KOMPONEN VISUALISASI 3D

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pemrosesan Data DEM. TKD416 Model Permukaan Digital. Andri Suprayogi 2009

Karena tidak pernah ada proyek yang dimulai tanpa terlebih dahulu menanyakan: DIMANA?

Gambar 2. Peta Batas DAS Cimadur

- Sumber dan Akuisisi Data - Global Positioning System (GPS) - Tahapan Kerja dalam SIG

Model Data Spasial. by: Ahmad Syauqi Ahsan

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai peluang pasar dan arti ekonomi cukup baik. digunakan untuk pertanian dan perkebunan. Dinas Pertanian adalah sebuah

SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA LAHAN (Kuliah ke 12)

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PDF Compressor Pro. DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul...i Intisari...ii KataPengantar...iii DaftarIsi...v DaftarTabel...vii DaftarGambar...

Sistem Informasi Geografis. Widiastuti Universitas Gunadarma 2015

Analisis DEM SRTM untuk Penilaian Kesesuaian Lahan Kopi dan Kakao: Studi Kasus di Kabupaten Manggarai Timur. Ari Wahono 1)

BAB II METODE PENELITIAN

PEMBUATAN DIGITAL ELEVATION MODEL (DEM) DENGAN KETELITIAN PIXEL (10 METER X 10 METER) SECARA MANUAL DI SUB-DAS RAWATAMTU

Konsentrasi Sistem Informasi Geografis,Teknik Informatika, Fakultas Teknik Komputer Universitas Cokroaminoto Palopo

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,

BAB I PENDAHULUAN. yang masuk ke sebuah kawasan tertentu yang sangat lebih tinggi dari pada biasa,

BAB III METODE PEMETAAN EKOREGION PROVINSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

12. DAERAH ALIRAN SUNGAI

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian

MODUL DASAR ArcGIS ver Pelatihan Software Himpunan Mahasiswa Sipil UNS

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Magister Fisika, FMIPA ITB. Fisika Bumi dan Sistem Kompleks, FMIPA ITB. (corresponding author) b)

Prediksi Spasial Perkembangan Lahan Terbangun Melalui Pemanfaatan Citra Landsat Multitemporal di Kota Bogor

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tujuan. Pengenalan SIG

KONSEP MANAJEMEN BASIS DATA Sistem Informasi Geografis

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

EKSTRAKSI GARIS PANTAI MENGGUNAKAN HYPSOGRAPHY TOOLS

INFORMASI GEOGRAFIS DAN INFORMASI KERUANGAN

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... i. HALAMAN PERNYATAAN... iii. INTISARI... iii. ABSTRACT... iv. KATA PENGANTAR...

Sistem Informasi Geografis. Model Data Spasial

PDF Compressor Pro BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

NASKAH SEMINAR ANALISIS KARAKTERISTIK FISIK DAS DENGAN ASTER GDEM Versi 2.0 DI SUNGAI OPAK_OYO 1

Diro Eko Pramono I. PENDAHULUAN

III. BAHAN DAN METODE

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS KETINGGIAN MODEL PERMUKAAN DIGITAL PADA DATA LiDAR (LIGHT DETECTION AND RANGING) (Studi Kasus: Sei Mangkei, Sumatera Utara)

LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

PRAKTIKUM IUW DAN KARTOGRAFI. Rahmadi dadi

[Type the document title]

Pengumpulan dan Integrasi Data. Politeknik elektronika negeri surabaya. Tujuan

III. BAHAN DAN METODE

Mega Wahyu Syah ( )

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

III. BAHAN DAN METODE

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pembuatan Tampilan 3D DEM SRTM

Sesi Pokok Bahasan TIK Sub Pokok Bahasan Durasi Pre requisite Metoda/alat Referensi 1. Pengenalan

Pengenalan Sistem Informasi Geografis

III. METODOLOGI PENELITIAN

PEMBUATAN DIGITAL ELEVATION MODEL (DEM) DENGAN KETELITIAN PIXEL (10 METER X 10 METER) SECARA MANUAL DI SUB-DAS RAWATAMTU

ABSTRAK PENDAHULUAN. Desi Etika Sari 1, Sigit Heru Murti 2 1 D3 PJ dan SIG Fakultas Geografi UGM.

Pengertian Sistem Informasi Geografis

SISTEM IFORMASI GEOGRAFI

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KOTA BEKASI. Dyah Wuri Khairina

ILMU UKUR TANAH II. Jurusan: Survei Dan Pemetaan Universitas Indo Global Mandiri Palembang 2017

Pengantar Teknologi. Informasi (Teori) Minggu ke-11. Geogrphical Information System (GIS) Oleh : Ibnu Utomo WM, M.Kom UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Jurnal Geodesi Undip Januari 2017

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Bab III Pelaksanaan Penelitian. Penentuan daerah penelitian dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah :

BAB III METODE PENELITIAN

Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika FT UGM TGGM KARTOGRAFI DIGITAL. Oleh Gondang Riyadi. 21 March 2014 Kartografi - MGR

Gambar 1. Subsistem Sistem Informasi Geografis

Sumber Data, Masukan Data, dan Kualitas Data. by: Ahmad Syauqi Ahsan

MATERI DAN METODE. Prosedur

APLIKASI CITRA LANDSAT UNTUK PEMODELAN PREDIKSI SPASIAL PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN ( STUDI KASUS : KOTA MUNTILAN)

Jurnal Penginderaan Jauh Vol. 9 No. 2 Desember 2012 :

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3.

1. BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN

RANCANGAN POLA PENGEMBANGAN IRIGASI POMPA DANGKAL BERDASARKAN DATA GEOSPASIAL PADA DAERAH IRIGASI POMPA III NAGARI SINGKARAK

Session_02 February. - Komponen SIG - Unsur-unsur Essensial SIG. Matakuliah Sistem Informasi Geografis (SIG)

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II DASAR TEORI. 2.1 DEM (Digital elevation Model) Definisi DEM

A. Pendahuluan Sistem Informasi Geografis/GIS (Geographic Information System) merupakan bentuk cara penyajian informasi terkait dengan objek berupa

Bab IV. Pengenalan ArcGIS

BAB III METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan

Model Data GIS. Arif Basofi PENS 2014

Panduan Cara Menghitung Volume Laut Indonesia Menggunakan Data General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO) 30 arc second

SISTEM INFORMASI GEOGRAFI. Data spasial direpresentasikan di dalam basis data sebagai vektor atau raster.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman (Tahura

Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) Bidang Informasi Geospasial SKKNI IG 2016 SUB-BIDANG PENGINDERAAN JAUH PROJO DANOEDORO

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR PENGELOLAAN DATA DAN INFORMASI GEOSPASIAL INFRASTRUKTUR

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Geogrhafic Information System (GIS) 2. Sejarah GIS

Dimanakah Apa Bagaimana pola Apa Bagaimana trend perubahan Dim D an a a n lok lo a k si a terb erb ik Mana rute terpendek somewhere where

Pengertian Analisis Spasial

IV. METODOLOGI 4.1. Waktu dan Lokasi

BAB I PENDAHULUAN. kondisi penggunaan lahan dinamis, sehingga perlu terus dipantau. dilestarikan agar tidak terjadi kerusakan dan salah pemanfaatan.

Transkripsi:

BAB 1 MENGAPA 3D? Apakah anda sering melihat peta dan langsung merasa bosan dan malas membacanya lebih jauh lagi?. Mungkin, dalam peta itu ada elemen yang langsung membuat bosan yang bisa jadi adalah hanya karena tampilannya dalam perspektif yang flat atau datar saja. Padahal, beberapa data Sistem Informasi Geografi (SIG) atau sering juga disebut sebagai data spasial itu mampu menyimpan informasi nilai z atau ketinggian tempat dan termasuk didalamnya atribut geometrinya. Dengan format data inilah penayangan/ visualisasi fitur geografis dapat dilakukan dalam model tiga dimensi (3D). Kemudian data tersebut dapat dikombinasikan dengan data-data spasial yang lain untuk suatu komposisi peta. Mengapa 3D?. Jawabannya sederhana saja, yaitu dengan visualisasi 3D memungkinkan representasi fitur-fitur geografis dalam perspektif yang berbeda. Lebih jauh lagi, visualisasi 3D menjadikan lebih interaktif serta lebih mendekati kondisi yang sebenarnya. Misalnya, kenampakan relief yang berbukit-bukit dengan lereng yang curam akan lebih mudah dilihat ketika ditampilkan dalam peta slope dan hillshading daripada sekedar peta kontur saja. Untuk sementara, fokus tulisan ini pada fitur terestrial saja, jadi fitur diperairan baik dangkal maupun dalam belum dibahas disini. 1

BAB 2 KOMPONEN VISUALISASI 3D Secara sederhana untuk keperluan visualisasi 3D diperlukan 3 komponen, yaitu: (1) data, (2) metode dan (3) peralatan. Pada sub-bab selanjutnya masing-masing komponen yang diperlukan untuk visualisasi 3D tersebut akan dibahas lebih detil. I.Data Data menjadi yang pertama, utama dan menjadi komponen paling penting. Data harus sudah diperoleh dan telah dikondisikan sebelum melangkah pada proses selanjutnya. Jadi ketersediaan data merupakan isu penting, karena tidak ada data berarti proses terhenti serta tidak ada jalan untuk melanjutkan proses tersebut. Lebih jauh lagi, data untuk keperluan visualisasi 3D dapat dikategorikan dalam 2 kelompok. Kelompok pertama adalah data-data primer, yaitu data yang diperoleh dari survei lapangan, peta topografi, pengukuran fotogrametris, data penginderaan jauh. Sementara itu, kelompok kedua adalah data sekunder. Data sekunder adalah jenis data yang didapatkan dari penyedia atau institusi tertentu yang dapat diakses umum seperti General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO), GTopo30 and SRTM. Selanjutnya, terkait dengan pemilihan data, suatu keperluan akan membutuhkan suatu jenis data. Oleh karena itu anda diharapkan mampu menyesuaikan jenis data itu dengan keperluannya. Jenis data ini juga terkait dengan skala dan detil informasi yang dipresentasikan. Adapun tautan berikut ini merupakan alamat akses data yang disediakan oleh suatu institusi yang dapat diakses oleh umum: 1. GEBCO --> http://www.gebco.net/data_and_products/ gridded_bathymetry_data/ 2

2. GTOPO30 --> http://webmap.ornl.gov/wcsdown/dataset.jsp?ds_id=10003 or https://lta.cr.usgs.gov/gtopo30 3. SRTM --> http://srtm.csi.cgiar.org II. Metode Apabila anda menggunakan data primer, seperti data yang menyimpan kumpulan titik dengan informasi x,y,z didalamnya yang diperoleh dari survei lapangan. Maka, interpolasi adalah langkah untuk memprediksi nilai piksel dalam sebuah data format raster dari data titik dengan informasi ketinggian (z) yang anda miliki tadi. Asumsinya adalah sesuatu yang berdekatan cenderung memiliki karakteristik yang sama. Jadi interpolasi titik-titik yang memiliki karakteristik yang sama tadi dapat menghasilkan fitur baru. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk interpolasi titik, sebagai contohnya adalah IDW, Kriging, Natural Neigbor, Spline dan Trend. Yang perlu di ketahui adalah tiap-tiap metode tersebut memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Konsekuensinya, anda diharapkan bijaksana dalam memilih salah satu metode yang dipergunakan untuk interpolasi untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Setelah proses intepolasi tersebut selesai, anda dapat melanjutkan proses untuk membuat visualisasi 3D. Untuk data-data yang siap digunakan seperti SRTM, anda tidak perlu lagi melakukan proses interpolasi tadi. III. Peralatan Bekerja dengan data x,y,z memerlukan peralatan yang tangguh. Dalam prakteknya, peralatan tersebut berupa perangkat lunak atau software yang dapat dikategorikan sebagai perangkat berbayar (proprietary) dan gratis (free license). Untuk peralatan kategori berbayar ArcGIS dengan ekstensi 3D analyst meru- 3

pakan pilihan yang tepat. Sementara itu, bukan berarti tidak ada peralatan yang gratis untuk pekerjaan ini. Quantum GIS dengan plugin yang juga dapat didownload secara gratis dapat digunakan untuk interpolasi data x,y,z tadi. Perangkat ini menyediakan pula plugin untuk analisis medan (Terrain Analysis) seperti Slope, Aspect, Hillshade dan itu semua dapat diperoleh secara gratis. Menarik bukan?. Disisi lain, masih banyak peralatan yang lain baik itu proprietary maupun yang gratis yang berkemampuan kurang lebih sama. Berkaitan dengan peralatan seperti yang telah diuraikan dimuka, peralatan dalam bentuk software itu tadi dapat secara khusus dibedakan sebagai peralatan untuk pemrosesan (processing), visualisasi (visualizing) dan finalisasi (finalizing). Ada yang dalam satu paket mempunyai kemampuan keduanya, namun ada pula yang hanya memiliki kemampuan salah satu saja. Namun jarang sekali ada yang memiliki kemampuan seluruhnya. Karena kemampuan terakhir yaitu finalisasi, umumnya dimiliki oleh peralatan diluar SIG. Misalnya, ketika anda memilih ArcGIS maka anda dapat menggunakan ArcMap untuk pemrosesan data, kemudian ArcScene untuk visualisasi 3D, kemudian untuk keperluan publikasi, finalisasi anda lakukan dengan ibook Author atau peralatan grafis atau multimedia lain. Ini tergantung pada tujuan yang hendak dicapai bukan?. 4

BAB 3 PROSES Secara sederhana penulis membagi proses menjadi 3 bagian, yaitu (1) penyiapan data, (2) visualisasi dan (3) finalisasi. Kalau memperhatikan ilustrasi dibawah ini: Sumber: M.F. Huchinson & J.C. Gallant (2000) Dalam hal ini, proses penyiapan data meliputi bagian data capture, DEM generation. Kemudian proses visualisasi tampak jelas sekali sesudah kedua proses tersebut diawal. Terakhir, finalisasi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah bagian akhir yang merujuk pada aplikasi. 5

BAB 4 CONTOH HASIL Pada bagian ini ditampilkan beberapa contoh hasil dari rangkaian proses yang telah diurakan dimuka. Hasil yang ditampilkan sebagai contoh merupakan dari sederhana hingga ke yang cukup kompleks. Sebagian wilayah Propinsi Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta Data: SRTM 90, Peralatan: ArcMap, 3D analyst, ArcScene dan InkScape 6

Bagian selatan dari Gunung Semeru Data: Interpolasi data kontur, citra hasil capture dari Google Earth, Peralatan: ArcMap, 3D analyst, ArcScene 7

Gunung Merapi dan Merbabu dari sisi selatan Data: SRTM 90, Citra Landsat 7 ETM dalam komposit 457 Peralatan: ArcMap, 3D analyst, ArcScene 8

Gunung Merapi dan Merbabu dari sisi timur Data: Hillshading dari pengolahan data SRTM 90 Peralatan: ArcMap, 3D analyst, ArcScene, Image Tricks Lite, Microsof PowerPoint 9

BAB 5 PENUTUP Pada bagian penutup ini, penulis ingin menegaskan kembali bahwa visualisasi secara 3D memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan dengan 2D. Untuk keperluan visualisasi 3D ini memang dapat langsung dari data yang telah jadi ataupun harus menurunkannya melalui beberapa proses sebelum dapat dinikmati oleh mata. Katakanlah, DEM adalah sebagai turunan pertama dari data x,y,z. Maka, kelompok seperti slope, aspect, hillshading merupakan turunan yang kedua. Untuk analisis maupun visualisasi mengenai relief dan topografi, tentu saja kelompok turunan dari data x,y,z tadi akan lebih representatif. Misalnya saja hillshading dengan pengaturan arah dan elevasi sinar yang datang akan menghasilkan penajaman pada suatu area yang diinginkan. Pada akhirnya hillshading ini dapat secara kartografis menajamkan detail topografis, seperti yang dilakukan oleh Kennelly (2008) yang melakukan pengolahan hillshading dengan curvature. Terlepas dari itu semua, jangan dilupakan bahwa keberhasilan visualisasi 3D ini dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk bagaimana cara anda melakukan finalisasi hasil. Jadi, layaknya membuat peta pada umumnya, beberapa hal seperti (1) tujuan, (2) desain, (3) ukuran dan format (4) media distribusi perlu secara cermat dipertimbangkan di awal. Kemudian, upaya untuk mendapatkan hasil yang optimal harus meliputi seluruh proses yang baik, tidak bisa secara parsial saja. 10

REFERENSI Hutchinson, M.F. and Gallant, J.C. (2000), Digital elevation models and representation of terrain shape. In: J.P. Wilson and J.C. Gallant (eds), Terrain Analysis. John Wiley & Sons, New York, 29-50. Kennelly, Patrick J.2008.Terrain maps displaying hill-shading with curvature. Geomorphology (102), p567 577. doi:10.1016/j.geomorph.2008.05.046 11