BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penangkaran Semi Alami Pulau Tinjil, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni hingga bulan Agustus 2009. 3.2 Bahan dan Alat yang Digunakan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi peta kawasan Pulau Tinjil dan literatur mengenai monyet ekor panjang. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Global Positioning System (GPS), teropong binokuler, kompas, klinometer, meteran, pita ukur, tambang, tali plastik, jam tangan, kamera digital, tally sheet, seperangkat komputer beserta software ArcView GIS Versi 3.3 dan AutoCAD 2006. 3.3 Data yang Dikumpulkan 3.3.1 Data primer Data primer yang dikumpulkan meliputi: a. Ukuran kelompok monyet ekor panjang, yaitu jumlah anggota dalam satu kelompok, struktur umur dan nisbah kelamin monyet ekor panjang. b. Tipe ekosistem, secara umum dilihat dari ciri-cirinya. c. Kondisi habitat monyet ekor panjang yang dilihat dari komponen habitat, yaitu biologi dan fisik. Komponen biologi dilihat berdasarkan parameter-parameter tegakan yang terdiri dari: komposisi dan struktur vegetasi serta indeks nilai penting pada berbagai tingkat pertumbuhan (semai, pancang, tiang dan pohon), kerapatan vegetasi, cover, ketersediaan tumbuhan pakan dan palatabilitas pakan. Komponen fisik hanya mencakup ketersediaan air yang terdapat di habitat monyet ekor panjang. d. Wilayah jelajah monyet ekor panjang yang mencakup luas dan letaknya berdasarkan jelajah hariannya. e. Daerah inti, mencakup luas dan letak daerah inti dalam wilayah jelajah monyet ekor panjang.
f. Teritori, mencakup luas dan letak teritori dalam wilayah jelajah monyet ekor panjang. 3.3.2 Data sekunder Data sekunder yang dikumpulkan yaitu: a. Kondisi umum Pulau Tinjil. b. Daftar jenis pakan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil. c. Palatabilitas pakan monyet ekor panjang. 3.4 Metode Pengambilan Data 3.4.1 Kegiatan pendahuluan Kegiatan pendahuluan yang meliputi: a. Studi pustaka dari buku, jurnal ataupun hasil penelitian terdahulu mengenai monyet ekor panjang, wilayah jelajah, daerah inti dan teritori. b. Observasi lapangan untuk mengetahui keadaan lokasi penelitian dan menentukan kelompok monyet ekor panjang yang akan diamati. 3.4.2 Pelaksanaan kegiatan a. Pendugaan ukuran kelompok monyet ekor panjang dilakukan dengan metode concentration count, yaitu penghitungan yang dilakukan pada saat monyet berkumpul pada waktu dan tempat yang relatif bersamaan. Pengamatan dilakukan pada tiga kelompok, yaitu kelompok kandang 3, kelompok kandang 5 dan kelompok kandang 8. Pemilihan kelompok tersebut dilakukan berdasarkan observasi lapangan yang telah dilakukan pada kegiatan pendahuluan, keadaan kondisi lapang pada ketiga kelompok monyet ekor panjang tersebut memudahkan pengamat mengikuti penjelajahannya. b. Metode yang digunakan untuk menentukan tipe ekosistem adalah metode observasi lapangan. c. Kondisi habitat monyet ekor panjang yang dilihat dari parameter-parameter tegakan dapat ditentukan dengan cara analisis vegetasi, yaitu membuat petak contoh pada lokasi yang dapat mewakili wilayah jelajah monyet ekor panjang. Metode yang digunakan adalah metode garis berpetak. Ketentuan ukuran petak
contoh untuk tingkat semai (tinggi < 1,5m) 2m x 2m, tingkat pancang (diameter < 10cm dengan tinggi > 1,5m) 5m x 5m, tingkat tiang (diameter 10-20cm) 10m x 10m dan tingkat pohon (diameter > 20cm) 20m x 20m (Soerianegara & Indrawan 2005). Gambar 2 Layout metode garis berpetak. Keterangan : A = Petak contoh semai (2x2) m 2 B = Petak contoh pancang (5x5) m 2 C = Petak contoh tiang (10x10) m 2 D = Petak contoh pohon (20x20) m 2 d. Kerapatan vegetasi ditentukan dengan cara menghitung jumlah pohon per satuan luas dalam petak contoh. Data kerapatan vegetasi diperoleh dari data analisis vegetasi. e. Profil pohon ditentukan dengan cara mengukur dan mencatat jenis, diameter, tinggi bebas cabang, tinggi total, tinggi tajuk, lebar tajuk dan posisi pohon dalam petak contoh berukuran 20 m x 20 m. Data yang diukur dicatat pada tally sheet (Lampiran 9, Lampiran 10 dan Lampiran 11), kemudian diilustrasikan pada diagram profil pohon dengan menggunakan software AutoCAD 2006. Petak contoh yang digunakan sebanyak 5 petak pada masingmasing jalur yang mewakili wilayah jelajah monyet ekor panjang. f. Ketersediaan tumbuhan pakan ditentukan dengan cara menghitung jumlah setiap jenis tumbuhan pakan yang terdapat dalam petak contoh. Data tumbuhan pakan dicatat pada tally sheet jenis tumbuhan pakan pada petak contoh (Lampiran 1, Lampiran 2 dan Lampiran 3). g. Palatabilitas pakan monyet ekor panjang ditentukan dengan menggunakan metode observasi lapang. h. Untuk menentukan ketersediaan air pada wilayah jelajah monyet ekor panjang, dilakukan dengan menggunakan metode observasi lapang. i. Metode yang digunakan untuk menentukan jelajah harian monyet ekor panjang adalah mengikuti pergerakan kelompok atau anggota kelompok monyet ekor
