PENGARUH EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) TERHADAP PERTUMBUHAN Salmonella typhi Oleh: Syadzli Agus Saputera, Mades Fifendy, Vivi Fitriani Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT Salmonella typhi is the bacterium that causes fever typhoid. Typhoid fever is still an endemic disease in Indonesia. Typhoid occur in the presence of bacterial infection Salmonella typhi. Combating bacterial infection can be done by giving antibiotics, but bacteria have a high level of resistance to antibiotics. Bacterial resistance to antibiotics caused an increased mortality rate. It is therefore necessary to find a new alternative antimicrobial drugs. Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) is a plant that has a role as antimicrobial compounds that contain antimicrobials such as flavonoids, alkaloids, terpenoids and saponins. The purpose of this study was to determine the effect of leaf extract binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) on the growth of Salmonella typhi bacteria. The experiment was conducted from August to September 2013 in the Laboratory Kopertis X, Padang. Using a completely randomized design (CRD) with 6 treatments and 3 replications. Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA), and a further test of Least Significant Difference (LSD). The results showed each treatment binahong leaf extract (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) provide inhibition to the growth of Salmonella typhi. From the study concluded binahong leaf extract (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) can inhibit the growth of Salmonella typhi. Key words: Binahong, Tipus, Salmonella typhi PENDAHULUAN Indonesia adalah negara dengan wilayah yang beriklim tropis sehingga terdapat berbagai macam tumbuhan herbal. Tumbuhan herbal ialah tumbuhan yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan maka pemanfaatan bahan-bahan alami semakin mendapat perhatian. Pelczar dan Chan (1988) menyatakan banyak zat kimia dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme. Meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai kegunaan tumbuhan herbal, maka banyak masyarakat yang beralih memanfaatkan tumbuhan herbal sebagai bahan pengobatan alternatif. Salah satu tumbuhan herbal yang memiliki khasiat sebagai bahan obat ialah tanaman binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis). Binahong merupakan tanaman yang memiliki khasiat sebagai tanaman obat berbagai penyakit. Binahong berasal dari dataran China dengan nama asalnya adalah Dheng san chi. Uniknya, hampir semua bagian dari tanaman ini dapat digunakan sebagai obat. Tumbuhan Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) mengandung antimikroba yang reaktif sehingga dapat digunakan dalam mencegah pertumbuhan bakteri diantaranya Salmonella typhi.
Salmonella typhi adalah bakteri yang menyebabkan penyakit tipus (demam tifoid). Widodo (2009) mengatakan demam tifoid masih merupakan penyakit endemic di Indonesia. Penyakit tipus terjadi dengan adanya infeksi bakteri Salmonella typhi. Penanggulangan infeksi bakteri dapat dilakukan dengan memberikan antibiotik, karena antibiotik memiliki peranan penting dalam mengatasi bakteri di dalam tubuh. Pemberian antibiotik saja belum memberikan hasil maksimal dalam upaya mengatasi bakteri. Hal ini dikarenakan setiap bakteri memiliki resistensi yang berbeda terhadap suatu antibiotik. Pelczar dan Chan (1988) menyatakan resistensi atau kerentanan terhadap infeksi oleh suatu patogen tertentu dapat berbeda-beda dari satu spesies hewan ke yang lain. Oleh karena itu, kekebalan bakteri terhadap suatu antibiotik menyebabkan angka kematian semakin meningkat (Mayasari, 2013). Besung (2009) menjelaskan terjadinya resistensi disebabkan karena penggunaan obat yang tidak terkontrol, sehingga obat tersebut tidak mampu menghambat atau membunuh bakteri yang bersangkutan, akibatnya pengobatan akan sia-sia. Salah satu tanaman yang memiliki khasiat sebagai antibakteri adalah tanaman binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) (Setiaji, 2009). Yuswantina (2009) menambahkan bahwa tanaman binahong berkhasiat menghambat penyakit yang disebabkan oleh bakteri. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus sampai September 2013 di Laboratorium Kopertis Wilayah X, Padang. Salmonella typhi diperoleh dari Laboratorium FK UNAND, sedangkan daun binahong diperoleh dari toko obat herbal dari Yogyakarta. Sebanyak 200 gram serbuk daun binahong yang telah dihaluskan dimasukkan kedalam erlenmeyer dan ditambahkan pelarut etil asetat sebanyak 500 ml, kemudian digoyang selama satu jam untuk mencapai kondisi homogen dalam shaker water bath dengan kecepatan 160 rpm (rotation per minutes) selama 1 jam. Selanjutnya larutan dimaserasi selama 24 jam pada suhu kamar, setelah 24 jam, larutan difiltrasi atau dipisahkan dengan menggunakan kertas whatman. Kemudian residu penyaringan di remaserasi ulang selama 24 jam, maserasi di ulang sampai 3 kali. Hasil saringan 1-3 dicampur dan dipekatkan dengan Rotary vakum evaporator dengan suhu 50 C sampai didapatkan ekstrak pekat. Bakteri dibiakkan pada media media NA lalu ditanam kertas cakram yang telah direndam sesuai dengan konsentrasi yang telah ditentukan dan di inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 C. Data yang didapat dianalisis mengunakan Analisis Ragam (ANOVA).
