Bioma, Juni 2016 ISSN: Vol. 18, No. 1, Hal. 7-13

dokumen-dokumen yang mirip
Pengaruh Pencelupan pada Air Mendidih dan Air Kapur Sebelum Penyimpanan Terhadap Kualitas Telur Ayam Ras (Gallus L.)

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

PENGARUH LAMA SIMPAN TELUR ITIK TERHADAP PENURUNAN BERAT, INDEKS KUNING TELUR (IKT), DAN HAUGH UNIT (HU).

I. PENDAHULUAN. Ketersediaan telur yang tidak mengenal musim, keunggulan gizi dari telur dan

TINJAUAN PUSTAKA. gizi yang lengkap bagi pertumbuhan makhluk hidup baru. Menurut Whitaker and

Kualitas Telur Ayam Ras (Gallus L.) Setelah Penyimpanan yang dilakukan Pencelupan pada Air Mendidih dan Air Kapur Sebelum Penyimpanan

Kualitas Telur Ayam Konsumsi yang Dibersihkan dan Tanpa Dibersihkan Selama Penyimpanan Suhu Kamar

I. PENDAHULUAN. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi menyebabkan

I. PENDAHULUAN. dengan susunan asam amino lengkap. Secara umum telur ayam ras merupakan

Mutu Telur Asin Desa Kelayu Selong Lombok Timur yang Dibungkus dalam Abu Gosok Dan Tanah Liat

I. PENDAHULUAN. unggas yang lain. Itik mampu mempertahankan produksi telur lebih lama

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL LUAR HALAMAN SAMPUL DALAM LEMBAR PENGESAHAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kualitas Telur

MATERI DAN METODE di Laboratorium Teknologi Pasca Panen, Ilmu Nutrisi dan Kimia Fakultas

I. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN DAN WARNA KERABANG TERHADAP KUALITAS INTERNAL TELUR AYAM RAS

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2 Nomor 1 Februari 2017 e-issn ejournal2.undip.ac.id/index.php/baf/index p-issn

PENURUNAN KUALITAS TELUR AYAM RAS DENGAN INTENSITAS WARNA COKLAT KERABANG BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN

Kualitas Telur Ayam Ras Setelah Pemberian Olesan Lidah Buaya ( Aloe vera) dan Lama Penyimpanan Waktu yang Berbeda

1. PENDAHULUAN. Telur itik adalah salah satu pilihan sumber protein hewani yang memiliki rasa

AGRIPLUS, Volume 23 Nomor : 01 Januari 2013, ISSN

PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA SUSU, TELUR DAN DAGING PASCA PANEN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Telur adalah salah satu bahan makanan hewani yang dikonsumsi selain

PENGASINAN MEMPENGARUHI KUALITAS TELUR ITIK MOJOSARI ELIYA KUSUMAWATI, MAS DJOKO RUDYANTO, I KETUT SUADA

Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No.2. :91-98 ISSN : Agustus 2011

KUALITAS INTERIOR TELUR AYAM RAS DENGAN PENGGUNAAN LARUTAN DAUN SIRIH (Piper betle L.) SEBAGAI BAHAN PENGAWET

4 Telur biasanya juga mengandung semua vitamin yang sangat dibutuhkan kecuali vitamin C. Vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), vitamin yang larut air

III. BAHAN DAN METODE KERJA. Penelitian ini dilaksanakan pada 25 September--09 Oktober 2013 bertempat di

HASIL DAN PEMBAHASAN

TELUR ASIN PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. dengan nilai gizi yang tinggi dan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi

Penggunaan Ekstrak Kulit Manggis Hasil Ekstraksi Alkohol Untuk Pengawetan Telur

POPULASI BAKTERI PADA TELUR AYAM LEGHORN SETELAH PENAMBAHAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI

I. PENDAHULUAN. Telur adalah salah satu bahan makanan hewani yang dikonsumsi selain

BAB I PENDAHULUAN. Telur adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi oleh sebagian besar

STUDI KUALITAS TELUR AYAM RAS DI PASAR TRADISIONAL KOTA MANADO. Hearty Salatnaya

MATERI DAN METODE. Materi

Gambar 1. Struktur Telur (Romanoff dan Romanoff, 1963)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pendahuluan, Telur Cair, Telur Asin

SIFAT FISIK DAN FUNGSIONAL TEPUNG PUTIH TELUR AYAM RAS DENGAN WAKTU DESUGARISASI BERBEDA SKRIPSI RATNA PUSPITASARI

KUALITAS FISIK TELUR PUYUH YANG DIRENDAM DALAM LARUTAN GELATIN TULANG KAKI AYAM DENGAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA

I. MATERI DAN METODE PENELITIAN. Produksi Ternak Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri

PENDAHULUAN. mempunyai potensi yang cukup besar sebagai penghasil telur karena

I MADE ADITYA SASTRAWAN

Mahasiswa mengetahui perubahan fisiko kimia telur Mahasiswa mengetahui kerusakan selama penyimpanan Mahasiswa mengetahui cara penanganan telur

HUBUNGAN ANTARA LAMA PENYIMPANAN DENGAN PENYUSUTAN BOBOT, HAUGH UNIT, DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR AYAM RAS PADA SUHU RUANG SKRIPSI SAMSUDIN

II. TINJAUAN PUSTAKA. tercapainya kecukupan gizi masyarakat (Sudaryani, 2003). Telur sebagai sumber

EVALUASI MUTU MI INSTAN YANG DIBUAT DARI PATI SAGU LOKAL RIAU. Evaluation on the Quality of Instant Noodles Made From Riau Sago Starch

PENGARUH SUPLEMENTASI BETAIN DALAM RANSUM RENDAH METIONIN TERHADAP KUALITAS TELUR PUYUH (Coturnix coturnix japonica) Jurusan/Program Studi Peternakan

PENURUNAN KUALITAS TELUR AYAM RAS DENGAN INTENSITAS WARNA COKLAT KERABANG BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN SKRIPSI. Oleh NAYLUL JAZIL

Kualitas Telur Ayam Ras Yang Dilapisi Bubur Kulit Manggis yang Disimpan pada Suhu 4 0 C

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Kandang Peralatan dan Perlengkapan Pakan dan Air Minum

Animal Agriculture Journal, Vol. 2. No. 1, 2013, p Online at :

PENGARUH PELILINAN DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS TELUR AYAM RAS SEVEN ROBERTO SIRAIT

Perbedaan Daya Simpan Telur Ayam Ras yang Dicelupkan dan Tanpa Dicelupkan Larutan Kulit Manggis

I MADE ADITYA SASTRAWAN, IDA BAGUS NGURAH SWACITA, I MADE SUKADA

KAJIAN PENAMBAHAN TETES SEBAGAI ADITIF TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DAN NUTRISI SILASE KULIT PISANG

TEKNOLOGI TELUR. Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu :

EFEK PENAMBAHAN TEPUNG KULIT NANAS (Ananas comosus (L) Merr.) DALAM PAKAN TERHADAP JUMLAH TELUR DAN KUALITAS TELUR ITIK

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS INTERNAL TELUR AYAM RAS PADA FASE PRODUKSI PERTAMA

Pengaruh Pemberian Susu Skim dengan Pengencer Tris Kuning Telur terhadap Daya Tahan Hidup Spermatozoa Sapi pada Suhu Penyimpanan 5ºC

PENDAHULUAN. Telur ayam merupakan jenis makanan bergizi yang popular dikalangan

HUBUNGAN UMUR SIMPAN DENGAN PENYUSUTAN BOBOT, NILAI HAUGH UNIT, DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR ITIK TEGAL PADA SUHU RUANG SKRIPSI ROSIDAH

Kualitas Telur Ayam Ras yang Mendapat Pelapisan Bubur Kulit Manggis dan Disimpan pada Suhu Ruang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rata-rata penurunan bobot telur ayam ras yang disimpan pada suhu ruang

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 28 April 2016 di CV.

I. PENDAHULUAN. Paru-paru, jantung, pusat syaraf dan otot skelet bekerja berat dalam melakukan

MATERI DAN METODE. Materi

I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat

PENGARUH CARA PEMASAKAN TELUR ASIN AYAM NIAGA PETELUR YANG BERBEDA TERHADAP KADAR GARAM DAN KESUKAAN

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG DAUN KATUK (Sauropus androgynus (L.) Merr.) DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS TELUR ITIK LOKAL SKRIPSI LILI SURYANINGSIH

PEMBUATAN TELUR ASIN RASA BAWANG SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN NILAI JUAL TELUR BEBEK Oleh : Dr. Das Salirawati, M.Si

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Ayam pedaging atau yang sering disebut sebagai ayam broiler (ayam

ABSTRAK Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Telur Konsumsi Ayam Kampung Dan Ayam Lohman Brown

;ZM A$ PENYUSUTAN BOBOT, KUALITAS, DAYA DAN KESTABILAN

I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat

BAB III MATERI DAN METODE. Penilitian dilaksanakan selama bulan Mei sampai Juli 2017 di Laboratorium

