Gb 2.5. Mekanisme Tsunami

dokumen-dokumen yang mirip
SMP kelas 9 - FISIKA BAB 4. SISTEM TATA SURYALatihan Soal 4.5

Kata kunci : Tsunami, Tsunami Travel Time (TTT), waktu tiba, Tide Gauge

TUGAS BAHASA INDONESIA

PENYEBAB TERJADINYA TSUNAMI

GEMPA BUMI DAN AKTIVITASNYA DI INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak di antara tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng

BAB I PENDAHULUAN I.1. Judul Penelitian I.2. Latar Belakang Masalah

Gambar 1.1 Denah lokasi jembatan yang berdampak tsunami di Aceh

MITIGASI BENCANA ALAM TSUNAMI BAGI KOMUNITAS SDN 1 LENDAH KULON PROGO. Oleh: Yusman Wiyatmo ABSTRAK

Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang)

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TEORI TERKAIT

1.1 Latar Belakang. Gambar 1.1 Tsunami di berbagai kedalaman. Sumber: Pengenalan Tsunami, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

LOKASI POTENSI SUMBER TSUNAMI DI SUMATERA BARAT

KARAKTERISTIK GEMPABUMI DI SUMATERA DAN JAWA PERIODE TAHUN

TINGKAT KERAWANAN BENCANA TSUNAMI KAWASAN PANTAI SELATAN KABUPATEN CILACAP

TSUNAMI. 1. Beberapa penyebab lainnya ialah : 3. Tsunami Akibat Letusan Gunungapi

KARAKTERISTIK DAERAH POTENSI BENCANA ALAM WILAYAH SELAT SUNDA

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Dan Proses Terjadi Tsunami

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

Pemodelan Tinggi dan Waktu Tempuh Gelombang Tsunami Berdasarkan Data Historis Gempa Bumi Bengkulu 4 Juni 2000 di Pesisir Pantai Bengkulu

TINJAUAN PUSTAKA. Status administrasi dan wilayah secara administrasi lokasi penelitian

Gambar 15 Mawar angin (a) dan histogram distribusi frekuensi (b) kecepatan angin dari angin bulanan rata-rata tahun

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Rancangan Peta Rute Evakuasi Bancana Tsunami Pantai Puger Jember

TEORI TEKTONIK LEMPENG

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Gelombang laut merupakan fenomena menarik dan merupakan salah satu

Samudera adalah kumpulan air yang sangat banyak, menutupi hampir. 71 persen Bumi dan memisahkan benua. Jutaan tahun yang lalu ketika Bumi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kondisi Kestabilan dan Konsistensi Rencana Evakuasi (Evacuation Plan) Pendekatan Geografi

2. TINJAUAN PUSTAKA. barat dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya, sebelah timur. mencapai Ha (Bappeda Kabupaten Ciamis, 2009).

Gambar 1.1. Indonesia terletak pada zona subduksi (

BAB 1 PENDAHULUAN. mengenai bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial.

PEMETAAN BAHAYA GEMPA BUMI DAN POTENSI TSUNAMI DI BALI BERDASARKAN NILAI SESMISITAS. Bayu Baskara

Berikut kerangka konsep kegiatan pembelajaran geografi kelas VI SD semester II pada KD mengenal cara cara menghadapi bencana alam.

Gempa atau gempa bumi didefinisikan sebagai getaran yang terjadi pada lokasi tertentu pada permukaan bumi, dan sifatnya tidak berkelanjutan.

Pengembangan Program Analisis Seismic Hazard dengan Teorema Probabilitas Total Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

GEMPA DAN TSUNAMI GEMPA BUMI

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II GEMPA ACEH DAN DAMPAKNYA TERHADAP BATAS

KEGEMPAAN DI INDONESIA PERIODE BULAN APRIL AGUSTUS 2008

KERAGAMAN BENTUK MUKA BUMI: Proses Pembentukan, dan Dampaknya Terhadap Kehidupan

DINAMIKA PANTAI (Geologi, Geomorfologi dan Oseanografi Kawasan Pesisir)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau menurunnya kekuatan geser suatu massa tanah. Dengan kata lain, kekuatan

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.4

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Definisi dan Jenis Bencana

ANALISIS KARAKTERISTIK GELOMBANG PECAH DI PANTAI NIAMPAK UTARA

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL 7.2

BAB II DASAR TEORI SISTEM PERINGATAN DINI TERHADAP TSUNAMI

Dicetak ulang oleh: UPT Loka Uji Teknik Penambangan dan Mitigasi Bencana, Liwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2014

