BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
Wujud pemberdayaan masyarakat UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) Promotif, Preventif Mulai dicanangkan 1986

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

pengembangan sumber daya manusia sejak dini (Sembiring, 2004).

BUPATI MADIUN SALISSS SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 46 TAHUN 2012 TENTANG

ISSN: VOLUME XV, No. 1, 2009 LEMBAR BERITA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN DALAM NEGERI. Pos Pelayanan Terpadu. Layanan Sosial Dasar. Pedoman.

Sekilas tentang POKJANAL POSYANDU Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu, Kemenkes RI, 2011

MENINGKATKAN KESEHATAN IBU DAN ANAK MELALUI GERAKAN POSYANDU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan. diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam

BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2016 NOMOR 32 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG REVITALISASI POSYANDU

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG

Disampaikan pada : REFRESHING KADER POSYANDU Kabupaten Nias Utara Tahun 2012

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memiliki waktu untuk menyelenggarakan kegiatan Posyandu secara sukarela.

VISI Menjadikan Bogor Sebagai Kota yang Nyaman, Beriman dan Transparan

Meja 1 Pendaftaran balita, ibu hamil, ibu menyusui. Meja 4 Penyuluhan dan pelayanan gizi bagi ibu balita, ibu hamil dan ibu menyusui

PENGELOLAAN POSYANDU

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Posyandu diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat sehingga

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat bersama dengan kader dalam pembangunan kesehatan dengan

TINJAUAN PUSTAKA. mengadakan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terhadap

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja puskesmas,

Jakarta, Maret 2013 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, DR. Sudibyo Alimoeso, MA

BAB I PENDAHULUAN menjadi 228 kasus pada Angka kematian bayi menurun dari 70

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Posyandu atau Pos Pelayanan Terpadu adalah Forum Komunikasi Alih. rangka pencapaian NKKBS ( Mubarak & Chayalin, 2009).

Kurikulum dan Modul. Pelatihan. Posyandu. Ayo ke. kurmod kader final_12des12.indd 1 12/12/2012 5:17:56

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG DINAS KESEHATAN UPTD PUSKESMAS KEPANJEN Jalan Raya Jatirejoyoso No. 04 Telp. (0341) Kepanjen

Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG DESA/ KEL.. KECAMATAN... Jalan... No... Telp.(0341)... CONTOH. KEPUTUSAN DESA/ KELURAHAN... Nomor : 180/ /421.

I. PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan mempunyai visi mewujudkan masyarakat mandiri untuk

WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang dikelola dan

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat, khususnya bayi dan balita. Tujuan Posyandu adalah menunjang penurunan Angka

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

PENGUATAN KADER POSYANDU DALAM UPAYA DETEKSI DINI KESEHATAN IBU, BAYI DAN BALITA DI WILAYAH KECAMATAN TELANAIPURA KOTA JAMBI TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN. bidang kesehatan merupakan salah satu diantaranya. Tujuan pembangunan

UNIVERSITAS INDONESIA

PEDOMAN WAWANCARA. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Partisipasi kader adalah keikutsertaan kader dalam suatu kegiatan kelompok

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 27 TAHUN 2008

5) Penanggulangan diare. 6) Sanitasi dasar. 7) Penyediaan obat esensial. 5. Penyelenggaraan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk terciptanya kesadaran, kemauan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2016, No Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh masyarakat dan bekerja bersama untuk masyarakat secara sukarela (Mantra,

BAB I PENDAHULUAN. Pos pelayanan terpadu (Posyandu) merupakan bentuk partisipasi. masyarakat yang membawa arti yang sangat besar bagi kesehatan dan

WALIKOTA SINGKAWANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA SINGKAWANG NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG PERSALINAN AMAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memecahkan permasalahan-permasalahan masyarakat tersebut. Partisipasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pelayanan kesehatan masyarakat pada prinsipnya mengutamakan

Tabel 4.1 INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KERINCI TAHUN Formulasi Penghitungan Sumber Data

BUPATI SERANG PERATURAN BUPATI SERANG NOMOR 5 TAHUN 2011

d. Mendistribusikan kartu panggilan/undangan penimbangan melalui pengurus kelompok PKK RT 2. Hari Pelaksanaan Penimbangan (H) Pada hari buka Posyandu

PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

CATATAN KELUARGA CATATAN KELUARGA DARI : KRITERIA RUMAH : ANGGOTA KELOMPOK DASA WISMA : JAMBAN KELUARGA : TAHUN : SUMBER AIR :

b. Tujuan Khusus Meningkatkan cakupan hasil kegiatan Bulan Penimbangan Balita (BPB) di Puskesmas Losarang.

BAB I PENDAHULUAN. akhirnya dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Hal. masyarakat dan swasta (Depkes RI, 2005).

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MATA KULIAH. Asuhan Kebidanan Komunitas WAKTU DOSEN. Pengembangan Wahana/Forum PSM, Berperan Dalam Kegiatan TOPIK

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin, yakni movere yang. Menurut Sadirman (2007), motivasi adalah perubahan energi diri

BAB 1 PENDAHULUAN. diupayakan, diperjuangkan dan tingkatkan oleh setiap individu dan oleh seluruh

STUDI PERKEMBANGAN POSYANDU PASCA REVITALISASI POSYANDU DI WILAYAH PUSKESMAS KENJERAN SURABAYA Oleh Pipit Festy

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

Anak balitanya telah mendapatkan imunisasi BCG, DPT I dan Polio di Posyandu. Ibu ani adalah peserta asuransi kesehatan.

