bagian giblet ternak tersebut (Simanullang, dkk., 2015). Seiring dengan umur itik yang bertambah, laju pertumbuhan giblet pada itik pun ikut menurun. Laju pertumbuhan giblet pada itik menurun pada umur 7 minggu (Saputra, 2014). 2.4 Bagian Tubuh yang Tidak Bisa Dikonsumsi (Part of Inedible) Bagian tubuh itik yang tidak bisa dikonsumsi atau disebut sebagai Part of Inedible. Bagian Inedible adalah bagian dari tubuh ternak itik yang tidak dikonsumsi atau dapat dikategorikan sebagai hasil sampingan atau hasil ikutan yang dapat dimanfaatkan (Simanullang, 2015). Bagian dari Inedible itu sendiri terdiri dari jeroan tanpa giblet, kepala, kaki, bulu, darah, dan lemak abdominal (Biyatmoko, 2011). Presentase bagian yang tidak bisa dikonsumsi atau part of inedible akan semakin menurun dengan meningkatnya bobot hidup (Forest, et al., 1975). Semakin bertambah umur semakin bertambah pula bobot potong maka produksi karkas semakin meningkat, maka menurun pula bobot non karkas atau inedible (Matitaputty, 2011).
13 2.4.1 Darah Darah merupakan bagian inedible karena pada umumnya darah tidak dikonsumsi oleh masyarakat. Pemanfaatan darah di Indonesia biasanya digunakan sebagai tepung darah untuk ransum unggas. Tepung darah merupakan hasil ikutan ternak yang memiliki potensi untuk dijadikan bahan pakan sumber protein penyusun ransum ternak karena memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu sekitar 80-85% (Ramadhan, 2015). Fungsi darah sangat penting bagi tubuh terutama itik yaitu sebagai sistem transportasi zat-zat nutrisi dari makanan, air, oksigen, dan karbondioksida. Persentase bobot darah pada ternak unggas biasanya sebesar 10% dari bobot potong ternak unggas itu sendiri (Donald, 2002). 2.4.2 Bulu Bulu pada umumnya tidak dapat dikonsumsi oleh manusia, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia, karena kandungan protein (keratin) sebesar 80-90% yang bermanfaat bagi ternak (Sari, 2015). Bulu dapat dijadikan sebagai objek pembeda ataupun ciri-ciri dari berbagai macam jenis itik. Warna bulu itik jantan maupun betina tidak berbeda, yaitu berwarna kemerah-merahan dengan variasi coklat, hitam dan putih. Itik jantan dan betina dapat dibedakan dari bulu ekor, yaitu selembar atau dua lembar bulu ekor yang melengkung ke atas pada jantan (Wahid, 2003). 2.4.3 Kepala Kepala itik yang sudah melalui proses pemotongan biasanya tidak memiliki nilai ekonomis. Kepala itik biasanya langsung dibuang setelah dilakukan proses pemotongan atau diproses kembali sebagai pakan ternak. Persentase berat
14 kepala pada unggas jantan biasanya lebih besar dibandingkan dengan berat kepala ternak unggas betina (Deptan, 1992). 2.4.4 Lemak Abdominal Lemak abdominal adalah lemak yang diantara proventiculus, gizzard, duodenum, dan disekitar kloaka (Setiawan, 2009). Lemak abdominal didapat dari lemak yang terdapat pada sekelili gizzard dan lapisan yang menempel antara otot abdomnial serta usus (Kubena, 1973). Lemak abdominal akan meningkat dengan bertambahnya umur dan tingkat energi metabolis ransum (Dalton dan Loth, 1985). Lemak abdominal juga dapat meningkat jika diberikan ransum dengan tingkat energi tinggi (North dan Bell, 1990). Lemak abdominal pada unggas tertimbun sebagai akibat dari ransum yang kelebihan energi berupa karbohidrat dan kelebihan lemak (Anggorodi, 1995). 2.4.5 Kaki Kaki itik merupakan bagian part of inedible yang dihasilkan dari proses pemotongan. Nilai ekonomis dari kaki itik berbeda dengan kaki ayam broiler yang dimana sebagian masyarakat mengkonsumsinya yang biasa disebut dengan ceker. Kaki tersusun oleh tulang panjang (Os tarsometarsus) dan jari-jari kakinya tersusun oleh tulang yang pendek (Wiradhana, 2014).