Pertemuan 7-8 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan

dokumen-dokumen yang mirip
TEORI-TEORI KLASIK PEMBANGUNAN EKONOMI

BAB I PENDAHULUAN. Secara defenitif, pada awalnya pengertian pembangunan ekonomi diberi

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi sekarang ini, persaingan bisnis antar perusahaan di

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, yang

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian dan kesejahteraan suatu negara yaitu dengan meningkatkan faktor

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Isi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 diantaranya menyatakan

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional, disamping tetap

I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan suatu kondisi bukan hanya hidup dalam

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

CONTEMPORARY MODELS OF DEVELOPMENT AND UNDERDEVELOPMENT

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

I. PENDAHULUAN. Kebijakan pembangunan merupakan persoalan yang kompleks, karena

BAB V SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN IMPLIKASI. pertanyaan dari tujuan penelitian maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1

Teori Pengeluaran Pemerintah. Sayifullah, SE., M.Akt. Materi Presentasi. Teori Makro Rostow dan Musgrave Wagner Peacock dan Wiseman Teori Mikro

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang membangun, membutuhkan dana yang cukup besar untuk membiayai pembangunan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengantar Ekonomi Pembangunan PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Pembangunan Ekonomi dan Pertumbuhan Ekonomi

: AYU ASTREA NINGSIH B.

VIII. KESIMPULAN, IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN SARAN. produktivitas tenaga kerja di semua sektor.

BAB I PENDAHULUAN. menentukan maju tidaknya suatu negara. Menurut Adam Smith (2007) tidak ada masyarakat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara ketimpangan dan pertumbuhan ekonomi. pembangunan ekonomi yang terjadi dalam suatu negara adalah pertumbuhan

ANDRI HELMI M, SE., MM. SISTEM EKONOMI INDONESIA

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB I PENDAHULUAN. dari definisi ini bahwa pembangunan ekonomi mempunyai tiga sifat penting

PEMBANGUNAN KEWILAYAHAN DAN ANTARWILAYAH

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses multidimensional yang

I. PENDAHULUAN. Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator

BAB I PENDAHULUAN. Corporate governance merupakan suatu sistem yang mengatur dan

I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Objek Penelitian

I. PENDAHULUAN. Keputusan migrasi didasarkan pada perbandingan untung rugi yang berkaitan

BAB I PENDAHULUAN. Investasi dalam sektor publik, dalam hal ini adalah belanja modal,

BAB I PENDAHULUAN. yang ingin bertahan dan lebih maju perlu mengembangkan strategi

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pembangunan ekonomi nasional bertujuan untuk. membangun manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan tersebut harus

BAB I PENDAHULUAN. dihadapi oleh negara-negara berkembang adalah disparitas (ketimpangan)

BAB I PENDAHULUAN. Infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Strategi Pemberdayaan Lembaga Keuangan Rakyat BPR

TINJAUAN PUSTAKA. Pembangunan secara tradisional diartikan sebagai kapasitas dari sebuah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dengan persaingan yang begitu ketat dan kompeten, hal ini menuntut

Kurnia Ayu K 09/280257/EK/17295

MAKALAH EKONOMIKA PEMBANGUNAN 1 MODAL MANUSIA: PENDIDIKAN DAN KESEHATAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

TRANSFORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN INDONESIA BY : DIANA MA RIFAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

I. PENDAHULUAN. perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup

Boks 2. PERINGKAT DAYA SAING INVESTASI DAERAH PROVINSI JAMBI

untuk memastikan agar liberalisasi tetap menjamin kesejahteraan sektor swasta. Hasil dari interaksi tersebut adalah rekomendasi sektor swasta yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dikelompokkan kedalam kegiatan memproduksi barang dan jasa. Unit-unit

EKONOMI POLITIK SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN (ESL 426 )

BAB I PENDAHULUAN. Sadono Sukirno, Pengantar Teori Makroekonomi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm Ibid., hlm. 10.

