BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jauh sebelum dikenalnya uang sebagai alat pembayaran, masyarakat

dokumen-dokumen yang mirip
sesuatu yang dapat diterima secara umum sebagai alat pembayaran dalam suatu

UANG DAN LEMBAGA KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. barter merupakan suatu sistem pertukaran antara barang dengan barang atau

EKONOMI UANG DAN BANK

Uang Dalam Perekonomian

Menurut Talcote Parsons, uang tidak hanya sebagai instrument ekonomi tetapi juga bahasa simbolik yang terbagi, ini bukan komoditi melainkan penanda.

PENEGAKAN HUKUM DALAM TINDAK PIDANA PEMALSUAN MATA UANG DOLLAR. Suwarjo, SH., M.Hum.

UANG dalam perekonom ian

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PEMALSUAN DAN PENGEDARAN UANG PALSU SKRIPSI

MANAJEMEN PERBANKAN. By : Angga Hapsila, SE. MM

PERANAN KLIRING DALAM LALU LINTAS PEMBAYARAN GIRAL DI BANK INDONESIA CABANG SURAKARTA

EKONOMI MONETER (EM) OK--OK

BAB I PENDAHULUAN. akan berkaitan dengan istri atau suami maupun anak-anak yang masih memiliki

TINDAK PIDANA PENIPUAN MENGGUNAKAN BILYET GIRO (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Gresik Putusan No: 246/Pid.B/2014/PN.Gsk)

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan hidupnya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan norma serta

BAB II PERATURAN-PERATURAN HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Pengakkan hukum yang terjadi

ekonomi Kelas X UANG KTSP A. Definisi dan Syarat Uang Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dana dari pihak yang mempunyai kelebihan dana (surplus unit) dan menyalurkannya kepada pihak

Jenis-jenis Uang dan Contohnya Tugas Pokok Bank Umum IPS. Oleh : Nashra Kautsari IX

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN METODE PENGAMATAN

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi dengan alam kehidupan sekitarnya. 1. ketentuan yang harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat.

Uang EKO 2 A. PENDAHULUAN C. NILAI DAN JENIS-JENIS UANG B. FUNGSI UANG. value).

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan era globalisasi yang semakin pesat berpengaruh

BAB I PENDAHULUAN. Uang sebagai sistem pembayaran tidak dapat dipisahkan dari fungsinya untuk

BAB I PENDAHULUAN. Perbuatan yang oleh hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana

BAB I PENDAHULUAN. barang yang dihasilkannya dengan suatu barang lain, dan seorang lain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu masalah besar yang dihadapi masyarakat pada saat ini

BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan

KAJIAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG DI INDONESIA (STUDI PUTUSAN NO. 1129/PID.SUS/2013/PN.JKT.TIM)

PENGGUNAAN KARTU KREDIT DALAM PERJANJIAN JUAL BELI BARANG DITINJAU DARI ASPEK HUKUM PERBANKAN

BAB I PENDAHULUAN. - Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat. cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.

BAB I PENDAHULUAN. resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan

BAB IV PENUTUP. transaksi menggunakan Rupiah logam sebagai berikut : Rp 1000,00 (seribu Rupiah) dan/atau Rp 1500,00 (seribu lima ratus Rupiah), dan

BAB I PENDAHULUAN. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) menerangkan bahwa Perjanjian jual beli merupakan suatu perjanjian yang

BAB I PENDAHULUAN. (surplus unit) dan menyalurkannya kepada pihak yang membutuhkan dana (deficit unit).

Kata Kunci : Kliring, Operasional dan Perbankan

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Ekonomi Indonesia tidak terlepas dari keterlibatan sektor

Lex Crimen Vol. IV/No. 6/Ags/2015

BAB I PENDAHULUAN. melalui media massa maupun media elektronik seperti televisi dan radio.

