Keywords : Knowledge, condition of physical environment, the existence of larvae.

dokumen-dokumen yang mirip
Keyword : PSN, Dengue hemorrhagic fever.

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhage Fever (DHF) banyak

HUBUNGAN PERILAKU 3M DENGAN KEBERADAAN JENTIK NYAMUK DI DUSUN TEGAL TANDAN, KECAMATAN BANGUNTAPAN, KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA

BAB I LATAR BELAKANG

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU KELUARGA TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KELURAHAN PANCORAN MAS ABSTRAK

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan. salah satu masalah kesehatan lingkungan yang cenderung

BAB I PENDAHULUAN. Tenggara. Terdapat empat jenis virus dengue, masing-masing dapat. DBD, baik ringan maupun fatal ( Depkes, 2013).

HUBUNGAN ANTARA MEMASANG KAWAT KASA, MENGGANTUNG PAKAIAN DI DALAM RUMAH, DAN KEMAMPUAN MENGAMATI JENTIK DENGAN KEJADIAN DBD

PERILAKU 3M, ABATISASI DAN KEBERADAAN JENTIK AEDES HUBUNGANNYA DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE

IQBAL OCTARI PURBA /IKM

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh virus dengue. Virus dengue merupakan famili flaviviridae

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KELURAHAN ABIANBASE KECAMATAN MENGWI KABUPATEN BADUNG TAHUN 2012

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KELURAHAN MALALAYANG 2 LINGKUNGAN III

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

HUBUNGAN BREEDING PLACE DAN PERILAKU MASYARAKAT DENGAN KEBERADAAN JENTIK VEKTOR DBD DI DESA GAGAK SIPAT KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI BAB I

Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Rumah, Keberadaan Breeding Places, Perilaku Penggunaan Insektisida dengan Kejadian DBD Di Kota Semarang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK AEDES AEGYPTI DENGAN KEBERADAAN LARVA DI KELURAHAN KASSI-KASSI KOTA MAKASSAR

FAKTOR RISIKO KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA MAKASSAR TAHUN 2013

KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH KADER JUMANTIK DI PUSKESMAS GAYAMSARI SEMARANG

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh. virus Dengue yang ditularkan dari host melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Penyakit DBD merupakan masalah serius di Provinsi Jawa Tengah, daerah yang sudah pernah terjangkit penyakit DBD yaitu 35 Kabupaten/Kota.

HUBUNGAN PELAKSANAAN PSN 3M DENGAN DENSITAS LARVA Aedes aegypti DI WILAYAH ENDEMIS DBD MAKASSAR

Keywords : Mosquito breeding eradication measures, presence of Aedes sp. larvae.

HUBUNGAN ANTARA TINDAKAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) DENGAN KEBERADAAN JENTIK NYAMUK AEDES

HUBUNGAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DENGAN PERILAKU 3M PLUS DI DESA SUMBERMULYO KABUPATEN BANTUL NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU PSN DENGAN KEBERADAAN JENTIK Aedes aegypti DI DESA NGESREP KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. tropis. Pandangan ini berubah sejak timbulnya wabah demam dengue di

HUBUNGAN FAKTOR PERILAKU DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BOYOLALI I

BAB I PENDAHULUAN. kejadian luar biasa dengan kematian yang besar. Di Indonesia nyamuk penular

Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD, Kota Manado

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN KEBERADAAN JENTIK

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD

SKRIPSI. HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN FISIK, KIMIA, SOSIAL BUDAYA DENGAN KEPADATAN JENTIK (Studi di Wilayah Kecamatan Gunung Anyar Kota Surabaya)

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh

Kata kunci: DBD, Menguras TPA, Menutup TPA, Mengubur barang bekas

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN BREEDING PLACE DAN PERILAKU MASYARAKAT DENGAN KEBERADAAN JENTIK VEKTOR DBD DI DESA GAGAK SIPAT KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SURVEY KEPADATAN LARVA AEDES AEGYPTI DI KECAMATAN MAMUJU KABUPATEN MAMUJU

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI PUSKESMAS GOGAGOMAN KOTA KOTAMOBAGU.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan snyamuk dari genus Aedes,

