BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran umum objek penelitian Perusahaan manufaktur adalahperusahaan yang mengubah bahan baku menjadi produk jadi melalui proses produksi kemudian dijual kepada pelanggan.dari definisi perusahaan manufaktur tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam perusahaan manufaktur terdapat persediaan bahan baku dan persediaan barang jadi. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia(BEI)yang pertama sektor industri dasar dan kimia yang didalamnya ada subsektor semen, keramik dan porselan, logam dan sejenisnya, kimia, plastik dan kemasan, pakan ternak, kayu dan pengolahannya, pulp dan kertas. Pada sektor kedua yaitu sektor aneka industri didalamnya terdapat subsektor mesin dan alat berat, otomotif dan komponen, tekstil dan garment, alas kaki, kabel dan elektronika. Pada sektor ketiga yaitu sektor industri barang konsumsi dan subsektor makanan dan minuman, rokok, farmasi, kosmetik dan barang keperluan rumah tangga dan peralatan rumah tangga. Peningkatan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI (www.sahamok.com). Tabel 1.1Persentase Kenaikan Perusahaan Manufaktur Perusahaan Manufaktur % kenaikan Perusahaan manufaktur 2011 2012 2013 2014 2012 2013 2014 Sektor industri dasar dan kimia 60 60 61 64 0% 1.6% 4.6% Sektor aneka 37 37 39 39 0% 5.1% 0% industri Sektor industri 33 35 36 38 5.7% 1.6% 5.2% barang konsumsi Total 130 132 136 141 1.5% 2.9% 3.5% 1
Sumber:www.sahamok.comdiakses tanggal 22 November 2015 (data diolah) Dari tabel 1.1 terlihat bahwa setiap tahun ada kenaikan pada industri manufaktur terutama pada sektor industri dasar dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Kemudian dapat dilihat bahwa sektor industri dasar dan kimia memiliki jumlah perusahaan terbanyak dibanding sektor lainnya. Sehingga penulis akan menggunakan banyak sampel untuk mendeteksi kecurangan pelaporan keuangan. Dengan banyaknya sampel tersebut akan membantu penulis agar hasil yang diteliti memiliki nilai validitas yang kuat. Karena itulah dengan adanya peningkatan dan jumlah perusahaan yang lebih banyak penulis mengambil objek penelitian pada perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia. Hal lain yang menjadi pertimbangan penulis mengambil objek ini adalah karena perusahaan manufaktur sedikit rentan terhadap terjadinya manipulasi persediaan. Tidak hanya itu tetapi perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang memberikan kontribusi terbesar pada Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan dengan sektor lain. Dapat terlihat dari tabel di bawah: Tabel 1.2Distribusi Persentase PDB Lapangan Usaha 2011 2012 2013 2014 Pertanian, Peternakan, kehutanan 14,71 14.50 14.42 14.33 dan periakanan Pertambangan dan penggalian 11.82 11.81 11.29 10.49 Industri pengolahan migas 3.41 3.09 2.94 2.88 Industri manufaktur 20.93 20.87 20.75 20.84 Listrik, Gas, dan Air bersih 0.75 0.76 0.77 0.80 Bangunan 10.16 10.26 9.98 10.05 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 13.80 13.96 14.32 14.60 Pengangkutan dan komunikasi 6.62 6.67 6.99 7.39 Keuangan, Persewaan, dan 7.21 7.27 7.52 7.56 Jasaperusahaan Jasa-jasa 10.58 10.81 11.01 10.98 Jumlah 99.99 100 99.99 99,38 Sumber: bps.go.id (diakses tanggal 22 november 2015) 2
Oleh karena itu, objek penelitian yang diambil adalah perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2011 sampai dengan 2014. 1.2. Latar belakang penelitian Setiap aktivitas organisasi pasti ada ketidakpastian yang identik dengan risiko, diantaranya adalah risiko kecurangan. Kecurangan atau fraud adalah tindakan melawan hukum yang merugikan entitas/organisasi dan menguntungkan pelakunya. Tindak kecurangan itu berupa pengambilan atau pencurian harta milik atau aset organisasi, menyembunyikan dan mengalihkan atau membelanjakan harta tersebut. Pelaku kecurangan dapat berasal dari dalam atau dari luar organisasi. Saat ini frauddi beberapa negara berkembang semakin parah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas (Karyono, 2013). Kasus-kasus skandal akuntansi yang terjadi dewasa ini juga memberikan bukti lebih jauh tentang kegagalan audit yang membawa akibat serius bagi masyarakat bisnis. Dalam mekanisme pelaporan keuangan, mekanisme audit dirancang untuk memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan tidak dipengaruhi salah saji (mistatement) yang material dan juga memberikan keyakinan yang memadai atas akuntabilitas manajemen atas aktiva perusahaan.faktor yang membedakan antara kecurangan dan kekeliruan adalah apakah tindakan yang mendasarinya, yang berakibat terjadinya salah saji dalam laporan keuangan, berupa tindakan yang disengaja atau tidak disengaja. Survei yang dilakukan oleh Association of Certified Fraud Examiners (ACFE, 2012) dengan melibatkan lebih dari seribu CFE (Certified Fraud Examiner)menunjukan bahwa dari tahun ke tahun rata-rata organisasi selalu kehilangan 5% dari pendapatannya karena fraud.ada tiga skema dasar jenis fraud yang diteliti oleh ACFE ini; 3
