LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR KAJIAN BIAYA PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN MENGHASILKAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI AFDELING IX KEBUN GUNUNG BAYU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV TONI INDRAWANSYAH NAPITUPULU 12011407 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN MEDAN 2016
LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan Diploma IV Pada Program Studi Budidaya Perkebunan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan KAJIAN BIAYA PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN MENGHASILKAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI AFDELING IX KEBUN GUNUNG BAYU PT. PERKENUNAN NUSANTARA IV TONI INDRAWANSYAH NAPITUPULU 12011407 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN MEDAN 2016
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR Nama : TONI INDRAWANSYAH NAPITUPULU Nomor Induk : 12011407 Program Studi Judul Tugas Akhir : BUDIDAYA PERKEBUNAN : KAJIAN BIAYA PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN MENGHASILKAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI AFDELING IX KEBUN GUNUNG BAYU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV. Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II Aulia Juanda Djs, S.Si., M.Si Guntoro, S.P., M.P. Mengetahui, Ketua STIPAP Ka, PS BDP Wagino, S.P., M.P. Guntoro, S.P., M.P.
Pembimbing Tugas Akhir : 1. Aulia Juanda Djs, S.Si., M.Si 2. Guntoro, S.P., M.P. Tim Penguji : 1. Hardy Wijaya, S.P 2. Saroha Manurung, SST., M.P. Telah diuji pada tanggal 22 Oktober 2016
RINGKASAN TONI INDRAWANSYAH NAPITUPULU. KAJIAN BIAYA PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN MENGHASILKAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI AFDELING IX KEBUN GUNUNG BAYU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV. Tugas Akhir Mahasiswa STIPAP Program Studi Budidaya Perkebunan dibimbing oleh Aulia Juanda Djs, S.Si., M.Si dan Guntoro, S.P., M.P. Gulma adalah tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap tempat yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Sifat ini lah yang membedakan gulma dengan tanaman yang dibudidayakan. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Gunung Bayu PT. Perkebunan Nusantara IV. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli sampai Agustus 2016. Penelitian ini bertujuan mengetahuai kajian biaya pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu yang mempergunakan analisa deskriptif yang hanya menggunakan data sekunder. Luar areal Tanaman Menghasilkan di Afdeling IX Kebun Gunung Bayu PT.Perkebunan Nusantara IV adalah 739 Ha. Jenis-jenis pekerjaan meliputi khemis piringan dan pasar pikul, khemis gawangan, khemis pakis keladi, babat gawangan dan dongkel kayu-kayuan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Total biaya pengendalian gulma pada tahun 2015 di Afdeling IX sebesar Rp.156.586.666, dengan biaya rata-rata per Ha sebesar Rp. 26.486,24,-. Kata kunci : Kajian Biaya Pengendalian Gulma i
DAFTAR ISI RINGKASAN... DAFTAR ISI... KATA PENGHANTAR... RIWAYAT HIDUP... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Urgensi Penelitian... 2 1.3 Tujuan Khusus... 2 1.4 Kontribusi... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1 Pengertian Gulma... 3 2.2 Kerugian Yang Ditimbulkan Gulma... 3 2.3 Sifat Gulma Secara Umum... 4 2.4 Klasifikasi Gulma... 4 2.4.1 Siklus Hidup Gulma... 4 2.4.2 Morfologi Gulma... 5 2.4.3 Habitat Gulma... 6 2.4.4 Pengaruh Gulma Terhadapa Kelapa Sawit... 7 2.5 Jenis-Jenis Gulma... 8 2.5.1 Sembung Rambat (Mikania micranta)... 8 2.5.2 Alang-alang (Imperata cylindrika)... 9 2.5.3 Pakis Kadal (Cyclosorus aridus)... 10 2.5.4 Rumput Papaitan (Axonopus compressus)... 10 2.6 Sistem Pengendalian... 11 2.6.1 Pengendalian Gulma Secara Manual... 11 2.6.2 Pengendalian Gulma Secara Khemis... 12 2.7 Herbisida... 14 2.7.1 Herbisida Sistematik... 14 2.7.2 Herbisida Kontak... 15 BAB 3 METODE PENELITIAN... 17 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian... 17 3.2 Desain/Rancangan Peneliitian... 17 i ii iv vi vii viii ii
