BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan (2010) Rp (juta) target. target

BUPATI PURWAKARTA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG IZIN LINGKUNGAN

KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PELAKSANAAN MANAJEMEN LINGKUNGAN KAWASAN

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ervianto (2005), suatu proyek konstruksi merupakan suatu

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Bab I PENDAHULUAN April :51 wib. 2 Jum'at, 3 Mei :48 wib

RPJMD Kab. Temanggung Tahun V 29

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan Isu Perkembangan Properti di DIY

BAB I PENDAHULUAN. berputar menggerakkan roda perekonomian di Kabupaten Mesuji.

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. banyak, masih dianggap belum dapat menjadi primadona. Jika diperhatikan. dialihfungsikan menjadi lahan non-pertanian.

PROFIL DINAS LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN WONOGIRI

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Yogyakarta merupakan salah satu daerah otonom di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, selain Kabupaten

BAB III LANDASAN TEORI

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG

REVIEW-INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) BADAN LINGKUNGAN HIDUP KOTA PRABUMULIH TAHUN

RENCANA AKSI KINERJA SASARAN TAHUN PERUBAHAN BADAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PELALAWAN

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

BUPATI BANGKA BARAT PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan penduduk maka semakin besar pula tuntutan kebutuhan

BERITA DAERAH KABUPATEN BANTUL

Pokok-Pokok Substansi PERATURAN PEMERINTAH NO 24 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN INDUSTRI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Perumahan di Kota Tangerang Selatan. terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

PENDAHULUAN Latar Belakang

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP

*terdiri dari kolam/empang/tebat, tanah kuburan, jalan, dan lapangan.

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 99 TAHUN TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Internasional Soekarno-Hatta terus meningkatkan pelayanan untuk. Soekarno-Hatta menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap

BAB 1 PENDAHULUAN. merealisasikan hak-hak asasi manusia lainnya. Pendidikan mempunyai peranan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Indonesia saat ini tengah menghadapi sebuah kondisi krisis pangan seiring

Analisis Kebutuhan Parkir dan Kajian Dampak Lalu Lintas Gedung Pusat Perbelanjaan Ramayana Makassar

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 46 TAHUN 2008 TENTANG

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BONDOWOSO TAHUN

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN RUANG

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan sejarah manusia dalam memenuhi kebutuhannya, maka

BUPATI JOMBANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG IZIN LINGKUNGAN

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang

UKDW. Pengertian Rusunawa Apartemen sejahtera Bentuk bangunan rusunawa Rusunawa Juminahan Konstruksi bangunan Rusunawa Sanitasi bangunan rusunawa

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki sumber daya alam yang

Ketentuan Umum Istilah dan Definisi

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan bagian yang

BAB I PENDAHULUAN. perhatian terhadap lingkungan yang memunculkan tuntutan tanggung jawab

BAB III TINJAUAN WILAYAH BANTUL

1 PENDAHULUAN. Tabel 1. Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, ** (Miliar Rupiah)

`BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. individu manusia setelah pangan dan sandang. Pemenuhan kebutuhan dasar

BAB I PENDAHULUAN. Museum Permainan Tradisional di Yogyakarta AM. Titis Rum Kuntari /

PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG:

BAB I PENDAHULUAN. Pengembangan sektor pariwisata merupakan salah satu upaya yang

WALIKOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KOTA BATU

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Yogyakarta yang memiliki luasan 1.485,36 kilometer persegi. Sekitar 46,63 %

LAPORAN SEKRETARIAT KOMISI PENILAI AMDAL TAHUN 2017

BIRO HUKUM DAN HUMAS KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG URUSAN PEMERINTAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP YANG DAPAT DIDEKONSENTRASIKAN

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, sosial dan budaya dengan sendirinya juga mempunyai warna

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 116 TAHUN 2016 T E N T A N G

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 23 TAHUN 2009 PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 23 TAHUN 2009 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

WALIKOTA KEDIRI PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG IZIN LINGKUNGAN

Paper UAS PK 5202 Dampak Pariwisata 1

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 59 TAHUN 2016

a. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup. b. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam.

