MODUL PERKULIAHAN Perekonomian Indonesia Sistem Moneter Indonesia Fakultas Program Studi Pertemuan Kode MK Disusun Oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Akuntansi 13 84041 Abstraksi Modul ini membahas tentang sistem moneter di Indonesia. Pembahasan sistem moneter meliputi kebijakan moneter yang dimulai dari definisi, instrumen mekanisme serta efektivitas kebijakan moneter dalam perekonomian. Selain itu juga dibahas tentang Uang Beredar, Inflasi dan peran perbankan dalam sistem moneter Indonesia. Kompetensi Mampu menjelaskan tentang: 1. Kebijakan moneter (pengertian, instrumen dan mekanisme) 2. Uang beredar dan Inflasi 3. Peran Perbankan dalam Sistem Moneter
Pendahuluan Modul ini membahas tentang sistem moneter di Indonesia. Pembahasan tentang sistem moneter, tidak terlepas dari setidaknya 4 hal yaitu: kebijakan moneter, uang yang beredar, inflasi dan peran perbankan dalam menghimpun dari masyarakat dan menyalurkannya lagi ke masyarakat yang lain. Sebagaimana dibahas di bab-bab sebelumnya bahwa peran pemerintah sangat besar dalam perekonomian khususnya sebagai pengambil kebijakan atau regulator. Pemerintah berperan dalam mengatur agar perekonomian tetap stabil tidak mengalami guncangan yang luar biasa dan tetap dalam jalur pertumbuhan yang semestinya. Kebijakan tersebut bisa melalui kebijakan fiskal (sudah dibahas di bab X) dan kebijakan moneter. Dua jenis kebijakan ini sering diterapkan secara kombinasi agar kestabilan perekonomian tetap terjaga. Kebijakan moneter terkait erat dengan bagaimana mengatur perekonomian dengan cara mengendalikan uang beredar di masyarakat. Uang beredar tidak bisa terlepas dari masalah inflasi. Selain itu, banyak tidaknya uang yang beredar juga berkaitan dengan peran perbankan dalam menghimpun dana dari masyarakat dan mneyalurkannya lagi ke masyarakat. Kebijakan Moneter Definisi Kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah terkait bagaimana mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat dengan tujuan menjaga stabilitas harga dan nilai rupiah. Jumlah uang yang beredar perlu diatur agar terpeliharanya stabilitas harga (inflasi dapat terkontrol). Melalui kebijakan moneter tersebut, pemerintah dapat menambah, mengurangi, atau mempertahankan jumlah uang yang beredar. Jika pemerintah akan menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka ia dapat menerapkan kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive). Akan tetapi, jika pemerintah ingin mengurangi jumlah uang yang beredar, maka ia dapat menerapkan kebijakan moneter kontraktif (monetary contractive) atau biasa disebut kebijakan uang ketat (tight money policy). Jika dalam kebijakan fiskal yang bertanggung jawab adalah Kementerian Keuangan, sedangkan dalam kebijakan moneter yang memiliki otoritas adalah Bank Indonesia (BI). 2
Instrumen Kebijakan Fiskal dan Mekanismenya Instrumen-instrumen yang biasa digunakan pemerintah dalam mengatur jumlah uang yang beredar adalah sebagai berikut. 1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) Dalam melakukan kegiatan operasi pasar terbuka, bank sentral dapat menjual atau membeli obligasi pemerintah kepada publik. Untuk meningkatkan jumlah uang yang beredar bank sentral melakukan pembelian obligasi pemerintah. Uang yang dibayarkan tersebut akan meningkatkan sirkulasi jumlah uang yang beredar di pasar, baik berupa currency maupun bank deposit. Sebaliknya jika jumlah uang yang beredar di pasar ingin diturunkan maka BI akan melakukan aksi jual obligasi pemerintah. Biasanya dengan tingkat pengembalian (rate of return) yang menarik sehingga masyarakat akan membelinya. Dengan aksi pembelian dari masyarakat maka jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang. 2. Menaikkan/Menurunkan Tingkat BI rate (Discount Rate) Discount rate adalah tingkat suku bunga pinjaman yang dikenakan oleh bank sentral terhadap bank yang meminjam dana dari