3.3 Pengamatan dan Indikator... 17 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN... 18 4.1 Informasi Umum Kebun... 18 4.1.1 Sejarah Kebun... 18 4.1.2 Lokasi Kebun... 19 4.1.3 Luas Areal Afdeling... 19 4.2 Data Curah Hujan... 21 4.3 Pekerjaan Pengendalian Gulma... 23 4.3.1 Khemis Piringan dan Pasar Pikul... 23 4.3.2 Khemis Pakis Keladi... 23 4.3.3 Khemis Gawangan... 23 4.3.4 Babat Gawangan... 23 4.3.5 Dongkel Kayu-kayuan... 24 4.4 Realisasi Pengendalian Gulma Tahun 2015... 24 4.5 Perhitungan Biaya Pengendalian Gulma Secara Khemis... 25 4.5.1 Khemis Piringan dan Pasar Pikul... 26 4.5.2 Khemis Gawangan... 27 4.5.3 Khemis Pakis Keladi... 29 4.6 Pengendalian Gulma Secara Manual... 32 4.6.1 Babat Gawangan... 33 4.6.2 Dongkel Kayu-kayuan... 33 4.7 Biaya Pengendalian Gulma... 35 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN... 37 5.1 Kesimpulan... 37 5.2 Saran... 37 DAFTAR PUSTAKA... 38 LAMPIRAN... 39 1. Realisasi Penggunaan Bahan Khemis Piringan dan Pasar Pikul... 39 2. Realisasi Penggunaan Bahan Khemis Gawangan... 40 3. Realisasi Penggunaan Bahan Khemis Pakis Keladi... 41 4. Total Keseluruhan Bahan Yang Digunakan Pada Tahun 2015... 42 5. Realisasi Kegiatan Babat Gawangan... 43 6. Realisai Kegiatan Dongkel Kayu-kayuan... 44 7. Data Khemis Piringan dan Pasar Pikul Tahun 2015... 45 8. Data Khemis Gawangan pada Tahun 2015... 46 9. Data Khemis Pakis Keladi Tahun 2015... 47 10. Data Babat Gawangan Tahun 2015... 48 11. Dat dongkel Kayu-kayuan Tahun 2015... 49 iii
KATA PENGANTAR Terlebih dahulu penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang atas berkat dan karunia-nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas akhir ini dengan baik. Tugas Akhir ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan (SST) di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan. Tugas akhir ini berjudul Kajian Biaya Pengendalian Gulma Pada Tanaman Menghasilkan di Afdeling IX Kebun Gunung Bayu PT.Perkebunan Nusantara IV, yang dimana Tugas Akhir ini penulis buat guna untuk mengetahui biaya pengendalian gulma. Dalam penulisan Tugas Akhir ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada : 1. Bapak Wagino,S.P.,M.P sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan Medan. 2. Bapak Aulia Juanda Djs, S.Si.,M.Si sebagai pembimbing I dan Bapak Guntoro,S.P., M.P yang juga berperan sebagai pembimbing II saya yang telah memberikan waktunya kepada penulis dalam membimbing penulisan tugas akhir ini. 3. Seluruh pengajar Program Studi Budidaya Perkebunan, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan Medan yang telah banyak membekali penulis dengan ilmu pengetahuan selama mengikuti perkuliahan. 4. Manager Unit Usaha Kebun Gunung Bayu Bapak Ir. Eddy Usman, KA. Dinas Tanaman A Bapak Agust R.V. Lumbantobing, S.P. KA. Dinas Tanaman B Bapak Ir. P. Simanihuruk, Asisten Afdeling IX Bapak Kasiaman R, S.P. dan seluruh Staf Bag.Umum yang telah memberikan bantuan dalam menyelesaikan iv
Tugas Akhir ini. 5. Teristimewa untuk orang tua saya yang tercinta Bapak Tarida Napitupulu dan Ibu Rosida Sihombing serta Keluarga tersayang yang telah memberikan dukungan moril maupun materil serta doanya bagi keberhasilan studi penulis. 6. Teman-teman angkatan 12 jurusan Budidaya Perkebunan khususnya BDP IV- C yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang selama ini memberikan dukungan kepada penulis. Akhir kata penulis mengucapakan terima kasih karena tanpa dukungan kalian, penulis tidak dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini. Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan Tugas Akhir ini dan semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkannya. Medan, 9 November 2016 Penulis v
RIWAYAT HIDUP Toni Indrawansyah Napitupulu dilahirkan di Perkebunan Aek Tarum pada tanggal 16 Oktober 1994. Anak kedua dari empat bersaudara dari Bapak Tarida Napitupulu dan Ibu Rosida Sihombing. Penulis menyelesaikan Pendidikan Sekolah Dasar (SD) Negeri 014659 Bandar Pulau, tamat pada tahun 2006, kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Budhi Dharma Balige, tamat pada tahun 2009. Pada tahun 2012 penulis tamat dari SMA Bintang Timur 1 Balige. Tahun 2012 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan dengan jurusan Budidaya Perkebunan. Pada tahun 2014 penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) I di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Birong Ulu dan di PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Sei Putih. Pada tahun 2015 penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) II di PT. Anugerah Langkat Makmur. Pada tahun 2016 penulis melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat di Desa Kota Tengah Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai. vi
