BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang melibatkan glandula saliva. Sebelum membahas mengenai kedua penyakit

aureus, Stertococcus viridiansatau pneumococcus

BAB I PENDAHULUAN. tahun. Data rekam medis RSUD Tugurejo semarang didapatkan penderita

Tahap-tahap penegakan diagnosis :

BAB I KONSEP DASAR. Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan

Laporan Kasus SINUSITIS MAKSILARIS

Definisi Bell s palsy

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru

BAB I PENDAHULUAN. sampai 6 gram. Ovarium terletak dalam kavum peritonei. Kedua ovarium melekat

Gambar. Klasifikasi ukuran tonsil

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

BAB I PENDAHULUAN. akhir tahun 2011 sebanyak lima kasus diantara balita. 1

TRAUMA MUKA DAN DEPT. THT FK USU / RSHAM

BAB I PENDAHULUAN. siklus sel yang khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak

BAB I PENDAHULUAN. kekurangan insulin, baik total ataupun sebagian. DM menunjuk pada. kumpulan gejala yang muncul pada seseorang yang dikarenakan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Tonsilitis kronis merupakan penyakit yang paling sering dari semua

PANDUAN SKILL LAB BLOK MEDICAL EMERGENCY (SKILL LAB 4) PENANGANAN ABSES DAN PERIKORONITIS

HAL-HAL YANG BERPENGARUH PADA KOMPOSISI SEKRESI SALIVA. Departemen Biologi Oral FKG USU

PIODERMA. Dr. Sri Linuwih S Menaldi, Sp.KK(K) Dr. Wieke Triestianawati, Sp.KK(K) Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI / RSCM Jakarta

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1

Kenali Penyakit Periodontal Pada Anjing

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sumber infeksi, seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

BAB II. Kepustakaan. 2.1 Anatomi telinga luar

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut Farokah, dkk Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan

E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri morfologi berikut: 1. bentuk ameboid, ukuran μm 2.

BAB II KLAS III MANDIBULA. Oklusi dari gigi-geligi dapat diartikan sebagai keadaan dimana gigi-gigi pada rahang atas

I. PENDAHULUAN. Farmasi dalam kaitannya dengan Pharmaceutical Care harus memastikan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker adalah penyakit keganasan yang ditandai dengan pembelahan sel


BAB 2 PENGERTIAN, ETIOLOGI, TANDA DAN GEJALA OSTEOSARKOMA. Osteosarkoma adalah suatu lesi ganas pada sel mesenkim yang mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. Kanker kepala dan leher adalah penyebab kematian akibat kanker tersering

BAB 2 SENDI TEMPOROMANDIBULA. Temporomandibula merupakan sendi yang paling kompleks yang dapat

dan menjadi dasar demi terwujudnya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani.

Nyeri. dr. Samuel Sembiring 1

BAB 2 OSTEOMIELITIS KRONIS PADA RAHANG. infeksi yang terjadi dapat disebabkan oleh infeksi odontogenik. Osteomielitis dibagi

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

Diagnosis Penyakit Pulpa dan Kelainan Periapikal

Penanganan sialolitiasis

Kesehatan Anak - Aneka penyakit anak yg perlu diketahui semua ortu

Telinga Luar. Dalam kulit kanal auditorius eksterna. Glandula seminurosa. Sekresi substansi lilin. serumen. tertimbun. Kanalis eksternus.

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas

BAB XXI. Nyeri atau Sakit di Perut bagian bawah. Nyeri perut hebat yang mendadak. Jenis nyeri perut. Beberapa pertanyaan mengenai nyeri perut

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

Virus herpes merupakan virus ADN dengan rantai ganda yang kemudian disalin menjadi marn.

Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab lokal dan sistemik.

BAB 1 PENDAHULUAN. diperantarai oleh lg E. Rinitis alergi dapat terjadi karena sistem

Jika tidak terjadi komplikasi, penyembuhan memakan waktu 2 5 hari dimana pasien sembuh dalam 1 minggu.