LAPORAN PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT YAYASAN

WALI KOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALI KOTA DEPOK NOMOR 5 TAHUN

PENGABDIAN MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENGELOLAAN POSYANDU BALITA MELALUI PERBAIKAN SISTEM ADMINISTRASI

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan ketertiban dunia yang

TINJAUAN PUSTAKA Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Faktor yang berkontribusi terhadap kejadian BGM di Provinsi Lampung

BAB 1 PENDAHULUAN. Derajat kesehatan masyarakat di Indonesia masih rendah disebabkan banyak

BAB I PENDAHULUAN. Partisipasi atau peran serta masyarakat mempunyai arti yang sangat luas, yang pada

BAB 1 PENDAHULUAN. kelangsungan hidup manusia, demikian juga halnya dengan kesehatan gigi dan

Poliklinik Kesehatan Desa

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah telah mengembangkan banyak program yang melibatkan berbagai

BAB 1 PENDAHULAN. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berdasarkan hasil Survei

RENCANA AKSI KINERJA DAERAH (RAD) DINAS KESEHATAN KABUPATEN KERINCI TAHUN Target ,10 per 1000 KH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAMPIRAN PETUNJUK PENGISIAN DATA MANUAL POSYANDU

OLEH: DODIK BRIAWAN (KULIAH PEMBEKALAN KKP ILMU GIZI, BOGOR, 5 MEI 2012) KOMPETENSI KKP/Internship (AIPGI)

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Untuk mempercepat terwujudnya masyarakat sehat, yang merupakan bagian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

VII. PERUMUSAN STRATEGI DAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DI DESA JEBED SELATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dan

GAMBARAN KEGIATAN POSYANDU DAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SILIH NARA KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2012 SKRIPSI SURYANI

BAB II KAJIAN TEORI. upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk

EVALUASI KINERJA DINAS KESEHATAN KAB. BOALEMO TAHUN 2016 KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN UNTUK MENCAPAI TARGET

KEPALA DESA KALIBENING KABUPATEN MAGELANG PERATURAN DESA KALIBENING KECAMATAN DUKUN NOMOR 07 TAHUN 2017 TENTANG

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PERBAIKAN GIZI

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KESEHATAN DI KABUPATEN SITUBONDO

BAB 1 PENDAHULUAN. hamil perlu dilakukan pelayanan antenatal secara berkesinambungan, seperti

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Posyandu 2.1.1 Pengertian Posyandu Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi (Kemenkes RI, 2011). UKBM adalah wahana pemberdayaan masyarakat, yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat, dengan bimbingan dari petugas Puskesmas, lintas sektor dan lembaga terkait lainnya. Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat non instruktif, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, agar mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi, potensi yang dimiliki, merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat (Kemenkes RI, 2011).

Selain itu Posyandu merupakan wadah pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan berbagai layanan social dasar yang meliputi paling sedikit 5 program yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), Imnuisasi, Gizi dan Penanggulangan Diare. Pelayanan ini merupakan keterpaduan dinamis yang meliputi aspek sasaran, lokasi kegiatan, petugas penyelenggaraan dan dana. Konsep Posyandu juga menekankan kemandirian dari masyarakat dalam pengelolaan Posyandu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. 2.1.2 Tujuan Dan Sasaran Posyandu Kemenkes RI (2011) menetapkan tujuan Posyandu sebagai berikut: a. Tujuan Umum Menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu(AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Anak Balita (AKABA) dan mmbudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat. b. Tujuan Khusus - Meningkatnya peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA. - Meningkatnya peran lintas sektor dalam penyelenggaraan Posyandu, terutama berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA.

- Meningkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA c. Sasaran Posyandu Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat, terutamanya: - Bayi - Anak balita - Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui - Pasangan usia subur (PUS) Selain itu ditetapkan pula fungsi dan manfaat Posyandu (Kemenkes RI, 2011), yaitu: d. Fungsi Posyandu - Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan keterampilan dari petugas kepada masayarakat dan antar sesama masyarakat dalam rangka mempercepat penurunan AKI, AKB dan AKABA. - Sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI, AKB, dan AKABA. e. Manfaat Posyandu 1. Bagi masyarakat - Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. - Memperoleh bantuan secara profesional dalam pemecahan masalah kesehatan terutama terkait kesehatan ibu dan anak.

- Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan terpadu kesehatan dan sektor lain terkait. 2. Bagi kader, pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat - Mendapatkan informasi terdahulu tentang upaya kesehatan yang terkait dengan penurunan AKI dan AKB. - Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam membantu masyarakat menyelesaikan masalah kesehatan terkait dengan penurunan AKI dan AKB. 3. Bagi Puskesmas - Optimalisasi fungsi Puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan strata pertama. - Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah kesehatan sesuai kondisi setempat. - Meningkatkan efisiensi waktu, tenaga dan dana melalui pemberian pelayanan secara terpadu. 4. Bagi sektor lain - Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah sektor terkait, utamanya yang terkait dengan upaya penurunan AKI dan AKB sesuai kondisi setempat. - Meningkatkan efisiensi melalui pemberian perlayanan secara terpadu sesuai dengan tupoksi masing-masing sektor.

