Unnes Science Education Journal

dokumen-dokumen yang mirip
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN IPA TERPADU BERBASIS KOMPUTER PADA TEMA BUNYI MELALUI LESSON STUDY UNTUK KELAS VIII

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. model Instructional Games, oleh sebab itu metode penelitian yang tepat untuk

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini secara umum merupakan penelitian yang bertujuan untuk

Rahma Ditasari, Endah Peniati, Kasmui. Prodi Pendidikan IPA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang, Indonesia

PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU TEMA PEMANASAN GLOBAL BERBASIS KOMIK DI SMPN 4 DELANGGU

PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU BERBASIS SETS DENGAN TEMA HUJAN ASAM UNTUK KELAS VII SMP

BAB III METODE PENELITIAN

MODEL INKUIRI DENGAN TIPE INTEGRATED PADA PEMBELAJARAN IPA DI SMP ARTIKEL. Oleh. Etik Khoirun Nisa NIM

Unnes Science Education Journal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Automotive Science and Education Journal

Unnes Science Education Journal

3. BAB III METODE PENELITIAN. 1) Metode Penelitian dan Pengembangan

Unnes Science Education Journal

Unnes Physics Education Journal

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

Unnes Science Education Journal

UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP PRINSIP KERJA PNEUMATIK BERBANTUAN PERANGKAT LUNAK MULTIMEDIA INTERAKTIF

BAB III METODE PENELITIAN. adalah Metode Penelitian dan Pengembangan atau dikenal juga dengan istilah

Edu Geography 3 (1) (2014) Edu Geography.

Unnes Science Education Journal

PENGEMBANGAN KARTU BERGAMBAR TIGA DIMENSI SEBAGAI MEDIA DISKUSI KELOMPOK PADA PEMBELAJARAN IPA TERPADU TEMA KEHIDUPAN

PENGEMBANGAN MODUL INTERAKTIF BERBASIS MULTIMEDIA UNTUK MATA PELAJARAN TEKNIK ANIMASI 2D KELAS XI MM DI SMKN 1 BANTUL

Fashion and Fashion Education Journal

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS WEB INTERAKTIF DENGAN APLIKASI E-LEARNING MOODLE PADA POKOK BAHASAN BESARAN DAN SATUAN DI SMA

Automotive Science and Education Journal

E-journal Prodi Edisi 1

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGEMBANGAN MODEL E-BOOK INTERAKTIF TERMODIFIKASI MAJALAH PADA MATERI STRUKTUR ATOM

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pendidikan (educational research and development) meliputi tahapan define,

Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreations

Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreations

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

PENGARUH METODE AKTIF TIPE TEAM QUIZ BERBANTUAN QUESTION CARD TERHADAP HASIL BELAJAR. Info Artikel. Abstrak. , T Subroto, W Sunarto

Economic Education Analysis Journal

Unnes Science Education Journal

Edu Geography 3 (4) (2015) Edu Geography.

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNTUK SISWA KELAS VIII SMP

Tabel 3.1 Nonequivalent Control Group Design Group Pre-test Treatment Post-test Eksperimen O E1 X O E2 Kontrol O K1 Y O K2

METODE PENELITIAN. Metode penelitian ini adalah research and development atau penelitian dan

Unnes Science Education Journal

INSTRUMEN PENILAIAN KELAYAKAN CD INTERAKTIF IPA TERPADU. BERBASIS SCIENCE EDUTAINMENT (Oleh: Ahli/pakar Media) Satuan Pendidikan : SMP. Validator :...

Jurnal Pendidikan IPA Indonesia

Edu Geography 3 (7) (2015) Edu Geography.

Unnes Science Education Journal

Unnes Science Education Journal

PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU BERKARAKTER PADA TEMA PENGELOLAAN LINGKUNGAN UNTUK KELAS VII SMP

Unnes Journal of Biology Education PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN RANAH AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK PADA MATA KULIAH PRAKTIKUM STRUKTUR TUBUH HEWAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Unnes Science Education Journal

Unnes Science Education Journal

2015 PEMBELAJARAN IPA TERPADU TIPE WEBBED TEMA TEKANAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA SMP

MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF PERANGKAT LUNAK PENGOLAH ANGKA UNTUK KELAS XI SMA NEGERI 2 WATES

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER OLEH MAHASISWA CALON GURU FISIKA

Jurnal Pendidikan IPA Indonesia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB III METODELOGI PENELITIAN. 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pembelajaran menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE KASUS MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO-VISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dengan metode Penelitian Pengembangan atau

Unnes Physics Education Journal

Pancasakti Science Education Journal

= Hasil/keadaan awal kemampuan berpikir kritis kelompok middle.