bank sentral untuk memenuhi kebutuhan cadangan jangka pendek. Dengan adanya penetapan tarif ini otomatis bank-bank lain juga akan menyesuaikan tarif tersebut. Ketika bank sentral meningkatkan discount rate maka hal itu dapat diartikan sebagai sinyal bahwa bank sentral bermaksud mengurangi money supply dan meningkatkan suku bunga. Sebaliknya jika bank sentral menurunkan discount rate maka bank sentral bermaksud untuk meningkatkan money supply dan menurunkan suku bunga. Mekanisme bekerjanya perubahan BI Rate dalam mempengaruhi inflasi tersebut sering disebut sebagai mekanisme transmisi kebijakan moneter. Mekanisme ini menggambarkan tindakan Bank Indonesia melalui perubahan-perubahan instrumen moneter dan target operasionalnya mempengaruhi berbagai variabel ekonomi dan keuangan sebelum akhirnya berpengaruh ke tujuan akhir inflasi. Mekanisme tersebut terjadi melalui interaksi antara Bank Sentral, perbankan dan sektor keuangan, serta sektor riil. Perubahan BI Rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur, diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspektasi. 3
Pada jalur suku bunga, perubahan BI Rate mempengaruhi suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Apabila perekonomian sedang mengalami kelesuan, Bank Indonesia dapat menggunakan kebijakan moneter yang ekspansif melalui penurunan suku bunga untuk mendorong aktifitas ekonomi. Penurunan suku bunga BI Rate menurunkan suku bunga kredit sehingga permintaan akan kredit dari perusahaan dan rumah tangga akan meningkat. Penurunan suku bunga kredit juga akan menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi. Ini semua akan meningkatkan aktivitas konsumsi dan investasi sehingga aktivitas perekonomian semakin bergairah. Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mengalami kenaikan, Bank Indonesia merespon dengan menaikkan suku bunga BI Rate untuk mengerem aktivitas perekonomian yang terlalu cepat sehingga mengurangi tekanan inflasi. Perubahan suku bunga BI Rate juga dapat mempengaruhi nilai tukar. Mekanisme ini sering disebut jalur nilai tukar. Kenaikan BI Rate, sebagai contoh, akan mendorong kenaikan selisih antara suku bunga di Indonesia dengan suku bunga luar negeri. Dengan melebarnya selisih suku bunga tersebut mendorong investor asing untuk menanamkan modal ke dalam instrumen-instrumen keuangan di Indonesia seperti SBI karena mereka akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Aliran modal masuk asing ini pada gilirannya akan mendorong apresiasi nilai tukar rupiah. Apresiasi rupiah 4
mengakibatkan harga barang impor lebih murah dan barang ekspor kita di luar negeri menjadi lebih mahal atau kurang kompetitif sehingga akan mendorong impor dan mengurangi ekspor. Turunnya net ekspor ini akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian. Perubahan suku bunga BI Rate mempengaruhi perekonomian makro melalui perubahan harga aset. Kenaikan suku bunga akan menurunkan harga aset seperti saham dan obligasi sehingga mengurangi kekayaan individu dan perusahaan yang pada gilirannya mengurangi kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti konsumsi dan investasi. Dampak perubahan suku bunga kepada kegiatan ekonomi juga mempengaruhi ekspektasi publik akan inflasi (jalur ekspektasi). Penurunan suku bunga yang diperkirakan akan mendorong aktifitas ekonomi dan pada akhirnya inflasi mendorong pekerja untuk mengantisipasi kenaikan inflasi dengan meminta upah yang lebih tinggi. Upah ini pada akhirnya akan dibebankan oleh produsen kepada konsumen melalui kenaikan harga. Mekanisme transmisi kebijakan moneter ini bekerja memerlukan waktu (time lag). Time lag masing-masing jalur bisa berbeda dengan yang lain. Jalur nilai tukar biasanya bekerja lebih cepat karena dampak perubahan suku bunga kepada nilai tukar bekerja sangat cepat. Kondisi sektor keuangan dan perbankan juga sangat berpengaruh pada kecepatan