Keywords: Occupational Dermatitis, Exogenous Factors, Endogenous Factors, Leather Tanning Industry

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Setiap ahli kesehatan khususnya dokter seharusnya sudah

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA PADA KARYAWAN BINATU JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA

PENDAHULUAN Gangguan kesehatan kulit pada petani rumput laut merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan. Penyakit ini timbul akibat dari

BAB I PENDAHULUAN. dengan masalah tersebut adalah dermatitis kontak akibat kerja. 1

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 432

HUBUNGAN ANTARA LAMA KONTAK KARYAWAN BENGKEL CUCI KENDARAAN DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA DI KECAMATAN BANJARSARI KOTA SURAKARTA

BAB 1 : PENDAHULUAN. upaya perlindungan terhadap tenaga kerja sangat diperlukan. Salah satunya dengan cara

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan kerja serta terlindung dari penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK PADA PEKREJA BATIK BAGIAN PEWARNAAN DI CIGEUREUNG KOTA TASIKMALAYA

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kulit akibat kerja merupakan peradangan kulit yang disebabkan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN IRITASI KULIT PADA PEKERJA BAGIAN FINISHING PEWARNAAN INDUSTRI BATIK MASARAN SRAGEN

HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN LAMA KERJA DENGAN PENYAKIT DERMATITIS DI KAMPUNG KRAJAN KELURAHAN MOJOSONGO KECAMATAN JEBRES SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papula, vesikel, skuama) dan

Factors that Corelation to The Incidence of Occupational Contact Dermatitis on the Workers of Car Washes in Sukarame Village Bandar Lampung City

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kulit akibat kerja (occupational dermatoses) adalah suatu peradangan

PENYAKIT KULIT AKIBAT KERJA PADA PEMULUNG DI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH AKHIR SUWUNG DENPASAR SELATAN TAHUN 2016

HUBUNGAN PAPARAN DEBU KAYU DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA PEKERJA MEBEL PT X JEPARA

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang International Labour Organization (ILO), pada tahun 2008 memperkirakan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak pabrik yang mengolah bahan mentah. menjadi bahan yang siap digunakan oleh konsumen. Banyaknya pabrik ini

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Higienitas Pasien Skabies di Puskesmas Panti Tahun 2014

BAB I PENDAHULUAN. yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu. ada pengaruhnya terhadap kesehatan tersebut.

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan. Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

III. METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan ini merupakan suatu penelitian deskriptif analitik

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DERMATITIS KONTAK PADA PEKERJA DI PT INTI PANTJA PRESS INDUSTRI

BAB I PENDAHULUAN. dengan hiperemia konjungtiva dan keluarnya discharge okular (Ilyas, 2013).

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan. Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran. Diajukan Oleh : Nur Seta Ridho Kusworo J

BAB 1 : PENDAHULUAN. adanya peningkatan kulitas tenaga kerja yang maksimal dan didasari oleh perlindungan hukum.

RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PURI BETIK HATI. Jl. Pajajaran No. 109 Jagabaya II Bandar Lampung Telp. (0721) , Fax (0721)

GAMBARAN DAN PREVALENSI KELUHAN GANGGUAN KULIT PADA PEKERJA BENGKEL KENDARAAN BERMOTOR DI KECAMATAN MEDAN BARU, MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan akibat lingkungan kerja. Lingkungan kerja dikaitkan dengan segala. dibebankan padanya (Suma mur, 2009).

HUBUNGAN DERMATITIS KONTAK IRITAN DENGAN RIWAYAT ATOPI DAN MASA KERJA PADA PEKERJA SALON DI WILAYAH KECAMATAN JEBRES SKRIPSI

JIMKESMAS JURNAL ILMIAH MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2/NO.6/ Maret 2017; ISSN X,

HUBUNGAN PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SARUNG TANGAN DENGAN KELUHAN IRITASI KULIT BAGIAN TANGAN KARENA ASAM ASETAT DI PT X KARANGANYAR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. disebabkan oleh faktor paparan/kontak akibat pekerjaan atau ketika suatu bahan

KHALIMATUS SAKDIYAH NIM : S

BAB 1 PENDAHULUAN. pekerja yang terpapar pada bahan-bahan iritatif, alegenik atau faktor fisik khusus

HUBUNGAN LAMA KONTAK, JENIS PEKERJAAN DAN PENGGUNAAN APD DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK PADA PEKERJA TAHU, KEDIRI

The Relations of Knowledge and The Adherence to Use PPE in Medical Service Employees in PKU Muhammadiyah Gamping Hospital.

