III. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

HISTOLOGI GONAD IKAN LELE JANTAN Clarias sp. PADA PERLAKUAN EKSTRAK PURWOCENG Pimpinella alpina PANJI IRAWAN

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan percobaan post-test only control group design. Pengambilan hewan

BAB 1 PEBDAHULUAN. kalangan usia <18 tahun dan persentasenya sebesar 51,4%. Sementara itu, insiden

BAB I PENDAHULUAN. internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor internal yang berpengaruh pada

BAB 3 METODE PENELITIAN. Semarang, Laboratorium Sentral Fakultas Kedokteran Universitas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh ekstrak etanol biji labu kuning terhadap jumlah spermatozoa mencit yang diberi 2-ME

ABSTRAK. Elizabeth, 2016; Pembimbing I : Heddy Herdiman, dr., M.Kes. Pembimbing II : Dr. Rita Tjokropranoto, dr., M.Sc.

BAB I PENDAHULUAN. penanganan serius, bukan hanya itu tetapi begitu juga dengan infertilitas. dan rumit (Hermawanto & Hadiwijaya, 2007)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Infertilitas adalah ketidak mampuan untuk hamil setelah sekurang-kurangnya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Penelitian Pengaruh ekstrak jahe terhadap jumlah spermatozoa mencit yang terpapar 2-ME

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Penggunaan rokok sebagai konsumsi sehari-hari kian meningkat. Jumlah

PENGARUH PEMBERIAN SARI TOMAT

BAB I PENDAHULUAN. 2001) dan menurut infomasi tahun 2007 laju pertumbuhan penduduk sudah

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki luas wilayah ,68 KM 2. menekan tingkat laju pertumbuhan penduduk adalah dengan menekan tingkat

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat untuk mencapai tata kehidupan yang selaras dan seimbang dengan

Tanaman sambiloto telah lama terkenal digunakan sebagai obat, menurut Widyawati (2007) sambil oto dapat memberikan efek hepatoprotektif, efek

5. PARAMETER-PARAMETER REPRODUKSI

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini meliputi bidang Ilmu Gizi, Farmakologi, Histologi dan Patologi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kualitas semen yang selanjutnya dapat dijadikan indikator layak atau tidak semen

I. PENDAHULUAN. Angka pengguna telepon seluler (ponsel) atau handphone di Indonesia

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan

HUBUNGAN HORMON REPRODUKSI DENGAN PROSES GAMETOGENESIS MAKALAH

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V PEMBAHASAN. untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak Etanol Pegagan terhadap

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. kesehatan bahkan menyebabkan kematian.

Infertilitas pada pria di Indonesia merupakan masalah yang perlu perhatian

BAB III METODE PENELITIAN. dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan lalu dibandingkan kerusakan

ABSTRAK EFEK PEMBERIAN ETANOL 40% PERORAL TERHADAP KETEBALAN LAPISAN SEL SPERMATOGENIK TUBULUS SEMINIFERUS TIKUS WISTAR JANTAN DEWASA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang berjudul Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Jati Belanda

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dari pengamatan kualitas sperma mencit (konsentrasi sperma,

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 2. Sistem Reproduksi ManusiaLatihan Soal 2.1

SET 5 REPRODUKSI SEL 2 (GAMETOGENESIS) Gametogenesis adalah pembentukan gamet pada tubuh makhluk hidup. a. GametOGenesis pada manusia dan hewan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik. Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. digunakan dalam penelitian ini yaitu tikus putih (Rattus norvegicus) Penelitian ini

STUDI MENGENAI MORFOLOGI DAN KOMPOSISI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. MAULUDDIN SKRIPSI

PEMBAHASAN. 6.1 Efek Pelatihan Fisik Berlebih Terhadap Spermatogenesis Mencit. Pada penelitian ini, data menunjukkan bahwa kelompok yang diberi

BAB I PENDAHULUAN. akan pangan hewani berkualitas juga semakin meningkat. Salah satu pangan hewani

I. PENDAHULUAN. disfungsi ereksi, dan ejakulasi dini. Pada tahun 2025, diduga terdapat 322 juta

BAB I PENDAHULUAN. Alkohol jika dikonsumsi mempunyai efek toksik pada tubuh baik secara langsung

Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Biologi FMIPA. Universitas Lampung untuk pemeliharaan, pemberian perlakuan, dan

ABSTRAK EFEK DOSIS EKSTRAK ETANOL KULIT MANGGIS

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK PURWOCENG Pimpinella alpina Molk. MELALUI PAKAN TERHADAP SPERMATOGENESIS IKAN LELE JANTAN Clarias sp.

