MODEL VOCABULARY SELF-COLLECTION STRATEGY (VSS) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA

dokumen-dokumen yang mirip
MODEL GROUP MAPPING ACTIVITY (GMA) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA

BAB I PENDAHULUAN. Belajar bahasa atau mata pelajaran apapun tidak akan terlepas dari kegiatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara terencana dengan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Menurut Tarigan (2008:1) ada

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

2014 KEEFEKTIFAN MOD EL PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING) D ALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS D ISKUSI

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa tidak hanya berasal dari kata-kata yang dikeluarkan oleh ucapan (vokal)

BAB I PENDAHULUAN. berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis.

BAB II KAJIAN TEORI. E. Kajian Teori. 1. Kemampuan Pemecahan Masalah. Sebagian besar ahli pendidikan matematika menyatakan bahwa masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Keterampilan Menulis Kalimat dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

memperoleh pengetahuan dan keterampilan sehingga timbul adanya suatu

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2015 PENERAPAN METODE BRAINSTORMING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR

PERMASALAHAN PEMBELAJARAN MEMBACA CHUUKYUU DOKKAI DI PERGURUAN TINGGI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembelajaran Bahasa Indonesia di dunia pendidikan bertujuan agar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. masalah penelitian yang berisikan pentingnya keterampilan menulis bagi siswa

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Jolanda Dessye Parinussa, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan suatu bangsa dan negara hendaknya sejalan dengan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sehari-hari, seperti perhitungan dalam jual-beli, menghitung kecepatan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan termasuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Teori Konstruktivistik

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang

berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.

II. KERANGKA TEORETIS. pembelajaran fisika masalah dipandang sebagai suatu kondisi yang sengaja

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa

Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Hal ini

BAB IV PROSES PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Mengingat pentingnya bahasa tersebut, maka dalam dunia pendidikan perlu. mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Selain itu, bahasa Indonesia pun

BAB I PENDAHULUAN. dimengerti dan digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Adapun cara-cara

BAB I PENDAHULUAN. dua, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Kedua bahasa tersebut mempunyai. hubungan yang erat satu dengan lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. dalam pembelajaran, hal ini menuntut guru dalam perubahan cara dan strategi

DESKRIPSI BUTIR ANGKET PENILAIAN MODUL MATEMATIKA PROGRAM BILINGUAL PADA MATERI SEGIEMPAT DENGAN PENDEKATAN PMRI

II. KAJIAN PUSTAKA. anak-anak diberikan bermacam-macam pelajaran untuk menambah pengetahuan. yang dimilikinya, terutama dengan jalan menghafal.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut terciptanya

BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk memahami nilai-nilai warga negara yang baik. Sehingga siswa

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. harus dikuasai oleh peserta didik, yaitu kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca,

KISI UJI KOMPETENSI 2013 MATA PELAJARAN BAHASA JEPANG

BAB I PENDAHULUAN. untuk memiliki keterampilan dalam berbahasa. Keterampilan berbahasa mencakup empat komponen keterampilan.

TINJAUAN PUSTAKA. sendiri. Belajar dapat diukur dengan melihat perubahan prilaku atau pola pikir

2015 PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS EKSPLANASI KOMPLEKS

2014 PEMBELAJARAN FISIOLOGI TUMBUHAN TERINTEGRASI STRUKTUR TUMBUHAN BERBASIS KERANGKA INSTRUKSIONAL MARZANO UNTUK MENURUNKAN BEBAN KOGNITIF MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian. Sudah berabad-abad yang lalu manusia menggunakan bahasa, baik bahasa tubuh, tulisan,

BAB I PENDAHULUAN. mutu pendidikan, karena pendidikan merupakan sarana yang sangat penting

METODE PENGAJARAN BIPA. oleh Nuny Sulistiany Idris FPBS UPI

BAB I PENDAHULUAN. kutu buku, bahkan kurang bergaul (Pikiran Rakyat, 7 November 2002).

