BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. penyakit. Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan. telah terjadi katarak senile sebesar 42%, pada kelompok usia 65-74

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

II. TINJAUAN PUSTAKA. Seseorang dengan katarak akan melihat benda seperti tertutupi kabut, lensa mata

Pengertian. Katarak merupakan keadaan di mana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di dalam kapsul lensa (Sidarta Ilyas, 1998)

BAB 1 PENDAHULUAN. Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, Ingris Cataract, dan Latin

BAB I PENDAHULUAN. sebagai pelaku pembangunan dapat merasakan dan menikmati hasil dari pembangunan

SOP KATARAK. Halaman 1 dari 7. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon SMF. Ditetapkan Oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. utama, yaitu high contrast acuity atau tajam penglihatan, sensitivitas terhadap

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari. Kesehatan indera. penglihatan merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas

Katarak adalah : kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur-angsur, penglihatan kabur akhirnya tidak dapat menerima cahaya (Barbara)

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

PROFIL GLAUKOMA SEKUNDER AKIBAT KATARAK SENILIS PRE OPERASI DI RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2011 DESEMBER 2011

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rokok merupakan gulungan tembakau yang dirajang dan diberi cengkeh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah mata merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia karena mata

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. diabetes retinopati (1%), penyebab lain (18%). Untuk di negara kita, Indonesia

BAB I PENDAHULUAN I.I LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Mata merupakan bagian pancaindera yang sangat penting dibanding

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kebutaan dan gangguan penglihatan merupakan masalah kesehatan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Katarak umumnya didefinisikan sebagai kekeruhan lensa. Katarak

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dalam kandungan dan faktor keturunan(ilyas, 2006).

BAB I PENDAHULUAN. Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan yang utama di dunia. Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Alat optik adalah suatu alat yang bekerja berdasarkan prinsip cahaya yang. menggunakan cermin, lensa atau gabungan keduanya untuk melihat benda

Berdasarkan tingginya dioptri, miopia dibagi dalam(ilyas,2014).:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rokok adalah gulungan tembakau yang dibungkus dengan kertas. a. Perokok aktif adalah orang yang memang sudah merokok.

BAB I PENDAHULUAN. merupakan akibat buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung.

BAB I PENDAHULUAN. penyakit tidak menular (PTM), yang merupakan penyakit akibat gaya hidup serta

I. PENDAHULUAN. WHO (2006) menyatakan terdapat lebih dari 200 juta orang dengan Diabetes

Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

O P T I K dan REFRAKSI. SMF Ilmu Kesehatan Mata RSD Dr.Soebandi FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. tertinggi di Sulawesi Utara (3,7%) diikuti oleh Jambi (2,8%) dan Bali (2,7%).

BAB I PENDAHULUAN. transparansinya. Katarak merupakan penyebab terbanyak gangguan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. nekrosis, dan terganggunya keseimbangan normal serabut-serabut lensa. uveitis, retinitis pigmentosa, dan kebutaan (Ilyas, 2010).

KMN Klinik Mata Nusantara

yang tidak sehat, gangguan mental emosional (stres), serta perilaku yang berkaitan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan jasmani merupakan hal yang penting, karena saat keadaan

BAHAYA MEROKOK BAGI KESEHATAN

Bagian-bagian yang melindungi mata: 1. Alis mata, berguna untuk menghindarkan masuknya keringat ke mata kita.

Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani

BAB 1 : PENDAHULUAN. dikumpulkan melalui indera penglihatan dan pendengaran.

BAB 1 PENDAHULUAN. penduduk dunia meninggal akibat diabetes mellitus. Selanjutnya pada tahun 2003

ENTROPION PADA KUCING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KARYA TULIS ILMIAH. Disusun Oleh: ENGKI SOFYAN NIM

BAB I PENDAHULUAN. terjadi di negara-negara berkembang. Direktorat Pengawasan Narkotika,

BAB 1 PENDAHULUAN. penyakit arteri koroner (CAD = coronary arteridesease) masih merupakan

KESEHATAN MATA DAN TELINGA

BAB I PENDAHULUAN. kematian yang terjadi pada tahun 2012 (WHO, 2014). Salah satu PTM

HUBUNGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DENGAN KEJADIAN KATARAK DI INSTALASI RAWAT JALAN (POLI MATA) RUMAH SAKIT DR. SOBIRIN KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. Pola penyakit yang diderita masyarakat telah bergeser ke arah. penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah,

PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan wrinkle/kerutan kulit, kulit yang kasar, kulit kering,

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, Indonesia menghadapi tantangan dalam meyelesaikan UKDW

