Pipintri Margiluruswati*, L.I.Irmawati*

dokumen-dokumen yang mirip
WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP RAWAT JALAN DI DEPO FARMASI RSUD GUNUNG JATI KOTA CIREBON TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN. derajat kesehatan masyarakat dapat tercapai. Dalam meningkatkan kualitas

Volume VII Nomor 1, Februari 2017 ISSN: Latar Belakang

EVALUASI PELAKSANAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) FARMASI KATEGORI LAMA WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD KOTA SALATIGA

Natural Science: Journal of Science and Technology ISSN-p : Vol 6(2) : (Agustus 2017) ISSN-e :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB VI HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 52 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004

JANGKA WAKTU YANG DIPERLUKAN PASIEN UNTUK PELAYANAN DI BAGIAN RAWAT JALAN PADA RUMAH SAKIT PEMERINTAH DI SEMARANG

ANALISIS KEPUASAN PASIEN TERHADAP STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS SEMPAJA SAMARINDA

GAMBARAN PENGETAHUAN, MASA KERJA PETUGAS DAN WAKTU TUNGGU PASIEN RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RSUD SURAKARTA TAHUN 2013 ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan memiliki peran sangat strategis dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam hal ini memerlukan suatu variabel yang dapat digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan dan peningkatan jasa pelayanan kesehatan dalam sebuah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, memiliki peran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO. KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan jasa yang sama secara berulang dan membuat komitmen untuk. merekomendasikannya secara positif kepada orang terdekatnya.

IJMS Indonesian Journal On Medical Science Volume 3 No 1 - Januari 2016

ANALISIS WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP PASIEN RAWAT JALAN DI DEPO FARMASI GEDUNG MCEB RS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

EVALUASI KINERJA INSTALASI FARMASI DI RSUD DR. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN ATAS PELAYANAN PASIEN RAWAT JALAN PERIODE MEI - JULI 2016

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Jurnal Keperawatan, Volume X, No. 1, April 2014 ISSN

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT. Rumah sakit merupakan suatu unit yang mempunyai organisasi teratur,

BAB 3 ANALISA KECENDERUNGAN INTERNAL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. oleh rumah sakit adalah kepuasan pelanggan agar dapat bertahan, bersaing,

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PROFIL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

EVALUASI PELAYANAN KEFARMASIAN DALAM PENDISTRIBUSIAN SEDIAAN FARMASI DI INSTALASI FARMASI RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO

BAB I PENDAHULUAN. dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan

BAB 1 : PENDAHULUAN. yaitu pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. (1,2)

TINJAUAN FAKTOR PENYEBAB WAKTU TUNGGU PELAYANAN PENDAFTARAN PASIEN UMUM RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SRAGEN

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Rumah sakit

TINJAUAN PROSEDUR PELEPASAN INFORMASI MEDIS DALAM MENJAGA ASPEK KERAHASIAN REKAM MEDIS DI RSUD dr. DARSONO KABUPATEN PACITAN

RE- DESIGN PELAYANAN FARMASI RAWAT JALAN DENGAN METODE LEAN PROCESS

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Hospital Public Training Schedule

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kejadian pulang paksa di kasus rawat inap di RSUD Praya Kabupaten Lombok Tengah pada tahun 2006 sekitar 5,4% dari sedangkan pada tahun 2011 di

BAB I PENDAHULUAN. Organisasi merupakan koordinasi yang rasional dari aktivitas. sejumlah individu untuk mencapai beberapa tujuan yang jelas melalui

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dokumen Rekam Medis Pasien Rawat Jalan Lama Di RSUD H. DAMANHURI BARABAI Tahun 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

RUMAH SAKIT. Oleh: Diana Holidah, M.Farm., Apt.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penduduk serta penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar

DAFTAR ISI PENGESAHAN SKRIPSI iii PERNYATAAN...v DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR LAMPIRAN... xiii INTISARI...

