Strategi Pengendalian Resiko Pada PTN BLU

dokumen-dokumen yang mirip
STRATEGI PENGENDALIAN RISIKO PADA PERGURUAN TINGGI

AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN BLU

STRATEGI PENGENDALIAN RISIKO DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN RISTEK DAN DIKTI Prof. Jamal Wiwoho, SH, Mhum. Inspektur Jenderal Kemristekdikti

PENGELOLAAN AKUNTABILITAS PK BLU Oleh:

KEBIJAKAN AUDIT INVESTIGASI KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

oleh: Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum

PERAN SPI DALAM MENINGKATKAN TATA KELOLA PERGURUAN TINGGI

Curiculum Vitae. Pekerjaan : - Inspektur Jenderal Kemenristek Dikti

Disampaikan pada Rapat Koordinasi Penyusunan Sistem Monitoring dan Informasi Pengawasan Bekasi, 10 April 2017

PENINGKATAN KUALITAS PERENCANAAN, PENGAWASAN INTERNAL DI LIGKUNGAN KEMENRISTEKDIKTI

H. JAMAL WIWOHO, S.H., : : : 1/ : S1 FH UNS, S2 PPS UNDIP, S3 DOKTOR ILMU HUKUM UNDIP : BERKELUARGA, 1 ISTRI, 3 ANAK

PERUBAHAN PARADIGMA PERTANGGUNGJAWABAN PENELITIAN

Disampaikan Dalam Seminar Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan dan Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan di UNIVERSITAS TIDAR

Pengantar. Jamal Wiwoho Prasetyo Hadi P Sasmini. Pengantar Filsafat Hukum 1

Disampaikan Dalam Kegiatan Peningkatan Kapasitas Aparat Pengawasan Internal dalam Melakukan Audit PBJ Hotel Lor In Sentul Jawa Barat

PERAN PENGAWASAN INTERN DALAM RANGKA PTN BLU

Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH, M.Hum. Inspektur Jenderal Kemenristekdikti Dosen S1, S2, S3 UNS Solo

Oleh: Prof Dr H Jamal Wiwoho, SH,MHum PR II UNS

PENGELOLAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN SNMPTN SBMPTN

IMPLEMENTASI MANAJEMEN RISIKO DI KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

PENILAIAN PRESTASI KERJA PNS

PEMBINAAN PNS MELALUI SISTEM KARIR DAN PRESTASI KERJA BERDASARKAN PP NO. 46 TAHUN 2011

RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN BADAN LAYANAN UMUM

Prof. Dr. Jamal Wiwoho S.H., M.Hum.

ORGANISASI PERUSAHAAN TERMASUK MERGER, AKUISISI DAN KONSOLIDASI

PEMERINGKATAN PERGURUAN TINGGI MENUJU PENDIDIKAN TINGGI YANG BERKUALITAS

PENGUATAN PERAN SPI DALAM KERANGKA PENINGKATAN TATA KELOLA PERGURUAN TINGGI

Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum. Inspektur Jenderal Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi

Prof. Dr. Jamal Wiwoho S.H., M.Hum. (Pembantu Rektor II / Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta)

POLITIK HUKUM Oleh: Prof Dr Jamal Wiwoho, SH, MHum.

POLITIK HUKUM Oleh: Prof Dr Jamal Wiwoho, SH, MHum.

17 OKTOBER KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM DOKTOR DI INDONESIA Oleh: Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH.M.Hum

Dipisahkan PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM IMPLEMENTASI TIDAK DIPISAHKAN DIPISAHKAN

KEBIJAKAN PENGAWASAN INSPEKTORAT JENDERAL KEMENRISTEKDIKTI

Disampaikan Dalam Pengarahan kepada Civitas Akademik UNS

Konsep dan Problematika Pengadaan Barang dan Jasa di Daerah

Urgensi Aspek Pengawasan Implementasi Pola Pengelolaan Keuangan BLU. Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU

PERAN DEWAS PENGAWAS PTN BLU ; KONFLIK DAN PERMASALAHAN

PENTINGNYA KONTRAK BISNIS DAN PENYELESAIAN SENGKETA

ARAH DAN KEBIJAKAN PENGAWASAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN RISTEKDIKTI Oleh : Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH, M.Hum. Inspektur Jenderal Kemenristekdikti