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan September Desember 2016 di

BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan, mulai dari teh, kopi, karet, kakao, kelapa, rempah-rempah

ACARA III PEMBUATAN PRODUK DAN UJI KUALITAS PRODUK TELUR A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Telur merupakan salah satu dari beberapa produk yang di

KOMPOSISI DAN MIKROBA TELUR

Telur. Titis Sari Kusuma. Ilmu Bahan Makanan-Telur

Sistem Pakar Deteksi Mutu Telur Ayam Ras Berbasis Web Menggunakan Metode Forward Chaining

BAB I PENDAHULUAN. pertambahan penduduk, perkembangan ekonomi, perubahan gaya hidup serta kesadaran

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

TEKNOLOGI PEMBUATAN SAUS TOMAT Oleh: Masnun Balai Pelatihan Pertanian Jambi I. PENDAHULUAN

PENAMPILAN PRODUKSI AYAM BROILER YANG DIBERI TEPUNG GAMBIR (Uncaria Gambir Roxb) SEBAGAI FEED ADDITIVE DALAM PAKAN.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret 2014 di Peternakan Eko Jaya dan

PERUBAHAN SIFAT FUNGSIONAL TELUR AYAM RAS PASCA PASTEURISASI (The Change of Chicken Egg Functional Properties After Pasteurization)

Transkripsi:

Bioma, Juni 2016 ISSN: 1410-8801 Vol. 18, No. 1, Hal. 7-13 Bobot, Indeks Kuning Telur (IKT), Dan Haugh Unit (Hu) Telur Ayam Ras Setelah Perlakuan Dengan Pembungkusan Pasta Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb). Dyah Ayu Maharani Putri, Muhammad Anwar Djaelani dan Siti Muflichatun Mardiati Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Hewan, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, Semarang Jln Prof. Soedarto, SH,Semarang,50275, Telp: (024)7474754; Fax (024) 76480923 Abstract Eggs are farm products that provide the greatest contribution to the achievement of community nutritional adequacy. The aims of the research was to an analyzed the quality of eggs in treatment without and with a temulawak rhizome pasta stored at 6,12, and 24 days. This research used 35 eggs consists of 7 treatment and 5 replication, namely PtT 0 : as control, a group of eggs without packing temulawak rhizome pasta and without storage, PtT 6 : a group of eggs without packing temulawak rhizome pasta after 6 days storage, PdT 6 : a group of eggs with packing temulawak rhizome pasta after 6 days storage, PtT 12 : a group of eggs without packing temulawak rhizome pasta after 12 days storage, PdT 12 : a group of eggs with packing temulawak rhizome pasta after 12 days storage, PtT 24 : a group of eggs without packing temulawak rhizome pasta after 24 days storage, and PdT 24 : a group of eggs with packing temulawak rhizome pasta after 24 days storage. This research was analyzed used a completely randomized design (CRD). Variables measured were egg weight, yolk indeks, and Haugh Unit (HU). Data obtained from this study were analyzed using analysis of variance (ANOVA) if there is a real difference then continued further test using Duncan test at the level 95 %. The result egg weight reducted and yolk index shows was significantly different in PtT 6, PtT 12, PtT 24, and PdT 24 and Haugh Unit (HU) shows was significantly different in PtT 6, PtT 12, PtT 24. Conclusion of this research is gived temulawak rhizome pasta are able to maintain the quality of eggs were observed on days 6, 12, and 24. Key Word : Chicken egg, Temulawak rhizome, Egg quality Abstrak Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas telur ayam ras dalam perlakuan tanpa dan dengan pembungkusan bahan pasta rimpang temulawak disimpan pada waktu 6, 12, dan 24 hari. Penelitian ini menggunakan 35 butir telur ayam ras terdiri atas 7 perlakuan dan 5 kali ulangan, yaitu PtT 0 : sebagai kontrol, kelompok telur ayam ras tanpa pembungkusan pasta rimpang temulawak serta tanpa penyimpanan, PtT 6 : kelompok telur ayam ras tanpa pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 6 hari penyimpanan, PdT 6 : kelompok telur ayam ras dengan pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 6 hari penyimpanan, PtT 12 : kelompok telur ayam ras tanpa pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 12 hari penyimpanan, PdT 12 : kelompok telur ayam ras dengan pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 12 hari penyimpanan, PtT 24 : kelompok telur ayam ras tanpa pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 24 hari penyimpanan, dan PdT 24 : kelompok telur ayam ras dengan pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 24 hari penyimpanan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel yang diukur adalah bobot telur, indeks kuning telur (IKT), dan Haugh Unit (HU). Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis menggunakan ANOVA ( Analysis of Variance) apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilanjutkan uji lanjut dengan menggunakan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95 %. Hasil analisis bobot susut telur dan indeks kuning telur (IKT) menunjukkan berbeda nyata pada PtT 6, PtT 12, PtT 24, dan PdT 24 dan Haugh Unit (HU) menunjukkan berbeda nyata pada PtT 6, PtT 12, dan PtT 24. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian pembungkusan pasta rimpang temulawak mampu mempertahankan kualitas telur ayam ras yang diamati pada hari ke-6, 12, dan 24 Kata Kunci : Telur Ayam, Rimpang Temulawak, Kualitas Telur