2.1.3 Pengorganisasian Posyandu Pengorganisasian Posyandu merupakan kedudukan Posyandu terhadap berbagai sektor (Kemenkes RI, 2011), yaitu: 1.Kedudukan Posyandu terhadap Pemerintahan Desa/Kelurahan Pemerintahan desa/kelurahan adalah instansi pemerintah yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan di desa/kelurahan adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang secara kelembagaan dibina oleh pemerintahan desa/kelurahan. 2. Kedudukan Posyandu Terhadap Pokja Posyandu Pokja Posyandu adalah kelompok kerja yang dibentuk di desa/kelurahan, yang anggotanya terdiri dari aparat pemerintahan desa/kelurahan dan tokoh masyarakat yang bertanggung jawab membina Posyandu. Kedudukan Posyandu terhadap Pokja adalah sebagai satuan organisasi yang mendapat binaan aspek administratif, keuangan, dan program dari Pokja. 3. Kedudukan Posyandu Terhadap Berbagai UKBM UKBM adalah bentuk umum wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, yang salah satu diantaranya adalah Posyandu. Kedudukan Posyandu terhadap

UKBM dan pelbagai lembaga kemasyarakatan /LSM desa/kelurahan yang bergerak di bidang kesehatan adalah sebagai mitra. 4. Kedudukan Posyandu Terhadap Konsil Kesehatan Kecamatan Konsil Kesehatan Kecamatan adalah wadah pemberdayaan masyarakat di bidang keshatan yang dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat di kecamatan yang berfungsi menaungi dan mengkoordinir setiap Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Kedudukan Posyandu Terhadap Konsil Kesehatan Kecamatan adalah sebagai satuan organisasi yang mendapat arahan dan dukungan sumberdaya dari Konsil Kesehatan Kecamatan 5. Kedudukan Posyandu Terhadap Puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab melaksanakan pembangunan kesehatan di kecamatan. Kedudukan Posyandu terhadap Puskesmas adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang secara teknis medis dibina oleh Puskesmas. 2.1.4 Penyelenggaraan Posyandu Kegiatan rutin Posyandu diselenggarakan dan digerakkan oleh Kader Posyandu dengan bimbingan teknis dari Puskesmas dan sektor terkait. Pada saat penyelenggaraan Posyandu minimal jumlah kader adalah 5 (lima) orang. Jumlah ini sesuai dengan jumlah langkah yang dilaksanakan oleh Posyandu, yakni yang mengacu pada sistem 5 langkah.

Kegiatan yang dilaksanakan pada setiap langkah serta para penanggungjawabpelaksanaannya secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut (Kemenkes RI, 2011): Langkah Kegiatan Pelaksana Pertama Pendaftaran Kader Kedua Penimbangan Kader Ketiga Pengisian KMS Kader Keempat Penyuluhan Kader Kelima Pelayanan Kesehatan Kader atau bersama petugas kesehatan 33 Selain itu, terselenggaranya pelayanan Posyandu melibatkan banyak pihak. Adapun tugas dan tanggungjawab masing-masing pihak dalam menyelenggarakan Posyandu adalah sebagai berikut (Kemenkes RI, 2011): 1. Kader Sebelum hari buka Posyandu, antara lain: a. Menyebarluaskan hari buka Posyandu melalui pertemuan warga setempat. b. Mempersiapkan tempat pelaksanaan Posyandu. c. Mempersiapkan sarana Posyandu.

d. Melakukan pembagian tugas antar kader. e. Berkoordinasi dengan petugas kesehatan dan petugas lainnya. f. Mempersiapkan bahan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) penyuluhan. Pada hari buka Posyandu, antara lain: a. Melaksanakan pendaftaran pengunjung Posyandu. b. Melaksanakan penimbangan balita dan ibu hamil yang berkunjung ke Posyandu. c. Mencatat hasil penimbangan di buku KIA atau Kartu Menuju Sehat (KMS) dan mengisi buku registerposyandu. d. Pengukuran lingkar lengan atas (LILA) pada ibu hamil dan WUS. e. Melaksanakan kegiatan penyuluhan dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan hasil penimbangan serta memberikan PMT. f. Membantu petugas kesehatan memberikan pelayanan kesehatan dan KB sesuai kewenangannya. g. Setelah pelayanan Posyandu selesai, kader bersama petugas kesehatan melengkapi pencatatan dan membahas hasil kegiatan serta tindak lanjut. Di luar hari buka Posyandu, antara lain: a. Mengadakan pemutakhiran data sasaran Posyandu: ibu hamil, ibu nifas dan ibumenyusui serta bayi dan anak balita.

