TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

dokumen-dokumen yang mirip
Materi ke-13 9/7/2014 DASAR EKOLOGI PADA PENGELOLAAN LANSKAP DAN IMPLEMENTASINYA TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA Ruang dan Penataan Ruang

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LANSKAP. Mempunyai karakter (tropis, temperate; gurun, gunung, pantai; rural, urban; oriental, western; tradisional/etnik, modern, dll) time

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA.

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV

KONSEP PERENCANAAN LANSKAP PERMUKIMAN TRADISIONAL

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Penyelamatan Ekosistem Sumatera Dalam RTR Pulau Sumatera

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan

PENDAHULUAN Latar Belakang

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR

KRITERIA KAWASAN KONSERVASI. Fredinan Yulianda, 2010

TENTANG CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

19 Oktober Ema Umilia

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

Konservasi Lingkungan. Lely Riawati

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah 2.2 Kriteria Lanskap Sejarah

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri

- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LINGKUP DAN SKALA ARSITEKTUR LANSKAP LINGKUP KEGIATAN ARL LINGKUP KEGIATAN ARL LINGKUP KEGIATAN ARL KEGIATAN PERENCANAAN DESAIN PENGELOLAAN KONSULTASI

BUPATI GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GOWA NOMOR 09 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN CAGAR BUDAYA

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KATA PENGANTAR RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PACITAN

Konservasi Tingkat Komunitas OLEH V. B. SILAHOOY, S.SI., M.SI

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

BAB I PENDAHULUAN. pesat pada dua dekade belakangan ini. Pesatnya pembangunan di Indonesia berkaitan

WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI

BAB I PENDAHULUAN. tempat dengan tempat lainnya. Sebagian warga setempat. kesejahteraan masyarakat sekitar saja tetapi juga meningkatkan perekonomian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODOLOGI 3.1. Tempat dan Waktu Studi

Dasar Kebijakan Pelestarian Kota Pusaka 1. Tantangan Kota Pusaka 2. Dasar Kebijakan terkait (di Indonesia) 3. Konvensi Internasional

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SINGKAWANG TAHUN

TINJAUAN PUSTAKA Lanskap Budaya

PENDAHULUAN. lebih pulau dan memiliki panjang garis pantai km yang merupakan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISIS KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN YANG BERKELANJUTAN DI PULAU BUNAKEN MANADO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di

berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Sejarah

BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA

TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI

P E N J E L A S A N A T A S PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI MALUKU

Suhartini Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2015 TENTANG

Penataan Ruang Berbasis Bencana. Oleh : Harrys Pratama Teguh Minggu, 22 Agustus :48

Oleh: Ir. Agus Dermawan, M.Si. Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013).

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. dalam Siswanto (2006) mendefinisikan sumberdaya lahan (land resource) sebagai

II.TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioregion

PEMERINTAH KABUPATEN SINJAI KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI KABUPATEN SINJAI

RENCANA PENATAAN LANSKAP PEMUKIMAN TRADISIONAL

Pembangunan KSDAE di Eko-Region Papua Jakarta, 2 Desember 2015

Hutan Mangrove Segara Anakan Wisata Bahari Penyelamat Bumi

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang

BAB I PENDAHULUAN km dan ekosistem terumbu karang seluas kurang lebih km 2 (Moosa et al

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan 2014

RINGKASAN. mendukung keberadaan Taman Laut Banda dengan mempertimbangkan aspek

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BUPATI JEMBER PROVINSI JAWA TIMUR RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBER NOMOR 5 TAHUN 2016

KEANEKARAGAMAN HAYATI (BIODIVERSITY) SEBAGAI ELEMEN KUNCI EKOSISTEM KOTA HIJAU

I PENDAHULUAN. masyarakat serta desakan otonomi daerah, menjadikan tuntutan dan akses masyarakat

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. Kawasan Pelestarian Alam (KPA). KSA adalah kawasan dengan ciri khas

2017, No Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA

TINJAUAN ASPEK GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN PULAU JEMUR KABUPATEN ROKAN HILIR PROPINSI RIAU PADA WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA - MALAYSIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi salah satu daftar warisan budaya dunia (world heritage list) dibawah