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 47 Tahun : 2014

I. PENDAHULUAN. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) atau lebih populer dengan sebutan

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN SUKAMARA

ANALISIS MENGENAI DAMPAK INGKUNGAN

PROFIL BADAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (BPLH)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2008 NOMOR 7 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KERINCI NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 62 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI KANTOR LINGKUNGAN HIDUP

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

WALIKOTA PAREPAREIKOTA PAREPARE

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG IZIN PEMANFAATAN RUANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk yang semakin meningkat setiap waktunya menuntut sarana dan prasarana yang semakin memadahi pula, pembangunan adalah suatu bentuk pemenuh kebutuhan masyarakat akan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan. Faktanya pada kota Yogyakarta yang kerap dijuluki dengan sebutan Kota Pelajar dengan segudang daya tarik serta keistimewaan di dalamnya selalu menarik minat masyarakat untuk datang bahkan tinggal di dalamnya, bukan tidak mungkin dari tahun ke tahun jumlah penduduk di Yogyakarta selalu menunjukan peningkatan. Melihat dari adanya fenomena yang ada, membuat para investor dan perusahaan saling berlomba dalam mendirikan bisnis di dalamnya. Salah satu bisnis yang menjanjikan adalah bangunan komersil berupa hotel dan pusat perbelanjaan modern atau biasa disebut mall, mengingat tingginya kebutuhan akan fasilitas tersebut. Secara umum tentunya mendukung sektor kepariwisataan DIY karena wisatawan akan semakin dimanjakan dengan kelengkapan fasilitas, selain itu juga menjadi salah satu sektor penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat menguntungkan. Hal ini selaras dengan pemerintah DIY yang sedang mengembangkan pariwisata namun dengan cacatan tetap berwawasan lingkungan atau dengan sebutan DIY menuju ramah lingkungan. Demi melestarikan kehidupan di masa mendatang, sebuah pembangunan seharusnya mengutamakan konsep berkelanjutan. Konsep berkelanjutan adalah konsep suatu pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di masa sekarang namun tidak merugikan kehidupan di masa mendatang, hal ini menjadi batasan manusia untuk dapat mengelola lingkungan dengan tetap menjaga keseimbangannya dengan alam. Lingkungan memang perlu untuk dilestarikan karena lingkungan adalah tempat hidup dan bergantungnya manusia. Dalam penerapannya lingkungan

