III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil 3.1.1. Diameter Tubulus Seminiferus Hasil pengukuran diameter tubulus seminiferus pada gonad ikan lele jantan setelah dipelihara selama 30 hari disajikan pada Gambar 1. Rata-rata diameter tubulus seminiferus pada perlakuan ekstrak purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) berkisar antara 25-33 m versus 23 m (kontrol). 40,00 33,67 35,00 30,00 23,17 26,12 25,79 Diameter (µm) 25,00 20,00 15,00 10,00 a a b a 5,00 0,00 Kontrol 2,5 5 7,5 Dosis Purwoceng (g/kg) Gambar 1. Histogram diameter tubulus seminiferus ikan lele pada hari ke-30 pasca perlakuan ekstrak purwoceng melalui pakan. Pada perlakuan dengan dosis purwoceng 5 g/kg pakan menunjukkan ratarata diameter tubulus seminiferus tertinggi (33,67±3,41 m). Sedangkan nilai ratarata diameter tubulus seminiferus terendah adalah perlakuan kontrol (23,17± 3,32 m). Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa perlakuan penambahan ekstrak purwoceng melalui pakan dengan dosis 5 g/kg pakan menunjukkan perkembangan diameter tubulus seminiferus yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya serta kontrol (p<0,05; Lampiran 2).
3.1.2. Derajat Spermatogenesis (Kriteria Johnsen) Hasil pengamatan terhadap derajat spermatogenesis berdasarkan kriteria Johnsen pada gonad ikan lele jantan setelah dipelihara selama 30 hari dapat dilihat pada Gambar 2. Rata-rata derajat spermatogensis pada perlakuan dosis purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) mencapai 9 versus 8 (kontrol). 12,00 Derajat Spermatogenesis (Johnsen) 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 8,00 9,22 9,00 8,92 0,00 Kontrol 2,5 5 7,5 Dosis Purwoceng (g/kg) Gambar 2. Histogram derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen. Pada Gambar 2 menunjukkan rata-rata derajat spermatogenesis testis tertinggi terdapat pada perlakuan 2,5 g/kg pakan yaitu sebesar 9,22±0,30, dan yang terendah adalah pada perlakuan kontrol (8,00±0,33). Oleh karena data tidak tersebar normal (non parametrik) maka tidak dilakukan uji statistik (Lampiran 3). Berdasarkan pengamatan derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen melalui gambaran histologinya disajikan pada Gambar 3. Derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen sesuai dengan gambaran histologinya pada perlakuan kontrol; 2,5 g/kg; 5 g/kg dan 7,5 g/kg dosis purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) berturut-turut adalah 7,5±1; 9,25±0,96; 8,75±0,96; dan 9±0,82. Hasil gambaran histologi merupakan hasil preparasi histologi yang diamati di bawah mikroskop pada perbesaran 100 kali. Adapun proses histologi tersebut terlampir pada Lampiran 4 dan 5. 9
a) b) c) d) Gambar 3. Histologi gonad ikan lele jantan pada perlakuan ekstrak purwoceng melalui pakan: a) kontrol, b) dosis 2,5 g/kg, c) dosis 5 g/kg, d) dosis 7,5 g/kg pada perbesaran 100 kali. Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa nilai derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen terendah terdapat pada perlakuan kontrol yaitu 7,5±1 (Gambar 3a), sedangkan tertinggi terdapat pada perlakuan dosis purwoceng 2,5 g/kg yaitu 9,25±0,96 (Gambar 3b). Hal itu ditunjukkan dengan kelengkapan fase spermatogesis dari dosis 2,5 g/kg yang lebih baik daripada kontrol dan perlakuan lainnya. Adapun contoh gambar yang memperlihatkan derajat spermatogenesis pada perlakuan dengan dosis 2,5 g/kg dapat dilihat pada Lampiran 6. Sedangkan untuk diameter tubulus seminiferus yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol yaitu 20±7,41 m dan tertinggi pada perlakuan dengan dosis purwoceng 5 g/kg pakan yaitu 32,35±14,9 m. 3.2. Pembahasan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh data mengenai perkembangan diameter tubulus seminiferus, derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen dan gambaran histologi dari perlakuan dengan penambahan 10
ekstrak purwoceng melalui pakan. Hasil pada Gambar 1 menunjukkan bahwa terjadi perkembangan diameter tubulus seminiferus pada perlakuan yang diberikan bila dibandingkan dengan kontrol. Nilai perkembangan diameter tubulus seminiferus tertinggi terdapat pada perlakuan 5 g/kg yaitu sebesar 33,67±3,41 m. Hal ini menjelaskan bahwa pada perlakuan 5 g/kg pakan diduga terjadi peningkatan proses spermatogenesis bila dibandingkan dengan kontrol. Adanya peningkatan proses spermatogenesis menimbulkan peningkatan diameter tubulus seminiferus, karena pada testis yang produksi spermanya rendah atau tidak berproduksi sama sekali, didapatkan penurunan diameter tubulus seminiferus (Gulkesen et al., 2002 dalam Purwoko, 2005). Berdasarkan hasil analisis ragam yang telah dilakukan diketahui bahwa perlakuan penambahan ekstrak purwoceng pada pakan pada dosis 5 g/kg pakan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap perkembangan diameter tubulus seminiferus (P<0,05). Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Juniarto (2004), yang mengatakan bahwa pemberian ekstrak purwoceng dan pasak bumi dapat memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap perkembangan diameter tubulus seminiferus. Testis dalam proses reproduksi mempunyai dua fungsi utama yaitu memproduksi hormon dan spermatozoa. Kedua fungsi tersebut secara anatomi berlangsung terpisah yaitu hormon testosteron dihasilkan oleh sel leydig, sedangkan sel spermatozoa dihasilkan oleh sel epithel tubulus seminiferus (Burger et al., 1977 dalam Nyoman dan Laksmi, 2010). Proses pembentukan sel spermatozoa di dalam tubulus seminiferus disebut spermatogenesis. Terdapat beberapa tingkatan spermatogenesis pada perkembangan testis ikan lele (Clarias batrachus) yaitu spermatogonium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa (Chinabut et al., 1991). Fase-fase inilah yang digunakan dalam penentuan derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen. Hasil pengamatan terhadap derajat spermatogenesis pada tubulus seminiferus menurut kriteria Johnsen terlihat bahwa terdapat perbedaan antara perlakuan yang diberikan dengan kontrol. Rata-rata derajat spermatogenesis testis tertinggi terdapat pada perlakuan 2,5 g/kg pakan yaitu sebesar 9,22±0,30. Sedangkan rata-rata derajat spermatogenesis testis terendah terdapat pada perlakuan kontrol yaitu sebesar 8,00±0,33. Hasil ini menunjukkan bahwa pada 11
perlakuan 2,5 g/kg pakan memiliki tingkat kematangan gonad yang lebih baik bila dibandingkan kontrol. Hal ini tidak berkorelasi dengan hasil pengukuran diameter tubulus seminiferus sebelumnya, sehingga bertentangan dengan pendapat dari Juniarto (2004) yang menyatakan bahwa pemeriksaan diameter tubulus seminiferus dan derajat spermatogenesis seharusnya mempunyai korelasi positif karena semakin tebal dinding tubulus maka derajat spermatogenesis menurut kriteria Johnsen juga semakin tinggi. Hal ini diduga disebabkan karena lamanya pemeliharaan ikan uji tidak disesuaikan dengan lamanya waktu daur spermatogenesis epitel seminiferus pada ikan lele. Menurut Sukmaningsih et al. (2011), waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap langkah perkembangan sel spermatogenik berbeda, oleh karena itu akan terjadi berbagai bentuk kombinasi sel dari berbagai jenis perkembangan sel-sel germinal di dalam tubulus seminiferus. Selain penyesuaian lama daur spermatogenesis, perbedaan tersebut diduga juga disebabkan karena terdapat faktor lain yang mempengaruhi perkembangan gonad yaitu faktor lingkungan ataupun hormon. Hal ini merujuk pada pemeliharaan ikan uji yang dilakukan di laboratorium lapangan yang tidak dapat terkontrol maksimal seperti di dalam ruangan karena air hujan dan pencahayaan dapat mempengaruhi kondisi air dalam bak pemeliharaan. Scott (1979) dalam Affandi dan Tang (2004) menyatakan bahwa faktor lingkungan yang dominan mempengaruhi perkembangan gonad adalah suhu dan makanan, serta cahaya dan musim. Sehingga pada perlakuan dengan dosis 5 g/kg pakan yang memiliki diameter tubulus seminiferus tertinggi (Gambar 1), derajat spermatogenesisnya lebih rendah dari pada perlakuan 2,5 g/kg pakan (Gambar 2). Ekstrak purwoceng mempengaruhi gambaran histologi testis yaitu pada kelengkapan spermatogenesis, misalnya pada perlakuan 2,5 g/kg pakan ekstrak purwoceng menunjukkan komponen spermatogonium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid, dan spermatozoa dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Gambar 3b). Gambar 3c memperlihatkan bahwa perlakuan 5 g/kg pakan memiliki diameter rata-rata tubulus seminiferus yang lebih besar bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, tetapi kelengkapan komponen spermatogenesisnya kurang lengkap. Pada gambar 3d, terlihat bahwa perlakuan 12
7,5 g/kg pakan memiliki diameter tubulus seminiferus yang lebih besar bila dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan 2,5 g/kg pakan, namun komponen spermatogenesisnya tidak selengkap perlakuan 2,5 g/kg pakan tetapi lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan 5 g/kg pakan. Sedangkan pada kontrol menunjukkan kriteria Johnsen serta rata-rata diameter tubulus seminiferus yang paling rendah dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar 3a). Sehingga dapat disimpulkan bahwa perlakuan 2,5 g/kg menunjukkan perkembangan kematangan gonad yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, namun diameter tubulus seminiferusnya lebih rendah dari perlakuan 5 g/kg. Sedangkan perlakuan 5 g/kg menunjukkan perkembangan tubulus seminiferus yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, namun memiliki derajat spermatogenesis yang lebih rendah dari perlakuan 2,5 g/kg. Hasil dari pengamatan berdasarkan gambaran histologinya menunjukkan bahwa penambahan ekstrak purwoceng melalui pakan dapat mempengaruhi perkembangan derajat spermatogenesisnya bila dibandingkan dengan kontrol. Hal ini sesuai dengan pernyataan Juniarto (2004) yang mengatakan bahwa pemeriksaan histologi menunjukkan bahwa terjadi proses spermatogenesis yang lebih baik pada testis tikus yang diberi perlakuan purwoceng yang pada akhirnya meningkatkan pula jumlah spermatozoa yang dihasilkan. 13