(1) Asset misappropiation Asset misappropriation meliputi penyalahgunaan/pencurian aset harta perusahaan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah dideteksi karena sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung. (2) Corruption Corruption meliputi penyalahgunaan wewenang/konflik kepentingan, penyuapan, penerimaan yang tidaksah/illegal, dan pemerasan secara ekonomi. (3) Financial statement fraud Financial statement fraudadalahtindakan yang dilakukan oleh pejabat ataueksekutif suatu perusahaan untuk menutupi kondisikeuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan dalam penyajian laporan keuangannya untuk memperolehkeuntungan. (www.jurnalakuntansikeuangan.com). Gambar 1.1 menunjukkan pelaku fraud dalam misappropriation of asset, corruption danfraudulent financial statement. Gambar 1.1 Pelaku Fraud Asset Misappropriation Corruption Financial Statement Fraud Owner/Executive Manager Employee 0% 20% 40% 60% Sumber: Association of Certified Fraud Examiners, 2008 Report to the Nation on Occupational Fraud and Abuse (Data diolah penulis, 2016) 4
Pada gambar 1.1dijelaskan bahwa pelaku dalam melakukan kecurangan terbagi dalam tiga jenis pelaku, yakni pemilik, manajer dan karyawan. Dan digambar tersebut dijelaskan bahwa misappropriation of asset memiliki presentase terbesar pada karyawan dalam melakukan kecurangan. Karena karyawan memiliki lebih banyak kesempatan dan lebih banyak berinteraksi langsung terhadap aset. Sedangkan corruption memiliki presentase terbesar pada manajer dalam melakukan kecurangan. Karena manajer memiliki wewewang yang lebih tinggi untuk melakukan kecurangan dalam bagian korupsi. Dan untuk Financial Statement Fraud memiliki presentase terbesar pada owner itu sendiri dalam melakukan kecurangan pelaporan keuangan. Karena owner itu sendiri memiliki tanggung jawab terhadap laporan keuangannya untuk terlihat lebih baik. Hal ini dilakukan untuk mendapat kepercayaan dari pemegang saham untuk tetap berinvestasi di perusahaan tersebut. Dari laporan tersebut, penggelapan aset merupakan jenis fraudyang sering terjadi atau sebanyak 86% kasus, namun dengan rata-rata tingkat kerugian yang rendah sebesar $120.000. Hal ini berbanding terbalik dengan kecurangan laporan keuangan yang terjadi kurang dari 8% kasus dengan ratarata kerugian terbesar yaitu $1.000.000. Dan kemudian kasus korupsi menempati posisi diantaranya. Banyak kasus kecurangan yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan publik. Meskipun beberapa salah saji belum tentu terkait dengan kecurangan, tetapi faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan kecurangan oleh manajemen terbukti ada pada kasus-kasus tersebut. Berikut adalah contoh kasus fraud yang terjadi pada tahun 2014: Tabel 1.3 Fenomena Kecurangan Pelaporan Keuangan No Tahun Nama perusahaan Kasus kecurangan pelaporan keuangan 1. 2014 PT. Sekawan Intipramata (SIAP) Penurunan aset sebesar 93,82% pada tahun 2014. (www.investasi.kontan.co.id) 5
Kenaikan dan penurunan dalam total aset pada PT Sekawan Intipratama Tbk ini tidaklah hanya satu kali. Kenaikan dalam aset pernah terjadi pada tahun 2013 ke 2014. Namun pada tahun 2014 silam PT Sekawan Intipratama Tbk justru mengalami penuruan aset sebesar 93,82%. Hal ini disebabkan adanya akuisisi RITS Ventures Limited sebagai akuisisi terbalik. Karena SIAP dianggap sebagai pihak yang diakuisisi, biaya perolehan diukur dengan nilai wajar saham SIAP yang dimiliki oleh pemegang saham minoritas sesaat setelah transaksi akuisisi. Namun nilai wajar SIAP saat itu hanya Rp 115,97 miliar. Nilai ini menjadi nilai goodwill yang masuk dalam aset tidak lancar.dengan revisi ini, jumlah aset SIAP menurun drastis dari sebelumnya Rp 4,9 triliun menjadi hanya Rp 307,9 miliar. Kemudian SIAP diminta untuk melakukan revisi atas hal tersebut dan SIAP menyajikan laporan keuangan kembali ditahun 2015. Disaat SIAP diminta pertanggung jawaban atas laporan keuangan yang sudah disajikan, direktur utama dan direktur keuangan tersebut justru mengundurkan diri (investasi.kontan.co.id). Kecurangan dalam pelaporan keuangan dapat terjadi oleh faktor internal maupun eksternal. Namun dalam