2. Dinamika ekosistem kawasan terus berubah (cenderung semakin terdegradasi),

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM DAN EKOSISTEM

TENTANG CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS PERMASALAHAN DALAM PENGELOLAAN LANSKAP MUKA BUMI Materi ke-13 DASAR EKOLOGI PADA PENGELOLAAN LANSKAP DAN IMPLEMENTASINYA Setelah mengikuti kuliah ini Mahsiswa diharapkan dapat memahami dan mampu menjelaskan: Ekologi sebagai dasar ilmu pada pengelolaan lanskap berkelanjutan Skala pada obyek pengelolaan lanskap Kegiatan dan tindakan yang terkait dengan pengelolaan lanskap Courtesy of van Noordwijk (HS Arifin, LEE, 2011) Ekologi Lanskap PROSES KESEIMBANGAN EKOLOGI Natural ecosystem Basic ecological balancing process HUBUNGAN MANUSIA & ALAM Struktur Fungsi Sumberdaya Proses Alami Polusi Dinamika/ Perubahan B U D A Y A Empat Konsep Dasar pada Ekologi Lanskap yang dijadikan Pertimbangan utama dalam Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan (Arifin & Nakagoshi, LEE, 2011) Courtesy slide from Ong Bong Lai Polusi Teknologi Sumberdaya MANUSIA ALAM Lingkungan Terbangun Tumbuhan/Satwa Liar Lanskap Perkotaan Ruang Terbuka Hijau Alami Sumber: Arifin & Nakagoshi, Urban Biodiversity, 2010 1

SKALA PENGELOLAAN LANSKAP Skala MIKRO: obyek lanskap/taman pada skala tapak taman rumah/perkantoran/hotel, vest pocket parks, community parks, city parks, dll. Skala MESO: obyek lanskap pada skala kawasan lanskap permukiman (settlements lengkap dengan beragam infrastrukturnya), lanskap perdesaan, lanskap perkotaan, dll. Skala MAKRO: obyek lanskap pada skala wilayah yang memiliki interaksi yang kompleks mempengaruhi satu sama lainnya bioregional, daerah aliran sungai (hulu-tengah-hilir), dll. Produknya: RTRK RTRW - RTRN PENYEBAB KERUSAKAN & KEHILANGAN 3 FAKTOR PENYEBAB UTAMA : Faktor alam (hujan, panas, gempa bumi, badai, ditumbuhi tanaman) Faktor manusia (vandalism) yang kurang memahami & perduli akan nilai dari keberadaan benda atau kawasan bernilai sosial Faktor kelembagaan yang kurang mendukung pelestarian kawasan/situs budaya & sejarah (salah/tidak tepat penggunaan, perubahan tata ruang kota, pembangunan sarana transportasi yang kurang memperhatikan keberadaan dan nilai kawasan sejarah, perluasan kota dll). KEKAYAAN TAMAN & LANSKAP INDONESIA DIBENTUK OLEH: POSISI EKUATOR, IKLIM TROPIS, KEPULAUAN, FISIOGRAFIS BUDAYA BERAGAM DARATAN-PESISIR-LAUT, PRIMITIF- TRADISIONAL-MODERN KEKAYAAN & KEBANGGAAN BANGSA BANYAK YANG PERLU DIKELOLA: DILINDUNGI, DIPELIHARA DAN DILESTARIKAN PENGELOLAAN LANSKAP Upaya terpadu untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan lanskap melalui kebijakan pengaturan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan manusia dan mahluk hidup lainnya. PELESTARIAN LANSKAP Upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Lanskap dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya Mengapa taman & lanskap perlu dilestarikan? Untuk mencegah berkurang dan hilangnya artifak serta peninggalan sejarah yang akan merugikan bangsa Indonesia. Untuk mencegah kehilangan pada sesuatu yang sangat tidak ternilai harganya. Kriteria Lanskap yang Dilestarikan Lanskap yang unik, langka, sejarah, irreplaceable, fragile, wild, sosial Lanskap yang memiliki nilai: pendidikan, estetika, patriotik, wisata Doc. Nurhayati HS Arifin Doc. Nurhayati HS Arifin Pelestarian lanskap perkampungan di Jepang, serta lanskap Kyoto Golden Villa (Kinkakuji) 2