PENGEMBANGAN MODUL MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS E-LEARNING PADA POKOK BAHASAN BESARAN DAN SATUAN DI SMA

APLIKASI PEMBELAJARAN INTERAKTIF TEKNIK ANIMASI 3D BERBASIS MULTIMEDIA

BAB I PENDAHULUAN. Komputer merupakan produk kemajuan teknologi yang mampu. melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengembangan dari penelitian ini adalah berupa sebuah CD

LEMBAR EVALUASI UNTUK AHLI MEDIA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU BERBASIS STARTER EXPERIMENT APPROACH (SEA) UNTUK SISWA SMP/MTs KELAS VIII

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

MEMBANGUN MEDIA BELAJAR BERBASIS ICT

Bahan Ajar Interaktif Berbasis Pendekatan Saintifik pada Materi Garis dan Sudut untuk Siswa SMP

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN TEKNIK PEMESINAN FRAIS BERBASIS ADOBE FLASH CS6

Joyful Learning Journal

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN TEKNIK ELEKTRONIKA DASAR DI SMK NEGERI 1 BANSARI TEMANGGUNG

BAB III METODE PENELITIAN. tujuan dan kegunaan tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN

Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS Volume 2, No 2, September 2015 ( ) Tersedia Online:

BAB III METODE PENELITIAN. berbasis augmented reality untuk menunjang promosi gedung Fakultas

BAB I PENDAHULUAN. martabat manusia secara holistik. Hal ini dapat dilihat dari filosofi

BAB III METODE PENELITIAN. A. Model Pengembangan. Model pengembangan yang dipakai adalah modal Four-D yang

Edu Geography

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU (IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013)

Unnes Physics Education Journal

BAB III METODE PENELITIAN. produk tertentu, dan menguji keefektifan. Orientasi dari penelitian dan

Jurnal Pendidikan IPA Indonesia

IV. HASIL PEMBAHASAN. bermuatan nilai ketuhanan dan kecintaan terhadap lingkungan dengan Adobe

Transkripsi:

USEJ 3 (1) (2014) Unnes Science Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/usej PENGEMBANGAN MEDIA INTERAKTIF PEMBELAJARAN IPA TERPADU TEMA MATA UNTUK SISWA KELAS VIII Nur Viyanti, Parmin, Isa Akhlis Prodi Pendidikan IPA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang, Indonesia Info Artikel Sejarah Artikel : Diterima Januari 2014 Disetujui Februari 2014 Dipublikasikan April 2014 Keywords : Interactive media, Integrated IPA, themed eye Abstrak Berdasarkan Permendiknas No. 22 tahun 2006 pembelajaran IPA seharusnya dilakukan secara terpadu. Namun kenyataannya belum ada perangkat pembelajaran IPA secara terpadu dan media yang mampu memaparkan keterpaduan bidang kajian IPA. Tema mata mempelajari konsep abstrak yang membutuhkan media untuk menggambarkan konsep abstrak menjadi pengalaman konkret. Penelitian ini bertujuan menghasilkan sebuah media pembelajaran IPA terpadu yang layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Berdasarkan validasi pakar, tanggapan guru dan siswa serta hasil evaluasi siswa, maka media interaktif layak digunakan sebagai media pembelajaran IPA terpadu tema mata. Abstract Based on the Regulation of National Education Minister (Permendiknas) Number 22 year 2006, educating science should be done integratedly. However, in fact integrated science learning equipment and media that can represent the integration of study in science field have not been provided well. The theme eye studies about the abstract concepts which need media to represent them into concrete experiences. This research aims to produce a feasible and effective integrated science learning media to be used in teachinglearning process. Research method used in this study is Research and Development. Based on expert validation, the teacher s and students feedback and opinion, and also the result of the evaluation, it can be concluded that interactive media is feasible to be used as integrated science learning media themed eye. 2014 Universitas Negeri Semarang Alamat korespondensi: Prodi Pendidikan IPA FMIPA Universitas Negeri Semarang Gedung D7 Lantai 3 Kampus Sekaran Gunungpati Telp. (024) 70805795 Semarang 50229 E-mail: nurviyanti62@yahoo.com ISSN 2252-6609 364

