PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk. PANDUAN DESAIN FTTH Versi Tanggal : 1.0 : Nopember 2012 Diterbitkan oleh: PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk. DIVISI AKSES Jl. Gatot Subroto Kav.52 Jakarta Telepon : + 62 21 529 034 82 Faksimili : + 62 21 522 13 00 Hak Cipta PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk. 2012 Dilarang memperbanyak dokumen ini dalam bentuk apapun, sebagian atau keseluruhan, tanpa ijin tertulis dari penerbit.
KATA PENGANTAR PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk. PANDUAN DESAIN FTTH Nomor Dokumen Versi : : 1.0 Ditetapkan di Tanggal : Jakarta : Nopember 2012 PGS EGM DIVISI AKSES ARIEF MUSTA IN NIK.670134 ii
KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Tak berlebihan kiranya bila kunci keunggulan sebuah bangsa saat ini dan mendatang, akan sangat ditentukan dengan sejauh mana level broadband adoption terjadi. Sejauh ini, kesejahteraan sebuah bangsa selalu berbanding lurus dengan tingkat penetrasi broadbandnya. Sehingga kita bisa memahami pertumbuhan broadband dunia sangat pesat dimana tahun 2012 ini secara total jumlah pelanggan broadband mencapai 430,2 juta. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa ekonomi suatu negara akan tumbuh berkembang sebesar 1,38 % jika tingkat penetrasi broadband naik 10 %, dan bila penetrasi internet naik 10 % akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,12 %, sedangkan penetrasi seluler naik 10 % akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,81 %. Dengan demikian kekuatan dan kemampuan negara atau operator dalam menggelar layanan broadband akan menjadi indikator kunci untuk tumbuhnya ekonomi di suatu negara. Bahkan di Industri ICT sendiri, semua pemainnya bersusah payah untuk me-recode DNA-nya agar bisa segera menjadi yang terdepan dalam kompetisi mempersiapkan diri menjadi Broadband Company. Bila tidak, akan menjadi masa lalu. Lebih jauh mengenai broadband, maka hal tersebut tidak akan lepas dengan teknologi FTTH (Fiber To The Home) yang telah diyakini sebagai teknologi masa depan (future proof). Saat ini, tidak kurang dari 600 Industri Telco di dunia tengah memikirkan, merancang dan mengeksekusi hal yang sama, yaitu FTTH. FTTH merupakan infrastruktur akses yang menggunakan teknologi fiber optik, dimana saat ini merupakan satu-satunya infrastruktur terbaik yang mampu mendeliver layanan di atas 2 Gbps. Dengan demikian banyak operator telekomunikasi saat ini baik domestik maupun internasional yang menggunakan teknologi tersebut. iii
KATA PENGANTAR Buku panduan desain FTTH ini menjadi dokumen yang sangat penting. Karena desain merupakan langkah awal untuk mengimplementasikan teknologi FTTH di TELKOM. Bila TELKOM sukses dalam mendesain FTTH, maka dapat dijamin bahwa setengah dari pekerjaan FTTH berhasil. Saya selaku DIRUT TELKOM sangat berterima kasih atas selesainya panduan desain FTTH ini. Hal tersebut merupakan suatu bukti bahwa visi untuk membentuk great competence SDM TELKOM tidaklah hanya berupa anganangan semata tetapi insya Allah akan segera terwujud. Mudah-mudahan buku panduan desain FTTH ini bermanfaat dan dapat menjadi acuan utama bagi internal TELKOM dalam memahami tentang teknologi dan karakteristik FTTH dan mendukung program Broadband TELKOM. Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Jakarta, Oktober 2012 ARIEF YAHYA DIREKTUR UTAMA KOM iv
DAFTAR ISI DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN... KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. DAFTAR GAMBAR. DAFTAR TABEL.. 1. UMUM 1.1 Latar Belakang.. 1.2 Ruang Lingkup. 1.3 Maksud dan Tujuan. 1.3.1 Maksud.. 1.3.2 Tujuan 1.4 Singkatan.. 1.5 Daftar Istilah.. 2 PENGENALAN FTTH.. 2.1 Pengertian Desain FTTH 2.2 Konsep Dasar Desain. 2.2.1 Memenuhi Kebutuhan Pasar. 2.2.2 Tepat Sasaran.. 2.2.3 Efektif dan Efisien. 2.3 Aturan Umum Desain FTTH.. 3. MODUS APLIKASI.. 3.1 Pembagian Modus Aplikasi FTTH 3.1.1 Fiber To The Building. 3.1.2 Fiber To The Home.. 3.1.3 Fiber To The Tower. 3.2 Gambaran Upstream dan Downstream FTTH 4. List of Material.. 4.1 Tabel LoM yang dibutuhkan untuk FTTH 4.2 Contoh Material FTTH 5. DESAIN KABEL FEEDER.. 5.1 Pengaturan Desain Feeder 5.1.1 Konfigurasi Kabel Feeder 5.1.1.1 Konfigurasi Ring... 5.1.1.2 Konfigurasi Star 5.1.1.3 Konfigurasi Bus 5.1.2 Moda/Pola Penggelaran Feeder 5.1.2.1 Bawah Tanah 5.1.2.1.1 Instalasi dengan subduct/microduct. 5.1.2.1.1.1 Menggunakan duct.. 5.1.2.1.1.2 Menggunakan microduct. 5.1.2.1.2 Instalasi Menggunakan Kabel Tanam Langsung/HDPE 5.1.2.2 Atas Tanah 5.1.2.2.1 Instalasi Aerial Cable... 5.1.3 Standard Feeder.. ii iii v vii viii 1 1 1 1 1 1 1 3 7 7 9 9 9 9 9 12 13 13 13 13 13 14 14 14 15 15 15 15 16 17 17 17 17 17 17 17 18 18 18 v
DAFTAR ISI 5.2 Konfigurasi ODF/FTM. 5.2.1 Desain ODF.. 5.2.2 Konfigurasi di FTM.. 5.3 Desain ODC.. 6 DESAIN KABEL DISTRIBUSI 6.1 Pengaturan Desain Distribusi 6.1.1 Konfigurasi Segment Distribusi 6.1.2 Moda/Pola Penggelaran Distribusi.. 6.1.2.1 Bawah Tanah 6.1.2.1.1 Menggunakan Duct System 6.1.2.1.2 Menggunakan Microduct System. 6.1.2.2 Atas Tanah 6.1.2.2.1 Menggunakan Aerial System. 6.1.3 Standard Desain Kabel Distribusi.. 6.1.3.1 Duct System.. 6.1.3.2 Micro Duct System... 6.1.3.3 Aerial System 7. DESAIN KABEL PENANGGAL.. 7.1 Pengaturan Desain Penanggal/Drop Kabel 7.1.1 Konfigurasi Kabel Penanggal/Drop Kabel... 7.1.2 Moda/Pola Penggelaran Distribusi 7.1.3 Standard Kabel Penanggal/Drop Kabel 7.2 Contoh Desain Kabel Penanggal.. 7.3 Panduan PSB/IKR 7.3.1 Pengaturan di Segmen PSB dan IKR... 8. DESAIN LOKASI.. 8.1 Desain Lokasi FTTH 8.2 Panduan Desain untuk Jaringan FTTH 8.2.1 Inisialisasi dan Survey Demand. 8.2.2 Membuat Skema Duct FO.. 8.2.3 Membuat Skema Feeder FO.. 8.2.4 Survey Lokasi 8.2.5 Plotting Lokasi ODC & ODP... 8.2.6 Penentuan Jalur & Bundeling Kabel Distribusi 8.2.7 Membuat Peta Lokasi Distribusi 8.2.8 Membuat Skema Kabel FO Distribusi.. 8.2.9 Penghitungan Volume BoQ 9. LEGENDA. DAFTAR PUSTAKA 18 18 19 19 21 21 21 22 22 22 22 23 23 23 23 24 25 27 27 27 27 27 28 29 29 30 30 32 32 33 33 34 35 36 36 37 37 47 49 vi
DAFTAR GAMBAR DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Gambar 34. Gambar 35. Gambar 36. Gambar 37. Gambar 38. Konfigurasi Jarlokat dan Jarlokaf.. Segmen Segmen Catuan pada Jaringan FTTH.. Konfigurasi Desain FTTH berdasarkan penempatan PS.. Contoh Perhitungan Link Budget... Modus Aplikasi FTTH.. Topologi FTTx (ITU-T G.984.2). Upstream dan Downstream pada FTTH.. Contoh Material FTTH. Elemen Feeder (Segmen A)... Konfigurasi Ring... Konfigurasi Star Konfigurasi Bus. Desain ODF.. Konfigurasi FTM... ODC Diagram Konstruksi ODC Elemen Distribusi (Segmen B)... Konfigurasi Kabel Distribusi Konfigurasi Duct System. Micro Duct System... Aerial System Elemen Kabel Drop/Penanggal (Segmen C)... Desain Kabel Penanggal Instalasi Dalam Pipa... Desain Kabel Penanggal Instalasi dengan Penggantung. Contoh Konfigurasi PSB/IKR.. Desain HRB 1... Desain HRB 2... Desain HRB 3... Desain Residence dengan Duct System.. Desain Residence dengan Aerial System Peta Rencana Pembangunan FTTH. Skema Duct FO Skema Kabel Feeder FO Site Plan/Kertas Kerja. Contoh Plotting ODP dan ODC.. Jalur & Bundeling Kabel Distribusi Peta Lokasi Distribusi.. Skema Kabel Distribusi... 7 8 8 10 12 12 13 14 15 16 16 17 18 19 19 20 21 21 24 25 26 27 28 28 29 30 30 31 31 31 32 33 34 34 35 36 36 37 vii
DAFTAR TABEL Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. DAFTAR TABEL Loss Maksimum List of Material FTTH... Standard IEC untuk Desain & Spesifikasi Teknik Microduct BoQ FTTH. 10 14 24 37 viii
UMUM 1. UMUM 1.1 Latar Belakang Latar belakang dari penyusunan panduan desain FTTH adalah sebagai berikut : 1.2 Program Master Plan MP3EI Road Map INSYINC 2014 Program IDN (Indonesia Digital Network) Implementasi teknologi FTTH untuk program modernisasi Akses, solusi backhaul Node B & WiFi dan Solusi Enterprise Program TELKOM 15.10.5.1 Broadband pada tahun 2013 Belum adanya guidance untuk Desain, Construction dan OM FTTH Perlu updating PPJFO 2010 Ruang Lingkup Ruang lingkup dari pedomaan desain FTTH ini adalah untuk menjelaskan/membahas tentang langkah langkah desain, menentukan material dan perangkat akses yang digunakan pada FTTH baik di Gedung/Building, Rumah/Home maupun Tower. 1.3 Maksud dan Tujuan 1.3.1 Maksud Panduan desain FTTH ini disusun dengan maksud diantaranya sebagai berikut : Sebagai acuan dalam melaksanakan pekerjaan pendesainan FTTH di lingkungan Telkom. Memberikan penjelasan tentang prosedur desain dan tata caranya yang benar. Sebagai sarana pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) baik internal Telkom maupun Mitra dalam membuat desain jaringan FTTH end to end. 1.3.2 Tujuan Tujuan Panduan Desain FTTH ini diantaranya sebagai berikut : 1.4 Mendukung Road Map INSYINC 2014 Mendukung Program IDN (Indonesia Digital Network) Menjamin suksesnya program 15.10.5.1 Broadband di Indonesia pada tahun 2013, yang terdiri atas : o 15 juta Homepass o 10 Juta Voice dengan Broadband Connected (Prewired) o 5 Juita LIS Broadband o 1 Juta Access Point Wifi Menyusun guidance desain FTTH Menjamin kualitas dan suksesnya implementasi FTTH Singkatan AC : Air Conditioner ADSL : Asymmetric Digital Subcriber Line APC : Angle Phsycal Contact AVO Meter : Ampere, Volt, Ohm Meter 1
UMUM BNC : British Naval Connector BTS : Base Transceiver Station BoQ : Bill of Quantity CATV : Community Antenna Television CPE : Costumer Premise Equipment CT : Central Terminal DDF : Digital Distributiuon Frame DP : Distribution Point DSLAM : Digital Subcriber Line Access Multiplexer EMI : Electro Magnetic Interface EMP : Electronic Marking Post FC : Ferrule Connector FDF : Fiber Distribution Frame FITL : Fiber In The Loop FO : Fiber Optic FTTB : Fiber To The Building FTTC : Fiber To The Curb FTTH : Fiber To The Home FTTZ : Fiber To The Zone GPON : Gygabit Passive Optical Network HDPE : High Density Polyethyline HRB : High Rise Building IC : Intermediate Crossconnect IKG : Instalasi Kabel Gedung IKK : Instalasi Kabel Kawasan IKP : Instalasi Kabel Pelanggan IKR : Instalasi Kabel Rumah IPTV : Internet Protocol Television IPDSLAM : Internet Protocol Digital Subcriber Line Access Multiplexer IOR : Index Of Refraction JARLOKAF : Jaringan Lokal Akses Fiber JARLOKAT : Jaringan Lokal Akses Tembaga JARLOKAR : Jaringan Lokal Akses radio KAF : Kabel Akses Fiber Optik KPA : Kotak Pembagi Antara KPP : Kotak Pembagi Pilar KPPT : Kotak Pembagi Permukaan Tanah KPTP : Kotak Pembagi Terminal Post KLPA : Kabinet Luar untuk Perangkat Aktif KTB : Kotak Terminal Batas LAN : Local Area Network LED : Light Emmiting Diode LOS : Line Of Sight MC : Main Crossconnect MCB : Main Circuit Breaker MDF : Main Distribution Frame MEA : Metro Ethernet Access MFDF : Main Fiber Distribution Frame Modem : Modulator dan Demodulator 2
UMUM MSAN : Multi Service Access Network MSOAN : Multi Service Optical Access Network ODC : Optical Distribution Cabinet ODF : Optical Distribution Frame ODN : Optical Distribution Network ODP : Optical Distribution Point OLT : Optical Line Terminal ONT : Optical Network Termination ONU : Optical Network Unit OSP : Outside Plant OTB : Optical Termination Block OTDR : Optical Time Domain Reflecto OTP : Optical Termination Premises PABX : Private Area Branch Exchange PC : Phsycal Contact POTS : Plain Old Telephone Service PPJAFO : Panduan Pemasangan Jaringan Akses Fiber Optik PPJT : Panduan Pemasangan Jaringan Telekomunikasi PVC : Poly Vinyl Chlorid PON : Passive Optical Network PS : Passive Splitter QAM : Quadrature Amplitude Modulation QPSK : Quadrature Phase Shift Keying R2BB : Ready To Broadband RFI : Radio Frequency Interference RK : Rumah Kabel RT : Remote Terminal SC : Standard Connector SIP : Session Initiation Protocol ST : Straight Tip STB : Set Top Box STEL : Standar Telekomunikasi STP : Shielded Twisted Pair STO : Sentral Telepon Otomat TC : Telecommunications Closet TDM : Time Division Multiplexing TIME : Telecomunication, Information, Multimedia and Edutaiment TO : Telecommunications Outlet TR : Telecommunication Room UTP : Unshielded Twisted Pair WA : Work Area Xdsl : X Digital Subscriber Line 1.5 Daftar Istilah Aerial Distribusi : Kabel udara fiber optik yang diterminasi di ODC dan ODP Aerial Drop : Kabel udara fiber optik yang diterminasi di ODP dan OTP 3
UMUM Distribution Point (DP) : Bagian dari jaringan akses tembaga yang berfungsi sebagai titik sambung dimana pada satusisi diterminasikan kabel sekunder/kabel catu langsung dan pada sisi lainnya diterminasikan kabel saluran penanggal (Drop Wire). Jaringan Akses : Seluruh jaringan transmisi antara sentral lokal dan terminal pelanggan. Jaringan Lokal Akses Fiber Kabel Distribusi Kabel Drop Kabel Feeder Kabel Indoor Kabel Duct Kabel Tanam Langsung Kabel Tieline LVD (Low Voltage Disconect) LPF (Line Power Filter) : Sekumpulan jaringan akses yang menggunakan kabel fiber optik. : Kabel fiber optik yang diterminasi di ODC dan ODP : Kabel fiber optik yang diterminasi di ODP dan OTP : Kabel fiber optik yang diterminasi di ODF dan ODC : Kabel fiber optik yang diterminasi di OTP dan Roset optik. : Kabel tanah yang dalam pemasangannya harus diletakkan dalam pipa-pipa dibawah permukaan tanah (STEL-K008 dan STEL-K009) : Kabel tanah yang dalam pemasangannya ditanam secara langsung di bawah permukaan tanah (STEL- K-007) : Kabel-kabel yang dipasang untuk menghubungkan antara dua perangkat jaringan yang berbeda tetapi dalam satu level. : Salah satu fungsi pada rectifier untuk menjaga batere dari over discharge. : Salah satu fungsi pada rectifier untuk menstabilkan tegangan catuan dan memproteksi dari tegangan kejut. Mediation Device (MD) : Perangkat yang dipergunakan untuk menghubungkan perangkat OLT ke sistem manajemen jaringan. ODC (Optical Distribution Cabinet) Optical Distribution Frame (ODF) : Tempat terminasi antara kabel feeder dan kabel distribusi : Titik terminasi kabel fiber optik, sebagai tempat peralihan dari kabel fiber optik outdoor dengan kabel fiber optik indoor dan sebaliknya. Fungsi lainnya sebagai titik koneksi perangkat ke ODN dan sebagai titik cross connect antara ODF-ODF. Wujud dari 4
UMUM ODF adalah berbentuk rak dan dipasang di sisi sentral maupun disisi pelanggan (HRB). Optical Distribution Network (ODN) Optical Line Terminal (OLT) Optical Management Optical Network Unit (ONU) : Suatu jaringan transmisi kabel fiber optik antara perangkat OLT dan ONU. : Jenis perangkat aktif yang merupakan sub system dari Optical Access Network yang berdasarkan teknologi PON, berfungsi sebagai antarmuka sentral dengan jaringan yang dihubungkan ke satu atau lebih jaringan distribusi optik. : Merupakan sistem pendukung kegiatan operasi pemeliharaan dengan kemampuan untuk mengukur serta memonitor fluktuasi : Jenis perangkat aktif yang merupakan sub system dari Optical Access Network yang berdasarkan kepada teknologi PON, berfungsi sebagai antarmuka pengguna dengan jaringan yang dihubungkan ke satu jaringan distribusi optik (ODN). Perangkat aktif yang ditempatkan di sisi jaringan/fttc atau disisi pelanggan (FTTB/FTTH) yang masih membutuhkan perangkat tambahan untuk tiap layanan. ONT (Optical Network Termination) OTP (Optical Termination Premisis) Optical Rosset PIT : Perangkat aktif yang ditempatkan di sisi pelanggan dan telah dilengkapi port-port layanan (RJ-11,RJ-45, RF) : Tempat terminasi antara kabel drop dan kabel indoor : Merupakan perangkat tempat terminasi antara kabel indoor dan patchcord atau pig tail yang tersambung ke terminal ONT (Optical Network Terminal). : Lubang yang dibuat dengan ukuran tertentu sesuai kebutuhan yang digunakan untuk keperluan pekerjaan boring mesin atau boring manual atau rojok Passive Optical Network (PON) Passive Splitter (PS) : Salah satu jenis teknologi akses fiber optik yang menggunakan konfigurasi Point to Multipoint. : Suatu perangkat pasif dalam suatu jaringan PON yang berfungsi sebagai pencabangan dari satu 5
UMUM saluran fiber optik menjadi beberapa saluran fiber optik dan umumnya diletakan antara OLT dan ONU. Patchcord : Seutas fiber optik berisi 1 (satu) core atau lebih yang mempunyai pelindung fiber sendiri dan dilengkapi 2 (dua) buah konektor pada kedua ujungnya. Pigtail : Seutas fiber optik berisi 1 (satu) core mempunyai pelindung fiber sendiri dan dilengkapi hanya 1 (satu) buah konektor pada salah satu ujungnya. Remote Terminal (RT) : Perangkat aktif pada jaringan akses fiber optik yang berdasarkan teknologi DLC yang peletakannya dilaksanakan disisi pelanggan. Rumah Kabel (RK) : Bagian yang penting dari struktur jaringan kabel yang berfungsi diantaranya sebagai titik terminasi akhir dari jaringan kabel primer, titik terminasi awal dari jaringan kabel sekunder dan titik terminasi awal/akhir dari Kabel Tie Line. Shelter Tieline UVD (Up Voltage : Bangunan permanen yang sengaja dibuat untuk menempatkan perangkat-perangkat akses. : Kabel penghubung yang penyambungkan perangkat yang satu level : Salah satu fungsi pada rectifier untuk membatasi tegangan yang berlebihan. Disconnect) 6
rur rur PA ROLINT 8000 DATAX ez128 KTA HPJ1401A PoC 080 ve DATAX ez128 KTA I ES C DL T ERDR RS/CC SSOT/ SD AL MT ES SD RD/RC T D1/ I ER R- 8 4 2 OV F32 16 ER R- OV F32 16 HPJ1401A PoC 080 ve ERDR RS/CC SSOT/ AL MT ES RD/RC T D1/ 8 4 2 SD P WR SD SD P WR SD Pr ofesionalwor ksatiton60 Pr o f e s sio n a l W o r k sa ti to n 6 0 0 0 PR O SD PR O SD DIVISI AKSES PENGENALAN FTTH 2. PENGENALAN FTTH 2.1 Pengertian Desain FTTH FTTH dapat didefinisikan sebagai arsitektur jaringan optic mulai dari sentral office (STO) hingga ke perangkata pelanggan, sedangkan desain berasal dari kata Desaino dalam bahasa Itali yang artinya adalah suatu gambar yang mengandung arti atau bermakna, jadi dalam bahasan disini desain merupakan suatu seni yang dituangkan dalam bentuk gambar dan mengandung arti, tentu didalamnya terdapat keterangan- keterangan seperti dimensi, symbol symbol yang digunakan, penamaan, spesifikasi, ukuran dan lain lain tergantung desain apa yang ditampilkan. Sebelum penjelasan lebih lanjut terlebih dahulu lihat analogi dari jarlokat dengan jarlokaf, seperti gambar dibawah ini. MO DE RAT E E E R RS T NS R 01 ++ MO DE RAT E E E R RS T NS R 01 ++ Gambar 1. Konfigurasi Jarlokat dan Jarlokaf Dalam jaringan akses fiber / FTTH sama hal seperti pada jaringan akses tembaga dimana terdapat segmen segmen catuan, pada jaringan FTTH terdapat Catuan Kabel Feeder, Catuan Kabel Distribusi, Catuan Kabel Drop dan Catuan kabel Indoor dan peraqngkat aktif seperti OLT dan ONU/ONT seperti pada gambar dibawah ini: 7
PENGENALAN FTTH DAF S egmen A Segmen B Segmen C Segmen D OLT OD F OD C OD P OT P R OSET M E fo Feeder fo D is trib u s i fo D ro p In d o o r ON T P a th c o rd P a th c o rd ST B Gambar 2. Segmen Segmen Catuan pada Jaringan FTTH Keterangan Gambar : Segmen A : Catuan kabel Feeder Segmen B : Catuan kabel Distribusi Segmen C : Catuan kabel Penanggal/Drop Segmen D : Catuan kabel Rumah/Gedung Dalam mendesain jaringan FTTH sangat perlu diketahui tentang teknologi perangkat aktifnya, karena ada kaitannya dengan penggunaan core optik, Pada panduan atau Panduan disini teknologi yang digunakan adalah GPON. Didalam konfigurasi desain FTTH ini terdapat passive spliter yang penempatannya bisa di ODF, ODC maupun di ODP tergantung dari kondisi demandnya. OLT ODN ONT Fiber Service Area Interface Central Switch Homerun Optical Line Termination 1x32 spliter Single Coupler Centralized Splitting Optical Line Termination Single Coupler 1x32 Spliter Access Terminal Distributed Splitting Optical Line Termination Distributed Couplers 1x4 Spliter 1x8 Spliter Gambar 3. Konfigurasi Desain FTTH berdasarkan penempatan PS Karena FTTH harus dapat dapat melayani bandwidth Up to 100 M maka Spliting maksimal yang diperbolehkan adalah sebanyak 32, sehingga kombinasi splitter dalam instalasi menjadi sebagai berikut : Single Stage menggunakan Spliter n:32 8
PENGENALAN FTTH Two Stage menggunakan kombinasi Spliter n:4 dan n:8, atau n:2 dan n:16. 2.2 Konsep Dasar Desain Dalam mendesain suatu jaringan FTTH harus mempertimbangkan berbagai aspek diantaranya layanan yang akan di delivery, pemilihan teknologi, keuntungan dan kerugian, cost serta analisa pasar serta pengembangan dimasa mendatang. 2.2.1 Memenuhi kebutuhan pasar Dalam mendesain jaringan harus disesuaikan dengan trend teknologi saat ini dan perkembangannya serta disesuaikan dengan kebutuhan calon pelanggan baik untuk saat ini maupun untuk masa mendatang. 2.2.2 Tepat sasaran Artinya dalam merencanakan pembangunan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada dilapangan serta untuk memenuhi kebutuhan demand yang baru, sehingga hasil dari pembangunan tidak mubazir, artinya sesuai dengan tata ruang master plan dari pengembang atau dari pemda dalam hal ini dinas tata kota. 2.2.3 Effektif & Effisien Dalam merancang desain harus mempertimbangkan cost atau aspek ekonomisnya, sehingga hasil pembangunan tidak berlebihan serta tepat guna. 2.3 Aturan Umum Desain FTTH Moda Penggelaran FTTH o Duct System untuk perumahan/hrb yang sudah menyiapkan SPBT dan di lokasi yang tidak dimungkinkan membangun Aerial System dengan potensi demand broadband yang tinggi o Aerial System: Untuk area perumahan dan kawasan BF dan optimalisasi Pole eksisting, o Microduct System: Untuk HRB dan perumahan yang tidak memungkinkan aerial dan duct. Link budget Jaringan fiber optik GPON dari OLT dan ONT adalah 28 db (GPON). Untuk mengantisipasi kebutuhan operasional (perbaikan jaringan FO) maka desain FTTH dengan maksimum redaman 25 db atau ekivalen dengan panjang fiber optik dari OLT sampai dengan ONT maksimum 17 km. 9
PENGENALAN FTTH Gambar 4. Contoh Perhitungan Link Budget Maksimum total panjang FO feeder untuk konfigurasi RING adalah 20 km Splitter Max 2 stage dengan konfigurasi 1 core feeder maks. ke 32 Home Pass/Lebih sesuai dengan link budget yang diperoleh, dengan aturan sbb.: o Secara umum menggunakan Two Stage (contoh penempatan splitter, splitter 1:4 di ODC dan 1:8 di ODP). o Single stage dipergunakan untuk: HRB, perumahan dimana semua rumah dipenuhi sampai dengan roset, demand terkonsentrasi dalam jumlah kecil, dan lokasi dengan jarak jangkauan yang jauh (Link budget kristis) Type connector yang digunakan per elemen adalah SC-UPC Type tiang yang digunakan untuk sistem aerial dapat menggunakan tiang beton atau tiang besi beserta aksesoris masing-masing tiang Kontribusi Loss Maksimum Per Elemen Tabel 1. Loss Maksimum NO. NETWORK ELEMENT BATASAN UKURAN 1 Kabel Max 0.35 db/km 2 Splicing Max 0.1 db 3 Connector Loss Max 0.25 db (Refer IEC 61300-3-34 Grade B attenuation) 4 Splitter 1:2 Max 3.70 db 10
