BAB I PENDAHULUAN. tetapi terkait dengan penetapan awal bulan dalam kalender hijriah.

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. dan hari raya Islam (Idul fitri dan Idul adha) memang selalu diperbincangkan oleh

BAB IV PERBEDAAN DAN PERSAMAAN DALAM PENENTUAN AWAL BULAN SYAWAL 1992, 1993, 1994 M DAN AWAL ZULHIJAH 2000 M ANTARA NAHDLATUL ULAMA DAN PEMERINTAH

BAB I PENDAHULUAN. baik secara nasional maupun internasional dalam halnya menentukan awal bulan

BAB IV KONSEPSI PENYATUAN KALENDER HIJRIAH TERHADAP POLA SIKAP PP. MUHAMMADIYAH. A. Analisis Sikap PP. Muhammadiyah Terhadap Penyatuan Sistem

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN SUSIKNAN AZHARI TENTANG UNIFIKASI KALENDER HIJRIAH DAN PROSPEKNYA MENUJU UNIFIKASI KALENDER HIJRIAH DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Perbincangan seputar hisāb dan rukyat, utamanya dalam hal. penentuan awal bulan kamariah, memang tidak pernah lekang oleh waktu.

BAB I PENDAHULUAN. Rukyat adalah kegiatan yang berisi usaha melihat hilal atau Bulan

BAB I PENDAHULUAN. terbenam terlebih dahulu dibandingkan Bulan. 2. ibadah. Pada awalnya penetapan awal bulan Kamariah ditentukan

BAB 1 PENDAHULUAN. nampaknya semua orang sepakat terhadap hasil hisab, namun penentuan awal

BAB I PENDAHULUAN. karena itu para ahli hukum Islam menentukan lembaga-lembaga mana yang. berwenang melakukannya, prosedur dan mekanismenya.

BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB AWAL BULAN QAMARIAH DR. ING. KHAFID DALAM PROGRAM MAWAAQIT. A. Analisis terhadap Metode Hisab Awal Bulan Qamariah dalam

HISAB PENENTUAN AWAL BULAN KAMARIAH MENURUT MUHAMMADIYAH (STUDI PENETAPAN HUKUMNYA) NASKAH PUBLIKASI

IMPLEMENTASI KALENDER HIJRIYAH GLOBAL TUNGGAL

BAB IV ANALISIS PANDANGAN MUHAMMADIYAH DAN THOMAS DJAMALUDDIN TENTANG WUJU<DUL HILAL

DAFTAR PUSTAKA. Azhari, Susiknan Kalender Islam ke Arah Integrasi Muhammadiyah NU, Yogyakarta: Museum Astronomi Islam, 2012

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan agama yang lain adalah bahwasannya peribadatan dalam

PERUMUSAN GARIS TANGGAL KAMARIAH INTERNASIONAL BERDASARKAN KONJUNGSI

BAB III KONSEP UNIFIKASI KALENDER HIJRIAH PEMIKIRAN SUSIKNAN AZHARI

BAB I PENDAHULUAN. hadirnya hilal. Pemahaman tersebut melahirkan aliran rukyah dalam penentuan

BAB I PENDAHULUAN. muslimin, sebab banyak ibadah dalam Islam yang pelaksanaannya dikaitkan

Abdul Rachman dan Thomas Djamaluddin Peneliti Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

BAB II SEPUTAR PENENTUAN AWAL BULAN DALAM KALENDER HIJRIAH. A. Tinjauan Umum Awal Bulan dalam Kalender Hijriah

Proposal Ringkas Penyatuan Kalender Islam Global

Rukyat Legault, Ijtimak Sebelum Gurub, dan Penyatuan Kalender Islam

Jurnal TARJIH. Ketua Penyunting Syamsul Anwar. Penyunting Pelaksana Moh. Soehadha, Saptoni

BAB I PENDAHULUAN. Setiap tahun sering kali ditemukan perbedaan dalam penentuan awal

IMKAN RUKYAT: PARAMETER PENAMPAKAN SABIT HILAL DAN RAGAM KRITERIANYA (MENUJU PENYATUAN KALENDER ISLAM DI INDONESIA)

BAB I PENDAHULUAN. dengan kelangsungan kegiatan peribadatan umat islam. Ketepatan dan

BAB III RESPONS ULAMA NU DAN MUHAMMADIYAH KUDUS TERHADAP UPAYA UNIFIKASI KALENDER HIJRIAH DI INDONESIA PERSPEKTIF ASTRONOMI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Tradisi dalam menentukan awal bulan Kamariah khususnya Ramadan,

BAB I PENDAHULUAN. Selama ini umat Islam di dunia sering mengalami perbedaan dalam

HISAB PENENTUAN AWAL BULAN KAMARIAH MENURUT MUHAMMADIYAH (STUDI PENETAPAN HUKUMNYA) SKRIPSI

Unifikasi Kalender Islam di Indonesia Susiknan Azhari

BAB IV ANALISIS KONSEP MUH. MA RUFIN SUDIBYO TENTANG KRITERIA VISIBILITAS HILAL RHI. A. Kriteria Visibilitas Hilal RHI Perspetif Astronomi

PREDIKSI KEMUNGKINAN TERJADI PERBEDAAN PENETAPAN AWAL RAMADHAN 1433 H DI INDONESIA. Oleh : Drs. H. Muhammad, MH. (Ketua PA Klungkung)

BAB I PENDAHULUAN. sebuh aktivitas yang penting dalam setiap penentuan awal bulan kamariah.