PENDAHULUAN Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Sebutir telur mengandung gizi yang cukup sempurna karena mengandung protein dalam jumlah besar dan mudah dicerna, maka telur merupakan bahan pangan yang sangat baik untuk anak anak dalam masa pertumbuhan juga dapat diberikan kepada orang yang sedang sakit untuk mempercepat proses kesembuhannya (Sudaryani, 2003). Telur ayam khususnya ayam ras dapat dikonsumsi sehari hari dan digunakan untuk pengolahan pangan. Sebutir telur memiliki kandungan protein yang berkualitas tinggi, lemak, vitamin, dan mineral bahkan telur juga memiliki fungsi sebagai preparasi makanan yaitu sebagai bahan pengembang ( leaven), mengemulsi, mempertebal dan mengikat produk makanan, dan menambah warna (Siregar dkk., 2012). Telur mengalami penurunan kualitas disebabkan masuknya mikroba-mikroba perusak ke dalam isi telur melalui pori-pori kerabang telur, menguapnya air dan gas karena pengaruh suhu lingkungan, serta ruang penyimpan yang lembab akan menyebabkan kerabang berjamur (Haryono, 2000). Lama penyimpanan menentukan kualitas telur; semakin lama telur disimpan, kualitas dan kesegaran telur semakin menurun (Haryoto, 2010). Mengurangi dampak penurunan kualitas telur dapat dilakukan dengan mencegah kontaminasi isi telur melalui cara menutup poripori kerabang telur dengan larutan kapur, parafin, minyak sayur, natrium silikat (Na 2SiO 4) atau air kaca, agar-agar, alumunium foil, getah karet, sabun, gelatin, bahkan getah kaktus (Koswara, 2009). Penyimpanan telur dapat dilakukan pada suhu lemari pendingin di atas suhu -2 o C (28 o F) untuk mencegah kerusakan telur yang berdampak pada penurunan kualitas telur juga dapat menghambat pelepasan CO 2 beserta air di dalam telur (Suradi, 2006). Penyimpanan telur dapat menggunakan metode simpan kering dan perendaman di dalam cairan (Pamungkas, 2007). Rimpang temulawak dengan nama ilmiah Curcuma xanthorrhiza Roxb. merupakan salah satu bahan baku obat tradisional yang tersebar di Indonesia dan digunakan dalam pembuatan jamu karena mempunyai manfaat sebagai antioksidan dan anti mikroba. Pengujian khasiat rimpang temulawak dapat diketahui melalui bukti empiris melalui pengujian secara in vitro (Prana, 2008). Uji klinis terhadap manusia bahwa rimpang temulawak memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antioksidan (Badan Pengawasan Obat dan Makanan, 2004). Komponen senyawa yang bertindak sebagai antioksidan adalah flavonoid, fenol dan kurkuminoid (Cahyono dkk., 2011). Kurkuminoid merupakan pigmen berwarna kuning dari rimpang temulawak mengandung bahan alam dalam bentuk campuran senyawa diarilheptanoid, yakni kurkumin, demetoksi kurkumin, dan bisdemetoksikurkumin (Cahyono dkk., 2011). Kurkumin berkhasiat sebagai penangkal senyawa-senyawa radikal bebas berbahaya karena pada kurkumin terdapat gugus senyawa kimia penangkap radikal bebas yaitu gugus hidroksi fenolik dan gugus β diketon (Yusro, 2004; Jayaprakhasha et al., 2006). Senyawa kurkumin dalam rimpang temulawak memiliki sifat anti mikroba (Rahmawati dkk., 2013). Berdasarkan kandungan antioksidan dan anti mikroba yang terdapat didalam rimpang temulawak perlu dilakukan penelitian pasta rimpang temulawak sebagai pembungkus telur ayam ras. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang, Semarang. Waktu penelitian dilakukan pada 11 September 2015 sampai 5 Oktober 2015. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : Telur ayam ras, pasta rimpang temulawak ( Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Alat yang digunakan antara lain : timbangan digital dengan ketelitian 0,01 gram, jangka sorong, egg tray, kaca datar, penggaris, kertas dan alumunium cup, dan ph meter. Cara kerja dalam penelitian ini meliputi persiapan alat dan bahan dan pelaksanaan penelitian Persiapan bahan antara lain : 1. Telur ayam ras dicuci bersih dengan air mengalir, ditimbang menggunakan timbangan digital serta dilakukan pencatatan untuk bobot