penelitian ini, yang akan diteliti adalah dari faktor internal yaitu pengaruh ukuran dewan dan ukuran perusahaan yang diselaraskan dengan adanya fenomena PT. Sekawan Intipramata.Dalam penelitian ini, pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan akan dideteksi dengan Beneish Index Ratio. Pendeteksian ini memiliki variabel kontrol yang sudah mencakup seluruh aspek-aspek yang mudah atau rentan terjadinya kecurangan, terutama pada kecurangan pelaporan keuangan. Ukuran dewan dalam sebuah perusahaan sangat mempengaruhi efektifitas kinerja. Oleh karena itu dengan buruknya suatu kinerja akan memungkinkan adanya terjadi kecurangan dalam suatu entitas/perusahaan. Ukuran dewan dalam suatu entitas yang ideal adalah berjumlah kurang dari 8 personel agar menghasilkan kinerja yang lebih baik karena efisiensi dalam pengambilan keputusan dan koordinasi. 6
Dalam penelitian ini ukuran perusahaan ditentukan kepada total aset perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang lebih besar akan memiliki dorongan yang lebih besar pula untuk melakukan perataan laba atau indikasi kecurangan lainnya dibandingkan perusahaan-perusahaan yang lebih kecil. Hal ini dikarenakan perusahaan yang memiliki ukuran perusahaan yang lebih besar akan menjadi subyek pemeriksaan. Penelitian mengenai pendeteksian kecurangan pelaporan keuangandengan menggunakan rasio-rasio finansial dilakukan oleh Hutomo (2012). Dalam penelitiannya, Hutomo (2012) mencari faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi, sehingga kecurangan (fraud) dapat terdeteksi, serta seberapa besar kemampuan rasio-rasio financial yang terdiri dari liquidity ratio, leverage ratio, activity ratio, profitability ratio, dan share ratio mampu mendeteksi kecurangan dalam pelaporan keuangan. Kemudian dalam penelitian Ardiyani (2015) menyatakan bahwa leverage, nature of industry, rasionalisasi dan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap kecurangan pelaporan keuangan. Penelitian lain menyatakan hasil penelitian yang berbeda bahwa ukuran perusahaan, dan tingkat pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif terhadap kemungkinan kecurangan pelaporan keuangan, sedangkan Komite audit, keahlian keuangan komite audit, rapat komite audit, masa jabatan komite audit, dan kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap kemungkinan kecurangan pelaporan keuangan (Prasetyo 2014). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua variabel independen yang terdiri dari variabel board size yang diukur dengan jumlah dewan komisaris dan variabel firm sizeyang diukur dengan total aset. Berdasarakan alasan tersebut, penulis bermaksud untuk menyusun skripsi dengan judul ANALISIS DETERMINAN PENDETEKSIAN KECURANGAN PELAPORAN KEUANGAN (STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEKTOR INDUSTRI DASAR DAN KIMIA YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2011-2014) 7
1.3. Perumusan masalah Kecurangan pelaporan keuangan adalah usaha yang disengaja oleh perusahaan untuk menipu atau menyesatkan pengguna laporan keuangan yang dipublikasikan, terutama investor dan kreditor. Semakin banyaknya personel yang menjabat sebagai dewan direksi dan dewan komisaris dalam sebuah perusahaan maka akan lebih mudah terjadi kecurangan pelaporan keuangan karena, dengan banyaknya anggota dewan akan menghasilkan buruknya kinerja dan cendurung tidak efektif dalam mengontrol manajemen sehingga mudah terjadi kecurangan dalam sebuah perusahaan, salah satunya kecurangan pelaporan keuangan. Kecurangan pelaporan keuangan juga dapat dipengaruhi oleh ukuran perusahaan tersebut. Bahwa kecenderungan kecurangan pelaporan keuangan akan semakin besar apabila ukuran perusahaan juga semakin besar.namun, pernyataan diatas masih bersifat deduktif yang perlu diuji kebenarannya. Berdasarkan hal tersebut penulis melakukan penelitian untuk menguji kebenaran dari pernyataan mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan. 1.4. Pertanyaan penelitian 1. Bagaimana board size, firm sizedan pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan pada perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang terdaftar di BEI tahun 2011 sampai 2014? 2. Apakah pengaruh board size dan firm sizesecara simultan terhadap pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan? 3. Apakah pengaruh board size dan firm sizesecara parsial terhadap pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan? a. Apakah pengaruh board size terhadap pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan? b. Apakah pengaruh firm size terhadap pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan? 8