ANALISIS PENGARUH INVESTASI, INFLASI, NILAI TUKAR RUPIAH DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA SKRIPSI

KONSOLIDASI DEMOKRASI UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian menuju perekonomian yang berimbang dan dinamis. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan proses berkelanjutan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. (Tanuwidjaya, 2013). Sejak tahun 1969 Pemprov Bali bersama masyarakat telah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Komang Agung Surya Parimana, I Gede Suparta Wisadha (2015)

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH 4.1 VISI KABUPATEN BENGKULU TENGAH

BAB VIII TIGA BUTIR SIMPULAN. Pada bagian penutup, saya sampaikan tiga simpulan terkait kebijakan

PERMUKIMAN UNTUK PENGEMBANGAN KUALITAS HIDUP SECARA BERKELANJUTAN. BAHAN SIDANG KABINET 13 Desember 2001

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Rumah Sakit pada dasarnya adalah kumpulan dari berbagai unit

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

I. PENDAHULUAN. mendorong dan meningkatkan stabilitas, pemerataan, pertumbuhan dan

PERAN INSTITUSI LOKAL DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI WILAYAH (Studi Kasus: Proses Difusi Inovasi Produksi Pada Industri Gerabah Kasongan Bantul, DIY)

I. PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan

BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH

I. PENDAHULUAN. membangun infrastruktur dan fasilitas pelayanan umum. pasar yang tidak sempurna, serta eksternalitas dari kegiatan ekonomi.

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

VI. EVALUASI DAMPAK KEBIJAKAN ALOKASI PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP DEFORESTASI KAWASAN DAN DEGRADASI TNKS TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. suatu upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat dan telah semakin luas.

BAB IV PENUTUP. Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Sosial Responsibility

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam,

sektor investasi dalam negeri, namun peningkatan dari sisi penanaman modal asing mampu menutupi angka negatif tersebut dan menghasilkan akumulasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial (Social Responsibility. sosial perusahaan, serta prosedur pengukurannya.

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan pemiliknya atau pemegang saham, atau

BAB I PENDAHULUAN. sangat besar bagi perusahaan-perusahaan agar dapat bersaing secara ketat dan

Transkripsi:

BAGIAN 1 Prinsip & Konsep Pertemuan 7-8 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan

Berdasarkan pengalaman selama lebih dari setengah abad dengan mencoba mendorong pembangunan modern, kita telah mengetahui bahwa pembangunan merupakan hal yang mungkin walaupun sulit dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman terhadap hambatan dan katalis pembangunan.

Terdapat beberapa contoh model ekonomi pembangunan baru yang paling berpengaruh. Model-model ini menunjukkan bahwa pembangunan menghadapi berbagai hambatan yang tidak sepenuhnya dapat diperkirakan sebelumnya.

4.1. Teori Pertumbuhan Baru : Pertumbuhan Endogen Kinerja teori neoklasik yang tidak memuaskan dalam menjelaskan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang telah menyebabkan kekecewaan yang meluas terhadap teori pertumbuhan tradisional. Bahkan menurut teori tradisional, tidak terdapat karakteristik intristik dari perekonomian yang menyebabkannya tumbuh dalam jangka panjang.

Sebaliknya, literature tersebut malah membahas proses dinamis yang membuat rasio modal-tenaga kerja mendekati tingkat keseimbangan jangka panjang. Jika tidak ada guncangan eksternal atau perubahan teknologi, yang tidak dijelaskan dalam model neoklasik, semua perekonomian akan menuju kepada pertumbuhan nol. Oleh karena itu, peningkatan GNI per kapita dianggap merupakan fenomena sementara saja, yang bersumber dari perubahan teknologi atau proses penyeimbangan jangka pendek selama perekonomian mendekati ekuilibrium jangka panjangnya.

Menurut teori ini, sebagian besar pertumbuhan ekonomi merupakan faktor eksogen atau proses yang independen dari kemajuan teknologi. Terdapat 2 kelemahan teori neoklasik, yaitu: 1. Tidak dapat menganalisis penentu kemajuan teknologi 2. Tidak dapat menjelaskan besarnya perbedaan residu antara negara yang memiliki teknologi yang sama.

Dalam teori neoklasikal, rasio modal dan tenaga kerja yang rendah pada negara-negara berkembang menjanjikan tingkat pengembalian investasi yang tinggi. Namun, pada kenyataannya banyak negara berkembang yang pertumbuhannya rendah dan gagal menarik investasi asing. Hal ini lah yang memicu munculnya teori pertumbuhan baru.