BAB I PENDAHULUAN. menghisap dan menghembuskannya yang menimbulkan asap dan dapat terhisap oleh

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

berkas cahaya, sehingga disebut fotoreseptor. Dengan kata lain mata digunakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. gizi terjadi pula peningkatan kasus penyakit tidak menular (Non-Communicable

BAB I PENDAHULUAN. 1. Apa Itu Mata? 2. Jelaskan Bagian-Bagian dari Mata beserta fungsinya! 3. Bagaimana Mata Bisa Bekerja?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. depan atau belakang bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. 16

BAB I PENDAHULUAN. inaktivitas fisik, dan stress psikososial. Hampir di setiap negara, hipertensi

I. PENDAHULUAN. adalah perokok pasif. Bila tidak ditindaklanjuti, angka mortalitas dan morbiditas

Disusun oleh :.2013 Tim Dinas Kesehatan dan Pengelola Prog. NIP. Suatu pemeriksaan yang di lakukan untuk mengetahui adanya gangguan kesehatan mata.

BAB I PENDAHULUAN. hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduaduanya

BAB I PENDAHULUAN. (glukosa) dalam darahnya. Yang dicirikan dengan hiperglikemia, yang disertai. berbagai komplikasi kronik (Harmanto Ning, 2005:16).

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes mellitus dapat menyerang warga seluruh lapisan umur dan status

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Miopia (nearsightedness) adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar

Pengertian Rokok dan Bahaya Merokok bagi Kesehatan Manusia

BioLink Jurnal Biologi Lingkungan, Industri, Kesehatan HUBUNGAN KATARAK SENILIS DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI MEDAN

BAB 1 PENDAHULUAN. darah. Kejadian hipertensi secara terus-menerus dapat menyebabkan. dapat menyebabkan gagal ginjal (Triyanto, 2014).

Diagnosa banding MATA MERAH

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA PADA KORNEA DI RUANG MATA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA. Trauma Mata Pada Kornea

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ORGAN PENYUSUN SISTEM SARAF MANUSIA

I. PENDAHULUAN. Kaca merupakan salah satu produk industri kimia yang banyak digunakan dalam

BAB I PENDAHULUAN. darah merupakan penyebab utama kematian di rumah sakit dan menempati

I. PENDAHULUAN. Resiko terjadinya penyakit jantung koroner meningkat 2-4 kali pada perokok

Mengenal Penyakit Kelainan Darah

BAB I PENDAHULUAN. ini. Udara berfungsi juga sebagai pendingin benda-benda yang panas, penghantar bunyi-bunyian,

1. Sklera Berfungsi untuk mempertahankan mata agar tetap lembab. 2. Kornea (selaput bening) Pada bagian depan sklera terdapat selaput yang transparan

BAB 1 PENDAHULUAN. Indian di Amerika untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Mata adalah panca indera penting yang perlu. pemeriksaan dan perawatan secara teratur.

BAB 1 PENDAHULUAN. koroner. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di

BAB I PENDAHULUAN. degeneratif seperti jantung koroner dan stroke sekarang ini banyak terjadi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Katarak 2.1.1 Pengertian katarak Katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah gambaran yang diproyeksikan pada retina. Katarak merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara bertahap (Springhouse Co). Derajat disabilitas yang ditimbulkan oleh katarak dipengaruhi oleh lokasi dan densitas keburaman. Intervensi diindikasikan jika visus menurun sampai batas klien tidak dapat menerima perubahan dan merugikan atau memengaruhi gaya hidup klien (yaitu visus 5/15). Katarak biasanya mempengaruhi kedua mata tetapi masing-masing berkembang secara independen (Istiqomah, 2012). Katarak berasal dari kata Yunani Katarrhakies, Inggeris Cataract, dan Latin cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-duanya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital, atau penyulit penyakit mata lokal menahun. Bermacam-macam penyakit mata dapat mengakibatkan katarak seperti glaukoma, ablasi, uveitis, retinitis pigmentosa bahan toksik khusus (kimia dan fisik) (ilyas dan yulianti, 2014). 7