PENGENALAN. Irman Sonjaya, SE

BAB III METODE PENELITIAN. Metode geofisika yang digunakan adalah metode seimik. Metode ini

Simulasi Penjalaran dan Penentuan Run-Up Gelombang Tsunami di Teluk Pangandaran, Jawa Barat Sofia Alma Aeda *),Siddhi Saputro *), Petrus Subardjo *)

PERKUAT MITIGASI, SADAR EVAKUASI MANDIRI DALAM MENGHADAPI BENCANA TSUNAMI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Angin adalah massa udara yang bergerak. Angin dapat bergerak secara horizontal

BAB 1 : PENDAHULUAN. bumi dan dapat menimbulkan tsunami. Ring of fire ini yang menjelaskan adanya

TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa

GAYA GELOMBANG TSUNAMI PADA BANGUNAN BERPENGHALANG

NEPAL MASIH PUNYA POTENSI GEMPA BESAR

Sifat gelombang elektromagnetik. Pantulan (Refleksi) Pembiasan (Refraksi) Pembelokan (Difraksi) Hamburan (Scattering) P o l a r i s a s i

BAB I PENDAHULUAN. Sabuk Gempa Pasifik, atau dikenal juga dengan Cincin Api (Ring

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yaitu Lempeng Euro-Asia dibagian Utara, Lempeng Indo-Australia. dibagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik dibagian Timur.

BAB III METODA PENELITIAN

POTENSI KERUSAKAN GEMPA BUMI AKIBAT PERGERAKAN PATAHAN SUMATERA DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA. Oleh : Hendro Murtianto*)

PETA MIKROZONASI PENGARUH TSUNAMI KOTA PADANG

BAB I PENDAHULUAN. adalah inti, putih telurnya adalah selubung, dan cangkang telurnya adalah kerak.

ANALISIS TINGKAT BAHAYA TSUNAMI DI DESA ULEE LHEUE KECAMATAN MEURAXA KOTA BANDA ACEH

Pemodelan Aliran Permukaan 2 D Pada Suatu Lahan Akibat Rambatan Tsunami. Gambar IV-18. Hasil Pemodelan (Kasus 4) IV-20

ANCAMAN GEMPABUMI DI SUMATERA TIDAK HANYA BERSUMBER DARI MENTAWAI MEGATHRUST

Potensi Kebencanaan Geologi di Kawasan Pesisir Selatan D.I. Yogyakarta. Sari. Abstract

II. TINJAUAN PUSTAKA WRPLOT View (Wind Rose Plots for Meteorological Data) WRPLOT View adalah program yang memiliki kemampuan untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pantai selatan Pulau Jawa merupakan wilayah yang paling besar berpotensi gempa bumi sampai kekuatan 9 skala

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Tes Kemampuan Kognitif Materi Pokok Gempa Bumi

GELOMBANG SEISMIK Oleh : Retno Juanita/M

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Jenis Bahaya Geologi

BAB I PENDAHULUAN. (Undang-undang nomor 24 tahun 2007). Australia yang bergerak relative ke Utara dengan lempeng Euro-Asia yang

BAB I PENDAHULUAN I.1.

BAB 1 : PENDAHULUAN Latar Belakang

ULASAN GUNCANGAN TANAH AKIBAT GEMPA BARAT LAUT KEP. SANGIHE SULAWESI UTARA

Transkripsi:

TSUNAMI Karakteristik Tsunami berasal dari bahasa Jepang yaitu dari kata tsu dan nami. Tsu berarti pelabuhan dan nami berarti gelombang. Istilah tersebut kemudian dipakai oleh masyarakat untuk menunjukkan adanya gelombang laut besar yang disebabkan oleh gempa bumi. Lebih tepatnya, tsunami diartikan sebagai gelombang laut yang terjadi secara mendadak yang disebabkan karena terganggunya kestabilan air laut yang diakibatkan oleh gempa bumi tektonik. Gb 2.5. Mekanisme Tsunami Tsunami dapat dibangkitkan oleh berbagai gangguan yang terjadi di dasar laut secara tiba-tiba, diantaranya adalah gempa bumi tektonik, aktivitas gunung api bawah laut, runtuhan dekat pantai, ledakan nuklir dibawah laut dan akibat kejatuhan meteor. Dari berbagai penyebab tsunami diatas, gempa bumi tektonik merupakan pembangkit utama gelombang tsunami. Karakteristik gelombang tsunami meliputi energi, magnitudo, kedalaman pusat gempa, mekanisme fokus dan luas rupture area. Secara singkat tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan perioda panjang yang ditimbulkan oleh suatu gangguan impulsif yang terjadi pada