melakukan hubungan komunikasi dengan orang lain. 11

THE SYSTEMATIC DESIGN OF INSTRUCTION (DESAIN SISTEMATIS INSTRUKSI) Arini Pakistyaningsih, SH., MM.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan dipandang sebagai sarana untuk melahirkan insan-insan yang cerdas, kreatif, terampil, bertanggung

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan siswa secara optimal baik pada aspek kognitif, efektif maupun

1. PENDAHULUAN. Pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan suatu bangsa karena sasaran dari

BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari,

BAB I PENDAHULUAN. anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan

BAB I PENDAHULUAN. dapat berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakat di sekitarnya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, serta

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. manusia dengan yang lainnya. Keterampilan berbahasa yang dimiliki manusia

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

BAB I PENDAHULUAN. menciptakan siswa yang memiliki watak tangguh serta kompetitif.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Septia Sugiarsih, M.Pd.

BAB I PENDAHULUAN. periode jenjang pendidikan. Kurikulum tercatat sebagai perubahan ketiga selama

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan teknologi dan informasi

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia karena pada

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Roni Rodiyana, 2013

II. TINJAUAN PUSTAKA. terjadi dalam diri seseorang dan interaksi dengan lingkungannya. Hal ini sesuai

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang melibatkan siswa dalam kegiatan pengamatan dan percobaan dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Model Kreatif Pemecahan Masalah dalam pembelajaran menulis karangan

BAB I PENDAHULUAN. masalah kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain masalah yang timbul dalam

dituntut untuk lebih produktif, kreatif, inovatif, dan afektif.

BAB I PENDAHULUAN. Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa, di samping keterampilan menyimak,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

MODEL VOCABULARY SELF-COLLECTION STRATEGY (VSS) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA OLEH: USEP KUSWARI A. Membaca dan Pembelajarannya Faktor-faktor afektif, kognitif dan linguistik saling berinteraksi dalam membentuk dan mempengaruhi kemampuan membaca seseorang. Dalam sebuah penelitian. Athey (1985) telah mengungkapkan beberapa faktor afektif yang mempengaruhi kemampuan membaca: konsep diri, otonomi, penguasaan lingkungan, persepsi tentang realitas dan kecemasan. Dalam konteks kognisi, aspek-aspek memori sangat penting dalam perkembangan kemampuan membaca. Memori ini terdiri atas memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Namun apa yang sangat penting bagi kognisi adalah kemampuan individu dalam membentuk konsep. Menurut Alexander (1988:8), "konsep adalah sekumpulan stimulus yang memiliki karakteristik yang sama". Pembentukan konsep ini sangat penting untuk berpikir dan membaca. Faktor penting lain yang berkaitan dengan fungsi kognitif adalah metakognisi. Metakognisi ini adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pengetahuan seseorang tentang ciri-ciri proses berpikirnya dan pengaturan pemikirannya. Jika seseorang memiliki kesadaran metakognitif, maka membaca akan menjadi proses berpikir yang aktif dan pemahaman pun akan mudah dicapai. Istilah lain yang digunakan untuk menjelaskan fungsi kognitif ini adalah skemata (kata jamak untuk 'skema'). Menurut Rumelhart (1980), 'skemata adalah fungsi di dalam otak yang menafsirkan, mengatur dan menarik kembali informasi; dengan kata lain, skemata adalah kerangka mental'. Skemata

ini sangat penting untuk proses belajar membaca karena skemata menyimpan data masa lalu (pengetahuan dan pengalaman) di dalam memori, yang sewaktu-waktu dapat ditarik kembali jika diperlukan. Faktor ketiga yang juga sangat penting adalah kemampuan berbahasa. Karena membaca bergantung pada bahasa, maka kemampuan berbahasa seseorang akan mempengaruhi kemampuan membacanya. Namun demikian, membaca berbeda dengan menyimak atau berbicara (DeStefano, 1981). Membaca lebih menuntut si pembaca karena ia harus bergantung pada bahan bacaan saja atau pada kata-kata tertulis saja, dan bahasa tertulis seringkali lebih kompleks daripada bahasa lisan. Di samping, membaca menuntut seorang pembaca untuk menguasai kaidah-kaidah fonologis, semantik dan semantik. Dari apa yang dikemukakan di atas, maka dapat dikatakan bahwa membaca adalah sebuah proses kompleks yang mungkin membuat pembelajarannya sebagai proses yang kompleks pula. Namun para guru membaca yang baik mempunyai satu hal yang sama, yaitu mereka berpikir tentang membaca. Hal ini tidak berarti bahwa semua guru membaca yang baik mempunyai pikiran yang sama. Mungkin banyak guru membaca yang baik tidak memiliki pengetahuan atau preferensi tertentu tentang teori proses membaca atau teori siswa membaca. Apa yang membedakan mereka adalah kecenderungan untuk memikirkan peranan mereka dalam siswa membaca, untuk mengembangkan pendekatan personal terhadap siswa membaca yang menggabungkan apa yang mereka ketahui tentang proses membaca, tentang diri mereka sebagai guru, tentang siswa membaca dan tentang siswa yang mereka ajar.