8 Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa katarak adalah kekeruhan lensa mata yang diakibatkan oleh hidrasi dan denaturasi protein lensa sehingga mengakibatkan penglihatan menjadi terganggu. 2.1.2 Etiologi Menurut irawan (2008) dalam Erman et al (2014) Katarak adalah penyakit degeneratif yang dipengaruhi berbagai faktor faktor yaitu : 2.1.2.1 Umur 2.1.2.2 Jenis kelamin 2.1.2.3 Genetik 2.1.2.4 Pendidikan 2.1.2.5 Pekerjaan 2.1.2.6 Status sosial ekonomi 2.1.2.7 Status kesehatan 2.1.2.8 Lingkungan 2.1.2.9 Riwayat merokok 2.1.3 Patofisiologi 2.1.3.1 Kelainan bawaan : Adanya gangguan proses perkembangan embrio saat dalam kandungan dan kelainan pada kromosom secara genetik dapat menimbulkan kekeruhan lensa saat lahir. Pada umumnya kelainan tidak hanya pada lensa tetapi juga pada bagian tubuh yang lain sehingga berupa suata sindrom. 2.1.3.2 Proses penuaan : Seiring dengan bertambahnya usia, lensa mata akan mengalami pertambahan berat dan ketebalannya dan mengalami penurunan daya akomodasi. Setiap pembentukan lapisan baru dari serat kortikal secara konsentris, nukleus lensa akan mengalami kompresi dan pengerasan (nuclear

9 sclerosis). Modifikasi kimia dan pembelahan proteolitik crystallins (lensa protein) mengakibatkan pembentukan kumpulan protein dengan berat molekul yang tinggi. Kumpulan protein ini dapat menjadi cukup banyak untuk menyebabkan fluktuasi mendadak indeks bias lokal lensa, sehingga muncul hamburan cahaya dan mengurangi transparansi dari lensa. Modifikasi kimia dari protein nukleus lensa juga dapat meningkatkan pigmentasi, sehingga lensa tampak berwarna kuning atau kecoklatan dengan pertambahan usia termasuk didalamnya adalah penurunan konsentrasi glutation dan kalium, dan peningkatan konsentrasi natrium dan kalsium dalam sitoplasma sel lensa. Patogenesis yang multifaktorial dan tidak sepenuhnya dipahami. 2.1.3.3 Penyakit sistemik : Adanya kelainan sistemik yang tersering menyebabkan katarak adalah diabetes mellitus. Dasar patogenesis yang melandasi penurunan visus pada katarak dengan diabetes adalah teori akumulasi sorbitol yang terbentuk dari aktivasi alur polyol pada keadaan hiperglikemia yang mana akumulasi sorbitol dalam lensa yang merupakan dasar patofisiologi terbentuknya katarak. Dan yang kedua adalah teori glikosilasi protein, dimana adanya AGE akan mengganggu struktur sitoskeletal yang dengan sendirinya akan berakibat pada turunnya kejernihan lensa. 2.1.3.4 Trauma : Adanya trauma akan mengganggu struktur lensa mata baik secara makroskopis maupun mikroskopis. Hal ini diduga menyebabkan adanya perubahan struktur lensa dan gangguan keseimbangan metabolisme lensa sehingga katarak dapat terbentuk.

10 2.1.3.5 Penyakit mata lainnya : Adanya glaukoma dan uveitis menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit yang menyebakan kekeruhan lensa (Budiono, 2013). 2.1.4 Stadium katarak 2.1.4.1 Katarak insipien : Kekeruhan lensa tahap awal dengan visus yang relatif masih baik 2.1.4.2 Katarak imatur : Kekeruhan lensa mulai terjadi dapat terlihat oleh bantuan senter, terlihat iris shadow, visus > 1/60. 2.1.4.3 Katarak matur : Kekeruha lensa terjadi menyeluruh, dapat terlihat dengan bantuan senter, tidak terlihat iris shadow, visus 1/300 atau light perception positif. 2.1.4.4 Katarak hipermatur : Katarak hipermatur terjadi ketika massa lensa mengalami kebocoran melalui kapsul lensa, sehingga kapsul lensa menjadi berkerut dan menyusut (Budiono, 2013). 2.1.5 Gejala gejala katarak 2.1.5.1 Kabur Penderita pada umumnya dating saat kekeruhan terjadi pada kedua mata meski derajat katarak kedua mata berbeda. Kekaburan yang dirasa bersifat perlahan dan penderita merasa melihat melalui kaca yang buram. Pada tahap awal kekeruhan lensa penderita dapat melihat bentuk akan tetapi tidak dapat melihat detail. 2.1.5.2 Silau Katarak menyebabkan gangguan pembiasan lensa akibat perubahan bentuk, struktur dan indeks bias lensa. Segala jenis