1.5. Tujuan Penelitian 1. Untuk menganalisis board size, firm sizedan pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan. 2. Untuk menguji pengaruh board size dan firm size secara simultan terhadap pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan. 3. Untuk menguji pengaruh board size dan firm size secara parsial terhadap kecurangan pelaporan keuangan, yaitu: a. Untuk menguji pengaruh board sizeterhadap pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan. b. Untuk menguji pengaruh firm size terhadap pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan. 1.6. Manfaat penelitian Dari hasil penelitian ini, akan diperoleh beberapa manfaat yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berkaitan antara lain: 1.6.1 Aspek Teoritis Dengan penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk peneliti selanjutnya yaitu mengenaikecurangan pelaporan keuangan pada perusahaan manufaktur. 1.6.2 Aspek Praktis a) Memberikan informasi berupa peringatan kepada auditor untuk memperhatikan seluruh risiko yang mungkin dihadapi oleh perusahaan dalam rangka mencapai tujuannya. b) Memberikan informasi khususnya kepada investor untuk memahami faktor-faktor penyebab terjadinya kecurangan pelaporan keuangan, sehingga dapat dijadikan sebagai deteksi dini untuk megetahui adanya kecurangan pelaporan keuangan pada suatu perusahaan sehingga dapat mengambil keputusan secara tepat. c) Memberikan evaluasi kepada lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan atas pengaturan dan pengawasan industri pasar modal dan lembaga keuangan seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar 9
mengumumkan perusahaan yang melakukan manipulasi atas penyajian laporan keuangan kepada publik. d) Memberikan evaluasi kepada manajemen perusahaan untuk meningkatkan struktur pengendalian internal perusahaan terutama pada aspek-aspek yang sering terjadinya manipulasi. 1.7. Ruang lingkup penelitian 1.7.1 Variabel Penelitian Penelitian ini menggunakan variabel dependen kecurangan pelaporan keuangan serta menggunakan dua variabel independen yaitu,board sizedan firm size. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dari perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang terdaftar di BEI tahun 2011 sampai 2014. 1.7.2 Lokasi dan Objek Penelitian Lokasi penelitian yang dipilih adalah di BEI dengan objek penelitian yang digunakan adalah perusahaan sektor manufaktur sektor industri dasar dan kimia. Data penelitian ini diambil dari laporan keuangan yang diperoleh peneliti dari website http://www.idx.co.id. 1.7.3 Waktu dan Periode Penelitian Waktu penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember hingga Februari 2016. Periode penelitian dilakukan pada tahun 2011-2014. 1.8. Sistematika penulisan tugas akhir Pembahasan dalam skripsi ini akan dibagi dalam lima bab yang terdiri dari beberapa sub-bab. Sistematika penulisan skripsi ini secara garis besar adalah sebagai berikut: BAB IPENDAHULUAN Bab ini memberikan penjelasan mengenai gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian yang menyangkut fenomena yang menjadi isu, sehingga layak untuk diteliti disertai dengan argumentasi teoritis yang ada, perumusan masalah yang didasarkan pada latar belakang 10
penelitian, tujuan penelitian dan kegunaan penelitian ini secara teoritis dan praktis, serta sistematika penulisan secara umum. BAB IITINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN Bab ini mengemukakan dengan jelas, ringkas, dan padat hasil kajian kepustakaan mengenai board size dan firm sizeterhadap pendeteksian kecurangan pelaporan keuangan sebagai dasar penyusunan kerangka pemikiran dan perumusan hipotesis. Memuat tinjauan pustaka penelitian, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, hipotesis penelitian, dan ruang lingkup penelitian. BAB III METODE PENELITIAN Bab ini menegaskan pendekatan, metode dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat menjelaskan penelitian. Meliputi uraian tentang jenis penelitian, variabel operasional, tahapan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data dan teknik analisis data. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi pembahasan hasil penelitian yang diuraikan secara kronologis dan sistematis sesuai dengan perumusan masalah serta tujuan penelitian. Meliputi karakteristik responden, hasil penelitian, dan pembahasan hasil penelitian. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini memuat mengenai kesimpulan hasil penelitian serta saran penulis untuk penelitian selanjutnya. 11