Proses membaca dan siswa membaca memang begitu kompleks, sehingga para ahli dapat memantaunya dari berbagai sudut pandang. Setidaknya ada lima disiplin ilmu yang dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana proses membaca berlangsung. Disiplin ilmu pengetahuan adalah psikologi, yang mengkaji proses ini melalui pendekatan perseptual/konseptual, behavioristik, nativistik, kognitif dan psikometrik. Psikolinguistik adalah disiplin ilmu kedua yang juga memberikan kontribusi terhadap pemaparan proses membaca. Bidang pengolahan informasi (information processing) adalah bidang ketiga yang mengkaji proses membaca dari sudut pandang sibernetika, analisis sistem dan teori komunikasi umum. Sosiolinguistik adalah bidang ilmu keempat yang memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang proses membaca dan khususnya tentang proses siswa membaca. terakhir, ilmu-ilmu perilaku juga membantu meningkatkan wawasan dan pemahaman tentang aspek-aspek tertentu dalam proses membaca. Selain itu, para teoritikus mendekati proses membaca dengan berbagai cara dan sudut pandang yang berbeda. Misalnya ada beberapa jenis teori: teori makro dan teori mikro. Sebuah teori makro berusaha membahas kegiatan membaca dalam seluruh kompleksitasnya. Sedangkan teori mikro dirancang untuk menjelaskan satu segmen kecil dalam proses membaca. Selain itu ada pula teori perkembangan dan teori deskriptif. Teori perkembangan adalah upaya untuk menjelaskan kegiatan membaca menurut cara proses membaca itu dipelajari, sedangkan teori deskriptif berusaha mendeskripsikan tindakantindakan pembaca yang proses membaca. Terakhir, ada pendekatan molekuler dan pendekatan holistik terhadap pengembangan kemampuan membaca. Pendekatan molekuler berusaha menguraikan proses membaca ke dalam perilaku-perilaku atau

keterampilan-keterampilan tertentu dan menunjukkan bagaimana semua perilaku ini digabungkan dalam mencapai keberhasilan membaca. Sebaliknya, pendekatan holistik kurang menekankan perilaku-perilaku tertentu, tetapi lebih menitikberatkan pada hubungan atau keterkaitan yang kompleks di antara komponen-komponen proses membaca. B. Vocabulary Self-Collection Strategy (VSS) Tujuan VSS adalah untuk mendorong penguasaan dan pengembangan kosakata dalam jangka panjang (Haggard, 1982; 1986; Ruddell, 1993). Strategi atau model ini memiliki dua karakteristik utama berikut ini: (1) model ini berfokus pada kata-kata atau istilah yang penting bagi pembelajar, yaitu kata-kata yang ingin dan perlu mereka ketahui, dan (2) model ini mendorong pembelajar untuk menjadi pembelajar kata yang mandiri. Pembelajar mempunyai kesempatan untuk memilih kata-kata yang relevan dengan teks yang mereka rasakan penting untuk ditambahkan ke dalam daftar kosakata yang telah disediakan oleh guru. Model ini melibatkan kegiatan-kegiatan berikut ini untuk memperkuat definisi kata dan istilah: 1) Setelah membaca atau menulis sebuah teks, pembelajar diminta untuk bekerja dalam pasangan atau kelompok kecil guna mengidentifikasi sebuah kata atau istilah yang mereka ingin pelajari lebih jauh. 2) Pembelajar disiapkan untuk menjelaskan dimana mereka menemukan kata itu dalam teks dan membaca kalimat dengan nyaring, menebak makna kata itu dan menjelaskan mengapa kata itu penting untuk dipelajari dan harus dimasukkan ke dalam daftar kosakata.