dapat tetap ada tanpa manusia namun manusia tidak akan bisa hidup tanpa sumber daya alam yang merupakan bagian dari lingkungan (Hadi, 2014). Hampir di setiap kota-kota besar semakin sulit ditemui kawasan hijau dengan fungsi dan perannya sebagai fasilitas publik, digantikan perannya oleh bangunan bangunan beton dan aspal yang berjajar di sepanjang jalan, dengan kualitas udara yang semakin menurun masyarakat merasa tidak nyaman bila berkegiatan di alam terbuka. Pada dasarnya kebutuhan pembangunan memang semakin meningkat dan pengembang kawasan dituntut untuk dapat mengakomodir seluruh kebutuhan masyarakat akan pembangunan tersebut, tetapi mengorbankan kelestarian lingkungan bukanlah pilihan yang tepat. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup merupakan tujuan utama dari pengelolaan lingkungan hidup yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan selanjutnya, oleh karena itu sejak awal perencanaan usaha/kegiatan sudah harus memperkirakan perubahan kondisi lingkungan hidup akibat pembentukan suatu lingkungan yang baru, baik dalam hal menguntungkan maupun merugikan yang diakibatkan dari adanya pembangunan tersebut. Dengan kata lain setiap bangunan yang baru berdiri harus memiliki manajemen lingkungan yang baik untuk dapat mewujdkan tujuan tersebut. Dalam UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup ditetapkan beberapa instumen, dimana instrumen tersebut bertugas sebagai tolak ukur dalam perlindungan lingkungan. Diantaranya Perizinan, Audit Lingkungan Hidup, UKL-UPL, AMDAL, dan sebagianya. Penerapannya di Indonesia saat ini diatur dalam Undangundang Nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting dari adanya usaha atau kegiatan yang direncanakan dan digunakan untuk pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha atau kegiatan tersebut. Merujuk pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 5 tahun 2012 tentang jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan, menerangkan bahwa pembangunan gedung dengan luas 5 ha atau bangunan 10.000 m² wajib dilengkapi dengan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) karena diduga dapat menimbulkan dampak penting berupa ganggungan lalulintas, limbah cair, timbunan sampah, penurunan kualitas air, penurunan muka air tanah, serta keresahan masyarakat di kawasan sekitarnya. Dalam perkembangan pola hidup masyarakat urban, mall dan hotel bukan lagi hanya menjadi tempat berbelanja namun juga menjadi tempat rekreasi dan juga sosialisasi, mengingat semakin terbatasnya ruang terbuka yang digunakan sebagai fasilitas publik. Dari banyaknya kegunaan serta permintaan, bukan tidak mungkin kebutuhan masyarakat akan mall selalu meningkat setiap tahunnya. Dilangsir dari surat kabar digital Satu Harapan.com(2015) Pembangunan Mall dan Hotel di Yogyakarta rugikan lingkungan. Menengok banyaknya pembangunan gedung-gedung tinggi membuat masyarakat Kota Yogyakarta tidak tinggal diam, bahkan tidak sedikit dari mereka yang melontarkan statement Yogyakarta Berhenti Nyaman. Asumsi yang muncul pada masyarakat umum adalah bangunan-bangunan tinggi tersebut muncul tanpa memikirkan aspek lingkungan di masa depan. Jogya City Mall sebagai salah satu pusat perbelanjaan modern yang baru saja didirikan di tahun 2013 lalu, memiliki lokasi yang strategis yakni berada di pintu gerbang masuk Kota Yogya dari arah utara. Mengusung Konsep One Stop Entertainment dengan menggabungkan sisi tradisional yang dengan gaya hidup modern perkotaan, bangunan ini juga akan dilengkapi hotel didalamnya, sehingga harapannya JCM ini dapat

menawarkan fasilitas berbelanja dan rekreasi bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Yogyakarta (dok Kerangka Acuan Pembangunan JCM & Hotel). Lokasi JCM tidak berada dalam kawasan administratif Kota Yogyakarta, melainkan masuk dalam kawasan administratif Kabupaten Sleman. Menurut PERDA DIY No 2 tahun 2010 tentang RTRWP DIY, sebagimana didalamnya dijelaskan mengenai arahan perkembangan sistem perkotaan. Ditetapkan beberapa kawasan yang termasuk dalam kawasan perkotaan yogyakarta (aglomerasi perkotaan yogyakarta), salah satunya sebagian kecamatan mlati. Definisi kawasan perkotaan sendiri adalah wilayah tersebut memiliki kegiatan utama bukan pertanian dengan beberapa susunan fungsi kawasan diantaranya sebagai pelayanan sosial dan kegaitan ekonomi. Hal ini sesuai arahan perkembangan sistem pelayanan wilayah, dimana desa sinduadi memiliki fungsi sebagai pelayanan dalam skala nasional. Secara administratif JCM termasuk dalam wilayah Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman. Berdasarkan RTRW Kabupaten Sleman 2011-2031 Perda no 12 tahun 2012 Pasal 65 ayat (2), tertera bahwa wilayah Desa Sinduadi Termasuk dalam Kawasan Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Kawasan PKN memiliki fungsi sebagai pelayanan dalam skala nasional, dengan fasilitas yang seharusnya tersedia diantaranya Rumah Sakit tipe A, Pusat Perbankan serta Pusat Perbelanjaan. Bila mengacu pada RTRW Kabupaten Sleman sebagaimana telah dipaparkan, pembangunan JCM sendiri telah sesuai dengan peruntukan tata ruang yang berlaku. Menengok dari kaca mata perencanaan pembangunan JCM sendiri berada tepat di sekitar area permukiman yang tergolong sebagai permukiman padat penduduk. Dengan adanya pembangunan pusat perbelanjaan modern dengan skala yang besar dan memiliki tingkat mobilitas yang tinggi, tentunya akan mengakibatkan dampak lingkungan yang terjadi dan dirasakan banyak pihak bila. Terlebih bila tidak menerapkan manajemen lingkungan secara tepat, tentunya dampak negatif yang timbul pasca bangunan tersebut beroperasi akan jauh mendominasi

