BAB I PENDAHULUAN. repository.unisba.ac.id

dokumen-dokumen yang mirip
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. secara sistematis dan terencana dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan.

Prosiding Perencanaan Wilayah dan Kota ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dan lewat

BAB IV PEMBAHASAN. segala hal yang akan dijalankan dalam usahanya. dan tidak dapat melihat pasar yang sesungguhnya benar - benar ada.

BAB I PENDAHULUAN. persaingan di berbagai negara. Dengan bantuan dari berbagai media, pengetahuan

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH SD MUHAMMADIYAH NGLUWAR MAGELANG SKRIPSI. Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan. dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara 1

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan bagi setiap orang tua adalah memiliki anak-anak

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan masyarakat adalah orang-orang dewasa, orang-orang yang. dan para pemimpin formal maupun informal.

BAB I PENDAHULUAN. Selain ayat al-qur an juga terdapat sunnah Rasulallah SAW yang berbunyi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan bermasyarakat ialah tentang kejahatan. Kejahatan adalah suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Firman Allah SWT. Dalam Surat Al-Mujaadilah [58:11]:

BAB I PENDAHULUAN. haliniberdasarkanpendapat yang telahdikemukakanolehsahabat Umar bin Khattab. Dan padakesempatanlainseorangpenyairpernahberkata:

BAB I PENDAHULUAN. sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan. ekonominya berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah.

BAB I PENDAHULUAN. akan pentingnya pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga dapat

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTIMACY PASANGAN SUAMI ISTRI (Studi Kasus Pada Pasangan Suami Istri Di Fase Dewasa Madya)

BAB I PENDAHULUAN. Proses pembangunan yang sedang berlangsung di negara ini disertai

BAB I PENDAHULUAN. selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini, karena

BAB V PEMBAHASAN. bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara pengembangan karir dan

BAB I PENDAHULUAN. ilmu pengetahuan teknologi dan kesenian. Tugas utama siswa di sekolah adalah

BAB I PENDAHULUAN. telepon, bahkan sekarang beralih ke internet atau media sosial.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Definisi Operasional. membudayakan manusia. Melalui pendidikan segala potensi sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. sering dilakukan oleh banyak orang Islam, beberapa diantaranya adalah dengan

BAB I PENDAHULUAN. Belajar merupakan suatu kegiatan yang tidak pernah berhenti dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

BAB I PENDAHULUAN. tertentu saja, melainkan seluruh individu yang mengaku dirinya muslim. 1

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sudah dirasakan oleh

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR ISMUBA PADA ANAK YANG ORANG TUANYA BERCERAI DI SMP MUHAMMADIYAH KASIHAN BANTUL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

BAB I PENDAHULUAN. dapat menghadapi segala tantangan yang akan timbul, lebih-lebih dalam

BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik

BAB I PENDAHULUAN. maju. Dalam Al-qur an surah ar-ra du ayat 11 Allah SWT berfirman:

BAB I PENDAHULUAN. Islam adalah diajarkannya cara menulis Al-Quran dan Hadits. Pembelajaran

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI SAWAH BERJANGKA WAKTU DI DESA SUKOMALO KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN

Islam adalah satu-satunya agama yang haq dan diridhoi Alloh SWT yang. disampaikan melalui nabi Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia agar

BAB VI PERUBAHAN YANG TERJADI PASCA PENDAMPINGAN. A. Kondisi Kemandirian Masyarakat Karang Rejo Gang 6

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Atau dalam istilah lain yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur luar sekolah.

BAB I PENDAHULUAN. agama. Sistem ekonomi Islam merupakan suatu sistem ekonomi yang

إ ن أ ح س ن ت م أ ح س ن ت م لا ن ف س ك م و إ ن أ س ا ت م ف ل ه ا

BAB I PENDAHULUAN. bangsa yang maju.pada Al-qur an surah ar-ra d ayat 11 Allah SWT berfirman:

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan itu Allah Swt berfirman dalam Alquran surah At-Tahrim

A. Analisis Tradisi Standarisasi Penetapan Mahar Dalam Pernikahan Gadis dan. 1. Analisis prosesi tradisi standarisasi penetapan mahar

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pengaruh kehidupan modern, wanita semakin hari semakin

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu aspek penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Kemiskinan merupakan tantangan utama yang dihadapi negara-negara. Asia-Afrika. Jika menggunakan indikator Bank Dunia, yang mematok