RENCANA PERSIAPAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB I PENDAHULUAN. bersifat terbuka, perdagangan sangat vital bagi upaya untuk meningkatkan

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP KEJAHATAN PEMALSUAN UANG KERTAS RUPIAH DAN PENGEDARANNYA DI KOTAMADYA MEDAN. (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan) SKRIPSI

BAB II KEDUDUKAN BANK INDONESIA DALAM SISTEM KEUANGAN NEGARA. Menurut Undang-Undang Pokok Perbankan Nomor 10 Tahun 1998

BAB I PENDAHULUAN. yang telah tercakup dalam undang-undang maupun yang belum tercantum dalam

BAB I PENDAHULUAN. eksistensi negara modern, dan oleh karena itu masing-masing negara berusaha

BAB I PENDAHULUAN. independen berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1999

BAB I PENDAHULUAN. anggapan, uang adalah darah -nya perekonomian, karena dalam mekanisme

BAB I PENDAHULUAN. Pada awalnya manusia memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Mereka

SMAM 3 LHOKSEUMAWE ALAT PEMBAYARAN TUNAI & NON JUDUL MATERI LAT. SELESAI TUNAI. Indikator: Alat pembyrn tunai & non tunai

1.Pengertian, Perkembangan & Fungsi UANG

BAB I PENDAHULUAN. positif Indonesia lazim diartikan sebagai orang yang belum dewasa/

BAB I PENDAHULUAN. terhadap konsumen atau pembeli. menggunakan berbagai cara dan salah satu caranya adalah berbuat curang

SANKSI PIDANA BAGI KORPORASI ATAS PEMALSUAN UANG RUPIAH 1 Oleh : Putri Sofiani Danial 2

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

BAB I PENDAHULUAN. lain, terpengaruh obat-obatan dan lain-lain. yang memiliki kekuasaan dan ekonomi yang tinggi.

II. TINJAUAN PUSTAKA. wajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pertanggungjawaban

Sejarah Uang dan Pengertian Uang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Balakang Masalah. Bank merupakan suatu lembaga atau industri yang bergerak di bidang

Kelangkaan Uang Logam Disebabkan Penggunaan. Uang Elektronik Dan Uang Giral

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan perlindungan

Lex Privatum Vol. V/No. 6/Ags/2017

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa ini, perkembangan ekonomi berkembang sangat pesat.

BAB I PENDAHULUAN. khususnya Pasal 378, orang awam menyamaratakan Penipuan atau lebih. (Pasal 372 KUHPidana) hanya ada perbedaan yang sangat tipis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peraturan perundangan undangan yang berlaku dan pelakunya dapat dikenai

BAB I PENDAHULUAN. Tercatat 673 kasus terjadi, naik dari tahun 2011, yakni 480 kasus. 1

BAB I PENDAHULUAN. pencurian tersebut tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan atau. aksinya dinilai semakin brutal dan tidak berperikemanusiaan.

IMPLEMENTASI PERATURAN KLIRING DALAM PERHITUNGAN UTANG PIUTANG WARKAT BILYET GIRO DI BANK MANDIRI CABANG SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. sekali terjadi, bahkan berjumlah terbesar diantara jenis-jenis kejahatan terhadap

BAB I PENDAHULUAN. Uang didefinisikan sebagai alat pertukaran (medium of exchange) yaitu suatu

BAB I PENDAHULUAN. kesenjangan antara kemampuan dan keinginan untuk mencapai suatu yang

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MATA UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Dalam ilmu pengetahuan hukum dikatakan bahwa tujuan hukum adalah

MASALAH PENGGUNAAN CEK KOSONG DALAM TRANSAKSI BISNIS

BAB I PENDAHULUAN. Perlindungan hukum..., Pramita Dyah Hapsari, FH UI, 2011.

tidak lepas dari peran bank selaku pemberi layanan perbankan bagi masyarakat. layanan perbankan yang dipercaya oleh masyarakat pada dewasa ini.

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berkembangnya jumlah penduduk, kebutuhan akan tanah terus

A. Latar Belakang Masalah

UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG [LN 2002/30, TLN 4191]

BAB I PENDAHULUAN. yang berkaitan dengan modus-modus kejahatan.

BAB I PENDAHULUAN. kepada pemeriksaan keterangan saksi sekurang-kurangnya disamping. pembuktian dengan alat bukti keterangan saksi.