ABSTRAK. Kata Kunci : Kadar debu kayu industri mebel, keluhan kesehatan pekerja, Kepustakaan : 9 ( )

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

Moch. Fatkhun Nizar Hartati Tuna Ningsih Dewi Sumaningrum Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA PADA PEKERJA SALON

BAB I PENDAHULUAN. bulan Agustus 2014 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik berjumlah sekitar

PENGARUH TINGKAT BAHAYA BAHAN KIMIA TERHADAP DERMATITIS KULIT DAN ISPA PADA PEKERJA LABORATORIUM KIMIA PKBS

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PEKERJA TENTANG APD TERHADAP PENGGUNAANNYA DI CV. UNGGUL FARM NGUTER

I. PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 44 Tahun 2009 tentang

BAB 1 PENDAHULUAN. Dermatitis berasal dari kata derm atau o- (kulit) dan itis (radang atau

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA PADA PEKERJA BANGUNAN

DERMATITIS KONTAK PADA PEKERJA YANG TERPAJAN DENGAN BAHAN KIMIA DI PERUSAHAAN INDUSTRI OTOMOTIF KAWASAN INDUSTRI CIBITUNG JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. melaksanakan pembangunan nasional telah berhasil. meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi pada

ABSTRAK. Simpulan : Ada hubungan pengetahuan APD masker dengan kedisiplinan penggunaannya. Kata Kunci : Pengetahuan APD, Kedisiplinan

GANGGUAN KESEHATAN PADA PEMULUNG DI TPA ALAK KOTA KUPANG. Health Problems of Scavengers at the Alak Landfill, Kupang City

KUESIONER PENELITIAN

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. KataKunci: Pengetahuan, sikap, penggunaan APD, petani pengguna pestisida.

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai daerah penghasilan furniture dari bahan baku kayu. Loebis dan

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN GOUTHY ARTHRITIS

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GEJALA DERMATITIS KONTAK PADA PEKERJA BENGKEL DI KELURAHAN MERDEKA KOTA MEDAN TAHUN 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA 1. Siregar, R.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC; Undang-undang dasar tentang kesehatan no.

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-journal) Volume 4, Nomor 3, Juli 2016 (ISSN: )

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Mewujudkan derajat kesehatan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada lima isu

Putri AS, Saftarina F, Wintoko R Faculty of Medicine of Lampung University

HUBUNGAN KEPATUHAN INSTRUKSI KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA PADA BAGIAN PRODUKSI DI PT. ANEKA ADHILOGAM KARYA CEPER KLATEN

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DERMATITIS PADA ANAK BALITADI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS SUKARAYA TAHUN 2016

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANGKA KEJADIAN DERMATITIS KONTAK PADA PEKERJA DI PERUSAHAAN INVAR SIN KAWASAN INDUSTRI MEDAN. Oleh: IRA NOLA LINGGA

SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat sarjana S-1. Diajukanoleh : DIAH RIFQI SUSANTI J Kepada : FAKULTAS KEDOKTERAN

BAB I PENDAHULUAN. salon, dan pekerja tekstil dan industri rumahan (home industry). Pada. pekerja per tahun. (Djuanda dan Sularsito, 2007).

HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN MASKER DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA MEBEL DI KELURAHAN HARAPAN JAYA, BANDAR LAMPUNG

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA NELAYAN DI DESA LAMANGGAU KECAMATAN TOMIA KABUPATEN WAKATOBI TAHUN 2016

HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE, USIA, DAN JENIS KELAMIN DENGAN KEJADIAN DERMATITIS DI PUSKESMAS GLOBAL TIBAWA KABUPATEN GORONTALO

Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD, Kota Manado

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Terhadap Kepatuhan Melakukan Cuci Tangan dengan Metode Hand Wash

BAB I PENDAHULUAN. ataupun jenis pekerjaan dapat menyebabkan penyakit akibat kerja. 1

Kata Kunci : Sampah,Umur,Masa Kerja,lama paparan, Kapasitas Paru, tenaga kerja pengangkut sampah.

1. Pentingnya patient safety adalah a. Untuk membuat pasien merasa lebih aman b. Untuk mengurangi risiko kejadian yang tidak diharapkan Suatu

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA TINGGI HAK SEPATU DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH MIOGENIK PADA PRAMUNIAGA DI LIPPO MALL BADUNG BALI

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado.

HUBUNGAN ANTARA UMUR, MEROKOK, DAN TINDAKAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PENGRAJIN BATU AKIK DARI BEBERAPA TEMPAT DI KOTA MANADO

: Minor injury, knowledge, attitude, obedience, fatigue, PPE

HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERSONAL HYGIENE,

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS PARU PETERNAK AYAM. Putri Rahayu H. Umar. Nim ABSTRAK

Kata Kunci: Penyakit Dermatitis, Alat Pelindung Diri, Hygiene Peroarangan, Riwayat Penyakit.