Kepentingan Pelestarian Tindakan Pelestarian Kegiatan Pelestarian Taman/Lanskap Mempertahankan warisan alam/budaya/ sejarah Menjamin terwujudnya ragam dan kontras yang menarik dari suatu areal atau kawasan Kebutuhan psikis manusia Motivasi ekonomi Manifestasi dari suatu kelompok masyarakat tertentu 3 TINDAKAN TEKNIS UTAMA: Preservasi Memelihara, melindungi, menghindari dari kerusakan & punah Memperhatikan kondisi saat ini Restorasi Mengembalikan ke bentuk asli/original Konservasi Dinamis, menerima inovasi baru Tujuan: memperkuat karakter spesifik yg menjiwai lingkungan dan keselarasan lingkungan lama dan pembangunan baru sesuai dengan perkembangan dan aspirasi masyarakat. 3 TAHAPAN PROSES KEGIATAN Penilaian kondisi taman & lanskap yang mengharuskannya untuk dilindungi, dipelihara, & diinterpretasikan (UNESCO) Penentuan perlakuan pelestarian yang akan diberikan dilanjutkan dengan kegiatan perencanaan & pembuatan program Pelaksanaan kegiatan pelestarian. PERLINDUNGAN LANSKAP Upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan dengan cara Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi, Pemeliharaan, dan Pemugaran lanskap/taman Salah satu contoh lanskap Taman Nasional: dengan sistem zonasi Zona Inti (zona lindung), Rimba, Pemanfaatan dan Penyangga. Lanskap Telaga Warna di Puncak Tingkat kemiringan lereng yg curam, kerentanan tanah dll maka lanskap ini merupakan cagar biosfer PENYELAMATAN LANSKAP Upaya menghindarkan dan/atau menanggulangi lanskap/taman dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan. Salah satu contoh PENYELAMATAN bagaimana lanskap yang berpotensi terkena ganggunag abrasi curent breaker/pemecah gelombang. Rayon Beach & Coastal Landscape Thailand PENGAMANAN LANSKAP Upaya menjaga dan mencegah lanskap dari ancaman dan/atau gangguan. Pengelolaan kawasan pantai atau water-front sebagi public good dan untuk mencegah gangguan abrasi, intrusi, badai, tsunami, dll. Pengaman vegetasi dengan ketebalan horizontal yang memadai pada salah satu segmen pantai kota Singapore 3

PENGELOLAAN DAERAH DENGAN PENETAPAN SEMPADAN : Vegetasi Bangunan Jalan SEMPADAN BATASAN DAERAH Muka laut tinggi Muka laut rata-rata Muka laut rendah ZONASI LANSKAP Penentuan batas-batas keruangan (spasial) sesuai dengan kebutuhan untuk menjaga keberadaannya, misal penetuan tata-ruang t pada kawasan taman Nasional, tata-ruang wilayah (RTRK/RTRW), Teori Von Thunen dalam pembagian wilayah dari yang paling intensif sd ke ekstensif. CBD Permukiman Kawasan Industri PEMELIHARAAN LANSKAP Upaya menjaga dan merawat agar kondisi fisik lanskap/taman tetap berkelanjutan (lestari). Pemeliharaan Fisik dan Ideal (lihat kuliah ke 12) DARAT PESISIR PESISIR LAUT Von Thunen Kawasan Pertanian Kawasan Hutan Pemeliharaan fisik lanskap lapangan golf - mencapai tujuan ideal PEMUGARAN TAMAN Upaya pengembalian kondisi fisik Struktur Fisik yang rusak sesuai dengan keaslian bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknik pengerjaan untuk memperpanjang usianya. Salah datu contohnya adalah Borobudur, bangunan arsitektur dan lanskapnya telah dilakukan pemugaran besar-besaran besaran atas bantuan dana dari UNESCO sebelum ia menjadi warisan dunia (the wrold heritage) Borobdur: Penataan lanskap mengikuti struktur Candi dengan Zona Arupa Datu, Rupa Datu, Kama Datu melalui pemilihan jenis tanaman PENGEMBANGAN LANSKAP Peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi Lanskap/Taman serta pemanfaatannya melalui Penelitian, i Revitalisasi, i dan Adaptasi secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan Pelestarian. PEMANFAATAN LANSKAP Pendayagunaan Lanskap/Taman untuk kepentingan sebesar-besarnya kesejahteraan manusia dengan tetap mempertahankan kelestariannya. 4

Pemanfaatan lanskap pertanian bagi wisata agro di Daerah Pasundan 5