b. Membuat diagram batang (balok) SKDN tentang jumlah Semua balita yang bertempat tinggal di wilayah kerja Posyandu, jumlah balita yang mempunyai Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA, jumlah balita yang Datang pada hari buka Posyandu dan jumlah balita yang timbangan berat badannya Naik. c. Melakukan tindak lanjut terhadap sasaran yang tidak datang dan sasaran yang memerlukan penyuluhan lanjutan. d. Memberitahukan kepada kelompok sasaran agar berkunjung ke Posyandu saat hari buka. e. Melakukan kunjungan tatap muka ke tokoh masyarakat, dan menghadiri pertemuan rutin kelompok masyarakat atau organisasi keagamaan. 2. Petugas Puskesmas Kehadiran tenaga kesehatan Puskesmas yang diwajibkan di Posyandu satu kali dalam sebulan. Dengan perkataan lain kehadiran tenaga kesehatan Puskesmas tidak pada setiap hari buka Posyandu (untuk Posyandu yang buka lebih dari 1 kali dalam sebulan). Peran petugas Puskesmas pada hari buka Posyandu antara lain sebagai berikut: a. Membimbing kader dalam penyelenggaraan Posyandu. b. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan Keluarga Berencana di langkah 5 (lima). Sesuai dengan kehadiran wajib petugas Puskesmas, pelayanan kesehatan dan KB oleh petugas Puskesmas hanya diselenggarakan satu kali sebulan. Dengan perkataan lain jika hari buka Posyandu lebih dari satu kali dalam sebulan, pelayanan tersebut diselenggarakan hanya oleh kader Posyandu sesuai dengan kewenangannya.

c. Menyelenggarakan penyuluhan dan konseling kesehatan, KB dan gizi kepada pengunjung Posyandu dan masyarakat luas. d. Menganalisa hasil kegiatan Posyandu, melaporkan hasilnya kepada Puskesmas serta menyusun rencana kerja dan melaksanakan upaya perbaikan sesuai dengan kebutuhan Posyandu. e. Melakukan deteksi dini tanda bahaya umum terhadap Ibu Hamil, bayi dan anak balita serta melakukan rujukan ke Puskesmas apabila dibutuhkan. 3. Stakeholder (Unsur Pembina dan Penggerak Terkait) a. Camat, selaku penanggung jawab Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Posyandu kecamatan: 1) Mengkoordinasikan hasil kegiatan dan tindak lanjut kegiatan Posyandu. 2) Memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan kinerja Posyandu. 3) Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Posyandu secara teratur. b. Lurah/Kepala Desa atau sebutan lain, selaku penanggung jawab Pokja Posyandu desa/kelurahan: 1) Memberikan dukungan kebijakan, sarana dan dana untuk penyelenggaraan Posyandu. 2) Mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk dapat hadir pada hari buka Posyandu

3) Mengkoordinasikan peran kader Posyandu, pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan Posyandu. 4) Menindaklanjuti hasil kegiatan Posyandu bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Lembaga Kemasyarakatan atau sebutan lainnya. 5) Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Posyandu secara teratur. c. Instansi/Lembaga Terkait: 1) Badan / Kantor / Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) berperan dalam fungsi koordinasi penyelenggaraan pembinaan, penggerakan peran serta masyarakat, pengembangan jaringan kemitraan, pengembangan metode pendampingan masyarakat, teknis advokasi, fasilitasi, pemantauan dan sebagainya. 2) Dinas Kesehatan, berperan dalam membantu pemenuhan pelayanan sarana dan prasarana kesehatan (pengadaan alat timbangan, distribusi Buku KIA atau KMS, obatobatan dan vitamin) serta dukungan bimbingan tenaga teknis kesehatan. 3) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KB di Provinsi dan Kabupaten/Kota, berperan dalam penyuluhan, penggerakan peran serta masyarakat melalui Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Lansia (BKL). 4) Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BAPPEDA), berperan dalam koordinasi perencanaan umum, dukungan program dan anggaran serta evaluasi. 5) Kantor Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan Unit Kegiatan Masyarakat (UKM), Dinas Perdagangan dan sebagainya, berperan

dalam mendukung teknis operasional Posyandu sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. d. Kelompok Kerja (Pokja) Posyandu: 1) Mengelola berbagai data dan informasi yang berkaitan dengan kegiatan Posyandu. 2) Menyusun rencana kegiatan tahunan dan mengupayakan adanya sumber-sumber pendanaan untuk mendukung kegiatan pembinaan Posyandu. 3) Melakukan analisis masalah pelaksanaan program berdasarkan alternatif pemecahan masalah sesuai dengan potensi dan kebutuhan desa/kelurahan. 4) Melakukan bimbingan dan pembinaan, fasilitasi, pamantauan dan evaluasi terhadap pengelolaan kegiatan dan kinerja kader Posyandu secara berkesinambungan. 5) Menggerakkan dan mengembangkan partisipasi, gotong royong, dan swadaya masyarakat dalam mengembangkan Posyandu. 6) Mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan. 7) Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan Posyandu kepada Kepala Desa/Lurah dan Ketua Pokjanal Posyandu Kecamatan. 2.2Kegiatan Posyandu Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan / pilihan. Secara rinci kegiatan Posyandu adalah sebagai berikut (Kemenkes RI, 2011):