Teori pertumbuhan baru memberikan kerangka teoritis untuk menganalisis pertumbuhan endogen, yaitu pertumbuhan GNP yang persisten, yang ditentukan oleh sistem yang mengatur proses produksi. Tujuan utama dari teori pertumbuhan baru adalah untuk menjelaskan perbedaan tingkat pertumbuhan antar negara maupun faktorfaktor yang memberi proporsi lebih besar dalam pertumbuhan.

Teori pertumbuhan endogen menjelaskan faktor-faktor yang menentukan tingkat pertumbuhan GDP (gross domestic produk) Aspek yang paling menarik dalam teori pertumbuhan endogen yaitu dapat menjelaskan keanehan aliran modal internasional yang memperparah ketimpangan antara negara maju dan negara berkembang.

Kelemahan penting dari teori pertumbuhan baru adalah bahwa teori ini tetap tergantung pada sejumlah asumsi neoklasik yang sering tidak cocok dengan perekonomian negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang sering terhambat oleh inefisiensi yang timbul karena infrastruktur yang jelek, tidak memadainya struktur kelembagaan, serta pasar modal dan pasar barang yang tidak sempurna.

Teori pertumbuhan endogen mengabaikan faktor-faktor yang sangat berpengaruh ini, penerapannya dalam studi pembangunan ekonomi menjadi terbatas, terutama ketika melibatkan perbandingan antar negara

Keterbelakangan sebagai Akibat Kegagalan Koordinasi Teori pembangunan ekonomi baru yang berpengaruh pada dekade 1990-an dan pada tahun-tahun pertama abad 21 telah menekankan komplementaritas (complementarities) antar kondisi yang dibutuhkan untuk menyukseskan pembangunan. Teori-teori ini sering mengemukakan bahwa beberapa hal harus berjalan dengan cukup baik, pada saat yang bersamaan, agar pembangunan yang berkelanjutan dapat berlangsung.

Komplementaritas suatu tindakan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan, pekerja, atau organisasi yang memperkuat dorongan bagi agen untuk melakukan tindakan serupa Agen perekonomian pelaku ekonomi atau pihak2 yang terlibat dalam suatu perekonomian biasanya perusahaan, pekerja, atau pemerintah melakukan tindakan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan

Teori-teori ini juga menekankan bahwa dalam berbagai situasi yang penting, investasi harus dilaksanakan oleh banyak lembaga agar hasilnya bisa menguntungkan bagi setiap lembaga individu. Umumnya, ketika terdapat komplementaritas, tindakan yang diambil oleh sebuah perusahaan, pekerja, atau organisasi akan meningkatkan insentif bagi lembaga/agen pembangunan yang lain untuk melakukan tindakan serupa

Kegagalan koordinasi adalah sebuah kondisi dimana ketidakmampuan berbagai lembaga untuk mengkoordinasikan perilaku atau tindakannya (pilihannya) yang mengakibatkan semua lembaga tersebut berada dalam kondisi yang lebih buruk dari pada situasi alternatifnya.

Contoh komplementaritas yang penting adalah keberadaan berbagai perusahaan yang menggunakan keterampilan khusus dan ketersedian para pekerja yang menguasai keterampilan tersebut. Perusahaan tidak memasuki pasar atau berdiri di suatu daerah jika para pekerja tidak mempunyai keterampilan yang dibutuhkan, namun sebaliknya para pekerja pun tidak akan mempelajari keterampilan tersebut jika tidak ada perusahaan yang akan mempekerjakannya.

Masalah koordinasi ini dapat menyebabkan perekonomian terjebak dalam ekuilibrium yang buruk, yaitu pada tingkat pendapatan rata-rata yang rendah atau pada tingkat pertumbuhan yang rendah, atau juga dengan penduduk yang berada dalam kondisi yang sangat miskin.

Meskipun semua pelaku ekonomi akan berada pada kondisi yang lebih baik jika para pekerja mempunyai keterampilan dan perusahaan berinvestasi, sepertinya ekuilibrium yang lebih baik ini tidak akan mungkin dapat dicapai tanpa bantuan pemerintah. Selanjutnya, masalah seperti itu diperumit oleh berbagai kegagalan pasar yang lain, khususnya yang mempengaruhi pasar modal.