PENGENALAN FTTH 5 Splitter 1:4 Max 7.25 db 6 Splitter 1:8 Max 10.38 db 7 Splitter 1:16 Max 14.10 db 8 Splitter 1:32 Max 17.45 db 11
DIVISIAKSES MODUS APLIKASI 3. MODUS APLIKASI Sesuai dengan definisinya jaringan fiber pada FTTH sampai dengan lokasi pelanggan, sehingga FTTH diaplikasikan pada Gedung bertingkat ( HRB ), Perumahan dan untuk layanan Backhaul. High Building Multi-Dwelling Villa Groups MODUS APLIKASI FTTH Gambar 5. Modus Aplikasi FTTH Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam menentukan modus aplikasi FTTH, yaitu sebagai berikut : Densitas pelanggan untuk saat ini dan masa mendatang. Jenis layanan yang diperlukan untuk saat ini dan kemungkinan perkembangannya di masa mendatang Teknologi yang akan dipilih untuk layanan Broadband dimasa depan apakah menggunakan ADSL, VDSL atau HFC, hal ini akan berpengaruh pada boundary area TKO. Gambar 6. Topologi FTTx (ITU T G.984.2) 12
DIVISIAKSES MODUS APLIKASI 3.1 Pembagian Modus Aplikasi FTTH 3.1.1 Fiber To The Building TKO terletak didalam gedung dan biasanya terletak pada ruang telekomunikasi di basement atau tersebar dibeberapa lantai, terminal pelanggan dihubungkan dengantko melalui kabel tembaga Inddor atau IKG, FTTB dapat dianalogikan dengan Daerah Catu Langsung pada jaringan kabel tembaga. 3.1.2 Fiber To The Home TKO terletak didalam rumah pelanggan, terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga Indoor atau IKR hingga beberapa puluh saja, FTTH dapat dianalogikan sebagai pengganti Terminal Blok ( TB ), Konfigusasi FTTH dapat dilihat pada gambar dibawah ini: 3.1.3 Fiber To The Tower TKO terletak didalam shelter dari pada Tower, terminal equipment system GSM/ CDMA dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga Indoor atau IKR hingga beberapa puluh saja, FTTH dapat dianalogikan sebagai pengganti Terminal Blok ( TB ). 3.2 Gambaran Upstream dan Downsteram FTTH Berikut merupakan gambaran upstream dan downstream pada FTTH dengan perangkat aktif GPON Gambar 7. Upstream dan Downstream pada FTTH 13
LIST of MATERIAL (LoM) 4. LIST of MATERIAL (LoM) 4.1 Tabel LoM yang dibutuhkan untuk FTTH Berikut adalah LoM yang dibutuhkan dalam desain jaringan FTTH, dibagi per segmen. Tabel 2. List of Material FTTH 4.2 Contoh Material FTTH Gambar 8. Contoh Material FTTH 14
DESAIN KABEL FEEDER 5. DESAIN KABEL FEEDER Kabel Feeder adalah kabel fiber optik yang menghubungkan antara 2 perangkat yaitu ODF disisi STO dan ODC dioutdoor, kabel feeder yang keluar dari STO minimal kapasitas 96 core baik untuk untuk sisstem Duct maupun aerial dengan type kabel G 652 D. 5.1 Pengaturan Desain Feeder 5.1.1 Konfigurasi Kabel Feeder Gambar 9. Elemen Feeder (Segmen A) Konfigurasi kabel feeder harus mempunyai system back up (Dual Route Preferred), dimana terminasi di STO dilakukan di FTM/ODF dan terminasi di luar STO dilakukan di ODC (outdoor/hrb). Konfigurasi kabel feeder bisa berbentuk Ring, Star dan Bus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan yang ada. 5.1.1.1Konfigurasi Ring Konfigurasi Ring digunakan apibila menginginkan system yang redundant dan kondisi geografis di lapangan memungkinkan untuk dibuat jaringan feeder berbentuk Ring. 15
DC G.652D, 24C 1750 m Deman d s.d 1152 HP DIVISI AKSES DESAIN KABEL FEEDER 49-96 49-96 ODC 576 97-120 ODC 288 97-120 STO ODC 576 FTM 1-48 1-48 121-144 121-144 ODC 288 ODC 288 ODC 288 157-168 157-168 145-156 145-156 Gambar 10. Konfigurasi Ring 5.1.1.2 Konfigurasi Star Konfigurasi Star menghubungkan semua kabel dari tiao ODP ke central point sebagai konsentrator yaitu ODC. ODC 288 241-264 193-240 Pathcord ODC 288 STO 01-264 01-264 DC G.652D, 48C 2001 m FTM ODC DC G.652D, 264C 1050 m 576 145-192 ODC 288 DC G.652D, 48C 851 m ODC 288 097-144 ODC 288 01-048 ODC 288 DC G.652D, 48C 2355 m DC G.652D, 96C 1275 m DC G.652D, 96C 1305 m 049-096 Gambar 11. Konfigurasi Star 16
DC G.652D, 264C 1050m DIVISI AKSES DESAIN KABEL FEEDER 5.1.1.3 Konfigurasi Bus Konfigurasi Bus digunakan apabila kondisi lapangan tidak mmemungkinkan di desain menggunakan Ring. STO HOST FTM ODC 288 DC G.652D, 264C 2500m ODC 576 DC G.652D, 264C 1250m ODC 288 DC G.652D, 264C 1750m ODC 288 Cad 2 4 core 217-264 121-216 73-120 25-72 Gambar 12. Konfigurasi Bus 5.1.2 Moda/Pola Penggelaran Feeder Secara umum pola penggelaran Feeder dibagi mmenjadi dua yaitu Instalasi Bawah Tanah dan Atas Tanah, sebagai berikut : 5.1.2.1 Bawah Tanah 5.1.2.1.1 Instalasi dengan subduct/microduct Instalasi ini dimanfaatkan untuk mengoptimalkan ketersediaan polongan duct eksisting dan untuk lokasi inner city. Adapun hal hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : 5.1.2.1.1.1 Menggunakan duct Kabel Feeder menggunakan Kabel FO Duct STEL K 015 dan diinstalasi melalui Route Duct MH Apabila pada area tersebut memiliki tersedia potensi polongan eksisting Sementara pembangunan Duct baru harus memiliki syarat sebagai berikut: o Terdapat minimal 5 buah feeder yang melewati rute feeder tersebut. o Rute feeder sudah terarah/tertata. Demand berpotensi berkembang selama minimal 30 Tahun 5.1.2.1.1.2 Menggunakan microduct Kabel Feeder menggunakan Kabel FO ABC diinstalasi dalam MD Apabila demand pada lokasi tersebut tidak berpotensi berkembang lagi, contoh : Perumahan Cluster dan tidak ada Duct Eksisting/Penuh Kelemahannya material masih import dan tenaga kerja khusus/terbatas 5.1.2.1.2 Instalasi Menggunakan Kabel Tanam Langsung/HDPE Instalasi ini digunakan untuk lokasi yang memungkinkan dilakukan penggalian/rojok dan tidak ada ketersediaan duct existing dengan ketentuan sebagai berikut : Kabel Tanam Langsung menggunakan Kabel HDPE. Apabila Demand lambat tumbuh untuk solusi jangka pendek selama minimal 3 Tahun dan tidak ada Duct Eksisting/Penuh. 17
DESAIN KABEL FEEDER 5.1.2.2 Atas Tanah 5.1.2.2.1 Instalasi Aerial Cable Instalasi ini digunakan untuk lokasi lokasi yang tidak memungkinkan dilakukan dengan cara duct, degnan ketentuan sebagai berikut : Kabel Feeder menggunakan KU diinstalasi melalui tiang2 route, kalau ada route Duct diusahakan kabel Feeder menggunakan kabel Duct. Apabila terdapat regulasi tidak boleh menggunakan kabel bawah tanah Demand lambat tumbuh 5.1.3 Standard Feeder Standard yang digunakan dalam penggelaran kabel Feeder adaalah sebagai berikut : Kedalaman Penggelaran kabel optic dengan cara HDPE minimal 1.5, dengan tetap memperhatikan peraturan/regulasi setempat. Kapasitas feeder dari STO minimal 96 core. Jenis kabel yang digunakan adalah kabel loose tube (bila maksimum 2 x 264 core) atau kabel Ribbon (bila kapasitas diatas 2 x 264 core). 5.2 Konfigurasi ODF/FTM 5.2.1 Desain ODF Cable management Frame Cable management FTB Splice Room ODF for OSP termination Grounding Bar system pentanahan Pathcord 5.2.2 Konfigurasi di FTM ODF for Equipment termination Gambar 13. Desain ODF 18
DESAIN KABEL FEEDER Adapun konfigurasi FTM di STO adalah sebagai berikut : 5.3 Desain ODC Gambar 14. Konfigurasi FTM Secara Garis besar pembagian space pada ODC adalah sebagai berikut : Spliter 1:4 Input Spliter Kabel Feeder Output Spliter Parking lot Kabel Distribusi XXXX XXXX Kabel Feeder Gambar 15. ODC Kabel Distribusi Dengan diagram konstruksi secara detail adalah sebagai berikut : 19
DESAIN KABEL FEEDER Gambar 16. Diagram Konstruksi ODC 20
DESAIN KABEL DISTRIBUSI 6. DESAIN KABEL DISTRIBUSI Kabel Distribusi adalah kabel fiber optik yang menghubungkan antara 2 perangkat yaitu ODC dengan ODP, apabila kesulitan untuk penempatan ODC dan demand yang dekat dengan catuan STO dimungkinkan juga menggunakan system Fiber Catu Langsung ( FCL ) Gambar 17. Elemen Distribusi (Segmen B) 6.1 Pengaturan Desain Distribusi 6.1.1 Konfigurasi Segment Distribusi Konfigurasi segment distribusi meliputi hal hal sebagai berikut : Segmen distribusi adalah perangkat diantara ODC sampai dengan ODP Pemasangan segmen distribusi harus menjangkau semua homepass dengan pemasangan ODP Closure secara bertahap. Pada tahap awal pemasangan fix ODP (type Pole, pedestal, wall) dapat dilakukan untuk lokasi yang sangat berpotensi. Dimungkinkan untuk menggunakan konfigurasi Fiber Catu Langsung apabila demand berdekatan dengan STO atau kesulitan dalam melakukan SITAC ODC. Gambar 18. Konfigurasi Kabel Distribusi 21
DESAIN KABEL DISTRIBUSI Keterangan Gambaar : Hanya 1 atau 2 core kabel yang turun ke ODP dan core lainnya dilewatkan tanpa sambungan (Konsep Kemudahan untuk dipetik). Konstruksi kabel distribusi menggunakan model satu selubung/tube berisi satu core Instalasi Splitter max di 2 sisi yaitu di ODC dan di ODP, sehingga 1 core dapat melayani maks. 32 pelanggan. Terminasi FO dari STO berada di ground level masing-masing tower dalam bentuk ODF/ODC (dengan splitter) dengan ODP dipasang dimasing-masing Lantai, dengan kapasitas ODP disesuaikan dengan jumlah tenant per lantai. Untuk type super block HRB menggunakan 2 stage splitter. 6.1.2 Moda/Pola Penggelaran Distribusi 6.1.2.1 Bawah Tanah 6.1.2.1.1 Menggunakan Duct System Duct system digunakan untuk perumahan/hrb yang sudah menyiapkan SPBT dan di lokasi yang tidak memunggkinkan membangun aerial system dengan potensi demand broadband yang tinggi. Yang harus diperhatikan pada saat mendesain dengan menggunakan duct system adalah sebagai berikut : Area kawasan/ruko atau perumahan yang tidak memungkinkan sistem aerial, kabel distribusi diterminasi di ODP pedestal maupun wall Kapasitas ODP yang digunakan adalah 8 sampai16 port dengan konfigurasi varian splitter Menggunakan handhole pit minimal di tiap 2 rumah. Hubungan antara handhole pit menggunakan pipa PVC 2 inch. Kabel distribusi dan kabel drop dilakukan di dalam pipa dengan kedalamam yang sama. Kedalam galian untuk kabel/duct disesuaikan dengan pengembang dengan minimal kedalaman 40 cm kebijakan Diijinkan untuk mendesain kabel distribusi duct yang dipetik ke tiang dan dapat diteruskan menggunakan tipe Aerial, Contoh: Area tersebut sudah memungkinkan menggunakan Aerial dan Masuk ke dalam suatu Gang. 6.1.2.1.2 Menggunakan Microduct system Microduct system digunakan untuk HRB dan perumahan yang tidak memungkinkan menggunakan system aerial maupun duct. Adapun yang harus diperhatikan dalam mendesain kabel distribusi dengan system microduct adalah sebagai berikut : Microduct system digunakan untuk lokasi dimana ada keterbatasan pembangunan dengan cara duct dan aerial Konsep microduct diarahkan untuk HRB atau kawasan dimana semua tenant/rumah akan dilayani FTTH sehingga dibutuhkan penarikan microduct ke semua lokasi tenant/perumahan dimana dibutuhan kualitas yang prima. 22
DESAIN KABEL DISTRIBUSI Terminasi ABF dilakukan di ODC dan di roset. Alokasi core cadangan sebanyak minimal 10. 6.1.2.2 Atas Tanah 6.1.2.2.1 Menggunakan Aerial System Aerial system digunakan untuk area perumahan di kawasan Brown Field dan optimalisasi pole existing. Adapun yang harus diperhatikan dalam mendesain kabel distribusi dengan system aerial adalah sebagai berikut : Sistem aerial adalah solusi dengan prioritas utama dalam perencanaan. Kapasitas ODP yang digunakan adalah 8/16 port dengan konfigurasi splitter 1:8/1:16 tergantung kebutuhan dan konfigurasi rencana. Terminasi kabel distribusi di ODP dilakukan dengan cara splicing per core menuju pigtail splitter. Keluaran dari ODP berupa port adaptor Drop cable yang diterminasi di ODP melalui pigtail. Alokasi core cadangan sebanyak minimal 2 Core untuk Kabel Distribusi 12 Core dan 4 Core untuk Kabel Distribusi 24 Core. 6.1.3Standard Desain Kabel Distribusi Secara umum standard dalam penggelaran kabel distribusi adalah sebagai berikut : Untuk duct system di area perumahan, kedalaman penggelaran kabel distribusi sama dengan kabel drop dengan tetap memperhatikan peraturan pengembang kawasan dan dinas tata kota setempat. Kapasitas distribusi dari 8 24 core. Jenis kabel G.652d. Kabel Indoor tanpa Jelly hanya digunakan di HRB (Perlu dibuatkan STEL). Secara spesifik berdasarkan pola penggelaran distribusi, standard penggelaran kabel distribusi adalah sebagai berikut : 6.1.3.1 Duct System Persyaratan bahan ODP sesuai dengan STEL- K-049-2008 versi 1 Jenis kabel Single Mode G.652d Felksibilitas tinggi dan mudah dalam penanganan gangguan. Mempunyai konstruksi selubung yang baik. Mempunyai struktur selubung per core (atau 1 tube untuk 1 core). Performansi kabel tidak berubah pada kondisi cuaca ekstrim -25oC sampai dengan +60oC. 23
DESAIN KABEL DISTRIBUSI 6.1.3.2 Micro Duct System Description Gambar.19 Konfigurasi Duct System Menggunakan jenis kabel G.652d Kapasitas kabel s.d 144 core. Desain dan spesifikasi teknik mengacu kepada standard IEC. Tabel 3. Standard IEC untuk Desain & Spesifikasi Teknik Microduct Unit No. Of Core 2 60 60-72 72-96 96-144 Jumlah fiber/tube x Jumlah tube - 12 X 5 12 X 6 12 X 8 12 X 12 Nominal Outer Dia mm 5,6 6,0 7,2 7,4 Nominal cable weight Kg/km 25 30 43 70 Max tensile load N 300 700 1000 1400 Temperature - Operation oc -25-60 -25-60 -25-60 -25-60 24
DESAIN KABEL DISTRIBUSI 6.1.3.3 Aerial System Gambar 20. Micro duct system Jenis Kabel G.652.d, Single mode fiber type Mempunyai Supporting wire/messenger wire yang terbuat dari bahan metal. Mempunyai tension member/strength member. Mempunyai pelindung core. Tahan terhadap suhu luar -25oC sampai dengan +60oC. Fiber: 0.5 mm-coated optical fiber. Mempunyai struktur selubung per core (atau 1 tube untuk 1 core). 25
DESAIN KABEL DISTRIBUSI Gambar 21. Aerial System 26
DESAIN KABEL PENANGGAL 7. DESAIN KABEL PENANGGAL Kabel Penanggal adalah kabel fiber optik yang menghubungkan antara 2 perangkat yaitu ODP dengan OTP. Gambar 22. Elemen Kabel Drop/Penanggal (Segmen C) 7.1 Pengaturan Desain Penanggal/Drop Kabel 7.1.1 Konfigurasi Kabel Penanggal/Drop Kabel Untuk konfigurasi yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : Segmen penanggal adalah kabel yang terhubung dari port ODP hingga port OTP atau Roset (Jika tidak ada OTP). Pada tahap awal pemasangan fix ODP (type Pole, pedestal, wall) dapat terhubung pada port di ODP yang menggunakan fusion conector atau fast conector begitu pula di OTP. Drop kabel yang digunakan baik 2 core maupun 1 core yang diatas tanah menggunakan Barier atau penguat kabel yang ditengahnya terdapat mesengger (untuk 2 core). 7.1.2 Moda/Pola Penggelaran Distribusi Untuk Duct System, saluran penanggal dipakai pada perumahan/hrb yang sudah menyiapkan SPBT. Saluran Penanggal aerial menjadi prioritas utama untuk area perumahan dan kawasan BF serta optimalisasi pole existing. 7.1.3 Standard Kabel Penanggal / Drop Kabel Untuk duct system di area perumahan, kedalaman penggelaran kabel distribusi sama dengan kabel drop dengan tetap memperhatikan peraturan pengembang kawasan dan dinas tata kota setempat. Kapasitas saluran penanggal dari 1 2 core. Jenis kabel G.657A/B. 27
DESAIN KABEL PENANGGAL 7.2 Contoh Desain Kabel Penanggal Gambar 23. Desain Kabel Penanggal Instalasi Dalam Pipa Gambar 24. Desain Kabel Penanggal Instalasi dengan Penggantung 28
DESAIN KABEL PENANGGAL 7.3 Panduan PSB/IKR 7.3.1 Pengaturan di Segmen PSB dan IKR Untuk efisiensi cost dan loss link budget sdrop cable digunakan dari ODP sampai dengan roset (optical outlet) di dalam rumah. Terminasi drop cable dengan roset dilakukan dengan cara splicing. Terminasi dari optical roset dengan ONT menggunakan patchcord. Penempatan roset dapat dilakukan di dinding maupun di meja disamping CPE. Untuk kerapian drop cable didalam rumah dapat dimasukkan dalam ducting rumah maupun ditutupi oleh tray cable. Standard Drop Cable dan patchcord adalah G.657. Gambar 25. Contoh konfigurasi PSB/IKR 29
DESAIN KABEL PENANGGAL 8. DESAIN LOKASI 8.1 Desain Lokasi FTTH Pada Panduan desain FTTH ini, desain lokasi dibagi menjadi 2 (dua) bagian besar yaitu desain untuk HRB dan desain untuk Residensial, seperti contoh pada gambar dibawah ini : Gambar 26. Desain HRB 1 Gambar 27. Desain HRB 2 30
DESAIN KABEL PENANGGAL Gambar 28. Desain HRB 3 Gambar 29. Desain Residence dengan Duct System Gambar 30. Desain Residence dengan Aerial System 31
DESAIN KABEL PENANGGAL Keterangan Gambar 30 di atas adalah sebagai berikut : Fixed Access System o Digunakan apabila demand di area yang dilewati kabel distribusi sudah fixed dan potensinya besar. (Demand mendahului Alpro) Free Access System o Digunakan apabila demand di area yang dilewati kabel distribusi masih mungkin berkembang dan lokasi demand belum fixed. (Alpro mendahului Demand/Leading Supply) 8.2 Panduan Desain untuk Jaringan FTTH 8.2.1 Inisialisasi dan Survey Demand Langkah langkah inisialisasi adalah sebagai berikut : Klasifikasi demand DSLAM, VD 10, 20, 50, 100 Mbps Buat perencanaan dengan berdasarkan (Speeds, distances) Buat desain yang didalamnya terdapat nama jalan, poles, duct system, nomor kabel. Gambar 31. Peta Rencana Pembangunan FTTH 32
DESAIN KABEL PENANGGAL 8.2.2 Membuat Skema Duct FO Dari Peta Rencana Pembangunan FTTH dibuat skema duct, sebagai berikut : 8.2.3 Membuat Skema Feeder FO Gambar 32. Skema Duct FO Skema Feeder FO kita buat berdasarkan skema duct FO yang telah dibuat sebelumnya, kapasitas kabel feeder adalah 144 core dan ditarik dari STO (kabel baru), dengan asumsi kabel existing pada jalur tersebut telah habis terpakai. 33
DESAIN KABEL PENANGGAL 8.2.4 Survey Lokasi Gambar 33. Skema Kabel Feeder FO Pada contoh penggelaran FTTH ini survey dilakukan pada lokasi FTTH Area 1 dengan membuat site plan sesuai dengan hasil survey sebagai berikut : Gambar 34. Site Plan/Kertas Kerja 34
DESAIN KABEL PENANGGAL 8.2.5 Plotting Lokasi ODC & ODP Dari peta lokasi atau kertas kerja yang ada, kemudian dapat dilakukan plotting letak ODP ODP yang akan mencatu masing masing unit rumah, dan plotting letak ODC yang akan mencatu masing masing ODP, dalam peletakan ODP sebaiknya diletakan di batas persil antar dua rumah, sedangakan peletakan ODC disesuaikan dengan kondisi dilapangan yang memungkinkan serta pertimbangan lainnya seperti perijinan, operasional serta pengembangan / ekspansi dimasa mendatang. Gambar 35. Contoh Plotting ODP dan ODC 35
DESAIN KABEL PENANGGAL 8.2.6 Penentuan Jalur & Bundeling Kabel Distribusi Setelah lokasi ODP dan ODC ditentukan maka dapat dilakukan penentuan jalur dan bundeling kabel distribusi sebagai berikut : Gambar 36. Jalur & Bundeling Kabel Distribusi 8.2.7 Membuat Peta Lokasi Distribusi Setelah jalur dan bundeling kabel distribusi ditentukan, maka selanjutnya dibuat Peta Lokasi Distribusi sebagai berikut : Gambar 37. Peta Lokasi Distribusi 36
DESAIN KABEL PENANGGAL 8.2.8 Membuat Skema Kabel FO Distribusi Dari Peta lokasi Distribusi, kemudian dikembangkan menjadi skema kabel FO distribusi sebagai berikut : 8.2.9 Penghitungan Volume BoQ Gambar 38. Skema Kabel Distribusi Dari langkah langkah desain diatas, untuk mengetahui jumlah material dan biaya yang diperlukan untuk penggelaran FTTH dimaksud maka gambar gambar tersebut harus dituangkan dalam bentuk table (BoQ). Adapun BoQ FTTH yang dimaksud adalah sebagai berikut : Tabel 4. BoQ FTTH NO DESAINATOR URAIAN PEKERJAAN SATUAN Vol Total A KABEL & PENYAMBUNGAN 1 DC-OF-SM-12D Pengadaan dan pemasangan Kabel Duct Fiber Optik Single Mode 12 core G 652 D (termasuk perijinan PEMDA, PU, Warga) 2 DC-OF-SM-24D Idem 24 core 3 DC-OF-SM-48D Idem 48 core 4 DC-OF-SM-96D Idem 96 core 5 DC-OF-SM-144D Idem 144 core 6 DC-OF-SM-288D Idem 288 core 37
DESAIN KABEL PENANGGAL 7 DC-OF-SM-432D Idem 432 core 8 DC-OF-SM-960D Idem 960 core 9 AC-OF-SM-12D Pengadaan dan pemasangan Kabel Udara Fiber Optik Single Mode 12 core G 652 D (termasuk perijinan PEMDA, PU, Warga) 10 AC-OF-SM-24D Idem 24 core 11 AC-OF-SM-48D Idem 48 core 12 AC-OF-SM-96D Idem 96 core 13 DC-OF-SM-12C Pengadaan dan pemasangan Kabel Duct Fiber Optik Single Mode 12 core G 655 C (termasuk perijinan PEMDA, PU, Warga) 14 DC-OF-SM-24C Idem 24 core 15 DC-OF-SM-48C Idem 48 core 16 DC-OF-SM-96C Idem 96 core 17 AC-OF-SM-12C Pengadaan dan pemasangan Kabel Udara Fiber Optik Single Mode 12 core G 655 C (termasuk perijinan PEMDA, PU, Warga) 18 AC-OF-SM-24C Idem 24 core 19 AC-OF-SM-48C Idem 48 core 20 AC-OF-SM-96C Idem 96 core 21 DC-OF-SM-8-SC Pengadaan dan pemasangan Kabel Duct Fiber Optik Single Mode 8 core G 652 D, "Easy to split" (termasuk perijinan PEMDA, PU, Warga) 22 DC-OF-SM-12-SC Idem 12 Core 23 DC-OF-SM-24-SC Idem 24 Core 24 AC-OF-SM-8-SC Pengadaan dan pemasangan Kabel Udara Fiber Optik Single Mode 8 core G 652 D, "Easy to split" (termasuk perijinan PEMDA, PU, Warga) 25 AC-OF-SM-12-SC Idem 12 Core 26 AC-OF-SM-24-SC Idem 24 Core 27 SC-OF-SM-24 Pengadaan dan pemasangan alat sambung (cabang/ lurus) untuk Fiber Optik kapasitas 12-24 core 28 SC-OF-SM-48 Idem 12-48 core 29 SC-OF-SM-96 Idem 12-96 core 30 SC-OF-SM-144 Idem 12-144 core 31 SC-OF-SM-288 Idem 12-288core 32 OS-SM-1 Eks 33 OS-SM-6 Penyambungan Kabel Optik Single Mode kap 1 core dengan cara fusion splice Penyambungan Kabel Optik Single Mode kap 6 core dengan cara fusion splice 34 OS-SM-12 Idem kap 12 core 35 OS-SM-24 Idem kap 24 core 36 OS-SM-48 Idem kap 48 core 37 OS-SM-96 Idem kap 96 core 38 OS-SM-144 Idem kap 144 core 39 OS-SM-288 Idem kap 288 core core 38
DESAIN KABEL PENANGGAL 40 AB-OF-SM-2D Pengadaan dan pemasangan Air Blown Cable Optik, Single Mode 2 core, G 652 D (termasuk perijinan PEMDA, PU, Warga) 41 AB-OF-SM-4D Idem 4 core 42 AB-OF-SM-8D Idem 8 core 43 AB-OF-SM-12D Idem 12 core 44 AB-OF-SM-24D Idem 24 core 45 AB-OF-SM-48D Idem 48 core 46 AB-OF-SM-72D Idem 72 core 47 AB-OF-SM-96D Idem 96 core 48 AB-OF-SM-144D Idem 144 core 49 GC-OF-SM-1D Pengadaan dan pemasangan Drop Cable FO Duct /under ground 1 Core Single Mode, G.657 50 GC-OF-SM-2D idem 2 core 51 HC-OF-SM-1D Pengadaan dan pemasangan Drop Cable FO atas tanah /aerial 1 Core Single Mode, G.657 52 HC-OF-SM-2D idem 2 core 53 IC-OF-SM-1D Pengadaan dan pemasangan Indoor Cable FO Single Mode 1 core, G.657 54 IC-OF-SM-2D Idem 2 core 55 PC-SC-2-BI 56 PC-SC-5-BI 57 PC-SC-2 58 PC-SC-5 59 PC-SC-10 60 PC-SC-20 61 PC-FC-20 62 PC-SC-30 63 PC-FC-30 64 PC-SC-40 65 PC-FC-40 66 PC-SC-2 67 PC-SC-5 68 PC-SC-10 Patch cord 2, Bend Insensitive (SC/APC To SC/UPC) dari Roset ke ONT, G.657 Patch cord 5, Bend Insensitive (SC/APC To SC/UPC) dari Roset ke ONT, G.657 Patch cord 2, (SC/APC To SC/APC), G.657 Patch cord 5 (SC/APC To SC/APC), G.657 Patch cord 10 (SC/APC To SC/APC), G.657 Patch cord 20 (SC/APC To SC/APC), G.657 Patch cord 20 (FC/APC To FC/APC), G.657 Patch cord 30 (SC/APC To SC/APC), G.657 Patch cord 30 (FC/APC To FC/APC), G.657 Patch cord 40 (SC/APC To SC/APC), G.657 Patch cord 40 (FC/APC To FC/APC), G.657 Patch cord 2, (SC/UPC To SC/UPC), G.657 Patch cord 5 (SC/UPC To SC/UPC), G.657 Patch cord 10 (SC/UPC To SC/UPC), G.657 69 PC-SC-20 Patch cord 20 (FC/UPC To FC/UPC), 39
DESAIN KABEL PENANGGAL 70 71 72 73 74 75 PC-FC-20 PC-SC-30 PC-FC-30 PC-SC-40 PC-FC-40 PC-FC-40 G.657 Patch cord 20 (SC/UPC To SC/UPC), G.657 Patch cord 20 (FC/UPC To FC/UPC), G.657 Patch cord 30 (SC/UPC To SC/UPC), G.657 Patch cord 30 (FC/UPC To FC/UPC), G.657 Patch cord 40 (SC/UPC To SC/UPC), G.657 Patch cord 40 (FC/UPC To FC/UPC), G.657 B 76 77 78 79 NODE TERMINAL ODC-C-144 Splitter ODC-C-288 Splitter ODC-C-576 Splitter ODC -C- 48 Splitter Pengadaan dan pemasangan kabinet ODC (Outdoor) kap 144 core dengan space untuk spliter modular termasuk material adaptor SC/UPC, pigtail, pondasi berlapis keramik, lantai kerja, patok pengaman (5 buah), berikut pelabelan Pengadaan dan pemasangan kabinet ODC (Outdoor) kap 288 core dengan space untuk spliter modular termasuk material adaptor SC/UPC, pigtail, pondasi berlapis keramik, lantai kerja, patok pengaman (5 buah), berikut pelabelan Pengadaan dan pemasangan kabinet ODC (Outdoor) kap 576 core dengan space untuk spliter modular termasuk material adaptor SC/UPC, pigtail, pondasi berlapis keramik, lantai kerja, patok pengaman (5 buah), berikut pelabelan Pengadaan dan pemasangan ODC-Pole ( Outdoor ) with space for passive spliter, adaptor SC/UPC kap 48 core, berikut pelabelan Pengadaan dan pemasangan ODP type 80 ODP-CU-8 Closure Underground Kap 8 core with space for splitter, Adapter SC/UPC 81 ODP-CU-16 idem 16 core Pengadaan dan pemasangan ODP type 82 ODP-CA-8 Closure Aerial Kap 8 core berikut space pasive spliter (1:8), adapter SC/UPC,berikut pelabelan Pengadaan dan pemasangan ODP type 83 ODP-CA-16 Closure Aerial Kap 16 core berikut space 2 pasive spliter (1:8), adapter SC/UPC,berikut pelabelan 40
DESAIN KABEL PENANGGAL 84 ODP-A-8 85 ODP-A-16 86 ODP-A-24 87 ODP-A-48 88 ODP-PL-8 89 ODP-PL-16 90 TC-SM-12 Pengadaan dan pemasangan ODP type Indoor/wall Kap 8 core berikut space pasive spliter (1:8), adapter SC/UPC,berikut pelabelan Pengadaan dan pemasangan ODP type Indoor/wall Kap 16 core berikut space 2 pasive spliter (1:8), adapter SC/UPC,berikut pelabelan Pengadaan dan pemasangan ODP type Indoor/wall Kap 24 core berikut space 3 pasive spliter (1:8), adapter SC/UPC,berikut pelabelan Pengadaan dan pemasangan ODP type Indoor/wall Kap 48 core berikut space 6 pasive spliter (1:8), adapter SC/UPC,berikut pelabelan Pengadaan dan pemasangan ODP ( Pilar ) kap 8 core termasuk pigtail, berikut space 1 splitter (1:8), pelabelan. Pengadaan dan pemasangan ODP ( Pilar ) kap 16 core termasuk pigtail, berikut space 2 splitter (1:8), pelabelan. Pengadaan dan Pemasangan OTB termasuk terminasi dan penyambungan kabel optik Single mode kap 12 core serta Adapter (SC Connector), pigtail dan protection sleeve pada cassette/box 91 TC-SM-24 Idem 24 core 92 TC-SM-48 Idem 48 core 93 TC-SM-72 Idem 72 core 94 TC-SM-96 Idem 96 core 95 TC-SM-144 Idem 144 core 96 RS-IN-SC-1P Pemasangan dan terminasi Roset/Indoor Optical Outlet with SC Adaptor - kap 1 port berikut pigtail 97 RS-IN-SC-2P idem 2 port 98 RS-IN-SC-4P idem 4 port 99 TC-MK-SC-1P Roset Optik Modular Keystone ( Ditanam ditembok ) dengan SC Adaptor kap 1 port 100 TC-MK-SC-2P idem 2 port Unit 101 TC-MK-SC-4P idem 4 port Unit 102 PS-1-2-ODC Pengadaan dan pemasangan Passive Splitter 1:2, type modular, for ODC, termasuk pigtail 103 PS-1-4-ODC Idem, 1 : 4 104 PS-1-8-ODC Idem, 1 : 8 105 PS-1-16-ODC Idem, 1 : 16 106 PS-1-32-ODC Idem, 1 : 32 107 PS-1-2-ODP Pengadaan dan pemasangan Passive Splitter 1:2, type PLC/Modular, for ODP, termasuk adaptor Unit 41
DESAIN KABEL PENANGGAL 108 PS-1-4-ODP Idem, 1 : 4 109 PS-1-8-ODP Idem, 1 : 8 110 PS-1-16-ODP Idem, 1 : 16 111 PS-1-32-ODP Idem, 1 : 32 112 PS-2-2-ODP 113 PS-2-4-ODP Idem, 2 : 4 114 PS-2-8-ODP Idem, 2 : 8 Pengadaan dan pemasangan Passive Splitter 2:2, type Modular, for ODP, termasuk adaptor 115 PS-2-16-ODP Idem, 2 : 16 116 PS-2-32-ODP Idem, 2 : 32 117 PS-2-2-ODP Pengadaan dan pemasangan Passive Splitter 2:2, type PLC/Modular, for ODP, termasuk adaptor 118 PS-2-4-ODP Idem, 2 : 4 119 PS-2-8-ODP Idem, 2 : 8 120 PS-2-16-ODP Idem, 2 : 16 121 PS-2-32-ODP Idem, 2 : 32 122 SITAC ODC Akuisisi Lahan SITAC ODC Node ALUR KABEL 123 PU-S7.0-140 124 PU-S9.0-140 125 PU-C9.0-300 126 GU-G 127 PU-SB-7.0-140 Pengadaan dan Pemasangan Tiang Besi 7, berikut cat & cor pondasi dan assesories - kekuatan tarik 140 kg Pengadaan dan Pemasangan Tiang Besi 9, berikut cat & cor dan assesories - kekuatan tarik 140 kg Pengadaan dan Pemasangan Tiang Beton 9, berikut assesories Pengadaan dan Pemasangan Temberang Tarik Pengadaan dan pemasangan temberang sokong 7, kekuatan tarik 140 kg 128 PU-AS Asesoris tiang eksisting set 129 GB-G1 Pengadaan dan Pemasangan Grounding 1 titik rod pada ODP /kotak pembagi dengan maks 3 ohm 130 GB-G3 131 Grounding di Eksisting 132 TC-XX-ODC 133 TC-OF-R-19 134 FLEX-PIPE Pengadaan dan Pemasangan Grounding 3 titik rod pada ODC dengan maks 1 ohm Pengadaan dan Pemasangan material Grounding di lokasi gedung eksisting dengan cara integrasi Pengaddaan dan Pemasangan Rise Pipe untuk pengaman kabel optik ke ODC Pole / titik naik KU diamater 1 panjang 3 Pengadaan dan pemasangan rak kabel 19 inch untuk Fiber Optik Closed Rack, 2,2 Mtr Pengadaan dan pemasangan Flexible pipe (pipa spiral) ukuran 1.5 inch termasuk aksesoris. 42
DESAIN KABEL PENANGGAL 135 PP-OF-IN 136 PP-OF-OUT 137 TC-OF-DC-10 Pengadaan dan Pemasangan Pipe Protector Indoor Cable (PVC White) High Impact Conduit 20 mm Pengadaan dan Pemasangan Pipe Protector Outdoor Cable ( PVC Black) High Impact Conduit 20 mm Pengadaan dan pemasangan Duct Cable untuk Route Kabel menuju Roset, 10x20 mm 138 TC-OF-DC-20 idem 20x40 mm 139 TC-OF-CR-100 Pengadaan dan pemasangan Tray Cable, Lebar 100 mm tebal 5 mm Alumunium disesuaikan kebutuhan 140 TC-OF-CR-200 idem 200 mm 141 TC-OF-CR-300 idem 300 mm 142 DD-S3-1 143 DD-S3-2 144 DD-S3-3 145 DD-V4-1 Pengadaan dan pemasangan Pipa Besi Dia Dalam 100 mm dan ketebalan pipa 3,65 mm untuk crossing 1 pipa Pengadaan dan pemasangan Pipa besi dia dalam 100 mm dan ketebalan pipa 3,65 mm untuk crossing 2 pipa Pengadaan dan pemasangan Pipa besi dia dalam 100 mm dan ketebalan pipa 3,65 mm untuk crossing 3 pipa Pengadan dan Pemasangan Pipa Duct dengan pengecoran dia dalam 100 mm, ketebalan 4 mm, 1 pipa 146 DD-V4-2 Idem, 2 pipa 147 DD-V5-1 Pemasangan Pipa Duct dengan pasir dia 100 mm, 1 pipa ( crossing ) 148 DD-V5-2 Idem, 2 pipa 149 DD-DA-S1 Pengadaan dan pemasangan pipa Duct menempel pada jembatan menggunakan Pipa Galvanis diamenter dalam 100 mm, tebal 3,65 mm, 1 pipa 150 DD-BSS-S1 151 DD-BTS-S1 152 DD-BTS-S2 153 HB-PS-1 154 HB-PS-2 155 DD-BMR Pengadaan dan pemasangan pipa Duct pada jembatan dengan menempel menggunakan Pipa besi Galv 1 pipa (Parit) Pengadaan dan pemasangan Pipa Duct dengan penguat sendiri 1 pipa Pengadaan dan pemasangan Pipa Duct dengan penguat sendiri 2 pipa Pengadaan dan pemasangan Pipa Duct dengan system gantung 1 pipa bentang s/d 40 Pengadaan dan pemasangan Pipa Duct dengan system gantung 2 pipa bentang lebih 40 Boring pada Lintasan Kereta Api menggunakan 2 pipa track 43