PENDAHULUAN Berdasarkan Permendiknas No. 22 tahun 2006 pembelajaran IPA seharusnya dilakukan secara terpadu. Melalui pembelajaran IPA terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan dan menerapkan konsep yang telah dipelajari. Oleh karena itu, siswa dapat terlatih untuk menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh, bermakna, otentik dan aktif (Listyawati, 2012). Implikasi dari Permendiknas tersebut, guru harus melaksanakan pembelajaran IPA terpadu. Pembelajaran IPA terpadu adalah sebuah pendekatan integratif yang mensintesis perspektif (sudut pandang/tinjauan) semua bidang kajian dalam IPA untuk memecahkan permasalahan. Pendekatan pembelajaran terpadu merupakan salah satu implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Pendekatan pembelajaran ini hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdiknas, 2006). Pembelajaran IPA terpadu adalah pembelajaran yang menggabungkan bidang kajian IPA (fisika, kimia, dan biologi), maka dalam kegiatan pembelajaran tidak lagi terpisah-pisah melainkan satu keutuhan. Untuk melaksanakan pembelajaran IPA terpadu diperlukan guru yang menguasi bidang kajian IPA, perangkat pembelajaran yang terpadu, dan media yang mampu memaparkan keterpaduan bidang kajian IPA. Perangkat pembelajaran meliputi silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, dan soal evaluasi yang terpadu, sehingga proses pembelajaran lebih efektif dan efisien. Hasil observasi, SMP N 1 Ambarawa belum melaksanakan pembelajaran IPA secara terpadu. Hal ini disebabkan belum adanya perangkat pembelajaran yang terpadu dan media pembelajaran yang digunakan belum memaparkan keterpaduan bidang kajian IPA. Media yang digunakan masih menjelaskan bidang kajian fisika, biologi dan kimia. Hal ini kurang sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran IPA terpadu, sehingga dibutuhkan media yang mampu memaparkan bidang kajian IPA secara terpadu. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan atau menyalurkan pesan dari suatu sumber secara terencana, sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efektif dan efesien (Asyhar, 2012). Pesan yang disampaikan melalui media dalam bentuk isi atau materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan (siswa), dengan menggunakan salah satu ataupun gabungan beberapa alat indera mereka. Bahkan lebih baik lagi apabila seluruh indera yang dimiliki mampu menerima isi pesan yang disampaikan. Tema mata mempelajari konsep-konsep yang abstrak. Hal ini menjadi salah satu penyebab kesulitan siswa dalam belajar, sehingga dibutuhkan suatu media yang mampu menggambarkan konsep abstrak menjadi pengalaman konkret. Tema mata memadukan materi dari aspek fisika dan biologi yang membahas tentang alat optik dan alat indra manusia khususnya mata. Salah satu materi yang dipelajari pada tema mata yaitu proses pembentukan bayangan pada retina. Proses pembentukan bayangan dapat dipelajari dengan gambar/animasi. Apabila proses pembentukan bayangan pada retina dapat divisualisasikan pada media yang lebih menarik dan siswa mendapatkan pengalaman yang konkret, siswa akan mengalami kemudahan belajar dan termotivasi untuk belajar. Selain itu media yang digunakan mampu memaparkan keterpaduan materi tema mata. Salah satu media yang mampu memaparkan keterpaduan materi tema mata yaitu media interaktif pembelajaran IPA terpadu. Berdasarkan penelitian Paramita (2011) bahwa penggunaan media CD interaktif dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam ranah kognitif, afektif, dan juga psikomotorik. Secara kognitif, kemampuan memahami materi pembelajaran meningkat dengan tolak ukur hasil belajarnya. Selain itu penggunaan media interaktif mampu meningkatkan kualitas pembelajaran kimia siswi SMK Negeri 8 Semarang yang ditandai dengan ketuntasan hasil belajar siswa > 80% dan 365