REFORMASI BIROKRASI DALAM UPAYA MENCIPTAKAN TATA KELOLA YANG BERSIH DAN TRANSPARAN

Etika dan Problematika Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

KELEMBAGAAN UNIT PENGEMBANGAN USAHA (UPU) DI UNS

OPTIMALISASI PERAN SPI DALAM PENGAWASAN DI PERGURUAN TINGGI

IMPLEMENTASI MANAJEMEN RISIKO BAGI SPI PTN

UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU

KEBIJAKAN PENGAWASAN INTERNAL DI KEMRISTEKDIKTI. Oleh : Prof. Jamal Wiwoho, SH, Mhum. (INSPEKTORAT JENDERAL KEMRISTEKDIKTI)

PENDIDIKAN TINGGI SWASTA (PTS) YANG BERKUALITAS DI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)

MEMAHAMI LAPORAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM

PERANAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH DALAM PENGELOAAN KEUANGAN SNMPTN- SBMPTN

Disampaikan Dalam Kegiatan Diseminasi Aplikasi SAK BLU 2015 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa - Banten di The Royale Krakatau Hotel - Cilegon

2016, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Le

Disampaikan Oleh : Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum

Kebijakan Pengawasan Intern tahun 2017

KEBIJAKAN PENGELOLAAN PENDAPATAN BADAN LAYANAN UMUM. Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU Yogyakarta 22 s.d. 24 Juni 2012

PSAP 13 PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM (BLU)

Instrumen Pengawasan

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 92/PMK.05/2011 TENTANG RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN SERTA PELAKSANAAN ANGGARAN BADAN LAYANAN UMUM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan. daerah sebagai penyelenggara pemerintah daerah.

1 of 6 18/12/ :41

PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM

HASIL REVIU LAPORAN KEUANGAN TAHUN 2015 DAN PROBLEMATIKANYA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG PENETAPAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SERANG SEBAGAI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

TENTARA NASIONAL INDONESIA PERATURAN PANGLIMA TENTARA NASIONAL INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA BAUBAU PROVINSI SULAWESI TENGGARA PERATURAN DAERAH KOTA BAUBAU NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI ATAS LAPORAN KEUANGAN TAHUN 2016 KEMENRISTEKDIKTI

KEBIJAKAN PENGAWASAN INTERN INSPEKTORAT JENDERAL KEMENRISTEKDIKTI

OVERVIEW IMPLEMENTASI DAN EVALUASI RBA BLU. Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Perbendaharaan

Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum

SELAYANG PANDANG PENGELOLAAN KEUANGAN MODEL BADAN LAYANAN UMUM* Oleh: Sutrisna Wibawa (PRII UNY)

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 92/PMK.05/2011 TENTANG RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN SERTA PELAKSANAAN ANGGARAN BADAN LAYANAN UMUM

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAHAN BANDI

Kebijakan Pengawasan Intern tahun 2017

BAB 1 PENDAHULUAN. hal pengelolaan keuangan dan aset daerah. Berdasarkan Permendagri No. 21 Tahun

TENTANG PEDOMAN AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DOMPU NOMOR 07 TAHUN 2012 TENTANG INVESTASI PEMERINTAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI DOMPU,

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN REVIU LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 44 /PMK.05/2009 TENTANG RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN SERTA PELAKSANAAN ANGGARAN BADAN LAYANAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. BLU. Laporan. Standar Akuntansi. Penyajian.

2016, No Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, Menteri Keuangan dapat menetapkan pola pengelolaan k

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 76/PMK.05/2008 TENTANG PEDOMAN AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM MENTERI KEUANGAN,

BAGIAN ANGGARAN LAPORAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG

Transkripsi:

Strategi Pengendalian Resiko Pada PTN BLU oleh: Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum. Inspektur Jenderal Kemenristekdikti Disampaikan Dalam rangka pelaksanaan Workshop Perencanaan nggaran, Sistem Keuangan dan Pelaporan Badan Layanan Umum Universitas Negeri Gorontalo Hotel ll Seasons Jakarta, Gadjah Mada 13 pril 2016 1

Nama : Prof Dr. H. JML WIWOHO, S.H., M.Hum. Tempat tgl lahir : Magelang, 8 November 1962 Tempat tinggal Pendidikan Status HP e-mail Website Twitter Facebook Pekerjaan Pengalaman : Jl Manunggal 1/43 Solo, Jateng 0271-856848 : S1 FH UNS, S2 Hukum Ekm & Tek Undip, S3 PDIH Undip : Berkeluarga, 1 Istri, 3 nak : 08122601681 : jamal@jamalwiwoho.com atau jamalwiwoho@yahoo.com : www.jamalwiwoho.com : @jamalwiwoho : jamalwiwoho : - Inspektur Jenderal Kemenristek Dikti : - Wakil Rektor II UNS Surakarta - Ketua forum PR II / WR II Se Indonesia - Sekretaris Prodi S3 Ilmu Hukum FH UNS - Dosen S1/S2/S3 FH UNS Solo - Lain-lain: Reviewer Nasional DP2M Dikti, Tim PK Dikti, Instruktur Brevet, Konsultan DPRD Ngawi- Jatim, DPRD Karanganyar-Jateng, DPRD Surakarta, DPRD Balikpapan, Konsultan IPI, Konsultan Pemda Ngawi, Pemda Magetan Jatim, Pemkot Gorontalo, Saksi hli di beberapa Pengadilan, dll. Dosen S2/S3 tidak tetap di Univ Diponegoro, Univ Trisakti Jkt, Univ Taruma Negara Jkt, Univ Djuanda Bogor, Univ Swadaya Gunung Jati Cirebon, Univ Slamet Riyadi dan UNS Solo, Univ Brawijaya Malang (disertasi) dll. 2