A. Kegiatan Utama 1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) a. Ibu Hamil Pelayanan yang diberikan untuk ibu hamil mencakup: 1) Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan, pengukuran tekanan darah, pemantauan nilai status gizi (pengukuran lingkar lengan atas), pemberian tablet besi, pemberian imunisasi Tetanus Toksoid, pemeriksaan tinggi fundus uteri, temu wicara (konseling) termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dibantu oleh kader. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas. 2) Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil, perlu diselengarakan Kelas Ibu Hamil pada setiap hari buka Posyandu atau pada hari lain sesuai dengan kesepakatan. Kegaiatan Kelas Ibu Hamil antara lain sebagai berikut: a) Penyuluhan; tanda bahaya pada ibu hamil, persiapan persalinan, persiapan menyusui, KB dan gizi. b) Perawatan payudara dan pemberian ASI c) Peragaan pola makan ibu hamil d) Perawatan bayi baru lahir e) Senam ibu hamil b. Ibu Nifas dan Menyusui Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui mencakup:

1) Penyuluhan/konseling kesehatan, KB Pasca persalinan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI eksklusif dan gizi 2) Pemberian kapsul vitamin A warna merah 200.000 SI (1 kapsul segera setelah melahirkan dan kapsul lagi 24 jam setelah pemberian kapsul pertama). 3) Perawatan payudara 4) Dilakukan pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan payudara, pemeriksaan fundus uteri (rahim) dan pemeriksaan lochia oleh petugas kesehatan. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas. c. Bayi dan Anak Balita Pelayanan Posyandu untuk bayi dan anak balita harus dilakukan secara menyenangkan dan memacu kreativitas tumbuh kembangnya. Jika ruang pelayanan memadai, pada waktu menunggu giliran pelayanan, anak balita sebaiknya tidak digendong melainkan dilepas bermain sesama balita dengan penagwasan orangtua di bawah bimbingan kader. Untuk itu perlu disediakan sarana permainan yang sesuai dengan umur balita. Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu utnuk balita mencakup: 1) Penimbangan berat badan 2) Penentuan status pertumbuhan 3) Penyuluhan dan konseling

4) Jika ada tenaga kesehatan dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas. 2. Keluarga Berencana (KB) Pelayanan KB di Posyandu yang dapat diberikan oleh kader adalah pemberian kondom dan pemberian pil ulangan. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dapat dialkuakn pelayanan suntikan KB dan konseling KB. Apabila tersedia ruangan dan peralatan yang menunjang serta tenaga yang terlatih dapat dilakukan pemasangan IUD dan implant. 3. Imunisasi Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan oleh petugas Puskesmas. Jenis imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan program terhadap bayi dan ibu hamil. 4. Gizi Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Jenis pelayanan yang diberikan meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan dan konseling gizi, pemberian makanan tambahan (PMT) lokal, suplementasi viatamin A dan tablet Fe. Apabila ditemukan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK), balita yang berat badannya tidak naik dua kali berturut-turut atau berada di bawah garis merah (BGM), kader wajib segera melakukan rujukan ke Puskesmas atau Poskesdes.

5. Pencegahan dan Penanggulangan Diare Pencegahan diare di posyandu dilakukan dengan Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare di Posyandu dilakukan melalui pemberian oralit. Apabila diperlukan penanganan lebih lanjut akan diberikan obat Zink oleh petugas kesehatan. B. Kegiatan Pengembangan Dalam keadaan tertentu masyarakat dapat menambah kegiatan Posyandu dengan kegiatan baru, di samping 5 (lima) kegiatan utama yang telah ditetapkan. Kegiatan baru tersebut misalnya: perbaikan kesehatan lingkungan, pengendalian penyakit menular, dan berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya. Posyandu yang seperti ini disebut dengan nama Posyandu Terintegrasi. Penambahan kegiatan baru dilakukan apabila 5 kegiatan utama telah dilaksanakan dengan baik dalam arti cakupannya di atas 50%, serta tersedia sumber daya yang mendukung. Penetapan kegiatan baru harus mendapat dukungan dari seluruh masyarakat yang tercermin dari hasil Survey Mawas Diri (SMD) dan disepakati bersama melalui forum Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Pada saat ini telah dikenal beberapa kegiatan tambahan Posyandu yang telah diselenggarakan antara lain: - Bina Keluarga Balita (BKB). - Kelas Ibu Hamil dan Balita.

- Penemuan dini dan pengamatan penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB), misalnya: Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Demam Berdarah Dengue (DBD), gizi buruk, Polio, Campak, Difteri, Pertusis, Tetanus Neonatorum. -Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). -Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD). -Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB PLP). -Program diversifikasi pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan, melalui Taman Obat Keluarga (TOGA). -Kegiatan ekonomi produktif, seperti: Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), usaha simpan pinjam. -Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), Tabungan Masyarakat (Tabumas). -Kesehatan lanjut usia melalui Bina Keluarga Lansia (BKL). -Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). -Pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil dan penyandang masalah kesejahteraan sosial. 2.3 Perkembangan Posyandu Untuk mengetahui tingkat perkembangan Posyandu, telah dikembangkan metode dan alat telaahan perkembangan Posyandu, yang dikenal dengan nama Telaah Kemandirian Posyandu. Tujuan telaahan adalah untuk mengetahui tingkat