DAFTAR TABEL No Judul Hal 4.1. Luas Afdeling IX Kebun Gunung Bayu... 20 4.2. Curah Hujan Afdeling IX... 21 4.3. Luas Realisasi Pengendalian Gulma... 24 4.4. Harga Bahan Kimia... 25 4.5. Biaya Kebutuhan Bahan Khemis Piringan dan Pasar Pikul... 26 4.6. Biaya Kebutuhan Tenaga Khemis Piringan dan Pasar Pikul... 27 4.7. Biaya Kebutuhan Bahan Khemis Gawangan... 28 4.8. Biaya Kebutuhan Tenaga Khemis Gawangan... 29 4.9. Biaya Kebutuhan Bahan Khemis Pakis Krosak dan Keladi... 30 4.10. Biaya Kebutuhan Tenaga Khemis Pakis Krosak dan Keladi... 31 4.11. Rekapitulasi Biaya Pengendalian Gulma Secara Khemis... 32 4.12. Biaya Pengendalian Babat Gawangan... 33 4.13. Biaya Pengendalian Dongkel Kayu-Kayuan... 34 4.14. Rekapitulasi Pengendalian Gulma Secara Manual... 34 4.15. Biaya Pengendalian Gulma... 35 4.16. Rincian Biaya Pengendalian Gulma Pada Tahun 2015... 36 vii
DAFTAR GAMBAR No Judul Hal 2.1. Gulma Sembung Rambat (Mikania micranta)... 8 2.2. Gulma Alang-alang (Imperata cylindrica)... 9 2.3. Gulma Pakis Kadal (Cyclosorus aridus)... 10 2.4. Gulma Rumput Papaitan (Axonopus compressus)... 11 4.1. Grafik Rata-rata Curah Hujan... 22 4.2. Grafik Rata-rata Hari Hujan... 22 4.3. Grafik Pengendalian Biaya Khemis dan Manual... 36 viii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan minyak nabati di dunia terus meningkat karena pertumbuhan penduduk meningkat. Minyak kelapa sawit merupakan komoditas yang mempunyai nilai strategis karena bahan baku utama pembuatan minyak makan. Mnyak makan merupakan 9 kebutuhan pokok bangsa Indonesia. Permintaan akan minyak makan didalam dan luar negeri yang kuat merupakan indikasi pentingnya peranan komoditas kelapa sawit dalam perekonomian bangsa (Pahan, 2008). Perkembangan pertanian ini menunjukkan kemajuan yang semakin pesat. Namun bersamaan dengan itu banyak segi yang secara langsung atau tak langsung dapat memicu pertumbuhan gulma, gulma merupakan tumbuhan yang berasal dari spesies liar yang lama menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan atau spesies baru yang telah berkembang biak sejak timbulnya pertanian. Dalam pengertian ekologis gulma adalah tumbuhan yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkingan yang berubah. Salah satu faktor penyebab terjadinya evolusi gulma adalah faktor manusia. Manusia merupakan penyebab utama dari perubahan lingkungan, akan tetapi gulma mempunyai sifat yang mudah mempertahankan diri terhadap perubahan tersebut dan mudah beradaptasi dengan lingkungan tempat tumbuhnya. Secara kualitatif, pengaruh buruk dari gulma pada tanaman yang kurang mendapat perawatan teratur adalah pertumbuhan tanaman terhambat, cabang produksinya kurang, pertumbuhan tanaman mudah tidak normal, dan daun nya berwarna kuning. Selain faktor kompetisi dan alelopati, keberadaan gulma di pertanaman dapat menjadi inang pathogen atau hama bagi tanaman (Yernelis Sukman dan Yakup, 2002). 1
1.2 Urgensi Penelitian Dalam bisnis perkebunan khususnya kelapa sawit dibutuhkan cara pengendalian gulma secara efektif dan efisien. Salah satu tujuan pengendalian gulma adalah untuk mengurangi tingkat persaingan antara tanaman utama dengan gulma yang hidup dalam hal unsur hara, air dan ruang tumbuh yang terdapat pada piringan, gawangan, dan pasar pikul. Pengendalian gulma sangat penting tidak saja karena terjadinya kehilangan produksi sebagai akibat dari persaingan tanaman gulma terhadap sumber daya (unsur hara, air dan cahaya) tetapi juga karena adanya kehilangan hasil tidak langsung. Untuk merumuskan jenis pengendalian yang tepat, diperlukan pengetahuan yang mendalam akan bioekologi gulma dan interaksinya dengan tanaman utama. 1.3 Tujuan Khusus Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data biaya pengendalian gulma pada tanaman menghasilkan perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Afdeling IX Gunung Bayu PT. Perkebunan Nusantara IV. 1.4 Kontribusi Hasil penelitian diharapkan bermanfaat menambah informasi bagi Mahasiswa, Petani atau pihak pihak yang ingin lebih tahu tentang biaya pengendalian gulma pada tanaman menghasilkan (TM) kelapa sawit (Elaeis guineesis Jacq). 2