HASIL PENELITIAN Hasil pengukuran diameter daya hambat yang ditimbulkan perasan daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dalam konsentrasi (10%, 20%, 30%, 40%, 50%), dan Amoksisilin sebagai kontrol positif dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1 : Rata-Rata Zona Bening Pada Tiap Perlakuan Perlakuan Rata-Rata Notasi Zona Bening (mm) 6.48 a A. (K+) B. (10%) 6.53 a C. (20%) 7.92 a D. (30%) 8.88 a b E. (40%) 10.63 b c F. (50%) 12.58 c Keterangan : angka-angka pada lajur yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada taraf α = 5% Tabel di atas dapat dilihat bahwa ratarata zona bening pada perlakuan A tidak berbeda nyata pada perlakuan B, C, dan D tetapi berbeda nyata terhadap perlakuan E dan F. Perlakuan B tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C dan D, tetapi berbeda nyata terhadap perlakuan E dan F. Perlakuan C tidak berbeda nyata terhadap perlakuan D, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan E dan F. Perlakuan D tidak berbeda nyata dengan perlakuan E, tetapi berbeda nyata terhadap perlakuan F. Perlakuan E tidak berbeda nyata dengan perlakuan F. Untuk lebih jelas dapat dilihat grafik dari besarnya daerah zona bening yang dihasilkan oleh pemberian konsentrasi ekstrak daun binahong seperti di bawah ini. 14 12 10 8 6 4 2 0 Daerah Zona Bening (mm) Gambar 6 : Kurva Zona Bening yang Dihasilkan Ekstrak Daun Binahong (mm) Berdasarkan pada variasi konsentrasi yang diberikan, seperti yang terlihat pada gambar 6 bahwa semakin tinggi konsentrasi yang diberikan maka semakin besar zona bening yang terbentuk. Zona bening dihasilkan yang paling besar yaitu 12.58 mm dengan konsentrasi 50%. Daerah Zona Bening (mm)
PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pemberian ekstrak daun binahong ternyata mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Hal ini dapat terlihat pada rata-rata zona bening yang terbentuk, dimana rata-rata zona bening yang terbentuk semakin besar dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak yang diberikan. Ristianti (2000) menjelaskan kematian mikroba berhubungan langsung dengan konsentrasi antimikroba. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi konsentrasi antimikroba yang digunakan maka akan mempercepat kematian mikroba. Muslimin (1996) menjelaskan bahwa konsentrasi antimikroba yang rendah akan bersifat bakteriostatik dan konsentrasi antimikroba yang tinggi bersifat bakterisidal. Pemberian konsentrasi ekstrak daun binahong 10% - 40% ternyata dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau bersifat bakteriostatik. Konsentrasi 50% bersifat membunuh bakteri atau bakterisidal. Manoi (2009) bahwa daya antibakteri ekstrak daun binahong disebabkan oleh adanya flavanoid yang terkandung di dalamnya. Aktifitas flavanoid berkemampuan untuk membentuk senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut, dan dengan dinding sel. Flavanoid yang bersifat lipofilik mungkin juga akan merusak membran sel mikroba. Rusaknya membran dan dinding sel akan menyebabkan metabolit penting di dalam sel akan keluar, akibatnya terjadi kematian sel. Aktifitas flavanoid juga dapat mengganggu fungsi dari mikroorganisme bakteri. Khunaifi (2010) menjelaskan penghambatan sintesis dinding sel akan menyebabkan dinding sel bakteri diperlemah dan menjadi lisis, lisisnya sel tersebut dikarenakan tidak berfungsinya lagi dinding sel yang mempertahankan bentuk dan melindungi bakteri yang memiliki tekanan osmotik dalam sel yang tinggi. Jika dilihat dari perbedaan perlakuan yaitu pada kontrol positif amoksisilin 10% (Perlakuan A) dan konsentrasi ekstrak daun binahong 40% (Perlakuan E) terdapat perbedaan yang nyata, dengan jumlah rata-rata zona bening yang terbentuk pada perlakuan A lebih kecil daripada perlakuan E. Hal ini berarti daya antimikroba pada ekstrak daun binahong 40% lebih besar dibandingkan dengan pemberian antibiotik amoksisilin 10%. Konsentrasi ekstrak daun binahong 40% sudah efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan jumlah rata-rata zona bening yang berbeda nyata dengan pemberian antibiotik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dapat menghambat pertumbuhan Salmonella typhi. Daya hambat dengan konsentrasi 40% sudah lebih tinggi daripada kontrol amoksisilin yang diberikan.
SARAN Masyarakat agar lebih memanfaatkan penggunaan antimikroba dari alam dan melanjutkan penelitian tentang antimikroba tanaman binahong terhadap bakteri lain. DAFTAR PUSTAKA Bagumono. 2012. 33 Tanaman Toka. http://tanamantoka.com/pdf. diakses tanggal 16 April 2013. Besung, I N.K. 2009. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kunyit Pada Anak Babi Yang Menderita Colibacillosis. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/ kerta%20b esung%20120302009.pdf. Diakses tanggal 16 April 2013. Ganiswarna, S.G. 1995. Pengantar Antimikroba dalam Farmakologi dan Terapan. Jakarata : Gaya Baru. Hanna., Tyasrini, E., dan Ratnawati, H.. 2005. Pengaruh ph terhadap Pertumbuhan Salmonella typhi In Vitro. Jurnal Artikel Penelitian, (Online). Jilid 5, No. 1, http://www.universitas kristenmaranta.ac.id, diakses 16 April 2013. Indah. 2011. Gambar Bakteri Salmonella typhi. http//.www.mikrobiologilab.com Jawetz, E., Melnick, J. L., and Adelberg, E. A. 2007. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG. Jawetz, E., Melnick, J. L., and Adelberg, E. A. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG. Khunaifi, M. 2010. Uji Aktifitas Antibakteri Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Terdapat pada http://lib.uinmalang.ac.id/fullchapter/03520025.pd f. diakses 25 Mei 2013. Lenny, S. 2006. Senyawa Flavonoida, Fenilflavonoida dan Alkaloida. Jurnal Artikel Penelitian, (Online). http://www.usu.ac.id. Manoi, F. 2009. Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) Sebagai Obat.Jurnal Warta Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri. Jurnal Artikel Penelitian, (Online). Volume 15 Nomor 1:3. diakses 25 Mei 2013. Markham, K.R.1998. Cara mengidentifikasi flavanoid. Bandung: penerbit ITB. Mayasari, L. 2013. Penyebab Kematian Di Asia Tenggara. Detikhealth.com. diakses pada tanggal 21 April 2013. Moehario, L. H., 2010. Keragaman Genetik Salmonella Typhi Penyebab Demam Tifoid menggunakan Pulsed-Field Gel Electrophoresis. Jurnal Artikel Penelitian(Online).http://www.digilib. ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?i d=76218. diakses 25 Mei 2013. Mus. 2008. Informasi Spesies Binahong Anredera cordifolia (Ten.) Steenis. http://www.plantamor.com/spcdtail.ph p?recid=1387, diakses 25 Mei 2013. Pelczar, M.J., dan Chan, E.C.S..1986. Dasar Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia. Pelczar, M.J., dan Chan, E.C.S..1988. Dasar Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia. Prescott, LM. 2002. Microbiologi 5 th edition. The McGraw-Hill Companies.
Rahayu, E. 2012. Aktifitas Gabungan Ekstrak Bakau (Rhizophora apiculata), Alamanda (Allamanda schottii), dan Binahong (Anredera cordifolia) Terhadap Enzim Tirosinase. Bogor : IPB. Setiaji, A. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Petroleum Eter, Etil Asetat Dan Etanol 70% Rhizoma Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) Terhadap Staphylococcus aureus Atcc 25923 Dan Escherichia coli Atcc 11229 Serta Skrining Fitokimianya. Terdapat pada http://etd.eprints. ums.ac.id/5253/1/k100050288.pdf. diakses 25 April 2013. Yuswantina, R. 2009. Uji Aktivitas Penangkap Radikal Dari Ekstrak Petroleum Eter, Etil Asetat Dan Etanol Rhizoma Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) Dengan Metode Dpph (2,2-Difenil-1-Pikrihidrazil). http://etd.eprints.ums.ac.id/5283/1/k1 00050315.pdf. Diakses pada tanggal 25 Mei 2013. Soeripto. 2002. Penerapan Konsep Kesehatan Hewan Melalui Vaksinasi. Jurnal Artikel Penelitian. Vol 21(2). Hal 48-55. http://pustaka.litbang. deptan.go.id/publikasi/p3212022.pdf. Diakses pada tanggal 25 Mei 2013. Sundari, D., Padmawati, Kosasih dan Ruslan, Komar. 1996. Analisis Fitokimia Ekstrak Etanol Air Perasan Daun Salam (Eugenia polyantha W).Tesis (Online). Sekolah Farmasi ITB. http://bahanalam.fa.itb.ac.id/detail.php?id=132 Volk, W.A., dan Wheeler, M.F..1990. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Erlangga WHO. 2003. Basic Laboratory Procedures In Clinical Bacteriology, 2nd Ed. Terdapat pada http://whqlibdoc.who.int/publications/ 2003/9241545453 _ind.pdf. diakses pada 25 Mei 2013. Widodo, D. 2009. Buku Ajar : Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V. Jakarta : Interna Publishing.