BAB III METODE PENELITIAN

PROGRAM KERJA UNIT FARMASI TAHUN 2016

HUBUNGAN WAKTU PELAYANAN REKAM MEDIS DI TPPRJ DENGAN KEPUASAN PASIEN POLIKLINIK BEDAH DI RUMAH SAKIT UMUM Dr. SAIFUL ANWAR MALANG TAHUN 2012

2 Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkot

PENERAPAN PELAYANAN FARMASI SATU PINTU DI RUMAH SAKIT

INTISARI KESESUAIAN PENULISAN RESEP DENGAN FORMULARIUM PADA PASIEN UMUM RAWAT JALAN DI RSUD SULTAN IMANUDDIN PANGKALAN BUN

PERFORMANCE BOARD RSUP FATMAWATI TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PANDUAN PENUNDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM BONTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi, telah terjadi pertumbuhan yang sangat pesat di berbagai sektor industri,

PREDIKSI KUNJUNGAN PASIEN RAWAT JALAN POLI MATA ( SEC ) TAHUN DI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia nomor 36 tahun 2014, tentang Kesehatan, adalah. setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan 1

Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas adalah unit

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit yang merupakan salah satu dari sarana kesehatan, merupakan

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

PROGRAM KERJA PENERAPAN STRATEGI DOTS

EVALUASI PELAYANAN APOTEK BERDASARKAN INDIKATOR PELAYANAN PRIMA DI KOTA MAGELANG PERIODE 2016

BAB I PENDAHULUAN. bidang jasa kesehatan dimana Rumah Sakit selalu dituntut untuk memiliki

RENCANA KERJA OPERASIONAL (RKO) PELAKSANAAN APBD TAHUN 2017 RSUD DR. MOEWARDI PROVINSI JAWA TENGAH

INTISARI GAMBARAN SISTEM DISTRIBUSI OBAT UNIT DOSE DISPENSING DI DEPO TULIP RSUD ULIN BANJARMASIN

ARTIKEL PENELITIAN EVALUASI PELAKSANAAN PELAYANAN DI INSTALASI FARMASI MENGACU PADA STANDAR PELAYANAN MINIMAL DI RSUD SAWAHLUNTO TAHUN 2012

A. Latar Belakang Masalah

ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH. Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun Oleh : REIHAN ULFAH J

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IDENTITAS RESPONDEN. No. responden Jenis Kelamin. Penyakit diderita. No Pernyataan Ya Tidak

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TINJAUAN TATA LAKSANA PELAYANAN KESEHATAN MELALUI SISTEM ASURANSI KESEHATAN DI RSUD PROF. DR. WZ. JOHANNES KUPANG TAHUN 2009

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENERIMAAN RESEP PASIEN RAWAT INAP No. Dokumen No. Revisi. Tanggal Terbit 1 September 2015

BAB 1 : PENDAHULUAN. memperoleh derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Upaya kesehatan dalam

BAB I PENDAHULUAN. 269/Menkes/Per/III/2008 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang

BAB 1 : PENDAHULUAN. dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Berlakunya Undang-Undang Nomor 14

BAB I PENDAHULUAN. peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Esa Unggul

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT DENGAN INDIKATOR PRESCRIBING PADA PUSKESMAS JAKARTA UTARA PERIODE TAHUN 2016

ANALISIS ANTRIAN PELAYANAN OBAT NON RACIKAN DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISIS PELAKSANAAN RUJUKAN RAWAT JALAN TINGKAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

EVALUASI KINERJA INSTALASI FARMASI DI RSUD DR. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN ATAS PELAYANAN PASIEN RAWAT JALAN PERIODE MEI - JULI 2016

TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN OBAT DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN MERTOYUDAN KABUPATEN MAGELANG

BAB I BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Transkripsi:

JURNAL MANAJEMEN KESEHATAN Yayasan RS. Dr. Soetomo, Volume 3, No. 1, Oktober 2017 : 115 126 ANALISIS KETEPATAN WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP PASIEN JKN DENGAN STANDAR PELAYAAN MINIMAL RUMAH SAKIT 2017 (Studi di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada) Pipintri Margiluruswati*, L.I.Irmawati* *Prodi Administrasi Rumah Sakit STIKES Yayasan RS. Dr.Soetomo, Jl. Karangmenjangan 12 Surabaya Email : pipintri07@gmail..com ABSTRAK Pada laporan tahunan Farmasi RSUD Bhakti Dharma Husada tahun 2016 terdapat waktu tunggu pelayanan resep yang belum mencapai standar pelayanan minimal (SPM), yaitu untuk resep non racikan sebanyak 49% dan resep racikan sebanyak 47,1%. Hal tersebut belum sesuai dengan dalam Kepmenkes Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketepatan waktu tunggu pelayanan resep pasien JKN dengan standar pelayanan minimal rumah sakit. Penelitian ini menggunakan metode Non Probability Accidental Sampling terhadap resep pasien rawat jalan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada. Waktu penelitian dilakukan dengan jumlah sampel 100 resep dengan 82 resep non racikan dan 18 resep racikan. Penelitian dilakukan dengan pengamatan langsung dan penghitungan lama waktu tunggu pelayanan resep non racikan dan racikan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu waktu lama tunggu pelayanan resep non racikan mempunyai presentase 0% sesuai standar dan obat dengan presentase 67% sesuai dengan standar, Kata Kunci: Standar Pelayanan Minimal, Waktu Tunggu Pelayanan Resep ABSTRACT On the annual pharmaceutical report 2016, there is a prescription waiting time that has not reached minimum servise standard. For non compounding prescription waiting time of 49% and compounding prescription waiting time of 47,1%. It is not yet compliance with the standard in Kepmenkes Number 129/Menkes/SKII/2008 about Hospital Minimun Servise Standard. Then this study aims to analyze accuracy prescription waiting time dispensing on jkn patient in hospital minimum servise standard. This research uses Non Probability Accidental Sampling method approach towards outpatient prescription of Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) at the Outpatient UPF RSUD Bhakti Dharma Husada. The research starts in June 2017 with a total 100 prescription with 82 compound medicine and 18 non compound medicine. The duration of waiting time in average of non compound with a percentage of 0% does not match the standard and compound medicine with a percentage of 67% in accordance with the standard. Keyword : Service With Minimal Standard, Prescription Waiting Time.