Buku ini diawali dengan puisi "Bulan, Apa Betul itu, Kau Sulit Dilihat" katya Tauflq Ismail, yang dapat menambah semangat dalam membaca buku ini.

IMPLEMENTASI MATLAK WILAYATUL ḤUKMI

BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB AWAL WAKTU SALAT PROGRAM MAWAAQIT VERSI A. Analisis Sistem Hisab Awal Waktu Salat Program Mawaaqit Versi 2001

BAB II TEORI-TEORI TENTANG KELAYAKAN TEMPAT RUKYAT AL-HILAL. Secara etimologis kata Rukyat berasal dari Bahasa Arab yaitu

Kelemahan Rukyat Menurut Muhammadiyah PERMASALAHAN RUKYAT

BAB I PENDAHULUAN. keislaman yang terlupakan, padahal ilmu ini telah dikembangkan oleh

Penentuan Awal Bulan Qamariyah & Prediksi Hisab Ramadhan - Syawal 1431 H

BAB I PENDAHULUAN. segenap kaum muslimin, sebab banyak ibadah dalam Islam yang. sebagainya. Demikian pula hari-hari besar dalam Islam, semuanya

BAB I PENDAHULUAN. hal yang penting dalam ketepatan penentuannya. Hal ini dikarenakan pada

BAB I PENDAHULUAN. Perbedaan pendapat mengenai penetapan awal bulan Qamariyah kerap

Perbedaan Penentuan Awal Bulan Puasa dan Idul Fitri diantara Organisasi Islam di Indonesia: NU dan Muhammadiyah

BAB I PENDAHULUAN. kasus perbedaan tersebut tidak juga dapat teratasi. 2 Masing-masing ormas

BAB I PENDAHULUAN. (hisab) maupun pengamatan hilal (rukyat). Sehingga tidak jarang. perdebatan umat dibanding persoalan penentuan waktu salat dan arah

DAFTAR PUSTAKA. Abd al-mu thi, Fathi Fawzi Misteri Ka bah (Kisah Nyata Kiblat Dunia Sejak Nabi Ibrahim hingga Sekarang), Jakarta: Zaman, 2010.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB VI PENUTUP. Berdasarkan analisis dalam pembahasan disertasi ini, peneliti. 1. Matlak menurut fikih adalah batas daerah berdasarkan jangkauan

BAB I PENDAHULUAN. Semua umat manusia yang hidup di muka Bumi ini tak akan lepas dari

Kaedah imaging untuk cerapan Hilal berasaskan Charge Couple Device (CCD) Hj Julaihi Hj Lamat,

BAB I PENDAHULUAN. ajaran yang sangat sempurna dan memuat berbagai aspek-aspek kehidupan

PENGERTIAN DAN PERBANDINGAN MADZHAB TENTANG HISAB RUKYAT DAN MATHLA'

BAB I PENDAHULUAN. Penduduk Dunia" PBB, ada sekitar 7,2 miliar manusia di bumi 1 dan 1,6

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan masalah karena Rasulullah saw. ada bersama-sama sahabat dan

BAB I PENDAHULUAN. Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan

BAB I PENDAHULUAN. Matahari dan Bulan maupun kondisi cuaca yang terjadi ketika rukyat.

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia, masalah penentuan awal bulam kamariah terkadang menjadi

BAB II TEORI VISIBILITAS HILAL

BAB I PENDAHULUAN. Perbedaan penentuan hari-hari besar Islam, khususnya Ramadhan, Idul

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

ASTROFOTOGRAFI SEBAGAI TEKNIK RU'YAT MENURUT FIQH ASTRONOMI

BAB I PENDAHULUAN. Ar-Ruzz Media, 2009), hlm Abdul Halim Fathani, Hakikat Matematika dan Logika, (Jogjakarta:

Imkan Rukyat: Parameter Penampakan Sabit Hilal dan Ragam Kriterianya (MENUJU PENYATUAN KALENDER ISLAM DI INDONESIA)

BAB IV ANALISIS HEDGING TERHADAP KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK-BBM DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

KONSEP DAN KRITERIA HISAB AWAL BULAN KAMARIAH MUHAMMADIYAH

Abdul Rachman dan Thomas Djamaluddin Peneliti Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Penanggalan Islam atau yang lebih dikenal bulan qamariyah merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Kalender Islam ditentukan berdasarkan penampakan hilal 1. pertama) sesaat sesudah matahari terbenam 2. Kalender Islam inilah yang

MENYATUKAN SISTEM PENANGGALAN ISLAM. Syamsul Anwar

BAB I PENDAHULUAN. Berbicara tentang warisan menyalurkan pikiran dan perhatian orang ke arah suatu

BAB I PENDAHULUAN. Berbicara mengenai penentuan arah kiblat, khususnya di Indonesia sudah

BAB IV ANALISIS TERHADAP PENENTUAN AWAL BULAN QAMARIYAH DALAM KONSEP MATLA FI WILAYATIL HUKMI

BAB I PENDAHULUAN. banyak manfaatnya dalam kehidupan praktis. Berbagai aspek kehidupan dan

BAB I PENDAHULUAN. Modern, (Surabaya, 2003), hlm Ibid, hlm. 20.