medium laut. Perioda gelombang tsunami berkisar antara 10-60 menit. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transien atau gelombang yang bersifat sesaat. Gelombang semacam ini berbeda dengan gelombang-gelombang laut lainnya yang lebih bersifat kontinyu, seperti gelombang permukaan yang ditimbulkan oleh gaya seret angin atau gelombang pasut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa. Selain bersifat transien, gelombang tsunami juga bersifat dispersive. Artinya, periodanya berubah terhadap jarak sumber gangguan impulsif. Gempa bumi yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami mempunyai persyaratan karakteristik, yaitu : 1. Magnitude gempanya (M) 7.0 SR. 2. Kedalaman gempanya (h) dangkal 60 km. 3. Pusat gempa (episenter) berada di dasar laut. 4. Jenis patahannya adalah normal fault atau thrust fault. Karakteristik Tsunami, antara lain : Tinggi gelombang tsunami di tengah lautan mencapai lebih kurang 5 meter. Serentak sampai pantai tinggi gelombang ini dapat mencapai 30 meter. Panjang gelombang tsunami (50-200 km) jauh lebih besar dari pada gelombang pasang laut (50-150 m). Panjang gelombang tsunami ditentukan oleh kekuatan gempa, sebagai contoh gempabumi tsunami dengan kekuatan magnitude 7-9 panjang gelombang tsunami berkisar 20-50 km dengan tinggi gelombang 2 m dari permukaan laut. Periode waktu gelombang tsunami yang berkekuatan tinggi hanya berperiode durasi gelombang sekitar 10-60 menit, sedangkan gelombang pasang bisa berlangsung lebih lama 12-24 jam. Cepat rambat gelombang tsunami sangat tergantung pada kedalaman laut, bila kedalaman laut berkurang setengahnya, maka kecepatan berkurang tiga perempatnya.

Hubungan Kecepatan Tsunami dengan Kedalaman Laut Apabila sebagian besar laut naik turun secara mendadak, maka air di atasnya akan mengalami gangguan berupa suatu gelombang yang menyebar ke segala arah. Kecepatan gelombang ini tergantung dari kedalaman laut dan percepatan gravitasi bumi. Rumus sederhana dari kecepatan gelombang tsunami adalah : v g. h...(2.1) Dimana: v : Kecepatan gelombang tsunami h : Kedalaman pusat gempa Ditengah lautan dimana kedalaman laut cukup besar, maka kecepatan gelombang juga besar, demikian pula periode gelombang, sedangkan amplitudonya kecil dan panjang gelombangnya bisa mencapai puluhan kilometer. Jika gelombang mendekati pantai dimana kedalaman laut berkurang, kecepatan gelombangnya pun semakin kecil, tetapi diimbangi dengan berkurangnya periode gelombang dan bertambahnya amplitudo (tinggi gelombang), sesuai dengan hukum Kekekalan Energi. Patahan Naik dan Patahan Turun di Dasar Laut Patahan Naik di Dasar Laut Apabila Tsunami disebabkan oleh patahan naik maka permukaan air di atas episenter tiba-tiba terangkat ke atas dan menjalar ke seluruh arah penjalaran, seperti pada gambar 2.6

Gambar 2.6. Mekanisme terjadinya Tsunami dengan patahan naik Patahan Turun di Dasar Laut Apabila penyebab Tsunami adalah patahan normal (turun) maka permukaan air di atas episenter turun sesuai dengan ketinggian perubahan dasar laut. Kemudian kembali untuk mencapai keseimbangan. Dari sini maka terjadi tumbukan partikel air yang menimbulkan energi yang cukup besar untuk mendorong permukaan air ke segala arah dan lebih cepat dari biasanya, seperti pada gambar 2.7 Gambar 2.7. Mekanisme terjadinya Tsunami dengan patahan turun Magnitude Tsunami Konsep magnitude tsunami sebagai skala kekuatan relatif dari tsunami dikemukakan pertama kali oleh ilmuwan Jepang, yang bernama Imamura (1949). Untuk menentukan besarnya magnitude tsunami menggunakan Skala Imamura, yang diambil dari nama peneliti kali pertama magnitude tsunami. Iida (1970) berdasarkan penelitian