BAB I PENDAHULUAN. kemudian diiringi juga dengan penyediaan produk-produk inovatif serta. pertumbuhan ekonomi nasional bangsa Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. dan pengembangan ilmu pengetahuan. Indonesia dan negara-negara lain pada

ekonomi K-13 PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG K e l a s A. KONSEP DASAR a. Sejarah Uang Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. dan jasa dalam perekonomian dinilai dengan satuan uang. Seiring dengan

Oleh Prihatin Effendi ABSTRAK. a. PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI. A. Pengertian Tindak Pidana Korupsi dan Subjek Hukum Tindak Pidana

I. PENDAHULUAN. Tindak pidana pemalsuan uang mengandung nilai ketidak benaran atau palsu atas

BAB I PENDAHULUAN. sehubungan dengan istilah pencucian uang. Dewasa ini istilah money

BAB I PENDAHULUAN. menyatu dengan penyelenggarakan pemerintahan Negara 2. Tidak hanya di

I. PENDAHULUAN. Berkembang pesatnya dunia perekonomian dan perdagangan pada masa sekarang ini

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembatalan akta..., Rony Fauzi, FH UI, Aditya Bakti, 2001), hlm Ibid., hlm

BAB I PENDAHULUAN. usaha yang terdiri atas uang kertas dan uang logam, yang merupakan alat pembayaran

BAB I PENDAHULUAN. pemberantasan atau penindakan terjadinya pelanggaran hukum. pada hakekatnya telah diletakkan dalam Undang-Undang Nomor 48 tahun

BAB I PENDAHULUAN. menyendiri tetapi manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup menyendiri.

BAB I PENDAHULUAN. adanya kehendak untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang

I. PENDAHULUAN. nyata. Seiring dengan itu pula bentuk-bentuk kejahatan juga senantiasa mengikuti perkembangan

melindamelindo.wordpress.com Page 1

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jauh sebelum dikenalnya uang sebagai alat pembayaran, masyarakat melakukan perdagangan dengan sistem barter, yaitu suatu sistem perdagangan dengan pertukaran antara barang dengan barang, jasa dengan jasa, barang dengan jasa, atau sebaliknya. Bahkan hingga saat ini barter itu masih dilakukan, namun praktiknya yang terkesan membuang waktu dan tenaga, seringkali membuat tidak banyak perdagangan mungkin dilaksanakan. 2 Perlahan praktik barter ditinggalkan sebab sudah tidak lagi sesuai dengan keadaan. Terdapat beberapa kendala yang sering terjadi dalam sistem barter, antara lain sebagai berikut. 3 1. Sulit menemukan orang yang mau menukarkan barangnya yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. 2. Sulit untuk menentukan nilai barang yang akan ditukarkan terhadap barang yang diinginkan. 3. Sulit menemukan orang yang mau menukarkan barangnya dengan jasa yang dimiliki atau sebaliknya. 4. Sulit untuk menemukan kebutuhan yang mau ditukarkan pada saat yang cepat sesuai dengan keinginan. Artinya untuk memperoleh barang yang diinginkan memerlukan waktu yang terkadang relatif lama. 2 Stephen M. Goldfeld dan Lester V. Chandler, Ekonomi Uang dan Bank, Bina Aksara, Jakarta, 1988, hlm. 6. 3 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Rajawali Pers, Jakarta, 2013, hlm. 13. 1