Pengaruh Ekstrak Ethanol Kemangi (Ocimum canum Sims.) terhadap Struktur Histologi Testis Mencit (Mus musculus) Jantan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Konsumsi alkohol telah menjadi bagian dari peradaban manusia selama

BAB I PENDAHULUAN. Infertilitas adalah salah satu masalah kesehatan utama dalam hidup, dan

BAB III METODE PENELITIAN. dengan Rancangan Acak Terkontrol (RAT). Pemeliharaan dan pemberian ekstrak cabe jawa dan zinc (Zn) pada tikus

EFEK PEMAPARAN KEBISINGAN TERHADAP JUMLAH SEL-SEL SPERMATOGENIK DAN DIAMETER TUBULUS SEMINIFERUS MENCIT (Mus musculus L.)

JUPEMASI-PBIO Vol. 1 No. 2 Tahun 2015 ISSN: Halaman

PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN C DAN E TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MENCIT (Mus musculus L.) YANG DIPAJANKAN MONOSODIUM GLUTAMAT (MSG)

PENGARUH FRAKSI DIKLOROMETANA BULBUS

Tatap mukake 6 KUANTITAS DAN KUALITAS SPERMA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut World Population Data Sheet (2014), Indonesia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Kasus diabetes mellitus yang terjadi di Indonesia semakin mengkhawatirkan,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

OOGENESIS DAN SPERMATOGENESIS. Titta Novianti

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

ABSTRAK. Natalia, 2011; Pembimbing I : Teresa Liliana W., S. Si., M. Kes Pembimbing II : Djaja Rusmana, dr., M. Si

BAB I PENDAHULUAN. Tanaman Jati Belanda (Guazuma ulmifolia) merupakan tanaman berupa pohon

GAMBARAN HISTOPATOLOGIK TESTIS MENCIT SWISS (Mus musculus) YANG DIBERI KEDELAI (Glycine max) DAN PAPARAN DENGAN ASAP ROKOK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. karbon pewangi (P3), dan kontrol (K) masing-masing terdiri atas 7 tikus.

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 2. Sistem Reproduksi ManusiaLATIHAN SOAL BAB 2

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Ikan merupakan alternatif pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Spermatogenesis ikan lele Clarias sp. jantan yang diberi pakan mengdandung ekstrak purwoceng

Ernawati, Anni Nurliani. Program Studi Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani Km 35,8 Banjarbaru, Kalimantan Selatan

BAB I PENDAHULUAN. Pewangi merupakan produk yang semakin diminati masyarakat saat ini,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Jumlah Sel-sel Spermatogenik. Hasil penelitian pemberian ekstrak buah pare (Momordica charantia)

I. PENDAHULUAN. Kesuburan pria ditunjukkan oleh kualitas dan kuantitas spermatozoa yang

METODE PENELITIAN. : Nilai pengamatan perlakuan ke-i, ulangan ke-j : Rata-rata umum : Pengaruh perlakuan ke-i. τ i

BAB I PENDAHULUAN. keganasan yang umum dijumpai laki-laki usia muda di banyak negara. Keganasan

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. salah satu daya pikat dari ikan lele. Bagi pembudidaya, ikan lele merupakan ikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA PADA IKAN MAS Cyprinus carpio.l RAHMAT HIDAYAT SKRIPSI

ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

4.DINAMIKA DISTRIBUSI GLIKOKONJUGAT PADA GONAD WALET LINCHI SELAMA PERIODE 12 BULAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan

Transkripsi:

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil 3.1.1. Diameter Tubulus Seminiferus Hasil pengukuran diameter tubulus seminiferus pada gonad ikan lele jantan setelah dipelihara selama 30 hari disajikan pada Gambar 1. Rata-rata diameter tubulus seminiferus pada perlakuan ekstrak purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) berkisar antara 25-33 m versus 23 m (kontrol). 40,00 33,67 35,00 30,00 23,17 26,12 25,79 Diameter (µm) 25,00 20,00 15,00 10,00 a a b a 5,00 0,00 Kontrol 2,5 5 7,5 Dosis Purwoceng (g/kg) Gambar 1. Histogram diameter tubulus seminiferus ikan lele pada hari ke-30 pasca perlakuan ekstrak purwoceng melalui pakan. Pada perlakuan dengan dosis purwoceng 5 g/kg pakan menunjukkan ratarata diameter tubulus seminiferus tertinggi (33,67±3,41 m). Sedangkan nilai ratarata diameter tubulus seminiferus terendah adalah perlakuan kontrol (23,17± 3,32 m). Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa perlakuan penambahan ekstrak purwoceng melalui pakan dengan dosis 5 g/kg pakan menunjukkan perkembangan diameter tubulus seminiferus yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya serta kontrol (p<0,05; Lampiran 2).