aktivitas siswa dalam proses pembelajaran > 70% dalam penelitian Sirodjuddin (2008). Berdasarkan uraian latar belakang, maka peneliti melaksanakan penelitian dengan judul: Pengembangan Media Interaktif Pembelajaran IPA Terpadu tema Mata untuk siswa Kelas VIII. METODE Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ambarawa dengan subyek penelitian siswa kelas VIII. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau R&D menurut Sugiyono (2009) dengan rancangan penelitian sebagai berikut: Observasi awal di SMP N 1 Ambarawa Revisi Produk awal Uji coba skala kecil Belum adanya media IPA secara terpadu Validasi produk awal oleh pakar Revisi berdasarkan ujicoba skala kecil Mengolah data hasil penelitian Merencanak an desain media interaktif Menghasilka n produk berupa media interaktif pembelajaran IPA terpadu Uji coba skala luas Mengevaluasi hasil uji pelaksanaan lapangan ada. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa tuntutan kurikulum IPA secara terpadu, belum adanya media pembelajaran yang berisi materi secara terintegrasi dalam bidang kajian IPA,tema mata mempelajari konsep yang abstrak yang membutuhkan suatu media yang mampu menggambarkan konsep abstrak menjadi konkret. Tahap selanjutnya yaitu mengumpulkan data tentang berbagai media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi IPA terpadu. Pengumpulan data yang telah dilaksanakan antara lain meliputi pencarian data dan literatur yang berkaitan dengan tema mata dengan konsep abstrak yang menjadi dasar dalam pengembangan media interaktif dan mencari software yang dapat digunakan dalam mengembangkan media interaktif. Setelah data yang dikumpulkan sebagai bahan pengembangan lengkap, peneliti membuat desain produk. Desain produk ini dibuat dalam storyboard. Aplikasi yang akan dihasilkan dalam penelitian ini adalah media interaktif pembelajaran IPA terpadu tema mata. Peneliti mengacu format storyboard dalam artikel yang ditelusuri melalui internet dengan alamat http:// isalatih.wordpress.com. Sistematika materi diawali dari opening, apresepsi, menu utama (kompetensi, tujuan pembelajaran, materi, evaluasi, dan referensi). Penyajian materi menggabungkan gambar, animasi dan suara. Ilustrasi tampilan awal desain media pembelajaran terdapat pada gambar 1. Gambar 1 Desain Penelitian R&D (Sugiyono, 2009) a HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Pengembangan Media Pengembangan media interaktif pembelajaran IPA terpadu pada penelitian ini mengacu pada langkahlangkah penelitian pengembangan menurut Sugiyono (2009) yang telah dimodifikasi. Proses awal pengembangan media dilakukan dengan identifikasi potensi-potensi yang ada dan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan yang b c d Gambar 2 Tampilan Menu Utama (a) Tombol Menu Utama, (b) Tombol Pengaturan Sound/suara, (c) Tombol Profil, (d) Tombol Close Hasil Penilaian Pakar Terhadap Kelayakan Media 366

