PROSES PEMBUATAN KOMPONEN RANTAI ( OLP 428 FOUND TALENT, SAE 1050 )

dokumen-dokumen yang mirip
III. METODOLOGI. ini dibentuk menjadi spesimen kekerasan, spesimen uji tarik dan struktur mikro.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II Landasan Teori

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2013 sampai dengan selesai.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROSES PEMBUATAN DIES UNTUK PEMBENTUKAN PANEL MOBIL DI PT. METINDO ERA SAKTI. Nama : Haga Ardila NPM : Jurusan : Teknik mesin

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat sebagai berikut:

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

PENGARUH PROSES HEAT TREATMENT PADA KEKERASAN MATERIAL SPECIAL K (K100)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Gambar 3.1 Blok Diagram Metodologi Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV PENGUMPULAN DATA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sentralisasi Proses Heat Treatment di PT. XYZ

BAB III METODE PENELITIAN

Karakterisasi Material Sprocket

Karakterisasi Material Bucket Teeth Excavator 2016

Gambar 3.1 Diagram alur Penelitian

BAB III METODOLOGI. sebagian besar digambarkan dalam diagram alir, agar mempermudah proses

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PERCOBAAN DAN HASIL PERCOBAAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Karakterisasi Material Sprocket

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Agustus sampai bulan Oktober 2012.

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN. Mulai

Analisa Deformasi Material 100MnCrW4 (Amutit S) Pada Dimensi Dan Media Quenching Yang Berbeda. Muhammad Subhan

BAB II PERTIMBANGAN DESAIN

PERANCANGAN DIE PRESS SISTEM PROGRESSIVE UNTUK MEMBUAT PRODUK DIAL PLATE TIPE XYZ

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. Start

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. DIAGRAM ALIR

BAB III PERCOBAAN DAN HASIL PERCOBAAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGUJIAN MESIN PRESS MEKANIK SEMI OTOMATIS DENGAN PENGGERAK MOTOR LISTRIK 0.5 HP

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PENELITIAN 3.1. DIAGRAM ALIR. Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Mulai. Identifikasi Masalah. Persiapan Alat dan Bahan

BAB III METODE PENELITIAN dan dilaksanakan di Laboratorium Fisika Material Departemen Fisika

PROSES MACHINING PEMBUATAN ZINC CAN BATTERY TYPE UM-1 DI PT. PANASONIC GOBEL ENERGI INDONESIA

Pengaruh Heat Treatment Dengan Variasi Media Quenching Air Garam dan Oli Terhadap Struktur Mikro dan Nilai Kekerasan Baja Pegas Daun AISI 6135

PROSES PEMBUATAN CONUS 6 DENGAN FORGING PRESS DI PT. BAKRIE AUTOPARTS BALARAJA

PERUBAHAN STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN PADUAN Co-Cr-Mo-C-N PADA PERLAKUAN AGING

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Uraian langkah-langkah penelitian dapat dijabarkan ke dalam diagram alir penelitian pada Gambar 3.

BAB III RANCANGAN MODIFIKASI KONSTRUKSI

Analisa Sifat Mekanik Hasil Pengelasan GMAW Baja SS400 Studi Kasus di PT INKA Madiun

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bidang material baja karbon sedang AISI 4140 merupakan low alloy steel

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

TUGAS AKHIR. ANALISA BIAYA MATERIAL DIES END PLATE RADIATOR UNIVERSAL DI PT. SELAMAT SEMPURNA Tbk.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN. Adapun tempat pengerjaan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

BAB III METODELOGI PENELITIAN Alur Penelitian Secara garis besar metode penelitian dapat digambarkan pada diagram alir dibawah ini : Mulai

BAB III METODE PENELITIAN

Laporan Tugas Akhir (MM091381) Pengaruh Kecepatan Potong Pada Turning Process Terhadap Kekerasan dan Kedalaman Pengerasan Baja AISI 4340

II. TINJAUAN PUSTAKA. (coil). Dari komposisi kimianya, sheet metal dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu

PENGARUH TEMPERATUR DAN HOLDING TIME DENGAN PENDINGIN YAMACOOLANT TERHADAP BAJA ASSAB 760

RANCANG BANGUN PUNCH DAN DIES UNTUK AVOR WASHTAFEL PADA PROSES DEEP DRAWING DAN TRIMMING

LAPORAN TUGAS AKHIR ANALISA PERANCANGAN DIES BREKET PINTU PENGEMUDI MOBIL DAIHATSU TERIOS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH MEDIA PENDINGIN PADA PROSES HARDENING TERHADAP STRUKTURMIKRO BAJA MANGAN HADFIELD AISI 3401 PT SEMEN GRESIK

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Waktu dan pelaksanaan percobaan serta analisis sebagai berikut:

PENGARUH BEAD TERHADAP CACAT MATERIAL SPCEN SD DALAM PROSES TRY-OUT OUTER PILLAR B - LH PADA PROTOTYPE MPV CARNESIA

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

BAB III METODOLOGI Diagram Alur Produksi Mesin. Gambar 3.1 Alur Kerja Produksi Mesin

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB II LANDASAN TEORI

PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

PERANCANGAN PRESS TOOL

VARIASI TEMPERATUR PEMANASAN PADA PROSES PERLAKUAN PANAS TERHADAP KEKERASAN DENGAN MATERIAL SS 304L

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

PENGAMATAN STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN PADA RODA GIGI PASCA PENGERASAN PERMUKAAN MENGGUNAKAN PEMANAS INDUKSI

Transkripsi:

PROSES PEMBUATAN KOMPONEN RANTAI ( OLP 428 FOUND TALENT, SAE 1050 ) RAW MATERIAL MANU FACTURING HEAT TREATMENT ASSEMBLING PACKAGING Pembuatan komponen ini menggunakan tipe OLP 428 dengan spec material SAE 1050 dari supplier Found Talent. Sebelum di proses menjadi komponen, raw material tersebut di inspeksi terlebih dahulu dengan dilakukan cek dimensi, cek berat, cek komposisi kimia, cek visual, hardness dan metalografi. Tujuan dilakukan inspeksi ini adalah untuk mengetahui apakah raw material tersebut sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh perusahaan. Berikut langkah langkah yang dilakukan untuk inspeksi: 1. Visual Sebelum melakukan inspeksi, dilakukan visualisasi pada raw material untuk melihat adanya cacat seperti goresan / scratch dan karat atau rust. Jika sebagian besar terdapat cacat, maka raw material tersebut akan dikembalikan pada supplier.

2. Dimensi Pengukuran dimensi dilakukan untuk mengtahui lebar dan tebal plate OLP 428 tersebut. Lalu, mengukur diameter coil plate menggunakan meteran. Diameter dalam (d1) coil ini 50 cm dan diameter luar (d2) 110 cm. Kemudian potong material sepanjang 1m menggunakan gunting plate. Lalu potong kira - kira sepanjang 4 cm untuk digunakan pengujian spektrometri. Sisa spesimen digunakan untuk pengujian hardness, cek dimensi, metalografi. Untuk mengukur tebal plate menggunakan mikrometer skrup, sedangkan untuk mengukur lebar menggunakan jangka sorong. Pengukuran sebanyak 30 50 sampel agar data valid. Standarisasi ketebalan OLP 428 yaitu 1,50 ± 0,06 mm dan lebar 79 ± 0,30 mm. 3. Kekerasan Pengujiannya menggunakan rockwell C dengan indentor kerucut dengan pembebanan minor 10 kg dan mayor 150 kg. Satuannya adalah HRC. Pengujian kekerasan plate menggunakan rockwell C karena plate adalah baja yang dikeraskan. Standarisasi yang digunakan untuk OLP 428 adalah HRC 18 27. Pengujian yang dilakukan sebanyak 30 50 sample.