3.1.2. Derajat Spermatogenesis (Kriteria Johnsen) Hasil pengamatan terhadap derajat spermatogenesis berdasarkan kriteria Johnsen pada gonad ikan lele jantan setelah dipelihara selama 30 hari dapat dilihat pada Gambar 2. Rata-rata derajat spermatogensis pada perlakuan dosis purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) mencapai 9 versus 8 (kontrol). 12,00 Derajat Spermatogenesis (Johnsen) 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 8,00 9,22 9,00 8,92 0,00 Kontrol 2,5 5 7,5 Dosis Purwoceng (g/kg) Gambar 2. Histogram derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen. Pada Gambar 2 menunjukkan rata-rata derajat spermatogenesis testis tertinggi terdapat pada perlakuan 2,5 g/kg pakan yaitu sebesar 9,22±0,30, dan yang terendah adalah pada perlakuan kontrol (8,00±0,33). Oleh karena data tidak tersebar normal (non parametrik) maka tidak dilakukan uji statistik (Lampiran 3). Berdasarkan pengamatan derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen melalui gambaran histologinya disajikan pada Gambar 3. Derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen sesuai dengan gambaran histologinya pada perlakuan kontrol; 2,5 g/kg; 5 g/kg dan 7,5 g/kg dosis purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) berturut-turut adalah 7,5±1; 9,25±0,96; 8,75±0,96; dan 9±0,82. Hasil gambaran histologi merupakan hasil preparasi histologi yang diamati di bawah mikroskop pada perbesaran 100 kali. Adapun proses histologi tersebut terlampir pada Lampiran 4 dan 5. 9

a) b) c) d) Gambar 3. Histologi gonad ikan lele jantan pada perlakuan ekstrak purwoceng melalui pakan: a) kontrol, b) dosis 2,5 g/kg, c) dosis 5 g/kg, d) dosis 7,5 g/kg pada perbesaran 100 kali. Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa nilai derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen terendah terdapat pada perlakuan kontrol yaitu 7,5±1 (Gambar 3a), sedangkan tertinggi terdapat pada perlakuan dosis purwoceng 2,5 g/kg yaitu 9,25±0,96 (Gambar 3b). Hal itu ditunjukkan dengan kelengkapan fase spermatogesis dari dosis 2,5 g/kg yang lebih baik daripada kontrol dan perlakuan lainnya. Adapun contoh gambar yang memperlihatkan derajat spermatogenesis pada perlakuan dengan dosis 2,5 g/kg dapat dilihat pada Lampiran 6. Sedangkan untuk diameter tubulus seminiferus yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol yaitu 20±7,41 m dan tertinggi pada perlakuan dengan dosis purwoceng 5 g/kg pakan yaitu 32,35±14,9 m. 3.2. Pembahasan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh data mengenai perkembangan diameter tubulus seminiferus, derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen dan gambaran histologi dari perlakuan dengan penambahan 10

ekstrak purwoceng melalui pakan. Hasil pada Gambar 1 menunjukkan bahwa terjadi perkembangan diameter tubulus seminiferus pada perlakuan yang diberikan bila dibandingkan dengan kontrol. Nilai perkembangan diameter tubulus seminiferus tertinggi terdapat pada perlakuan 5 g/kg yaitu sebesar 33,67±3,41 m. Hal ini menjelaskan bahwa pada perlakuan 5 g/kg pakan diduga terjadi peningkatan proses spermatogenesis bila dibandingkan dengan kontrol. Adanya peningkatan proses spermatogenesis menimbulkan peningkatan diameter tubulus seminiferus, karena pada testis yang produksi spermanya rendah atau tidak berproduksi sama sekali, didapatkan penurunan diameter tubulus seminiferus (Gulkesen et al., 2002 dalam Purwoko, 2005). Berdasarkan hasil analisis ragam yang telah dilakukan diketahui bahwa perlakuan penambahan ekstrak purwoceng pada pakan pada dosis 5 g/kg pakan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap perkembangan diameter tubulus seminiferus (P<0,05). Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Juniarto (2004), yang mengatakan bahwa pemberian ekstrak purwoceng dan pasak bumi dapat memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap perkembangan diameter tubulus seminiferus. Testis dalam proses reproduksi mempunyai dua fungsi utama yaitu memproduksi hormon dan spermatozoa. Kedua fungsi tersebut secara anatomi berlangsung terpisah yaitu hormon testosteron dihasilkan oleh sel leydig, sedangkan sel spermatozoa dihasilkan oleh sel epithel tubulus seminiferus (Burger et al., 1977 dalam Nyoman dan Laksmi, 2010). Proses pembentukan sel spermatozoa di dalam tubulus seminiferus disebut spermatogenesis. Terdapat beberapa tingkatan spermatogenesis pada perkembangan testis ikan lele (Clarias batrachus) yaitu spermatogonium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa (Chinabut et al., 1991). Fase-fase inilah yang digunakan dalam penentuan derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen. Hasil pengamatan terhadap derajat spermatogenesis pada tubulus seminiferus menurut kriteria Johnsen terlihat bahwa terdapat perbedaan antara perlakuan yang diberikan dengan kontrol. Rata-rata derajat spermatogenesis testis tertinggi terdapat pada perlakuan 2,5 g/kg pakan yaitu sebesar 9,22±0,30. Sedangkan rata-rata derajat spermatogenesis testis terendah terdapat pada perlakuan kontrol yaitu sebesar 8,00±0,33. Hasil ini menunjukkan bahwa pada 11