BAB II RUKYAT AL HILAL DALAM MENENTUKAN AWAL BULAN QAMARIYAH. Masalah penentuan awal bulan Qamariyah adalah hal yang sangat penting

DAFTAR PUSTAKA. Ahmad SS, Noor, Risalah Falakiyah Nurul Anwar, Kudus: TBS, t.t.

DAFTAR PUSTAKA. Azhari, Susiknan, Ensiklopedi Hisab Rukyah, Yogyakarta : Pustaka pelajar, 2005.

BAB IV RESPONS ULAMA NU DAN MUHAMMADIYAH KUDUS TERHADAP UPAYA UNIFIKASI KALENDER HIJRIAH DI INDONESIA PERSPEKTIF FIKIH

BAB I PENDAHULUAN. Dalam penetapan awal bulan kamariah, terdapat beberapa metode yang


Kilas Balik Penetapan Awal Puasa Dan Hari Raya Di Indonesia. Moh Iqbal Tawakal

BAB I PENDAHULUAN. Dalam diskursus mengenai kalender hijriah khususnya awal Ramadan,

BAB I PENDAHULUAN. primer lainnya adalah perlunya penanggalan atau yang biasa disebut dengan

PERBEDAAN IDUL FITRI: HISAB, RU YAH LOKAL, DAN RU YAH GLOBAL

BAB IV ANALISIS PEDOMAN WAKTU SHALAT SEPANJANG MASA KARYA SAĀDOE DDIN DJAMBEK. A. Analisis Metode Hisab Awal Waktu Salat Saādoe ddin Djambek dalam

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu falak merupakan ilmu yang sangat penting dalam kehidupan kita.

B A B I P E N D A H U L U A N. Puasa di dalam Islam disebut Al-Shiam, kata ini berasal dari bahasa Arab

BAB IV ANALISIS METODE HISAB AWAL WAKTU SALAT AHMAD GHOZALI DALAM KITAB ṠAMARĀT AL-FIKAR

Kapan Idul Adha 1436 H?

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum penetapan bulan kamariah ini telah dibahas oleh nash-nash

FATWA TARJIH MUHAMMADIYAH PILIHAN DOA IFTITAH MENURUT PUTUSAN TARJIH MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah Sebagai. Gerakan Tajdid

BAB I PENDAHULUAN. terhadap suatu persoalan berada pada tangan beliau. 2. Rasulullah, penggunaan ijtihad menjadi solusi dalam rangka mencari

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memahami dinamika ilmu falak tidak terbatas pada kajian teoritis arah kiblat, waktu salat, gerhana Bulan maupun gerhana Matahari akan tetapi terkait dengan penetapan awal bulan dalam kalender hijriah. Penyikapan secara berbeda tentang penentuan awal bulan kamariah oleh setiap organisasi merupakan perbedaan pemahaman 1 ḥadīṡ rukyah 2 dan 1 Susiknan Azhari, Hisab & Rukyat (Wacana untuk Membangun Kebersamaan di Tengah Perbedaan), Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007, Cet. Pertama, hlm. 69. 2 Mengenai ḥadīṡ yang dimaksud adalah sebagai berikut : ا أن رل الله الله و ذ ر ن ل ا *( وا ا!.-ل و,+وا *( وه 'ن & % $#"روا!. Dari Ibn Umar bahwasanya Rasulullah Ṣallallāhu Alaihi wa Sallam membahas mengenai Ramadan, Beliau bersabda : janganlah engkau sekalian berpuasa sampai engkau melihat hilāl, dan janganlah engkau sekalian berbuka sampai melihat hilāl, apabila terjadi mendung atas penglihatan kalian makan genapkkanlah bilangan bulan. lihat Abdullāh ibn Abdur Raḥman ibn al-fadl ibn Bahrām ibn Abduṣ Ṣamad at-tamīmī as-samarqandi ad-darāmī, Sunan ad-dārimī, Dārul Iḥya as-sunnah an-nabawiyyah, Juz Kedua, hlm. 3. selain itu dengan Redaksi berbeda Imam Bukhori meriwayatkan : إذا رأ 5 (ه ا وإذا رأ 5 (ه +وا ن & % #"روا!, 2345 ھ-ل ر ن(رواه ا!;: ري) Bila kamu sekalian melihat hilāl, maka berpuasalah. Dan bila kamu sekalian melihat hilāl, maka berbukalah. Apabila tertutup awan, maka genapkan lah, yaitu bulan baru pada Ramadan (HR. Bukhori). Lihat al-imam Zainuddīn Aḥmad Ibn Abdul Laṭif az-zubaidy, Mukhtaṣar Ṣaḥiḥul Bukhori, Libanon : Dār al-kutub al-ilmiyyah, 1994, Juz Pertama, Cet. Pertama, hlm. 204. Interpretasi Muhammadiyah terhadap ḥadīṡ rukyah telah berkembang menjadi penggunaan metode ḥisāb wujūd al-hilāl. Ḥadīṡ rukyah Rasulullah memberikan contoh praktik observasi Bulan atau rukyah, Muhammadiyah menyimpulkan rukyah sebagai salah satu cara untuk mengetahui awal bulan, apabila metode tersebut tidak berfungsi secara maksimal masih memiliki pilihan metode lain yang mungkin belum pernah disebutkan dalam praktik Rasulullah pada masa itu. Illat (sebagai salah satu alasan mengapa Muhammadiyah memilih ḥisāb) berkembang dengan ilmu 1