Media interaktif tema mata divalidasi oleh pakar media dan pakar materi sesuai ahli di bidang masing-masing. Validasi ini dilakukan berdasarkan pada penilaian aspek dan kriteria penilaian media pembelajaran yang telah dimodifikasi dari Wahono (2006). Hasil validasi media interaktif oleh pakar materi disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil validasi media interaktif oleh pakar materi No. Aspek yang dinilai Skor 1. Kejelasan tujuan pembelajaran 3 2. Relevansi tujuan pembelajaran 3 dengan SK/KD/Kurikulum 3. Kesesuaian materi dengan tujuan 3 pembelajaran 4. Interaktivitas 3 5. Kedalaman materi 3 6. Kemudahan untuk dipahami 3 7. Sistematis/ runut/ alur logika jelas 2 8. Kejelasan uraian, pembahasan, 3 contoh, dan latihan 9. Keterpaduan materi 2 10. Keterpaduan soal 3 Jumlah skor 28 Rerata skor 2,8 Kriteria penilaian Sangat layak Dari hasil penilaian media oleh pakar materi mendapatkan rerata skor 2,8 artinya sangat layak karena sudah mencapai indikator kelayakan, sehingga materi di dalam media dapat digunakan untuk ke tahap penelitian selanjutnya hasil penilaian oleh pakar materi disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil validasi media interaktif oleh pakar media No Aspek yang dinilai Skor Aspek Rekayasa Perangkat Lunak 1. Maintenable 3 2. Usabilitas 3 3. Kompatibilitas 3 4. Reusable 3 Aspek komunikasi Visual 1. Komunikatif 3 2. Kreatif dalam ide dan 3 penuangan gagasan 3. Sederhana dan memikat 2 4. Audio 3 5. Visual 2 6. Media bergerak (animasi) 3 7. Layout interactive 2 Jumlah skor 30 Rerata skor 2,7 Nur Viyanti dkk./ Unnes Science Education Journal 3 (1) (2014) 367 Kriteria penilaian Sangat Layak Pada aspek interaktivitas, pakar materi memberikan skor 3. Siswa diberi kesempatan untuk memilih jawaban yang benar dalam evaluasi, kemudian media akan memberikan penilaian dan penghargaan. Penilaian dan penghargaan tersebut merupakan pemberian motivasi dan umpan balik, sehingga akan menciptakan komunikasi dua arah. Selain itu, merangsang siswa untuk belajar mandiri karena siswa menentukan materi yang akan dipelajari dengan menggunakan menu yang ada. Pakar materi juga memberikan penilaian terhadap keterpaduan materi dengan skor 2. Materi yang disampaikan melalui media yang dikembangkan hanya memaparkan keterpaduan antara fisika dan biologi. Namun begitu dalam media terdapat peta keterpaduan, sehingga dapat merangsang siswa dalam pengintegrasian materi. Peta keterpaduan yang dibuat berdasarkan keterpaduan model connected. Menurut Tim Pengembang PGSD dalam Hidayat (2009), pembelajaran terpadu model connected adalah model pembelajaran yang menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas dilakukan pada satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yan dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi. Selain keterpaduan materi, keterpaduan soal juga dinilai oleh pakar materi. Pakar memberikan skor 3. Soal yang ditampilkan sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran, menampilkan keterpaduan materi dan bersifat kontekstual. Soal yang bersifat kontekstual yaitu soal yang mengkaitkan kehidupan sehari-hari. Setiap soal terdapat masalah dari cerita/paragraf, kemudian dari paragraf tersebut menghasilkan soal. Soal menampilkan keterpaduan materi. Hasil validasi media interaktif pada Tabel 2 menunjukkan bahwa penilaian oleh pakar media memperoleh rerata skor 2,7 dengan kriteria sangat layak. Secara keseluruhan, media interaktif ini telah dinyatakan layak digunakan sebagai media pembelajaran IPA terpadu di SMP kelas VIII sebagaimana indikator-indikator pada aspek rekayasa perangkat lunak, aspek komunikasi audio visual, dan aspek desain pembelajaran yang diajukan sesuai penilaian aspek dan kriteri penilaian

media pembelajaran yang telah dimodifikasi dari Wahono (2006). Uji Coba Produk Uji coba produk dilakukan dengan menggunakan siswa kelas VIII dan guru untuk dimintai tanggapan dan saran mengenai media interaktif. Uji coba skala kecil dilaksanakan pada siswa kelas IX sebanyak 10 siswa. Sebelum dilakukan uji coba pemakaian pada tahap skala besar dilakukan revisi berdasarkan masukan dari tanggapan siswa. Pada tahap uji coba skala besar dilaksanakan pada siswa kelas VIIIE sebanyak 33 siswa serta dua orang guru IPA di SMP N 1 Ambarawa. Hasil tanggapan guru disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil tanggapan guru terhadap media interaktif Rerata No Indikator persentase 1 Penampilan menarik. 75% 2 Tujuan pembelajaran jelas 100% 3 Penyajian materi 100% sistematis. 4 Materi yang disajikan 88% lengkap. 5 Petunjuk penggunaan 88% jelas. 6 Penggunaan 100% gambar/animasi relevan dan membantu pemahaman siswa. 7 Soal latihan bervariasi 75% (mencakup c1, c2, c3, dan c4). 8 Media Interaktif dapat 100% dipelajari secara mandiri oleh siswa. Rata-rata skor (%) 91% Kriteria Sangat Baik Berdasarkan rekapitulasi tanggapan guru di atas,semua butir pernyataan mendapat kriteria sangat baik tetapi untuk butir no 1 dan 7 mendapat kriteria baik. Data pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa guru memberikan tanggapan bahwa media interaktif sangat baik digunakan dalam pembelajaran IPA, khususnya pada tema mata. Peneliti melakukan revisi berdasarkan masukan dari guru untuk mendapatkan produk yang lebih baik. Selain tanggapan guru, media interaktif ditanggapi oleh siswa pada uji coba skala terbatas dan luas. Pada ujicoba skala terbatas siswa memberi tanggapan sangat baik dan baik sebesar 80% terhadap media interaktif dengan responden berjumlah 8 siswa. Dari 10 responden hanya 1 siswa yang memberi tanggapan cukup baik. Siswa yang memberi tanggapan cukup baik disebabkan oleh tampilan evaluasi. Teks pada tampilan evaluasi pada media kurang jelas, sehingga media perlu dilakukan revisi. Peneliti mengubah background pada evaluasi dan warna teks soal berdasarkan tanggapan siswa. Perbaikan yang dilakukan pada tahap ini diharapkan menjadikan produk media interaktif lebih baik lagi, sehingga hasil produk yang sudah direvisi mempengaruhi tanggapan siswa pada uji coba skala luas. Pengubahan background pada evaluasi ini tidak mempengaruhi nilai kelayakan dari pakar, karena perbaikan yang dilakukan sedikit. Uraian di atas menjelaskan bahwa media interaktif diterima dengan baik karena tanggapan siswa mencapai presentase 80%. Pada uji coba skala luas media interaktif diterima dengan baik karena tanggapan siswa mencapai presentase 97% sesuai kriteria baik minimal > 62,50%. Meskipun begitu, terdapat 1 siswa yang memberi tanggapan cukup baik dikarenakan siswa lebih suka pembelajaran dengan media langsung di dalam kelas. Hal ini dilihat dari tanggapan siswa yang kurang setuju apabila semua materi disajikan dalam bentuk media interaktif. Tanggapan siswa untuk setiap butir tanggapan juga dianalisis yang kemudian diilustrasikan dalam gambar 2. Butir tanggapan terdiri dari 10 pernyataan yaitu (1) tampilan media interaktif yang disajikan membuat saya tertarik mengikuti pelajaran, (2) bahasa yang digunakan melalui media jelas/dapat dimengerti, (3) dengan menggunakan media interaktif maka materi yang disampaikan menjadi lebih jelas, (4) saya tidak merasa bosan saat mengikuti pelajaran karena media interaktif, (5) dengan media interaktif saya merasa lebih mudah untuk mempelajari materi pelajaran, (6) saya ingin agar semua materi dalam IPA disajikan dengan media interaktif, (7) saya merasa lebih mudah menangkap pelajaran yang disampaikan dengan bantuan media interaktif, (8) saya merasa lebih mudah menangkap pelajaran yang disampaikan dengan bantuan media interaktif, (9) media interaktif terdapat animasi yang dapat membantu saya untuk memahami konsep materi yang diberikan, dan (10) latihan yang ditampilkan melalui media ini membuat saya tertarik menjawab 368