2.1 Pengertian Gulma BAB 2 TUJUAN PUSTAKA Gulma adalah tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap tempat yang berbedabeda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Sifat ini lah yang membedakan gulma dengan tanaman yang dibudidayakan. Kemampuan gulma mengadakan regenerasi besar sekali, khususnya pada gulma perennial. Gulma perennial weeds dapat menyebar dengan cara vegetatif. Luas nya penyebaran karena daun dapat dimodifikasi, demikian pula bagian-bagian lain inilah yang memunginkan gulma unggul dalam persaingan dengan tanaman budidaya. Di samping itu, gulma juga dapat membentuk biji dalam jumlah banyak, inilah yang memungkinkan gulma cepat berkembang biak. Gulma juga ada yang memberikan bau serta rasa kurang sedap, bahkan dapt mengeluarkan zat disekitar tempat tumbuhnya yang dapat meracuni tumbuhan lain (Moenandir, 1998). Berdasarkan fungsinya, vegetasi di alam dapat dibedakan menjadi tanaman (crop), gulma (weed), tumbuhan ruderal dan tumbuhan liar. Tanaman merupakan tumbuhan yang dibudidayakan karena hasilnya diinginkan oleh manusia. Sementara itu gulma merupakan yang tumbuh pada waktu, tempat dan kondisi yang tidak diinginkan oleh manusia. Tumbuhan ruderal merupakan tumbuhan yang tidak dibudidayakan dan tumbuh di habitat alami yang terganggu (ruderal) tetapi digunakan untuk tujuan produksi. Tumbuhan liar biasanya berupa tumbuhan yang tumbuh di habitat alami (Lubis dan Widanarko, 2011). 2.2 Kerugian Yang Ditimbulkan Gulma Produksi tanaman pertanian, baik yang diusahakan dalam bentuk pertanian rakyat maupun perkebunan besar dipengaruhi oleh hama, penyakit dan gulma. Kerugian yang ditimbulkan gulma pada tanaman sangat bervariasi, tergantung 3
pada jenis tanaman, iklim, jenis gulma dan kondisi lapangan. Apabila pengendalian gulma tidak dilakukan secara benar, kemungkinan besar usaha perkebunan mengalami kerugian. Persaingan antara gulma dengan kelapa sawit dapat menimbulkan kerugian produksi, seperti menurunkan kemampuan produksi kelapa sawit akibat persaingan antara gulma dengan tanaman dalam pengambilan air, unsur hara dan cahaya. Gulma juga dapat mempersulit pekerjaan diwaktu panen maupun saat pemupukan (Lubis, 2008) 2.3 Sifat Gulma Secara Umum Gulma merupakan tumbuhan yang mempunyai sifat dan ciri khas tertentu, yang umumnya berbeda dengan tanaman budidaya. Gulma mudah tumbuh pada setiap tempat atau daerah yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai kaya nutrisi. Gulma dapat bertahan hidup dan tumbuh pada daerah kering sampai daerah yang lembab. Kemampuan gulma untuk mengadakan regenerasi atau perkembangbiakan gulma yang hidupnya menahan dapat pula menyebar luas dengan perkembangbiakan vegetatif disamping generatif. Gulma dapat tumbuh menjadi individu gulma yang baru seperti akar, batang, umbi dan lain sebagainya. Inilah yang memungkinkan gulma unggul dalam persaingan dengan tanaman budidaya. Gulma juga dapat menghasilkan biji dalam jumlah yang sangat banyak, inilah yang memngkinkan gulma cepat berkembang biak (Johnny, 2006 dalam Sinaga, 2014). 2.4 Klasifikasi Gulma 2.4.1 Siklus Hidup Gulma Berdasarkan hidupnya, gulma dikelompokkan menjadi : a. Gulma setahun (Annual weeds) Hidup gulma ini mulai dari kecambah, berproduksi, sampai akhirnya mati berlangsung selama satu tahun. Pada umumnya gulma ini mudah dikendalikan, tetapi pertumbuhannya sangat cepat karena produksi bijinya sangat baik. Oleh 4