dibanding dengan dampak positifnya. Dengan demikian penelitian dengan judul Manajemen Lingkungan JCM dirasa perlu untuk dilakukan. 1.2 Rumusan Masalah Pembangunan kota guna memenuhi fasilitas adalah respon dari perubahan fisik, tuntutan ekonomi serta keadaan sosial yang ada. Suatu pembangunan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang seharusnya tanpa meninggalkan konsep berkelanjutan, dimana suatu kota tersebut dapat terus berkembang tanpa menimbulkan dampak yang buruk untuk kehidupan dimasa mendatang. Bangunan komersial merupakan salah satu bentuk pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, dalam perkembangannya bukan lagi hanya sebagai tempat berbelanja namun juga menjadi tempat rekreasi keluarga, arena bermain anak serta sosialisasi bagi kaum urban karena semakin berkurangnya ruang terbuka. Sebelum suatu pembangunan dilakukan tentunya telah melewati tahapan perizinan serta kelengkapan dokumen lingkungan sebelumnya. Namun, pada kenyataanya masih terdapat indikasi bahwa adanya pembangunan mall dan hotel tersebut merugikan lingkungan. Padahal seharusnya bila tiap bangunan komersil menerapkan pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan dokumen terkait, tentunya hal tersebut tidak akan terjadi. Maraknya pembangunan Mall dan Hotel di DIY dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat di dalamnya. Jogya City Mall merupakan salah satu bangunan yang baru berdiri pada tahun 2013 silam. Melihat dari lokasi pembangunan JCM yang termasuk dalam kawasan Pusat Kegiatan Nasional(PKN), namun disisi lain masih berada di sekitar kawasan permukiman tentunya akan menimbulkan dampak tersendiri bagi lingkungan sekitarnya. Dalam penelitian ini, JCM dipilih sebagai salah satu contoh bangunan komersial yang menerapkan manajemen lingkungan di DIY. Dengan asumsi bukan tidak mungkin seluruh bangunan komersil yang ada di DIY menerapkan hal yang serupa dengan JCM.

Penelitian ini diharapkan dapat memperoleh suatu hasil dan kesimpulan guna menjawab pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Seperti apakah sistem manajemen lingkungan yang diterapkan di JCM? 2. Sudah sesuaikah praktik sistem manajemen lingkungan di JCM saat ini dengan AMDAL? 3. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi implementasi sistem manajemen lingkungan JCM? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah : 1. Mendeskripsikan bentuk sistem manajemen lingkungan yang diterapkan Jogya City Mall 2. Mengidentifikasi kesesuaian sistem manajemen lingungan yang dilakukan dengan indikator dalam dokumen AMDAL 3. Menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan sistem manajemen lingkungan Jogja City Mall 1.4 Batasan Penelitian Agar penelitian ini tidak meluas, maka perlu dilakukan pembatasan lingkup pengamatan berupa fokus dan batasan lokus, dengan penjabaran sebagai berikut : 1.4.1 Fokus Fokus dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian bentuk penerapan manajemen lingkungan yang telah dilakukan JCM dengan rencana bentuk pengelolaan dalam dokumen RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan) & RPL (Rencana Pemantaun Lingkungan) yang terdapat dalam AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) JCM. Dalam