panjang dalam melakukan aktivitas hariannya, mulai pada saat kelompok tersebut keluar dari lokasi tidur sampai kembali ke lokasi tidur. Pada saat mengikuti pergerakan tersebut, juga dilakukan pencatatan titik koordinat posisi monyet ekor panjang pada setiap aktivitasnya dengan menggunakan GPS. Pengamatan dilakukan pada tiga kelompok dengan lima kali pengulangan, yaitu kelompok kandang 3, kelompok kandang 5 dan kelompok kandang 8. j. Daerah inti dan teritori ditentukan dengan cara pengamatan langsung di lapangan dan pada saat pengamatan dilakukan pencatatan titik koordinat posisi monyet ekor panjang pada setiap aktivitasnya dengan menggunakan GPS. k. Untuk menentukan layout wilayah jelajah, daerah inti, maupun teritori monyet ekor panjang digunakan metode minimum convex polygon dengan software ArcView GIS versi 3.3. Metode ini menghubungkan titik-titik koordinat terluar dari titik-titik posisi tempat beraktivitasnya monyet ekor panjang yang telah dicatat pada saat pengamatan di lapangan. 3.5 Analisis Data 3.5.1 Ukuran kelompok monyet ekor panjang Ukuran kelompok monyet ekor panjang dianalisis secara kuantitatif dan deskriptif. Analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui nisbah kelamin, yaitu perbandingan antara jumlah individu jantan dan betina dari suatu populasi (Alikodra 2002). Analisis deskriptif merupakan penyajian dalam bentuk tabel serta penguraian dan penjelasan mengenai jumlah, struktur umur dan nisbah kelamin pada masing-masing kelompok monyet ekor panjang. 3.5.2 Analisis vegetasi Hasil analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui komposisi jenis dan dominansi. Dominansi suatu jenis pohon ditunjukkan dalam besaran indeks nilai penting (INP). Untuk tingkat semai dan pancang, INP tersebut merupakan penjumlahan nilai kerapatan relatif (KR) dan frekuensi relatif (FR), sedangkan untuk tingkat tiang dan pohon dijumlahkan lagi dengan nilai dominansi relatif (DR). Berikut ini merupakan beberapa persamaan yang digunakan untuk perhitungan besaran-besaran tersebut (Soerianegara & Indrawan 2005):
Kerapatan suatu jenis = jumlah individu suatu jenis luas unit contoh Kerapatan relatif (KR) = kerapatan suatu jenis x 100% kerapatan total jenis Frekuensi suatu jenis = jumlah plot ditemukannya suatu jenis jumlah total plot Frekuensi relatif (FR) = frekuensi suatu jenis x 100% total frekuensi Dominansi suatu jenis = luas bidang dasar (lbds) suatu jenis luas unit contoh Dominansi relatif (DR) = dominansi suatu jenis dominansi seluruh jenis x 100% Luas bidang dasar suatu jenis = ¼ π d 2 INP (tiang dan pohon) = KR + FR + DR INP (semai dan pancang) = KR + FR 3.5.3 Kerapatan vegetasi Analisis data kerapatan vegetasi dilakukan secara kuantitatif, yaitu dengan menggunakan persamaan (Soerianegara & Indrawan 2005): Kerapatan pohon = jumlah individu dalam petak contoh luas total petak contoh 3.5.4 Cover Cover dianalisis secara deskriptif, yaitu berupa penguraian dan penjelasan mengenai diagram profil pohon berdasarkan pengamatan langsung di lapangan. 3.5.5 Ketersediaan tumbuhan pakan Analisis data ketersediaan tumbuhan pakan dilakukan secara kuantitatif, yaitu dengan perhitungan jumlah jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pakan oleh monyet ekor panjang. Perhitungan jumlah jenis tumbuhan pakan dilakukan dengan menghitung jumlah setiap jenis tumbuhan pakan yang terdapat dalam petak contoh yang telah dicatat pada tally sheet jenis tumbuhan pakan.
3.5.6 Palatabilitas pakan Tingkat palatabilitas pakan dianalisis secara kuantitatif, yaitu dengan menggunakan persamaan (Trippensee 1948, diacu dalam Mulyana 2004) sebagai berikut: P = x y Keterangan: P = palatabilitas (nilai berkisar antara 0-1) x = jumlah petak contoh ditemukan jenis i yang dimakan y = jumlah seluruh petak contoh terdapatnya jenis i 3.5.7 Wilayah jelajah, daerah inti dan teritori Wilayah jelajah, daerah inti dan teritori masing-masing kelompok yang diteliti dianalisis secara kuantitatif dan deskriptif. Analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui luas wilayah jelajah, daerah inti dan teritori kelompok kandang 3, kelompok kandang 5 dan kelompok kandang 8. Penghitungan luas dilakukan dengan menggunakan software ArcView versi 3.3. Analisis deskriptif merupakan penguraian dan penjelasan mengenai wilayah jelajah, daerah inti dan teritori masing-masing kelompok monyet ekor panjang yang diteliti berupa gambar dan tabel berdasarkan pengamatan langsung di lapangan.