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD

No. kuesioner. I. Identitas Responden 1. Nama : 2. Umur : 3. Pendidikan : 4. Lama Bekerja : 5. Sumber Informasi :

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, KETERSEDIAAN APD DENGAN KEPATUHAN PEMAKAIAN APD PEKERJA BAGIAN WEAVING PT ISKANDARTEX INDAH PRINTING TEXTILE SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pneumokoniosis merupakan penyakit paru yang disebabkan oleh debu yang masuk ke dalam saluran pernafasan

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU CUCI TANGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK SD

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di Badan Lingkungan Hidup Kota

ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU KARYAWAN LAPANGAN PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA (PLN) BANDUNG TERHADAP KESELAMATAN DAN KECELAKAAN KERJA 2010

PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO TERJADINYA TINEA PEDIS PADA POLISI LALU LINTAS KOTA SEMARANG LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

Ika Setyaningrum *), Suharyo**), Kriswiharsi Kun Saptorini**) **) Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro

HUBUNGAN KARAKTERISTIK DAN PERILAKU PEKERJA DENGAN GEJALA ISPA DI PABRIK ASAM FOSFAT DEPT. PRODUKSI III PT. PETROKIMIA GRESIK

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PADA PEKERJA DI UNIT KERJA PRODUKSI PENGECORAN LOGAM

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN (Informed Consent)

Transkripsi:

ANALISIS HUBUNGAN FAKTOR EKSOGEN DAN ENDOGEN TERHADAP KEJADIAN DERMATITIS AKIBAT KERJA PADA PEKERJA PENYAMAKAN KULIT PT. ADI SATRIA ABADI PIYUNGAN, BANTUL Gresi Amarita Rahma, Yuliani Setyaningsih, Siswi Jayanti BagianKeselamatandanKesehatanKerja, FakultasKesehatanMasyarakat UniversitasDiponegoro Email: gresirahma@gmail.com Abstract :Occupational dermatitis is skin disorders caused by contact with certain substances in the workplace. There are exogenous factors and endogenous factors which affects occupational dermatitis. PT. Adi Satria Abadi is an industry of leather tanning that requires dozens of chemicals in every process. This research aims to analyze the relationship of exogenous factors (working period, number of chemical type, mechanical factors) and endogenous factors (age, personal hygiene, personal protective equipment) with occupational dermatitis at PT. Adi Satria Abadi. The research is conducted analytically with cross sectional approach and explanatory research. The sample involved in this research is total population of wet production are 48 workers. The independent variable data was collected by questionnaire by respondent and occupational dermatitis data based on doctor medical check up. According to the result of research using Chi-Square test showed that the related variables with occupational dermatitis were number of chemical type (p-value = 0,001), mechanical factors (p-value = 0,001), personal hygiene (p-value = 0,001), and the type of work section (p-value = 0,001). While unrelated variables with occupational dermatitis were working period, age, and personal protective equipment. Keywords: Occupational Dermatitis, Exogenous Factors, Endogenous Factors, Leather Tanning Industry 173

A. PENDAHULUAN Bersamaan dengan meningkatnya perkembangan industri dan perubahan-perubahan di bidang pembangunan, maka berdampak pada terjadinya perubahan pola penyakit atau kasus penyakit karena hubungan dengan pekerjaan. 1 Salah satu penyakit akibat kerja itu adalah dermatitis akibat kerja. Dermatitis akibat kerja adalah kelainan kulit yang disebabkan oleh kontak dengan zat tertentu di dalam tempat kerja. Oleh karena itu disebut juga dengan dermatitis kontak. 2 Terdapat faktor eksogen dan endogen yang mempengaruhi perkembangan dermatitis akibat kerja. Faktor eksogen adalah faktorfaktor yang berasal dari luar seperti karakteristik bahan kimia, karakteristik paparan yakni lama paparan perhari, masa kerja, tipe kontak, jumlah paparan, frekuensi paparan serta faktor lingkungan seperti temperatur ruangan dan faktor mekanik (tekanan, gesekan, luka). Sedangkan faktor endogen adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu yaitu faktor genetik, jenis kelamin, umur, ras, lokasi kulit yang terpapar, riwayat atopi, personalhygiene, dan Alat Pelindung Diri (APD). 3 Pekerjaan basah yang para pekerja dituntut untuk membenamkan tangan mereka dalam cairan selama> 2 jam per hari, atau memakai sarung tangan untuk jumlah yang sesuai waktu, atau mencuci tangan mereka> 20 kali per hari juga berdampak pada terjadinya dermatitis akibat kerja. 4 Penelitian pada pekerja produksi sepatu kulit tahun 2015 menunjukkan bahwa 77 dari 472 pekerja di 2 perusahaan terkena dermatitis kontak akibat kerja dikarenakan kontak dengan Potassium dichromate (9.2%), n,ndiphenylguanidine (5.3%), benzidine (3.9%) and sodium metabisulfite (2.6%). 5 Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Firman menyatakan bahwa prevalensi Dermatitis Kontak Alergi Akibat Kerja (DKA-AK) di pabrik penyamakan kulit PT. Lembah Tidar Magelang adalah sebesar 46,3% dengan rasio prevalensi subyek adalah sebesar 2,473. 6 Industri penyamakan kulit merupakan industri yang mengolah kulit mentah dari hewan menjadi lembaran kulit jadi. Industri penyamakan kulit tergolong industri kimia karena proses produksi penyamakan kulit hampir 90% menggunakan bahan-bahan kimia.berdasarkanhasilwawancara dan pemeriksaan klinis kulitterhadap pekerja penyamakan kulit bahwa 9 dari 10 pekerja mengalami gejalagejala dermatitis seperti gatal-gatal, rasa perih/panas, kering, pecahpecah, mengelupas, dan berwarna kemerahandi lengan dan telapak tangan. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian pada PT. Adi Satria Abadi Piyungan untuk melihat hubungan faktor eksogen dan endogen terhadap kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja penyamakan kulit di PT. Adi Satria Abadi, Piyungan. B. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional yakni untuk mempelajari dinamika korelasi antara variabel independen yakni umur, personal hygiene, penggunaan alat pelindung diri, masa kerja, jumlah jenis bahan kimia, faktor mekanis dan jenis 174