2 ayat alquran, 3 serta wujud kehati-hatian 4 dalam menetapkan waktu ibadah. Penentuan awal bulan hijriah sebenarnya bersumber dari peristiwa hijrah Nabi (permulaan penanggalan hijriah) dan penampakan hilāl (penanda dimulai bulan baru dalam kalender hijriah), 5 perbedaan lalu berkembang oleh pengaruh alam yang terjadi antara Bumi, Matahari dan Bulan maupun kondisi cuaca yang terjadi ketika rukyah. Pemahaman mengenai tinggi hilāl 6 di Indonesia memiliki beberapa macam perbedaan, yaitu tinggi hilāl dihitung dari ufuk ke pusat piringan Bulan, diukur dari ufuk ke piringan bawah Bulan, tinggi dari ufuk ke piringan atas Bulan dan tinggi yang diukur dari ufuk ke piringan antara titik tengah Bulan dengan piringan terbawah Bulan. 7 Metode yang berbeda dalam penentuan awal bulan hijriah merupakan hasil pemikiran dari berbagai pemahaman terhadap teks pengetahuan dan teknologi serta kondisi medan observasi yang tidak mendukung dari kondisi ufuk maupun cuaca, maka ḥisāb merupakan alternatif pengganti metode rukyah. Lihat. Syamsul Anwar, Hari Raya & Problematika Hisab-Rukyat, Yogyakarta : Suara Muhammadiyah, 2012, Cet. Ketiga, hlm. 5-6. Bandingkan dengan Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah, Pedoman Hisab Muhammadiyah, Yogyakarta : Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2009, Cet. Kedua, hlm. 16. Sedangkan untuk NU tetap memakai rukyah baik dibantu dengan alat optik maupun dengan mata telanjang, lihat Lajnah Falakiyah PBNU, Pedoman Rukyat dan Hisab Nahdlatul Ulama, Jakarta : Lajnah Falakiyah PBNU, 2006, hlm. 2. 3 Ayat yang dimaksudkan adalah surat al-baqarah ayat 185. 4 Tono Saksono, Mengkompromikan Rukyat & Hisab, Jakarta : Amythas Publicita, 2007, Cet. Pertama, hlm. 15. 5 Susiknan Azhari, Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern, Yogyakarta : Suara Muhammadiyah, 2007, Cet. Kedua, hlm. 84. 6 Thomas Djamaluddin, Menggagas Fiqh Astronomi, Bandung : Kaki Langit, 2005, Cet. Pertama, hlm. 108. 7 Pemahaman tentang ketinggian hilāl di Indonesia secara umum terbagi menjadi 4 macam, pemahaman pertama tinggi hilāl adalah kriteria astronomi terlepas dari masalah fase Bulan yang terjadi, kriteria tinggi kedua adalah kriteria yang dipergunakan oleh ormas dan Pemerintah, tinggi hilāl yang diukur dari ufuk sampai dengan piringan atas adalah pemahaman hilāl yang digunakan oleh Muhammadiyah dan untuk yang terakhir merupakan acuan tinggi hilāl observer hilāl dan M. S. Odeh dalam aplikasi Accurate Times. Lihat diakses dari situs http://langitselatan.com/2013/07/07/prediksi-awal-ramadan-1434 -h-dan-kemungkinan-teramatihilal-8-juli-2013/ pada Pukul 07.15 Wib, tanggal 04 Oktober 2013,.

3 hukum yang berbeda. Ahmad Izzuddin mengungkapkan : masingmasing organisasi (khususnya Muhammadiyah dan NU) telah mengelompokkan diri terhadap metode dalam menentukan awal bulan kamariah 8. Proses membedakan metode mempengaruhi kapan memulai dan mengakhiri bulan dalam kalender hijriah khususnya bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah. Pemerintah berupaya mengakomodir perbedaan dari tiga bulan (Ramadan, Syawal dan Zulhijah) yang terjadi di Indonesia. 9 Penyatuan sistem dan kriteria kalender yang diterapkan pada penentuan awal bulan kamariah tertuang pada otoritas politik dan otoritas ilmiah. 10 Upaya penyatuan antara metode ḥisāb dengan rukyah diarahkan menuju kriteria visibilitas hilāl atau imkān ar-rukyah sebagai pedoman dalam kalender yang terunifikasi. 11 Penyatuan kalender diupayakan untuk menyelaraskan waktu ibadah di Indonesia dengan mengakomodir perbedaan penganut metode ḥisāb dan rukyah, 12 Thomas Djamaluddin beranggapan : menyeragamkan sistem kalender diperlukan keterbukaan dari masing-masing Ormas 8 Ahmad Izzuddin, Fiqih Hisab Rukyat menyatukan NU & Muhammadiyah dalam Penentuan Awal Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha, Jakarta : Penerbit Erlangga, 2007, Cet. Pertama, hlm. 139. 9 Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Direktorat Pembinaan Peradilan Agama RI, Selayang Pandang Hisab Rukyat, Jakarta : Direktorat Pembinaan Peradilan Agama RI, 2004, hlm.67-72. 10 Muh. Nashirudin, Kalender Hijriah Universal (Kajian atas Sistem dan Prospeknya di Indonesia), Semarang : ELWAFA, 2013, Cet. Pertama, hlm. 202. 11 Rupi i, Upaya Penyatuan Kalender Islam di Indonesia (Studi atas Pemikiran Thomas Djamaluddin), (Penelitian Individual), Semarang : DIPA Fakultas Syari ah IAIN Walisongo Semarang, 2012, hlm. 81. 12 Ahmad Izzuddin, Ilmu Falak Praktis(Metode Hisab-Rukyat Praktis dan Solusi Permasalahannya), Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2012, Cet. Pertama, hlm.144.