awal sebelum penyimpanan, diberi label, dan dikelompokkan dengan kelompok perlakuan. 2. Telur ayam ras yang telah diberi label dan dikelompokkan sesuai kelompok perlakuan dimasukkan ke dalam egg tray 3. Pembuatan pasta rimpang temulawak dengan bahan rimpang temulawak sebanyak 1,5 kg dikupas kulitnya; dicuci bersih lalu diparut sampai didapatkan hasil parutan halus. Pelaksanaan penelitian antara lain 1. Rimpang temulawak yang telah diparut kemudian ditimbang masing-masing sebanyak 100 gram untuk membungkus setiap telur perlakuan. 2. Proses memberi perlakuan telur ayam ras menggunakan bahan pembungkus pasta rimpang temulawak dilakukan satu kali pembungkusan. 3. Telur ayam ras yang telah diberi perlakuan disimpan selama 6, 12, dan 24 hari. Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah telur ayam ras dengan jumlah 35 butir. Sebelum diberi perlakuan, telur ayam ras dicuci bersih dengan air mengalir selanjutnya ditimbang. Penimbangan telur untuk mengetahui bobot awal telur sebelum penyimpanan. Telur ayam ras sebanyak 35 butir ditempatkan menggunakan egg tray, dikelompokkan sesuai dengan kelompok perlakuan, dan disimpan selama 6, 12, dan 24 hari. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah bobot telur, indeks kuning telur (IKT), dan Haugh Unit (HU). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Tiga puluh lima telur dibagi dalam 7 perlakuan dan 5 kali ulangan. Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis menggunakan uji ANOVA (Analysis of Variance), apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilanjutkan uji lanjut menggunakan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95 % (Widyastuti dkk., 2014 dalam Gomez, 2005) HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data penelitian berupa bobot susut telur, indeks kuning telur (IKT), dan Haugh Unit (HU) pada telur ayam ras dengan pembungkusan pasta rimpang temulawak menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Duncan pada taraf kepercayaan 95 % dihasilkan ringkasan hasil penelitian disajikan pada Tabel 1. Table 1. Hasil analisis rata-rata bobot susut telur, Indeks Kuning Telur (IKT), dan Haugh Unit (HU) dari telur ayam ras yang telah dibungkus pasta rimpang temulawak dan disimpan dengan waktu berbeda VARIABEL Bobot Susut Telur (%) PERLAKUAN PtT0 PtT6 PdT6 PtT12 PdT12 PtT24 PdT24 0.00±0.00 a 1.12±0.12 b 0.19±0.05 a 3.52±1.51 c 0.63±0.26 ab 5.35±0.65 d 1.49±0.39 b Indeks Kuning Telur 0.50±0.02 c 0.42±0.06 b 0.51±0.01 c 0.37±0.03 a 0.51±0.01 c 0.34±0.02 a 0.42±0.03 b Haugh Unit 98.52±0.66 d 94.61±2.90 c 99.39±0.58 d 88.29±4.69 b 99.24±0.69 d 82.65±4.44 a 98.01±1.55 cd Keterangan : Angka dengan superskrip yang sama dalam satu baris menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata pada taraf signifikansi 5%. PtT 0 : kelompok telur ayam ras tanpa pembungkusan pasta rimpang temulawak serta tanpa penyimpanan, PtT 6 : kelompok telur ayam ras tanpa pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 6 hari penyimpanan, PdT 6 : kelompok telur ayam ras dengan pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 6 hari penyimpanan, PtT 12 : kelompok telur ayam ras tanpa pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 12 hari penyimpanan, PdT 12 : kelompok telur ayam ras dengan pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 12 hari penyimpanan, PtT 24 : kelompok telur ayam ras tanpa pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 24 hari penyimpanan, dan PdT 24 : kelompok telur ayam ras dengan pembungkusan pasta rimpang temulawak setelah 24 hari penyimpanan

Hasil analisis data bobot susut telur menunjukkan berbeda nyata pada kelompok telur PtT 6, PtT 12, PtT 24, dan PdT 24 bila dibandingkan dengan kelompok telur PtT 0. Kelompok telur tanpa pemberian pembungkus pasta rimpang temulawak (PtT 6, PtT 12, dan PtT 24) terjadi penurunan bobot disebabkan selama penyimpanan terjadi penguapan air serta hasil degradasi protein dan mineral dalam telur berupa gas CO 2 dari dalam isi telur melalui pori kerabang telur dapat mempengaruhi nilai bobot susut telur. Harahap (2007) menyatakan bahwa pada awal penyimpanan penguapan air dan gas CO 2 berlangsung lebih cepat karena jumlah cairan lebih banyak, semakin meningkatnya umur atau waktu penyimpanan menyebabkan persediaan cairan dan gas akan semakin berkurang. Kelompok telur PdT 24 menunjukkan berbeda nyata dibandingkan dengan kelompok PtT 0. Kelompok telur dengan pemberian pembungkus pasta rimpang temulawak setelah 24 hari penyimpanan (PdT 24) mengalami penurunan bobot disebabkan pembungkus pasta rimpang temulawak mengering dan retak serta membentuk celah sehingga terjadi penguapan melalui celah retakan. Nilai rata-rata bobot susut telur pada kelompok telur PtT 6 sebesar 1,12 gram, kelompok telur PtT 12 sebesar 3,52 gram, kelompok telur PtT 24 sebesar 5,35 gram, dan kelompok telur PdT 24 sebesar 1,49 gram. Yuwanta (2010) menyatakan bahwa menyatakan bahwa pada suhu penyimpanan 25 o C dengan kelembaban relatif 70% akan menyebabkan kehilangan berat 0,6 g/minggu/butir sedangkan pada suhu 30 o C telur akan kehilangan berat sebesar 1 g/minggu/butir. Nilai rata-rata bobot telur dalam kualitas baik ditunjukkan kelompok telur PtT 6 sebesar 59,57, kelompok telur PtT 12 sebesar 59,37, kelompok telur PtT 24 sebesar 62,14, dan kelompok telur PdT 24 sebesar 61,71 memiliki kualitas baik. Siregar dkk. (2012) menyatakan bahwa telur pada kualitas baik memiliki bobot telur sekitar 50 hingga 70 gram. Hasil analisis data terhadap indeks kuning telur (IKT) menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada kelompok telur PtT6, PtT12, PtT24, dan PdT24 bila dibandingkan dengan kelompok PtT0. Kelompok telur tanpa pemberian pembungkus pasta rimpang temulawak (PtT 6, PtT12, dan PtT24) terjadi penurunan nilai indeks kuning telur (IKT) disebabkan kandungan air pada putih telur yang berada di sekeliling kuning telur akan terserap ke dalam kuning telur; terjadi berkurangnya permiabilitas membran vitelin menyebabkan kuning telur mengalami pemipihan. Soeparno dkk. (2011) menyatakan bahwa penyimpanan telur menyebabkan terjadinya pemindahan air dari putih telur menuju kuning telur sebanyak 10 mg/hari pada suhu 10 o C. Tekanan osmotik kuning telur lebih besar dari putih telur sehingga air dari putih telur berpindah menuju kuning telur. Perpindahan air secara terus menerus akan menyebabkan viskositas kuning telur menurun sehingga kuning telur menjadi pipih kemudian akan pecah karena proses pemindahan air ini tergantung pada kekentalan putih telur dan indeks kuning telur (IKT) menurun, kemudian membran vitelin akan rusak dan menyebabkan kuning telur rusak. Kelompok telur PdT24 menunjukkan berbeda nyata dibandingkan dengan kelompok PtT0. Kelompok telur dengan pemberian pembungkus pasta rimpang temulawak setelah 24 hari penyimpanan (PdT24) mengalami penurunan nilai indeks kuning telur (IKT) disebabkan waktu simpan bertambah dan pembungkus pasta rimpang temulawak mengering dan retak sehingga terjadi proses penurunan permiabilitas membran vitelin terjadi yang berakibat pada penurunan nilai indeks kuning telur (IKT). Nilai rata-rata indeks kuning telur (IKT) pada kelompok PtT 6 sebesar 0,42 dengan mutu II, kelompok PtT 12 sebesar 0,37 dengan mutu III, kelompok PtT 24 sebesar 0,34 dengan mutu III, dan kelompok PdT 24 sebesar 0,42 dengan mutu II. Badan Standarisasi Nasional (2 008) menyatakan bahwa tingkatan mutu indeks kuning telur (IKT) adalah 0,458-0,521 (Mutu I), 0,394-0,457 (Mutu II), dan 0,330-0,393 (Mutu III).