perkembangan Posyandu yang secara umum dibedakan atas 4 tingkat sebagai berikut (Kemenkes RI, 2011): 1. Posyandu Pratama Posyandu Pratama adalah Posyandu yang belum mantap, yang ditandai oleh kegiatan bulanan Posyandu belum terlaksana secara rutin serta jumlah kader sangat terbatas yakni kurang dari 5 (lima) orang. Penyebab tidak terlaksananya kegiatan rutin bulanan Posyandu, di samping karena jumlah kader yang terbatas, dapat pula karena belum siapnya masyarakat. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat adalah memotivasi masyarakat serta menambah jumlah kader. 2. Posyandu Madya Posyandu Madya adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih, tetapi cakupan kelima kegiatan utamanya masih rendah, yaitu kurang dari 50%. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat adalah meningkatkan cakupan dengan mengikutsertakan tokoh masyarakat sebagai motivator serta lebih menggiatkan kader dalam mengelola kegiatan Posyandu. Contoh intervensi yang dapat dilakukan antara lain: a. Pelatihan tokoh masyarakat, menggunakan Modul Posyandu dengan metode simulasi. b. Menerapkan Survei Mawas Diri(SMD) dan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) di Posyandu, dengan tujuan untuk merumuskan masalah dan menetapkan cara penyelesaiannya, dalam rangka meningkatkan cakupan Posyandu.

3. Posyandu Purnama Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%, mampu menyelenggarakan program tambahan, serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat antara lain: a. Sosialisasi program dana sehat yang bertujuan untuk memantapkan pemahaman masyarakat tentang dana sehat. b. Pelatihan dana sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh dana sehat yang kuat, dengan cakupan anggota lebih dari 50% KK. Peserta pelatihan adalah para tokoh masyarakat, terutama pengurus dana sehat desa/kelurahan, serta untuk kepentingan Posyandu mengikutsertakan pula pengurus Posyandu. 4. Posyandu Mandiri Posyandu Mandiri adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun,dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%, mampu menyelenggarakan program tambahan, serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK yang bertempat tinggal di wilayah kerja Posyandu. Intervensi yang dilakukan bersifat pembinaan termasuk

pembinaan program dana sehat, sehingga terjamin kesinambungannya. Selain itu dapat dilakukan intervensi memperbanyak macam program tambahan sesuai dengan masalah dan kemampuan masing masing. Adapun indikator tingkat perkembangan posyandu adalah sebagai berikut: No. Indikator Pratama Madya Purnama Mandiri 1. Frekwensi penimbangan <8 >8 >8 >8 2. Rerata kader tugas <5 5 5 5 3. Rerata cakupan D/S <50% <50% 50% 50% 4. Cakupan kumulatif KIA 5. Cakupan kumulatif KB 6. Cakupan kumulatif imunisasi <50% <50% 50% 50% <50% <50% 50% 50% <50% <50% 50% 50% 7. Program tambahan - - + + 8. Cakupan dana sehat <50% <50% <50% 50% 2.5 Pembinaan Posyandu Pembinaan Posyandu dilakukan secara berjenjang dari pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan. Di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan pembinaan dilakukan oleh Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Posyandu dan di tingkat desa/kelurahan dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Posyandu. Fungsi pembinaan tersebut meliputi 3 aspek manjemen, yaitu aspek

program, aspek kelembagaan, dan aspek personel atau sumber daya manusia pengelola Posyandu. Unsur-unsur yang ada dalam pengorganisasian Pokjanal/ Pokja Posyandu tidak terbatas hanya pada komponen instansi pemerintah saja, tetapi juga melibatkan unsur-unsur lain seperti Lembaga Profesi, Perguruan Tinggi, LSM, Swasta/Dunia Usaha, dan sebagainya. Tujuan pengorganisasian Pokjanal/Pokja Posyandu adalah untuk mengkoordinasikan berbagai upaya pembinaan yang berkaitan dengan peningkatan fungsi dan kinerja Posyandu yang secara operasional dilaksanakan oleh unit atau kelompok kerja pengelola Posyandu di desa, melalui mekanisme pembinaan secara berjenjang oleh Pokjanal Posyandu di daerah (Kemenkes RI, 2011). Pokjanal Posyandu desa/kelurahan mempunyai tugas sebagai berikut: a. Mengelola berbagai data dan informasi yang berkaitan dengan kegiatan Posyandu di desa/kelurahan b. Melakukan rencana kegiatan tahunan dan mengupayakan adanya sumbersumber pendanaan untuk mendukung kegiatan pembinaan Posyandu c. Melakukan analisis masalah pelaksanaan program berdasarkan alternative pemecahan maslah sesuai dengan potensi dan kebutuhan desa/kelurahan d. Melakukan bimbingan, pembinaan, fasilitas, pemantauan dan evaluasi terhadap pengelolaan kegiatan dan kinerja kader Posyandu secara berkesinambungan. e. Menggerakkan dan mengembangkan partisipasi, gotong royong, dan swadaya masyarakat dalam mengembangkan Posyandu. f. Mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan.

g. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan kepada Kepala Desa/Lurah dan Ketua Pokjanal Posyandu Kecamatan. Selain itu, Pokja/Pokjanal Posyandu mempunyai fungsi sebagai berikut: a. Penyaluran aspirasi masyarakat dalam mengembangkan Posyandu b. Pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam pembinaan Posyandu c. Pengoordinasian pelaksanaan program yang berkaitan dengan pengembangan Posyandu. d. Peningkatan kualitas pelayanan Posyandu kepada masyarakat. e. Pengembangan kemitraan dalam pembinaan Posyandu. 2.5 Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar Posyandu Pada tahun 2011 Pemerintah mengeluarkan peraturan tentang Pedoman Pengintegrasan Layanan Sosial Dasar di Posyandu. Pengintegrasian Layanan ini merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk mensinergikan berbagai layanan yang dibutuhkan masyarakat meliputi perbaikan kesehatan dan gizi, pendidikan dan perkembangan anak, peningkatan ekonomi keluarga, ketahanan pangan dan keluarga dan keseahteraan social. Peneyelenggaraan layanan ini dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pemetaan potensi dan permasalahan di suatu wilayah meliputi kondisi Posyandu, jumlah keluarga, kader, partisipasi masyarakat dan sarana prasarana. Pengintegrasian layanan social dasar di Posyandu ini meliputi: a. Pembinaan gizi dan kesehatan ibu dan anak

b. Pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan c. Perilaku hidup bersih dan sehat d. Kesehatan usia lanjut e. BKB (Bina Kesehatan Balita) f. Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) g. Percepatan penganekaragaman konsumsi pangan h. Pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil dan penyanang masalah kesejahteraan social i. Kesehatan reproduksi remaja j. Peningkatan ekonomi keluarga Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar ini diselenggarakan oleh pengelola Posyandu dan kader. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan dilakukan oleh Pokja/Pokjanal. Selain itu pembinaan dan pengawasan dilakukan oleh pemerintah setempat. Pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui: a. Sosialisasi b. Rapat koordinasi c. Konsultasi d. Workshop e. Lomba f. Penghargaan, dan g. Pelatihan

2.6 Konsep Implementasi Program Kusumanegara (2010) mendefinisikan implementasi sebagai proses administrasi dari hukum yang didalamnya tercakup keterlibatan berbagai actor, organisasi, prosedur, dan teknik yang dilakukan agar kebijakan yang telah ditetapkan mempunyai akibat, yaitu tercapainya tujuan kebijakan. Implementasi dapat dikonseptualisasikan sebagai proses karena yang didalamnya terdapat serangkaian aktivitas yang berkelanjutan. Konsep implementasi juga harus diperhatikan dari berbagi aspek pemahaman seperti proses, output, dan outcome. Fungsi implementasi sendiri berguna untuk membentuk suatu hubungan yang memungkinkan tujuan-tujuan ataupun sasaran-sasaran kebijakan public sebagai outcome kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Selain itu fungsi implementasi terdiri pula dari cara-cara atau sarana-sarana tertentu yang dirancang/didesain secara khusus serta diarahkan menuju tercapainya tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang yang dikehendaki. Mendalami implementasi berarti berusaha untuk memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan, yakni peristiwa dan kegiatan-kegiatan yang terjadi setelah proses legislasi, baik menyangkut usaha-usaha untuk memberikan dampak tertentu pada masyarakat ataupun peristiwaperistiwa (Wahab, 2008). Widodo (2011) memberikan kesimpulan bahwa implementasi merupakan suatu proses yang melibatkan sejumlah sumber yang termasuk manusia, dana, dan kemampuan organisasional yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta (individu

atau kelompok). Proses itu dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pembuat kebijakan. Dalam menjalankan implementasi program tentu tidak berjalan mulus. Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan sebuah implementasi. Untuk menggambarkan secara jelas variabel atau faktor yang berpengaruh penting pada implementasi program, maka digunakan berbagai model implementasi program. Terdapat beberapa model implementasi menurut para ahli. Berikut diuraikan beberapa model-model tersebut. a. Model Donald Van Metter dan Carl Van Horn Menurut Van Matter dan Carl Van Horn (dalam Kusumanegara, 2010) ada 6 variabel yang memengaruhi kinerja kebijakan, yaitu: 1. Ukuran dan Tujuan Kebijakan Kinerja implementasi kebijakan ini dapat diukur apabila ukuran dan tujuan kebijakan realistis dengan sosiokultur yang ada di level pelaksana kebijakan. 2. Sumberdaya Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. 3. Karakteristik Agen Pelaksana Agen pelaksana meliputi organisasi formal dan organisasi informal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan/program akan banyak dipenagruhi cirri-ciri yang tepat serta sesuai dengan agen pelaksananya. Selain itu cakupan wilayah implementasi

kebijakan perlu juga diperhitungkan ketika hendak menentukan agenda pelaksana. Semakin luas implementasi kebijakan semakin besar pula agen yang terlibat. 4. Sikap/Kecenderungan Pelaksana Penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana akan sangat banyak mempengaruhi keberhasilan dari implementasi kebijakan. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi orang-orang yang terkait langsung dengan kebijakan yang memahami secara mendalam permasalahan. 5. Komunikasi Antar Organisasi dan Aktivitas Pelaksana Dalam implementasi kebijakan public komunikasi merupakan hal yang sangat penting. Semakin baik komunikasi diantara para agen pelaksana maka diasumsikan kesalahan-kesalahan yang terjadi akan lebih kecil. 6. Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik Menurut Van Metter dan Van Horn hal terakhir yang perlu diperhatikan guna menilai kinerja implementasi adaah sejauh mana lingkungan eksternal turut mendorong keberhasilan kebijakan public yang telah ditetapkan. Lingkungan social, ekonomi, dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi penyebab dari kegagalan kinerja implementasi kebijakan. Oleh karena itu upaya untuk mengimplementasikan kebijakan harus memperhatikan kekondusifan kondisi lingkungan eksternal. b. Model Brian W.Hogwood dan Lewis A. Gunn Model ini sering disebut sebagai the down approach. Menurut Hogwood dan Gunn (dalam Wahab, 2008) untuk dapat mengimplementasikan kebijakan secara sempurna

maka diperlukan beberapa persyaratan. Persyaratan ini harus diperhatikan dengan seksama agar implementasi kebijakan dapat dilaksanaka dengan baik. Persyaratanpersyaratan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kondisi eksternal yang dihadapi oleh badan/instansi pelaksana tidak akan menimbulkan gangguan/kendala yang serius. 2. Tersedia waktu dan sumber-sumber yang cukup memadai 3. Perpaduan sumber-sumber yang diperlukan benar-benar tersedia. 4. Kebijakan yang akan diimplementasikan didasari pada hubungan kausalitas yang handal 5. Hubungan kausalitas yang bersifat langsung dan hanya sedikit mata rantai penghubungnya. 6. Hubungan saling ketergantungan harus kecil. 7. Pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan. 8. Tugas-tugas diperinci dan ditempatkan dalam urutan yang tepat. 9. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna. 10. Pihak-pihak yang memiliki wewenang/kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan kepatuhan yang sempurna. c. Model George Edward III Menurut George Edward III (dalam Widodo, 2010) terdapat 4 faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan implementasi yaitu faktor komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur pelaksana. 1. Komunikasi

Diartikan sebagai proses penyampaian informasi komunikator kepada komunikan. Hal ini menyangkut bagaimana program dikomunikasikan kepada organisasi dan/atau public. Implementor harus mengetahui apa yang harus dilaksanakan, apa yang menjadi tujuan dan sasaran sehingga mengurangi distorsi implementasi. Jika tujuan dan sasaran tidak jelas dan bahkan tidak diketahui samasekali oleh kelompok sasaran maka kemungkinan akan menjadi resistensi dari kelompok sasaran. Komunikasi memiliki beberapa dimensi yaitu: a. Dimensi transmisi (transmission) yaitu menghendaki agar program tidak hanya disampaikan kepada pelaksana kebijakan namun juga disampaikan kepada kelompok sasaran dan pihak lain yang berkepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung. b. Dimensi kejelasan (clarity) yaitu menghendaki agar kebijakan yang ditransmisikan kepada pelaksana, target group, dan yang berkepentingan secara jelas sehingga mereka mengerti maksud, tujuan, sasaran, serta substansi program sehingga masing-masing mengetahui apa yang mesti dipersiapkan serta dilaksanakan untuk mensukseskan kebijakan tersebut secara efektif dan efisien. c. Dimensi konsistensi (consistency) yang diperlukan agar informasi tidak simpang siur sehingga membingungkan pelaksana kepentingan, target group dan pihakpihak yang berkepentingan. 2. Sumberdaya Sumberdaya merupakan hal yang penting dalam implementasi. Apabila implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan maka implementasi tidak

akan berjalan dengan efektif. Sumberdaya ini meliputi sumberdaya manusia, sumberdaya anggaran, sumberdaya peralatan, dan sumberdaya kewenangan. 3. Disposisi Disposisi merupakan watak dan karakter/sikap yang dimiliki implementor dalam menjalankan program seperti komitmen, kejujuran, dan sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik maka dia akan menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Jika implementor memiliki sifat /perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi kebijakan menjadi tidak efektif. 2. Struktur Birokrasi Struktur birokrasi merupakan struktur yang bertugas mengimplementasikan program seperti ketersediaan SOP (standard operating procedures) dan stuktur organisasi masyarakat yang bertugas melaksanakan program. 2.7 Fokus Penelitian Fokus penelitian ini untuk melihat 4 variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi program Posyandu. Fokus penelitian disusun sebagai berikut: Input & Proses a. Komunikasi b. Sumberdaya c. Disposisi Pelaksana d. Struktur Birokrasi Output Cakupan Pelaksanaan Program Posyandu

Adapun defenisi dari fokus penelitian, yaitu: a. Komunikasi: bagaimana komunikasi tentang penyelenggaraan Posyandu dilakukan selama ini. Apakah sudah dikomunikasikan dengan jelas kepada para pelaksana tentang konsep penyelenggaraan Posyandu yang meliputi perencanaan penyelenggaraan; pelaksanaan kegiatan; pelaporan dan pemantauan; evaluasi ; dan pembinaan Posyandu. b. Sumberdaya: meliputi sumberdaya manusia, sumberdaya peralatan, dan sumberdaya financial. c. Disposisi: bagaimana sikap dan persepsi implementor tentang pelaksanaan program Posyandu. d. Struktur organisasi: apakah ada struktur organisasi yang jelas tentang pembagian peran dalam penyelenggaraan Posyandu. \