penelitian ini ditegaskan bahwa peneliti tidak mendapatkan akses masuk dan wawancara langsung dari pihak manajemen JCM. Maka seluruh data dan kesimpulan yang ada dalam penelitian masih memiliki kelemahan, karena tidak adanya keseimbangan informasi yang didapatkan dari seluruh pihak pengawas pelaksana AMDAL (dinas/ instansi) dengan pihak pelaksana utama dari AMDAL itu sendiri, yaitu pihak JCM. 1.4.2 Lokus Penelitian Lokus dari penelitian ini adalah wilayah di Sekitar JCM, yaitu Dusun Kutu Patran, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman. Berpatokan pada wilayah yang kerap merasakan dampak secara langsung dan mengikuti sejak awal tahapan pembangunan JCM dilakukan. Dimana hal ini selaras dengan dokumen AMDAL terkait yang menetapkan sasaran dari pengelolaan dampak lingkungan pada warga Kutu Patran. 1.5 Manfaat Penelitian Hasil Analisis mengenai Manajemen Lingkungan JCM dapat ditujukan untuk berbagai pihak. Adapaun manfaat dari penelitian ini adalah untuk : 1. Pengembangan ilmu pengetahuan Dari hasil penelitian ini mampu mengembangkan metode untuk mengevaluasi bentuk pengelolaan lingkungan pada suatu proyek/perusahaan, yang berpatokan pada dokumen lingkungan terkait. Sebagai contoh salah satu dokumen lingkungan yang berupa AMDAL, merupakan kajian bentuk manajemen lingkungan yang sempurna. Dengan perencanaan yang tepat dan penerapan sesuai tentunya dapat mewujudkan kinerja lingkungan yang berkelanjutan. Karena dokumen tersebut merupakan kunci dari dikeluarkan atau tidaknya IMB (Izin Mendirikan Bangunan), seharusnya dokumen tersebut telah melewati hasil uji yang sesuai. 2. Implementasi Kebijakan

Keluaran dari penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah atau pihak-pihak terkait terutama Badan Lingkungan Hidup untuk lebih memperhatikan pemrakarsa proyek yang telah melakukan pembangunan dengan skala besar serta merencanakan bentuk rencana sistem manajemen lingkungan mereka, sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Agar kedepannya bukan hanya menjadi dokumen saja, namun benar benar dilakukan dan dipantau bentuk pengelolaanya untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. 1.6 Keaslian Penelitian Sejauh yang diketahui oleh penulis, penelitian dengan judul Manajemen Lingkungan Jogja City Mall dengan tema serta lokasi yang ditentukan memang belum pernah dilakukan. Adapun beberapa penelitian terkait dengan judul, tema dan lokasi sebagai berikut : a. Evaluasi Manajemen Kawasan Konservasi pada Resort Pengelolaan Hutan Mangunan, Gama Giri Mandiri, dan Kebun Buah Mangunan, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Dewi (2010) Fokus dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan manajemen organisasi, kegiatan dan ruang yang berhubungan dengan lokasi penelitian, setelah itu mengidentifikasi pengaruh manajemen ketiga aspek tersebut dengan keteraturan penataan ruang dan keterjagaan fungsi lingkungan. Serta melihat seberapa optimal manajemen kawasan konservasi pada kawasan tersebut dengan meninjau dari indikator teori bersangkutan. Pada penelitian ini menggunakan metode Deduktif-Kualitatif b. Dampak Program PLPBK (Penataan Lingkungan dan Permukiman Berbasis Komunitas) dengan Metode CAP (Community Action Planning) di Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DIY. Andriyani (2012).

Fokus dalam penelitian ini adalah menganalisa dampak yang terjadi di lapangan dengan dampak yang telah direncanakan serta melhat pencapaian antar dampak tersebut. Pada penelitian ini menggunakan metode Deduktif-Kualitatif Merangkum kedua penelitian sebelumnya yang telah dipaparkan oleh peneliti, perbedaan yang terdapat dengan penelitian pertama adalah fokus serta lokus penelitian, indikator tolak ukur yang digunakan untuk mengidentifikasi manajemen kawasan menggunakan teori kawasan konservasi. Sedangkan penelitian kedua memiliki fokus melihat dampak program PLPBK dengan metode CAP, secara garis besar penelitian ini mendeskripsikan dampak yang telah terjadi di lapangan berdasarkan pada variabel dampak yang telah diprakirakan sebelumnya. Dari kedua penelitian tersebut, disimpulkan tidak ada penelitian yang meneliti Manajemen Lingkungan Jogja City Mall melihat dari indikator rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan terkait. Maka penelitian ini dirasa layak untuk dilanjutkan.