DESAIN KABEL PENANGGAL 156 DC-SD-1 157 DC-SD-3 158 DC-SD-1 Big 159 DC-SD-2 Big 160 DCD-PVC-1 Pengadaan dan Pemasangan 1 Subduct 27/32 mm pada polongan route Duct Pengadaan dan Pemasangan 3 Subduct 27/32 mm pada polongan route Duct Pengadaan dan Pemasangan 1 Subduct Big pada polongan route Duct Pengadaan dan Pemasangan 2 Subduct Big pada polongan route Duct Pembuatan Duct Cable Distribusi dia pipa PVC 2 inc AW 1 pipa 161 DCD-PVC-2 idem 2 pipa 162 DCD-PVC-4 idem 4 pipa 163 DD-BM-1 Pemasangan Pipa Duct dengan cara boring manual /mesin 1 pipa 164 DD-BM-2 Idem 2 pipa 165 DD-BM-HDPE-1 Boring manual/mesin untuk HDPE / Micro Duct dia dalam 33 mm 1 pipa kedalaman 1,5 166 DD-BM-HDPE-2 Idem, 2 pipa 167 DD-HDPE-1 Pengadaan dan Pemasangan 1 pipa HDPE/HDPE BIG untuk kabel FO, Include Soket HDPE 168 DD-HDPE-2 Idem 2 pipa 169 DD-ROD Pembersihan pada route Duct yang kosong / Rodding Duct Existing. 170 DD-RV-1 Perbaikan Route Duct / HDPE, 1 pipa. 171 DD-RV- CONCRETE 172 BC-TR-0.4 173 BC-TR-0.6 174 BC-TR-5 175 BD-SK 176 BP-IC 177 SMD-ABS-2A Relocate dan Exspand Pipa in Counter Wall by Bobok Concrete Galian, Pengurugan kembali dan perbaikan kembali, pengisian pasir, deeksten dan tanda rute kabel tanah dan tempat sambung kedalaman 0.4 Galian, Pengurugan kembali dan perbaikan kembali, pengisian pasir, deeksten dan tanda rute kabel tanah dan tempat sambung kedalaman 0.6 Galian, Pengurugan kembali dan perbaikan kembali, pengisian pasir, deeksten dan tanda rute kabel tanah dan tempat sambung kedalaman 1,5 Pembobokan dan perbaikan Dinding untuk lubang Sparing Kabel Pembobokan dan perbaikan Plafon untuk route Indoor Cable Pengadaan dan pemasangan Alat Sambung Micro Duct cabang/lurus 2 cabang,termasuk connector,gas block & end cap m3 178 SMD-ABS-3A idem 3 cabang 179 SMD-ABS-4A idem 4 cabang Titik Titik 44
DESAIN KABEL PENANGGAL 180 DD-MDDI-1A Pengadaan dan Pemasangan 5/3.5mm Micro Duct, Direct Install, 1 way, untuk Air Blown kabel FO termasuk connector 181 DD-MDDI-2A Idem 2 way 182 DD-MDDI-4A Idem 4 way 183 DD-MDDI-7A Idem 7 way 184 DD-MDDI-12A Idem 12 way 185 DD-MDDI-19A Idem 19 way 186 DD-MDDI-24A Idem 24 way 187 DD-MDDI-1B Pengadaan dan Pemasangan 10/8mm Micro Duct, Direct Install, 1 way, untuk Air Blown kabel FO termasuk connector 188 DD-MDDI-2B Idem 2 way 189 DD-MDDI-4B Idem 4 way 190 DD-MDDI-7B Idem 7 way 191 DD-MDDI-1C Pengadaan dan Pemasangan 12/10mm Micro Duct, Direct Install, 1 way, untuk Air Blown kabel FO termasuk connector 192 DD-MDDI-2C Idem 2 way 193 DD-MDDI-4C Idem 4 way 194 DD-MDDI-7C Idem 7 way 195 DD-MDDB-1A Pengadaan dan Pemasangan 5/3.5mm Micro Duct, Direct Buried, 1 way, untuk Air Blown kabel FO termasuk connector 196 DD-MDDB-2A Idem 2 way 197 DD-MDDB-4A Idem 4 way 198 DD-MDDB-7A Idem 7 way 199 DD-MDDB-12A Idem 12 way 200 DD-MDDB-19A Idem 19 way 201 DD-MDDB-24A Idem 24 way 202 DD-MDDB-1B Pengadaan dan Pemasangan 10/8mm Micro Duct, Direct Buried, 1 way, untuk Air Blown kabel FO termasuk connector 203 DD-MDDB-2B Idem 2 way 204 DD-MDDB-4B Idem 4 way 205 DD-MDDB-7B Idem 7 way 206 DD-MDDB-1C Pengadaan dan Pemasangan 12/10mm Micro Duct, Direct Buried, 1 way, untuk Air Blown kabel FO termasuk connector 207 DD-MDDB-2C Idem 2 way 208 DD-MDDB-4C Idem 4 way 209 DD-MDDB-7C Idem 7 way 210 GB-K-A1 Gambar Kertas kalkir ukuran A1 Hard Copy & Soft lbr 211 GB-L-A1 Gambar Kertas lighdruk ukuran A1 lbr D MANHOLE, PERBAIKAN & MODIFIKASI 212 MH-HIS5 Pembuatan Manhole Lurus Type HIS5 45
DESAIN KABEL PENANGGAL 213 MH-HIS5T Pembuatan Manhole Type HIS5T 214 MH-HII S 7 Pembuatan Manhole Type HIIS7 215 MH-HH1 Pembuatan Handhole Type HH1 216 MH-HH2 Pembuatan Handhole Type HH2 217 MH-CA Peninggian Tutup Manhole/Handhole 218 MH-MOD Modifikasi Manhole/Handhole (sesuai luasan) m3 219 MH-RS Instalasi struktur rak dalam manhole yang ada. kg 220 HH-PIT-60 221 HH-PIT-40 222 HH-PIT-Portable Pembuatan HH ukuran dia dalam (P X L X T = 60x40x60) cor beton 1 : 2 : 3 Pembuatan HH ukuran dia dalam (P X L X T = 40x40x40) cor beton 1 : 2 : 3 Pengadaan dan pemasangan HH Pit Portable beserta aksesorisnya Didalam mendesain jaringan FTTH material dan jasa yang digunakan tidak harus mencakup seluruh item di dalam BoQ tersebut di atas, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. Untuk harga jasa dan material BoQ di atas akan ditentukan kemudian. 46
LEGENDA 9. LEGENDA Legenda atau symbol yang digunakan pada desain jaringan FTTH adalah sebagai berikut : No Nama Perangkat Baru Eksisting 1 Kabel Fiber Optik 2 3 4 5 Optical Distribution Frame (ODF) Optical Distribution Cabinet (ODC) Optical Distribution Point (ODP) Optical Terminal Premises (OTP) 6 Roset Optic 7 Splitter 8 Connector 9 Slack Non Joint 10 Man Hole MH MH 11 Hand Hole H H H 47
LEGENDA 12 Sambung Total 13 Sambungan Suntik 14 15 16 Pedestal Wavelength Distribution Multiplexer Coupler (WDM Coupler) Tiang 17 ODC TIANG (usulan) 18 19 ODP PEDESTAL (usulan) ODP TIANG (usulan) 48
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA ADC, PT, 2009, Prensentasi FTTx, Bandung Indonesia Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Barat, 2009, Prensentasi Masalah Perijinan Pemasangan Perangkat di Fasilitas Tempat Umum, Bandung Indonesia FUJIKURA, PT, 2009, Prensentasi FTTx, Bandung Indonesia INTI, PT, 2009, Prensentasi Instalasi Kabel dengan Sistim Boring/Rojok, Bandung Indonesia TELEKOMINDO INDONESIA, PT, 2009, Prensentasi Instalasi Kabel dengan Sistim Boring/Rojok, Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2001, KR-09/TK300/OPSAR-23/2001 Tentang Panduan Pemasangan Jaringan Telekomunikasi PPJT 2001- II Jaringan Lokal Akses Akses Fiber (Jarlokaf), Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2000, PED T-005-2000 Ver.1 Tentang Panduan Pemasangan Jaringan Telekomunikasi Jarlokat, Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2002, PED L-001 Ver.1 Tentang Panduan Instalasi Kabel Gedung, Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2004, Panduan Penulisan Dokumen R&D Center, Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2000, KR.12/TK000/OPSAR-23 Tentang StandarIsasi Data Teknik di SISKA Jaringan Lokal Akses Fiber Optik, Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2009, Kajian Kabel Drop Fiber Optik, Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2008, STEL L-048 Ver 1.0 Tentang Optical Distribution Frame, Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2008, STEL L-049 Ver 1.0 Tentang Optical Distribution Cabinet, Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2008, STEL L-050 Ver 1.0 Tentang Optical Termination Box, Bandung Indonesia Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT, 2006, STEL L-041 Ver 2.0 Tentang Kabinet Luar untuk Perangkat Aktif, Bandung Indonesia 49
DAFTAR PUSTAKA Telekomunikasi Indonesia, Tbk, PT, 2001, STEL L-008-2001 Tentang Pipa Duct Kabel dari Bahan PVC Keras, Bandung Telekomunikasi Indonesia, Tbk, PT, 2009, STEL K-032-2009 Tentang KSO Tentang Rumah untuk Instalasi dalam Pipa, Bandung Telekomunikasi Indonesia, Tbk, PT, 2009, STEL K-033-2009 Tentang KSO Penanggal dengan Kawat Penggantung, Bandung Telekomunikasi Indonesia, Tbk, PT, 2009, KR.02/TK300/COO- C004100030/2009 Tentang Standar Para Elektris Jaringan Akses Tembaga untuk Layanan Broadband, Bandung Telekomunikasi Indonesia, Tbk, PT, 2010, Bencmark DIVA ke NTT Jepang dan KNET Korea Telkom R&D Center, PT, 1999, Dokumen Kajian Panduan Instalasi Kabel Rumah (IKR), Bandung Telkom R&D Center, PT, 2002, Dokumen Kajian Panduan Instalasi Kabel Gedung (IKG), Bandung Telkom R&D Malaysia, PT, 2010, Materi Presentasi Implementasi FTTH di Telkom Malaysia, Bandung 3M, PT, 2009, Prensentasi FTTx, Bandung Indonesia 50