bagian pekerjaan dengan variabel dependenkejadian dermatitis akibat kerja. Penentuan Dermatitis Akibat Kerja berdasarkan diagnosis klinis meliputi anamnesis dan pemeriksaan klinis pada kulit pekerja oleh dokter. Sampel yang diambil sebanyak 48 pekerja proses basah penyamakan kulit dengan metode total sampling. Metodeanalisis data bivariat menggunakanuji statistik Chi Square yang digunakan untuk menguji signifikansi hubungan antara dua kelompok yang independen atau lebih dan diawali dengan uji normalitas shapiro-wilk. C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. AnalisisUnivariat a. Masa Kerja Penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden masuk pada kategori rentan dengan kejadian dermatitis akibat kerja yakni masa kerja lebih dari 5 tahun yaitu sebesar 85,4%. Sedangkan untuk pekerja yang tidak rentan yakni masa kerja kurang dari 5 tahun sebanyak 14,6%. b. Jumlah Jenis Bahan Kimia Responden yang terkena jumlah jenis bahan kimia tinggiyakni dengan lebih dari 10 sebanyak 50%. c. Faktor Mekanik Responden yang mengalami faktor mekanik seperti gesekan, tekanan, luka akibat pekerjaan sebanyak 54,2%. Sedangkan 45,8% responden tidak mengalami faktor mekanik. d. Umur Mayoritas responden memiliki umur 40 tahun sebesar 68,7%. Sisanya yakni 31,3%memiliki umur yang lebih rentan terjadi dermatitis akibat kerja yakni umur >40 tahun. e. Personal Hygiene Penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden memiliki personal hygiene yang baik yaitu sebanyak 56,2%. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan responden yang memilihi personal hygiene yang kurang baik sebesar 43,8%. f. Penggunaan Alat Pelindung Diri Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja yang masih kurang baik dalam menggunakan APD yakni sebesar 72,9%. Pekerja yang sudah baik dalam menggunakan APD hanya sebesar 27,1%. g. Jenis Bagian Pekerjaan Dari seluruh responden yang telah mengisi angket, responden pada bagian proses drum dan wetblue sebanyak 43,8% sedangkan pada bagian shaving 56,2%. h. Kejadian Dermatitis Akibat Kerja Responden yang mengalami dermatitis akibat kerja dengan yang tidak mengalami dermatitis akibat kerja adalah sebesar 50%. 2. AnalisisBivariat a. Hubungan antara Masa Kerja dengan Kejadian Dermatitis Akibat Kerja Positif Dermatitis Negatif Dermatitis 46,30% 53,7% 71,40% 28,60% >5 tahun 5 tahun Grafik 1.Hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017 Berdasarkan grafik tersebut, pada kategori masa kerja 5 tahun 175