Beberapa kendala dari praktik barter tersebut memberikan pengaruh besar bagi masyarakat sebagai pelakunya. Tujuan utama dari pertukaran adalah agar terpenuhi kebutuhan masing-masing pihak, namun barter dengan segala kekurangannya justru mengakibatkan pertukaran kebutuhan menjadi memakan waktu bahkan bisa berakhir dengan gagalnya pertukaran. Dengan tujuan mempermudah transaksi perdagangan, maka kemudian muncul alat tukar yang jauh lebih efisien yang dikenal dengan sebutan Uang. Uang memberikan kemudahan dalam setiap proses pemenuhan kebutuhan hidup manusia karena diterima secara luas oleh masyarakat. Dalam perekonomian yang semakin modern seperti sekarang ini, uang memainkan peranan yang sangat penting bagi semua kegiatan masyarakat. Uang sudah merupakan suatu kebutuhan, bahkan saat ini, uang telah menjadi salah satu penentu stabilitas dan kemajuan perekonomian di suatu negara. 4 Peran uang dalam kehidupan manusia semakin hari semakin meningkat. Semakin tingginya kebutuhan hidup manusia umumnya sejalan dengan peningkatan kebutuhan akan uang. Hal ini mendorong masyarakat untuk melakukan tindakan, yang sering kali justru bertentangan dengan hukum, sebagai upaya untuk mencari dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Salah satunya adalah dengan cara melakukan pemalsuan uang. Karena peredaran uang palsu yang begitu cepat, kejahatan pemalsuan uang dapat dianggap sebagai salah satu jenis kejahatan dengan dampak kerugian besar yang tak terbatas lingkupnya. Negara sebagai otoritas yang berwenang dalam 4 Ibid., hlm. 14. 2

mencetak dan mengedarkan uang akan merugi. Masyarakat sebagai penerima dan pengguna uang juga akan menjadi korban apabila karena kurang teliti atau tanpa sepengetahuannya telah mendapatkan uang palsu dari transaksi yang telah mereka lakukan sebelumnya. Modus peredaran uang palsu saat ini semakin beragam dan hasil dari proses pemalsuan uang (uang palsu) juga semakin baik. Secara sekilas bahkan tampak seperti uang asli. Peralatan canggih hasil dari perkembangan teknologi memungkinkan para pelaku kejahatan untuk menciptakan uang palsu yang semakin baik kualitasnya. Meskipun Bank Indonesia sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang dalam melakukan pengeluaran, pengedaran, dan/atau pencabutan dan penarikan Rupiah telah melakukan berbagai bentuk sosialisasi terkait ciri dari Rupiah asli, tetap saja masyarakat sering tertipu karena kualitas dari uang palsu yang mereka terima hampir serupa dengan uang asli pada umumnya. Tingkat peredaran uang palsu terus saja meningkat dari waktu ke waktu. Pembahasan mengenai aturan hukum terkait pemalsuan uang sangat diperlukan. Dengan keberadaan hukum maka akan terciptalah keamanan dalam kehidupan masyarakat. Hukum memberi petunjuk tentang apa yang harus diperbuat dan tidak diperbuat, sehingga segala sesuatunya dapat berjalan tertib dan teratur. 5 Dengan begitu, pembahasan terhadap aturan hukum tindak pidana pemalsuan uang adalah penting mengingat keberadaan aturan hukum merupakan 5 R. Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, hlm. 54. 3

salah satu instrumen penting dalam memberantas dan mengurangi tingkat kejahatan pemalsuan uang. Praktik pemalsuan uang yang kerap berkembang secara pesat, harus terus diimbangi dengan perkembangan peraturan hukum. Selain dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP), sekarang permasalahan tindak pidana pemalsuan uang juga dibahas secara khusus dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Aturan mengenai pemalsuan uang dalam KUHP terdapat pada buku kedua, tentang kejahatan, tepatnya pada bab X. Tindak pidana pemalsuan uang, atau pemalsuan objek lainnya, dapat di golongkan sebagai bentuk penyerangan terhadap kepercayaan atas kebenaran sesuatu hal yang di yakini sebagai asli. Dibentuknya aturan mengenai kejahatan pemalsuan pada pokoknya ditujukan bagi perlindungan hukum atas kepercayaan masyarakat terhadap kebenaran sesuatu: keterangan di atas sumpah, atas uang sebagai alat pembayaran, materai dan merek, serta surat-surat. Karena kebutuhan hukum masyarakat terhadap kepercayaan atas kebenaran pada objek-objek tadi, maka Undang-Undang menetapkan bahwa kepercayaan itu harus dilindungi dengan cara mencantumkan perbuatan berupa penyerangan tadi sebagai suatu larangan dengan disertai ancaman pidana. 6 Dalam Pasal 4 bagian kedua Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juga diterangkan bahwa pada kejahatan terhadap mata uang (uang logam) dan uang kertas Indonesia (Rupiah) yang dilakukan diluar wilayah Indonesia, berlaku hlm. 5. 6 Adami Chazawi, Kejahatan Mengenai Pemalsuan, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005, 4