karena itu, biaya pengendalian gulma semusim lebih besar. Contoh gulma semusim, antara lain rumput setaria (Setaria sp) (Raharja, 2011). b. Gulma dua tahun (Biannual weeds) Siklus hidup gulma ini lebih dari satu tahun, tetapi tida lebih dari dua tahun. Pada tahun pertama gulma ini menghasilkan bentuk roset, sedangkan pada tahun kedua gulma ini berbunga, menghasilkan biji, dan pada akhirnya mati. Pada periode roset, gulma ini umumnya sensitif terhadap herbisida. Contoh gulma dua musim, antara lain Verbascum thapsus dan Cirsium vulgare (Raharja, 2011). c. Gulma tahunan (Perennial weeds) Siklus hidup gulma ini lebih dari dua tahun dan mungkin tidak terbatas. Gulma ini berkembang biak dengan biji meskipun ada juga yang berkembang biak secara vegetatif. Gulma ini juga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Misalnya pada musim kering seolah-olah mati, tetapi bila air cukup akan bersemi kembali. Contoh gulma tahunan, antara lain lalang (Imperata cylindrical) dan teki (Cyperus rotundus) (Raharja, 2011). 2.4.2 Morfologi Gulma Berdasarkan sifat morfologinya, gulma dibedakan menjadi lima sebagai berikut : a. Gulma berdaun sempit (Grasses) Ciri khas gulma berdaun sempit, yaitu memiliki daun menyerupai pita, memiliki batang tumbuhan yang beruas-ruas, tumbuh tegak atau menjalar dan memiliki pelepah serta helaian. Contoh gulma berdaun sempit, antara lain lalang (Imperata cylindrica) dan pasapalum (Pasapalum conjugatum) (Raharja, 2011). b. Gulma teki-tekian (Sedges) Jenis gulma ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulanbulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam menguasai area pertanian secara cepat. Gulma teki-tekian mirip dengan gulma berdaun sempit, bedanya gulma teki- 5
tekian memiliki batang berbentuk segitiga. Contoh gulma teki-tekian, antara lain teki (Cyperus rotundus) dan krisan (Scleria sumantrensis) (Raharja, 2011). c. Gulma berdaun lebar (Broad leaves) Gulma ini biasanya tumbuh diakhir masa budidaya kelapa sawit. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Pada umumnya gulma ini merupakan tumbuhan berkeping satu. Gulma berdaun lebar memiliki ciri-ciri, yaitu memiliki daun melebar dan tumbuh tegak dan menjalar. Contoh gulma berdaun lebar, antara lain mikania (Mikania micrantha) (Raharja, 2011). d. Gulma pakis-pakisan (Ferns) Gulma pakis-pakisan (Ferns) umumnya berkembang biak dengan spora dan berbatang tegak atau menjalar. Contoh gulma pakis-pakisan, antara lain pakis kresek (Stenochlena palustris) dan pakis kawat (Dicranopteris linearis) (Raharja,2011). e. Gulma rumput-rumputan Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian, tetapi menghasilkan stolon, alih-alih umbi. Di dalam tanah stolon ini membentuk jaringan rumit yang sangat sulit diatasi secara mekanik. Contoh gulma rumputrumputan, antara lain alang-alang (Imperata cylindrical) (Raharja, 2011). 2.4.3 Habitat Gulma Berdasarkan habitatnya, gulma ini dikelompokkan menjadi : a. Gulma air (Aquatic weeds) Gulma ini tumbuh di air baik mengapung, tenggelam ataupun setengah tenggelam. Gulma air dapat berupa gulma berdaun sempit, berdaun lebar ataupun teki-tekian. Contoh gulma air adalah Cyperus iria dan Leptochloa chinensis (Raharja, 2011). 6
b. Gulma darat (Terrestial weeds) Jenis gulma daratan yang tumbuh di perkebunan sangat tergantung pada jenis tanaman, jenis tanah, iklim dan pola tanam. Contoh gulma daratan adalah lalang (Imperata cylindrical) dan mikania (Micania micrantha) (Raharja, 2011). 2.4.4 Pengaruh Gulma Terhadap Kelapa Sawit Berdasarkan pengaruh gulma terhadap tanaman kelapa sawit, gulma dibedakan menjadi lima tingkatan sebagai berikut : a. Gulma kelas A Gulma yang digolongkan kelas A yaitu jenis-jenis gulma yang sangat berbahaya bagi tanaman perkebunan sehingga harus diberantas secara tuntas. Contoh jenis gulma kelas A, yaitu lalang (Imperata cylindrica) dan mikania (Mikania micrantha) (Raharja, 2011) b. Gulma kelas B Gulma yang digolongkan kelas B yaitu jenis-jenis gulma yang merugikan tanaman sehingga perlu dilakukan tindakan pemberantasan atau pengendalian. Contoh jenis gulma kelas B, antara lain seduduk (Melastoma malabathricum) dan krisan (Scleria sumantrensis) (Raharja, 2011). c. Gulma kelas C Gulma yang digolongkan kelas C yaitu jenis-jenis gulma yang merugikan tanaman perkebunan. Gulma tersebut memerlukan tindakan pengendalian, tetapi tindakan tersebut tergantung pada keadaan, misalnya ketersediaan biaya atau mempertimbangkan segi estetika (kebersihan kebun). Contoh jenis gulma kelas C yaitu pakis (Paspalum conjugatum) (Raharja, 2011) d. Gulma kelas D Gulma yang digolongkan kelas D yaitu jenis-jenis gulma yang tidak begitu merugikan tanaman perkebunan, tetapi tetap memerlukan tindakan pengendalian. Contoh jenis-jenis gulma kelas D, yaitu Ageratum conyzoide dan Digitaria sp. (Raharja, 2011). 7