responden yang mengalami dermatitis akibat kerja yaitu sebanyak 71,4%. Hasil uji yang didapatkan yaitu p-value sebesar 0,220sehingga tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Farah Yudhisfiari Putri di perusahaan mebel X Jepara yakni tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatitis. 7 Hal tersebut disebabkan karena pada pekerja dengan masa kerja lebih dari 5 tahun sudah kebal terhadap paparan bahan kimia yang digunakan. Masa kerja penting diketahui untuk melihat lamanya seseorang telah terpajan dengan bahan toksik. Hal tersebut bertentangan dengan teori yang mengatakan bahwa masa kerja mempengaruhi kejadian gangguan kulit akibat kerja. Semakin lama kerja seseorang, semakin sering seseorang terpajan dengan bahan toksik. Semakin lama terpajan maka semakin merusak sel kulit hingga bagian dalam dan memudahkan untuk terjadinya penyakit kulit. 8 b. HubunganantaraJumlah Jenis Bahan Kimia dengan Kejadian Dermatitis Akibat Kerja Positif Dermatitis Negatif Dermati 83,30% 16,70% Tinggi 16,70% 83,30% Rendah Grafik2.Hubungan antara Jumlah jenis bahan kimia dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017 Berdasarkangrafik tersebut menunjukkan bahwa pekerja yang mengalami dermatitis akibat kerja dan terpapar bahan kimia dalam jumlah yang beragam sebanyak 83,3%.Hasil uji Chi Square Test diperoleh p-value dengan nilai signifikansi 0,001 dengan nilai Prevalensi Rasio = 5,000 hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan pekerja yang jumlah jenis bahan kimia tinggi untuk terjadinya dermatitis akibat kerja adalah lebih dari 5 kali lebih besar. Maka ada hubungan antara jumlah jenis bahan kimia dengan kejadian dermatitis akibat kerja di PT. Adi Satria Abadi. Terdapat 13 bahan kimia bersifat iritan dan korosifyang digunakan pada proses basah yakni Krom (Cr), Sulfida (H 2 S), Formalin (HCHO), Natrium klorida (NaCl), Kapur (Ca(OH) 2 ), Asam Formiat (HCOOH), Natrium Sulfat (Na 2 SO 4 ), Tannit, Natrium Metabisulfit (Na 2 S 2 O 5 ), Natrium Karbonat (Na 2 CO 3 ), Natrium Asetat (CH 3 COONa), Asam Oksalat (H 2 C 2 O 4 ), Amoniak (NH 3 ). Dengan adanya 1 bahan kimia iritan atau korosif dapat menyebabkan dermatitis akibat kerja terlebih lagi pekerja yang terpapar 13 bahan kimia penyamak yang semakin berisiko tinggi terjadi dermatitis akibat kerja. Bahan kimia krom memiliki ciri ulkus yakni luka yang menembus ke dalam. Sedangkan bahan kimia lainnya luka yang dibentuk menembus ke samping (melebar). c. Hubungan antara Faktor Mekanik dengan Kejadian Dermatitis Akibat Kerja 176

Positif Dermatitis Negatif Dermatit 73,10% 26,90% Ada 22,70% 77,30% Tidak Ada Grafik3.Hubungan antara Faktor Mekanik dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017 Berdasarkan grafik tersebut, pekerja yang tidak mengalami faktor mekanik serta tidak mengalami dermatitis akibat kerja sebanyak 77,3%.Hasil uji statistikdiperoleh p- value dengan nilai signifikansi 0,001, sehingga ada hubungan antara faktor mekanik dengan kejadian dermatitis akibat kerja di PT. Adi Satria Abadi dengan nilai PR = 2,714 hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan pekerja dengan faktor mekanik untuk terjadinya dermatitis akibat kerja adalah 3 kali lebih besar. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adilah yakni memberikan hasil nilai p= 0,001 dan rasio prevalensi (RP) sebesar 12. 9 Dalam hal ini faktor mekanik berupa adanya kegiatan yang dapat menyebabkan tekanan, gesekan dan lecet pada kulit saat bekerja sehingga dapat meningkatkan permeabilitas kulit terhadap bahan kimia akibat kerusakan stratum korneum pada kulit. 10 Sehingga permeabilitas kulit meningkat dan menyebabkan bahan kimia penyamak kontak langsung dengan kulit. Bahan kimia yang digunakan dapat lebih mudah masuk ke dalam kulit. Sedangkan penekanan secara kronis menimbulkan penebalan kulit pekerja. Pekerja selalu tergesek dan terjadi penekanan dengan bahan kulit yang disamak ataupun peralatan seperti proses angkut, proses pemilahan bahan kulit tersamak, aktivitas memasukkan dan mengeluarkan ke drum, proses penipisan kulit yang tersamak. Beberapa pekerja mengalami luka dan penebalan kulit khususnya di bagian telapak tangan dan lengan yang diakibatkan oleh pekerjaan tersebut. d. Hubungan antara Umur dengan Kejadian Dermatitis Akibat Kerja Positif Dermatitis Negatif Dermatitis 60,00% 40,00% 54,50% 45,50% 40 tahun <40 tahun Grafik4.Hubungan antara Umur dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017 Pada hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pekerja yang memiliki umur lebih dari atau sama dengan 40 tahun namun mengalami dermatitis akibat kerja sebanyak 60,0%. Berdasarkan hasil uji diperoleh p- value dengan nilai signifikansi 0,350 yang berarti tidak ada hubungan antara umur pekerja dengan terjadinya dermatitis akibat kerja di PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Farah Yudhisfiari yaitu tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian dermatitis kontak. 7 Umur memiliki hubungan terhadap pertahanan kulit. Pada usia yang lebih tua, produksi hormon-hormon penting seperti testosteron, hormon pertumbuhan 177