ANALISIS KETEPATAN WAKTU TUNGGU.(Pipintri Margiluruswati, L.I.Irmawati) PENDAHULUAN Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang- Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Pelayanan kesehatan dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan kesehatan dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Rumah Sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Untuk tercapainya pelayanan kesehatan yang bermutu, rumah sakit diharapkan mampu memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) Republik Indonesia Nomor: 129/Menkes/SKII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Pelayanan kefarmasian merupakan salah satu pelayanan kesehatan rumah sakit yang diwajibkan untuk memenuhi SPM. Sehingga salah satu cara untk memenuhi SPM adalah menyesuaikan ketepatan Pelayanan Kefarmasian dengan Standar Pelayanan Minimal yang telah ditetapkan pemerintah. Dalam Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit tahun 2008, SPM pelayanan farmasi salah satunya adalah waktu tunggu pelayanan obat jadi (non racikan) dan racikan di farmasi. Menurut Kepmenkes Republik Indonesia Nomor: 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, waktu tunggu pelayanan farmasi terbagi menjadi 2 (dua), yaitu waktu tunggu pelayanan obat jadi (non racikan) dan waktu tunggu pelayanan obat racikan. Waktu tunggu obat jadi (non racikan) adalah tenggang waktu mulai pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat jadi (non racikan) dengan standar minimal yang ditetapkan 30. Sedangkan waktu tunggu pelayanan obat racikan adalah tenggang waktu mulai pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat racikan dengan standar minimal yang ditetapkan 60. Dalam melakukan pelayanan kepada pasien, UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada dapat melayani resep pasien sebanyak 7711 dalam laporan pada Maret 2017 dan dalam peningkatan mutunya telah melakukan perhitungan waktu tunggu pelayanan obat yang wajib dilaporkan pada Kepala Instalasi Farmasi

JURNAL MANAJEMEN KESEHATAN Yayasan RS. Dr. Soetomo, Volume 3, No. 1, Oktober 2017 : 115 126 setiap 3 bulan. Sesuai pada Laporan Tahunan Farmasi RSUD Bhakti Dharma Husada Tahun 2016 yaitu pada tabel 1.1 Tabel 1. 1 Presentase Waktu Tunggu Pelayanan Resep Di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada Tahun 2016 Bulan Resep Non Racikan (%) Resep Racikan (%) 30 > 30 60 > 60 Jan 52.1 47.9 52.1 47.9 Feb 56.3 43.7 54.2 45.8 Mar 54.3 45.7 54.2 45.8 Apr 56.3 43.7 50.0 50.0 Bulan Resep Non Racikan (%) Resep Racikan (%) 30 > 30 60 > 60 Mei 50.0 50.0 52.1 47.9 Jun 48.9 51.1 53.2 46.8 Jul 45.3 54.7 52.1 47.9 Agu 45.7 54.3 45.7 54.3 Sep 40.1 59.9 43.6 56.4 Okt 50.0 50.0 50.0 50.0 Nov 50.0 50.0 76.0 24.0 Des 62.5 37.5 52.1 47.9 Rata- Rata 51.0 49.0 52.9 47.1 Sumber : Laporan Tahunan Farmasi RSUD Bhakti Dharma Husada Tahun 2016 yang diolah peneliti. Tabel 1.1 menunjukan bahwa waktu tunggu pelayanan resep non racikan > 30 sebanyak 49% dan resep racikan > 60 sebanyak 47,1%, hal tersebut tentunya belum sesuai dengan standar. Berdasar masalah diatas yang mana waktu tunggu pelayanan resep non racikan maupun resep racikan yang belum sesuai dengan SPM dalam Kepmenkes Republik Indonesia Nomor: 129/Menkes/SKII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti ketepatan waktu tunggu pelayanan resep dengan SPM rumah sakit kategori waktu tunggu pelayanan resep non racikan dan racikan di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada. METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskrptif dan pendekatan cross sectional, dengan menggunakan metode pengamatan langsung dan perhitungan lama waktu tunggu pelayanan resep non racikan dan racikan dan faktor apa saja yang menjadi penyebab lama waktu tunggu pelayanan racikan dan non racikan. Lokasi penelitian dilaksanakan pada UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada pada 16 Juni-23Juni 2017. HASIL Waktu Tunggu Pelayanan Resep di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada. Distribusi frekuensi diguna melihat jumlah resep non racikan dan racikan yang diteliti, yang dapat dilihat secara lebih rinci pada gambar 1.2.