BAB I LATAR BELAKANG. kehidupan manusia, baik terhadap aktivitas jasmaniahnya, pikiran-pikirannya,

BAB I PENDAHULUAN. samawi lain yang datang sebelumnya. Allah Swt. mewahyukan al-quran kepada

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan dalam Ilmu Pendidikan Matematika

BAB I PENDAHULUAN. sering diterjemahkan dengan tarbiyah yang berarti pendidikan. 1 Istilah

BAB I PENDAHULUAN. mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan hidup secara tepat dimasa akan datang atau dapat juga didefinisikan

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBERIAN UPAH DENGAN KULIT HEWAN KURBAN DI DESA JREBENG KIDUL KECAMATAN WONOASIH KABUPATEN PROBOLINGGO

MERAIH KESUKSESAN DAN KEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN MENELADANI RASULULLAH

BAB I PENDAHULUAN. Pesantren merupakan pusat pendidikan Islam di Indonesia, tempat

YANG HARAM UNTUK DINIKAHI

Adalah Sebagian Dari IMAN حفظو هللا Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-sidawi

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan sebagaimana hadist Rasulullah S.AW yang berbunyi: Artinya : Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki

BAB I PENDAHULUAN. dalam kesehariannya. Dalam al-qur an dan al-hadist telah menjelaskan bahwa Allah SWT

KLONING FATWA MUSYAWARAH NASIONAL VI MAJELIS ULAMA INDONESIA NOMOR: 3/MUNAS VI/MUI/2000. Tentang KLONING

BAB I PENDAHULUAN. mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Pendidikan adalah usaha sadar

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal

BAB I PENDAHULUAN. yang dilakukan dan tindakan yang diambil akan bertentangan dengan normanorma

BAB I PENDAHULUAN. hukum Islam. Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk

BAB IV ANALISIS PERTANGGUNG JAWABAN PEMERIKSAAN TERSANGKA PENGIDAP GANGGUAN JIWA MENURUT HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. yang dalam ensiklopedia islam diartikan sebagai ajakan kepada islam. Jadi

Menzhalimi Rakyat Termasuk DOSA BESAR

BAB I PENDAHULUAN. menghayati kandungan isinya. Buta aksara membaca al-qur an ini

BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. Mulai meningkatnya angka kejahatan di Indonesia semakin marak dan terjadi

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Pendidikan Matematika

memberikan gairah dan motivasi kepada para siswa. Sesuai dengan Undang dengan visi misi pendidikan nasional dan reformasi pendidikan menyebutkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu masalah yang terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. negara. 1 Di atas sudah jelas bahwa pendidikan hendaknya direncanakan agar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Allah Swt. menciptakan manusia di bumi ini dengan dua jenis yang

BAB I PENDAHULUAN. Allah swt Berfirman. dalam surat Al-Mujadallah ayat 11.

BAB VI REFLEKSI PENDAMPINGAN (MEMBANGUN KESADARAN PENGRAJIN BATU MERAH TERHADAP BELENGGU JURAGAN) A. Melepas Belenggu Monopoli Modal Juragan

BAB I PENDAHULUAN. dan mendidik hingga pada akhirnya terjadi keseimbangan antara fisik dan mental.

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan tidak dapat diukur dengan uang ataupun harta kekayaan yang lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, perseorangan maupun

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN Kota menurut Bintarto (1989) dalam Pramono (2006) disebutkan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya materialistis. Dapat juga diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami non alami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar disertai corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah di belakangnya. Kota identik dengan kepadatan populasi penduduknya. Populasi dari Kota tersebut berisikan penduduk yang bersifat heterogen dalam jenis kegiatan dan tingkat sosial ekonomi. Dilihat dari sudut pandang lain, Kota menurut Landry (1995) dalam Manisyah (2009) merupakan tempat bagi penduduknya untuk memenuhi kebutuhan mereka dan mengembangkan potensi, aspirasi, mimpi serta ide-ide. Aktivitas yang dilakukan didalam kota akan menciptakan sebuah interaksi antar indidvidu yang heterogen tadi. Interaksi yang terjadi di dalam kota ini dapat menciptakan ide-ide baru yang tentunya dapat memicu kekreativitasan. Hal ini seperti tersurat dalam hadist riwayat muslim: م ن س ن س نة ح س ن ة ف ل ه أ ج ر ه ا و أ ج ر م ن ع م ل ب ه ا Barang siapa melakukan hal baru yang baik maka ia mendapat pahalanya dan mendapat pula pahala orang lain yang mengerjakan hal baru yang baik itu. (HR. Muslim) Pesan ini mengandung motivasi untuk kreatif. Dalam bahasa Arab, sanna berarti melakukan hal baru, ketika hal yang baru itu bersifat baik maka kita harus memiliki inovasi dalam berbagai hal yang disebut kreatifitas. Hadits ini adalah salah satu kebanggaan ummat Islam karena mengandung konsep modern, dan itu berarti sebenarnya pemikiran ummat Islam sudah modern sejak empat belas abad yang silam. Dari hadist tersebut Islam sudah mengajarkan manusia untuk melakukan hal baru yang baik seperti memiliki kreatifitas. 1