Hasil analisis data terhadap Haugh Unit (HU) menunjukkan berbeda nyata pada kelompok PtT 6, PtT 12, dan PtT 24 bila dibandingkan dengan kelompok PtT 0. Kelompok telur dengan tanpa pembungkusan pasta rimpang temulawak memiliki pengaruh pada kualitas telur khususnya putih telur. Telur tanpa pembungkusan memiliki pengaruh terhadap suhu dan kelembaban lingkungan sehingga terjadi penyusutan bobot akibat penguapan air dan degradasi protein serta mineral juga mencairnya putih telur akibat rusaknya ovomucin. Melia dkk., 2008 menyatakan bahwa proses penipisan putih telur terjadi akibat interaksi antara enzim lysozyme dengan ovomucin. Derajat keasaman (ph) naik disebabkan CO 2 keluar selama penyimpanan sehingga berakibat pada daya larut ovomucin berkurang dan kekentalan putih telur rusak Nilai rata-rata Haugh Unit (HU) pada kelompok PtT 6 sebesar 94,61 dengan kualitas AA, kelompok PtT 12 sebesar 88,29 dengan kualitas AA, dan kelompok PtT 24 82,65 dengan kualitas AA. United States Departement of Agriculture (2000) menyatakan bahwa nilai Haugh Unit (HU) kurang dari 31 digolongkan kualitas C, Nilai Haugh Unit (HU) antara 31-60 digolongkan kualitas B, Nilai Haugh Unit (HU) antara 60-72 digolongkan kualitas A, dan Nilai Haugh Unit (HU) lebih dari 72 digolongkan kualitas AA). Gambar 1. Morfologi Kuning dan Putih Telur saat pemecahan. Kelompok telur (a) PtT 0, (b) PtT 6, (c) PdT 6, (d) PtT 12, (e) PdT 12, (f) PtT 24, dan (g) PdT 24.

Morfologi kuning telur setelah mengalami penyimpanan disajikan pada Gambar 1. kelompok PtT 0 berwarna kuning cerah, berbentuk bulat utuh, dan terletak di tengah-tengah putih telur. Kelompok telur PtT 6, PdT 6, PtT 12, PdT 12, dan PdT 24 berwarna kuning cerah, berbentuk bulat utuh, dan letaknya ada yang berada ditengah dan ada yang mulai bergeser dari posisi tengah namun kelompok PtT 24 berwarna kuning pucat, berbentuk bulat utuh, terletak menjauh dari posisi tengah, dan mengalami pemipihan. Hal ini diduga karena pengaruh suhu dan kelembaban lingkungan serta lamanya waktu penyimpanan (24 hari penyimpanan) sehingga terjadi penurunan tinggi kuning telur dan elastisitas khalaza. Morfologi putih telur setelah penyimpanan disajikan pada Gambar 1 Kelompok PtT 0 terlihat jernih, kental, mengelilingi kuning telur yang berada ditengah, dan belum terlihat pencairan. Kelompok PtT 6 terlihat jernih, mulai mengalami pencairan dalam jumlah sedikit. Kelompok telur PdT 6 terlihat jernih, kental, mengelilingi kuning telur dengan erat, dan tidak mengalami pencairan. Kelompok PtT 12 terlihat jernih, dan mengalami pencairan pada putih telur dalam jumlah sedikit hingga banyak. Kelompok telur PdT 12 terlihat jernih, kental, mengelilingi erat kuning telur, dan tidak mengalami pencairan. Kelompok PtT 24 terlihat jernih, dan mengalami pencairan. Kelompok telur PdT 24 terlihat jernih, kental, mengikat kuning telur dengan erat, dan tidak terlihat pencairan. Hal ini diduga karena kelompok yang tidak mengalami pembungkusan pasta rimpang temulawak sangat dipengaruhi suhu dan kelembaban lingkungan selama penyimpanan berlangsung serta waktu simpan telur dalam waktu lama (24 hari penyimpanan) sehingga terjadi pencairan putih telur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Djaelani (2015) menyatakan bahwa semakin lama penyimpanan menyebabkan menyebabkan putih telur kental menjadi semakin encer akibat penguapan air dan gas karbondioksida (CO 2). KESIMPULAN Hasil penelitian dengan pembungkusan pasta rimpang temulawak kelompok telur PtT 0 sebagai kontrol serta kelompok telur PtT 6, PdT 6, PtT 12, PdT 12, PtT 24, dan PdT 24 menunjukkan hasil analisis berbeda nyata pada bobot telur dan indeks kuning telur (IKT) pada kelompok PtT 6, PtT 12, PtT 24. Nilai Haugh Unit (HU) pada kelompok telur PtT 6, PtT 12, dan PtT 24 menunjukkan hasil analisis berbeda nyata. Berdasarkan hal diatas maka dapat disimpulkan bahwa dengan pemberian pembungkus pasta rimpang temulawak pada penelitian ini mampu mempertahankan kualitas telur ayam ras. DAFTAR PUSTAKA Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2008. SNI 3926 : 2008 Telur Ayam Konsumsi. BSN. Jakarta. Cahyono, B., Huda, Khoirul. D. M., dan Limantara, L. 2011. Pengaruh Proses Pengeringan Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) Terhadap Kandungan dan Komposisi Kurkuminoid. Jurnal Reaktor 13(3) : 165-171. Djaelani, A. M. 2015. Pengaruh Pencelupan pada Air Mendidih dan Air Kapur Sebelum Penyimpanan Terhadap Kualitas Telur Ayam Ras (Gallus L.). Buletin Anatomi dan Fisiologi Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang 23(1) : 24-30. Gomez, K. A. 2005. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian, edisi kedua. UI Press, Jakarta Harahap, E. U. 2007. Kajian Pengaruh Bahan Pelapis dan Teknik Pengemasan Terhadap Perubahan Mutu Telur Ayam