LTR BELKNG Di merika Serikat pada tahun 2001 terjadi skandal Enron, sebuah perusahaan perdagangan energi menggunakan Neraca perusahaan untuk menyembunyikan jumlah hutang terbesarnya dalam laporan keuangannya. Transaksi dalam neraca diatur dengan mencampurkan keuntungan pribadi yang dibuat dari transaksi fiktif. Pada saat yang hampir bersamaan, banyak perusahaan di merika Serikat yang dituduh melakukan kecurangan, antara lain perusahaan telekomunikasi Worldcom, Global Crossing, Xerox, Kmart, Tyco International, Merc &Co, Stanley Works, dan ImClone 3

pa itu Risiko? Bahaya? Konsekuensi? ncaman? Probabilitas? Ketidakpastian? 4

PENGERTIN RESIKO Kemungkinan terjadinya sesuatu yang akan menghambat pencapaian tujuan (S/NZS 4350:2004) Pengaruh Ketidakpastian terhadap tujuan (ISO 31000 :2009) Kemungkinan kejadian yang menganacm tujuan dan sasaran instansi pemerintah (PP 60/2008 pasal 3 ayat 1b) 5

DEFINITION OF RISK US: Risk is the posibility that an event will occur and adversely affect the achievement of objective (COSO, 2004). ustralia: The chance of ssomething happening that will have an impact upon objectives (S/NZS 4360:2004). Japan: combination of the probability of an event and its consequence (JIS Q 2001). Uncertainty of occurence of an event Indonesia: Risiko adalah segala sesuatu yang berdampak negatif terhadap pencapaian tujuan yang diukur berdasarkan kemungkinan dan dampaknya (Permenkeu 191/pmk.09/2008). 6

RISK MNGEMENT REGULTIONS MERIK SERIKT: * Sarbanes-Oxley ct (2002); * COSO Internal Control Integrated Framework (1992); * COSO Enterprise Risk Management Integrated Framework (2004). INGGRIS: * The Combined Code on Corporate Governance (2006); * Turnbull Report: Internal Control (2005). ustralia: * Principle of Good Corporate Governance and Best Practice Recommendations (2003); * S/NZS 4360:2004 Risk Management (2004). Jepang: * Guidelines for Development and Implementation of Risk Management System (2001); * Guidelines for Internal Control that Functions Together with Risk Management (2003). INDONESI: * PP No.60/2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah; * Permenkeu No. 191/PMK.09/2008 tentang Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Departemen Keuangan. 7

SUMBER RISIKO (Pasal 16 huruf b) EKSTERNL Peraturan perundangan-undangan baru Perkembangan teknologi Bencana alam dan Gangguan keamanan INTERNL Keterbatasan dana operasional, Sumber daya manusia yang tidak kompeten Peralatan yang tidak memadai Kebijakan dan prosedur yang tidak jelas, dan Suasana kerja yang tidak kondusif 8

NO RISIKO KN BERKIBT ILUSTRSI 1 Tujuan lebih lama tercapai Waktu lebih lama B 2 Tujuan tercapai sebagian saja (<100%) B 3 Tujuan tidak tercapai sama sekali B 4 Tujuan tercapai namun lebih mahal biayanya Biaya lebih mahal B 5 Tujuan melenceng Keterangan: C = RISIKO 9 B

TUJUN PENILIN RISIKO 1. Mengidentifikasi dan menguraikan semua risiko-risiko potensial yang berasal baik dari faktor internal maupun faktor eksternal; 2. Memeringkat risiko-risiko yang memerlukan perhatian manajemen instansi dan yang memerlukan penanganan segera atau tidak memerlukan tindakan lebih lanjut; dan 3. Memberikan suatu masukan atau rekomendasi untuk meyakinkan bahwa terdapat risiko-risiko yang menjadi prioritas paling tinggi untuk dikelola dengan efektif. 10