4. Komposisi kimia Pengujian komposisi menggunakan Optical Emision spectrometri. Prinsip alat ini dengan menembakkan emisi elektron dalam ruangan yang telah divakumkan oleh gas argon. Alatnya menggunakan gas argon karena ga argon (gambar 5) (gambar 6) 5. Metalografi Pengujian ini digunakan untuk melihat struktur mikro pada raw material. Untuk dapat melihat struktur mikro pada raw material tersebut harus dilakukan preparasi sample, yaitu memotong sample dengan cutting wheel, kemudian dimounting dengan compact powder yang di kompaksi menggunakan alat press to press. Setelah itu, spesimen yang telah dimounting di gerinda dengan amplas grade 400, 800, 1200, dan 2500. Jika dirasa pada permukaan spesimen tidak terdapat scratch maka spesimen tersebut dapat di polishing mengunakan alumina untuk mencerahkan permukaan spesimen. Pada inspeksi metalografi ini, kita mengambil data struktur mikro sebelum dan sesudah di etsa. Sebelum dietsa, dicek terlebih dahulu struktur mikro spesimen tersebut, untuk melihat apakah terdapat poros pada spesimen tersebut. Setelah itu spesimen tersebut dietsa menggunkan larutan nital 2% yang ditambahkan dengan alkohol 98% selama 5 detik. Jika pada saat melihat struktur mikro terdapat gosong pada permukaan, berarti waktu etsa terlalu lama dan dapat diulangi dengan dipolishing terlebih dahulu, kemudian di etsa dengan waktu kurang dari 5 detik. 6. Manufacturing 7. Heat treatment

PIN CUTTING Material yang digunakan merupakan gulungan coil. Proses ini digunakan untuk memotong coil yang kemudian dijadikan komponen yang berupa pin pada rantai. Di PT. FSCM Mfg terdapat 8 mesin pin cutting. (gambar 7) (gambar 8) (gambar 9) Keterangan proses: 1. Uncoiler : sebagai tempat coil yang dapat berputar 360 o 2. Feeding roll : mendorong coil untuk masuk ke dalam straightener 3. Straightener : sebagai pelurus coil *pada straightener terdapat 5 forming die untuk mengurangi lengkung 4. Feeding roll : mendorong coil masuk ke cutting unit 5. Cutting unit a. Cutting block : rumah/tempat cutting unit b. Pressure screw : mengatur setting cutting round c. Pressure unit : pengunci pressure screw d. Slide hummer : sebagai penghubung - Upper hummer : spring / pegas - Cutting round blade side : pemotong material - Cutting round blade block : penahan material sebelum dipotong Permasalahan yang dapat terjadi pada alat pin cutting: 1. Pin miring 2. Jika kecepatan feeding roll berkurang maka pin yang dihasilkan pendek STAMPING Alat yang digunakan berupa mesin press yang dapat digerakkan secara mekanik dan hidrolik. Sedangkan alat yang digunakan di PT. FSCM Mfg yaitu mesin press yang digunakan secara mekanik. Cara kerja mesin mekanik:

(gambar 10) (gambar 11) (gambar 12) Keterangan proses alat stamping: 1. Uncoiler : tempat meletakkan coil sebelum proses stamping 2. Straightener 3. Feeding roll 4. Stamping 5. Feeding roll 6. Uncoiler : tempat meletakkan coil setelah dilakukan proses stamping Sistem feeding material menggunakan camfeed rolls Proses Stamping a. Pierching: hasil yang dihasilkan berupa scrap b. Blanking: hasil yang dihasilkan berupa produk (gambar 13) (gambar 14) Pada proses stamping terdapat alat pencetak plate yang berupa Die. Proses stamping digunakan untuk mencetak OLP, ILP, dan ULP. Ada 2 bagian pada die: 1. Dies Upper a. Bed upper : sebagai penyangga b. Backing plate c. Punch Holder d. Punch e. Kicker pin f. Guide bush g. Limit pin h. Detector limit pin 2. Dies Lower a. Bed lower b. Backing plate c. Die : mata potong d. Stripper : - Penahan buckling - Memposisikan material e. Guide bush

(gambar 15) (gambar 16) BUSH FORMING (gambar 17) Keterangan proses alat bush forming: 1. Uncoiler 2. Straightener 3. Feeding plate 4. Cutting 5. U shape 6. Curling 7. Forming 8. Sizing Setelah bush telah terbentuk, kemudian di proses di mesin centerless. Cara kerja mesin ini sama seperti mesin gerinda. Yang digunakan untuk menghaluskan permukaan material. Mesin ini dapat digunakan setelah bush telah melalui Barrel B. Di PT. FSCM etrdapat 2 mesin centerless: 1. Mesin palmary : hanya digunakan untuk drive chain 2. Mesin paragon : digunakan untuk drive chain dan cam chain tipe 25SH (gambar 18) (gambar 19) Fungsi mesin centerless: a. Ovality pin : memperbaiki bentuk bentuk yang kurang baik / sempurna b. Mengurangi diameter c. Memperbaiki surface roughness (gambar 20) Keterangan proses mesin centerless: 1. Hoper : seperti uncoiler 2. Pin pipe 3. Grinding wheel 4. Regulating wheel (gambar 21)

Peralatan / tool yang terdapat pada mesin centerless: 1. Grinding wheel : mengurangi diameter Critical point : a. Roughness b. Balancing 2. Regulating wheel : memposisikan putaran wheel 3. Work rest blade : penopang pin saat grinding 4. Top rail : penopang atas pada pin BARREL Barrel yaitu sebuah mesin yang berputar yang secara umum digunakan untuk mencuci atau membersihkan komponen dari proses before hardening (BHD) dan after hardening (AHD). Barrel berisi 4 pot chamber yang masing masing dapat berputar. Bentuk pot chamber berupa segi-8 dan segi-6. Pertimbangan dengan bentuk pot chamber yang seperti itu adalah agar hasil yang didapatkan homogen. Komponen yang melalui proses ini hanya pin, bush dan roller, sedangkan plate yang berupa ILP, OLP dan ULP tidak melalui proses ini karena akan mengurangi diameter. Isi komponen yang bisa masuk dalam pot chamber hanya 60% - 80% saja, tetapi jumlah yang efektif hanya sekitar 60%, sisanya berupa air dan campuran bahan kimia. Terdapat 2 jenis barrel di perusahaan ini, yaitu Barrrel A dan Barrel B. Keduanya memilliki fungsi yang berbeda. 1. Barrel A Komponen masuk di Barrel A setelah proses manufacturing atau proses sebelum di heat treatment. Fungsi Barrel A adalah untuk mencuci komponen dari minyak pelumas, membentuk radius, memperkecil atau membentuk diameter serta menghaluskan potongan pin atau daerah yang tidak bisa dihaluskan dengan proses pemesinan seperti bush. Zat kimia yang digunakan pada barrel A ini adalah pasir silica, ridolin air dan kapur sebanyak 60% dan air 80%. Ridolin digunakan untuk mencuci komponen, pasir silica untuk menghaluskan dan mengecilkan diameter dengan membentuk adhesive pada komponen material, kapur untuk meredam panas yang terjadi antara gesekan pasir dan material. Komponen yang masuk di Barrel A yaitu pin, bush dan roller. Plate tidak masuk dalam barrel A, karena akan mengurangi dimensi plate yang berupa OLP, ILP, dan ULP, jika hal itu terjadi justru akan buruk hasilnya karena tidak sesuai standard. 2. Barrel B Komponen masuk ke proses Barrel B setelah dilakukan proses heat treatment. Komponen yang masuk ke Barrel B yaitu pin, bush, roller dan plate 25H. Fungsi Barrel B yaitu untuk membersihkan gosong, mencerahkan atau mengkilapkan dan menghilangkan scratch hasil heat treatment.

Zat kimia yang digunakan yaitu ridolin dan pasir silica, dengan jumlah pasir silica maksimal sebanya 350 gr. Silica yang digunakan hanya sedikit karena akan semakin mengurangi diameter komponen.