ANALISIS KETEPATAN WAKTU TUNGGU.(Pipintri Margiluruswati, L.I.Irmawati) Tabel 1. 2 Waktu Tunggu Menurut Jenis Non Racikan Dan Racikan Dalam Menit di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada 2017 Jenis Resep Rerata Nilai Min Nilai Max Non 1:26:36 0:33:49 3:05:00 Racikan Racikan 1:02:32 0:28:45 1:48:45 Total Waktu Tunggu 1:22:16 0:28:45 3:05:00 Pada tabel 5.1 menunjukan bahwa waktu tunggu pelayanan resep non racikan adalah 1 jam 26 36 detik dengan waktu tunggu tercepat selama 33 49 detik dan waktu tunggu terlama mencapai 3 jam 5. Adapun untuk waktu tunggu pelayanan resep racikan menunjukan rata-rata waktu tunggu 1 jam 02 32 detik dengan waktu tunggu tercepat 28 45 detik dan waktu tunggu terlama mencapai 1 jam 48 45 detik. Distribusi Frekuensi Waktu Tunggu Pelayanan Resep Berdasar Jenis Resep Gambar 1. 1 Distribusi Frekuensi Waktu Tunggu Pelayanan Resep Berdasar Jenis Resep di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada 2017 Berdasar hasil penelitian pada gambar 1.1 didapatkan bahwa dari 100 sampel resep yang diteliti terdapat resep non racikan sebanyak 82% yang berjumlah 82 resep dan resep racikan sebanyak 18% yang berjumlah 18 resep. Jumlah dan Presentase Resep Yang Sesuai Dengan Standar Bila dikategorikan menurut standar yang telah ditetapkan dalam Kepmenkes Republik Indonesia Nomor: 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Adapun waktu tunggu pelayanan resep yang sesuai dengan standar dapat dilihat pada tabel 1.3. Tabel 1. 3 Jumlah Presentase Resep Yang Sesuai Dengan Standar di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada 2017 Jenis Resep Tidak Sesuai Standar Sesuai Standar Jumlah N % n % Resep Non Racikan 82 100% 0 0% 82 Racikan 6 33% 12 67% 18 Total 88 12 88% 12% 100 Keterangan: n=jumlah, %=persen Racikan 18% Non Racikan 82%

JURNAL MANAJEMEN KESEHATAN Yayasan RS. Dr. Soetomo, Volume 3, No. 1, Oktober 2017 : 115 126 Pada tabel 1.3 menunjukan bahwa jika waktu tunggu pelayanan resep disesuaikan dengan Standar Kepmenkes, waktu tunggu pelayanan resep non racikan yang sesuai dengan standar yaitu 30 adalah 0% dan untuk waktu tunggu pelayanan resep racikan yang sesuai standar yaitu 60 adalah 67%. Kesesuaian Alur Pelayanan Resep Setelah melakukan pengamatan dalam penelitian di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada, didapatkan bahwa petugas UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada dalam melakukan pelayanan resep telah melakukan pelayanan sesuai dengan alur pelayanan resep yang telah diatur dalam SPO RSUD Bhakti Dharma Husada. Adapun alur pelayanan resep non racikan dimulai dari verifikasi, entry data, pengambilan obat, pemberian etiket, dan penyerahan obat. Sedangkan untuk alur pelayanan resep racikan dimulai dari verifikasi, entry data, pengambilan obat, peracikan obat, pemberian etiket, dan penyerahan obat. Waktu Tunggu Alur Pelayanan Resep Non Racikan di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada 2017 Pelayanan resep non racikan adalah pelayanan resep obat tanpa melalui proses peracikan obat. Perhitungan waktu tunggu pelayanan non racikan sendiri terdapat 2 kategori, yaitu waktu proses dan waktu jeda. Waktu proses adalah waktu yang diperlukan oleh petugas untuk melakukan pelayanan resep. Sedangkan waktu jeda adalah waktu dimana resep tidak dilakukan proses atau menunggu untuk diproses. Waktu tunggu padaalur pelayanan resep non racikan dapat dilihat pada tabel 1.4. Tabel 1. 4 Waktu Tunggu Alur Pelayanan Resep Non Racikan di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada 2017. No Tahapan Resep Non Racikan Rerata Nilai Minimum Nilai Maksimum 1 Total Waktu Proses Verifikasi 0:01:19 0:00:20 0:35:00 2 Total Waktu Jeda Verifikasi ke Entry 0:35:58 0:01:00 1:22:00 Data 3 Total Waktu Proses Entry Data 0:02:19 0:50:00 0:00:20 4 Total Waktu Jeda Entry Data ke 0:17:42 0:00:40 0:54:00 Pengambilan Resep 5 Total Waktu Pengambilan Resep 0:01:50 0:00:24 0:11:00 6 Total Waktu Jeda Pengambilan Resep 0:09:34 0:00:25 1:15:00 ke Etiket 7 Total Waktu Proses Etiket 0:03:31 0:00:47 0:12:00 8 Total Jeda Etiket ke Penyerahan Obat 0:14:51 0:00:34 0:53:00

ANALISIS KETEPATAN WAKTU TUNGGU.(Pipintri Margiluruswati, L.I.Irmawati) Pada hasil penelitian di tabel 1.4, waktu jeda yang menjadi semakin lama tunggu pelayanan resep non racikan bila dilihat berdasar waktu proses yang paling lama terdapat pada tahap proses etiket yaitu 3 34 detik, dengan waktu tercepat 47 detik dan waktu terlama adalah dikarenakan petugas mengambil resep tidak sesuai dengan urutan resep. Waktu Tunggu Alur Pelayanan Resep Racikan di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada 2017 12. Sedangkan untuk waktu jeda Pelayanan resep racikan adalah yang paling lama terjadi pada resep dari verifikasi ke entry data dengan lama 35 pelayanan resep obat yang melalui proses peracikan obat. Untuk pelayanan resep 37 detik, dengan waktu tercepat 1 racikan ada tambahan proses yaitu dan waktu terlama 1 jam 22. Adapun waktu jeda yang lain yang peracikan obat yang kegiatannya meliputi penghitungan dosis obat, meracik obat menjadi faktor semakin lamanya yang dimulai dengan menjadikan satu dan pelayanan resep non racikan yaitu, waktu jeda dari jeda pengambilan obat ke proses menghaluskan obat menggunakan blander, sampai dikemas dalam sediaan kapsul. etiket, dimana pada jeda tersebut Waktu jeda yang dimana resep menunggu mempunyai waktu nilai maksimal jeda terlama dibanding dengan nilai maksimal pada proses maupun jeda di pelayanan untuk diproses juga ikut bertambah yaitu pada tahapan jeda pengambilan obat ke peracikan obat. Perhitungan waktu tunggu resep non racikan. Waktu jeda terlama pelayanan racikan berdasar alur tersebut mencapai 1 jam 15. Berdasarkan observasi sebab dari waktu pelayanannya secara lebih rinci tersaji pada tabel 1.5. Tabel 1. 5 Waktu Tunggu Alur Pelayanan Resep Racikan di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada 2017. No Tahapan Resep Racikan Rerata Nilai Minimum Nilai Maksimum 1 Total Waktu Proses Verifikasi 0:03:26 0:00:20 0:40:00 2 Total Waktu Jeda ke Entry Data 0:23:48 0:00:30 1:07:00 3 Total Waktu Proses Entry Data 0:01:34 0:00:23 0:05:00 4 Total Waktu Jeda ke Pengambilan Obat 0:07:40 0:01:00 0:20:00 5 Total Waktu Proses Pengambilan Obat 0:02:43 0:00:40 0:10:00 6 Total Jeda ke Peracikan Obat 0:11:56 0:00:30 0:35:00 7 Total Waktu Proses Peracikan Obat 0:07:57 0:03:00 0:17:00 8 Total Waktu Jeda ke Etiket 0:02:50 0:00:20 0:17:00 9 Total Waktu Proses Etiket 0:02:47 0:01:00 0:06:00 10 Total Waktu Jeda ke Penyerahan Obat 0:08:38 0:00:30 0:42:00

JURNAL MANAJEMEN KESEHATAN Yayasan RS. Dr. Soetomo, Volume 3, No. 1, Oktober 2017 : 115 126 Pada tabel 1.5, waktu tunggu pelayanan resep racikan bila dilihat berdasar prosesnya maka waktu tunggu paling lama adalah pada proses peracikan yaitu 7 57 detik, dengan waktu tercepat 3 dan waktu terlama 17. Sedangkan waktu jeda paling lama terjadi pada jeda ke entry data dengan lama 23 48 detik, dengan waktu tercepat 30 detik dan waktu terlama 1 jam 07. Sumber Daya Manusia di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada 2017. Sumber Daya Manusia (SDM) yang terdapat di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada berjumlah 11 orang yang terdiri dari 3 Apoteker, 7 Asisten. Dari SDM jumlah tersebut telah sesuai dengan jumlah SDM pada Permenkes Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Berdasar PP Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, jika disesuaikan dengan pendidikan, baik Apoteker maupun Asisten Apoteker sudah sesuai dengan peraturan tersebut. Keberadaan pekarya juga telah sesuai dalam Permenkes Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Ketersediaan Obat dan Peralatan Penunjang Ketersediaan obat berdasar sampel yang telah di teliti di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada yaitu semua obat yang dibutuhkan tersedia. Sedangkan untuk peralatan penunjang yang digunakan pada kegiatan kefarmasian, khususnya pada proses peracikan obat yaitu berupa 1 timbangan manual, 1 mesin blander dengan 3 wadah blander, dan 1 mesin pengemas puyer. PEMBAHASAN 1. Waktu Tunggu Pelayanan Resep Alur pelayanan resep kepada pasien JKN di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada telah diatur dalam SPO Nomor Dokumen BDH/03.1.13./SPO/135 tentang Prosedur Pelayanan Obat Bagi Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Instalasi Rawat Jalan, sedangkan untuk resep obat racikan diatur secara terpisah pada SPO Nomor Dokumen: BDH/03.1.13/SPO/130 tentang Prosedur Pelayanan Obat Racikan. Berdasar hasil penelitian, petugas di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada dalam melakukan pelayanan resep baik non racikan maupun racikan telah sesuai dengan SPO yang berlaku. Dari hasil penelitian, waktu tunggu pelayanan resep yang meliputi resep non racikan maupun racikan. waktu tunggu

ANALISIS KETEPATAN WAKTU TUNGGU.(Pipintri Margiluruswati, L.I.Irmawati) pelayanan resep non racikan memiliki ratarata 1 jam 26 36 detik. Sedangkan untuk waktu tunggu pelayanan resep racikan sendiri memiliki rata-rata waktu tunggu 1 jam 02 32 detik Berdasar hasil tersebut, jika lamanya waktu tunggu pelayanan resep disesuaikan dengan Kepmenkes Republik Indonesia Nomor: 129/Menkes/SKII/2008 tentang SPM Rumah Sakit kategori Pelayanan Kefarmasian yaitu waktu tunggu pelayanan resep. Waktu tunggu pelayanan resep non racikan adalah tenggang waktu mulai pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat jadi (non racikan) dengan standar minimal yang ditetapkan 30. Sedangkan waktu tunggu pelayanan obat racikan adalah tenggang waktu mulai pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat racikan dengan standar minimal yang ditetapkan 60. Jika disesuaikan antara waktu tunggu pelayanan resep di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada dengan standar tersebut didapatkan hasil bahwa waktu tunggu pelayanan resep yang belum sesuai dengan Standar Kepmenkes Republik Indonesia Nomor: 129/Menkes/SKII/2008. Resep non racikan mempunyai angka ketidaksesuain sebanyak 100% dan untuk resep racikan yang tidak sesuai dengan standar sebanyak 33%. Sebab dari tidak sesuainya waktu tunggu pelayanan resep dengan SPM pada tiap jenis resep mempunyai sebab yang berbeda. Untuk waktu tunggu pelayanan resep non racikan, faktor yang mengakibatkan semakin lamanya pelayanan resep yaitu terdapat pada proses etiket dengan rata-rata 03 31 detik dengan proses etiket tercepat 47 detik dan proses etiket terlama 12. Waktu yang diperlukan dalam proses etiket dapat semakin lama dikarenakan petugas etiket harus menuliskan aturan pakai pada obat sesuai dengan resep pengisian pada KCO pasien. Hal-hal yang perlu ditulis petugas dalam KCO pasien meliputi: identitas pasien (nama pasien, dan nomor rekam medis), tanggal pengambilan obat, asal poliklinik, dokter yang melayani, resep obat, tanggal kembali priksa, dan/atau tanggal ke laboratorium. Waktu tunggu pelayanan resep non racikan yang juga belum sepenuhnya sesuai dengan standar juga disebabkan juga oleh waktu jeda dari proses verifikasi ke proses entry data, yang mempunyai rata-rata waktu tunggu 35 58 detik dengan waktu jeda tercepat 1 dan jeda terlama 1 jam 22. Waktu jeda dari proses verifikasi ke proses entry data yang lama terjadi karena pengerjaan dari proses verifikasi lebih cepat daripada proses entry data. Adapun waktu jeda yang lain yang menjadi faktor semakin lamanya

JURNAL MANAJEMEN KESEHATAN Yayasan RS. Dr. Soetomo, Volume 3, No. 1, Oktober 2017 : 115 126 pelayanan resep non racikan yaitu, waktu jeda dari jeda pengambilan obat ke proses etiket, dimana pada jeda tersebut mempunyai waktu nilai maksimal jeda terlama dibanding dengan nilai maksimal pada proses maupun jeda di pelayanan resep non racikan. Sebab dari waktu jeda yang menjadi semakin lama dikarenakan kurang disiplinnya petugas dalam manajemen urutan nomor resep. Untuk waktu tunggu pelayanan resep racikan yang memiliki rata-rata waktu tunggu 1 jam 02 32 detik. Adapun dalam tahap pelayanan resep racikan yang memerlukan waktu paling lama yang pertama adalah pada tahap proses peracikan. Proses peracikan yang memiliki rata-rata pelayanan selama 7 57 detik. Faktor penyebab proses peracikan menjadi proses yang paling lama karena peralatan penunjang yang digunakan saat memasukan obat yang telah diracik ke dalam kapsul meenggunakan alat yang sederhana. Tahap pelayanan resep yang menjadi penyebab lamanya waktu tunggu pelayanan resep racikan yang kedua adalah tahap jeda dari verifikasi ke entry data, yang mana pada tahap ini juga menjadi tahap jeda paling lama di pelayanan resep non racikan. Rata-rata jeda verifikasi ke entry data adalah 23 48 detik, dengan waktu jeda tercepat 30 detik dan waktu jeda terlama 1 jam 07 detik. Ketidaksesuaian waktu tunggu pelayanan resep dengan standar yang ada mengakibatkan waktu yang dibutuhkan oleh pasien untuk mendapatkan obatnya menjadi semakin lama. Hal tersebut dapat mengakibatkan ketidakpuasan pasien dan dapat menurunkan mutu pada pelayanan. Jika tidak dilakukan evaluasi mengenai perbaikan kualitas mutu pelayanan yang sesuai dengan target yang ditetapkan dapat menurunkan mutu dan citra rumah sakit. Sumber Daya Manusia Berdasar penelitian yang telah dilakukan terhadap sumber daya manusia (SDM) di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada. Didapatkan hasil bahwa jumlah SDM yang tersedia yaitu 11 SDM, yang terdiri dari 3 Apoteker, 7 Asisten Apoteker, dan 1 Petugas Pekarya. Dari jumlah SDM tersebut jika disesuaikan dengan Permenkes Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, bahwa rumah sakit tipe C dalam pelayanan kefarmasian rawat jalan harus memiliki 2 apoteker yang dalam Instrumen Self Assesment Izin Operasional Rumah Sakit Tipe C. Maka hasil yang didapat adalah sesuai. Selanjutnya untuk tenaga teknis kefarmasian yang berjumlah 7 Asisten Apoteker dan 1 petugas Pekarya, jumlah ideal yang dibutuhkan yang sesuai dengan peraturan diatur dalam Permenkes Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014