11 katarak pada umumnya akan mengeluh silau akan tetapi terbanyak pada katarak sub kapsular posterior. 2.1.5.3 Gangguan penglihatan berwarna Lensa yang bertambah kuning atau kecoklatan akan menyebabkan gangguan diskriminasi warna, terutama pada spectrum cahaya biru (Budiono, 2013). 2.1.6 Jenis katarak 2.1.6.1 Katarak kongenital Katarak kongenital adalah kekeruhan pada lensa yang timbul pada saat pembukaan lensa. Kekeruhan sudah terdapat pada waktu bayi lahir. Katarak ini sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita rubella, diabetes mellitus, toksoplasmosis, hipoparatiroidisme, galaktosemia. Ada pula yang menyertai kelainan bawaan pada mata itu sendiri seperti mikroftalmus, aniridia, koloboma, keratokonus, ektopia lentis, megalokornea, heterokronia iris. Kekeruhan dapat dijumpai dalam bentuk arteri hialoidea yang persisten, katarak polariss anterior, posterior, katarak aksialis, katarak zonularis, katarak stelata, katarak totalis dan katarak kongenital membranasea. 2.1.6.2 Katarak primer Katarak primer, menurut umur ada tiga golongan yaitu katarak juvenilis (umur <20 tahun), katarak presenilis (umur sampai 50 tahun) dan katarak senilis (umur >50 tahun). Katarak primer dibagi menjadi 4 stadium : a. Stadium insipient Jenis katarak ini adalah stadium paling dini. Visus belum terganggu, dengan koreksi masih bisa 5/5-5/6. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercakbercak seperti jari-jari roda.

12 b. Stadium imatur Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa, terutama terdapat di bagian posterior dan bagian belakang nucleus lensaa. Shadow test positif. Saat ini mungkin terjadi hidrasi korteks yang menyebabkan lensa menjadi cembung sehingga indeks refraksi berubah dan mata menjadi miopia. Keadaan ini disebut intumesensi. Cembungnya lensa akan nmendorong iris ke depan, menyebabkan sudut bilik mata depan menjadi sempit dan menimbulkan komplikasi glaukoma. c. Stadium matur Pada saat ini terjadi pengeluaran air sehingga lensa akan berukuran normal kembali. Saat ini lensa telah keruh seluruhnya sehingga semua sinar yang masuk pupil dipantulkan kembali. Shadow test negatif. Di pupil tampak lensa seperti mutiara. d. Stadium hipermatur (katarak morgagni) Korteks lensa yang seperti bubur telah mencair sehingga nukleus lensa turun karena daya beratnya. Melalui pupil, nucleus terbayang sebagai setengah lingkaran di bagian bawah dengan warna berbeda dari yang di atasnya yaitu kecoklatan. Saat ini juga terjadi kerusakan kapsul lensa yang menjadi lebih permeable sehingga isi korteks dapat keluar dan lensa menjadi kempis yang di bawahnya terdapat nucleus lensa. Keadaan ini disebut katarak morgagni. 2.1.6.3 Katarak komplikata Katarak jenis ini terjadi sekunder atau sebagai komplikasi dari penyakit lain. Penyebab katarak jenis ini adalah :

13 a. Gangguan okuler, karena retinitis pigmentosa, glaucoma, ablasio retina yang sudah lama, uveitis, miopia maligna. b. Penyakit sistemik, diabetes mellitus, hipoparatiroid, sindrom down, dermatitis atopic. c. Trauma, trauma tumpul, pukulan, benda asing di dalam mata, terpajam panas yang berlebihan, sinar X, radioaktif, terpajam sinar matahari, toksik kimia. Merokok meningkatkan risiko berkembangnya katarak, demikian pula dengan peminum berat. Kadang kadang katarak terjadi lagi setelah operasi jika kapsul lensa ditinggalkan utuh selama operasi kataral (Dewit, 1998) dalam (Istiqomah, 2012). 2.1.7 Pencegahan Menurut ilyas (2006) umumnya katarak terjadi bersamaan dengan bertambahnya umur yang tidak dapat dicegah. Pemeriksaan mata secara teratur sangat perlu untuk mengetahui adanya katarak. Bila telah berusia 60 tahun sebaiknya mata diperiksa setiap tahun. Pada saat ini dapat juga kecepatan berkembangnya katarak dengan : 2.1.7.1 Tidak merokok, karena merokok mengakibatkan meningkatkan radikal bebas dalam tubuh sehingga resiko katarak akan bertambah. 2.1.7.2 Atur makanan sehat, makan yang banyak buah dan sayur 2.1.7.3 Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar ultra violet mengakibatkan katarak mata 2.1.7.4 Jaga kesehatan tubuh seperti kencing manis dan penyakit lainnya.