e. Gulma kelas E Gulma yang digolongkan kelas E merupakan jenis-jenis gulma yang pada umumnya bermanfaat bagi tanaman perkebunan, karena dapat berfungsi sebagai pupuk hijau. Gulma ini dibiarkan tumbuh menutupi gawangan tanaman, tetapi tetap perlu tindakan pengendalian jika pertumbuhannya sudah menutupi piringan atau jalur tanaman. Contoh gulma kelas E ini, antara lain Colopogonium caeruleum, Pueraria javanica, dan Centrosema pubersens ( Raharja, 2011). 2.5 Jenis-Jenis Gulma Ada beberapa jenis gumla yang tumbuh di areal perkebunan kelapa sawit, berikut ini jenis-jenis gulma : 2.5.1 Sembung Rambat (Mikania micranta) Sembung rambat memiliki batang yang tumbuh menjalar dan memanjat hingga ketinggian 3-6 m. Gulma tahunan ini termasuk kelompok berdaun lebar yang memiliki daun saling berhadapan, bertangkai panjang, berbentuk jantung. Pengendalian gulma ini bisa dengan cara mekanis, yaitu memberantas menggunakan cangkul sampai akar-akarnya atau secara kimia dengan penyemprotan hebisida berbahan aktif metil metsulfuron yang khusus yang khusus untuk gulma berdaun lebar. Gambar 2.1 Gulma sembung rambat (Mikania micranta) Sumber : http://jacq-planter.blogspot.com 8
2.5.2 Alang-alang (Imperata cylindrica) Alang-alang (lalang) merupakan salah satu gulma yang dapat mengganggu penyerapan unsur hara bagi tanaman kelapa sawit dan mengganggu pekerjaan pemeliharaan tanaman lainya. Alang-alang tidak boleh berada di perkebunan TM. Pengendalian lalang harus memperhatikan kondisi lalangnya. Apabila kondisi lalang merata (sheet) atau terpencar (spot), lakukan penyemprotan herbisida. Namun, apabila kondisi lalang sudah dapat dikontrol (sudah sedikit), kendalikan lalang dengan menggunakan kain lap yang dibasahi dengan herbisida sistemik, lalu oleskan kedaun lalang biasanya dilakukan blok per blok dengan rotasi dua kali per tahun (Sunarko, 2012). Setelah 2-4 hari, efek herbisida tersebut akan menyebabkan alang-alang menjadi menguning dan layu secara bertahap. Beberapa minggu kemudian, alang-alang menjadi cokelat terbakar dan akarnya seluruhnya rusak atau membusuk. Gambar 2.2 Gulma alang-alang (Imperata cylindrica) Sumber : http://blogmahkotadewa.blogspot.co.id 9
2.5.3 Pakis Kadal (Cyclosorus aridus) Gulma tahunan yanh termasuk keluarga pakis ini berbatang menjalar dalam membentuk akar rimpang berwarna pucat, tertutup oleh sisik berwarna cokelat muda. Berkembang biak terutama dengan rimpang dan spora. Pengendalian bisa menggunakan herbisida Tanistar 160 SL dengan dosis bisa di baca pada kemasanya. Gambar 2.3 Gulma pakis kadal (cyclosorus aridus) Sumber : http://jacq-planter.blogspot.com 2.5.4 Rumput Papaitan (Axonopus compressus) Papaitan adalah rumput yang tumbuh menjalar dan menanjak hingga mencapai 50 cm. pengndalianya bisa secara mekanis dengan cara mencabuti sampai dengan akar-akarnya atau secara kimia menggunakan herbisida berbahan aktif glyphosate seperti Round Up atau Mastra dengan dosis tertera pada kemasanya. 10
Gambar 2.4 Gulma rumput papaitan (Axonopus compressus) Sumber : http://jacq-planter.blogspot.com 2.6 Sistem Pengendalian Gulma Dalam perkebunan kelapa sawit sistem pengendalian gulma sangat di perlukan, pengendalian gulma ada 2 yaitu : 2.6.1 Pengendalian Gulma Secara Manual Metode penelitian gulma secara manual dilakukan dengan cara mencabu tumbuhan-tumbuhan liar terutama gulma berkayu dengan tangan, menggunakan alat, dan tenaga secara langsung, atau mempergunakan alat pertanian. Alat yang digunakan antara lain sabit, cangkul, garu, dan parang babat. Pemberantasan mekanis dapat dilakukan dengan cara clean weeding atau penyiangan bersih pada daerah piringan dan selective weeding yaitu penyiangan untuk jenis rumput tertentu, seperti alang-alang, krisan, dan teki. Pemberantasan gulma dengan cara ini dapat dilakukan 5-6 kali pada tahun pertama atau tergantung pada perkebunan (Fauzi, 2006). Rotasi pengendalian gulma secara manual pada pasar pikul dilaksanakan sama seperti pada piringan dan gawangan yang dilakukan dengan membata atau menggaruk. Pada tanah yang mudah tererosi sebaiknya dibabat saja (Adlin, 2008). 11
Prinsip dari metode manual ini adalah merusak system perakaran dan rimpang (rhizoma) maupun bagian diatas tanah dari gulma dengan alat-alat pertanian sehingga gulma akan merana atau mati. Teknik pekerjaan sebagai berikut : Mencabut dengan tangan atau membersihkan dengan memakai garuk, semua gulma yang tumbuh diantara penutup tanah dengan rotasi yang teratur. Membersihkan dengan memakai garuk gulma pada areal bokoran (pringan), harus dipelihara agar bebas gulma. Membalik dengan tangan atau memotong alur-alur kacangan yang masuk kebokaran atau yang membelit daun dan pohon kelapa sawit. 2.6.2 Pengendalian Gulma Secara Khemis Pengendalian gulma secara khemis adalah pengendalian gulma dengan menggunakan senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh gulma yang disebut herbisida. Herbisida merupakan senyawa kimia yang mengandung racun yang selain dapat membunuh gulma juga dapat membunuh organism lain. Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida memiliki dampak positif yaitu dapat mengendalikan gulma dengan waktu yang singkat dan mencakup areal yang cukup luas. Pengendalian gulma pada prinsipnya merupakan usaha meningkatkan daya saing tanaman utama dan melemahkan daya saing gulma. Keunggulan tanaman pokok harus menjadi sedemikian rupa sehingga gulma tidak mampu mengembangkan pertumbuhan secara berdampingan atau pada waktu bersamaan dengan tanaman utama. Dalam pengertian ini semua praktek budidaya dipertanaman dapat dibedakan mana yang lebih meningkatkan daya saing tanaman utama atau meingkatkan daya saing gulma. 12
Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan bahan kimiawi yang dapat menekan atau bahkan mematikan gulma. Bahan kimiawi yang digunakan tersebut secara umum disebut herbisida. a. Piringan menggunakan herbisida glyphosate dan paraquat. b. Pasar pikul menggunakan herbisida + konsentrasi 2.4 D.Amine 0,5% + konsentrasi Round Up 48ec 0,6%. c. Gawangan menggunakan herbisida Metsufuron methyl sesuai dosis pada gulmanya. Pengendalian gulma secara kimiawi mempunyai beberapa segi keuntungan dan kerugian jika dikembangkan dinegara-negara yang sedang berkembang. Meningkatnya penggunaan herbisida diperkebunan mungkin disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut: perkebunan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat menudukung biaya yang dibutuhkan bagi pengendalian kimiawi, herbisida-herbisida yang telah mendapat persetujuan, cukup memberikan hasil yang baik dan pegawai perkebunan dapat diberikan pendidikan dan latihan tentang cara-cara penggunaan herbisida dengan biaya yang memang cukup tersedia. Penggunaan yang berhasil sangat tergantung akan kemampuanya untuk membasmi bebrapa jenis tumbuhan (gulma) dan tidak membasmi jenisjenis lainnya (tanaman budidaya). Cara kerja yang selektif ini merupakan faktor yang paling penting bagi keberhasilan suatu herbisida dan ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilannya, yaitu: a. Faktor tanaman 1. Umur dan kecepatan pertumbuhan. 2. Struktur luar seperti bentuk daun (ukuran dan permukaan), Kedalaman akar, lokasi titik tumbuh dan lain-lain. 3. Proses-proses biofisik seperti bahan-bahan yang dapat mengabsorpsi didalam sel dan stabilitas membran. 13
4. Proses-proses biokimia seperti pengaktifan enzim, herbisida dan lainlain. b. Faktor herbisidanya Temperatur, cahaya, hujan dan faktor-faktor tanah. c. Cara pemakain Tipe herbisida (digunakan ketanah, ketanaman) volume penyemprotan, ukuran butiran semprotan dan waktu penyemprotan. 