3) Guru harus menerima pilihan kata dan mengarahkan diskusi tentang makna dan alasan untuk memasukkan kata itu ke dalam daftar kosakata yang ada. Pembelajar juga diminta untuk mendiskusikan makna dan bekerjasama untuk mempertajam makna kata atau istilah. 4) Guru memilih kata atau istilah yang perlu ditambahkan ke dalam daftar kosakata dan memberikan penjelasan. 5) Jika terdapat terlalu banyak kata, maka daftar kosakata harus dipersempit dengan meminta persetujuan pembelajar. 6) Pembelajar diminta untuk menulis daftar kata atau istilah itu dalam jurnal kosakata atau peta belajar mereka. 7) Guru perlu merencanakan dan mengembangkan kegiatan-kegiatan lain untuk memperjelas kata atau istilah. 8) Pembelajar perlu diberi lebih banyak waktu untuk menyelesaikan kegiatankegiatan tambahan. 9) Pemilihan kosakata itu harus dimasukkan ke dalam proses penilaian yang tepat. C. Desain Model Mengajar VSS 1. Sintaksis Model ini memiliki sembilan langkah, yaitu (a) setelah membaca atau menulis sebuah teks, pembelajar diminta untuk bekerja dalam pasangan atau kelompok kecil guna mengidentifikasi sebuah kata atau istilah yang mereka ingin pelajari lebih jauh, (b) siswa disiapkan untuk menjelaskan dimana mereka menemukan kata itu dalam teks dan membaca kalimat dengan nyaring, menebak makna kata itu dan menjelaskan

mengapa kata itu penting untuk dipelajari dan harus dimasukkan ke dalam daftar kosakata; (c) guru harus menerima pilihan kata dan mengarahkan diskusi tentang makna dan alasan untuk memasukkan kata itu ke dalam daftar kosakata yang ada serta siswa SD juga diminta untuk mendiskusikan makna dan bekerjasama untuk mempertajam makna kata atau istilah; (d) guru memilih kata atau istilah yang perlu ditambahkan ke dalam daftar kosakata dan memberikan penjelasan; (e) jika terdapat terlalu banyak kata, maka daftar kosakata harus dipersempit dengan meminta persetujuan pembelajar; (f) siswa SD diminta untuk menulis daftar kata atau istilah itu dalam jurnal kosakata atau peta belajar mereka; (g) guru perlu merencanakan dan mengembangkan kegiatankegiatan lain untuk memperjelas kata atau istilah;.(h) siswa perlu diberi lebih banyak waktu untuk menyelesaikan kegiatan- kegiatan tambahan; (i) pemilihan kosakata itu harus dimasukkan ke dalam proses penilaian yang tepat. Urutan kegiatan membaca di atas dilandasi oleh urutan mulai dari (a) engaging (menyertakan); (b) describing (merinci) atau problem solving (memecahkan masalah); (c) conceiving (memahami); (d) explaining (menerangkan); (e) connecting (menghubungkan); (f) interpreting (menafsirkan) dan (g) judging (menilai). Sebagai elaborasi kedua landasan sintaksis di atas, maka model mengajar ini menempuh strategi sebagai berikut. (a) Fase kesatu : setelah siswa membaca sebuah teks, ia diminta untuk bekerja dalam pasangan atau kelompok kecil guna mengidentifikasi sebuah kata atau istilah yang mereka ingin pelajari lebih jauh. Sebaiknya teks yang berikan kepada pembaca beragam agar mere kaya akan kosakata atau istilah dipelajarinya. Untuk memahami kosa kata atau istilah dalam teks tersebut siswa perlu melakukan (a) engaging

(menyertakan); (b) describing (merinci) atau problem solving (memecahkan masalah); (c) conceiving (memahami); (d) explaining (menerangkan); (e) connecting (menghubungkan); (f) interpreting (menafsirkan) dan (g) judging (menilai). (b) Fase kedua : siswa disiapkan untuk menjelaskan di mana mereka menemukan kata itu dalam teks dan membaca kalimat dengan nyaring, menebak makna kata itu dan menjelaskan mengapa kata itu penting untuk dipelajari dan harus dimasukkan ke dalam daftar kosakata. (c) Fase ketiga : siswa juga diminta untuk mendiskusikan makna dan bekerjasama untuk mempertajam makna kata atau istilah dengan bantuan guru. (d) Fase keempat : Siswa merumuskan hasil diskusi dan menjelaskan landasan proses dan teknik diskusinya. (e) Fase kelima : Siswa mengkaji kembali strategi VSS serta memberikan penguatan dan pengayaan terhadap langkah-langkahnya dan hasil pengkajiannya. 2. Sistem Sosial Model VSS ini membutuhkan sistem sosial dalam pembelarannya. Mereka dituntut untuk memiliki keterbukaan untuk menerima pendapat orang lain dan semangat untuk bekerja sama.. Suasana pengembangan intelektualnya harus terbuka, termasuk komunikasi intelektual antara guru dengan para siswanya. Setelah melalui beberapa periode diskusi pemaknaan dan penafsiran koata kata atau istilah dalam teks, para siswa mengambil alih kendali dalam diskusi. Pengaturan ruangan harus mendukung stimulus dan kebebasan siswa untuk mencari, menemukan, dan memecahkan masalah dalam membaca pemahaman.

Lebih khusus lagi, sistem sosial yang harus dikondisi dalam Model VSS ini ialah : (a) receptivity (keberterimaan); (b) tentativeness (kesementaraan); (c) rigor (kekakuan); (d) cooperation (kerjasama); dan (e) suitable litterature (ketepatan bahan), dan di samping itu harus diperhatikan pula prinsip-prinsip: (a) selection (pemilihan bahan); (b) responses and questions (respons dan pertanyaan); (c) atmosphere (suasana); (d) relativity (relativitas); dan (e) forms of respons (bentuk respons). 3. Prinsip-prinsip Reaksi Reaksi dari guru terutama dibutuhkan pada fase kedua dan ketiga.tugas guru pada fase kedua dan ketiga adalah membantu siswa dalam mencari, menemukan, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan kosakata atau istilah dalam teks, tetapi bukan berarti melakukan semuanya sendiri sementara siswa pasif. Pada fase terakhir, tugas guru adalah menjaga agar kegiatan tetap pada proses membaca. Lebih khusus lagi reaksi guru yang diperlukan oleh Model VSS ini ialah: (a) guru tidak boleh menentukan responsnya kepada siswa; (b) guru harus menciptakan suasana kooperatif, dan bukan kompetetif; (c) guru harus meningkatkan kesadaran pada para siswa untuk membuat rumusan hasil kajian yang tentatif yang terbuka untuk sebuah perbaikan; dan (d) guru harus dengan bijaksana dapat menganjurkan kepada para siswa untuk mengubah hasil kajiannya. 4. Sistem Penunjang Penunjang yang secara optimal dapat berdampak positif pada pelaksanaan model VSS ini ialah bahan yang mempunyai muatan problematik cukup memadai untuk tingkatan siswa.

5. Dampak Instruksional dan Penyerta Meskipun model VSS ini menekankan pada proses, tetapi keberhasilannya juga berpengaruh pada isi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Model ini erat kaitannya dengan Model Suchman ini memberikan dampak instruksionalnya dalam hal (1) meningkatkan keterampilan proses ilmiah; dan (2) mengembangkan strategi untuk kegiatan inkuiri yang kreatif. Dampak penyertanya ialah dalam hal (1)memupuk semangat kreatifitas; (2) menumbuhkan kesadaran belajar secara mandiri; (3) membiasakan toleran terhadap ambiguitas; dan (4) menanamkan kesadaran terhadap hakikat kesementaraan ilmu pengetahuan.