PERBEDAAN PENGETAHUAN PEMANTAUAN JENTIK SEBELUM DAN SESUDAH PENYULUHAN (Studi Pada Siswa Kelas V SDN Karsamenak Kota Tasikmalaya Tahun 2017)

BAB I PENDAHULUAN. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang menyebar

SURVEI ENTOMOLOGI DAN PENENTUAN MAYA INDEX DI DAERAH ENDEMIS DBD DI DUSUN KRAPYAK KULON, DESA PANGGUNGHARJO, KECAMATAN SEWON, KABUPATEN BANTUL, DIY

HUBUNGAN SIKAP DAN UPAYA PENCEGAHAN IBU DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GUNTUNG PAYUNG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. di Indonesia yang cenderung jumlah pasien serta semakin luas. epidemik. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Nyamuk merupakan salah satu golongan serangga yang. dapat menimbulkan masalah pada manusia karena berperan

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat karena menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian (Profil

ANALISIS FAKTOR RISIKO PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KELURAHAN HELVETIA TENGAH MEDAN TAHUN 2005

ARTIKEL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum

Dewi Ariyani Wulandari 1. Diterima: 4 Februari 2016 Disetujui : 26 Februari 2016 ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. setiap tahunnya. Salah satunya Negara Indonesia yang jumlah kasus Demam

13 2-TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan

HUBUNGAN JUMLAH PENGHUNI, TEMPAT PENAMPUNGAN AIR KELUARGA DENGAN KEBERADAAN LARVA Aedes aegypti DI WILAYAH ENDEMIS DBD KOTA MAKASSAR

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambaran epidemiologi..., Lila Kesuma Hairani, FKM UI, 2009 Universitas Indonesia

Public Health Perspective Journal. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktik PSN-DBD Keluarga di Kelurahan Mulyoharjo

HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK DENGAN KEBERADAAN LARVA AEDES AEGYPTI DI WILAYAH ENDEMIS DBD DI KELURAHAN KASSI-KASSI KOTA MAKASSSAR 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANAWANGKO

ABSTRAK. Pembimbing II : Kartika Dewi, dr., M.Kes., Sp.Ak

: Suhu, Kelembaban, Perilaku Masyarakat dan Keberadaan jentik

HUBUNGAN KEBERADAAN JENTIK

ABSTRAK. Pembimbing I : Dr. Felix Kasim, dr., M.Kes Pembimbing II : Budi Widyarto L, dr., MH

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam beberapa tahun terakhir

Keberadaan Kontainer sebagai Faktor Risiko Penularan Demam Berdarah Dengue di Kota Palu, Sulawesi Tengah

BAB I PENDAHULUAN. tropis dan subtropis di seluruh dunia. Dalam beberapa tahun terakhir terjadi

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, dengan Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk.

STUDI ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) DAN INDEKS OVITRAP DI PERUM PONDOK BARU PERMAI DESA BULAKREJO KABUPATEN SUKOHARJO. Tri Puji Kurniawan

KEPADATAN JENTIK Aedes aegypti sp. DAN INTERVENSI PENGENDALIAN RISIKO PENULARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA PADANG TAHUN 2015

I. PENDAHULUAN. Diantara kota di Indonesia, Kota Bandar Lampung merupakan salah satu daerah

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagianpersyaratan guna mencapai derajat sarjana strata 1 kedokteran umum

PENYULUHAN KESEHATAN RUTIN PUSKESMAS UNTUK MENCEGAH SEKOLAH DASAR DENGAN KEJADIAN DBD DI KOTA MADIUN TAHUN 2017

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DAN TINDAKAN 3M PLUS TERHADAP KEJADIAN DBD

HUBUNGAN KEBERADAAN BREEDING PLACES, CONTAINER INDEX DAN PRAKTIK 3M DENGAN KEJADIAN DBD (STUDI DI KOTA SEMARANG WILAYAH BAWAH)

Dinas Kesehatan Provinsi Bali 2) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar 3) Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana Denpasar *)

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 09-16

Efektifitas Pemberdayaan Kelompok Ibu Rumah Tangga Dalam Peningkatan Pengetahuan, Sikap Dan Praktek Pemberantasan Demam Berdarah Dengue