soal. Hasil tanggapan siswa tiap butir pernyataan disajikan dalam gambar 3 di bawah. 100 80 60 40 Uji Skala Terbatas Uji Skala Luas 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Gambar 3 Persentase tanggapan siswa terhadap media interaktif tiap butir pernyataan Pada akhir proses pembelajaran, dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap tema mata dengan menggunakan media interaktif yang telah dikembangkan oleh peneliti. Hasil belajar siswa diperoleh dari nilai pretest-postes dimana hasil belajar siswa tersebut mewakili keefektifan dari penggunaan media interaktif terhadap mata pelajaran IPA. Selanjutnya hasil pretest-postest dianalisis menggunakan perhitungan n-gain. Gain menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan guru. Secara umum siswa mendapatkan n-gain kriteria sedang dengan jumlah 28 siswa sedangkan 5 siswa lainnya mendapatkan n-gain kriteria rendah. Rerata skor n-gain yang didapatkan sebesar 0,4 dengan kriteria sedang sesuai indikator pencapaian > 0,3 berarti penggunaan media interaktif berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. sedangkan n-gain dengan kriteria rendah berarti penggunaan media interaktif kurang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Rerata n-gain yang diperoleh sebesar 0,43 dengan kriteria sedang dapat dikatakan terjadi peningkatan hasil belajar setelah menggunakan media interaktif. Hal ini sesuai hasil penelitian oleh Wahyuni & Kristianingrum (2008), bahwa model PBI dengan menggunakan CD interaktif dapat meningkatkan nilai hasil belajar siswa di SMA Kesatrian Semarang dengan rata-rata nilai hasil belajar kognitif pada postest sebagai evaluasi sebesar 63,4 pada siklus I, sebesar 71,1 pada siklus II, dan sebesar 76,5 pada siklus III. Selain itu juga sesuai hasil penelitian oleh Wiyono (2012) bahwa peningkatan penguasaan konsep pendahuluan fisika zat padat yang menggunakan model pembelajaran multimedia interaktif adaptif secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Uji t dilakukan untuk mengetahui signifikansi hasil rata-rata nilai pretest dengan postest. Berdasarkan hasil perhitungan uji t diperoleh t hitung lebih besar dari t tabel untuk t hitung = 16,4, untuk t tabel = 1,70 dengan d.b. = 32 dan α = 5%, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara ratarata nilai pretest dengan postest setelah menggunakan media interaktif pembelajaran IPA terpadu tema mata, sehingga penggunaan mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai hasil penelitian Carcellar (2009), bahwa penggunaan multimedia interaktif efektif meningkatkan hasil tes siswa dimana hasil t-test yang signifikan antara skor postest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 369

PENUTUP Media interaktif pembelajaran IPA terpadu pada tema mata layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran kelas VIII SMP. Media interaktif yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelaran IPA berdasarkan validasi pakar, tanggapan siswa dan tanggapan guru. Media interaktif yang dikembangkan dikatakan efektif penggunaan dalam pembelajaran IPA. Hal ini dikarenakan terdapat signifikansi antara pretestpostest yang dilakukan perhitungan uji t sebesar 16,4 dan n-gain sebesar 0,43 dengan kriteria sedang. DAFTAR PUSTAKA Asyhar, R. 2012. Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Referensi Carcellar, M.D.R. 2009. Development of a Multimedia Interactive Learning Package (MILP) for LIS 161 (Computer-Based Information System). Journal of Philippine Librarianship, 29(1): 46-59 Hidayat, N. 2009. Pengembangan Pembelajaran Terpadu Model Connected Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Jurnal Inovasi Kurikulum 1(4) ISSN: 1829-6750 Listyawati, M. 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu di SMP. Journal of Innovative Science Education, 1(1) ISSN: 2252 6412. On line at http://journal.unnes.ac.id [diakses tanggal 25-3-2013] Paramita. 2011. Efektifitas Media CD Interaktif dan Media VCD Terhadap Hasil Belajar Sejarah Siswa SMA Negeri di Banjarnegara Ditinjau dari Tingkat Motivasi Belajar. Jurnal Pendidikan, 22(2): 213-225 Wahono, R.S. 2006. Aspek dan Kriteria Penilaian Media Pembelajaran. On Line at http://romisatriawahono.net. [diakses tanggal 5-2-2013] Wahyuni & Kristianingrum. 2008. Meningkatkan Hasil Belajar Kimia dan Peran Aktif Siswa Melalui PBI dengan Media CD Interaktif. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 2(1): 199-208 Wiyono, K. 2012. Model Multimedia Interaktif Berbasis Gaya Belajar Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Pendahuluan Fisika Zat Padat. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 8(2012): 74-82 370