perlakuan 2,5 g/kg pakan memiliki tingkat kematangan gonad yang lebih baik bila dibandingkan kontrol. Hal ini tidak berkorelasi dengan hasil pengukuran diameter tubulus seminiferus sebelumnya, sehingga bertentangan dengan pendapat dari Juniarto (2004) yang menyatakan bahwa pemeriksaan diameter tubulus seminiferus dan derajat spermatogenesis seharusnya mempunyai korelasi positif karena semakin tebal dinding tubulus maka derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen juga semakin tinggi. Hal ini diduga disebabkan karena lamanya pemeliharaan ikan uji tidak disesuaikan dengan lamanya waktu daur spermatogenesis epitel seminiferus pada ikan lele. Menurut Sukmaningsih et al. (2011), waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap langkah perkembangan sel spermatogenik berbeda, oleh karena itu akan terjadi berbagai bentuk kombinasi sel dari berbagai jenis perkembangan sel-sel germinal di dalam tubulus seminiferus. Selain penyesuaian lama daur spermatogenesis, perbedaan tersebut diduga juga disebabkan karena terdapat faktor lain yang mempengaruhi perkembangan gonad yaitu faktor lingkungan ataupun hormon. Hal ini merujuk pada pemeliharaan ikan uji yang dilakukan di laboratorium lapangan yang tidak dapat terkontrol maksimal seperti di dalam ruangan karena air hujan dan pencahayaan dapat mempengaruhi kondisi air dalam bak pemeliharaan. Scott (1979) dalam Affandi dan Tang (2004) menyatakan bahwa faktor lingkungan yang dominan mempengaruhi perkembangan gonad adalah suhu dan makanan, serta cahaya dan musim. Sehingga pada perlakuan dengan dosis 5 g/kg pakan yang memiliki diameter tubulus seminiferus tertinggi (Gambar 1), derajat spermatogenesisnya lebih rendah dari pada perlakuan 2,5 g/kg pakan (Gambar 2). Ekstrak purwoceng mempengaruhi gambaran histologi testis yaitu pada kelengkapan spermatogenesis, misalnya pada perlakuan 2,5 g/kg pakan ekstrak purwoceng menunjukkan komponen spermatogonium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid, dan spermatozoa dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Gambar 3b). Gambar 3c memperlihatkan bahwa perlakuan 5 g/kg pakan memiliki diameter rata-rata tubulus seminiferus yang lebih besar bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, tetapi kelengkapan komponen spermatogenesisnya kurang lengkap. Pada gambar 3d, terlihat bahwa perlakuan 12

7,5 g/kg pakan memiliki diameter tubulus seminiferus yang lebih besar bila dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan 2,5 g/kg pakan, namun komponen spermatogenesisnya tidak selengkap perlakuan 2,5 g/kg pakan tetapi lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan 5 g/kg pakan. Sedangkan pada kontrol menunjukkan kriteria Johnsen serta rata-rata diameter tubulus seminiferus yang paling rendah dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar 3a). Sehingga dapat disimpulkan bahwa perlakuan 2,5 g/kg menunjukkan perkembangan kematangan gonad yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, namun diameter tubulus seminiferusnya lebih rendah dari perlakuan 5 g/kg. Sedangkan perlakuan 5 g/kg menunjukkan perkembangan tubulus seminiferus yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, namun memiliki derajat spermatogenesis yang lebih rendah dari perlakuan 2,5 g/kg. Hasil dari pengamatan berdasarkan gambaran histologinya menunjukkan bahwa penambahan ekstrak purwoceng melalui pakan dapat mempengaruhi perkembangan derajat spermatogenesisnya bila dibandingkan dengan kontrol. Hal ini sesuai dengan pernyataan Juniarto (2004) yang mengatakan bahwa pemeriksaan histologi menunjukkan bahwa terjadi proses spermatogenesis yang lebih baik pada testis tikus yang diberi perlakuan purwoceng yang pada akhirnya meningkatkan pula jumlah spermatozoa yang dihasilkan. 13