4 khususnya Muhammadiyah dan NU dengan mempertimbangkan kembali kelemahan masing-masing metode yang dimiliki. 13 Muhammadiyah tetap menggunakan kriteria wujūd al-hilāl dalam perhitungan penanggalan hijriah 14 sebagaimana disebutkan dalam pedoman ḥisāb Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah. 15 Muhammadiyah berupaya mengembangkan cara berpikir dengan menempatkan metode ḥisāb sejajar dengan metode rukyah yang sering dipergunakan dalam penentuan awal bulan dalam kalender hijriah. 16 Syamsul Anwar menyatakan rukyah di Indonesia sangat rawan disebabkan pada medan tidak kondusif dan prinsip metode rukyah alhilāl yang tidak merata dari tempat observasi. 17 Hipotesa yang dimunculkan pada awal penelitian ini terhadap sikap Muhammadiyah 18 adalah perwujudan untuk mencari alternatif di tengah praktek rukyah yang rawan 19 sehingga dapat mengefisiensi tenaga dan waktu sebagai upaya dalam penetapan kalender hijriah yang mapan. 13 Rupi i, Upaya, op. cit., hlm. 69. 14 Muhammadiyah secara historis tidak menggunakan satu model ḥisāb, pada awalnya ḥisāb ḥakīkī dengan kriteria imkān ar-rukyah digunakan, Ḥisāb ḥakīkī dengan kriteria ijtimā qabla algurūb (1937) dan pada akhirnya wujūd al-hilāl dipergunakan semenjak tahun 1938. Lihat Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008, Cet. Kedua, hlm. 152-153. Lihat juga Thomas Djamaluddin, Menggagas, op. cit., hlm. 66 15 Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pedoman, op. cit., hlm. 15. 16 Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tuntunan Ramadlan, Yogyakarta : Suara Muhammadiyah, 2012, Cet. Keempat, hlm. 20. 17 Syamsul Anwar, Hari..., op. cit., hlm. 61. 18 sebagaimana yang telah disebutkan walaupun Muhammadiyah mengakui upaya unifikasi akan tetapi organisasi ini belum mengikuti hasil keputusan pemerintah lewat forum iṡbāt, lihat Ahmad Izzuddin, Ilmu, op. cit., hlm. 152. 19 Rukyah yang rawan merupakan hasil indikasi dari terjadinya kesalahan hasil rukyah dari para observer sehingga meninggalkan rasa keraguan, walalupun didukung dengan teknologi akan tetapi pada dasarnya secara prinsip masih saja terjadi penyimpangan persaksian. Lihat Susiknan Azhari, Hisab, op. cit., hlm. 153.

5 Susiknan menyebutkan dari Muhammadiyah maupun NU menanggapi pembentukan mażhab pemerintah mendapatkan dukungan dan sikap tidak setuju. Kalangan yang setuju 20 terhadap ide tersebut menghendaki tercipta kesatuan waktu dalam beribadah. Sedangkan kubu yang tidak sepaham dengan pendapat pertama 21 mengatakan formulasi kesatuan kalender hijriah di bawah akomodasi Negara tidak diperlukan karena perbedaan yang saat ini terjadi merupakan akulturasi dan kekayaan khazanah di Indonesia. 22 Sejalan dengan perbedaan pada, konsep penyeragaman yang diupayakan oleh Pemerintah tidak sepenuhnya diterima mengingat masih ada kelemahan pada metode rukyah maupun kriteria imkān ar-rukyah sebagai kriteria kalender hijriah. 23 Inisiasi Muhammadiyah yang tetap menggunakan wujūd al-hilāl merupakan wujud ijtihād batas minimum pada mendefinisikan hilāl sebagai upaya menggali maksud dari teks ḥadīṡ. 24 Ḥisāb yang terlahir dari pengamatan terhadap posisi Matahari 20 Tokoh falak yang pro terhadap pandangan kesatuan sistem kalender di bawah bingkai negara adalah : H.M. Amin Summa, Fathurrahman Djamil, Nasrun Haroen, Kamal Muchtar, Hajrianto Y. Thohari, Hamim Ilyas, Abd. Salam Nawaawi, Muhyiddin, Slamet Hambali, Sirril Wafa, Ahmad Izzuddin, Ahmad Zahro, Noor Ahmad SS dan Ahmad Zuhdi Muhdlor. Lihat Susiknan Azhari, Kalender Islam ke Arah Integrasi Muhammadiyah NU, Yogyakarta : Museum Astronomi Islam, 2012, Cet. Pertama, hlm. 190. 21 Kelompok kedua yang tidak sependapat yaitu : Mu amal Hamidy, Abdur Rachim, A.F. Wibisono, Abdul Mu thi, Irfan Zidny, Ghozaly Masruri dan Sholeh Hayat. ibid., hlm. 196. 22 Ibid. 23 Syamsul Anwar, Interkoneksi Studi Hadis dan Astronomi, Yogyakarta : Suara Muhammadiyah, 2011, Cet. Pertama, hlm. 195. 24 Syamsul Anwar, et. al., Hisab Bulan Kamariah Tinjauan Syar I tentang Penetapan Awal Ramadlan, Syawwal dan Dzulhijjah, Yogyakarta : Suara Muhammadiyah, 2012, Cet. Ketiga, hlm. 29.

6 dan Bulan dari Bumi merupakan pelengkap yang harus diiringkan dan disejajarkan dengan metode rukyah. 25 Akar permasalahan dalam penentuan awal bulan kalender hijriah dianggap bersumber pada perbedaan dari Muhammadiyah terhadap kriteria imkān ar-rukyah. Muhammadiyah tetap diberikan toleransi untuk mengkaji hasil kebijakan terkait penggunaan kriteria serta mempertimbangkan solusi yang bisa dimunculkan dengan pemahaman persatuan. 26 Optimisme kalender hijriah yang bersatu mengisyaratkan dapat dicapai ketika ada interaksi linear antara Muhammadiyah dengan NU. Tercapai unifikasi yang kondusif dapat dilihat dari tercipta integritas antara ḥisāb dan rukyah secara akademik-ilmiah. 27 Upaya penyeragaman tidak terbatas pada sekat organisasi, akan tetapi juga mengenai harapan terciptanya ibadah terpadu dalam satu momentum. 28 Demi kelancaran upaya menyatukan kalender hijriah maka dalam penelitian ini diharapkan dapat mengkoordinir setiap alasan dari sikap Muhammadiyah menanggapi unifikasi sistem penanggalan Islam. Titik fokus pada akhir penelitian untuk mengungkap pola pikir Muhammadiyah yang diwakili oleh pimpinan pusat Majelis Tarjih dan Tajdid dengan pertimbangan imkān ar-rukyah sebagai bangun keilmuan (human construction) 29 yang mempersatukan, untuk mencapai unifikasi 25 Ibid.., hlm. 42. 26 Susiknan Azhari, Hisab, op. cit., hlm. 98. 27 Susiknan Azhari, Kalender, op. cit., hlm. 190. 28 Susiknan Azhari, Hisab, op. cit., hlm. 148. 29 Ibid., hlm. 164.

7 kalender di Indonesia memerlukan penerimaan konsep dan kompromi kriteria sehingga upaya penyeragaman dapat diusung kembali. B. Rumusan Masalah Berdasarkan dari latar belakang, mengenai perumusan masalah yang akan dikaji adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah analisis sikap PP. Muhammadiyah terhadap penyatuan sistem kalender hijriah di Indonesia? 2. Apakah evaluasi dari PP. Muhammadiyah yang perlu dipertimbangkan dalam membangun kalender hijriah yang bersatu? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini memiliki tujuan yang diharapkan dapat diambil dari hasil akhir, diantaranya adalah sebagai berikut : a) Menganalisa sikap PP. Muhammadiyah menanggapi upaya penyatuan kalender hijriah di Indonesia sebagai patokan utama menuju integrasi umat. b) Menghimpun koreksi yang dibutuhkan dalam penyatuan penanggalan Islam di Indonesia terlebih dari Muhammadiyah sebagai pihak yang belum setuju terhadap kriteria unifikatif. D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah menjadi sarana informasi pada penyatuan kalender hijriah di Indonesia. Hasil dari penelitian diupayakan menjadi bahan pertimbangan terhadap keperluan pengetahuan dan pola pikir sikap Muhammadiyah yang dianggap sering

8 berseberangan dengan tujuan unifikasi kalender. Alasan tersebut dibutuhkan untuk membangun kompromi. Tujuan lain menjadikan hasil penelitian sebagai acuan penelitian selanjutnya terkait dinamika ḥisāb rukyah Muhammadiyah serta unifikasi kalender hijriah. IAIN Walisongo pada akhirnya diharapkan menjadi parameter keilmuan falak baik dari segi teoritik dan dinamika di Indonesia. E. Tinjauan Pustaka Identifikasi beberapa tinjauan pustaka yang relevan terhadap penelitian terkait dengan Muhammadiyah dan upaya penyatuan kalender hijriah dapat penulis sajikan berasal dari Disertasi, Skripsi maupun Paper dari pegiat falak maupun akademisi. Disertasi Susiknan Azhari dalam buku Kalender Islam ke Arah Integrasi Muhammadiyah-NU. 30 Urgensi ringkas dipaparkan bahwa membangun kesatuan dalam pemakaian sistem kalender dan waktu ibadah (khususnya puasa Ramadan dan 1 Syawal) dari kalangan Nahḍatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dapat terbentuk dari integrasi kalangan yang setuju maupun pihak yang tidak setuju (antara kedua organisasi ini memiliki tokoh yang pro maupun kontra). 31 Pro dan Kontra antara Muhammadiyah dan NU disebabkan setidaknya karena 30 Penelitian berjudul Penggunaan Hisab dan Rukyat di Indonesia (Studi tentang Interaksi NU dan Muhammadiyah), (Disertasi), Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, 2006. 31 Susiknan Azhari, Kalender, op. cit., hlm. 110.