2.7 Herbisida 2.7.1 Herbisida Sistemik Herbisida sistemik, biasa digunakan untuk pengendalian gulma yang mempunyai rhizome atau umbi seperti lalang (imprata cylindrical) atau teki (cyperus rotundus). Herbisida ini akan diserap melalui daun dan dibawa kebagian rhizome atau umbinya kemudian bahan aktifnya mematikan bakal tunas yang tumbuh setiap ruas akar lalang atau setiap umbi. Ciri-ciri herbisida ini berhasil menjalankan tugasnya apabila terlihat noda hitam pada bakal tunas diatas. Hal tersebut bebarti bakal tunasnya telah mati. Untuk jenis gulma seperti mikania (Mikania cordata), herbisida inipun efektif membunuh gulma sampai keakarnya beberapa hari setelah penyerapan berlangsung. Biji-bijian tidak akan mati masih terlindung, namun biji gulma yang telah tumbuh, beberapa jenis akan mati dan beberapa jenis lainnya tetap hidup. Ada beberapa jenis hebisida sistemik ini, mengendalikan lalang atau gulma berdaun sempit (Grasses) lainnya, gulma berumbi seperti teki-tekian serta untuk berdaun lebar (Broad leaves) masingmasing produk mempunyai spesifikasi sendiri misalnya : a. Herbisida yang mengandung bahan aktif glyphosate, baik sekali untuk mengendalikan lalang dan teki. b. Herbisida yang mengandung bahan aktif 2,4 D atau 2,4,5T baik sekali untuk mengendalikan gulma berdaun lebar. 14
Efek kematian terjadi hamper merata keseluruh bagian gulma, mulai dari bagian daun sampai perakaran. Dengan demikian, proses pertumbuhan kembali juga terjadi ssangat lambat sehingga rotasi pengendalian dapat lebih lama (panjang). Penggunaan herbisida sistemik secara keseluruhan dapat menghemat waktu, tenaga kerja, dan biaya aplikasi. Herbisida sistemik dapat digunakan pada semua jenis alat semprot, termasuk sistem Ultra Low Volume (Micron Herbi), Karena penyebaran bahan aktif keseluruh gulma memerlukan sedikit pelarut. Contoh-contoh herbisida sistemik antara lain sebagai berikut : Ally 20 WDG, Rhodiamine, Branvell, Rhoundup, Basmilang, Strane, DMA 6, Sunup, Kleenup, Touch Down, Tordon dan Polaris (Hutagaol, 1996) 2.7.2 Herbisida Kontak Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida, terutama bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas gulma yang masih muda dan berwarna hijau, serta gulma yang memiliki sistem perakaran tidak meluas. Herbisida jenis ini dikenal karena mengakibatkan efek bakar yang langsung dapat dilihat terutama pada penggunaan dengan kadar tinggi, seperti asam sulfat 70%, besi sulfat 30%, tembaga sulfat 40%. Paraquat sebagai herbisida kontak, molekulnya dapat menghasilkan hydrogen peroksida radikal yang dapat memecah membrane sel, akhirnya seluruh sel juga rusak. Herbisida kontak merusak bagian tumbuhan yang terkena langsung dan tidak ditransolasikan ke bagian lain. Herbisida kontak memerlukan dosis dan air pelarut yang lebih besar agar bahan aktifnya merata keseluruhan permukaan gulma dan diperoleh efek pengendalian 15
yang lebih baik. Dengan demikian, prestasi kerja yang dihasilkan pada penyemprotan lebih kecil dan kebutuhan tenaga kerja lebih banyak. Penggunaan CDA sprayer (Micron Herbi) sprayer sistem, ULV lainnya tidak direkomendasikan karena larutan herbisida yang kental tidak akan dapat merata keseluruhan permukaan gulma sasaran dan dapat menyebabkan iritasi kulit bagi pekerja (penyemprot) contoh-contoh jenis herbisida kontak adalah sebagai berikut Gramoxone, Herbatop dan Paracol. Herbisida kontak cocok digunakan untuk gulma yang tergolong gulma lunak, artinya gulma tersebut relatif lebih muda dikendalikan. Jenis gulma ini ada yang berdaun sempit ada yang berdaun lebar. Untuk pengendalian gulma diantara atau pada barisan tanaman baik sekali, karena akar gulma yang disemprot tidak mati. Rumput ini akan hidup kembali setelah bagian atasnya kering terbakar herbisida. Biji-biji gulma yang terkena semprotan tidak mati, namun jika biji tersebut telah tumbuh dan daunnya terkena semprotan akan mati (Hakim, 2007). 16
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitan dilaksanakan pada bulan Juli Agustus 2016 di Afdeling IX Kebun Gunung Bayu PT. Perkebunan Nusantara IV Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara. 3.2 Desain/Rancangan Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan metode analisis deskriptif dengan cara mengetahui jumlah biaya yang dikeluarkan pada kegiatan pengendalian gulma tanaman menghasilkan kelapa sawit. 3.3 Pengamatan dan Indikator Pengamatan yang dilakukan dengan mengambil data yang sudah ada atau tersedia di PT. Perkebunan Nusantara IV, data yang akan diamati dan jenis kegiatan yang akan dilakukan yaitu : 1. Informasi umum yang meliputi informasi kebun dan curah hujan. 2. Jenis-jenis pengendalian gulma. 3. Pemakaian herbisida. 4. Biaya pengendalian gulma pada Tanaman Menghasilkan (TM) kelapa sawit. 17
18