2 1.1 Latar Belakang Pada tahun 2007, Bandung dipilih sebagai proyek percontohan Kota Kreatif se-asia timur dalam pertemuan Internasional Berbasis Ekonomi di Yokohama, Jepang. Survei Channel News Asia di Singapura pada tahun 2011 menyebutkan Bandung masuk dalam lima besar kota kreatif se-asia. Indikator survei dilihat dari branding yang dilakukan, pengaruh terhadap masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Siapa sangka, kota Bandung akan menjadi titik sentral pada perkembangan ekonomi masa depan yang berbasis industri kreatif. Setidaknya, tak hanya menjadi barometer bagi kawasan Indonesia, tetapi juga kawasan Asia Timur. Hal tersebut berawal dari pertemuan internasional kota berbasis ekonomi kreatif, yang dilaksanakan di Yokohama Jepang pada akhir Juli 2007. Pada pertemuan itu, Bandung memperoleh penghargaan sekaligus tantangan, dengan terpilih sebagai projek rintisan (pilot project) Kota Kreatif se-asia Timur. Pemilihan Bandung sebagai kota percontohan bukanlah tanpa alasan, mengingat dalam 10 tahun terakhir, industri kreatif di Bandung menunjukkan perkembangan signifikan dan memengaruhi tren anak muda di berbagai kota. Perkembangan tersebut menjadi daya tarik bagi para pelaku ekonomi kreatif di dunia, sehingga melalui projek percontohan ini, Bandung diharapkan mampu mempopulerkan semangat kota kreatif di dunia global. Projek yang bernama Bandung Creative City (BCC) itu direncanakan berjalan selama tiga tahun mulai Agustus 2008." Ada beberapa faktor menurut Landry dan Hyams (2012) yang membuat sebuah kota dapat dikatakan sebagai kota yang kreatif. Faktor-faktor tersebut meliputi adanya ruang-ruang kreatif di berbagai sudut kota, kalangan terdidik yang sadar untuk mengekspresikan ide kreativitasnya, adanya pemimpin dan kebijakan yang memberi ruang bagi terbukanya kemudahan mengembangkan berbagai industri kreatif, adanya pengaturan kewilayahan, toleransi, dan aksesibilitas termasuk bagaimana agar para penghuni kota dapat melakukan perjalanan mudah, murah, dan nyaman. Salah satu faktor pembentuk kota kreatif, seperti yang disebutkan Landry di atas adanya ruang kreatif di berbagai sudut kota. Salah satu bentuk ruang kreatif yang mulai dikembangkan di Kota Bandung saat ini adalah kampung kreatif. Salah satu wadah berkumpulnya creative class tersebut adalah golongan atau individu kreatif. Kampung kreatif tersebut lahir dari gagasan komunitas-