14 2.1.8 Penatalaksanaan Dalam Aspiani (2014) menjelaskan bahwa pembedahan dilakukan bila ketajaman penglihatan sudah menurun sehingga mengganggu pekerjaan. Jenis pembedahan untuk katarak: 2.1.8.1 Extracapsular Cataract Extractie (ECCE) Isi lensa dikeluarkan setalah pembungkus depan dibuat lubang sedang pembungkus belakang ditinggalkan. Dengan teknik ini terdapat ruang bebas ditempat bekas lensa sehingga memungkinkan menempatkan lensa pengganti yang disebut sebagai lensa tanam bilik mata belakang (posterior chamber intraocular lens). Dengan teknik ini sayatan lebih kecil (10-11 mm), sedikit jahitan dan waktu penyembuhan lebih pendek. 2.1.8.2 Intra Capsular Cataract Extractie (ICCE) Adalah mengeluarkan lensa dalam keadaan lensa utuh. Dilakukan dengan membuka/menyayat selaput bening dan memasukkan alat melalui pupil, kemudian menarik lensa keluar. Seluruh lensa dengan pembungkus atau kapsulnya dikeluarkan dengan lidi (probe) beku (dingin). Pada operasi dibuat sayatan selaput bening yang cukup luas, jahitan yang banyak (14-15 mm) sehingga penyembuhan lukanya memakan waktu yang lama. 2.1.8.3 Fakoemulsifikasi, dimana jenis pembedahan ini digunakan untuk mencegah astigmatisme pasca bedah EKE, maka luka dapat diperkecil dengan tindakan bedah fakoemulsifikasi. Pada tindakan ini lensa yang katarak di fragmentasi dan diaspirasi. Tindakanoperasi katarak dengan teknik fakoemulsifikasi memiliki banyak keunggulan diantaranya: a) Dengan alat fako seluruh lensa dapat dihancukan dan kemudian disedot/dihisap keluar.

15 b) Penggunaan lensa tanam hanya cukup ditutup dengan 1 atau 2 jahitan, atau pada kondisi tertentu tidak memerlukan jahitan sama sekali. c) Masa penyembuhan lebih singkat. Setelah pembedahan pasien segera diberi obat untuk mengurangi rasa sakit karena operasi katarak adalah suatu tindakan yang menyayat. Antibiotik diperlukan atas dasar kemungkinan terjadinya infeksi karena kebersihan yang tidak sempurna. Pasien diberi obat tetes mata steroid untuk mengurangi reaksi radang akibat tindakan bedah dan diberikan obat tetes mata yang mengadung antibiotik untuk mencegah infeksi. 2.1.9 Komplikasi Komplikasi post operasi katarak, di antaranya (Aspiani, 2014): 2.1.9.1 Edema kornea 2.1.9.2 Prolapus iris 2.1.9.3 Bilik mata depan yang dangkal 2.1.9.4 Glaukoma 2.1.9.5 Hipermetropia tinggi absolut (menyebabkan kehilangan kekuatan konvergensi sekitar 18 dioptri dan bersifat absolut karena tidak ada bagian yang dapat mengkonpensasi daya akomodasi). 2.1.9.6 Astigmastime 2.1.9.7 Kehilangan daya akomodasi 2.1.9.8 Perubahan persepsi warna 2.2 Konsep usia 2.2.1 Pengertian Usia Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Semisal, umur manusia dikatakan lima belas tahun diukur sejak

16 dia lahir hingga waktu umur itu dihitung (Depkes, 2013). Seiring dengan pertambahan usia, lensa akan mengalami penuaan juga. Keistemewaan lensa adalah terus menerus tumbuh dan membentuk serat lensa dengan arah pertumbuhannya yang konsentris. Tidak ada sel yang mati ataupun terbuang karena lensa tertutupi oleh serat lensa. Akibatnya, serat lensa paling tua berada di pusat lensa (nukleus) dan serat lensa yang paling muda berada tepat di bawah kapsul lensa (korteks). Denga pertambahan usia, lensa pun bertambah berat, tebal, dan keras terutama bagian nukleus. Pengerasan nukleus lensa disebut dengan nuklear sklerosis.selain itu, seiring dengan pertambahan usia, protein lensa pun mengalami perubahan kimia. Fraksi protein lensa dahulunya larut air menjadi tidak larut air dan beragregasi membentuk protein dengan berat molekul yang besar. Hal ini menyebabkan transparansi lensa berkurang sehingga lensa tidak lagi meneruskan cahaya tetapi malah mengaburkan cahaya dan lensa menjadi tidak tembus cahaya (Micell-Ferrari et all 1996 dalam Fadillah 2012). 2.2.2 Jenis perhitungan usia 2.2.2.1 Usia kronologis Usia kronologis adalah perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia. 2.2.2.2 Usia mental Usia mental adalah perhitungan usia yang dari taraf kemampuan mental seseorang. Misalkan seorang anak secara kronologis berusia empat tahun akan tetapi masih merangkak dan belum dapat bebicara dengan kalimat lengkap dan berbicara dengan kalimat lengkap dan menunjukan kemampuan yang setara dengan anak berusia satu tahun, maka dinyatakan bahwa usia mental anak tersebut adalah satu tahun.