tarnsmisi kebijakan moneter. Apabila perbankan melihat risiko perekonomian cukup tinggi, respon perbankan terhadap penurunan suku bunga BI rate biasanya sangat lambat. Juga, apabila perbankan sedang melakukan konsolidasi untuk memperbaiki permodalan, penurunan suku bunga kredit dan meningkatnya permintaan kredit belum tentu direspon dengan menaikkan penyaluran kredit. Di sisi permintaan, penurunan suku bunga kredit perbankan juga belum tentu direspon oleh meningkatnya permintaan kredit dari masyarakat apabila prospek perekonomian sedang lesu. Kesimpulannya, kondisi sektor keuangan, perbankan, dan kondisi sektor riil sangat berperan dalam menentukan efektif atau tidaknya proses transmisi kebijakan moneter. 3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio) Bank sentral juga dapat mempengaruhi jumlah uang yang beredar dengan cara mengatur tingkat reserve requirement. Reserve requirement adalah regulasi yang mengatur jumlah minimum cadangan yang harus dipegang oleh bank dibandingkan deposit yang mereka miliki. reserve requirement mempengaruhi seberapa banyak uang yang dapat di-create oleh system perbankan dengan setiap cadangan rupiah. 5
Peningkatan tingkat reserve requirement akan membuat bank-bank yang ada harus memegang lebih banyak cadangan sehingga jumlah pinjaman yang mereka hasilkan akan menurun dari setiap rupiah deposit yang mereka miliki. Dapat disimpulkan peningkatan reserve requirement akan mengurangi money multiplier sehingga mengurangi jumlah uang yang beredar. Sebaliknya dengan mekanisme yang sama penurunan tingkat reserve requirement akan meningkatkan money multiplier sehingga jumlah uang yang beredar akan meningkat 4. Kebijakan lain yang bersifat himbauan moral. Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian. Efektivitas Kebijakan Moneter Yang masih menjadi perdebatan oleh para ahli ekonomi adalah sejauh mana kebijakan moneter mampu mengatur kegiatan ekonoi dan mendorong kemajuan. Gilarso (2002) menyebutkan bahwa dari pengalaman sebelumnya, kebijakan moneter cukup efektif untuk mengendalikan inflasi, tetapi kurang efektif untuk mengatasi resesi ekonomi. Dalam pelaksanannya kebijakan moneter juga masih perlu dikombinasikan dengan kebijakan lain seperti kebijakan fiskal, perdagangan internasional produksi, kesempatan dan kerja dan kebijakan terkait indikator makro ekonomi lainnya. Kebijakan moneter memiliki kelebihan dibandingkan kebijakan fiskal, yaitu dalam hal lebih cepat dampaknya bagi perekonomian dan lebih fleksibel karena tidak banyak dipengaruhi faktor politik. Hal ini berbeda dengan kebijakan fiskal dimana penyusunan APBN harus melalui proses politik di DPR. Namun demikian, kebijakan moneter hanya bisa menyediakan kredit/uang, tetapi tidak bisa memaksa pengusaha untuk menggunakan kredit tersebut. 6
Uang Beredar Kebijakan moneter adalah kebijakan untuk mengatur jumlah uang beredar di masyarakat. Lalu mengapa uang yang beredar di masyarakat harus diatur jumlahnya. Sebelum membahas itu, kita akan bahas dulu tentang fungsi uang. Judisenno (2002) menjelaskan bahwa terdapat tiga fungsi uang yaitu: 1. Fungsi utama: sebagai alat tukar dan satuan hitung 2. Fungsi turunan: alat penimbun kekayaan dan alat pembayaran yang di tangguhkan di masa depan 3. Fungsi tambahan, sebagai komoditas. Berdasarkan uraian tersebut, uang juga berfungsi sebagai komoditas, sehingga uang memiliki nilai yang bisa naik bisa turun seiring berjalannya waktu. Harga 1 kg beras di tahun 2000 mungkin sekitar Rp 4.000,- tetapi dengan uang Rp 4.000,- di tahun 2015 bila ditukar dengan beras mungkin hanya senilai 1/3 kg beras saja. Hal ini menunjukkan bahwa nilai uang bisa berkurang. Jika berkurangnya dalam jangka waktu yang lama itu dinilai masih wajar, tetapi jika dalam jangka waktu yang pendek, ternyata nilai uang terus merosot, ditandai dengan harga yang terus melambung tinggi, Itulah yang disebut inflasi. Salah satu penyebab inflasi bisa jadi adalah uang yang beredar terlalu banyak tetapi barang/jasa yang diproduksi tidak sebanyak uang yang beredar di pasaran sehingga uang seakan-akan menjadi tidak bernilai karena banyak beredar di pasar dang barang/jasa sedikit di pasar. Inflasi yang tidak terkendali akan berdampak buruk karena mengurangi daya beli masyarakat. Inilah mengapa perlu mengatur jumlah uang yang beredar di pasar. 7
Inflasi Apa itu Inflasi? Inflasi adalah kecenderungan meningkatnya harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus. Dari definisi tersebut terdapat dua syarat terjadinya inflasi, yaitu: 1. kenaikan harga barang secara umum dan 2. kenaikannya terjadi terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua jenis barang tidak dapat disebut sebagai inflasi, kecuali kenaikan harga barang tersebut menyebabkan kenaikan sebagian harga barang-barang lain. Contoh: kenaikan BBM atau kenaikan tarif listrik. Selain itu, kenaikan harga yang terjadi hanya sekali saja, bersifat kontemporer atau musiman, walaupun persentase yang besar juga tidak dapat dikatakan sebagai inflasi. Contoh: kenaikan harga pada saat menjelang lebaran bukan dikatakan sebagai inflasi jika setelah lebaran harga tersebut turun lagi. Apakah Inflasi Suatu Masalah? Dalam semua literatur tentang makroekonomi, masalah inflasi selalu dibahas. Dalam penyusunan RAPBN, inflasi selalu menjadi bahan pertimbangan dan ketika mendengar kata inflasi seakan-akan itu adalah suatu permasalahan dalam perekonomian. Pertanyaannya, apakah inflasi adalah suatu masalah dalam perekonomian? Putong (2008) mnejelaskan bahwa Inflasi bukan masalah yang berarti apabila diiringi oleh tersedianya komoditas yang diperlukan secara cukup dan daya beli masyarakat meningkat lebih besar daripada tingkat inflasi. Namun apabila inflasi sudah terlalu tinggi dan daya beli masyarakat menurun hal itu bisa menjadi permasalahan. Inflasi sebenarnya adalah suatu proses alami dalam suatu perekonomian. Friedman dalam Mankiw (2007), menjelaskan bahwa pertumbuhan dalam bentuk kuantitas uang berbanding lurus dengan inflasi, artinya seiring pertumbuhan ekonomi, inflasi akan tetap terjadi. Dengan demikian, inflasi akan menjadi suatu masalah apabila nilainya sudah tinggi dan tidak terkendali sehingga mengurangi daya beli masyarakat yang pada akhirnya akan melemahkan perekonomian, tetapi jika nilainya masih wajar, hal itu tida menjadi masalah. (masalah nilai inflasi akan dijelaskan pada jenis-jenis inflasi pada subbab selanjutnya). 8
Jenis-Jenis Inflasi Jenis-jenis inflasi ada beberapa dan dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain sebagai berikut. 1. Sifatnya 2. Penyebabnya 3. Asalnya Sifatnya 1. Low inflation (inflasi rendah), atau juga biasa disebut creeping inflation (inflasi merayap, yaitu inflasi dibawah 10%. 2. Galloping inflation (inflasi Menengah), dengan nilai antara 10% sampai 30% per tahun. Ini biasanya ditandai oleh nainya harga-harga secara cepat dan relatif besar. 3. High inflation (Inflasi tinggi). Inflasi dengan besaran antara 30 s.d 100% per tahun 4. Hyperinflation, yaitu inflasi di atas 200% per tahun. Penyebabnya 1. Inflasi karena tarikan permintaan (demand pull inflation), yaitu kenaikan harga-harga karena tingginya permintaan, sementara barang tidak tersedia dengan cukup. Inflasi ini biasanya berlaku ketika perekonomian mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi berjalan pesat.. 2. Inflasi dorongan harga (cost push inflation), yaitu inflasi karena biaya atau harga faktor produksi meningkat. Akibatnya produsen harus menaikkan harga supaya mendapatkan laba dan produksi bisa berlangsung terus. Kenaikan harga-harga tersebut bersumber dari salah satu kombinasi dari tiga pelaku berikut: para pekerja dalam perusahaan menuntut kenaikan upah, harga bahan baku atau bahan penolong yang digunakan perusahaan bertambah tinggi, serta dalam perekonomian yang sedang mengalami perkembangan pesat. Asalnya 1. Dari dalam negeri Inflasi ini penyebabnya berasal dari dalam negeri. Hal ini terjadi biayanya karena kebijakan anggaran defisit dari pemerintah. Pemerintah menutup defisit tersebut dengan mencetak uang baru. Bertambahnya jumlah uang yang beredar dengan tidak diimbangi dengan jumlah komoditas di pasaran akan membuat harga naik dan terjadi inflasi. Selain hal tersebut, sumber dari dalam negeri juga bisa karena kegagalan panen pada 9