dan estrogen mulai berkurang, sedangkan hormon-hormon tersebut berpengaruh terhadap kesehatan kulit. 11 Kulit manusia mengalami degenerasi seiring dengan bertambahnya usia, sehingga menyebabkan penipisan lapisan lemak dibawah kulit yang dapat mengakibatkan kulit menjadi kering dan mudah terjadi dermatitis. 12 e. HubunganPersonal Hygiene dengan Kejadian Dermatitis Akibat Kerja Positif Dermatitis Negatif Dermati 76,20% 23,80% Kurang 29,60% 70,40% Baik Grafik5.Hubungan antara Personal hygiene dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017 Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pekerja dengan kategori personal hygiene kurang baik terhadap kejadian dermatitis akibat kerja sebesar 76,2%. Hasil Chi Square Test diperoleh p-value dengan nilai signifikansi 0,001 sehingga ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian dermatitis akibat kerja pekerja PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017. Nilai PR = 3,2 hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan pekerja dengan personal hygiene yang buruk untuk terjadinya dermatitis akibat kerja adalah 3 kali lebih besar. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasyim Habibi yaitu ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian dermatitis kontak dengan p-value 0,026. 13 Pekerja penyamakan kulit PT. Adi Satria Abadi belum memiliki kesadaran untuk menjaga dan merawat kebersihan dirinya masingmasing.kebiasaan mencuci tangan dapat mengurangi potensi penyebab dermatitis akibat bahan kimia penyamak yang menempel setelah bekerja, akan tetapi potensi untuk terkena dermatitis akibat kerja tetap ada. Pemilihan jenis sabun cuci tangan juga berpengaruh terhadap kesehatan kulit pekerja. 12 Usaha mengeringkan tangan setelah dicuci juga dapat berperan dalam mencegah parahnya kondisi kulit karena tangan yang lembab. 14 Mencuci pakaian juga merupakan salah satu usaha untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak. 15 PT. Adi Satria Abadi sudah memiliki kamar mandi untuk mencuci tangan di area kerja tapi belum disediakan sabun cuci khusus tangan. Pekerja masih kurang dalam menjaga kebersihan diri-sendiri mulai dari sebelum, saat, dan sesudah bekerja yakni mencuci tangan hingga sela-sela jari menggunakan sabun dengan air mengalir lalu mengeringkannya, mengganti atau mencuci sarung tangan, mandi menggunakan sabun setelah bekerja, membersihkan peralatan mandi, serta menggunakan pakaian bersih sebelum memulai pekerjaan. f. Hubungan antara Penggunaan APD dengan Kejadian Dermatitis Akibat Kerja 178

Positif Dermatitis Negatif Dermat 51,40% 48,60% Kurang 46,20% 53,80% Baik Grafik6.Hubungan antara Penggunaan APD dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017 Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang menggunakan alat pelindung dirinya sudah baik dan layak serta tidak mengalami dermatitis sebanyak 53,8%. Hasil analisis dengan menggunakan uji Chi Square Test diperoleh p-value dengan nilai signifikansi 0,745 sehingga tidak ada hubungan antara penggunaan alat pelindung diri dengan terjadinya dermatitis akibat kerja pada PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Reni Suhelmi yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara penggunaan alat pelindung diri dengan keluhan gangguan kulit dengan p-value sebesar 0,140. 16 Penggunaan alat pelindung diri dalam penelitian ini meliputi penggunaan sarung tangan kerja, penggunaan baju lengan panjang, celana panjang dan penggunaan sepatu kerja/boots. Alat pelindung diri tersebut merupakan seperangkat alat yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi tubuh pekerja khususnya bagian tangan, lengan tangan, dan kaki terhadap kemungkinan adanya potensi terhadap bahaya bahan kimia penyamak yang bersifat iritan atau korosif. Kurangnya pengetahuan dan belum adanya kesadaran pekerja penyamak kulit PT. Adi Satria Abadi akan pentingnya penggunaan alat pelindung diri merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya dermatitis akibat kerja. Selain itu APD yang digunakan belum dapat menutupi seluruh permukaan kulit yang kontak dengan bahan kimia tersamak. g. HubunganantaraJenis Bagian Kerjadengan Kejadian Dermatitis Akibat Kerja Positif Dermatitis Negatif Dermatitis 81,00% 19,00% Berisiko 25,90% 74,10% Tidak Grafik7.Hubungan antara Jenis Bagian Kerja dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017 Hasil penelitian didapatkan bahwa pekerja yang berisiko dengan bagian pekerjaan proses dan wetblue dan mengalami dermatitis akibat kerja sebanyak 81,0%. Hasil analisis dengan menggunakan uji Chi Square Test diperoleh p-value dengan nilai signifikansi 0,001, sehingga terdapat hubungan antara jenis bagian kerja dengan kejadian dermatitis akibat kerja di PT. Adi Satria Abadi Tahun 2017. Nilai prevalensi rasio (PR) = 4,25 hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan pekerja dengan dengan jenis bagian kerja basah untuk terjadinya dermatitis akibat kerja adalah 4 kali lebih besar. Hal ini sejalan dengan penelitian Fatma Lestari dkk yang menyatakan 179

bahwa ada hubungan bermakna antara jenis bagian kerja dengan dermatitis kontak yaitu p value 0,02 dan odds ratio 3,4 (1,305-8.641). 17 Terdapat 4 tahapan pekerjaan di PT. Adi Satria Abadi yakni seleksi bahan, proses basah, proses kering dan finishing. Tahapan proses basah lebih berisiko tinggi terjadinya dermatitis akibat kerja karena pada proses tersebut pekerja kontak langsung dengan bahan kimia penyamak dalam waktu 8 jam per hari jika dibandingkan dengan tahapan seleksi bahan, proses kering dan finishing. Sehingga peneliti memilih penelitian dengan populasi seluruh pekerja di proses basah yang berjumlah 48 pekerja. Jenis pekerjaan di bagian produksi basah PT. Adi Satria Abadi terbagi menjadi 3 sub bagian yakni proses drum, wetblue, dan shaving. Penelitian dengan variabel jenis bagian kerja bertujuan untuk melihat pengaruh dari jenis bagian pekerjaan yang dikerjakan dengan terjadinya dermatitis akibat kerja. Salah satu faktor risiko terjadinya dermatitis akibat kerja adalah pekerjaan basah karena kulit sering kontak dengan air dan bahan kimia cair. Pekerjaan pada bagian proses drum dan wetblue menggunakan bahan kimia penyamak cair. Pekerja harus membenamkan tangan mereka dalam cairan bahan kimia penyamak. Hal tersebut menyebabkan pekerja kontak langsung dengan bahan kimia berwujud cair selama 8 jam perhari sehingga kulit pekerja menjadi kering dan mudah teriritasi. Kondisi kulit kering dan mudah teriritasi mengubah mekanisme pertahanan penghalang kulit dengan konsekuensi bahwa kulit menjadi permeable dan lebih sensitif terhadap zat kimia lainnya. Sehingga menimbulkan potensi terjadinya dermatitis akibat kerja yang lebih besar. D. KESIMPULAN 1. Responden PT. Adi Satria Abadi yang mengalami dermatitis akibat kerja sebanyak 50%. 2. Masa kerja dari responden PT. Adi Satria Abadi terbanyak pada kategori lebih dari 5 tahun dengan jumlah 85,4%. Jumlah jenis bahan kimia pada responden PT. Adi Satria Abadi yang tinggi dan rendah masingmasing sebanyak 50%. Terdapat faktor mekanis pada responden PT. Adi Satria Abadi sebanyak 54,2%. 3. Umurresponden PT. Adi Satria Abadi yang berumur kurang dari atau sama dengan 40 tahun sebanyak 68,7%. Responden PT. Adi Satria Abadi dengan personal hygiene baik sebanyak 56,2%. Penggunaan alat pelindung diri yang masih kurang sebanyak 72,9% dari total responden. 4. Jenis bagian pekerjaan proses dan wetblue sebanyak 43,8% dari total responden sedangkan bagian shaving sebanyak 56,2%. 5. Tidak ada hubungan antara masa kerja (p =0,220) dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi. 6. Ada hubungan antara jumlah jenis bahan kimia dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi (p= 0,001). 7. Ada hubungan antara faktor mekanis dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi (p= 0,001). 8. Tidak ada hubungan antara umur dengan dengan kejadian 180

dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi (p = 0,350). 9. Ada hubungan antara personal hygiene dengan dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi (p= 0,001) 10. Tidak ada hubungan penggunaan alat pelindung diri dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi (p= 0,745) 11. Ada hubungan antara jenis bagian kerja dengan kejadian dermatitis akibat kerja pada pekerja PT. Adi Satria Abadi (p = 0,001). E. SARAN 1. BagiPerusahaan a. Perusahaan sebaiknya melakukan pemeriksaan fisik berkala oleh dokter sekurang-kurangnya sekali dalam setahun kepada seluruh pekerja serta melakukan pemeriksaan fisik khusus bagi pekerja proses basah yang berisiko tinggi terkena dermatitis akibat kerja dan bagi pekerja dengan usia lebih dari 40 tahun guna memantau dan meminimalisir terjadinya dermatitis akibat kerja. b. Adanya edukasi kepada pekerja oleh dokter mengenai penyakit dermatitis akibat kerja yang mencakup penyebab, gejala, cara mencegah, dan penanganannya melalui pemutaran video, penjelasan dalam bentuk slide, pemasangan poster terkait dermatitis akibat kerja. c. Menyediakan alat pelindung diri (safety googles, masker, apron, sarung tangan karet dan boots) secara rutin dan melakukan pengawasan terkait penggunaan alat pelindung diri tersebut pada pekerja. 2. BagiPekerja a. Menjaga kebersihan dirisendiri mulai dari sebelum, saat, dan sesudah bekerja yakni mencuci tangan hingga sela-sela jari menggunakan sabun dengan air mengalir lalu mengeringkannya, mengganti atau mencuci sarung tangan, mandi menggunakan sabun setelah bekerja, membersihkan peralatan kerja, serta menggunakan pakaian bersih sebelum memulai pekerjaan. b. Saling mengingatkan sesama pekerja jika terdapat pekerja yang tidak menggunakan alat pelindung diri (masker, sarung tangan, baju lengan panjang, celana panjang dan sepatu). 3. BagiPenelitiSelanjutnya a. Penelitian selanjutnya dapat meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi dermatitis akibat kerja lainnya seperti karakteristik paparan kimia, lingkungan fisik, biologi. b. Mengembangkan subjek penelitian hingga pekerja produksi kering. c. Peneliti selanjutnya dapat meneliti variabel terikat lain seperti kejadian penyakit saluran pernafasan dan brusella pada pekerja penyamakan kulit. 181

F. DAFTAR PUSTAKA 1. Nuraga, Lestari. Dermatitis Kontak Pada Pekerja yang Terpajan dengan Bahan Kimia di Perusahaan Industri Otomotif Kawasan Industri Cibitung Jawa Barat. Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia. 2008. 2. Authority Health and Safety. Guidelines on Occupational Dermatitis. The Health and Safety Authority. 2009. 3. Belsito, DV. Occupational Contact Dermatitis: Etiology, Prevalence and Resultant Impaiment/Disability. Dermatology General Medicine. 2005;2:2067 73. 4. Behroozy K. A Main Risk Factor for Occupational Hand Dermatitis. 2014;5:175 80. 5. Febriana, Sri Awalia. Skin problems related to Indonesian leather & shoe production and the use of footwear in Indonesia.2015;([Groningen]: Rijksuniversiteit Groningen). 6. Ahmad, Firman. Pengaruh Atopi terhadap Kejadian Dermatitis Kontak Alergi Akibat Kerja pada Pekerja Pabrik Penyamakan Kulit di PT Lembah Tidar Magelang. 2010. 7. Putri, FY. Hubungan Paparan Debu Kayu dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja Mebel PT X Jepara. Universitas Diponegoro; 2016. 8. Rahmawaty. Hubungan Paparan Debu Kayu dengan Kelainan Kulit Pada Pekerja Industri Mebel Ud Taufik Kota Gorontalo. Gorontalo: Universitas Negeri; 2013. 9. Afifah, Adilah. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Dermatitis Kontak Akibat Kerja Pada Karyawan Binatu. In Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro; 2012. 10. Mulyaningsih, R. Faktor Risiko Terjadinya Dermatitis Kontak Pada Karyawan Salon. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 2005. 11. Taylor, Sood, Amado. Occupational Skin Disease Due To Irritans and Allergens. Dermatology General Medicine. 2008;2. 12. Cohen, Jacob. Allergic Contact Dermatitis. Dermatology General Medicine. 2008;1:135 40. 13. Hasyim, Habibi. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Dermatitis Kontak Pada Pekerja Batu Gamping UD Usaha Maju Kalasan. Skripsi Fakultas KesehatanMasyarakat Universitas Diponegoro. 2004. 14. World Health Organization. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care. In Switzerland: WHO Press; 2005. 15. Hipp L. Industrial Dermatoses. In: Olishifski JB editors. Fundamental of Industrial Hygiene 2. In Chicago, USA: National Safety Council; 1985. 16. Suhelmi, Reni; Ruslan, La Ane; Syamsuar Manulley. Hubungan Masa Kerja, Higiene Perorangan dan Penggunaan Alat Pelindung Diri Dengan Keluhan Gangguan Kulit Petani Rumput Laut Di Kelurahan Kalumeme Bulukumba. In Makasar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin; 2014. 17. Lestari, Fatma dan Utomo, Hari Suroyo. Faktor-Faktor 182

yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak pada Pekerja di PT Pantja Press Industri. 2007. 183