3 komunitas serta individu-individu kreatif di Kota Bandung yang menginginkan lebih banyak ruang kreatif. Setidaknya menurut penuturan Rahmat Djabaril, sudah ada 5 (lima) kampung yang dirintis dan diresmikan sebagai kampung kreatif, hasil kerja sama antara tokoh lokal dengan BCCF. Kampung tersebut antara lain Kampung Seni di Dago Pojok, Kampung Eksperimen Kreatif di Cicukang, Kampung Wisata Akustik di Cicadas, Kampung Kreatif Pasundan dan Kampung Taman Hewan. Lokasi yang dipilih sebagai wilayah studi ini adalah Kampung Kreatif Pasundan, Kampung Taman Hewan, dan Kampung Wisata Akustik di Cicadas. lokasi ini dipilih karena wilayah ini memiliki karakteristik yang berbeda dari segi pengembangan kampung dan memiliki lokasi yang berjauhan selain itu dua kampung yang lain Merupakan Kampung Kreatif Dago Pojok dan Kampung Eksperimen Kreatif di Cicukang sudah pernah dikaji sebelumnya. Wilayah kampung yang dijadikan ruang pengembangan kreativitas, menurut Patton dan Subanu (1988), terdiri dari dua macam. Pertama, wilayah yang terus menerus mengalami kemiskinan, sangat padat penduduk, dan terletak di tengah kota. Kedua adalah wilayah yang tidak terlalu padat, terletak di pinggiran kota, dan masyarakatnya berpendapatan lebih tinggi. Kampung jenis yang pertama dapat dikategorikan sebagai permukiman informal. Kampung yang ada di Kota Bandung termasuk dari dua macam kampung tersebut. Masalah-masalah yang terdapat pada permukiman padat di tengah kota terlihat amat kompleks, mulai dari wilayah pragmatis praktis hingga masalahmasalah yang lebih konseptual. Seperti masalah-masalah sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan. Warga kampung seringkali menjadi bulanbulanan pembangunan, mereka terlantar dan cenderung tidak dilihat sebagai komunitas yang memiliki signifikasi yang pantas dilihat, padahal, mereka ikut mengembangkan roda perekonomian kota. Mengembalikan rasa kepemilikan warga dapat diwujudkan dengan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh sebuah kampung. Hal ini tersurat dalam firman Allah SWT. إ ن االله لاي غ ي ر م ا ب ق و م ح تى ي غ ي ر و ا م ا ب ا ن ف س ه م Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum hingga mereka merubahnya sendiri. [QS. Ar-Ra d : 11]

4 Berdasarkan ayat diatas disebutkan bahwa Allah tidak akan mengubah sesuatu sampai kaum tersebut mau merubahnya sendiri. Secara tidak langsung Allah memerintahkan untuk manusia menciptakan suatu motivasi untuk kreatif dengan merubah manajemen sistem agar tidak tertinggal ketika yang lain maju. Bahkan dengan suatu permukiman yang kumuh kita dapat menjadi yang terdepan dengan menciptakan sesuatu yang kreatif. dengan kreatifitas yang tumbuh dari masyarakat. Kampung kreatif merupakan salah satu bentuk ruang kreatif faktor pembentuk kota kreatif di Kota Bandung. Proses pengembangan suatu kampung hingga dapat disebut sebagai kampung kreatif, merupakan suatu tahapan pengembangan bagi masyarakat kampung tersebut. Tahapan pengembangan yang dimaksud adalah fase bagi masyarakat untuk dapat ikut serta mengenali permasalahan di dalam wilayahnya hingga setelahnya diharapkan dapat ikut berpartisipasi melakukan pengembangan sesuai potensi kampungnya masingmasing. Pada setiap kampung rata-rata mempunyai permasalahan yang sama yaitu terdapat anak-anak muda yang sering nongkrong di pinggir jalan, mabukmabukan, dan pengangguran. Saat ini sudah banyak dilakukan penelitian mengenai keberadaan kreativitas dalam konsep perkotaan, namun masih sedikit yang membahas mengenai transformasi ruang kreatif di perkotaan. Oleh karena itu peneliti ingin memberikan alternatif referensi dengan meneliti lebih jauh mengenai "Transformasi Permukiman Kumuh-Kreatif di Kota Bandung (Studi Kasus: Kampung Wisata Akustik di Cicadas, Kampung Kreatif Pasundan, dan Kampung Taman Hewan)" 1.2 Rumusan Masalah Untuk memperkaya referensi mengenai transformasi permukiman kumuhkreatif di Kota Bandung, maka rumusan masalah penelitian ini adalah "Bagaimana proses transformasi dari kampung kumuh menuju kampung kreatif" 1.3 Tujuan,Sasaran, dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan proses transformasi dari kampung kumuh menuju kampung kreatif. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini memiliki beberapa sasaran, yaitu:

5 1. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mendorong terjadinya perubahan dari permukiman kumuh menjadi kampung kreatif 2. Untuk mengetahui berapa lama dimensi waktu terjadinya perubahan dari permukiman kumuh menjadi kampung kreatif 3. Untuk mengetahui faktor yang dominan dalam mendukung terbentuknya kampung kreatif 4. Untuk mengetahui Bagaimana pandangan masyarakat terhadap adanya kampung kreatif Manfaat Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperoleh manfaat yang didapat dari tujuan tersebut adalah: a. Manfaat akademis dari penelitian ini untuk disiplin ilmu perencanaan wilayah dan kota diharapkan agar hasil studi ini dapat menambah wawasan dan menjadi salah satu referensi dalam pengetahuan mengenai bagaimana proses transformasi perwujudan kampungkampung kreatif di Kota bandung sebagai salah satu perbaikan kampung kumuh melalui perwujudan kampung kreatif b. Manfaat bagi pemerintah adalah memberikan contoh nyata mengenai bagaimana proses tersebut menjadi alternatif pemberdayaan masyarakat perkotaan 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dalam penelitian ini terbagi atas ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup materi. 1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah Wilayah studi dalam penelitian ini adalah tiga kampung kreatif yang berada diwilayah berbeda, yaitu Kampung Akustik di Cicadas di wilayah RW 04, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kampung Taman Hewan berada diwilayah RW 08, Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong dan Kampung kreatif Pasundan RW 04, Kelurahan Balonggede, Kecamatan Regol, Jl. Pasundan no 51 Bandung. Alasan pemilihan ketiga wilayah tersebut adalah karena ketiganya merupakan kampung kreatif yang sudah lebih dulu terbentuk,

6 diresmikan dan masih akan terus dikembangkan. Ketiga kampung kreatif tersebut juga memiliki karakter yang berbeda. 1.4.2 Ruang Lingkup Materi Ruang lingkup materi dalam penelitian ini akan membahas beberapa hal meliputi: a. Tahapan pembentukan ruang kegiatan kreatif berupa kampung kreatif. Untuk dapat menguraikan tahapan tersebut, teori yang digunakan adalah "The Cycle of Urban Creativity" oleh Charles Landry. dalam teori tersebut terdapat lima tahapan yang dilakukan untuk membentuk suatu siklus kreativitas masyarakat perkotaan b. Tahapan dimensi waktu dalam terbentuknya suatu kampung kreatif. khususnya mengenai kampung kreatif yang sedang dikembangkan di Kota Bandung. c. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan analisis isi. Analisis ini digunakan sebagai metode dalam penelitian ini karena mempertimbangkan bentuk data dan informasi yang dikumpulkan berupa hasil literatur, wawancara, dan hasil observasi yang memerlukan teknik untuk memahami dan menginterpretasikan data tersebut.

7

8

9

10 1.5 Sistematika Penulisan Sistematika pembahasan dalam penelitian ini secara garis besar adalah sebagai berikut: BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang dan rumusan masalah. berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut selanjutnya disusun tujuan dan sasaran dari penelitian ini. Pada bab ini juga dibahas ruang lingkup penelitian, dan sistematika penulisan. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini membahas tinjauan pustaka yang menjadi dasar acuan dalam penelitian ini. Pertama akan dibahas mengenai definisi permukiman, kumuh, permukiman kumuh, kota kreatif, kampung kreatif, serta teori urban creativity. BAB 3 KERANGKA BERFIKIR DAN METODOLOGI Pada bab ini akan membahas mengenai kerangka pemikiran dan metodologi yang menjadi dasar acuan untuk melakukan penelitian ini. BAB 4 GAMBARAN UMUM Pada bab ini dijelaskan mengenai program akupuntur kota milik BCCF serta profil Kelurahan Cikutra, Kelurahan Balonggede dan Kelurahan Lebak Siliwangi, wilayah dimana Kampung Wisata Akustik Cicadas, Kampung Kreatif Pasundan dan Kampung Taman Hewan. BAB 5 TAHAPAN SIKLUS URBAN CREATIVITY PADA PEMBENTUKAN KAMPUNG KREATIF Bab ini berisi analisis implementasi teori siklus urban creativity yang diterapkan pada tahapan pembentukan kampung kreatif di Kota Bandung, merujuk pada kondisi yang terjadi di Kampung Wisata Akustik Cicadas, Kampung Kreatif Pasundan dan Kampung Taman Hewan. BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab terakhir ini, berisi tiga bagian, yaitu kesimpulan, temuan studi dan rekomendasi. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN