BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN TEORI. dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MENGISI DAN MEMBACA KARTU MENUJU SEHAT (KMS) Manjilala

KMS = Kartu Menuju Sehat Sebagai alat bantu pengukuran dan pemantauan STATUS GIZI balita Masih ditemukan tingginya kesalahan pada saat pengisian KMS

frekuensi kontak dengan media massa (Suhardjo, 2003).

Rumah Bersalin Gratiis Rumah Zakat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kartu Menuju Sehat (KMS)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAN KMS] [STATUS GIZI [GIZI KESEHATAN MASYARAKAT] Andi Muh Asrul Irawan K Gizi A. Tugas Gizi Kesmas

5) Penanggulangan diare. 6) Sanitasi dasar. 7) Penyediaan obat esensial. 5. Penyelenggaraan

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 155/Menkes/Per/I/2010 TENTANG PENGGUNAAN KARTU MENUJU SEHAT (KMS) BAGI BALITA

BAB I PENDAHULUAN. SDM yang berkualitas dicirikan dengan fisik yang tangguh, kesehatan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Selama usia sekolah, pertumbuhan tetap terjadi walau tidak secepat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyebabkan anak balita ini rawan gizi dan rawan kesehatan antara lain : sehingga perhatian ibu sudah berkurang.

JURNAL ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA DI POSYANDU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

KUESIONER PERILAKU KADER DALAM PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA DI PUSKESMAS MANDALA KECAMATAN MEDAN TEMBUNG

BAB I PENDAHULUAN. Masa balita adalah masa yang membutuhkan perhatian lebih dari

PANDUAN PENGISIAN KUESIONER PEMANTAUAN STATUS GIZI (PSG) DAN MONITORING EVALUASI KEGIATAN PEMBINAAN GIZI

KUESIONER UNTUK KADER

MATERI PENYEGARAN KADER

BAB II LANDASAN TEORI

KUESIONER PENELITIAN

kekurangan energi kronik (pada remaja puteri)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Posyandu atau Pos Pelayanan Terpadu adalah Forum Komunikasi Alih. rangka pencapaian NKKBS ( Mubarak & Chayalin, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. Sebagian negara berkembang di dunia termasuk Indonesia menjadi salah satu

Keluarga Sadar Gizi (KADARZI)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MATERI 7 PEMBAHASAN MASALAH

MENGENAL PARAMETER PENILAIAN PERTUMBUHAN FISIK PADA ANAK Oleh: dr. Kartika Ratna Pertiwi, M. Biomed. Sc

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan gizi yang sering terjadi di seluruh negara di dunia adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KADARZI DENGAN ASUPAN ENERGI DAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI DESA JAGAN KECAMATAN BENDOSARI KABUPATEN SUKOHARJO

BAB I PENDAHULUAN. kurangnya asupan zat gizi yang akan menyebabkan gizi buruk, kurang energi

BAB 1 PENDAHULUAN. normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tetapi pada masa ini anak balita merupakan kelompok yang rawan gizi. Hal ini

KUESIONER HUBUNGAN KARAKTERISTIK KELUARGA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DENGAN PRAKTEK KADARZI DI KECAMATAN TRIENGGADENG KABUPATEN PIDIE JAYA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) Keluarga sadar gizi (Kadarzi) adalalah suatu keluarga yang mampu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. balita yang cerdas. Anak balita salah satu golongan umur yang rawan. masa yang kritis, karena pada saat itu merupakan masa emas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI), KONSUMSI GIZI, DAN KELENGKAPAN KARTU MENUJU SEHAT (KMS) TERHADAP STATUS GIZI BAYI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan suatu negara. Berdasarkan target Millenium Development Goals

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan salah satunya adalah penyakit infeksi. Masa balita juga merupakan masa kritis bagi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hidup anak sangat tergantung pada orang tuanya (Sediaoetama, 2008).

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, sehat, cerdas dan produktif. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. rawan terhadap masalah gizi. Anak balita mengalami pertumbuhan dan. perkembangan yang pesat sehingga membutuhkan suplai makanan dan

PERBEDAAN PENGGUNAAN INDEKS MEMBERIKAN PREVALENSI STATUS GIZI YG. BERBEDA.

BAB I PENDAHULUAN. mengancam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat diperlukan sebagai

METODE PENELITIAN. n= z 2 1-α/2.p(1-p) d 2

Status Gizi. Keadaan Gizi TINDAK LANJUT HASIL PENDIDIKAN KESEHATAN. Malnutrisi. Kurang Energi Protein (KEP) 1/18/2010 OBSERVASI/PEMANTAUAN STATUS GIZI

BAB I PENDAHULUAN. (mordibity) dan angka kematian (mortality). ( Darmadi, 2008). Di negara

Cara Menimbang Menggunakan Timbangan Dacin dan Cara Mencatat Hasil Timbangan Dalam Kartu Menuju Sehat.

BAB 1 PENDAHULUAN. faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan, karena masa balita

BAB I PENDAHULUAN. Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan. kualitas sumberdaya manusia yang mengoptimalkan potensi tumbuh kembang

energi yang dibutuhkan dan yang dilepaskan dari makanan harus seimbang Satuan energi :kilokalori yaitu sejumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan

BAB I PENDAHULUAN. pengukuran Indeks Pembangunan Manusia ( IPM ), kesehatan adalah salah

TINJAUAN PUSTAKA. B. PENILAIAN STATUS GIZI Ukuran ukuran tubuh antropometri merupakan refleksi darik pengaruh 4

BAB I PENDAHULUAN. penting yaitu memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30

PENGETAHUAN IBU DALAM PENATALAKSANAAN GIZI SEIMBANG PADA KELUARGA DI DESA SIBORBORON KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN

METODE PENELITIAN. n = z 2 α/2.p(1-p) = (1,96) 2. 0,15 (1-0,15) = 48,9 49 d 2 0,1 2

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE. PAUD Cikal Mandiri. PAUD Dukuh. Gambar 2 Kerangka pemilihan contoh. Kls B 1 :25. Kls A:20. Kls B 2 :30. Kls B:25. Kls A:11

BAB 1 PENDAHULUAN. cerdas dan produktif. Indikatornya adalah manusia yang mampu hidup lebih lama

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Apa saja program imunisasi dasar lengkap yang ibu ketahui? a. BCG b. DPT c. Polio d. Campak e. Hepatitis B

b. Tujuan Khusus Meningkatkan cakupan hasil kegiatan Bulan Penimbangan Balita (BPB) di Puskesmas Losarang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Meja 1 Pendaftaran balita, ibu hamil, ibu menyusui. Meja 4 Penyuluhan dan pelayanan gizi bagi ibu balita, ibu hamil dan ibu menyusui

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Program ini merupakan suatu program yang melengkapi program-program

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 : PENDAHULUAN. Millenuim Development Goals (MDGs) adalah status gizi (SDKI, 2012). Status

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kegiatan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, yang. pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan kegiatan yang ada dalam

JUKNIS PELAKSANAAN KELAS GIZI TAHUN 2013 BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Karakteristik Anak Sekolah Dasar

BAB I PENDAHULUAN. Masalah gizi kurang sering terjadi pada anak balita, karena anak. balita mengalami pertumbuhan badan yang cukup pesat sehingga

Disampaikan pada : REFRESHING KADER POSYANDU Kabupaten Nias Utara Tahun 2012

Transkripsi:

4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang terjadi pada makhluk hidup. Pertumbuhan berarti bertambah besar dalam ukuran fisik, akibat berlipat gandanya sel dan bertambah banyaknya jumlah zat antar sel. Pertumbuhan dan perkembangan menyangkut semua aspek kemajuan yang dicapai sejak dalam kandungan hingga dewasa. Pada dua bulan pertama kehamilan, terjadi proses diverensiasi berbagai organ, seperti mata, tangan dan telinga. Setelah mencapai tujuh bulan usia kehamilan, biasanya disebut masa pertumbuhan dalam kandungan (Aritonang I, 1996). Pertumbuhan yang dimanifestasikan oleh bertambahnya berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala terjadi secara cepat sejak lahir hingga umur 5 tahun. Pertambahan berat badan seiring dengan bertambahnya umur, maka pertumbuhan berat badan keseluruhan mengikuti berat badan masing-masing organ dan jaringan tersebut. (Aritonang I, 1996). Pertumbuhan seorang anak bukan hanya sekedar gambaran perubahan berat badan, tinggi badan atau ukuran tubuh lainnya, tetapi lebih dari itu memberikan gambaran tentang keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi seorang anak yang sedang dalam proses tumbuh. (DepKes RI, 2003). Bila jumlah asupan zat gizi sesuai dengan yang dibutuhkan, maka disebut gizi seimbang atau gizi baik. Bila jumlah asupan zat gizi kurang dari yang dibutuhkan disebut gizi kurang, sedangkan bila jumlah asupan zat gizi melebihi dari yang dibutuhkan disebut gizi lebih. Dalam keadaan gizi baik dan sehat atau bebas dari penyakit, pertumbuhan seorang anak akan normal, sebaliknya bila dalam keadaan gizi tidak seimbang, pertumbuhan seorang anak akan terganggu, misalnya anak tersebut akan kurus, pendek atau gemuk. (DepKes RI, 2003).

5 Gangguan pertumbuhan dapat terjadi dalam waktu singkat dan dapat terjadi pula dalam waktu yang cukup lama. Gangguan pertumbuhan dalam waktu yang singkat sering terjadi pada perubahan berat badan sebagai akibat menurunnya nafsu makan, sakit seperti diare dan infeksi saluran pernafasan, atau karena kurang cukupnya makanan yang dikonsumsi. Sedangkan gangguan pertumbuhan yang berlangsung dalam waktu yang lama dapat terlihat pada hambatan pertambahan tinggi badan. (DepKes RI, 2003). B. Cara Menentukan Status Gizi Status gizi dapat diketahui dengan menggunakan beberapa metode pengukuran. Pengukuran status gizi anak yang lazim digunakan di Indonesia adalah dengan membandingkan ukuran tubuh anak dengan umur. Ukuran tubuh yang biasa digunakan adalah tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan lingkar kepala atau ketebalan lemak di kulit sering disebut ukuran Antropometri (Tarwotjo dan Djuwita, 1990). Antropometri secara relatif mudah dilatihkan dan dibutuhkan, alat yang dibutuhkan relatif mudah dan murah bagi negara berkembang, karena keterbatasannya logistik, antropometri pada umumnya dianggap sebagai alat pengukur status gizi yang amat sensitif. Tingginya sensitifitas ini ditunjukan dengan fakta bahwa proses penyesuaian terhadap kekurangan dengan tubuh serta penggunaan lemak otot. (Tarwotjo dan Djuwita, 1990). Indeks TB/U (tinggi badan menurut umur) lebih menggambarkan pertumbuhan secara aktual yang dalam keadaan normal berjalan seiring dengan pertumbuhan umur. TB/U mencerminkan status gizi masa lalu, dapat menunjukan apakah anak mengalami kekerdilan (stundet) sebagai akibat dari keadaan kurang gizi dalam waktu lama (Jahari dan Abunain, 1987). Indeks BB/TB mencerminkan status gizi saat ini dan masa lalu, dapat menunjukan keadaan status gizi anak balita yang sebenarnya. Indeks BB/TB memberikan gambaran proporsi relatif terhadap tinggi, sehingga dapat mencerminkan kekurusan. Kelebihan lainnya adalah indikator BB/TB bila

6 digunakan walaupun umur anak tidak diketahui secara tepat (Jahari dan Abunain, 1987). Indeks LLA/U dan LLA/TB mencerminkan status gizi saat ini, karena LLA menggambarkan sebagian dari masa tubuh. Pada kehidupan tahun pertama, lingkar lengan atas anak yang sehat bertambah dengan cepat karena otot dan lemak tubuh berkembang. Setelah itu pertumbuhan relatif konsisten kira-kira 17 cm, sampai umur 5 tahun. Bila anak mengalami kurang gizi, maka otot akan berkurang. Lemak menghilang dan lingkar lengan atas berkurang. (Jahari dan Abunain, 1987). Indeks BB/U (berat badan menurut umur) lebih mencerminkan status gizi saat ini karena BB menggambarkan masa tubuh (otot dan lemak) yang sensitif terhadap perubahan yang mendadak seperti keadaan sakit infeksi, penurunan nafsu makan atau penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Indeks ini biasanya menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) yang terdapat atau tersebar bebas di masyarakat (Jahari dan Abunain, 1987). C. KMS dan Cara Pengisian KMS 1. Definisi KMS (Kartu Menuju Sehat) Balita Kartu yang menggambarkan pertumbuhan anak berdasarkan pertumbuhan berat badan mulai 0 60 bulan dengan cara ditimbang tiap bulan kemudian mencatumkan berat badan anak sebagai suatu titik pada KMS. Dengan melihat KMS kita dapat langsung mengikuti pertumbuhan dan kesehatan anak. Pita-pita yang berwarna hijau muda sampai dengan warna kuning yang terlihat pada KMS menggambarkan pola pertumbuhan anak yang sehat. 2. Standart Penilaian KMS KMS menggambarkan pertumbuhan berat badan berdasarkan umur anak. Kurva pertumbuhan biasanya terlihat pada anak di daerah tropis antara 6 bulan dan 2 tahun, yang disebabkan oleh tingginya kebutuhan anak-anak

7 terhadap protein dan kalori yang tidak mencukupi dari makanannya. Lebih banyak penyakit cacing usus, malaria berat, infeksi bakteri seperti diare, batuk rejan dan TBC pada periode ini karena aktifitas anak-anak yang bertambah, dan berkurangnya imunitas yang berasal dari ibu. (D.B, Jelliffe, 1994). Pada dasarnya Kartu Menuju Sehat (KMS) mempergunakan klasifikasi GOMEZ untuk menilai kondisi keadaan gizi anak, disesuaikan dengan kondisi anak-anak di Indonesia. Dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) terdapat jalurjalur warna yang mewujudkan derajat kesehatan anak tersebut dari sudut gizi. (Sediaoetama, 1999). Langkah-langkah pengisian KMS 1) Mengisi nama anak dan nomor pendaftaran; 2) Mengisi kolom identitas yang tersedia pada halaman dalam KMS balita; 3) Mengisi kolom bulan lahir 4) Meletakkan titik berat badan pada grafik; 5) Mencatat keadaan kesehatan makanan dan keadaan lainnya; 6) Mengisi kolom pemberian imunisasi; 7) Mengisi kolom pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi; 8) Mengisi kolom pemberian ASI Eksklusif. (Depkes & Kessos, 2001) Untuk pemantauan pertumbuhan balita, bersumber dari data berat badan, hasil penimbangan balita bulanan yang diisikan ke dalam KMS. Dalam pemantauan pertumbuhan tersebut, terdapat 5 arah (kemungkinan) hasil penimbangan bulan ini bila dibandingkan hasil penimbangan bulan lalu, yaitu: 1) N1 atau tumbuh kejar : jika garis pertumbuhan anak melebihi arah garis (kurva/grafik) dalam KMS; 2) N2 atau tumbuh normal : jika garis pertumbuhan sesuai dengan arah garis (kurva/grafik) baku dalam KMS; 3) T1 atau tumbuh kurang sesuai : jika BB saat ini lebih dibanding BB bulan yang lalu, tetapi peningkatan BB tidak sesuai sehingga arah garis (kurva/grafik) dalam KMS kurang dari seharusnya; 4) T2 atau tumbuh datar : jika tidak terjadi peningkatan BB dalam 2 periode penimbangan; 5) T3 atau turun : jika terjadi penurunan BB. (DepKes RI, 2005). Macam-macam imunisasi dasar lengkap yang diberikan pada bayi di posyandu dan tercatat di KMS adalah BCG, DPT (1 2 3), Polio (1 2 3 4), HB (1 2 3), Campak. (Depkes RI, 2005)

8 3. Manfaat KMS a. Mencatat semua kejadian yang berhubungan dengan kesehatan anak, sejak lahir sampai berumur lima tahun. Perlu dicatat dalam KMS, misalnya identitas anak, tanggal lahir dan tanggal pendaftaran, serta penyakit yang pernah dideritanya. KMS berisi pesan-pesan penyuluhan tentang penanggulangan diare, makanan anak, pemberian vitamin A dan imunisasi. b. Menunjukan pola pertumbuhan pada balita yang digambarkan dengan tiga garis lengkung, yaitu : 1). Garis berat badan yang menanjak dengan keterangan teruskan dibulan berikutnya, menyatakan bahwa anak tumbuh baik dan sehat. 2). Garis berat badan yang cenderung rata selama dua bulan menyatakan bahwa anak kurang mendapat makanan yang memadai, seperti lebih banyak makanan selama bulan berikutnya. 3). Garis berat badan yang menurun menyatakan bahwa ibu harus mencari nasihat khusus dan memastikan bahwa anak balita tidak sakit, harus diberikan makanan dan gizi tambahan selama bulan berikutnya (DepKes RI Jakarta, 1990). 4. Informasi pada KMS Beberapa informasi yang terdapat pada KMS, antara lain : 1) mengamati pertumbuhan anak secara teratur dengan menimbangkan setiap bulannya; 2) memberikan imunisasi dasar lengkap secara tepat waktu pada bayi untuk mencegah beberapa penyakit, bila anak dengan sakit ringan seperti batuk, pilek, diare, dan sakit kulit bukan halangan untuk imunisasi; 3) pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bulan Februari dan Agustus di posyandu, untuk bayi (6-11 bulan) berwarna biru, dan anak umur 1-5 tahun berwarna merah, agar mata sehat, tubuh kuat dan mencegah kebutaan; 4) anjuran pemberian makanan dan merangsang perkembangan anak; 5) cara mengatasi penyakit yang sering diderita anak di rumah, misalnya diare dengan pemberian oralit atau pembuatan LGG. (Depkes RI, 2005)

9 D. Tingkat Pemahaman Ibu Balita Tentang KMS Balita 1. Pengertian Pemahaman Ibu Balita Tentang KMS Balita Pemahaman ibu tentang KMS itu sendiri diharapkan kemampuan tersebut untuk mengetahui dan mengerti tentang isi dan pesan-pesan yang terkandung di dalam KMS. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pemahaman Ibu Tentang KMS balita a. Tingkat Pendidikan Pendidikan merupakan usaha mentransfer atau memindahkan ilmu pengetahuan kepada orang lain. Seseorang yang telah menerima pendidikan yang lebih baik atau tinggi, biasanya akan lebih mampu berpikir secara obyektif dan rasional. Dengan berpikir secara rasional, maka seseorang akan lebih mudah menerima hal-hal yang baru dianggap menguntungkan bagi dirinya. Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain. (Departemen Pendidikan Nasional, 2002) Pendidikan (pengetahuan) merupakan hal penting bagi manusia, dan dapat merubah persepsi mengenai suatu hal. Pengetahuan, oleh Notoatmodjo (1993) diartikan sebagai setiap pengalaman yang dialami. Pengalaman-pengalaman itu harus disusun dan diatur sedemikian rupa, sehingga menjadi suatu keseluruhan yang berkaitan satu sama lain sebagai suatu gejala yang dapat diterangkan. Dengan pendidikan yang dimilikinya, seorang ibu akan mampu menerangkan gejala sakit dan sehat yang diwujudkan dalam tindakan, sikap atau perilaku dalam pencegahan penyakit. (Notoatmodjo, 1993) Peran faktor pendidikan terhadap kesehatan sangat penting, dan menjadi suatu realita bahwa pendidikan orang tua akan turut menentukan tingkat kesehatan anggota keluarganya. Pendidikan juga penting bagi individu dalam rangka meningkatkan martabat hidup atau kesejahteraannya. Dengan adanya pendidikan, seseorang akan mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan baik dalam artian secara luas pengaruhnya, sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap persepsi, sikap dan perilakunya. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku

10 seorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. (Departemen Pendidikan Nasional, 2002) Berdasarkan pembahasan tersebut diatas, maka yang dimaksud dengan tingkat pendidikan ibu adalah batas waktu atau jenjang yang dilakukan secara sadar dan sistematis dalam proses pengubahan sikap dan tata laku ibu balita dalam usaha mendewasakan diri melalui upaya pengajaran dan pelatihan melalui jalur formal. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan tingkat pendidikan ibu adalah jenjang pendidikan yang pernah ditempuh oleh ibu balita dalam lembaga pendidikan formal (SD, SMP, SMA dan Akademi / Perguruan Tinggi). b. Peran serta masyarakat Peran serta masyarakat adalah proses dimana individu dari keluarga serta lembaga swadaya masyarakat mengambil tanggung jawab atas kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri, keluarga serta masyarakat (DepKes RI, 1990). Faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat adalah perilaku individu dan dipengaruhi oleh berbagai hal seperti tingkat pengetahuan atau pendidikan dan keyakinan, sikap mental, tingkat kebutuhan dan tingkat keterkaitan (DepKes RI, 1990). Tingkat pengetahuan seseorang mempengaruhi individu. Untuk mencapai persamaan persepsi diperlukan suatu proses, ini diharapkan terjadi perubahan perilaku seseorang secara bertahap mulai dari pengenalan, peminatan, penilaian, percobaan sampai penerimaan / adopsi. Persepsi masyarakat dapat ditingkatkan dengan penyuluhan, ini penting untuk memotivasi masyarakat. Motivasi merupakan faktor penguat yang menentukan ada tidaknya dukungan. Dalam peningkatan peran serta masyarakat, sumber penguat bisa berasal dari diri sendiri, keluarga, kader, petugas kesehatan, tokoh masyarakat atau tetangga. Pada dasarnya sikap, keyakinan dan praktek ibu

11 sangat mempengaruhi status kesehatan anak-anak mereka. (Green, Lawrench, 1985). c. Kehadiran Ibu di Posyandu Kehadiran ibu-ibu di Posyandu diawali dengan pemahaman ibu tentang KMS, karena dengan pemahaman tersebut ibu-ibu akan mengetahui keadaan kesehatan anaknya yang pada akhirnya akan bermotivasi untuk datang ke Posyandu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kehadiran ibu di Posyandu untuk menimbangkan anaknya. Faktor-faktor tersebut antara lain kualitas kader atau petugas Posyandu, pekerjaan ibu, jumlah anak, jarak tempat tinggal, status ekonomi keluarga dan pemahaman ibu tentang KMS. Data kader yang kreatif akan mampu menggugah masyarakat untuk berkunjung ke Posyandu. Kreatif disini bisa memberi motivasi kepada ibu untuk dapat bagaimana cara-cara menciptakan lapangan kerja yang bisa mendatangkan pendapatan. Dengan meningkatkan pendapatan masyarakat dari hasil kerjanya, akan memberi semangat mereka untuk datang ke Posyandu. Termasuk para kader akan lebih giat melaksanakan aktifitasnya. (Wardi, 1986) Kehadiran ibu di Posyadu juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah jarak rumah atau tempat tinggal. Jarak rumah ibu balita akan mempengaruhi jumlah waktu yang diperlukan. Semakin dekat jarak rumah ke Posyandu, semakin sering ibu berkunjung ke Posyandu. (Nuraini, 1995) Jumlah anak juga akan mempengaruhi banyaknya perhatian orang tua khususnya ibu yang diberikan pada anaknya. Ibu tidak sempat menimbangkan anaknya ke Posyandu, karena harus mengurus anaknya yang lain. (Nuraini, 1995)

12 E. Kerangka Teori Faktor Ibu Pendidikan Faktor Peran Serta Masyarakat Penyuluhan Tingkat pemahaman Ibu tentang KMS Balita Faktor Kehadiran Ibu di Posyandu Jarak tempat tinggal Jumlah anak Pekerjaan Ibu Status Ekonomi (Lawrence Green dalam Notoatmodjo S, 1993) F. Kerangka Konsep Tingkat Pendidikan Tingkat Pemahaman Ibu tentang KMS Balita G. Hipotesa KMS Balita. Ada hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat pemahaman ibu tentang