Kegagalan Koordinasi Komplementer: Kebijakan Intervensi Mendalam Kegagalan koordinasi yang mungkin timbul dengan adanya komplementaritas menegaskan kemungkinan adanya pembuatan kebijakan intervensi yang mendalam. Logikanya, sekali dorongan besar telah dilakukan, koordinasi pemerintah mungkin tidak akan diperlukan lagi.

Intervensi mendalam kebijakan pemerintah yang menggerakkan perekonomian kearah ekuilibrium yang lebih menguntunkan, berkelanjutan secara otomatis selanjutnya akan berjalan tanpa memerlukan intervensi lebih jauh Dorongan besar upaya terpadu dalam skala perekonomian menyeluruh, yang umumnya ditetapkan dalam suatu kebijakan publik untuk memulai pembangunan ekonomi di berbagai spektrum dari industri dan keterampilan baru yang luas

Kebijakan tersebut dapat menggerakkan perekonomian menuju ekuilibrium yang lebih baik, atau bahkan menuju tingkat pertumbuhan permanen yang lebih tinggi, yang pada saatnya nanti dapat mencukupi dirinya sendiri (self-sustaining). Pasar yang tidak lagi mendapatkan bantuan pemerintah itu sering kali dapat mempertahankan proses industrialisasi sekali proses tersebut telah dicapai, bahkan ketika pasar tersebut tidak dapat memulai atau melengkapi proses industrialisasi tersebut.

Sebagai contoh, dalam beberapa kasus, adanya buruh anak-anak mencerminkan suatu jenis ekuilibrium yang buruk di antara keluarga-keluarga yang anak-anaknya bekerja. Setelah sukses menghilangkan buruh anakanak, dalam sejumlah kasus, regulasi buruh anak tidak perlu lagi ditegakkan untuk mencegah munculnya buruh anak kembali.

Jika tidak terdapat dorongan untuk kembali ke perilaku yang terkait dengan ekuilibrium yang buruk, maka pemerintah tidak perlu lagi melanjutkan intervensi yang dirancang untuk mengatasinya. Alih-alih, pemerintah kemudian dapat memusatkan daya upayanya pada masalah krusial yang lain, yang memerlukan peran esensialnya.

Di antara implikasi-implikasi yang lain, prospek adanya intervensi yang mendalam dapat berarti bahwa: 1. Biaya penerapan kebijakan dapat dikurangi; 2. Bantuan pembangunan yang ditargetkan secara saksama dapat memberikan hasil yang lebih efektif; 3. Karakter penyembuhan-sekali-jadi dari beberapa masalah ekuilibria jamak sangat menarik perhatian, karena dapat membuat kebijakan pemerintah sangat ampuh dalam mengatasi permasalahan pembangunan ekonomi.

Kebijakan Intervensi Mendalam: Kegagalan Pemerintah Di lain pihak, intervensi mendalam menyebabkan potensi biaya dari peran publik juga menjadi jauh lebih besar. Konsekuensi pilihan kebijakan menjadi lebih berat, karena kebijakan buruk yang dibuat pada masa kini dapat menjerumuskan perekonomian ke dalam ekuilibrium yang buruk selama beberapa tahun ke depan

Hal buruk dari intervensi mendalam bisa terjadi misalnya karena: Pemerintah mungkin merupakan bagian terbesar dari masalah dan memainkan peran kunci dalam melestarikan ekuilibrium yang buruk, misalnya sebuah rezim yang sangat korup; Sejumlah pejabat pemerintah dan politisi mungkin mendapatkan keuntungan pribadi dari kebijakan terkait.

Pemerintah tidak selalu menjadi sumber reformasi yang dapat menggerakkan perekonomian menuju ekuilibrium yang lebih baik di negara-negara di mana pemerintahnya. justru merupakan bagian dari kaitan kompleks ekuilibrium yang buruk. Bahkan bila pemerintahnya tidak korup, dampak potensial dari kebijakan pemerintah yang sebenarnya bermaksud baik namun mengandung banyak kelemahan dampak sangat besar.

Ini terjadi ketika kebijakan tersebut mendorong perekonomian menuju ekuilibrium yang secara fundamental berbeda, yang akan sulit untuk dibalik. Dalam banyak kasus, inilah problema "pentingnya sejarah" dalam perekonomian yang sedang berkembang yaitu ketika kondisi-kondisi masa lalu menentukan apa yang mungkin terjadi hari ini.

Kebijakan Intervensi Mendalam: Sektor Publik dan Swasta Kegagalan pemerintah maupun kegagalan pasar adalah hal yang nyata, namun kontribusi sektor publik dan swasta terhadap pembangunan juga merupakan hal yang vital. Oleh karena itu, kita harus bekerja membangun institusi yang mendorong para pelaku di dalam sektor publik dan swasta untuk bekerja bersama (langsung maupun tidak langsung) sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk mematahkan jebakan kemiskinan

Kebijakan Intervensi Mendalam: Komunitas Internasional Dalam mematahkan jebakan kemiskinan, komunitas internasional juga mempunyai peran penting, yaitu : memberikan gagasan, model, serta berfungsi sebagai katalis perubahan, menyediakan dana yang dibutuhkan

4.2. Ekuilibria Jamak : Pendekatan Diagramatis Gagasan dasar dalam ekuilibria jamak adalah bahwa manfaat yang diterima oleh sebuah lembaga yang mengambil suatu tindakan bergantung secara positif pada seberapa banyak lembaga lain yang diharapkan akan melakukan tindakan yang sama, atau pada dampak dari tindakan-tindakan tersebut. Contohnya, harga produk yang dihasilkan petani bergantung pada jumlah pedagang perantara di daerah tersebut, dan juga bergantung pada jumlah petani yang menghasilkan barang yang sama.

Dalam kelompok kecil, koordinasi tidak menjadi masalah yang besar karena pihakpihak yang terkait saling mengetahui satu sama lain dan mempunyai kepentingan yang sama. Namun, untuk masalah yang lebih kompleks maka pemecahan masalah koordinasi akan lebih sulit. Titik ekuilibrium pada ekuilibrium jamak terjadi ketika jumlah yang diharapakan untuk melakukan sesuatu sama dengan jumlah yang benar-benar melakukan tindakan tersebut.

Contohnya dalam masalah pembangunan ekonomi adalah ketika tingkat pengembalian dari suatu investasi bergantung pada keberadaan investasi lain. Penyelesaiannya akan lebih mudah jika terdapat banyak investor, namun pasar tidak akan dengan sendirinya menuju kondisi tersebut tanpa peran dari pemerintah.

4.3. Memulai Pembangunan Ekonomi: Model Dorongan Besar Model dorongan besar adalah sebuah model yang menunjukkan bagaimana kegagalan pasar dapat menimbulkan kebutuhan akan perekonomian yang terencana dan juga kebutuhan akan berbagai upaya yang dicetuskan oleh kebijakan publik, agar proses pembangunan ekonomi yang panjang dapat berjalan atau dipercepat

Dengan kata lain, masalah kegagalan koordinasi akan menghambat keberhasilan industrialisasi dan merupakan kendala bagi dorongan pembangunan. 4 kondisi yang memerlukan dorongan besar: 1. Efek intertemporal. Investasi harus dimulai dari sekarang untuk meningkatkan produksi yang lebih efisien dimasa depan agar equilibria jamak tercapai.

2. Efek urbanisasi. Efek urbanisasi diperlukan untuk mendorong terjadinya industrialisasi. Misalnya di perkotaan banyak industry manufaktur yang memberikan skala hasil yang meningkat, berarti penduduk perkotaan itu sendiri mengkonsumsi barang-barang manufaktur.

3. Efek infrastruktur. Jika disebuah daerah infrastrukturnya (jalan raya, pelabuhan, rel kerata api) sudah memadai akan memudahkan perusahaan melakukan investasi dan biaya yang harus mereka keluarkan juga berkurang. 4. Efek pelatihan. Para pengusaha perlu menambah investasi dalam fasilitas pelatihan untuk meningkatkan kinerja pekerja mereka.

4.4. Teori Pembangunan Ekonomi Cincin-O dari Kremer Menurut teori ini, pembangunan modern mensyaratkan bahwa berbagai kegiatan ekonomi harus dilakukan dengan baik dan bersama-sama, agar proses produksi dapat menghasilkan nilai yang tinggi. Hal ini merupakan dasar dari spesialisasi dan pembagian tenaga kerja.

Dalam suatu kegiatan ekonomi, jika tingkat keterampilannya semakin tinggi maka produk yang dihasilkan akan semakin baik. Salah satu fitur yang paling penting dalam proses produksi adalah positive asortative matching. Hal ini berarti para pekerja yang mempunyai keterampilan tinggi akan bekerja bersama dan pekerja yang berketerampilan rendah pun akan bekerja bersama. Jenis pencocokan seperti ini akan menyebabkan produk yang bernilai tinggi akan terkonsentrasi di negara-negara yang mempunyai pekerja dengan keterampilan tinggi.

Implikasi Teori Pembangunan Ekonomi Cincin-O (Oring theory) dari Kremer 1. Perusahaan cenderung untuk mempekerjakan karyawan yang mempunyai keterampilan yang serupa untuk melakukan tugas-tugas mereka. 2. Pekerja yang melakukan tugas yang sama di perusahaan berketerampilan tinggi akan mendapatkan upah yang lebih tinggi daripada rekannya di perusahaan berketerampilan rendah. 3. Karena kenaikan upah berlangsung dengan tingkat yang semakin tinggi, tingkat upah akan jauh lebih tinggi di negara-negara maju dari pada yang diramalkan menurut ukuran keterampilan yang objektif.

4. Seorang dapat terjebak dalam jebakan kualitas produksi yang rendah yang meliputi seluruh perekonomian. Hal ini akan terjadi jika terdapat efek cincin-o antar perusahaan maupun di dalam sebuah perusahaan. 5. Efek cincin-o memperbesar dampak kemandegan (bottleneck) produksi lokal karena kemandegan seperti itu mempunyai efek berganda pada produksi yang lain. 6. Kemandegan juga mengurangi insentif para pekerja untuk berinvestasi dalam meningkatkan keterampilan, dengan menurunkan hasil yang diharapkan dari investasi ini.

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Ketidakefisienan dan Rasionalisasi Ternyata, orang tetap melakukan hal yang tidak efisien karena dianggap rasional dan tetap dianggap rasional sepanjang orang lain juga melakukannya Ini bisa menimbulkan masalah fundamental berupa kegagalan koordinasi 42

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Mengatasi Keterbelakangan Terkadang perusahaan dan lembaga ekonomi lainnya mampu berkoordinasi untuk mencapai ekuilibriurn yang lebih baik atas kepemilikan mereka Namun dalam banyak kasus, kebijakan dan bantuan pemerintah tetap akan dibutuhkan untuk mengatasi dampak dari lingkaran setan keterbelakangan 43

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Keterbelakangan Analisis Kegagalan Koordinasi (1) Analisis masalah kegagalan koordinasi menawarkan sejumlah pelajaran penting yang menyeluruh untuk pembuatan kebijakan Analisis ini menunjukkan potensi terjadinya kegagalan pasar, yang mempengaruhi prospek keberhasilan pembangunan ekonomi, secara lebih luas dan lebih dalam daripada yang telah dipahami sebelumnya 44

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Keterbelakangan Analisis Kegagalan Koordinasi (2) Contoh kasus kegagalan koordinasi: Sejumlah investor potensial gagal mempertimbangkan efek pendapatan dari upah yang mereka bayarkan 45

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Kegagalan Koordinasi Komplementer Kebijakan Intervensi Mendalam (1) Kegagalan koordinasi yang mungkin timbul dengan adanya komplementaritas menegaskan kemungkinan adanya pembuatan kebijakan intervensi yang mendalam Logikanya, sekali dorongan besar telah dilakukan, koordinasi pemerintah mungkin tidak akan diperlukan lagi Pasar yang tidak lagi mendapatkan bantuan pemerintah itu sering kali dapat mempertahankan proses industrialisasi sekali proses tersebut telah dicapai, bahkan ketika pasar tersebut tidak dapat memulai atau melengkapi proses industrialisasi tersebut 46

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Kegagalan Koordinasi Komplementer Kebijakan Intervensi Mendalam (2) Sebagai contoh, dalam beberapa kasus, adanya buruh anakanak mencerminkan suatu jenis ekuilibrium yang buruk di antara keluarga-keluarga yang anak-anaknya bekerja Setelah sukses menghilangkan buruh anak-anak, dalam sejumlah kasus, regulasi buruh anak tidak perlu lagi ditegakkan untuk mencegah munculnya buruh anak kembali 47

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Kegagalan Koordinasi Komplementer Kebijakan Intervensi Mendalam (3) Di antara implikasi-implikasi yang lain, prospek adanya intervensi yang mendalam dapat berarti bahwa: Biaya penerapan kebijakan dapat dikurangi Bantuan pembangunan yang ditargetkan secara saksama dapat memberikan hasil yang lebih efektif 48

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Kebijakan Intervensi Mendalam Kegagalan Pemerintah (1) Di lain pihak, intervensi mendalam menyebabkan potensi biaya dari peran publik juga menjadi jauh lebih besar Konsekuensi pilihan kebijakan menjadi lebih berat, karena kebijakan buruk yang dibuat pada masa kini dapat menjerumuskan perekonomian ke dalam ekuilibrium yang buruk selama beberapa tahun ke depan Kebijakan yang buruk bahkan dapat menggerakkan perekonomian ke dalam ekuilibrium yang lebih buruk daripada semula 49

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Kebijakan Intervensi Mendalam Kegagalan Pemerintah (2) Hal buruk dari intervensi mendalam bisa terjadi misalnya karena: Pemerintah mungkin merupakan bagian terbesar dari masalah dan memainkan peran kunci dalam melestarikan ekuilibrium yang buruk, misalnya sebuah rezim yang sangat korup Sejumlah pejabat pemerintah dan politisi mungkin mendapatkan keuntungan pribadi dari kebijakan terkait 50

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Kebijakan Intervensi Mendalam Sektor Publik dan Swasta Kegagalan pemerintah maupun kegagalan pasar adalah hal yang nyata, namun kontribusi sektor publik dan swasta terhadap pembangunan juga merupakan hal yang vital Oleh karena itu, kita harus bekerja membangun institusi yang mendorong para pelaku di dalam sektor publik dan swasta untuk bekerja bersama (langsung maupun tidak langsung) sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk mematahkan jebakan kemiskinan 51

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Kebijakan Intervensi Mendalam Komunitas Internasional Dalam mematahkan jebakan kemiskinan, komunitas internasional juga mempunyai peran penting, yaitu memberikan gagasan, model, serta berfungsi sebagai katalis perubahan, dan juga menyediakan dana yang dibutuhkan 52

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Model-model Baru Pembangunan Kontribusi (1) Kontribusi model-model baru pembangunan mencakup pemahaman yang lebih baik terhadap berbagai penyebab dan efek jebakan kemiskinan Pemahaman itu diperoleh dengan cara: Memberi penekanan yang lebih rinci terhadap peran jenis-jenis komplementaritas strategis yang berbeda Menjelaskan peran ekspektasi Menyoroti cakupan potensial intervensi mendalam Memperbaiki pemahaman kita tentang potensi peran pemerintah dan kendala terhadap efektivitas peran tersebut 53

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Model-model Baru Pembangunan Kontribusi (2) Pendekatan baru dengan lebih jernih menunjukkan potensi kontribusi yang sesungguhnya dari: Bantuan pembangunan dari luar yang melampaui penyediaan modal Pemodelan cara-cara baru untuk mengerjakan sesuatu 54

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Model-model Baru Pembangunan Keterbatasan Keterbatasan utama model baru hingga sekarang mungkin adalah bahwa analisis model tersebut memang mendalam, namun implikasinya pada kebijakan praktis masih belum diketahui Namun, mungkin memang masih terlalu awal untuk mengharapkan rekomendasi kebijakan yang terinci dari pendekatan-pendekatan ini 55

Bab 4 Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Pemahaman Jebakan Pembangunan Dengan cerdas, Karla Hoff dan Joseph Stiglitz menyimpulkan: "Dalam kondisi demokratis pun, pemerintah bisa gagal, demikian pula pasar. Namun perkembangan positif yang terjadi pada tahun-tahun terakhir ini adalah untuk mencoba intervensi yang lebih terbatas demi memanfaatkan imbasan antarlembaga, dan untuk mencoba merancang tahapantahapan reformasi kebijakan yang akan mempermudah tercapainya ekuilibria yang baik. 56