Tahapan Penilaian Risiko (PP 60/2008) PENETPN TUJUN Tujuan IP Tujuan tingkat kegiatan IDENTIFIKSI RISIKO Sumber risiko internal dan eksternal IDENTIFIKSI RISIKO Pengaruh/dampa k risiko terhadap pencapaian tujuan PENILIN RISIKO 11

JENIS RISIKO Risiko Melekat (Inherent Risk), Risiko Pengendalian (Control Risk), Risiko Deteksi (Detection Risk) 12

IDENTIFIKSI RISIKO Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan cara retrospektif (retrospectively) dan prospektif (prospectively) Risiko retrospektif (retrospective risks) dalah risiko-risiko yang sebelumnya telah terjadi, seperti insiden atau kecelakaan Risiko prospektif (prospective risks) dalah risiko-risiko/sesuatu yang belum terjadi, tetapi mungkin terjadi beberapa waktu yang akan datang Identifikasi risiko retrospektif biasanya merupakan cara yang sangat umum dan mudah untuk mengidentifikasi risiko Biasanya lebih sulit untuk diidentifikasi 13

SUMBER INFORMSI RESIKO Sumber informasi risiko retrospektif : Metode untuk mengidentifikasi risiko prospektif Daftar atau register insiden/bahaya; Laporan audit, hasil evaluasi, dan penilaian lainnya Keluhan pelanggan/stakeholders; Dokumen dan laporan; Staf lama atau survai pelanggan; dan Media profesional atau surat kabar, seperti jurnal atau websites Brainstorming dengan staf atau pemangku kepentingan eksternal. Riset ekonomi, politik, legislatif, dan lingkungan operasi. Wawancara dengan orang-orang atau organisasi yang relevan Survai staf atau pelanggan untuk mengidentifikasi isu-isu atau problem yang diantisipasi Bagan arus suatu proses Mereviu desain sistem atau membuat teknik-teknik analisis sistem nalisis SWOT 14

SUMBER INFORMSI RESIKO Sumber informasi risiko retrospektif: daftar atau register insiden/bahaya; laporan audit, hasil evaluasi, dan penilaian lainnya; keluhan pelanggan/stakeholders; dokumen dan laporan; staf lama atau survai pelanggan; dan media profesional atau surat kabar, seperti jurnal atau websites. Metode untuk mengidentifikasi risiko prospektif brainstorming dengan staf atau pemangku kepentingan eksternal. Riset ekonomi, politik, legislatif, dan lingkungan operasi. wawancara dengan orang-orang atau organisasi yang relevan. survai staf atau pelanggan untuk mengidentifikasi isu-isu atau problem yang diantisipasi. Bagan arus suatu proses. Mereviu desain sistem atau membuat teknik-teknik analisis sistem. nalisis SWOT. 15

KEBIJKN RISIKO Membangun kebijakan risiko dan mekanisme pendukungnya kerangka bagi pelaksanaan rencana penilian risiko yang efektif Pimpinann instansi menyatakan kebijakannya secara tertulis tentang pengelohaan risiko, yaitu: tujuan dan komitmen terhadap pengelolaan risiko Kebijkan pimpinan relevan dengan konteks strategik, yujuan, sasaran, serta sifat kegiatan instansi Manajemen harus memastikan bahwa kebijakan tersebut dipahami, diimplementasikan, dan dipelihara pada setiap level pejabat atau pegawai. 16

PROGRM IMPLEMENTSI 1 Dukungan dari Jajaran Pimpinan 2 Membangun Kebijakan Institusional 3 Mengkomunikasikan Kebijakan 4 Mengelola Risiko pada Tingkat Instansi 5 Mengelola Risiko pada Tingkat Kegiatan 6 Monitor dan Reviu Risiko 17

KESIMPULN MNJEMEN RISIKO Manajemen Risiko merupakan tugas pimpinan organisasi; Pimpinan membentuk Unit Manajemen Risiko dalam lingkungan kerjanya; Unit Manajemen Risiko melakukan identifikasi risiko, pemetaan risiko, penaksiran risiko, penetapan risiko yang dapat diterima, penyusunan prioritas risiko, dan penanganan risiko. uditor melakukan udit Berbasis Risiko berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh Unit Manajemen Risiko; 18

REKOMENDSI MNJEMEN RISIKO Perlu juklak/juknis/pos Manajemen Risiko; PTN/Politeknik/Kopertis menugasi BPSI/Bg Perencanaan atau membentuk Unit Manajemen Risiko; SPI dapat membantu merumuskan manajemen risiko. SPI mengecek/memastikan bahwa risiko telah dimitigasi; Inspektorat Jenderal dan auditor eksternal menguji keandalan manajemen risiko. 19

RISIKO UTM INSPEKTORT JENDERL NO SUMBER RISIKO PERNYTN RISIKO 1 SDM 2 DN 3 PERLTN 4 SISDUR 5 SRPRS Jumlah SDM Itjen yang belum memadai Kualitas SDM Itjen yang belum memadai Belum teralokasikan dana Satker Itjen yang memadai Belum tersedianya alokasi dana untuk peningkatan kesejahteraan pegawai secara memadai Belum tersedianya komputer yang memadai Belum tersedianya lat Tulis Kantor yang memadai Belum tersedianya sistem dan prosedur pengawasan intern yang memadai Belum tersedianya sistem dan prosedur pertanggungjawaban keuangan yang memadai Belum tersedianya sistem dan prosedur pelaporan kinerja yang memadai Belum tersedianya ruangan kerja yang memadai Belum tersedianya alat transportasi yang memadai Belum tersedianya perumahan dinas bagi pejabat secara memadai 20

1. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah (bukan kekayaan negara yang dipisahkan) 2. Menghasilkan barang/jasa yang seluruhnya/sebagian dijual kepada publik 3. Tidak mengutamakan mencari keuntungan (laba) 4. Dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi 5. Rencana kerja/anggaran dan pertanggungjawaban dikonsolidasikan pada instansi induk 6. Pendapatan BLU dapat digunakan langsung 7. Pegawai dapat terdiri dari PNS dan Profesional Non- PNS 8. Bukan sebagai subyek pajak 21

1. Pendapatan dapat digunakan langsung 2. Belanja flexible budget dengan ambang batas. 3. Pengelolaan Kas pemanfaatan idle cash, hasil untuk BLU 4. Pengelolaan Piutang dapat memberikan piutang usaha, penghapusan piutang sampai batas tertentu 5. Utang dapat melakukan utang sesuai jenjang, tanggung jawab pelunasan pada BLU 6. Investasi jangka panjang ijin Menkeu 7. Pengelolaan Barang dapat dikecualikan dari aturan umum pengadaan, barang inventaris dapat dihapus BLU 8. Remunerasi sesuai tingkat tanggung jawab dan profesionalisme 9. Surplus/Defisit surplus dapat digunakan untuk tahun berikutnya, defisit dapat dimintakan dari PBN. 10. Pegawai : PNS dan Profesional Non-PNS 11. Organisasi dan nomenklatur (diserahkan kepada K/L & BLU ybs dengan persetujuan Menpan & RB) 22

BUDGET RELISSI P E N D P T N B E L N J P E N D P T N P E N D P T N B E L N J B E L N J FLEXIBLE % mbang Batas RK- KL DIP 23

Proses Penyusunan : RB Penerimaan & Pengeluaran M P P I N G 1.PENDPTN : Pendapatan dari Layanan Hibah tidak terikat dan/atau terikat Hasil Kerja sama dan/atau hasil usaha lainnya Penerimaan lainnya yang sah 2.BELNJ Didanai RM Didanai PNBP BLU Didanai dari pembiayaan Didanai dari Saldo wal Kas 3.PEMBIYN : Ikhtisar RB Bel Pegawai Bel Barang Bel Modal - Penerimaan Pembiayaan C S H B S I S - Pengeluaran Pembiayaan 24

Belanja Pegawai merupakan belanja pegawai yang berasal dari PBN (RM), sedangkan belanja pegawai yang didanai dari PNBP BLU dimasukkan ke dalam Belanja Barang BLU. 25

BELNJ BRNG 26

BELNJ MODL Belanja Modal yang berasal dari PBN (RM) Belanja Modal BLU berasal dari PNBP Belanja Modal Tanah; Belanja Modal Gedung dan Bangunan; Belanja Modal Peralatan dan Mesin; Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan;dan Belanja Modal Fisik Lainnya (mencakup antara lain pengeluaran untuk perolehan aset tidak berwujud, pengembangan aplikasi/software yang memenuhi kriteria aset tak berwujud) 13 27

PEMBIYN BLU Penerimaan Pembiayaan BLU Pengeluaran Pembiayaan BLU pinjaman jangka pendek; pinjaman jangka panjang;dan/atau penerimaan kembali/ penjualan investasi jangka panjang BLU pembayaran pokok pinjaman; pengel. investasi jangka panjang; dan /atau pemberian pinjaman. 28

JNGN SMPI SEPERTI INI Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Mantan Menteri gama 29

30