9 faktor sosial politik, doktrin keagamaan, sikap terhadap ilmu pengetahuan dan interpretasi berbeda terhadap ḥisāb dan rukyah. 32 Paper berjudul Penyatuan Kalender Islam (Satukan Semangat Membangun Kebersamaan Umat) oleh Susiknan Azhari menyebutkan penerimaan organisasi Islam akan mempermudah tercipta kalender berbasis ilmu pengetahuan. Penyikapan setiap pihak pada hakikatnya merupakan tindakan persuasif mencari solusi pada masalah awal bulan yang selalu berbeda. Optimisme dan keraguan yang timbul tidak akan menghambat keniscayaan kalender hijriah untuk diupayakan bersatu. 33 Disertasi Rupi i mengenai Dinamika pemikiran Muhammadiyah terhadap penetuan awal bulan kamariah. Analisa terkait kriteria wujῡd al-hilāl dan konsep maṭla yang dipahami oleh Muhammadiyah merupakan konsep yang terus berkembang dari keputusan Tarjih di Medan tahun 1939 sampai dengan Munas di Padang tahun 2003. Pemikiran dan metodologi penetapan awal bulan dipengaruhi faktor ketokohan dari Muhammad Wardan dan Sa adoeddin Djambek, faktor sosial astronomis serta faktor pemahaman penafsiran dari ayat alquran serta ḥadīṡ nabi. 34 Kecendrungan untuk melakukan re-orientasi pemikiran ḥisāb membuka peluang Muhammadiyah untuk berafiliasi 32 Ibid., hlm. 215-254. 33 Susiknan Azhari, Penyatuan Kalender Islam (Satukan Semangat Menyatukan Kebersamaan Umat), (Paper Loka Karya Internasional Fakultas Syari ah IAIN Walisongo), Semarang: elsa, 2012, hlm. 86-87. 34 Rupi i, Dinamika Penentuan Awal Bulan Kamariah Menurut Muhammadiyah (Studi atas Kriteria Wujūd al-hilāl dan Konsep Maṭla ), (Disertasi), Semarang : Program Doktor IAIN Walisongo, 2012.

10 pada upaya unifikasi kalender hijriah walaupun optimisme masih berada pada asumsi perseorangan. Izzuddin dalam Paper Loka Karya Internasional menyebutkan ada beberapa catatan yang perlu dikembangkan dalam gagasan menghadapi persoalan ḥisāb rukyah, perlu dihadirkan pertimbangan kemaslahatan dalam satu cakupan wilāyat al-ḥukmi. 35 Penelitian dari Muhammad Hadi Bashori menyebutkan bahwa penentuan awal bulan kamariah yang menimbulkan problema pada aspek ḥisāb rukyah karena wilayah kepercayaan sering diintervensi oleh Pemerintah pada upaya kompromi penyatuan kalender hijriah. 36 Wilayah kepercayaan tidak dapat diusik oleh pemerintah dengan berlandas pada prinsip Negara Indonesia yang berasaskan Pancasila dan memiliki UUD 1945 pada penjaminan kebebasan beragama bagi warga negara. 37 Skripsi dari Ali Romadhoni memaparkan konsep yang dimiliki NU beserta Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan kamariah. NU telah memanfaatkan metode rukyah al-hilāl sebagai pedoman penentuan awal bulan dengan ḥisāb sebagai cara mendapatkan data, sehingga rukyah bersifat primer dan ḥisāb bersifat pelengkap. 38 Muhammadiyah 35 Ahmad Izzuddin, Kesepakatan untuk Kebersamaan (Sebuah Syarat Mutlak Menuju Unifikasi Kalender Hijriah), (Paper Loka Karya Internasional Fakultas Syari ah IAIN Walisongo), Semarang : elsa, 2012, hlm. 174. 36 Muhammad Hadi Bashori, Pergulatan Hisab Rukyat di Indonesia (Analisis Posisi Keyakinan Keagamaan dalam Penentuan Awal Bulan Kamariah di Indonesia), (Skripsi), Semarang : Fakultas Syari ah IAIN Walisongo, 2012, hlm. 175. 37 Ibid., hlm. 176. 38 Ali Romadhoni, Konsep tentang Pemaduan Hisab dan Rukyat dalam menentukan Awal Bulan Kamariah (Studi atas Pandangan Muhammadiyah dan NU), (Skripsi), Yogyakarta : Fakultas Syari ah UIN Sunan Kalijaga, 2009, hlm. 105.

11 menjadikan posisi rukyah sebagai langkah verifikasi data hitungan walaupun tidak konsisten metode ini berperan dalam perkembangan ilmu falak di organisasi. Epistimologi kedua metode tersebut merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan sehingga dalam penggunaannya harus dipadukan. 39 Penelitian tentang Pemahaman Hadis-hadis Rukyat menurut Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) oleh Eka yuhendri, UIN Sunan Kalijaga. Bahwasanya dalam memaknai ḥadīṡ rukyah berbeda dengan NU, Muhammadiyah telah mengembangkan konsep berpikir yang tidak hanya mengacu pada rukyah secara perbuatan dan indra, akan tetapi telah mengartikan sesuai dengan perkembangan sains dan ilmu perhitungan. 40 Analisis tersebut akan terus berkembang sebanding dengan perbedaan persepsi dalam upaya penyatuan kalender hijriah. Penelitian Muhammad Taufiq mengenai kajian deskriptif mengenai metode ḥisāb kriteria wujῡd al-hilāl yang dianut oleh Muhammadiyah. Model ḥisāb Muhammadiyah telah menggunakan metode kortemporer dengan kriteria wujῡd al-hilāl. Fokus penafsiran kata rukyah pada ḥadīṡ yang dipahami merupakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kerumitan kondisi alam secara geografis dan meteorologis 39 Ibid., hlm. 106. 40 Eka Yuhendri, Pemahaman Hadis-hadis Rukyat menurut Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), (Skripsi), Yogyakarta : Fakultas Syari ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, 2013, hlm. 90.