17 2.2.2.3 Usia biologis Usia biologis adalah perhitungan usia berdasarkan kematangan biologis yang dimiliki oleh seseorang. 2.2.3 Kategori usia 2.2.3.1 Menurut Depkes RI (2009) terdapat 9 kategori usia yaitu: a. masa balita = 0-5 tahun b. masa kanak-kanak = 5-11 tahun c. masa remaja = 12-25 tahun d. masa dewasa = 26-46 tahun e. masa lansia = 46-65 tahun f. masa manula = 65 tahun sampai atas 2.2.3.2 Menurut WHO menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu: a. usia pertengahan (middle age) = 45-59 tahun b. lanjut usia (elderly) = 60-74 tahun c. lanjut usia tua (old) = 75-90 tahun d. usia sangat tua (very old) = >90 tahun Dalam penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit katarak di poli mata RSUP Prof. Dr..R.D Kandou Manado, Mo utapo (2015) ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia dengan kejadian penyakit katarak di poli mata RSUP. Prof.Dr.R.D Kandou Manado. 2.3 Konsep Riwayat Pekerjaan 2.3.1 Pengertian riwayat pekerjaan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014) riwayat pekerjaan adalah segala sesuatu yang telah dialami seseorang. Pekerjaan menurut Thomas (2003) dalam Ningrum (2011) adalah kebutuhan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi merupakan cara mencari nafkah, berulang dan banyak tantangan. Menurut Wales (2009) dalam Ningrum (2011) pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas

18 utama yang dilakukan oleh manusia, dalam arti sempit istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas/kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Menurut Soeroto (1986) dalam Rizali (2010) mendifinisikan pekerjaan adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri dan orang lain, baik orang melakukan dengan dibayar ataupun tidak. Selanjutnya menurut Ida Bagus Mantra dalam Rizali (2010) ditinjau dari aspek ekonomis bekerja itu diartikan sebagai melakukan pekerjaan untuk menghasilkan atau membantu menghasilkan barang dan jasa dengan maksud untuk memperoleh penghasilan baik berupa uang atau barang dalam kurun waktu tertentu. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pekerjaan adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri dan orang lain, sedangkan riwayat pekerjaan adalah segala sesuatu yang telah dialami seseorang. Menurut Notoatmodjo (2007) jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan yaitu: 2.3.1.1 Adanya faktor faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan seperti bahan-bahan kimia, gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya. 2.3.1.2 Situasi pekerjaan yang penuh dengan stres (yang dikenal sebagai faktor yang berperan pada timbulnya hipertensi dan ulcus lambung). 2.3.1.3 Ada tidaknya gerak badan didalam pekerjaan. Di Amerika Serikat ditunjukkan dikalangan mereka yang mempunyai pekerjaan dimana kurang adanya gerak badan.

19 2.3.1.4 Karena berkerumun dalam satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi proses penularan penyakit antara para pekerja. 2.3.1.5 Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan pekerjaan di tambang. 2.3.2 Hubungan riwayat pekerjaan dengan kejadian katarak Faktor terjadinya katarak salah satunya adalah pekerjaan yang banyak terpapar sinar matahari. Dalam penilitian tentang Hubungan pekerjaan tempat tinggal katarak dengan tingkat kematangan katarak, Wahyudi (2013) ditemukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kematangan katarak senilis dengan pekerjaan responden di rumah sakit william booth semarang. Dapat disampaikan bahwa pekerjaan responden di luar ruangan (lapangan) tingkat kematangan kataraknya terlihat meningkat. Responden pada kelompok pekerja lapangan dengan tingkat kematangan katarak matur persentasenya lebih tinggi (62%) dibanding dengan responden pada kelompok pekerja dalam ruangan (41,9%) demikian juga untuk tingkat kematangan katarak imatur. Sinar matahari adalah sinar yang berasal dari matahari. Matahari memancarkan energi dalam bentuk cahaya ke segala arah. Energi yang dilancarkan tersebut hanya sebagian kecil yang sampai ke bumi. Namun, sejumlah energi yang kecil tersebut sudah cukup sebagai sumber energi di bumi (Tilong, 2013). Menurut Nayler dalam Fhatmanathan (2012) sinar matahari, atau lebih spesifiknya, spectrum radiasi elektromagnetik yang berintraksi dengan atmosfer bumi berkisar dari 100 nm sampai sekitar 1 mm. Gelombang elektromagnetik ini dapat dibagi kepada beberapa komponen yaitu: Ultraviolet C (UVC), Ultraviolet B (UVB), Ultraviolet A (UVA), Visible Light, dan Infrared atau Inframerah.