HUBUNGAN PERILAKU PSN TERHADAP KEBERADAAN LARVA AEDES AEGYPTI DI WILAYAH KERJA PELABUHAN KETAPANG BANYUWANGI

BAB 1 PENDAHULUAN. Di era reformasi, paradigma sehat digunakan sebagai paradigma

BAB 1 PENDAHULUAN. Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah

HUBUNGAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) DBD DENGAN KEBERADAAN LARVA Aedes aegypti DI WILAYAH ENDEMIS DBD KELURAHAN KASSI-KASSI KOTA MAKASSAR

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever

Transkripsi:

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN KONDISI LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEBERADAAN JENTIK NYAMUK Aedes sp DI DUSUN KRAPYAK KECAMATAN SEWON KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA Indah Werdinigsih¹, Susi Damayanti², Stefani Novalinda Rowa³ ¹Lecturer of POLTEKES KEMENKES RI Yogyakarta ²Lecturer of Public Health Science Program STIKES Wira HusadaYogyakarta, susi.damayanti22@yahoo.com ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is one of the public health problems in Indonesia. Factor that cause of morbidity and mortality as a result of DHF disease is the knowledge of community in maintaining the cleanliness of the environment. In addition, the physical environment affects the existence of larvae Aedes sp that is lighting and ventilation which also can affect the growth of Aedes sp. Panggungharjo village is an endemic region because there has been an increase in Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) cases for three consecutive years and Krapyak Kulon is the region with the highhest case of DHF. The purpose of this research is to know the relation of housewife`s knowledge and the physical environment of house with the existence of Aedes sp mosquito larvae in Krapyak Kulon Village, Sewon Sub-District, Bantul Regency, Yogyakarta. The type of this research is observational analityc study with cross sectional design. The sampling technique using Proportional Cluster Random Sampling. The total samples in this research is 105 respondents. The data analysis used is Chi-square formula with the error standart p=0,05. The research instrument used questionnaires for the variables of knowledge and the observation using checklist of variable condition physical environment and the existence of larvae. Result of research about knowledge of housewife with good category equal to 53,3%, enough category equal to 39,0% and less category equal to 7,6% with P value=0,687. The house which has gauze on ventilation equal to 7,1% and no gauze on ventilation equal to 82,9% with P value 0,037. While direct sunlight into house with good category equal to 38,1% and not good category equal to 61,9% with P Value = 0,008. The existence of larvae founded at the house of respondents equal to 65,7%. The conclusions are (1) there is no relation between knowledge of housewife and presence of Aedes sp larvae in Krapyak Kulon Village. (2) There is a relation between gauze installation on ventilation and the presence of Aedes sp mosquito larvae; (3) there is relation between sunlight directly into the house with the existence of Aedes sp mosquito larvae in Krapyak Kulon Village, Sewon Sub-District, Bantul Regency, Yogyakarta. Keywords : Knowledge, condition of physical environment, the existence of larvae. 832

ABSTRAK Latar Belakang: Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Faktor yang menyebabkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit DBD adalah pengetahuan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu lingkungan fisik yang mempengaruhi keberadaan jentik Aedes sp yaitu pencahayaan dan ventilasi yang dapat mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk Aedes sp. Desa Panggungharjo merupakan wilayah endemik karena telah terjadi peningkatan kasus DBD selama tiga tahun berturut-turut dan Dusun Krapyak Kulon merupakan wilayah dengan kasus DBD tertinggi. Tujuan penelitianuntuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu rumah tangga dan kondisi lingkungan fisik rumah dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul Yogyakarta. Jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional, teknik pengambilan sampel menggunakan Proportional Cluster RandomSampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 105 responden. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan rumus Chi-square dengan taraf kesalahan p = 0,05. Alat penelitian menggunakan kuesioner untuk variabel pengetahuan dan observasi menggunakan ceklist untuk variabel kondisi lingkungan fisk dan keberadaan jentik. Hasil penelitian pengetahuan ibu dengan kategori baik sebesar 53,3%, kategori cukup 39,0% dan kategori kurang 7,6% dengan P value = 0,687. Rumah yang terdapat kasa pada ventilasi 7,1% dan tidak terdapat kasa pada ventilasi 82,9% dengan P Value = 0,037 sedangkan cahaya matahari yang masuk langsung kedalam rumah pada kategori baik 38,1% dan kategori tidak baik 61,9% dengan P value = 0,008. Rumah responden yang ditemukan keberadaan jentik sebesar 65,7%. Kesimpulan yaitu tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon. Terdapat hubungan antara pemasangan kawat kasa pada ventilasi dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon serta terdapat hubungan antara cahaya matahari masuk langsung kedalam rumah dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul Yogyakarta. Kata kunci:pengetahuan, Kondisi Lingkungan Fisik, Keberadaan Jentik PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir diseluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat tempat ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan air laut 1]. Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (daerah perkotaan) dan Aedes albopictus (daerah pedesaan) nyamuk yang menjadi vektor penyakit DBD ialah nyamuk yang terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit dan Viremia (terdapat virus dalam darahnya). Virus juga dapat ditularkan secara transovarial dari nyamuk ke telur-telurnya. Penyakit DBD mempunyai perjalanan yang sangat cepat dan sering menjadi fatal karena banyak pasien yang meninggal akibat penanganannya yang terlambat 2]. 833

Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah endemis DBD di Yogyakarta, hal ini disebabkan oleh angka kesakitan yang semakin meningkat. Tahun 2013 kasus DBD di Kabupaten Bantul kembali mengalami peningkatan yang signifikan karena jumlah kasus yang dilaporkan mencapai 1.203 kasus dengan angka kematian sebesar 8 (CFR=0,66%) dengan Insidens Rate(IR) 1,28 % 3]. Kecamatan Sewon merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bantul yang menjadi daerah endemis DBD. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir hingga 2012 selalu dijumpai kasus DBD dan cenderung meningkat setiap tahunnya. Lonjakan kasus DBD dibeberapa lokasi dapat dipacu oleh tingginya mobilitas penduduk, pertumbuhan penduduk dan pola hidup masyarakat 4]. Salah satu Desa di Kecamatan Sewon yang berstatus endemik karena telah mengalami peningkatan jumlah kasus DBD selama tiga tahun berturut-turut dan menjadi penyumbang terbesar kasus DBD di Kecamatan Sewon adalah Desa Panggungharjo yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Sewon II. Desa panggungharjo terdiri dari 14 Dusun dan Dusun Krapyak Kulon merupakan wilayah dengan kasus DBD tertinggi. Jumlah kasus DBD di Desa Panggungharjo pada tahun 2011-2015 sebanyak 17 kasus, 22 kasus, 62 kasus, 19 kasus dan 80 kasus. Faktor yang menyebabkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit DBD adalah pengetahuan masyarakat dalam melaksanakan dan menjaga kebersihan lingkungan, selain itu diperlukan adanya upaya pemberantasan sarang nyamuk untuk memutuskan rantai penularan penyakit DBD 5]. Lingkungan fisik sangat mempengaruhi keberadaan jentik Aedes sp 834 diantaranya meliputi pencahayaan dan ventilasi merupakan salah satu kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk Aedes sp 6]. Kelembaban udara yang berkisar 60%- 80% merupakan kelembaban yang optimal untuk proses embriosasi dan ketahanan hidup embrio nyamuk. Faktor lingkungan fisik rumah salah satunya yaitu ventilasi. Berdasarkan peraturan No.1077/MENKES/PER/V/2011, setiap rumah wajib memiliki ventilasi minimum 10% dari luas rumah untuk memenuhi persyaratan rumah sehat. Ventilasi juga meningkatkan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan, oleh karena itu kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk perkembangbiakan jentik. Pemasangan kawat kasa pada ventilasi sebagai langkah pencegahan belum dilaksanakan dengan baik sehingga ventilasi atau lubang angin dapat dimanfaatkan oleh nyamuk untuk keluar masuk kedalam rumah dan merupakan faktor risiko penularan kejadian DBD. Selain itu pencahayaan yang kurang sangat disukai oleh nyamuk Aedes sp untuk meletakkan telurnya pada tempat penampungan air yang berwarna gelap, terbuka, lebar terutama yang terlindung dari sinar matahari langsung. Adanya tanaman dan parit akan menghalangi sinar matahari menembus permukaan tanah, sehingga lingkungan menjadi teduh serta lembab dan keadaan ini merupakan tempat istirahat yang disenangi nyamuk 7]. Metode Penelitian Jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional, teknik pengambilan sampel menggunakan

Proportional Cluster Random. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 105 responden. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan rumus Chi-square dengan taraf kesalahan p = 0,05. Alat penelitian menggunakan kuesioner untuk variabel pengetahuan dan observasi menggunakan ceklist untuk variabel kondisi lingkungan fisik dan keberadaan jentik. Hasil dan Pembahasan 1. Karakteristik responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Umur dan Tingkat Pendidikan Responden Di Dusun Krapyak Kulon No Karakteristik Kategori Frekuensi Persentase 1 Umur 21-30 Tahun 9 8,6% 31-40 Tahun 27 25,7% 41-50 Tahun 43 41,0% 51-60 Tahun 17 16,2% 61-70 Tahun 6 5,7% 71-80 Tahun 3 2,9% 2 Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD 4 3,8% SD 25 23,8% SLTP 26 24,8% SLTA 49 46,7% Akademi/Perguruan Tinggi 1 1,0% Berdasarkan Tabel 1 diketahui karakteristik responden berdasarkan umur sebagian besar berumur 41-50 tahun yaitu 43 responden (41,0%). Sedangkan karakteristik tingkat pendidikan responden terbanyak adalah SLTA yaitu sebanyak 49 responden (46,7 %), SLTP 26 responden (24,8 %), SD 25 responden (23,8 %), tidak tamat SD 4 responden (3,8 %), akademi/perguruan tinggi 1 responden (1,0 %). 2. Analisis Univariat a) Kejadian DBD Tabel 2. Distribusi frekuensi kejadian DBD responden di Dusun Krapyak Kulon No Kejadian DBD Frekuensi Persentase 1 Ya 6 5,7% 2 Tidak 99 94,3% Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa anggota keluarga responden yang menderita 835 kejadian DBD dalam kurun waktu 6 bulan terakhir yaitu 6 responden (5,7%) sedangkan yang tidak

mengalami Kejadian DBD yaitu 99 responden (94,3%). b) Keberadaan Jentik Tabel 3. Distribusi frekuensi keberadaan jentik di Dusun Krapyak Kulon No Keberadaan Jentik Frekuensi Persentase 1 Ada 69 65,7% 2 Tidak Ada 39 34,3% Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa rumah responden yang ditemukan jentik yaitu 69 rumah (65,7%) sedangkan rumah yang tidak ditemukan jentik yaitu 36 rumah (34,3%). c) Keberadaan kasa pada ventilasi Tabel 4. Distribusi frekuensi keberadaan kasa pada ventilasi di Dusun Krapyak Kulon No Keberadaan Jentik Frekuensi Persentase 1 Ada 18 17,1% 2 Tidak Ada 87 82,9% Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa rumah responden yang memasang kasa pada ventilasi yaitu 18 rumah (17,1%) sedangkan yang tidak memasang kasa pada ventilasi sebanyak 87 rumah (82,9%). d) Cahaya matahari masuk langsung dalam rumah Tabel 5. Distribusi frekuensi cahaya matahari masuk langsung dalam rumah di Dusun Krapyak Kulon No Cahaya matahari yang masuk langsung Frekuensi Persentase dalam rumah 1 Baik 40 38,1% 2 Tidak baik 65 61,9% Berdasarkan tabel diatas diketahui cahaya matahari yang masuk langsung kedalam rumah secara baik yaitu terdapat 40 rumah (38,1%) sedangkan cahaya matahari yang tidak langsung masuk kedalam rumah yaitu 65 rumah (61,9%). 3. Analisis Bivariat a) Tabel 6. Hubungan Pengetahuan dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes sp. di Dusun Krapyak Kulon Pengetahuan Keberadaan Jentik Jumlah P value Tidak ada Ada Baik 21 (37,5%) 35 (62,5%) 56 836

Cukup 14,1 (29,3%) 26,9 (70,7%) 41 0,687 Kurang 3 (37,5%) 5 (62,5%) 8 Total 36 (34,3%) 69 (65,7%) 105 Berdasarkan tabel diatas responden yang memiliki pengetahuan baik dan tidak ditemukan jentik pada rumahnya sebanyak 37,5% sedangkan rumah responden yang ditemukan jentik sebanyak 62,5% selain itu pengetahuan responden pada kategori cukup dan tidak ditemukan jentik pada rumahnya sebesar 29,3% sedangkan rumah responden yang ditemukan jentik sebesar 70,7%, pengetahuan responden pada kategori kurang dan tidak ditemukan jentik pada rumah sebesar 37,5% sedangkan rumah responden yang ditemukan jentik sebesar 62,5%. Hasil perhitungan chisquare menunjukan nilai p-value yaitu 0,687>0,05 artinya tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ibu rumah tangga dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul Yogyakarta. Pengetahuan ibu rumah tangga dibagi menjadi tiga kategori yaitu baik, cukup dan kurang. Pengetahuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah 837 satunya adalah tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan responden di Dusun Krapyak Kulon yaitu paling banyak pada tingkat SMA (46,7%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan di Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan yaitu pengetahuan responden tidak berpengaruh terhadap kejadian DBD. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan responden yang berada pada kisaran yang sama yaitu tingkat SMA 8]. Pengetahuan di pengaruhi oleh faktor pendidikan dimana makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. Tetapi perlu ditekankan bahwa pengetahuan seseorang yang rendah bukan berarti pendidikan yang rendah pula. Hal ini mengingat bahwa pendidikan formal tidak mutlak dapat memperoleh peningkatan pengetahuan, akan tetapi dapat juga diperoleh dari pendidikan non formal 9]. b) Tabel 11. Hubungan pemasangan kasa pada ventilasi dengan keberadaan jentik Aedes spdi Dusun Krapyak Kulon Kasa pada Keberadaan jentik Jumlah P value ventilasi Tidak ada Ada Ada kasa 10 (55,6%) 8 (44,4%) 18 Tidak ada kasa 26 (29,9%) 61 (70,1%) 87 0,037 Total 36 (34,3%) 69 (65,7%) 105 Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa rumah yang ada kasa pada ventilasi dan tidak ditemukan jentik sebanyak 55,6% rumah dan ditemukan jentik 44,4% rumah sedangkan rumah yang tidak memiliki kasa pada ventilasi dan tidak ditemukan jentik sebanyak 29,9% sedangkan rumah yang ditemukan jentik sebanyak 70,1% rumah. Hasil perhitungan chi-square di peroleh nilai p-value yaitu 0,037< 0,05 artinya ada hubungan antara pemasangan kasa pada ventilasi rumah dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul Yogyakarta. Responden yang tidak memasang kawat kasa pada ventilasi rumah sebesar 87%. Sebagian besar responden belum memasang kawat kasa pada ventilasi rumah sebagai langkah pencegahan untuk menghalangi nyamuk keluar

masuk kedalam rumah. Rumah responden yang ditemukan jentik sebanyak 70,1%, hal ini berarti masih banyak rumah masyarakat yang belum bebas jentik nyamuk. Pentingnya melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk dan melakukan 3MPlus secara mandiri dapat mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Kelurahan 838 Way Halim Kota Bandar Lampung yang menyimpulkan bahwa pemasangan kawat kasa pada ventilasi mempunyai hubungan dengan kejadian DBD. Rumah dengan kondisi ventilasi tidak terpasang kasa, akan memudahkan nyamuk untuk menularkan penyakit dan beristirahat. Dengan tidak adanya nyamuk masuk ke rumah maka kemungkinan nyamuk untuk menggigit semakin kecil 10]. c) Tabel 12. Hubungan Cahaya Matahari Langsung Masuk kedalam Rumah Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes sp.di Dusun Krapyak Kulon Cahaya matahari Keberadaan jentik Jumlah P value langsung masuk Tidak ada Ada dalam rumah Baik 20 (50,0%) 20 (50,0%) 40 Tidak baik 16 (24,6%) 49 (75,4%) 65 0,008 Total 36 (34,3%) 69 (65,7%) 105 Berdasarkan tabel diatas diketahui cahaya matahari yang masuk langsung kedalam rumah kategori baik dan tidak ditemukan jentik sebanyak 50,0%, serta rumah ditemukan jentik sebanyak 50,0% sedangkan cahaya matahari yang tidak masuk langsung kedalam rumah dan tidak ditemukan jentik nyamuk sebanyak 24,6% dan rumah yang ditemukan adanya jentik nyamuk sebanyak 75,4% rumah. Setelah dilakukan uji chi-square di dapatkan nilai P value yaitu 0,008 <0,05 artinya ada hubungan antara cahaya matahari yang langsung masuk kedalam rumah dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul Yogyakarta. Cahaya matahari yang masuk langsung kedalam rumah secara baik sebanyak 38,1% sedangkan cahaya matahari yang tidak masuk langsung kedalam rumah yaitu 61,9%. Kebiasaan tidak membuka jendela pada siang hari dapat menurunkan intensitas atau pencahayaan matahari yang masuk kedalam ruangan dan memberi peluang yang baik bagi tempat peristirahatan dan perkembangbiakan nyamuk Aedes sp. Hal ini terbukti dengan ditemukannya jentik nyamuk sebanyak 75,4% di rumah responden. Intensitas cahaya yang rendah sangat berpengaruh terhadap kebiasaan nyamuk untuk beristirahat. Rumah dengan pencahayaan yang kurang, penghuni yang padat serta banyaknya pakaian yang didalam rumah yang selalu terlindungi dari sinar matahari sehingga perkembanbiakannya sangat baik bagi nyamuk karena sangat menyukai tempat yang gelap 11]. Kondisi rumah dan pencahayaan yang kurang ditambah dengan banyaknya tumbuhan maupun pepohonan yang dijumpai di lingkungan rumah masyarakat serta padatnya rumah penduduk mengakibatkan pencahayaan tidak memadai sehingga memicu larva Aedes sp dapat berkembangbiak hingga menyebabkan terjadinya penularan DBD 12]. Kesimpulan 1. Tidak ada hubungan antara Pengetahuan ibu rumah tangga dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon Desa

Panggungharjo Kecamatan Sewon Bantul Yogyakarta (p value=0,687). 2. Ada hubungan antara Pemasangan kasa pada ventilasi dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon Bantul Yogyakarta (P value=0,037). 3. Ada hubungan antara cahaya matahari yang masuk langsung ke dalam rumah dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di Dusun Krapyak Kulon Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon Bantul Yogyakarta ( P value=0,008). Daftar Pustaka 1. Kristina,dkk. 2009. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Litbang Depkes RI 2. Widoyono, 2011. Penyakit Tropis Edisi Kedua. Jakarta. Penerbit Erlangga. 3. Dinkes Kabupaten Bantul, 2014. Profil Kesehatan Kabupaten Bantul Tahun 2014. Bantul: Dinas Kesehatan Bantul 4. Dinkes Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 2012. Profil Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2012. Yogyakarta: Dinkes DIY. 5. Lerik, 2008. Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Dengan Praktik Ibu Rumah Tangga Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN- DBD) Di Kelurahan Oebufu Kecamatan Oebobo Kota Kupang Tahun 2008.Jurnal MKM.3 (1): 34-44 6. Muslim, Azhari. 2004. Faktor Lingkungan Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Infeksi Virus Dengue (Studi Kasus Kota Semarang). Tesis. Universitas Diponegoro Semarang 7. Kementerian Kesehatan RI, 2011. Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah.Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia. Nomor.1077/MENKES/PER/V/2011. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 839 8. Soegijanto, S. 2004. Demam Berdarah Dengue. Surabaya: Airlangga University Press 9. Anton, S.2008. Hubungan Perilaku Pemberantasan sarang Nyamuk dan Kebiasaan Keluarga dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan Tahun 2008.Tesis,Universitas Diponegoro Semarang 10. Wawan dan Dewi. 2010. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika. 11. Tamza,R.B.,Suhartono, &Darminto.2013. Hubungan Faktor Lingkungan dan Perilaku dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kelurahan Perumnas Way Halim Kota Bandar Lampung. Jurnal Kesehatan Masyarakat 2013.vol 2:2. FKM UNDIP 12. Irmayanti.2013. Analisis hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue pada Anak yang dirawat di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar.Stikesnh.3(4). 13. Soegijanto S, 2003. Demam Berdarah Dengue: Tinjauan Dan Temuan Baru Di Era 2003. Surabaya : Airlangga University press.