ANALISIS KETEPATAN WAKTU TUNGGU.(Pipintri Margiluruswati, L.I.Irmawati) tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit pasal 45. Jika melihat kompetensi SDM UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada berdasar pendidikan terakhir dan jabatannya, hasil penelitian yang didapatkan adalah sesuai. Peraturan mengenai kompetensi dari apoteker dan tenaga teknis kefarmasian, yaitu PP Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Sedangkan untuk pekarya diatur dalam Permenkes Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Ketersediaan Obat dan Peralatan Penunjang Ketersediaan Obat di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada berdasar penelitian, didapatkan bahwa pada semua sampel yang diteliti menghasilkan semua obat tersedia. Peralatan penunjang yang digunakan untuk mendukung kegiatan kefarmasian di UPF Rawat Jalan Bhakti Dharma Husada, berdasar penelitian terdapat alat yang berupa 1 timbangan manual, 1 mesin blander dengan 3 wadah blander, dan 1 mesin pengemas puyer. Dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit dinyatakan bahwa Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan peralatan. Persyaratan kefarmasian harus menjamin ketersediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang bermutu, bermanfaat, aman, dan terjangkau. Serta Fasilitas peralatan harus memenuhi syarat terutama untuk perlengkapan peracikan dan penyiapan baik untuk sediaan steril, non steril, maupun cair untuk obat luar atau dalam. SIMPULAN Presentase kesesuaian dengan SPM pada waktu tunggu pelayanan resep non racikan sebesar 0% dan waktu tunggu pelayanan resep racikan sebesar 67%. Alur pelayanan resep telah dilakukan sesuai dengan SPO. Pada alur pelayanan resep non racikan, proses pelayanan yang paling lama terdapat di proses pelayanan etiket dan jeda pelayanan paling lama terdapat di jeda dari proses verifikasi ke proses entry data. Pada alur pelayanan resep racikan, proses pelayanan yang paling lama terdapat di proses pelayanan peracikan obat dan jeda pelayanan paling lama terdapat di jeda dari peracikan obat ke proses etiket. Jumlah SDM UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada saat ini telah

JURNAL MANAJEMEN KESEHATAN Yayasan RS. Dr. Soetomo, Volume 3, No. 1, Oktober 2017 : 115 126 sesuai Instrument Self Assessment Izin Operasional Kelas C pada persyaratan SDM pelayanan kefarmasian. Untuk perhitungan Asisten Apoteker maupun Pekarya, jumlahnya dihitung secara khusus sesuai kebutuhan beban kerja. Ketersediaan obat di UPF Rawat Jalan RSUD Bhakti Dharma Husada tersedia untuk seluruh resep. Serta peralatan penunjang yang tersedia berupa meliputi 1 timbangan manual, 1 mesin blander dengan 3 wadah blander, dan 1 mesin pengemas obat puyer. SARAN Adanya evaluasi pada sistem pengentrian. Sehingga tidak terjadi jeda waktu dari proses verifikasi ke entry data yang lama. Mensosialisasikan standar waktu yang telah ditetapkan oleh rumah sakit, sehingga petugas dapat menjalankan tugasnya sesuai target. DAFTAR PUSTAKA Bhakti Dharma Husada, RSUD. 2016. Pedoman Pelayanan Instalasi Farmasi. Surabaya: RSUD Bhakti Dharma Husada. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 129/Menkes/SK/II/2008. Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Jakarta Keputusan Direktur RSUD Bhakti Dharma Husada Nomor 27 Tahun 2017. Tentang Kebijakan Pelayanan Kefarmasian RSUD Bhakti Dharma Husada. Surabaya. Kurniawati, H., Gilar Hapsari, Ika., Arum, Marwiani., Tantyas Aurora, Adiva., Asmaraning Wahyono, Nungky. Evaluasi Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Farmasi Kategori Waktu Tunggu Pelayanan Resep Pasien Rawat Jalan di RSUD Kota Salatiga. Kartika-Jurnal Ilmiah Farmasi, Jun 2016, 4 (1), 20-25. Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014. Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Jakarta Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016. Tentang Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah Sakit. Jakarta Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009. Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta Rusdiana, N., Wijayanti, Rahayu., Wahyuni, Sri. 2015. Kualitas Pelayanan Farmasi Berdasar Waktu Penyelesaian Resep Di Rumah Sakit. Pharmaciana, Vol 5, No.2, 2015: 169-176. Trisnantoro, L. 2009. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi Dalam Manajemen Rumah Sakit. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Septini, R. 2012. Analisis Waktu Tunggu Pelayanan Resep Pasien Askes Rawat Jalan Di Yanmasum Farmasi Di RSPAD Gatot Soebroto Tahun 2011. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok. Undang-undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2014. Tentang Tenaga Kesehatan. Jakarta Undang-undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009. Tentang Kesehatan. Jakarta

ANALISIS KETEPATAN WAKTU TUNGGU.(Pipintri Margiluruswati, L.I.Irmawati)