20 Sinar UV dapat membakar mata, rambut dan kulit jika bagian tubuh tidak dilindungi atau jika terlalu banyak terkena sinar matahari. Sering beraktifitas dibawah sinar matahari tanpa pelindung kulit akan menyebabkan kulit lebih cepat mengalami penuaan. Kulit cepat berkerut dan timbul bercak-bercak hitam yang kita kenal sebagai flek hitam. Sianr UV juga bisa membuat kulit tidak mulus karena menebal atau menipis. Bisa juga muncul benjolan-benjolan atau flek pada kulit bisa berkembang menjadi tumor jinak bahkan kaker kulit, khususnya pada orang yang banyak bekerja dibawah sinar matahari atau sering berjemur dipantai. Tidak heran bila bintik awal kanker kulit dibagian tubuh yang terbuka seperti wajah, kepala, tagan dan bagian yang banyak terpapar sianr matahari (Tilong, 2013). Tidak hanaya pada kulit, sinar ultraviolet juga berakibat pada mata. Radiasi sinar UV pada mata akan menyababkan terjadinya reaksi oksidasi pada lensa mata yang akan menimbulkan kekeruhan pada lensa. Ini dapat menimbulkan penyakit yang disebut katarak, juga kerusakan pada kornea dan retina (Tilong, 2013). Menipisnya lapisan ozon serta paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari terlalu tinggi, dapat mempercepat seseorang menderita penyakit mata, diantaranya adalah katarak. Sinar UV dari matahari memang dapat mempertinggi resiko kebutaan karena katarak. Untuk meminimalisir tingkat kebutaan karena katarak yang disebakan paparan sianr UV dari matahari, diharuskan mengenakan topi, kacamata pelindung, payung saat berada diruang terbuka. Menghindari sedapat mungkin mata terkena debu dan asap kendaraan bermotor. Segera mencuci atau membilas air bersih bila terkena debu atau asap kendaraan bermotor dan mengenakan helm dengan penutup mata, bila mengendarai sepeda motor. Ketika berada diruang terbuka, perlu menggunakan alat-alat tersebut. Memang sebagian orang menganggap

21 hal itu remeh, tapi harus diingat paparan sinar UV yang terlalu tinggi pada mata dapat membahayakan kebutaan. Usia selama ini diyakini sebagai penyebab utama penyakit katarak. Namun, paparan sinar UV matahari juga dapat mempercepat terjadinyakatarak. Paparan sinar matahari terus menerus dan terlalu tinggi, mempercepat kekeruhan lensa. Katarak bisa menyerang mereka yang berusia 50 tahun keatas. Oleh karena itu disaat usia muda dan tidak mengenakan kacamata pelindung mata dan membiarkan langsung paparan sinar matahari. Nanti kalau sudah menginjak usia tua baru dapt merasakannya (Jajeli, 2008). Salah satu faktor terjadinya katarak, adalah riwayat pekerjaan yang terpapar langsung sinar matahari. Berdasarkan hasil penelitian Mukarrom (2014) yang meneliti tentang hubungan riwayat pekerjaan langsung dibawah sinar matahari dengan kejadian katarak pada pasien di Poliklinik Mata RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat pekerjaan dengan kejadian katarak. 2.4 Konsep Riwayat Merokok 2.4.1 Pengertian riwayat merokok Perokok adalah seorang yang suka merokok, disebut perokok aktif bila orang tersebut yang merokok secara aktif dan disebut perokok pasif bila orang tersebut hanya menerima asap rokok saja, bukan melakukan aktivitas merokok sendiri (KBBI, 2012). Menurut Depkes RI (2013) merokok dipercaya dapat memperburuk kondisi mata. Katarak, yaitu memutihnya lensa mata yang menghalangi masuknya cahaya yang dapat menyebabkan kebutaan, 40% terjadi pada perokok. Rokok dapat menyebabkan katarak dengan cara mengiritasi mata dengan terlepasnya zat-zat kimia diparu-paru yang oleh aliran

