BAB III SISTEM PROTEKSI TEGANGAN TINGGI

dokumen-dokumen yang mirip
Ground Fault Relay and Restricted Earth Faulth Relay

Analisa Koordinasi Over Current Relay Dan Ground Fault Relay Di Sistem Proteksi Feeder Gardu Induk 20 kv Jababeka

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. c. Memperkecil bahaya bagi manusia yang ditimbulkan oleh listrik.

BAB III PROTEKSI OVER CURRENT RELAY (OCR) DAN GROUND FAULT RELAY (GFR) 3.1. Relai Proteksi Pada Transformator Daya Dan Penyulang

dalam sistem sendirinya dan gangguan dari luar. Penyebab gangguan dari dalam

BAB III PENGAMANAN TRANSFORMATOR TENAGA

BAB IV ANALISIA DAN PEMBAHASAN. 4.1 Koordinasi Proteksi Pada Gardu Induk Wonosobo. Gardu induk Wonosobo mempunyai pengaman berupa OCR (Over Current

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK. Gambar 2.1 Gardu Induk

Frekuensi Gangguan Terhadap Kinerja Sistem Proteksi di Gardu Induk 150 KV Jepara

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN LAMPIRAN

III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI HALAMAN PERSEMBAHAN HALAMAN MOTTO KATA PENGANTAR

BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV PEMBAHASAN. Gardu Induk Godean berada di jalan Godean Yogyakarta, ditinjau dari

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

Analisa Relai Arus Lebih Dan Relai Gangguan Tanah Pada Penyulang LM5 Di Gardu Induk Lamhotma

ANALISA SETTING RELAI PENGAMAN AKIBAT REKONFIGURASI PADA PENYULANG BLAHBATUH

Gambar 2.1 Skema Sistem Tenaga Listrik (3)

ANALISIS ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA PENYULANG 20 KV DENGAN OVER CURRENT RELAY (OCR) DAN GROUND FAULT RELAY (GFR)

2. DASAR DASAR SISTEM PROTEKSI TEGANGAN TINGGI

BAB II DASAR TEORI. Sistem proteksi adalah sistem yang memisahkan bagian sistem yang. b. Melepaskan bagian sistem yang terganggu (fault clearing)

BAB III METODOLOGI. 3.2 Tahap Pelaksanaan Penyusunan Laporan Akhir

5. PERHITUNGAN SETTING RELAI PROTEKSI TRAFO TENAGA

BAB II LANDASAN TEORI

2.2.6 Daerah Proteksi (Protective Zone) Bagian-bagian Sistem Pengaman Rele a. Jenis-jenis Rele b.

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SIMULASI OVER CURRENT RELAY (OCR) MENGGUNAKAN KARATERISTIK STANDAR INVERSE SEBAGAI PROTEKSI TRAFO DAYA 30 MVA ABSTRAK

DAFTAR ISI BAB II DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III GANGGUAN PADA JARINGAN LISTRIK TEGANGAN MENENGAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini menggunakan data plant 8 PT Indocement Tunggal

BAB III PENGAMAN TRANSFORMATOR TENAGA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terhadap kondisi abnormal pada operasi sistem. Fungsi pengaman tenaga listrik antara lain:

LANDASAN TEORI Sistem Tenaga Listrik Tegangan Menengah. adalah jaringan distribusi primer yang dipasok dari Gardu Induk

SISTEM TENAGA LISTRIK

BAB II LANDASAN TEORI

D. Relay Arus Lebih Berarah E. Koordinasi Proteksi Distribusi Tenaga Listrik BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN B. SARAN...

BAB IV. PERHITUNGAN GANGGUAN SIMPATETIK PADA PENYULANG 20 kv GARDU INDUK DUKUH ATAS

STUDI ANALISIS SETTING BACKUP PROTEKSI PADA SUTT 150 KV GI KAPAL GI PEMECUTAN KELOD AKIBAT UPRATING DAN PENAMBAHAN SALURAN

Sidang Tugas Akhir (Genap ) Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB

Analisis Setting Relay Proteksi Pengaman Arus Lebih Pada Generator (Studi Kasus di PLTU 2X300 MW Cilacap)

Praktikum SISTEM PROTEKSI

BAB III GANGGUAN PADA JARINGAN LISTRIK TEGANGAN MENENGAH DAN SISTEM PROTEKSINYA

BAB III METODA SIMULASI

BAB II LANADASAN TEORI

Setting Relai Gangguan Tanah (Gfr) Outgoing Gh Tanjung Pati Feeder Taram Pt. Pln (Persero) Rayon Lima Puluh Kota

KAJIAN PROTEKSI MOTOR 200 KW,6000 V, 50 HZ DENGAN SEPAM SERI M41

KOORDINASI PROTEKSI TEGANGAN KEDIP DAN ARUS LEBIH PADA SISTEM KELISTRIKAN PT. WILMAR NABATI, GRESIK JAWA TIMUR

KOORDINASI RELAY PENGAMAN DAN LOAD FLOW ANALYSIS MENGGUNAKAN SIMULASI ETAP 7.0 PT. KRAKATAU STEEL (PERSERO) TBK

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi salah satu penentu kehandalan sebuah sistem. Relay merupakan

BAB II LANDASAN TEORI

Analisa Perhitungan dan Pengaturan Relai Arus Lebih dan Relai Gangguan Tanah pada Kubikel Cakra 20 KV Di PT XYZ

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN. panasbumi Unit 4 PT Pertamina Geothermal Energi area Kamojang yang. Berikut dibawah ini data yang telah dikumpulkan :

Politeknik Negeri Sriwijaya BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN UMUM

Evaluasi Ground Fault Relay Akibat Perubahan Sistem Pentanahan di Kaltim 1 PT. Pupuk Kaltim

BAB II LANDASAN TEORI

BAB VI. RELE DIFFERENTIAL

BAB III SISTEM PROTEKSI JARINGAN DISTRIBUSI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN HALAMAN PERSEMBAHAN HALAMAN MOTTO KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB I PENDAHULUAN 1

FEEDER PROTECTION. Penyaji : Ir. Yanuar Hakim, MSc.

Kata kunci hubung singkat, recloser, rele arus lebih

Perhitungan Setting Rele OCR dan GFR pada Sistem Interkoneksi Diesel Generator di Perusahaan X

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Trafo merupakan komponen terpenting dalam sebuah instalasi kelistrikan

Studi Koordinasi Proteksi Sistem Kelistrikan di Project Pakistan Deep Water Container Port

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TUGAS AKHIR ANALISA DAN SOLUSI KEGAGALAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA GARDU DISTRIBUSI JTU5 FEEDER ARSITEK

Pengaturan Ulang Rele Arus Lebih Sebagai Pengaman Utama Compressor Pada Feeder 2F PT. Ajinomoto Mojokerto

Studi Analisis Koordinasi Over Current Relay (OCR) dan Ground Fault Relay (GFR) pada Recloser di Saluran Penyulang Penebel

BAB I PENDAHULUAN. Pada sistem penyaluran tenaga listrik, kita menginginkan agar pemadaman tidak

DAFTAR PUSTAKA. [9] PT. PLN (Persero) UBS P3B REGION JAKARTA BANTEN Pegenalan Gardu Induk. Jakarta : PT. PLN (Persero).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

14 Teknologi Elektro, Vol. 16, No. 02, Mei - Agustus Z 2eq = Impedansi eqivalen urutan negatif

ANALISIS SETTING RELE OGS SEBAGAI SISTEM PENGAMAN TRANSFORMATOR 3 UNTUK MENJAGA KONTINYUITAS ALIRAN DAYA DI GARDU INDUK PESANGGARAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Institut Teknologi Padang Jurusan Teknik Elektro BAHAN AJAR SISTEM PROTEKSI TENAGA LISTRIK. TATAP MUKA XV. Oleh: Ir. Zulkarnaini, MT.

KOORDINASI RELE ARUS LEBIH DI GARDU INDUK BUKIT SIGUNTANG DENGAN SIMULASI (ETAP 6.00)

BAB 2 GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

Jl. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, Indonesia Abstrak

STUDI PERENCANAAN KOORDINASI RELE PROTEKSI PADA SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI GARDU INDUK GAMBIR LAMA - PULOMAS SKRIPSI

DAFTAR ISI SAMPUL DALAM... LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS... PERSYARATAN GELAR... LEMBAR PENGESAHAN... UCAPAN TERIMA KASIH... ABSTRACT...

Rifgy Said Bamatraf Dosen Pembimbing Dr. Ir. Margo Pujiantara, MT Dr. Dedet Chandra Riawan, ST., M.Eng.

20 Teknologi Elektro, Vol. 16, No. 02, Mei - Agustus I Gede Krisnayoga Kusuma 1, I Gede Dyana Arjana 2, I Wayan Arta Wijaya 3

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan teknologi kelistrikan yang menyentuh kehidupan sehari-hari maupun

BAB III PEMBAHASAN RELAY DEFERENSIAL DAN RELEY DEFERENSIAL GRL 150

Vol.17 No.2. Agustus 2015 Jurnal Momentum ISSN : X

Transkripsi:

BAB III SISTEM PROTEKSI TEGANGAN TINGGI 3.1 Pola Proteksi Gardu Induk Sistem proteksi merupakan bagian yang sangat penting dalam suatu instalasi tenaga listrik, selain untuk melindungi peralatan utama bila terjadi gangguan hubung singkat, sistem proteksi juga harus dapat mengeliminiir daerah yang terganggu dan memisahkan daerah yang tidak tergangggu, sehingga gangguan tidak meluas dan kerugian yang timbul akibat gangguan tersebut dapat di minimalisasi. Relay proteksi gardu induk seperti yang terlihat pada terdiri dari: Relay Proteksi Trafo Tenaga Relay Proteksi Busbar atau Kopel Relay Proteksi PMT Relay Proteksi Kapasitor dan Reaktor 17

18 Gambar 3.1 Diagram Proteksi Gardu Induk 3.2 Gangguan Pada Trafo Tenaga Gangguan yang terjadi pada sebuah trafo tenaga biasanya dibedakan menjadi 2 jenis gangguan, antara lain gangguan dalam (internal faults) dan gangguan luar (external faults). Berikut akan dijelaskan beberapa hal yang menyebabkan terjadinya gangguan pada trafo tenaga. 3.2.1 Gangguan Dalam Gangguan dalam adalah gangguan yang terjadi di daerah proteksi trafo, baik didalam trafo maupun diluar trafo sebatas lokasi CT. Penyebab gangguan internal biasanya akibat: Kegagalan isolasi pada belitan, lempengan inti atau baut pengikat inti atau penurunan nilai isolasi minyak yang dapat disebabkan oleh kualitas minyak buruk, tercemar uap air dan

19 adanya dekomposisi karena over heating, oksidasi akibat sambungan listrik yang buruk; Kebocoran minyak; Ketidaktahanan terhadap arus gangguan (electrical dan mechanical stresses); Gangguan pada tap changer; Gangguan pada sistem pendingin; Gangguan pada bushing. Gangguan dalam dapat dikelompokan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu: a. Incipient fault: Gangguan terbentuk lambat, dan akan berkembang menjadi gangguan besar jika tidak terdeteksi dan tidak diatasi. Yang termasuk ke dalam gangguan incipient fault, yaitu: Overheating, overfluxsing, dan over pressure. Penyebab Overheating Ketidaksempurnaan sambungan baik elektrik maupun magnetik; Kebocoran minyak; Aliran sistem pendingin tersumbat; Kegagalan kipas atau pompa sistem pendingin. Penyebab overfluxing Terjadi saat over voltage dan under frekuensi, dapat menyebabkan bertambahnya rugi-rugi besi sehingga terjadi

20 pemanasan yang dapat menyebabkan kerusakan isolasi lempengan inti dan bahkan isolasi belitan. Penyebab Overpressure Pelepasan gas akibat overheating; Hubung singkat belitan-belitan sefasa; Pelepasan gas akibat proses kimia. b. Active fault: Disebabkan oleh kegagalan isolasi atau komponen lainnya yang terjadi secara cepat dan biasanya dapat menyebabkan kerusakan yang parah. Penyebab dari gangguan Active fault adalah sebagai berikut: Hubung singkat fasa-fasa atau fasa dengan ground; Hubung singkat antar lilitan sefasa (intern turn); Core faults; Tank faults; Bushing flashovers. 3.2.2 Gangguan Luar Gangguan luar adalah gangguan yang terjadi di luar daerah proteksi trafo. Umumnya gangguan ini terjadi pada jaringan yang akan dirasakan dan berdampak terhadap ketahanan kumparan primer maupun sekunder / tersier trafo. Fenomena gangguan ekternal seperti: a. Hubung singkat pada jaringan sekunder atau tersier (penyulang) yang menimbulkan through fault current.

21 Frekuensi dan besaran arus gangguan diprediksi akan mengurangi umur operasi trafo. Hubung singkat jenis ini terjadi di luar transformator daya, misalnya: hubung singkat di bus, hubung singkat di feeder dan gangguan hubung singkat di sistem yang merupakan sumber bagi transformator daya tersebut. Gangguan ini dapat dideteksi karena timbulnya arus yang sangat besar, mencapai beberapa ratus kali arus nominalnya. b. Pembebanan lebih (over load) Transformator daya dapat beroperasi secara terus menerus pada beban nominalnya. Apabila beban yang dilayani lebih besar 100 %, transformator daya akan mendapat pemanasan lebih. Kondisi ini memungkinkan tidak segera menimbulkan kerusakan pada transformator daya, tetapi apabila berlangsung secara terus-menerus akan mengakibatkan umur isolasi bertambah pendek. Keadaan beban lebih berbeda dengan keadaan arus lebih. Pada beban lebih, besar arus hanya kira-kira 10 % di atas nominal dan dapat diputuskan setelah berlangsung beberapa puluh menit. Sedangkan pada arus lebih, besar arus mencapai beberapa kali arus nominal dan harus secepat mungkin diputuskan. c. Tegangan lebih (over voltage) akibat surja hubung atau surja petir.

22 d. e. Under atau over frequency akibat gangguann system. External system short circuit. 3.3 Fungsi Proteksi Trafo Tenaga Terhadap Gangguan Trafo tenaga sebagai salah satu komponen penting pada sebuah gardu induk di suatu sistem tenaga listrik memerlukan pengamanan seperti komponen- komponen lain agar apabila terjadi gangguan, maka gangguan tersebut tidak merusak peralatan dan mengganggu sistem kerja komponen lain. Untuk memperoleh efektifitas dan efisen dalam menentukan sistem proteksi trafo tenaga, maka setiap peralatan proteksi yang dipasang harus disesuaikan dengan kebutuhan dan prediksi gangguan yang akan terjadi yang mengancam ketahanan trafo itu sendiri. Dalam hal ini, jenis relay yang dibutuhkan pada proteksi trafo tenaga apabila terjadi gangguann akan diuraikan pada tabel 3.1 berikut ini. Tabel 3.1. Kebutuhan dan Fungsi Relay Proteksi Terhadap Berbagai Gangguan

23 3.4 Pola Proteksi Trafo Tenaga Peralatan proteksi trafo tenaga terdiri dari Relay Proteksi, Trafo Arus (CT), Trafo Tegangan (PT), PMT, Catudaya AC/DC yang terintegrasi dalam suatu rangkaian, sehingga satu sama lainnya saling keterkaitan. Fungsi peralatan proteksi adalah untuk mengidentifikasi gangguan dan memisahkan bagian jaringan yang terganggu dari bagian lain yang masih sehat serta sekaligus mengamankan bagian yang masih sehat dari kerusakan atau kerugian yang lebih besar. Gambar 3.2 Peralatan Sistem Proteksi Trafo Tenaga 150/20 KV 3.4.1 Proteksi Utama Trafo Tenaga Proteksi utama adalah suatu sistem proteksi yang diharapkan sebagai prioritas untuk mengamankan gangguan atau menghilangkan kondisi tidak normal pada trafo tenaga. Proteksi tersebut biasanya dimaksudkan untuk memprakarsainya saat

24 terjadinya gangguan dalam kawasan yang harus dilindungi. (lec 15-05-025). Adapun ciri-ciri pengaman utama adalah sebagai berikut: Waktu kerjanya sangat cepat seketika (instanteneoues); Tidak bisa dikoordinasikan dengan relai proteksi lainnya; Tidak tergantung dari proteksi lainnya; Daerah pengamanannya dibatasi oleh pasangan trafo arus, dimana relai differensial dipasang. Gambar 3.3 Sistem Proteksi Trafo Tenaga 150/20 kv Berikut ini akan diuraikan beberapa keterangan dari gambar yang tertera di atas mengenai proteksi utama pada sebuah trafo tenaga. a. Relay Differential (87T) Relay differensial arus bekerja berdasarkan Hukum Kirchoff, dimana arus yang masuk pada suatu titik, sama dengan

25 arus yang keluar dari titik tersebut. Relay differensial arus membandingkan arus yang melalui daerah pengamanan. Gambar 3.4 Prinsip Kerja Relay Differential Fungsi relay differensial pada trafo tenaga adalah mengamankan transformator dari gangguan hubung singkat yang terjadi di dalam transformator, antara lain hubung singkat antara kumparan dengan kumparan atau antara kumparan dengan tangki. Relay ini harus bekerja kalau terjadi gangguan di daerah pengamanan, dan tidak boleh bekerja dalam keadaan normal atau gangguan di luar daerah pengamanan. Relay ini merupakan unit pengamanan utama dan mempunyai selektifitas mutlak. Gambar 3.5 Karakteristik Kerja relay differential

26 b. Restricted Earth Fault (REF) Prinsip kerja relay REF sama dengan dengan relay differensial, yaitu membandingkan besarnya arus sekunder pada kedua trafo arus yang digunakan, akan tetapi batasan daerah kerjanya hanya antara CT fasa dengan CT titik netralnya. REF ditujukan untuk memproteksi gangguan 1-fasa ketanah. Pada waktu tidak terjadi gangguan (keadaan normal) atau gangguan di luar daerah pengaman, maka ke dua arus sekunder tersebut di atas besarnya sama, sehingga tidak ada arus yang mengalir pada relay, akibatnya relay tersebut tidak bekerja. Pada waktu terjadi gangguan di daerah pengamanannya, maka kedua arus sekunder pada trafo arus besarnya tidak sama oleh karena itu, akan ada arus yang mengalir pada relay, selanjutnya relay ini akan bekerja. Fungsi dari REF adalah untuk mengamankan transformator bila ada gangguan satu fasa ke tanah di dekat titik netral transformator yang tidak dirasakan oleh relay differensial. Gambar 3.6 Rangkaian Arus Relay REF saat terjadi gangguan

27 3.4.2 Proteksi Cadangan Trafo Tenaga Proteksi cadangan adalah suatu sistem proteksi yang dirancang untuk bekerja ketika terjadi gangguan pada sistem tetapi tidak dapat diamankan atau tidak terdeteksinya dalam kurun waktu tertentu karena kerusakan atau ketidakmampuan proteksi yang lain (proteksi utama) untuk mengerjakan pemutus tenaga yang tepat. Proteksi cadangan dipasang untuk bekerja sebagai pengganti bagi proteksi utama pada waktu proteksi utama gagal atau tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. (IEC l6-05- 030). Ciri-ciri pengaman cadangan : waktu kerjanya lebih lambat atau ada waktu tunda (time delay), untuk memberi kesempatan kepada pengaman utama bekerja lebih dahulu; Relay pengaman cadangan harus dikoordinasikan dengan relay proteksi pengamanan cadangan lainnya di sisi lain; Secara sistem, proteksi cadangan terpisah dari proteksi utama. Pola Proteksi cadangan pada trafo tenaga umumnya terdiri dari OCR untuk gangguan fasa-fasa atau 3-fasa dan GFR untuk gangguan 1- fasa ketanah seperti yang terlihat pada tabel 3.1 di atas. a. Relay ArusLebih (OCR) Prinsip kerja relay arus lebih adalah berdasarkan pengukuran arus, yaitu relay akan bekerja apabila merasakan arus diatas nilai settingnya. OCR dirancang sebagai pengaman

28 cadangan trafo jika terjadi gangguan hubung singkat baik dalam trafo (internal fault) maupun gangguan ekternal (external fault). Oleh karena itu, setting arus OCR harus lebih besar dari kemampuan arus nominal trafo yang diamankan (110 120% dari nominal), sehingga tidak bekerja pada saat trafo dibebani nominal, akan tetapi harus dipastikan bahwa setting arus relay masih tetap bekerja pada arus hubung singkat fasa-fasa minimum. Karateristik waktu kerja terdiri dari: - Definite - Normal/Standar inverse - Very inverse - Long time inverse Gambar 3.7 Karakteristik Relay ArusLebih (OCR) Adapun rumus untuk karakteristik standart inverse pada relay arus lebih yang nantinya akan digunakan dalam perhitungan analisa adalah sebagai berikut :

29 tp = 0,14, 1. (3.1) Keterangan : t Ihs Iset TMS = waktu kerja relay (detik) = arus gangguan hubung singkat (ampere) = arus setting relay (ampere) = time multiple setting atau time delay (detik) Relay ini digunakan untuk mendeteksi gangguan fasa fasa, mempunyai karakteristik inverse (waktu kerja relay akan semakin cepat apabila arus gangguan yang dirasakannya semakin besar) atau definite (waktu kerja tetap untuk setiap besaran gangguan). Selain itu pada relay arus lebih tersedia fungsi high set yang bekerja seketika (moment/instantaneous). Untuk karakteristik inverse mengacu kepada standar IEC atau ANSI/IEEE. Relay ini digunakan sebagai proteksi cadangan karena tidak dapat menentukan titik gangguan secara tepat, dan juga ditujukan untuk keamanan peralatan apabila proteksi utama gagal kerja. Agar dapat dikoordinasikan dengan baik terhadap relay arus lebih disisi yang lain (bukan relay arus lebih yang terpasang di penghantar), maka karakteristik untuk proteksi penghantar yang dipilih adalah kurva yang sama yaitu standard inverse (IEC) / normal inverse (ANSI/IEEE).

30 b. Ground Fault Relay Prinsip kerja GFR sama dengan OCR yaitu berdasarkan pengukuran arus, dimana relay akan bekerja apabila merasakan arus diatas nilai settingnya.gfr dirancang sebagai pengaman cadangan trafo jika terjadi gangguan hubung singkat fasa terhadap tanah, baik dalam trafo (internal fault) maupun gangguan ekternal (external fault). Setting arus GFR lebih kecil daripada OCR, karena nilai arus hubungsingkatnya pun lebih kecil dari pada arus hubung singkat fasa-fasa. Karateristik waktu kerja terdiri dari: - Definite - Normal/Standar inverse - Very inverse - Long time inverse Gambar 3.8 Karakteristik Relay GFR

31 Relay ini digunakan untuk mendeteksi gangguan fasa tanah, sehingga karakteristik waktu yang dipilihpun cenderung lebih lambat daripada waktu OCR. Pada GFR setting highset diblok, kecuali untuk tahanan 500 Ω di sisi sekunder trafo. Biasanya sebelum melakukan penyetelan pada relay GFR, ada beberapa rumus gangguan tanah (arus hubung singkat) yang perlu diperhitungkan. Berikut akan diuraikan beberapa rumus arus hubung singkat. Hubung singkat 3 phasa. (3.2) Hubung singkat phasa-phasa (3.3) Hubung singkat phasa-tanah.. (3.4) Keterangan : I3Ø = Arus hubung singkat 3 phasa (Ampere) IØ- Ø = Arus hubung singkat phasa-phasa (Ampere) I1Ø-tn = Arus hubung singkat phasa-tanah (Ampere) E = Tegangan phasa = tegangan phasa 3 (volt)

32 Z1 = Impedansi urutan positif rangkaian (ohm) Z2 = Impedansi urutan negative rangkaian (ohm) Z0 = Impedansi urutan nol rangkaian (ohm) Zf = Impedansi gangguan (ohm) c. Stand By Earth Fault Di Indonesia ada tiga jenis pentanahan netral yaitu dengan tahanan rendah (12 Ω, 40 Ω), langsung (solid) dan pentanahan dengan tahanan tinggi (500 Ω). Stand By Earth Fault adalah relay pengamanan untuk sistem pentanahan dengan Neutral Grounding Resistance (NGR) pada trafo. Penyetelan relay SBEF ini mempertimbangkan faktor faktor sebagai berikut: Pola pentanahan netral trafo; Ketahanan termis tahanan netral trafo (NGR); Ketahanan shielding kabel disisi dipasang NGR (khususnya pada sistem dengan netral yang ditanahkan langsung atau dengan NGR tahanan rendah); Sensitifitas relay terhadap gangguan tanah; Pengaruh konfigurasi belitan trafo (dilengkap dengan belitan delta atau tidak). Untuk pemilihan waktu dan karakteristik SBEF dengan memperhatikan ketahanan termis NGR. Karena arus yang mengalir ke NGR sudah dibatasi oleh resistansi terpasang pada NGR itu

33 sendiri. Karena nilai arus yang flat, maka pemilihan karakteristik waktu disarankan menggunakan Definite atau Long Time Inverse. Tahanan Rendah, NGR 12 Ohm, 1000 A, 10 detik Jenis relai Karakteristik Setelan arus Setelan waktu Setelan highset : relay gangguan tanah tak berarah (SBEF, 51NS) : long time inverse : (0.1 0.2) x In NGR : 50% x ketahanan termis NGR, pada If=1000 A : tidak diaktifkan Tahanan Rendah, NGR 40 Ohm, 300 A, 10 detik Jenis Karakteristik Setelan arus Setelan waktu Setelan highset : relay gangguan tanah (SBEF, simbol 51NS) : Long Time Inverse : (0.3 0.4) x In NGR : 50 % x ketahanan termis NGR, pada If=300 A : tidak diaktifkan Tahanan Tinggi, NGR 500 Ohm, 30 detik Jenis : relay gangguan tanah tak berarah Karakteristik : long time inverse (LTI)/ definite Setelan arus : (0.2 0.3) x In NGR Setelan waktu : 1. 8 detik (LTI) trip sisi incoming dan 10 detik untuk sisi 150 KV pada If=25 A untuk NGR yang mempunyai t = 30 detik; 2. Apabila belum ada relay dengan karakteristik LTI

34 maka menggunakan definite, t1=10 detik (trip sisi 20 kv) dan t2 = 13 detik (trip sisi 150 kv). d. Over/Under Voltage Relay Over Voltage Relay (OVR) dan Under Voltage Relay (UVR) adalah relay yang mengamankan peralatan instalasi dari pengaruh perubahan tegangan lebih atau tegangan kurang. Peralatan instalasi mempunyai nilai batas maksimum dan minimum dalam pengoperasiannya. Jika melebihi nilai maksimum atau minimum batas kerja operasinya, peralatan tersebut dapat rusak. Sehingga untuk mejaga peralatan dari kerusakan akibat perubahan tegangan yang signifikan tersebut dibutuhkan OVR dan UVR. Prinsip dasar OVR dan UVR adalah bekerja apabila dia mencapai titik setingannya. OVR akan bekerja jika tegangan naik, melebihi dari setingannya, sedangka UVR bekerja jika tegangan turun, kurang dari nilai setingannya. OVR diaplikasikan pada: a. Sebagai pengaman gangguan fasa ke tanah (pergeseran titik netral) pada jaringan yang disuplai dari trafo tenaga dimana titik netralnya ditanahkan melalui tahanan tinggi/mengambang; b. Sebagai pengaman gangguan fasa ke tanah stator generator dimana titik netral generator ditanahkan lewat trafo distribusi; c. Sebagai pengaman overspeed pada generator.

35 UVR diaplikasikan pada: a. Berfungsi mencegah strating motor bila suplai tegangan turun; b. Pengamanan sistem dapat dikombinasikan dengan relai frekuensi kurang. Karakteristik waktu pada OVR/UVR adalah inverse : Gambar 3.9 Karakteristik Waktu UVR adalah inverse

36 Gambar 3.10 Karakteristik waktu OVR adalah inverse Keterangan : t K V Vs Tms : waktu : Kosntanta (5 atau 40) : tegangan input : tegangan seting : Time Multiple Setting 3.4.3 Langkah dan rumus yang digunakan dalam penyetelan relay OCR&GFR dengan menggunakan metode standartt inverse Harus diketahui terlebih dahulu arus nominal sisi trafo yang akan dihitung (Inom) Harus diketahui Ratio CT (perbandingan arus sisi primer dan sekunder)

37 Untuk mencari Arus Setting sisi Primer (Isetp) Pada Relay OCR berlaku rumus Isetp = 120% x Inom....(3.5.1) Pada Relay GFR berlaku rumus Isetp = 50% x Inom........(3.5.2) Untuk mencari Arus Setting sisi sekunder (Isets) =... (3.5.3) Untuk mencari tap setelan relay (Tap) =...... (3.5.4) Dimana InRy adalah arus nominal pada relay OCR&GFR biasanya memiliki nilai InRy = 5 Ampere. Setelah itu harus diketahui t (waktu kerja yang diinginkan) untuk mencari TMS (time delay) yang ingin dilakukan penyetelan. Harus diketahui pula arus gangguan yang terjadi yang disebut ihs ( fasa-fasa atau fasa-tanah ) dan yang digunakan dalam perhitungan adalah yang memiliki nilai lebih kecil untuk memperoleh sensitivitas dan kehandalan relay. Untuk mencari TMS (time delay) digunakan rumus t =,, + 0 (3.5.5)

38 dimana t harus diketahui terlebih dahulu sebagai waktu kerja yang diinginkan. Setelah TMS didapat biasanya dilakukan pembuktian dengan perhitungan untuk mencari waktu actual apakah sesuai dengan waktu kerja yang diinginkan atau tidak, dalam hal ini kembali digunakan rumus (3.1)