komoditas tertentu sehingga mempengaruhi naiknya barang dan jasa lainnya. Dapat pula dikarenakan bencana alam. 2. Dari luar negeri Inflasi ini terjadi karena naiknya harga barang impor dari luar negeri, dan mau tidak mau kita harus menggunakan atau mengimpor barang tersebut. Harga di luar negeri sudah tinggi apabila diperjualbelikan di pasar domestik akan lebih tinggi pula. Jika komoditas tersebut berdampak pada naiknya barang/jasa lain maka inflasi terjadi. Dengan demikian, pada dasarnya kebijakan moneter dilakukan agar tidak terjadi infasi dengan cara mengatur uang yang beredar di masyarakat karena jumlah uang beredar di masyarakat bisa mempengaruhi tingkat harga di pasar. Cara mengatur uang yang beredar di masyarakat adalah dengan operasi pasar terbuka, penentuan tarif diskonto, penetapan dana cadangan wajib minimum bagi bank dan instrumen lain yang sifatnya berupa himbauan. Peran Perbankan dalam Sistem Moneter Peran perbankan sangat vital dalam sistem moneter sebagai bagian dari pelaku dalam kebijakan moneter. Bank sendiri secara definisi adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dari definisi tersebut jelas bahwa bank fungsinya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya lagi kepada masyarakat. Terkait dengan kebijakan moneter, maka peran perbankan adalah bagaimana mengendalikan uang yang beredar di masyarakat apakah ditambah, dikurangi atau tetap stabil. Oleh karena itu otoritas moneter dipegang oleh Bank Indonesia yang mengatur bankbank lain terutama terkait dengan pelaksanaa kebijakan moneter. BI juga mengatur kriteriakriteria suatu bank yang sehat. Bank yang sehat tentu saja dipercaya oleh masyarakat yang akan menyimpan uangnya di bank tersebut. Hal ini akan membantu lancarnya pelaksanaan kebijakan moneter. 10
Kesimpulan Sistem moneter terkait dengan kebijakan moneter, uang beredar, dan pihak-pihak lain seperti perbankan Kebijakan moneter dipegang oleh BI sebagai otoritas moneter dimana pelaksanaannya harus sinergi dengan kebijakan fiskal dan kebijakan lainnya. Kerangka kebijakan moneter dapat digambarkan sebagai berikut. Instrumen Sasaran Operasional Sasaran Antara Sasaran Akhir Operasi pasar terbuka cadangan wajib minimum discount rate (BI rate) imbauan Uang Primer (M0) Reserve bank Jumlah uang beredar (MI dan M2), kredit suku bunga stabilitas harga pertumbuhan ekonomi kesempatan kerja Uang beredar terlalu banyak yang tidak diimbangi dengan produktivitas barang/jasa bisa menimbulkan inflasi. Hal ini dicegah dengan menggunakan kebijakan moneter. Kebijakan moneter menjadi wewenang dari Bank Indonesia dan BI mengatur dan membuat regulasi untuk bank-bank yang lain dalam rangka implementasi kebijakan moneter tersebut. 11
Daftar Pustaka Gilarso,T. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro. Yogyakarta: Kanisius.2002 http://id.wikipedia.org/wiki/kebijakan_moneter http://www.bi.go.id/id/moneter/transmisi-kebijakan/contents/default.aspx Judisseno, Rimsky.K. Sistem Moneter dan Perbankan di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2002 Pohan, Aulia. Kerangka Kebijakan Moneter & Implementasinya di Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2008 Tambunan, Tulus. Perekonomian Indonesia. Kajian Teoritis dan Analisis Empiris Bogor: Ghalia Indonesia. 2012 Teori Ekonomi Makro. Modul Kelas Penyegaran TA Genap 2008/2009. Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 12