LAPORAN PRAKTIKUM. Oleh : Ichda Nabiela Amiria Asykarie J Dosen Pembimbing : Drg. Nilasary Rochmanita FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan

BAB II TINJAUAN TEORI

Simposium dan Workshop Emergensi di Bidang Telinga Hidung dan Tenggorok

KEDARURATAN LAIN DIABETES HIPOGLIKEMIA

Sarkoidosis DEFINISI PENYEBAB

BAB XXIV. Kanker dan Tumor. Kanker. Masalah pada leher rahim. Masalah pada rahim. Masalah pada payudara. Masalah pada indung telur

Actinomyces israelii

Modul ke: Pedologi. Cedera Otak dan Penyakit Kronis. Fakultas Psikologi. Yenny, M.Psi., Psikolog. Program Studi Psikologi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

Penemuan PasienTB. EPPIT 11 Departemen Mikrobiologi FK USU

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

PATOFISIOLOGI, DIAGNOSIS, DAN KLASIFIKASI TUBERKULOSIS. Retno Asti Werdhani Dept. Ilmu Kedokteran Komunitas, Okupasi, dan Keluarga FKUI

PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN PADA LEHER ( ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK)

PERAWATAN PERIODONTAL

APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TUGAS NEONATUS. Pengampu : Henik Istikhomah, S.SiT, M.Keb POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURAKARTA JURUSAN KEBIDANAN TAHUN AJARAN 2013/2014

Kanker Payudara. Breast Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 6

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 5 TINDAK LANJUT

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Sindroma Down Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si, psikolog*

Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Hepatitis: suatu gambaran umum Hepatitis

BAB 2 SALIVA. Saliva merupakan salah satu dari cairan di rongga mulut yang diproduksi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. N DENGAN POST OPERASI TONSILEKTOMI DI BANGSAL ANGGREK RSUD SUKOHARJO

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. inflamasi kronik telinga tengah yang ditandai dengan perforasi membran timpani

BAB I. dalam kehidupan sehari-hari. Kesehatan pada dasarnya ditunjukan untuk. untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Penyakit gigi dan mulut

memfasilitasi sampel dari bagian tengah telinga, sebuah otoscope, jarum tulang belakang, dan jarum suntik yang sama-sama membantu. 4.

Tentang Penyakit SIPILIS dan IMPOTEN...!!! Posted by AaZ - 12 Aug :26

Wabah Polio. Bersama ini kami akan membagi informasi mengenai POLIO yang sangat berbahaya, yang kami harap dapat bermanfaat untuk kita semua.

BAB 2 CELAH LANGIT-LANGIT. yaitu, celah bibir, celah langit-langit, celah bibir dan langit-langit. Celah dari bibir dan langitlangit

Laporan Kasus Besar. Observasi Limfadenopati Colli Multipel, Dekstra & Sinistra SHERLINE

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker kepala dan leher merupakan salah satu tumor ganas yang banyak

BENDA ASING HIDUNG. Ramlan Sitompul DEPARTEMEN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016

BAB I PENDAHULUAN. pneumonia dijuluki oleh William Osler pada abad ke-19 sebagai The

Jangan Sembarangan Minum Antibiotik

ANATOMI DAN FISIOLOGI

Bronkitis pada Anak Pengertian Review Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan

NEOPLASMA TULANG. Neoplasma : Berasal dari Tulang : Jinak : Osteoma, Osteoid osteoma, osteoblastoma