12 menginisiasi Muhammadiyah beralih kepada metode ḥisāb sebagai alternatif penafsiran mengenai rukyah dengan ilmu pengetahuan. 41 Penelitian ini difokuskan pada pandangan dan sikap Muhammadiyah dari keputusan Majelis Tarjih terhadap unifikasi kalender. Penelitian ini akan memunculkan alasan yang mendasari sikap Muhammadiyah dan mengakomodir interpretasi sikap yang selama ini dianggap tidak sejalan berdasarkan penelusuran data dari kebijakan, keputusan maupun tulisan serta hasil wawancara dengan tokoh Muhammadiyah di bidang ilmu falak. Tujuan akhir dapat mengantarkan penelitian ini memberikan titik terang pada polemik berbedanya hari raya di tengah masyarakat dan mendapatkan masukan yang diperlukan pada upaya unifikasi kalender hijriah di Indonesia. F. Metodologi Penelitian Penulisan penelitian ini menggunakan beberapa ketentuan dalam metodelogi penelitian, sebagai pengarah menuju sasaran akhir dari kajian tema, yaitu sebagai berikut : 1. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif 42 terkait perkembangan sikap ḥisāb rukyah Muhammadiyah dan kebijakan terhadap unifikasi pada sisi studi sikap PP. 41 Muhammad Taufiq, Studi Analisis tentang Hisab Rukyah Muhammadiyah dalam Penetapan Awal Bulan Qamariyah (Skripsi), Semarang : Fakultas Syari ah IAIN Walisongo, 2006, hlm. 71-74. 42 Penelitian kualitatif mendasarkan pada analisa penggunaan pemikiran logis, analisis dengan logika, induksi, analogi, komparasi. Lihat dalam Tatang Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Jakarta : Raja Grafindo persada, 1995, hal 95.

13 Muhammadiyah. Studi kepustakaan dibangun sebagai kajian hasil kebijakan dan penyikapan yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah. Kajian penelitian masuk ke areal kompromi atas keputusan petinggi Muhammadiyah yang diintisarikan dari berbagai sikap dan pemikiran mengenai dinamika ḥisāb rukyah menanggapi penyatuan kalender hijriah. 2. Sumber Data Sumber primer dalam penelitian ini adalah hasil keputusan dari beberapa Munas maupun pertemuan Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah. Tulisan, artikel, buku maupun karya tulis dari pihak internal Muhammadiyah terkait ḥisāb rukyah serta beberapa tulisan serta kajian terhadap penyatuan kalender hijriah oleh pihak eksternal Muhammadiyah. Data sekunder berasal dari wawancara dengan pihak PP. Muhammadiyah (yaitu dari perwakilan Majelis Tarjih dari Ketua Divisi Ḥisāb dan Iptek). Sumber data ini membangun argumentasi yang dibutuhkan dalam menguatkan atas jawaban pokok masalah penelitian. 43. 3. Metode Pengumpulan Data Metode penelitian berfokus pada studi dokumentasi. Pengumpulan data ḥisāb dan rukyah Muhammadiyah maupun mengenai unifikasi kalender diharapkan dapat memperjelas pokok 43 Ibid., hlm. 90.

14 masalah dan bahasan, Terutama studi dokumentasi dapat menggali data atas pandangan dan pendapat Muhammadiyah untuk menguatkan asumsi peneliti. 44 4. Metode Analisis Data Analisa data penelitian ini menggunakan ulasan secara deskriptif 45 atas konten atau isi dari suatu pernyataan dengan harapan dapat menganalisis berbagai maksud yang berasal berbagai hasil keputusan dan tulisan dari Muhammadiyah. Analisis Induktif merupakan alur dari penelitian ini menguji hipotesis yang telah diasumsikan pada awl penelitian. G. Sistematika Penulisan Dalam Penulisan Penelitian ini secara garis besar berisi Lima Bab, diantaranya adalah sebagai berikut : BAB I : Pendahuluan bab ini memuat latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, signifikansi penelitian, tinjauan pustaka, metodelogi penelitian dan sistematika penulisan. BAB II : Seputar Penentuan Awal Bulan dalam Kalender Hijriah Meliputi gambaran umum kalender hijriah yang mencakup sejarah, dasar hukum dan metode penentuan dalam kalender hijriah. 44 Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustidakaan, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2004, Cet. Pertama, hlm. 2. 45 Tatang Amirin, Menyusun, op. cit., hlm. 90.

15 BAB III : Muhammadiyah dan Unifikasi kalender hijriah di Indonesia Sejarah Muhammadiyah, dinamika falak Muhammadiyah, dan gagasan penyatuan kalender hijriah di Indonesia. BAB IV : Konsepsi Penyatuan Kalender Hijriah terhadap Pola Sikap PP. Muhammadiyah Analisa sikap PP. Muhammadiyah terhadap upaya penyatuan kalender hijriah di Indonesia beserta telaah unifikasi kalender hijriah oleh Muhammadiyah. BAB V : Penutup Pada bab ini berisi kesimpulan, saran dan penutup.