ketentuan pidana sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia (asas universaliteit). Hal ini mengindikasikan bahwa pemalsuan uang adalah kejahatan yang berat dan dianggap serius oleh pembuat hukum. Sementara itu pada aturan hukum terbaru, yaitu dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, pada bagian penjelasan umum di sebutkan bahwa tindakan pemalsuan uang dapat mengancam kondisi moneter dan perekonomian nasional. Hal ini merupakan salah satu alasan mendasar terciptanya aturan yang lebih khusus mengenai tindak pidana pemalsuan uang tersebut. Dengan lahirnya aturan hukum baru yang lebih bersifat khusus dalam mengatur kejahatan pemalsuan uang, maka perlu untuk diperhatikan mengenai aplikasi dari aturan hukum itu sendiri. Pada salah satu kasus pemalsuan uang yang terjadi dan telah diputus di tahun 2013, kepada pelaku telah diberikan dakwaan, tuntutan, dan hukuman atas dasar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (Putusan Nomor 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim). Pembahasan yang lebih merinci tentang putusan dari kasus tersebut diatas dirasa penting untuk mengetahui bagaimana penerapan aturan hukum pemalsuan uang yang baru dan pertimbangan hukum hakim terhadap dalam menjatuhkan sanksi pidana pada Putusan Nomor 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim. Berdasarkan uraian-uraian yang sudah disebutkan sebelumnya, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini. 5

B. Perumusan Masalah Adapun yang menjadi permasalahan dalam skripsi yang berjudul Kajian Hukum Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Uang (Studi Putusan No. 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim) adalah: 1. Apakah perbedaan antara pengaturan tindak pidana pemalsuan uang dalam KUHP dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang? 2. Bagaimanakah pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi pada tindak pidana pemalsuan uang (Studi Putusan No. 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim)? C. Tujuan Penulisan Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan skripsi ini adalah: 1. Untuk mengetahui aturan-aturan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana pemalsuan uang di Indonesia dan perbedaan antara masing-masing aturan tersebut. 2. Untuk mengetahui pertimbangan hukum yang dilakukan oleh hakim terhadap pertanggungjawaban pidana berdasarkan Studi Putusan Nomor 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim. D. Manfaat Penulisan Adapun yang menjadi manfaat dari penulisan skripsi ini adalah: 1. Secara teoritis, yaitu: memberikan informasi kepada semua kalangan bahwa tindak pidana pemalsuan uang merupakan suatu kejahatan yang memiliki 6

dampak besar berupa kerugian bagi negara sebagai pihak yang berwenang dalam mencetak dan mengedarkan uang, juga bagi masyarakat sebagai pengguna uang. 2. Secara praktis, yaitu: hasil dari penilitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam proses penyelesaian perkara pemalsuan uang di Indonesia. E. Keaslian Penulisan Skripsi yang berjudul Kajian Hukum Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Uang (Studi Putusan No. 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim) sepengetahuan penulis belum pernah dikemukakan oleh penulis lain, dan hal ini telah dikonfirmasikan kepada Sekretariat Departemen Pidana. F. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian Tindak Pidana Tindak pidana merupakan salah satu pengertian dari istilah Strafbaar Feit. Istilah ini berasal dari bahasa Belanda yang terdiri dari penggabungan kata Strafbaar dan Feit. Strafbaar yang berarti dapat dihukum, 7 dan Feit yang berarti kejadian, peristiwa, keadaan. 8 Tidak terdapatnya di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia penjelasan mengenai definisi dari tindak pidana menimbulkan lahirnya berbagai pendapat dari sarjana. 7 Google Translate., https://translate.google.com/#nl/id/strafbaar., diakses pada tanggal 8 November 2014. 8 J.C.T. Simorangkir, Rudy T. Erwin, dan J.T. Prasetyo, Kamus Hukum, Aksara Baru, 1980, Jakarta, hlm. 54. 7

Hazewinkel-Suringa misalnya, telah membuat suatu rumusan yang bersifat umum dari strafbaar feit sebagai suatu perilaku manusia yang pada suatu saat tertentu telah ditolak didalam pergaulan hidup tertentu dan dianggap sebagai perilaku yang harus dibedakan oleh hukum pidana dengan menggunakan saranasarana bersifat memaksa yang terdapat di dalamnya. 9 Van Hamel merumuskan strafbaar feit sebagai suatu serangan atau suatu ancaman terhadap hak-hak orang lain. 10 Menurut Pompe, strafbaar feit adalah suatu tindakan yang menurut suatu rumusan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum. 11 2. Pengertian Uang, Jenis Uang, dan Fungsi Uang A. Pengertian Uang Uang adalah segala sesuatu yang secara umum diterima di dalam pembayaran untuk pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta untuk pembayaran hutang-hutang. 12 Uang sebagaimana dimaksud dalam aturan hukum pidana Indonesia dalam bagian pemalsuan uang, dibedakan menjadi 2 macam, yaitu mata uang dan uang kertas. Keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Mata uang diartikan sebagai jenis uang yang terbuat dari logam, berbentuk koin, dan umumnya memiliki nilai nominal yang kecil. Sedangkan uang kertas adalah uang yang terbuat dari bahan berupa kertas. 9 P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Adya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 181. 10 Ibid., hlm. 182. 11 Ibid., hlm. 183. 12 Iswardono Sardjonopermono, Uang dan Bank, BPFE, Yogyakarta, 1984, hlm. 2. 8

B. Jenis Uang Adapun jenis-jenis uang dapat dilihat dari berbagai sisi. 13 a) Berdasarkan bahan Jika dilihat dari bahan untuk membuat uang maka jenis uang terdiri dari 2 macam, yaitu uang logam dan uang kertas. Uang logam, merupakan uang dalam bentuk koin yang terbuat dari logam, baik dari aluminium, emas, perak, atau perunggu dan bahan lainnya. Biasanya uang yang terbuat dari logam bernominal kecil. Uang kertas, merupakan uang yang bahannya terbuat dari kertas atau bahan sejenis kertas. Uang dari kertas biasanya dalam nominal yang besar sehingga mudah dibawa untuk keperluan sehari-hari. Uang jenis ini terbuat dari kertas yang berkualitas tinggi, yaitu bahan yang tahan terhadap air, tidak mudah robek atau luntur. b) Berdasarkan nilai Jenis uang ini dapat dilihat dari nilai yang terkandung pada uang tersebut, apakah nilai intrinsiknya (bahan uang) atau nilai nominalnya (nilai yang tertera dalam uang tersebut). Uang jenis ini terbagi kedalam dua jenis, yaitu uang bernilai penuh (full bodied money) dan uang tidak bernilai penuh (representatif full bodied money). 13 Kasmir, op.cit., hlm. 18-20. 9

Uang bernilai penuh (full bodied money), merupakan uang yang nilai intrinsiknya sama dengan nilai nominalnya, sebagai contoh uang logam, di mana nilai bahan untuk membuat uang tersebut sama dengan nominal yang tertulis di uang. Uang tidak bernilai penuh (representatif full bodied money) merupakan uang yang nilai intrinsiknya lebih kecil dari nilai nominalnya. Sebagai contoh uang yang terbuat dari kertas. Uang jenis ini sering disebut uang bertanda atau token money. Kadangkala nilai intrinsiknya jauh lebih rendah dari nilai nominal yang terkandung di dalamnya. c) Berdasarkan lembaga Berdasarkan lembaga maksudnya adalah badan atau lembaga yang menerbitkan atau mengeluarkan uang. Jenis uang yang diterbitkan berdasarkan lembaga terdiri dari uang kartal dan uang giral. Uang kartal merupakan uang yang diterbitkan oleh Bank Sentral, baik uang logam maupun uang kertas. Uang giral, merupakan uang yang diterbitkan oleh bank umum seperti cek, bilyet giro, traveller cheque, dan credit card. Perbedaan mendasar antara uang kartal dan uang giral antara lain sebagai berikut. 10

1. Uang kartal berlaku dan digunakan di seluruh lapisan masyarakat, sedangkan uang giral hanya digunakan dan berlaku di kalangan masyarakat tertentu saja. 2. Nominal dalam uang kartal sudah tertera dan terbatas, sedangkan nominal dalam uang giral harus ditulis lebih dulu sesuai dengan kebutuhan dan nominalnya tidak terbatas. 3. Uang kartal dijamin oleh pemerintah tertentu, sedangkan uang giral hanya dijamin oleh bank yang mengeluarkan saja. 4. Uang kartal memeiliki kepastian pembayaran seperti yang tertera dalam nominal uang, sedangkan uang giral belum ada kepastian pembayaran, hal ini masih tergantung dari beberapa hal termasuk lembaga yang mengeluarkannya. d) Berdasarkan kawasan Uang jenis ini dilihat dari daerah atau wilayah berlakunya suatu uang. Artinya bisa saja suatu jenis mata uang hanya berlaku dalam satu wilayah tertentu dan tidak berlaku di daerah lainnya atau berlaku di seluruh wilayah. Jenis uang berdasarkan kawasan bisa di bedakan dalam bentuk Uang Lokal, Uang Regional, dan Uang Internasional. Uang Lokal merupakan uang yang berlaku di suatu negara tertentu, seperti Rupiah di Indonesia atau Ringgit di Malaysia. 11

Uang Regional merupakan uang yang berlaku di kawasan tertentu yang lebih luas cakupannya daripada uang lokal, seperti untuk kawasan benua Eropa berlaku mata uang tunggal Eropa, yaitu Euro. Uang Internasional merupakan uang yang berlaku antar negara seperti US Dollar dan menjadi standar pembayaran internasional. Dalam pembahasan mengenai pemalsuan uang, yang merupakan objek dari pemalsuan uang adalah uang kartal, yaitu uang yang dikeluarkan oleh bank sentral dan dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah. Uang kartal yang dimaksud dapat berupa uang logam maupun uang kertas. C. Fungsi Uang Pada awalnya fungsi uang hanyalah sebagai alat guna memperlancar pertukaran. Namun, seiring dengan perkembangan zaman fungsi uang pun sudah beralih dari alat tukar ke fungsi yang lebih luas. Uang sekarang ini telah memiliki berbagai fungsi sehingga benar-benar dapat memberikan banyak manfaat bagi pengguna uang. Beragamnya fungsi uang berakibat penggunaan uang yang semakin penting dan semakin dibutuhkan dalam berbagai kegiatan masyarakat luas. Fungsi dari uang secara umum yang ada dewasa ini adalah sebagai berikut. 14 a) Alat tukar-menukar Dalam hal ini uang digunakan sebagai alat untuk membeli atau menjual suatu barang maupun jasa. Dengan kata lain, uang dapat 14 Ibid., hlm. 17. 12

dilakukan untuk membayar terhadap barang yang akan dibeli atau diterima sebagai akibat dari penjualan barang dan jasa. Maksudnya penggunaan uang sebagai alat tukar dapat dilakukan terhadap segala jenis barang dan jasa yang ditawarkan. b) Satuan hitung Fungsi uang sebagai satuan hitung menunjukkan nilai dari barang dan jasa yang dijual atau dibeli. Besar kecilnya nilai yang dijadikan sebagai satuan hitung dalam menentukan harga barang dan jasa secara mudah. Dengan adanya uang akan mempermudah keseragaman dalam satuan hitung. c) Penimbun kekayaan Dengan menyimpan uang berarti kita menyimpan atau menimbun kekayaan sejumlah uang yang disimpan, karena nilai uang tersebut tidak akan berubah. Uang yang disimpan menjadi kekayaan dapat berupa uang tunai atau uang yang disimpan di bank dalam bentuk rekening. Menyimpan atau memegang uang tunai di samping sebagai penimbun kekayaan juga memberikan manfaat lainnya. Memegang uang tunai biasanya memiliki beberapa tujuan seperti untuk memudahkan melakukan transaksi, berjaga-jaga atau melakukan spekulasi. Kemudian dengan menyimpan uang di bank justru akan menambah kekayaan karena akan memperoleh uang jasa berupa bunga. 13

d) Standar pencicilan utang Dengan adanya uang akan mempermudah menentukan standar pencicilan utang piutang secara tepat dan cepat, baik secara tunai maupun secara angsuran. Begitu pula dengan adanya uang, secara mudah dapat ditentukan berapa besar nilai utang piutang yang harus diterima atau di bayar sekarang atau di masa yang akan datang. 3. Pengertian Pemalsuan Uang Pemalsuan uang adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kumpulan orang dengan cara meniru atau memalsu uang yang menghasilkan uang yang tidak asli (uang palsu). Objek dari kejahatan pemalsuan uang adalah uang kartal, yaitu mata uang dan uang kertas. Dalam KUHP, yang dimaksud dengan mata uang adalah uang yang terbuat dari bahan logam, sedangkan uang kertas merupakan uang yang terbuat dari bahan berupa kertas. Kejahatan pemalsuan uang dapat dipahami sebagai suatu bentuk penyerangan terhadap kepentingan hukum atas kepercayaan terhadap uang sebagai alat pembayaran yang sah. 15 Masyarakat sebagai pengguna uang harus memperoleh jaminan akan keaslian uang yang mereka gunakan sebagai alat pembayaran, untuk itulah kejahatan pemalsuan uang diatur dalam hukum pidana Indonesia. 15 Adami Chazawi, op.cit., hlm. 21. 14

G. Metode Penelitian Dalam penyusunan serta penulisan suatu karya ilmiah atau skripsi haruslah didukung dengan bukti, data, dan fakta yang akurat. Metode penelitian yang penulis pergunakan dalam skripsi ini adalah yuridis normatif, yaitu penelitian hukum dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. 1. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penulisan suatu karya ilmiah atau skripsi dapat dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Pada skripsi ini, penulis memilih pengumpulan data dengan cara penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan, adalah teknik penelitian dengan cara mengumpulkan data dari buku-buku, peraturan perundang-undangan, majalah, makalah, serta internet, yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti. 2. Sumber Data a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan hukum berupa Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang dan peraturan hukum lain yang tingkatannya berada di bawah Undang Undang. b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan hukum berupa buku, hasil penelitian, laporan-laporan, artikel, majalah, jurnal, hasil-hasil seminar, dan situs internet yang dapat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer. c. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan primer dan sekunder seperti kamus, ensiklopedia, dan lain-lain. 15

3. Analisis Data Data sekunder yang telah diperoleh kemudian dianalisa secara kualitatif, yaitu semaksimal mungkin memakai bahan-bahan yang ada berdasarkan asasasas, pengertian, serta sumber-sumber hukum yang ada untuk mencapai kejelasan dari permasalahan yang akan dibahas. H. Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN Bab ini menguraikan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II : PERATURAN-PERATURAN HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG Bab ini menguraikan penjelasan mengenai peraturan hukum yang terkait dengan tindak pidana pemalsuan uang, baik yang di atur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), juga yang di atur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Bab ini juga memuat bahasan tentang perbedaan antara kedua peraturan hukum tersebut. 16

BAB III : PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN SANKSI PADA TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG (STUDI PUTUSAN NO. 1129/PID.SUS/2013/PN.JKT.TIM) Bab ini menguraikan sebuah putusan pengadilan terkait tindak pidana pemalsuan uang (Putusan No. 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim) dan analisa terhadap pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi pada kasus tindak pidana pemalsuan uang tersebut. BAB IV : PENUTUP Bab ini merupakan bab terakhir yang menguraikan tentang inti dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya dalam bentuk kesimpulan dan saran. 17