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelenjar saliva secara anatomi terdiri dari dua kelompok yaitu kelenjar mayor yang berpasang- pasangan dan kelenjar minor. Kelenjar mayor terletak di luar rongga mulut dan berhubungan melalui suatu sistem saluran yang rumit. Bentuk kelenjar mayor adalah tipe tubuloasinar. Kelenjar saliva minor terdiri dari sekumpulan kecil jaringan kelenjar yang terletak teruatama di bawah mukosa mulut, sekresinya dialirkan kedalam rongga mulut melalui saluran saluran yang rudimenter. Fungsi utama kelenjar saliva adalah memelihara higiene mulut dan gigi, menyiapkan makanan pada waktu menguyah, mengecap dan menelan, permulaan dari fase awal pencernaan karbohidrat dan pengaturan tak langsung hidrasi tubuh. Banyak keluhan yang dapat timbul di rongga mulut. Salah satu keluhan tersebut adalah keluhan mulut kering dan bau mulut. Keadaan ini umumnya berhubungan dengan berkurangnya aliran saliva, namun adakalanya jumlah atau aliran saliva normal tetapi seseorang tetap mengeluh mulutnya kering dan bau. Hal ini sangat erat kaitannya dengan kelenjar saliva. Produksi saliva yang berkurang selalu disertai dengan perubahan dalam komposisi saliva yang mengakibatkan sebagian besar fungsi saliva tidak dapat berjalan dengan lancar. Hal ini mengakibatkan timbulnya beberapa keluhan seperti mulut kering, kesukaran dalam mengunyah dan menelan makanan, kesukaran dalam berbicara, kepekaan terhadap rasa berkurang, dan sebagainya. Oleh karena pentingnya peranan produksi saliva yang dihasilkan oleh kelenjar saliva maka sebaiknya kita mengetahui berbagai macam penyakit yang di dapatkan pada kelenjar saliva, sehingga kita dapat mengetahui cara untuk mencegah dan mengatasi masalah yang muncul akibat saliva.

1.2 Perumusan Masalah 1.3 Tujuan penulisan Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan secara detail tentang berbagai macam jenis penyakit yang terdapat pada glandula saliva mayor dan minor. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI KELENJAR SALIVA Kelenjar saliva secara anatomi terdiri dari dua kelompok yaitu kelenjar mayor yang berpasang- pasangan (parotis, submandibula dan sublingual) dan kelenjar minor (kelenjar palatina, bucal, lingualis, labialis dan kelenjar molares). Kelenjar mayor terletak di luar rongga mulut dan berhubungan melalui suatu sistem saluran yang rumit. Bentuk kelenjar mayor adalah tipe tubuloasinar. Kelenjar saliva minor terdiri dari sekumpulan kecil jaringan kelenjar yang terletak teruatama di bawah mukosa mulut, sekresinya dialirkan kedalam rongga mulut melalui saluran saluran yang rudimenter. Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur utama yang tersebar dan menempati ruangan didepan prosesus mastoid dan liang telinga luar. Di sebelah depan, kelenjar ini terletak di lateral dari ramus asenden mandibula dan otot maseter. Di bagian bawah, kelenjar ini berbatasan dengan otot sternokleidomastoideus dan menutupi bagian psoteriror abdomen otot digastrikus. Kelenjar ini dipisahkan dari kelenjar submandibula oleh ligamnetum stilomandibularis. Bagian dalam dari kelenjar parotis meluas ke posterior dan medial dari ramus asenden mandibula dan dikenal sebagai daerah retromandibular. Kelenjar subamandibula (submaksilaris) terletak dibawah ramus mandibula horisontal dan dibungkus oleh lapisan jaringan penyambung yang tipis. Kelenjar ini seluruhnya terletak di dalam trigonum digastrikus yang dibentuk oleh bagian abdomen dari otot digastrikus anterior dan posterior. Pasangan kelenjar sublingualis terletak tepat di bawah dasar mulut bagian depan dan merupakan kelenjar liur minor yang cukup besar. Saliva disekresi masuk kedasar mulut melalui beberapa duktus yang pendek. Fungsi utama kelenjar saliva adalah memelihara hegiene mulut dan gigi, menyiapkan makanan pada waktu mengunyah, mengecap dan menelan, permulaan dari fase awal pencernaan karbohidrat dan pengaturan tak langusng

hidrasi tubuh. Dengan membasahi dan melumasi makanan, akan mempermudah makan melewati saluran orofaring. Bahan yang dapat larut agaknya berperan secara kimia pada reseptor pengecap. Perasaan kering dalam bau mulut dapat merupakan indikasi tak langsung akan kebutuhan cairan cairan dan dapat merupakan pemantauan sebagian hidrasi tubuh. Banyak bahan diekskresikan ke dalam air liur kemudian akan ditelan, seperti merkuri, antibiotik, timah dan morfin. SO2 larut dalam air dan ketika bernapas dengan mulut akan masuk ke dalam air liur. Virus rabies dan poliomielitis dapat muncul dalam air liur.

Gambar 2.1.1 Kelenjar Saliva 2.2 PENYAKIT-PENYAKIT RADANG KELENJAR LIUR 2.2.1 Gondongan (Mumps) Penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang ditandai dengan pembesaran akut nonsupuratif pada satu atau kedua kelenjar parotis, walaupun organ yang lain dapat pula terkena. Gejala prodormal yang biasa terjadi adalah demam ringan, tidak nafsu makan, lesu dan sakit kepala. Setelah itu cepat di ikuti dengan nyeri dan pembengkakan kelenjar parotis. Trismus, kesulitan menelan dapat terjadi. Masa inkubasi gondongan ratarata sekitar 17 hari dengan jarak 2 sampai 4 minggu. Rasa nyeri, pembengkakan dan nyeri tekan kelenjar parotis pada sebgian besar kasus, berlangsung kurang dari 2 minggu. Diagnosis gondongan dapat dibuktikan dengan tes fiksasi komplemen atau dengan tes inhibisi hemaglutinasi, tetapi tes-tes ini hanya dikerjakan untuk kasus-kasus yang tidak khas atau kasus sulit. Gondongan biasanya merupakan penyakit ringan, namun kadangkadang dapat menjadi berat dan menimbulkan komplikasi serius. Komplikasi yang kadang terjadi diantaranya adalah orkitis, ketulian sementara pada nada tinggi, meningitis. Dan komplikasi yang paling serius adalah ensefalitis. Karena alasan komplikasi yang akan timbul maka dianjurkan untuk melakukan imunisasi pada anak yang berusia 12 bulan atau lebih dengan vaksin virus hidup parotitis epidemika. Virus lain dapat juga menyebabkan parotitis, antara lain Coxsackie A, virus ECHO, virus parainfluenza tipe A. 2.2.2 Parotitis supuratif akut

Merupakan infeksi non virus yang sering itmbul pada orang dewasa dengan keadaan lemah dan dehidrasi yang berat, seperti yang ditemukan pada keadaan pasca bedah. Pada anak paling sering terjadi pada kelahiran prematur. Gejalanya khas yaitu mendadak timbul rasa nyeri dan nyeri tekan pada kelenjar dengan eritema pada kulit diatasnya. Kelenjar terab keras, dan pada pemijatan akan mengeluarkan cairan purulen dari duktus stensen. Organisme penyebab yang sering ditemukan ialah stafilokokus aureus, streptokokus pneumoniae, streptokokus beta hemolitik, dan yang lebih jarang adalah organisme negatif. Terapi harus dengan hidrasi dan antibiotik yang cocok untuk stafilokokus yang menghasilkan penisilinase, misalnya Nafcilin. 2.2.3 Abses kelenjar parotis Suatu abses dapat terjadi sebagai lanjutan parotitis supuratif akut. Edem progresif, indurasi dan sepsis merupakan indikasi untuk insisi dan drainase. Biasanya terdapat banyak kantong-kantong pus. Fluktuasi abses tidak tampak dengan jelas, karena fasia tebal di atas kelenjar parotis mempunyai sekat,yang memisahkan permukaan kelenjar parotis menjadi beberapa bagian terpisah. Drainase abses parotis dapat dilakukan dengan membuat insis yang dimulai dari kerut preaurikular dengan perluasan ke bawah dalam garis lengkung di belakang angulus mandibula. Lipatan kulit dapat diangkat secukupnya keatas kelenjar parotis. Klem arteri bengkok dimasukan ke dalam kelenjar dan dilebarkn sejajar dengan jalanya cabang n.fasialis. drainase dapat dipertahankan untuk sementara waktu dengan tampon kasa yang doform. Luka yang sembuh dengan baik biasanya meninggalkan deformitas kosmetik minimal. 2.2.4 Sialadenitis kronik Penyakit ini ditandai dengan pembesaran kelenjar liur berulang, disertai rasa nyeri, nyeri tekan dan sering terdapat pus pada duktus.

Kadang-kadang mungkin terdapat pembengkakan terbatas yang tumbuh lambat dalam periode berbulan-bulan atau bertahun yang dapat menyerupai tumor. Baik faktor obstruktif maupun non obstruktif dapat menyebabkannya, tetapi biasanya terdapat bersama sialektasis, sialitiasis atau striktur duktus kelenjar liur. Sialografi pada kasus ini menunjukkan sistem duktus normal dengan waktu pengosongan normal. Sialografi pada kasus-kasus lanjut tampak pelebaran duktus intralobular dan menunjukkan perlambatan waktu pengosongan. Kebanyakan pasien ditolong secara konservatif, termasuk hidrasi yang baik, penggunaan sialogog, pemijatan kelenjar kearah muara duktus, mengatasi sepsis intraoral dan pemberian antibiotik sesuai indikasi. Sialografi walaupun umumnya dipakai sebagai sarana diagnosis, tetapi pada beberapa kasus berhasil untuk terapi. 2.2.5 Sialolitiasis Kronis Kurang lebih 90% batu kelenjar liut ditemukan dalam duktus submandibula dan kira-kira 10% dalam kelenjar parotis. Kebanyakan batu kelenjar liur bersifat radio opak dan dapat terlihat pada foto polos. Umumnya batu terbentuk dalam hilus kelenjar tetapi biasanya tampak sebagai sumbatan dalam saluran utama kelenjar liur. Batu-batu ini umumnya merupakan ikatan kalsium dan fosfat anorganis, terbentuknya buka karena hiperkalsemia, tetapi agaknya akibat pembentukan kalkulus pada debris organis akibat infeksi atau sumbatan. Gejala batu kelenjar liur ialah pembengkakan kelenjar yang tidak terus menerus dan rasa tidak nyaman yang hilang timbul, terutama waktu makan. Jika batu terletak di duktus uatama dekat rongga mulut, tampak pembengkakan dan nyeri tekan di atas batu itu sendiri. Diagnosis batu didapatkan dengan palpasi dua tangan padea duktus, pemeriksaan duktus menggunakan sonbde metal kecil atau dengan

foto rontgen. Jika batu dekat dengan permukaan mukosa pengangkatan dapat dilakukan dengan anastesi lokal, dengan memotong duktus kjelenjar liur yang mengandung batu dan mengangkat batu dengan cunam. Cara ini tidak praktis untuk duktus submandibula bila lebih dari 2 cm dari orificium, karena arteri dan nervus lingualis berdekatan dengan duktus mulai dari titik ini. Pengangkatan intraoral batu duktus parotis tidak dapat dilakukan dengan mudah jika batu terletak posterior dari tepi anterior m. Maseter, sehingga harus dilakukan dari luar. Pada batu yang dekat atau pada hilum kelenjar submandibula dilakukan eksisi kelenjar dari duktus. Ligasi dan membelah duktus submandibula harus di usahakan sedekat mungkin dengan orificium oral, untuk mencegah menetapnya penyakit dalam sisa duktus. 2.2.6 Sialadenitis tuberkulosis Parotitis tuberkulosis atau tuberkulosis kelenjar submandibula biasanya disebabkan oleh penyakit yang berasal dari rongga mulut. Umumnya kelenjar parotis yang terkena. Sialadenitis tuberkulosis akut biasanya terdapat sebagai pembengkakan kelenjar difus. Diagnosis ditegakan dengan pemeriksaan mikroskopis dan kultur bahan yang diaspirasi dari duktus kelenjar. Terapi utama ialah medikamentosa dan biasanya tidak perlu tindakan bedah. Sialadenitis tuberkulosis kronis dapat timbul sebagai lesi asimtomatik yang telah ada bertahun tahun. Penyembuhan biasanya dengan terapi tuberkulosis, tetapi tindakan eksisi masa mungkin perlu bila diagnosisnya diragukan. 2.2.7 Penyakit cakaran kucing (Cat Scratch) Penyakit cakaran kucing merupakan penyakit limfadenitis regional yang sering pada daerah kapala dan leher. Etiologinya yaitu suatu bakteri yang baru ditemukan dan dalam prosentase tinggi berhubungan dengan jilatan, cakaran atau gigitan kucing. Kadang-kadang ditemukan lesi

primer, yang terdiri dari ulkus atau vesikelkecil pada kulit yang sebagian menyembuh. Penyakit cakaran kucing dapat menyebabkan pembesaran kelenjar di dalam kelenjar liur dan seolah-olah seperti penyakit kelenjar liur. Pada parotis terdapat pembengkakan dan nyeri tekan dengan kemerahan pada duktus stensen dan kadang-kadang terdapat perluasan granuloma nekrotikans ke dalam parenkim. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakan jika terdapat riwayat kontak dengan kucing atau adanya luka tusuk yang kecil, tidak ditemukannya penyakit lain dan pada biopsi sesuai penyakit ini. 2.3 KELAINAN KONGENITAL KELENJAR LIUR 2.3.1 kista kongenital kelenjar liur Kista ini timbul sebagian besar di kelenjar parotis dan sulit di diagnosis. Mucul selama masa bayi atau dewasa, diagnosis pasti biasanya harus menunggu tindakan pembedahan dan pemeriksaan jaringan. Dilatasi kista kongenital dari sistem duktus dapat terjadi, dengan pembentukkan rongga kista tunggal atau multiple. 2.3.2 Lesi celah brankial pertama, tipe I dan II Dua jenis kista celah brankial dapat muncul pada daerah kelenjar parotis dan timbul sebagai traktus sinus atau pembengkakan di daerah preaurikular. Tidak berhubungan dengan kista pratragus atau sinus-sinus. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pengamatanatas pembengkakan dan gejala klinik. Kista celah brankial tipe I (ektoderm) lebih sering dan dimulai sejajar dengan liang telinga luar dan cenderung berjalan menuju ke kerut postaurikular. 2.3.3 Kista dermoid

Kista dermoid dapat terjadi seagai massa terpisah yang berisi epitel squamosa berkeratinisasi, dan yang berhubungan dengan struktur kulit lain seperti folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea. DAFTAR PUSTAKA 1. Adams, G. L, Boies, L. R, Higler, P. A. Gangguan-gangguan kelenjar liur: BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta. EGC; 2008;8:305-319. 2. Snell, R. S. Kepala dan Leher: Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta. EGC; 2006; 11:722. 3. Soepardi, E. A, Iskandar, N, Bashiruddin, J, dkk. Gangguan Keseimbangan dan Kelumpuhan Nervus Fasialis: Buku Ajar Ilmu

Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ketujuh. Jakarta. Badan Penerbit FKUI;2012;III:27,92-95. 4. John Jacob, B. Kelenjar Liur: Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher. Jilid 1. Staff Ahli Bagian THT RSCM.FKUI. Jakarta. 5. Guyton,Arthrur, C. Sekresi Saliva : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta. EGC; 2006; 832-834.