Buras Selama Transportasi dan Penyimpanan. Tesis. Pasca sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. Haryono. 2000. Langkah-Langkah Teknis Uji Kualitas Telur Konsumsi Ayam Ras. Temu Teknis Fungsional non Penelliti. Balai Penelitian. Bogor. pp 175-184. Haryoto. 2010. Membuat Telur Asin. Kanisius. Yogyakarta. Jayaprakasha, G. K., Jaganmohan, R. L., and Sakariah, K. K. 2006. Antioxidant activities of curcumin, demethoxycurcumin and bisdemethoxycurcumin. Food Chemistry. 98: 720-24. Koswara, S. 2009. Teknologi Pengolahan Telur. ebookpangan.com. Melia, S., Juliyarsi, I., dan Africon. 2008. Teknologi Pengawetan Telur Ayam Ras Dalam Larutan Gelatin dari Limbah Kulit Sapi. Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang. Pamungkas, P. W. 2007. Evaluasi Kualitas Telur Ayam Ras Hasil Perlakuan Effective Mikroorganisms Selama Penyimpanan. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Udayana, Denpasar. Prana, M.S. 2008. The Biologi of Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Biopharmaca Research Center Bogor Agricultural University, Bogor. pp 151-156. Rahmawati, N., Sudjarwo, E., dan Widodo, E. 2013. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Herbal terhadap Bakteri Escherichia coli. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan 24(3) : 24-31. Siregar, F. R., Hintono. A., dan Mulyani. S. 2012. Perubahan Sifat Fungsional Telur Ayam Ras Pasca Pasteurisasi. Animal Agriculture Journal 1(1) : 521-528. Soeparno, R.A., Rihastuti, I., dan S. Triatmojo. 2011. Dasar Teknologi Hasil Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Sudaryani, T. 2003. Kualitas Telur. Penebar Swadaya. Jakarta. Suradi, K. 2006. Perubahan Kualitas Telur Ayam Ras dengan Posisi Peletakan Berbeda Selama Penyimpanan Suhu Refrigerasi. Jurnal Ilmu Ternak 6(2) :136-139. United States Departement of Agriculture. 2000. Egg Grading Manual. Agricultural Handbook number 75. Washington DC. Widyastuti, W., Mardiati, M. S., dan Saraswati, R. T. 2014. Pertumbuhan Puyuh ( Coturnix coturnix japonica) Setelah Pemberian Tepung Kunyit (Curcuma longa L.) Pada Pakan. Buletin Anatomi dan Fisiologi Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang 22(2) : 12-20. Yusro, A. H. 2004. Pengaruh Waktu, Suhu, dan Nisbah Pelarut pada Ekstraksi Kurkumin dari Temulawak dengan Pelarut Etanol. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Bioma, Juni 2016 ISSN: 1410-8801 Vol. 18, No. 1, Hal. 7-13