yang lebih dahulu dilakukan Imamura, mendefinisikan magnitude tsunami yang referensinya untuk tsunami di Jepang sebagai: m = 2 log η ma x...(2.2) dimana: m : magnitude tsunami (Imamura) ηmax : tinggi run-up tsunami (m) Iida-Imamura (1956) mengestimasikan tingkat skala tsunami berdasarkan tinggi maksimum run-up tsunami di Jepang, sebagai berikut: Tabel 2.1 Skala Magnitude Tsunami Skala Signifikasi Keterangan -1 0 1 2 3 4 η ma x < ½ m η ma x = 1m η ma x = 2 m η ma x = 4-6 m η ma x =10-20 m η ma x > 50 m Tsunami kecil Tidak ada kerusakan Rumah rusak sepanjang pantai, kapal terangkat Beberapa rumah hancur, ada korban jiwa Area pantai sepanjang 400 km rusak Lebih dari 500 km sepanjang pantai rusak Iida (1963) mempelajari sekitar seratus gempa bumi pembangkit tsunami yang terjadi di Jepang dari tahun 1700 sampai 1960. Tujuan Iida tersebut adalah untuk menyelidiki hubungan antara magnitude tsunami (m) dengan kedalaman air laut (H) pada episenter dan jarak antara episenter ke tempat observasi magnitude ( ). Secara matematis dapat ditunjukkan dalam persamaan : m = a + b log S..(2.3)

dimana: m : Magnitude tsunami (Imamura) S : Slope dasar laut ( H / ) a, b : konstanta Faktor yang mempengaruhi tinggi tsunami: 1. Bentuk pantai Refraksi adalah transformasi gelombang akibat adanya perubahan geometri dasar laut. Di tempat di mana terjadi penyempitan maka akan terjadi konsentrasi energi, sehingga tinggi gelombang di tempat itu akan membesar. 2. Kelandaian pantai Jarak jangkauan tsunami ke daratan juga sangat ditentukan oleh terjal dan landainya morfologi pantai, di mana pada pantai terjal tsunami tak akan terlalu jauh mencapai daratan karena tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai, sementara di pantai landai tsunami menerjang sampai beberapa kilometer masuk ke daratan. Bila tsunami menjalar ke pantai maka ia akan mengalami perubahan kecepatan, tinggi dan arah, suatu proses yang sangat kompleks meliputi shoaling, refraksi, difraksi, dan lain-lain.

Shoaling adalah proses pembesaran tinggi gelombang karena pendangkalan dasar laut. Gempa bumi biasanya terjadi di dekat pertemuan lempeng benua dan samudera di laut dalam, lalu menjalar ke pantai yang lebih dangkal. Aliran ini akan teramplifikasi ketika mendekati daratan akibat efek shoaling. 3. Vegetasi dan struktur penghalang di sekitar pantai Kekuatan hutan pantai meredam tsunami makin terbukti jika hutan semakin tebal, misalnya hutan dengan lebar 400 meter dihantam tsunami dengan ketinggian tiga meter maka jangkauan run up tinggal 57 persen, tinggi genangan setelah melewati hutan pantai tersisa 18 persen, arus tinggal 24 persen. Difraksi adalah transformasi gelombang akibat ada tidaknya bangunan atau struktur penghalang. Ini terjadi bila gelombang terintangi sehingga dipantulkan kembali. Suatu bangunan tegak dan padat akan lebih mampu memecah daripada yang miring dan tembus air. Pembangunan tembok laut (breakwater) seperti di Jepang, memang efektif menghalangi terjangan tsunami. 4. Arah gelombang tsunami Gelombang tsunami yang datang dengan arah tegak lurus dengan pantai tentu akan menyebabkan tinggi gelombang tsunami lebih tinggi jika dibandingkan tinggi gelombang tsunami yang datang dengan arah sejajar atau dengan sudut tertentu. Seperti datang dari arah barat, timur, barat daya ataupun dari arah tenggara. 5. Efek pemantulan dari pulau lain Gelombang tsunami yang terjadi tidak langsung berasal dari sumbernya, akan tetapi terjadi karena akibat adanya pemantulan gelombang dari sekitar pulau yang terkena dampak gelombang tsunami. Hal ini pernah terjadi di pulau Babi, yang mana pulau tersebut diterjang gelombang tsunami akibat dari pemantulan dari pulau disekitar pulau Babi.