22 darah dibawa sampai kemata. Rokok mengandung nikotin yang menyebabkan thrombosis yang dapat berakibat pada gangguan aliran darah ke mata (Cahyono, 2008). 2.4.2 Kandungan rokok Menurut Muhibah (2011) racun yang paling utama adalah sebagai berikut: 2.4.2.1 Nikotin Nikotin dapat meningkatkan adrenalin yang membuat jantung berdebar lebih cepat dan bekerja lebih keras, frekuensi jantung meningkat dan kontraksi jantung meningkat sehingga menimbulkan tekanan darah meningkat (Tawbariah et al, 2014) 2.4.2.2 Tar Tar adalah subtansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru, mengandung bahan-bahan karsinogen (mardjun, 2012). 2.4.2.3 Karbon monoksida (CO) Merupakan gas berbahaya yang terkandung dalam asap pembuangan kendaraan. CO menggantikan 15% oksigen yang seharusnya dibawa oleh sel-sel darah merah. CO juga dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah dan meninggalkan endapan lemak pada dinding pembuluh darah, menyebabkan pembuluh darah tersumbat. 2.4.3 Jenis rokok Menurut Mustikaningrum (2010) jenis rokok dibagi menjadi delapan yaitu: 2.4.3.1 Rokok Merupakan sediaan tembakau yang banyak digunakan.

23 2.4.3.2 Rokok Organik Merupakan jenis rokok yang dianggap tidak mengandung bahan adiktif sehingga dinilai lebih aman dibanding rokok modern. 2.4.3.3 Rokok gulungan atau lintingan Peningkatan pengguna rokok dengan cara melinting sendiri ini sebagian besar disebabkan oleh budaya dan faktor finansial. 2.4.3.4 Bidis Bidis berasal dari india dan beberapa negara asia tenggara. Bidis dihisap lebih intensif dibandingkan rokok biasa, sehingga terjadi peningkatan pemasukan nikotin yang dapat menyebabkan efek kardiovaskuler. 2.4.3.5 Kretek Mengandung 40% cengkeh dan 60% tembakau. Cengkeh menimbulkan aroma yang enak, sehingga kretek dihisap lebih dalam daripada rokok biasa. 2.4.3.6 Cerutu Kandungan tembakaunya lebih banyak dibandingkan jenis lainnya, seringkali cerutu hanya mengandung tembakau saja. 2.4.3.7 Pipa Asap yang dihasilkan pipa lebih biasa saja dibandingkan asap rokok biasa, sehingga tidak perlu hisapan yang langsung untuk mendapatkan kadar nikotin yang tinggi dalam tubuh. 2.4.3.8 Pipa air Sediaan ini telah digunakan berabad-abad dengan persepsi bahwa cara ini sangat aman. Beberapa nama lokal yang sering digunakan adalah hookah, bhang, narghile, shisa. 2.4.4 Kategori Perokok: 2.4.4.1 Bukan perokok (tidak meiliki kebiasaan merokok)

24 2.4.4.2 Perokok ringan : < 10 batang / hari 2.4.4.3 Perokok sedang : 10-20 batang / hari 2.4.4.4 Perokok berat : > 20 batang / hari Dalam penelitian tentang Hubungan Merokok Dengan Katarak Di Poliklinik Mata RSUD DR.Zainoel Abidin Banda Aceh, Putri (2014) ditemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan anatara merokok dengan katarak di poliklinik mata RSUD Dr. Zainoel abidin Banda Aceh. Makin banyak berat derajat merokok maka semakin tinggi terjadinya katarak. 2.5 Kerangka Teori Gambar 2.1 Kerangka Teori Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Katarak: Usia Proses penuaan Jenis kelamin Genetik Pendidikan Pekerjaan Kelainan bawaan Konsep pekerjaan Kabur,silau, gangguan penglihatan berwarna Gejala katarak Status sosial ekonomi Status gizi Lingkungan Riwayat merokok Penyakit sistemik DM Penyakit mata lainnya: Glaukoma dan uveitis katarak Konsep katarak Pengertian, etiologi, patofisiologi, stadium, gejala, jenis, pencegahan, penatalaksanaan,

25 2.6 Kerangka Konsep Gambar 2.2 Kerangka Konsep Variabel Bebas Variabel Terikat Faktor faktor katarak Umur Jenis kelamin Genetik Pendidikan Riwayat pekerjaan Kejadian Katarak Pada Pasien Status sosial ekonomi Status kesehatan Lingkungan Riwayat merokok Keterangan: = Tidak Diteliti = Diteliti 2.7 Hipotesis Ada hubungan faktor usia, riwayat pekerjaan, dan riwayat merokok dengan kejadian katarak pada pasien katarak di Poliklinik Mata RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin.