BAB 9 EFISIENSI ALOKASI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

dokumen-dokumen yang mirip
Asas Filsafat Nilai Dasar, Nilai Instrumental, Prinsip-prinsip, dan Faktor-Faktor Ekonomi Islam

Berikut merupakan contoh dari production possibilities Frontier

BAB 7 TEORI PENAWARAN ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. baik (thoyib) karena dalam Alquran Allah SWT telah memerintahkan kepada

BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT MUSLIM SIDOMOJO KRIAN SIDOARJO MENGENAI BUNGA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEGIATAN EKONOMI

Pendidikan Agama Islam

BAB 4 TEORI PERMINTAAN ISLAMI

S I L A B U S. 1. Tes lisan 2. Tes tulis. 1. Menelaah buku-buku terkait dasar-dasar. ekonomi Islam. 2. Dialog dengan dosen 3. Membuat resume kuliah

BAB I PENDAHULUAN. sendi kehidupan manusia termasuk masalah ekonomi. Kegiatan perekonomian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Teori Ekonomi Mikro. Teori Permintaan Konsumen: Analisis Kurva Kepuasan Sama. (Indifference Curve)

2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan

BAB 2 KONSEP KEBUTUHAN DALAM ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perbankan syariah merupakan suatu sistem perbankan yang

KONSEP DASAR EKONOMI KELEMBAGAAN SYARIAH

BAB I PENDAHULUAN. Adapun firman Allah tentang jual beli terdapat dalam QS. An-Nisa ayat 29

BAB 8 MAKSIMALISASI LABA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM (FEBI) UIN AR RANIRY

BAB 3 TEORI KONSUMSI ISLAMI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB IV TEORI PERILAKU KONSUMEN

ekonomi Kelas X TEORI PERILAKU PRODUSEN DAN KONSUMEN KTSP & K-13 A. POLA PERILAKU KONSUMEN a. Konsep Dasar Konsumsi

Keseimbangan Umum. Rus an Nasrudin. Mei Kuliah XII-2. Rus an Nasrudin (Kuliah XII-2) Keseimbangan Umum Mei / 20

Teori Barang Swasta. Materi Presentasi

Materi: VI KONSEP EKONOMI ISLAM II. Afifudin, SE., M.SA., Ak

BAB I PENDAHULUAN. pelanggan agar tidak berpindah ke perusahaan lain (Susanto, 2008:59). nyata dari sektor perbankan (Lupiyoadi dan Hamdani, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. negara membuat peraturan yang dicantumkan dalam undang-undang. Hal

RAMADAN Oleh Nurcholish Madjid

Pendidikan Agama Islam

BAB IV ANALISIS PENGEMBANGAN BISNIS MELALUI MODEL WARALABA SYARI AH DI LAUNDRY POLARIS SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. dalam rangka mengatasi krisis tersebut. Melihat kenyataan tersebut banyak para ahli

MIKROEKONOMI RESUME TEORI KESEIMBANGAN KONSUMEN

ekonomi Kelas X PELAKU KEGIATAN EKONOMI KTSP & K-13 A. RUMAH TANGGA KELUARGA a. Peran Rumah Tangga Keluarga Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan masyarakat adalah kegiatan pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam

KRITIK TERHADAP SISTEM EKONOMI KAPITALIS. Tapi Sebelumnya kita Lihat Film Dulu!

BAB IV ANALISIS TENTANG PERILAKU KONSUMSI ISLAM PEMIKIRAN MONZER KAHF. (Studi Kasus di Perumahan Taman Suko Asri Sidoarjo)

TEORI PERMINTAAN DALAM PANDANGAN ISLAM. Muhammad Farid * *IAI Syarifuddin Lumajang

PEMIKIRAN M. ABDUL MANNAN TENTANG KEBIJAKAN FISKAL DALAM EKONOMI ISLAM

SYSTEM PEMBIAYAAN PERBANKAN SYARIAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. modal, tanah dan keahlian keusahawanan (Sadono Sukirno, 2008: 193).

BAB I PENDAHULUAN. Agama Islam merupakan agama yang membawa kesejahteraan, kedamaian,

Pendidikan Agama Islam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MENERAPKAN EKONOMI ISLAM DENGAN PENDEKATAN EKONOMI PANCASILA: CARI JITU MENUJU INDONESIA PUSAT EKONOMI DAN KEUANGAN SYARIAH DUNIA TAHUN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KESEIMBANGAN PASAR (MARKET EQUILIBRIUM)

L/O/G/O TEORI PERILAKU KONSUMEN

REVIEW. Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM kelas PKK. Dr. Dede Abdul Fatah, M.Si. Modul ke: Fakultas EKONOMI. Program Studi AKUNTANSI

Pertemuan Ke 4. Teori Tingkah Laku Konsumen

Teori Perilaku Konsumen Ordinal Utility

Dasar-dasar Ilmu Ekonomi. Pertemuan 1

BAB 5 TEORI PRODUKSI ISLAMI

KONSEP UTANG DAN MODAL DALAM ISLAM. Elis Mediawati, S.Pd.,S.E.,M.Si.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

II. PARETO OPTIMALITY (PO) & CRITERION (PC)

UJIAN AKHIR SEMESTER 1 SEKOLAH MENENGAH TAHUN AJARAN 2014/2015 Nama : Mata Pelajaran : Ekonomi

RIBA DAN BUNGA BANK Oleh _Leyla Fajri Hal. 1

Menyelesaikan Masalah Kemiskinan Melalui Distribusi yang Adil

BAB V PEMBAHASAN. A. Pengaruh Perilaku Pemimpin dan Kompensasi Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Secara Simultan (Uji F)

BAB 1 PENDAHULUAN. itu juga berfungsi sebagai dana masyarakat yang dimanfaatkan untuk kepentingan

Rangkuman Ekonomi. By Shanisa Rahmaputri D X-IIS 1

TEORI KESEIMBANGAN UMUM DAN KESEJAHTERAAN EKONOMI

BAB IV ANALISIS DATA. Yogyakarta, 2008, hlm Dimyauddin Djuwaini, Pengantar fiqh Muamalah, Gema Insani,

BAB IV ANALISIS KOMPARATIF TENTANG KONSEP KONSUMSI DALAM PANDANGAN EKONOMI ISLAM DAN KONVENSIONAL

BAB 1 PENDAHULUAN. perhatian yang cukup serius dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin

Kelompok Azizatul Mar ati ( ) 2. Nur Ihsani Rahmawati ( ) 3. Nurul Fitria Febrianti ( )

BAB I PENDAHULUAN. hubungan manusia dengan Tuhannya. Ibadah juga merupakan sarana untuk

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN TABUNGAN PAKET LEBARAN DI KJKS BMT-UGT SIDOGIRI CABANG SURABAYA

BAB 1 PENDAHULUAN. potensi kerja pada manusia serta menurunkan Islam untuk membuka mata

BAB I PENDAHULUAN. masih banyak kita saksikan. Sebagian masyarakat hidup dalam serba kekurangan,

BAB 1 PENDAHULUAN. Ekonosia, 2003, h Heri Sudarsono, Bank dan lembaga keuangan Syariah, Yogyakarta:

BAB I PENDAHULUAN. dalam ajaran islam tidak hanya dalam persoalan aqidah, tauhid. persoalan hubungan antar sesama manusia (muamalat).

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB

BAB 2 ISLAM DAN SYARIAH ISLAM OLEH : SUNARYO,SE, C.MM. Islam dan Syariah Islam - Sunaryo, SE, C.MM

BAB I PENDAHULUAN. segala isinya adalah merupakan amanah Allah SWT yang diberikan kepada manusia

BAB I PENDAHULUAN. minallah atau dimensi vertikal dan hablum minannas atau dimensi horizontal.

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB

BAB IV ANALISIS. juga merupakan kepentingan untuk kesejahteraan umat Islam pada umumnya

Modul 4. Teori Perilaku Konsumen

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENGALIHAN DANA TABARRU UNTUK MENUTUP KREDIT MACET DI KJKS SARI ANAS SEMOLOWARU SURABAYA

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. mempermudah proses transaksi jual beli. Harga juga berpengaruh dalam

BAB I PENDAHULUAN. Perbankan adalah salah satu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama

TEORI KONSUMSI (PERILAKU KONSUMEN)

POLA KEGIATAN PEREKONOMIAN

BAB I PENDAHULUAN. jangan beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu. Dan juga Ibn. Abbas r.a dalam Laroche (1996) mengatakan bahwa:

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. dilakukan oleh para peneliti terdahulu. Alitasari (2014), teknik analisis yang

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT MELALUI LAYANAN M-ZAKAT DI PKPU (POS KEADILAN PEDULI UMAT) SURABAYA

RAMADAN Oleh Nurcholish Madjid

Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan urusan kami (tidak ada contohnya) maka (amalan tersebut) tertolak (Riwayat Muslim)

PUSAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PENDIDIKAN

Transkripsi:

BAB 9 EFISIENSI ALOKASI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN A. Pendahuluan Dalam kehidupan ekonomi, masyarakat distribusi pendapatan sangatlah penting untuk di perhatikan. Sehingga suatu ekonomi dapat di alokasikan secara efisien oleh individu.bagaimana suatu individu dapat mengalokasikan sumber daya secara efisien di dapatkan ketika individu mencapai titik kepuasan maksimal. Yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain. Islam telah mengatur norma-norma tentang efisiensi alokasi dan distribusi pendapatan.norma-norma inilah yang membedakan dengan konsep konvensional. Dalam islam memandang konsep kepemilikan adalah suatu hal yang sah namun kepemilikan kekayaan oleh individu sebagian adalah milik orang lain. Jadi, maksud dari penjelasan di atas adalah di mana sebelum individu mengalokasikan dan Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 118

mendistribusikan sumber daya yang di miliki seharusnya terlebih dahulu memikirkan kemaslahatan orang lain, bukan untuk kepentingan pribadi. Begitu juga dalam bab yang akan kami bahas selanjutnya mengenai bagaimana hal-hal yang perlu di perhatikan dalam efisiensi alokasi dan distribusi pendapatan yang sesuai dengan dengan pandangan islami. Islam mengatur bagaimana cara-cara alokasi distribusi pendapatan yang efisien dan juga tidak keluar dari koridor syariah. Karena ketidakseimbangan distribusi kekayaan akan mengakibatkan konflik dalam bermasyarakat islam membimbing individu dalam menerapkan konsep moral sebagi factor penting dalam perekonomian dengan menerapakan prinsip moral dan juga kedisiplinan. Agar mencegah terjadinya ketidak adilan ekonomi dan ketimpangan social yang menjadi penyebab terpecahnya kerukunan umat islam itu sendiri. Islam telah mengatur secara jelas dan terperinci mengenai masalah tersebut. Dalam makalah kami juga akan di bahas mengenai hal-hal moral yang dapat di terapkan dalam perekonomian masyarakat. B. Konsep Moral Islam dalam Sistem Distribusi Pendapatan Distribusi merupakan suatu usaha penyaluran barang dan jasa dari konsumen kepada produsen sehingga penggunaannya sesuai dengan yang dibutuhkan. Dengan kata lain distribusi merupakan kegiatan ekonomi yang menjembatani antara produsen dengan konsumen. Berkat distribusi barang dan jasa dapat sampai ke tangan konsumen. Dengan demikian Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 119

kegunaan dari barang dan jasa akan lebih meningkat setelah dapat dikonsumsi. Distribusi dalam Islam pada hakikatnya mempertemukan kepentingan konsumen dan produsen dengan tujuan kemaslahatan umat. Pelaku distribusi kini telah menjadi pelaku ekonomi dominan di samping konsumen dan produsen. Distribusi dalam pandangan Islam didasarkan pada dua nilai manusiawi yang sangat mendasar dan penting, yaitu nilai kebebasan dan nilai keadilan. Pendapat ini didasarkan atas kenyataan bahwa Allah sebagai pemilik mutlak kekayaan telah memberi amanat kepada manusia untuk mengatur dan mengolah kekayaan disertai kewenangan untuk memiliki kekayaan tersebut. 118 Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan distribusi dalam ekonomi kapitalis terfokus pada pasca produksi, yaitu pada konsekuensi proses produksi bagi setiap proyek dalam bentuk uang ataupun nilai, lalu hasil tersebut didistribusikan pada komponen-komponen produksi yang berandil dalam memproduksinya. 119 Ada 4 bagian yang berkaitan dengan distribusi hasil produksi, yaitu: (1) upah atau gaji untuk para pekerja; (2) keuntungan sebagai imbalan modal yang dipinjam oleh pengelola proyek; (3) sewa tanah yang digunakan untuk melaksanakan proyek itu dan (4) laba bagi para manajer yang mengelola, dan mengurusi pelaksanaan proyek, dan sebagai penanggungjawabnya. 118 Muhammad, Ekonomi Mikro., hal. 317. 119 Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal. 201. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 120

Namun, untuk ke empat bagian yang berkaitan dengan distribusi diatas tidaklah selalu berjalan dengan normal. Untuk upah atau gaji yang diberikan kepada para pekerja biasanya tidak sesuai dengan apa yang mereka kerjakan atau tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka pikul. Keuntungan sebagai imbalan modal yang dipinjam oleh pengelola proyek merupakan bunga (interest on capital). Sedangkan didalam Islam sudah jelas bahwa bunga atau riba itu dilarang dan termasuk dalam kategori dosa besar. Untuk laba bagi para manajer yang mengelola, dan mengurusi pelaksanaan proyek, dan sebagai penanggung jawabnya termasuk juga dalam riba. Apabila seorang manajer memperoleh tambahan laba atau keuntungan dari hasil mengelola dan mengurusi pelaksanaan proyek maka hal itu di golongkan dalam kategori riba karena untuk manajer sudah ada gaji pokok yang diperolehnya. Hal ini yang melatarbelakangi Islam menolak dua nomor dari yang disebutkan diatas yaitu nomor dua dan empat. Berikut ini beberapa konsep Islam yang terdapat di dalam Al-Qur an yang berkaitan dengan distribusi pendapatan: 1. Kedudukan manusia yang berbeda antara satu dengan yang lain merupakan kehendak Allah. 120 Di dalam Al-Qur an telah di jelaskan dalam surat al- An am (6) ayat 165 yang berbunyi: 120 Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Ekonisia, 2007), hal. 232 Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 121

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasapenguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Qs. Al-an am: 165) 121 Allah telah menciptakan makhluknya sebagai pemimpin di muka bumi dan Allah yang telah menjadikan derajat manusia berbeda-beda, ada yang kaya dan ada pula yang miskin supaya hal itu dapat dijadikan sebagai suatu ujian, lalu Allah memberikan balasan atas amal yang dilakukan di dunia. Sehingga manusia tidak dapat menentukan dirinya berada dalam posisi yang lebih tinggi atau lebih rendah, karena yang menentukan hanyalah Allah. Pemilikan harta pada hanya beberapa orang dalam suatu masyarakat akan menimbulkan ketidakseimbangan hidup dan preseden/kejadian 121Departemen Agama RI, Al-Qur an, hal.202. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 122

buruk bagi kehidupan. 122 Hal tersebut sudah dijelaskan dalam Al-Qur an QS. Huud: 116 Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. 123 Dalam ayat diatas disebutkan dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orangorang yang berdosa. Apabila dalam suatu masyarakat terdapat kejadian yang demikian, orang yang mampu merendahkan orang yang kurang mampu, maka akan mengakibatkan orang yang tidak mampu tersebut menjadi rendah diri. Dan akan terjadi sifat yang tidak syukur nikmat. 122 Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam,... hal. 232. 123 Departemen Agama RI, Al-Qur an, hal.315. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 123

Sehingga dalam hal ini diperlukan adanya distribusi. 2. Pemerintah dan masyarakat mempunyai peran penting untuk mendistribusikan kekayaan kepada masyarakat. Hal tersebut juga telah dijelaskan dalam QS. Adz Dzariyat ayat 19 yang berbunyi: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian. 124 Pemerintah tentunya juga memiliki peranan penting dalam hal pendistribusian kekayaan kepada masyarakat. Karena seperti yang telah diterangkan oleh ayat di atas bahwa di dalam harta-harta mereka ada hak orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian atau orang miskin yang malu untuk meminta-minta. 3. Islam menganjurkan untuk membagikan harta lewat zakat, sedekah, infaq dan lainnya guna menjaga keharmonisan dalam kehidupan sosial. 125 Terdapat dalam QS. Al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi: 124 Departemen Agama RI, Al-Qur an, hal.753 125 Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam,... hal. 232. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 124

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kotakota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orangorang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman- Nya. 126 Allah menganjurkan bagi orang-orang yang mampu atau orang kaya untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang kurang mampu melalui zakat, infaq dan shadaqah agar terjadi keseimbangan antara keduanya sehingga harta tidak beredar di kalangan orang kaya saja. 126 Departemen Agama RI, Al-Qur an, hal.797. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 125

C. Pertukaran dan Keseimbangan Konsumsi antar Individu Pada pertukaran dan keseimbangan konsumsi antar individu dapat kita asumsikan pada dua individu yang mengonsumsi dua macam komoditas yang total penawarannya tetap. Dapat dilihat pada gambar 9.1, panel (a) dan (b) adalah ruang konsumsi untuk masingmasing individu. Titik origin atau titik awal konsumsi untuk individu A kita sebut OA dan untuk individu B kita sebut saja dengan OB. Untuk memperoleh keseimbangan antar individu, maka kita gabungkan kedua ruang konsumsi tersebut. Caranya adalah dengan memutar ruang individu 2 hingga 180 0, maka kita akan mnedapatkan sebuah kotak yang berisikan ruang konsumsi untuk kedua individu. Dengan tidak mengubah titik letak origin maka kita melihat bahwa titik origin individu 2 terletak disebelah pojok kanan atas. Artinya bila tingkat konsumsi semakin jauh dari titik origin (baik OA maupun OB) maka semakin tinggi tingkat kepuasan konsumsi. Kita asumsikan ada dua komoditi yang dikonsumsi oleh individu A dan B, yaitu beras dan gandum. Jumlah konsumsi untuk beras diilustrasikan dengan garis horizontal (X) dan gandum dengan garis vertical (Y). A dan B adalah sama dengan total penawaran beras (X). Demikian pula untuk konsumsi gandum. Dalam literature kontemporer, kotak dari ruang konsumsi untuk menganalisis pertukaran dua komoditi Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 126

dari kedua individu tersebut disebut dengan Edgeworth box. 127 Individu A maupun B akan mengombinasikan kedua komoditas tersbut sesuai dengan preferensi dan endowment yang dimiliki. Kita tuliskan saja konsumsi untuk individu A adalah CA=(CA X,CA Y ), dimana CA X mempresentasikan konsumsi untuk beras (X) dan CA Y untuk konsumsi gandum (Y). Kemudian untuk individu B poin keseimbangan konsumsinya kita tuliskan CB=(CB X,CB Y ). Keadaan di mana CA dan CB adalah tingkat konsumsi yang fair maka hal inilah yang dimaksudkan dengan alokasi. Alokasi untuk konsumsi komoditas X dan Y dibatasi oleh total penawaran dari komoditas X dan Y: 128 CA X +CB X =ω...a X +ω...b X CA Y +CB Y =...ωa Y +...ωb Y Gambar 9.1 Diagram Pembentukan Edgeworth Box 127 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro.. hal. 266 128 Ibid.hal.267. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 127

Gambar 9.1 adalah ruang box yang mengilustrasikan kombinasi konsumsi kedua konsumen yang telah dilengkapi dengan kurva indifference. Perhatikan bahwa IC untuk individu A diberi tanda ICA, sedangkan untuk individu B diberi tanda ICB. Walau ICA berwujud cekung dan ICB berwujud cembung, namun kedua kurva tersebut mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk mengukur tingkat kepuasan konsumen. Untuk meningkatkan kepuasannya individu A akan Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 128

berusaha mengonsumsi pada kurva IC yang paling jauh dari titik origin A. Misalkan, ICA 2 lebih tinggi daripada ICA 1 begitu juga pada konsumen B pada kurva ICB 2 memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi dari ICB 1. Tingkat keseimbangan untuk tingkat konsumen A dan B terjadi apabila kurva ICA berpotongan atau bersinggungan dengan kurva ICB. Namun, tingkat keseimbangan tersebut belum tentu memenuhi syarat dari pareto optimal. Misalkan, titik E adalah tingkat keseimbangan kedua konsumen. Titik E dihasilkan dari perpotongan antara kurva ICA 2 untuk preferensi individu A dan kurva ICB 1. Bagi konsumen A, titik E sudah optimal, namun bagi konsumen B titik E belum optimal karena baru berada pada tingkat kepuasan ICB 1 karena tanpa mengurangi tingkat kepuasan konsumen A, konsumen B masih dapat meningkatkan tingkat kepuasannya menjadi ICB 2. Pada kurva kepuasan inilah antara konsumen B dan A akan memperoleh tingkat yang paling optimal yaitu titik E. Nah, di titik E inilah tingkat pareto optimal tercapai. 129 D. Efisiensi Alokasi Efisiensi alokasi sering disebut Pareto Efficient.Pareto adalah Ekonom Itali yang menulis konsep ini 130. Suatu alokasi dikatakan Pareto Efficient apabila barang-barang yang tidak dapat dialokasikan ulang untuk membuat keadaan seseorang lebih baik tanpa membuat keadaan orang lain lebih buruk. Dalam ekonomi konvensional 129 Ibid, hal. 267. 130 Ibid,hal. 269. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 129

keadaan ini dikenal sebagai Efficient Allocation of Goods. Yaitu alokasi barang-barang dikatakan efisien apabila tidak seorang pun dapat meningkatkan utilitynya tanpa mengurangi utility orang lain. Situasi semacam ini dianggap efisien, karena pada situasi lainnya masih terdapat peluang untuk meningkatkan kegunaan seseorang tanpa mengurangi kegunaan orang lain. Imam Ali r.a diriwayatkan pernah mengatakan Janganlah kesejahteraan salah seorang di antara kamu meningkat namun pada saat yang sama kesejahteraan yang lain menurun. Misal, Firman dan Ryan mempunyai 10 unit makanan dan 6 pakaian.awalnya Firman memiliki 7 unit makanan dan 1 unit pakaian sedangkan Ryan memiliki 3 unit makanan dan 5 pakaian.bagi Ryan, ia bersedia memberikan 3 unit pakaian untuk mendapatkan 1 unit makanan. Sedangkan bagi Firman, ia bersedia memberikan ½ unit pakaian untuk mendapatkan 1 unit makanan. Karena Firman lebih menyukai pakaian dari pada Ryan, maka keduanya dapat lebih tinggi utilitynya dengan melakukan pertukaran. Selama MRS (marginal rate of subtitusion) dari Firman dan Ryan berbeda, maka mereka akan terus melakukan pertukaran karena keduanya dapat terus meningkatkan utilitynya. Atau bisa dikatakan, selama MRS nya berbeda maka alokasi belum dikatakan efesien. Alokasi yang efesien tercapai ketika MRS setiap orang sama. E. Efisiensi dan Keadilan Efisiensi adalah perbandingan antara input dan output, di mana input digunakan setepat dan sebaik mungkin untuk memperoleh output yang terbaik. Efisiensi alokasi Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 130

menjelaskan bahwa bila semua sumber daya yang ada habis teralokasi, maka akan mencapai alokasi yang efisien. 131 Tetapi tidak dapat dikatakan bahwa alokasi tersebut adil. Para ekonom konvensional berbeda pendapat tentang distribusi yang adil : 1. Konsep Egalitarian: Barang yang diterima pada setiap orang dalam kelompok masyarakat jumlahnya sama. 2. Konsep Rawlsian: maksimalkan utility orang paling miskin (The last well off person). 3. Konsep Utilitarian: maksimalkan total utility dari setiap orang dalam kelompok masyarakat 4. Konsep Market Oriented : hasil pertukaran melalui mekanisme pasar adalah yang paling adil Dalam konsep ekonomi islam, adil adalah tidak menzalimi dan tidak dizalimi. Bisa jadi sama rasa sama rata tidak adil dalam pandangan islam karena tidak memberikan insentif bagi orang yang bekerja keras. Tidak adil dalam pandangan Islam karena orang yang endowmentnya tinggi mempunyai posisi tawar yang lebih kuat dari pada yang endowment nya kecil sehingga yang kuat dapat mendzalimi yang lemah. Lebih dari sekedar efesinsi dan keadilan, konsep ekonomi Islam juga mendorong pada upaya membesarkan endowment (meningkatkan production possibility frontier) atau dalam konteks ini membesarkan Edgeworth Box. Oleh karena itu, konsep Islam adalah mendorong terjadinya positive sum game. 131Adiwarman A Karim,Ekonomi Mikro Islam.,hal.277. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 131

Misalnya utility Firman naik 5, utility Ryan naik 5, kenaikan total utility 10. Jadi bukan hanya mempersoalkan bagaiaman kue akan akan dibagi secara adil namun bagaimana kue yang akan dibagi bertambah besar. F. Dampak Distribusi Pendapatan Dalam Islam Menurut Sudarsono dalam buku Konsep Ekonomi Islam, distribusi pendapatan merupakan bagian yang penting dalam membentuk kesejahteran. 132 Dampak dari distribusi pendapatan bukan saja pada aspek ekonomi tetapi juga aspek sosial dan politik. Dampak yang ditimbulkan dari distribusi pendapatan yang didasarkan atas konsepislam adalah sebagai berikut: 1. Dalam konsep Islam perilaku distribusi pendapatan masyarakat merupakan bagian dan bentuk proses kesadaran masyarakat dalam mendekatkan diri kepada Allah. 2. Seorang muslim akan menghindari praktek distribusi yang menggunakan barang-barang yang merusak masyarakat. 3. Negara bertanggung jawab terhadap mekanisme distribusi dengan mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan kelompok, atau golongan apalagi perorangan. 4. Negara memiliki tanggung jawab untuk menyediakan fasilitas publik, yang berhubungan 132 Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam,hal.249. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 132

dengan masalah optimalisasi distribusi pendapatan, seperti: sekolah, rumah sakit, lapangan kerja, perumahan, jalan, jembatan dan sebagainya. Efisiensi Alokasi dan Distribusi Pendapatan 133